22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Islam Agama Pembebasan

Jaswanto by Jaswanto
October 4, 2023
in Esai
Islam Agama Pembebasan

Islam | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

BEBERAPA HARI INI, saya dibuat gelisah oleh dua buku yang baru-baru ini selesai saya baca. Buku yang berjudul Islam Politik: Sebuah Analisis Marxis karya Deepa Kumar dan Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme karya Kazuo Shimogaki ini benar-benar memaksa saya untuk mengakui bahwa per hari ini, Islam hanya dimanfaatkan—meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla—sebagai semacam “obat” (opium) saja bagi masyarakat, jika istilah Marxian yang agak kurang “sopan” ini boleh saya pakai di sini.

Dua buku tersebut menguatkan keyakinan saya, bahwa Islam sejatinya tidak hanya sekadar persoalan “halal-haram” saja, tapi juga sebagai “cara pandang”, “norma hidup”, serta semacam “weltanschauung”—pandangan hidup.

Tauhid tidak hanya sekadar “Keesaan Tuhan” semata, tapi harus dipahami juga sebagai “penyatuan”. Sebab, menurut Toshio Kuroda dalam Islam Jiten, Islam adalah norma kehidupan yang sempurna yang dapat beradaptasi dengan setiap bangsa dan setiap waktu.

Firman Allah adalah abadi dan universal, yang mencakup seluruh aktivitas dari seluruh suasana kemanusiaan tanpa perbedaan apakah aktivitas mental atau aktivitas duniawi.

Dan seperti yang dikatakan Arthur Goldshmidt Jr. dan Lawrence Davidson, yang dikutip oleh Deepa Kumar dalam Islam Politik bahwa “Islam yang dibayangkan Muhammad adalah ajaran yang mengombinasikan spiritualitas dengan politik, ekonomi, dan adat istiadat sosial. Ia sendiri memainkan peran baik sebagai pemimpin politik dan relijius, dan kekuasaannya dalam dua hal tersebut tak terbantahkan”.

Artinya, Islam adalah agama yang mengatur seluruh aktivitas kemanusian di dunia ini; dan maka daripada itu, Tauhid adalah “penyatuan” antara spiritual dan material, antara dunia dan akhirat, antara jasmani dan rohani, antara individu dan sosial, antara hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Jika Islam dipandang hanya mengurusi persoalan akhirat saja, maka yang terjadi hanyalah kemunduran—sikap pasrah—umat Islam itu sendiri.

Modernisme Islam

Di Indonesia, umat Islam secara umum dapat kita kelompokkan menjadi dua golongan (jika salah mohon diluruskan): umat Islam sinkretis dan umat Islam yang mengaku masih “pristine”.

Islam sinkretis, di mana-mana, dituduh sebagai representasi dari Islam dekaden warisan abad kemunduran. Seperti tahlil, misalnya, yang pernah “diejek” sebagai “ikon” dari kemunduran Islam itu sendiri.

Sedangkan, gerakan Islam modern yang hendak mengikis habis elemen-elemen sinkretis dan irasional itu pun sedang mengalami kemandegan. Dalam esai bertajuk Kado Emha dan Islam Balsam—esai yang dimuat majalah TIRAS pada 5 Desember 1996—Ulil Abshar Abdalla menliskan, proyek modernisme Islam di Indonesia sekarang ini sedang mengalami tantangan yang serius.

Hal itu terjadi pada dua level sekaligus, yakni level esoteris yang langsung berkaitan dengan privacy kehidupan keagamaan per individu, serta level eksoterik yang berkaitan dengan sektor publik dalam penataran kehidupan bermasyarakat.

Ulil menjelaskan, pada level esoteris, modernisme Islam gagal memberikan landasan “makna hidup”—lebih dulu ia menjelaskan bahwa semula modernisme Islam menyasar tentang “pencerah akal”, tanwirul uqul, agar tercapai apa yang dicita-citakan, yakni simetrisme atau kesejajaran antara ajaran Islam dengan capaian-capaian teknologi modern.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat Islam kota yang menjadi basis sosial gerakan modernisme Islam justru “banting setir” dan kasmaran berat dengan “pencerahan hati”, tanwirul qulub, tasawuf—kepada masyarakat modern (urban) yang mengalami—ia meminjam istilah Prof. Nasr—“kesengsaraan” (spiritual) sehingga terpaksa harus balik lagi mengais-ngais dari “kebijaksanaan spiritual” lama untuk mengobati “kesengsaraan” tersebut.

Ulil melanjutkan, di level eksoterik, proyek modernisme Islam (setidaknya di Indonesia) juga dipersoalkan, karena ujung-ujungnya justru pada apa yang sering disebut sebagai “politik representasi”, yakni tuntutan akan keterwakilan umat Islam dalam distribusi kekuasaan di tingkat elite (kata “elite” ini harus memperoleh garis bawah).

