23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigi Emas, Rasa Ngilu Seorang Pematung

I Wayan Westa by I Wayan Westa
October 3, 2023
in Ulas Rupa
Gigi Emas, Rasa Ngilu Seorang Pematung

Karya Ketut Putrayasa di Studio Batu, Batubulan, Gianyar, dalam pameran tahun ke-9 seniman Militan Art [30/9/2023]

//Dibalik batu rompal dengan   tancapan gigi emas  itu, pemilik Studio Richstone ini tengah menghardik kita dengan sederet protes. Meneror kita yang nyaris kehilangan  daya kiritis.//

Ini teror  dingin  Ketut Putrayasa, pematung kelahiran Desa Canggu, Kuta, Badung. Di Studio Batu, Batubulan, Gianyar,  dalam pameran  tahun ke-9 seniman Militan Art [30/9/2023],  teror itu sedemikian  menyengat. Pematung   yang kini  genap berusia 42 tahun ini  menghadirkan kengiluan mengiris, satire yang  memantik sejumlah  pertanyaan dan labirin tafsir berlapis.

Sekiranya batu hitam itu   ditaruh  begitu saja di studio, tanpa asesoris tambahan, tanpa steger besi, tanpa gigi emas, teror yang diberi “memo” Post Scriptum”  ini dipastikan tak akan menyampaikan pesan apa-apa,  tidak juga menghadirkan rasa ngilu dan pretensi apapun, ia akan menjadi seonggok batu diam. Ia tak menitipkan pesan apa-apa untuk ditulis dalam catatan ini.

Namun di “Post Scriptum” itu, pada batu pualam hitam, pematung yang baru saja menuntaskan karya instalasi  bertajuk “Warring  Images”  di Museum Arma benar-benar seperti tengah meneror kita.  Dengan perasaan dingin, menempel tancapan  gigi emas  di batu,  tetes darah  pangkal  gigi yang lepas, di mana  darah  mengental menjadi lelehan emas. Ini sungguh ‘simbolism  art’, teror tanpa orasi, ngilu yang disembunyikan. Namun sesungguhnya menyimpan gema protes dan pesan terselubung —  di mana sang pematung tengah memberontak pada situasi dunia. Pada keadaan terkini tanah air negerinya. Tanah-tanah yang dijarah, lingkungan  rusak usai eksploitasi yang ditinggalkan begitu saja — sebagaimana keaadaan yang tersisa bukit-bukit yang dikeruk di Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali.

Dan sodokan yang dingin ini   mengingatkan luka-luka itu. Betapa dibalik   nganga ‘Post Scriptum” itu,  lewat media batu alam,  terbaca  ada didih  membuih, ada amarah mengguncang, dan simpati  mendalam pada situasi yang  membuat hati ngilu. Perasaan sakit yang tak mudah dikomunikasikan —  karena di situ,  tak  banyak orang peduli dan mau merasakan. Ini sungguh gambaran kematian empati  kelam. Batin kering dirampas hidup  pragmatis. Dus, dalam karya ini, Putrayasa seperti dirajam rasa sakit, diguncang kesedihan tak terampuni — bahwa kerakusan oligarki hari ini,  selain  memporanda alam, juga  memperlebar jurang si misikin  dengan si kaya, pengusiran paksa —  di mana secara pelan maupun cepat membawa kita ke kubur masa depan nasib manusia, nasib anak-anak negeri.

.

Post Scriptum ini,  lewat media batu,  dengan tinggalan gigi emas  yang nyangkut di batu jelas tidak indah dikecap indra. Tak memberi kesan menarik di mata  awam, tidak menghasilkan apa-apa bagi seniman dengan etos pengrajin.  Namun bagi Ketut Putrayasa, pilihan  ‘art simbolism’ itu bukan melulu soal seni  menghibur sebagaimana konser musik dangdut di acara kawinan.

Dibalik batu rompal dengan tinggalan gigi emas  itu, pemilik Studio Richstone ini tengah menghardik kita dengan sederet protes. Meneror kita yang nyaris kehilangan suara kiritis.   Di situ tersembul renungan-renungan kontemplatif yang menghujam, setelah sang seniman berhadapan, menyangksikan sejumlah olok-olok dunia, drama kaum pemodal, kemaruk dan kerakusan oligarki atas lingkungan  alam yang tengah dieksplotasi habis-habisan. Kendati toh mereka tidak sendirian, mereka berkolaborasi dengan kekuasaan, berkelit di belakang  pemegang bedil, berjabat erat dengan preman bayaran. Ini adalah sebentuk guncangan psikologis, ketakutan yang diciptakan.

Tragedi semacam ini dengan mudah bisa kita saksikan di Bali dan di seantero Nusantara. Mulai dari Rempang di Kepulauan Riau, tragedi Pucak Gumang di Karangasem, Bali, dan “pencaplokan” tanah-tanah rakyat di tempat lain di Nusantara. Yang paling parah tentu,  alih fungsi lahan pertanian kian masif di Bali, disulap menjadi villa, pasar  modern, pusat perdagangan, pusat hiburan, hotel, dan  desa-desa yang sesak dirangsek industri pariwisata. Di titik ini, seniman memang tidak  biasa  turun ke jalan,  karena ia bukanlah jenis makhluk penyuka dunia yang gaduh, ia  memilih berdemo dengan satire-satire kreatif, intelek, dengan ‘art simbolism’ munusuk, dengan hanya satu batu yang dipungut bantaran Sungai Tukad Unda, tak jauh dari  rencana proyek  Pusat Kebudayaan Bali,  Desa Gunaksa.