Banyak orang menganggap, inilah yang menjadi bibit kawit (asal mula) dari munculnya kembali kecenderungan politik aliran di Indonesia akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, agenda politik yang selalu menjadi persoalan kaum modernis Islam di Indonesia adalah bagaimana meletakkan Islam dalam perjuangan demokratisasi yang sekarang ini menjadi “common denominator” dari perjuangan masyarakat sipil (jika memang ada) secara umum di Indonesia sekarang.

Ada kesan bahwa, demokratisasi merupakan semacam “ancaman” terhadap kepentingan jangka pendek (“politik representasi”) kaum Islam modernis tersebut.

Islam yang Membebaskan

Masih tentang esai Ulil. Ia juga menjelaskan bahwa Islam diratifikasi melalui simbol-simbolnya untuk kebutuhan pemenuhan hasrat “konsumeristis” masyarakat kota. Meminjam bahasa Alquran, katanya, Islam berhenti berfungsi sebatas sebagai “obat”, syifa’, bukan dilanjutkan sebagai hudan, penunjuk, ke arah perubahan dalam tatanan yang tidak adil di masyarakat.

Singkat kata, Islam di tangan kaum modern sekarang ini menjadi cenderung “terapeutik”, mengobati saja. Islam balsam, kata Sritua Arif—Emha Ainun Najib—yang mengagumi Ali Syariati itu.

Ulil melanjutkan, Islam yang terapeutik dan akomodatif sekarang ini kurang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Karena dari dulu, fungsi itulah yang memang menonjol.

Melihat kondisi yang demikian, mari kita kembali kepada buku Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme karya Kazuo Shimogaki di awal.

Tugas Kiri Islam (maksudnya jurnal berkalanya Hassan Hanafi yang bertajuk Al-Yasȃr al-Islȃmȋ: Kitȃbȃt fȋ an-Nahdhah al-Islȃmiyyah—Kiri Islam: Beberapa Esai tentang Kebangkitan Islam) adalah menguak unsur-unsur revolusioner dalam agama, dan menjelaskan pokok-pokok peraturan antara agama dan revolusi.

Dalam hal ini, agama sebagai landasan dan revolusi merupakan tututan zaman, sebagaimana para filsuf muslim pendahulu kita mengupayakan peraturan antara filsafat (al-hikmah) yang merupakan keharusan zaman dengan syari’at sebagai landasan.

Atau lebih ekstrem lagi, keluar dari konteks pembahasan tulisan ini, solusi jernih ditawarkan oleh Deepa Kumar dalam Islam Politik: Sebuah Analisis Marxis. Untuk melawan kerusakan, baik yang ditimbulkan oleh kapitalisme dan imperealisme, hanya dapat ditempa dengan membangun kembali kaum kiri. Seperti yang telah ditunjukkan dari berbagai perjuangan dari Pakistan dan Iran, ke Aljazair, Tunisia, dan Mesir, sistem ini memaksa orang-orang bisa untuk melawan balik.

Kiri yang seperti ini tak hanya akan menunjukkan sebuah kepemimpinan yang berbeda melawan imprealisme kultural Barat, namun juga terorganisir melawan prioritas kapitalisme neoliberal dan kelas-kelas pemimpin lokal yang beruntung karenannya. Ini adalah tantangan milenium baru.

Lain halnya dengan dua buku di atas, Ulil dalam esainya menuliskan: Jika memang Islam adalah “kado”—istilah Emha Ainun Nadjib dalam sebuah album berjudul Kado Muhammad—maka janganlah ia menjadi kado “natal” yang dibagi-bagikan kepada “anak-anak kota” belaka.

Seharusnya kado (hadiah) itu harus dibagikan kepada seluruh semesta alam; kepada kaum tertindas (kelas bawah), sebagai kado “pembebasan” yang pernah diucapkan Muhammad ketika membebaskan Mekkah dulu: Antumuth Thulaq’, kalian bebas. Jadi yang penting bukan kadonya, tapi jenis kado itu sendiri, serta buat siapa.

Sampai di sini, sekali lagi, Islam bukan hanya soal “halal-haram” saja ,“boleh dan tidak boleh”,  “benar dan salah”, tapi Islam harus juga dipahami sebagai ilmu, aksi, Tauhid, dan kesyahidan. Islam harus bisa membebaskan; menjadi ilmu tentang rakyat (ilm al-jamȃhir).[T]

Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [2] : Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali
Catatan Harian Sugi Lanus# Benar Majapahit Islam?

Tags: esaiIslamPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gigi Emas, Rasa Ngilu Seorang Pematung

Next Post

Humor Adalah Obat | Catatan Pengantar Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Humor Adalah Obat | Catatan Pengantar Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya

Humor Adalah Obat | Catatan Pengantar Buku Sehat Ketawa ala Dokter Arya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co