Sampai di sini muncul pertanyaan, makhluk macam apa pula Post Scriptum itu yang kerap disingkat PS?   Ada apa gerangan Ketut Putrayasa memungut istilah ini  untuk  gelar seni instalasinya?

.

Memang, pada awalnya, frasa Post Scriptum berasal dari Bahasa Latin yang artinya “ditulis setelah”, digunakan dalam tradisi surat-menyurat untuk  tulisan tangan. Pesan singkat yang ditambah di akhir surat  sebagai penegasan isi surat. Karenanya, secara hermeneutika, Post Scriptum berperan untuk memberi penekanan pada suatu hal yang digagas, menyampaikan perasaan terdalam, atau kalimat terakhir untuk sebuah argumen. Dari sinilah Ketut Putrayasa meminjam istilan itu, menginisiasi karyanya untuk menjadi ‘seni perlawanan’ sekaligus penyadaran.

Pada karya ini Putrayasa menjembatani prostesnya dengan tiga elemen simbolik: batu, stager besi, dan gigi emas. Batu simbol bumi, steger baja,  wujud kekerasan eksploitasi, sementara gigi emas   simpul    kemaruk elit pemodal.  Ketiga medium ini sekaligus menjadi ‘bahasa” protes, dirajut   sebagai  ‘art simbolism’. Suatu cara yang tidak saja membebaskan  seniman dari tuduhan subversip. Namun dari sini dia juga melakukan pemberontakan senyap, simbolik sekaligus estetik.

Memang seniman, sebagaimana jauh-jauh hari diharapkan Sutan Takdir Alisyahbana, seni dan seniman harus terlibat dalam masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,  diharapkan memberi solusi atas problem-problem itu. Karena bila kaum ini diam, atau malah berdiri di belakang kekuasaan  ia tidak menunjukkan tanggungjawabnya sebagai penjaga nilai.

Bagi Ketut Putrayasa, Post Scriptum menjadi sebuah refleksi setelah sang seniman menyaksikan serentenan “tragedi pulau”, perselingkuhan oligarki dengan kekuasaan  di mana mereka menguasai, mengangkangi hampir seluruh nutiri hidup di tanah, di balik isu-isu kelangkaan pangan, perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, pencemaran, revolusi hijau, serta eksploitasi  dalam bentuk paling halus —  mempolitisi bahasa sebagai alat propaganda, untuk menyatakan  kekuasaan itu  maha benar adanya.

Dan  karenanya, kerusakan-kerusakan lingkungan paling parah misalnya, bukan berawal dari ketidakberdayaan rakyat  miskin. Bukan pula oleh kelaparan musim.  Betapa di wilayah-wilayah yang dikuasai itu, sang  seniman menemukan jejak,  suatu simtom yang disimbolisasi sebagai ‘gigi emas’,  ‘art simbol’ dari pemodal atau oligarki ganas yang terus-menerus berebut tanah dari tuan bernama; rakyat.

Berhadapan dengan karya-karya instalasi ayah dari  I Gede Narendra Adyaputra ini;  setiap penikmat seperti diajak  melakukan monolog batin, di mana,  di setiap  karya-karya itu orang tergoda  bertanya, sekaligus  berburu jawaban di artefak-artefak  ‘art simbolism’ itu.

Tidak gampang menembus labirin pikiran  Ketut Putrayasa,  kecuali  untuk mereka  yang telah  akrab dengan kelebatan-kelebatan pikirannya serta kejelian protes-protesnya pada ketidaklaziman. Ia seperti mengalami  kesakitan dan keperihan,  merasakan humanisme yang hilang, alih-alih pada mereka yang membiarkan dirinya menjadi budak hedonisme. Sebagai seniman ia berseberangan dengan argurmen ilmiah  yang dibangun Darwin, penulis buku yang nyaris menjadi magnum opus Origin of Species. Karena dalam semangat humanisme tidak ada aporisme:  “yang kuat, yang menang”.

Semangat melawan dengan cara  indah dan senyap inilah yang menarik dari tangan Ketut Putrayasa. Ia selalu punya cara genial,  bagaimana seni adalah juga sebentuk perlawanan, menghadirkan cibiran karikatural  menohok pada situasi terkeni kehancuran adab bangsanya, kemaruk para elit, dan media pers yang lumpuh sebagai lembaga kontrol. Di tengah-tengah kelumpuhan itu, walau dengan rasa ngilu, dan kepedihan menyengat, Putrayasa menunjukkan pendiriannya untuk bersuara. Ia seperti menghidupkan nyala dalam kegelapan hedonisme dan drama politik layaknya dagelan.

Tak hendak menafikan peran-peran lain, atau bidang-bidang lain, dan  seniman lain  yang  tetap bersepaku dengan  pendirian masing-masing, serta memberi kontribusi hebat pada kemajuan kebudayaan dengan arti luas, setidaknya Ketut Putrayasa membuat para pengunjung di Studio Batu menunda tidur siang, merenung-renungi masa depan generasi di tengah-tengah pesta oligarki yang bekerja bareng, berjabat tangan dengan penguasa — dan rakyat cuma dibutuhkan saban lima tahun sekali, dirawatnya dengan lima kilo gram beras dan janji-janji pialang politik serba gratis serta orasi masa depan lebih baik. Lalu baliho-baliho itu pun dipasang tanpa rasa malu, kerap menggelikan. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik”, Grafis, Koruptor dan Anjing | Catatan dari Perupa
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar
Tags: seni patungSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rapat Ranperda Pajak dan Retribusi Daerah di DPRD Buleleng: Pansus dan Eksekutif Sepakati Biaya BPHTB 0,5 Persen

Next Post

Islam Agama Pembebasan

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Islam Agama Pembebasan

Islam Agama Pembebasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co