2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik”, Grafis, Koruptor dan Anjing | Catatan dari Perupa

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
May 11, 2023
in Ulas Rupa
Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik”, Grafis, Koruptor dan Anjing | Catatan dari Perupa

PENGUNJUNG PAMERAN SENI RUPA “Politik Titik Titik”di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, akan melihat sejumlah suguhan karya seni rupa yang menggelitik hati, barangkali juga menggelitik emosi.

Pameran itu menghadirkan tiga jenis karya rupa dengan teknik dan proses kekaryaan yang berbeda. Ada lukisan di atas kanvas, lukisan kaca,  dan grafis. Sesuai topik yang diangkat, setiap karya menyentil isu-isu politik, kebijakan pemerintah, dan isu tindak korupsi dalam lembaga-lembaga formal.

Pameran seni rupa “Politik Titik Titik” digelar serangkaian perayaan dan pemaknaan ulang tahun ke-7, Tatkala.co, sebuah media yang mengembangkan jurnalisme sastra dan jurnalisme warga dengan perhatian besar pada seni, budaya, dan aktivitas manusia. Tatkala.co juga senantiasa mengembangkan wacana baru sebagai bahan diskusi dan sekadar perenungan bersama.

Pameran itu dibuka Minggu, 7 Mei, dan dibuka hingga Minggu 28 Mei 2023. Di tengah-tengah acara pameran, juga digelar berbagai acara lain seperti pementasan, diskusi dan workshop.

***

Dalam ajang kritik mengkritik, salah satu yang umum dan sering digunakan dalam karya seni rupa, adalah karya grafis. Kebanyakan karya grafis berisi kritik dan sentilan terhadap pemerintahan.

Grafis adalah salah satu cabang seni rupa dua dimensi yang di buat dengan cara mencetak. Ada 4 teknik di dalam cetak grafis. Cetak tinggi, cetak dalam, cetak saring dan cetak datar.

Penulis/perupa dengan latar lukisan karya grafisnya | Foto: Dok Pribadi

Saya adalah satu perupa muda yang masih mencari kemungkinan-kemungkinan kreatif yang bisa dikembangkan seni grafis. Dalam pameran “Politik Titik Titik”, saya turut memajang karya grafis dengan upaya-upaya terbatas memberi makna pada kritik-kritik sosial yang ada di negara ini.

Dalam pameran “Politik Titik Titik”, saya sebagai perupa menghadirkan karya grafis dengan teknik cetak tinggi.

Sederhananya, cetak tinggi dalam keseharian adalah stempel/cap. Diawali dengan membuat cetakan, dengan proses mencukil bahan yang bisa terbuat dari karet lino atau bisa dengan menggunakan hardboard. Kemudian karet atau hardboard itu dilapisi dengan tinta dan dicetak di atas media kertas atau kanvas.

***

Saya sebagai perupa yang ikut memamerkan karya grafis akan membahas konsep karya seni grafis itu dan pesan apa yang hendak saya sampaikan. Bahasan ini bukanlah pembelaan diri, bukan pula sebagai upaya creator untuk menjelas-jelaskan karyanya sendiri agar dianggap bagus. Bukan.

Penikmat seni tetap bisa memberikan persepsi, asumsi, dugaan-dugaan, sekaligus juga kesimpulan.

Namun penting rasanya saya menjelaskan kehendak saya dalam menciptakan karya seni, agar asumsi penikmat seni tidak terlalu liar atau jauh menyimpang. Walaupun ketika pengunjung berasumsi, menerka dan memiliki penilaian sendiri terhadap sebuah karya adalah sebuah bentuk apresiasi yang besar dirasakan oleh seniman seperti saya.

Judul : Never Let It Go, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 3/4, Ukuran : 23×32, Tahun : 2016

Dalam pameran itu terdapat karya grafis grouping, yang mengangkat isu korupsi dengan teknik cetak tinggi yang terdiri dari 4 karya buatan saya sendiri. Karya ini merupakan karya lama yang kini keluar kandang lagi. Karya itu menggambarkan tokoh pejabat namun kepala tokoh tersebut diganti dengan kepala anjing.

Gagasan ini muncul ketika muncul semacam kebencian saya terhadap pejabat yang berlaku korup. Muncul ide untuk menghujat si koruptor dengan sebuah karya.

Umumnya koruptor dilambangkan sebagai seekor tikus, yang diambil dari kebiasaan tikus yang menggerogoti seisi perabotan di rumah. Tikus menjadi lambang koruptor karena dianggap menggerogoti uang rakyat.

Namun saya merasa kurang puas, ketika ingin menghujat koruptor dengan sebutan tikus. Simbol itu terasa kurang tajam dan terkesan lucu ketika koruptor dibilang tikus. Terbukti, sampai saat ini, koruptor masih merajalela, hilang satu tumbuh seribu.

Saya beranggapan, ketika simbol diganti dengan binatang lain yang konotasinya menghujat dan memaki, mungkin koruptor akan merasa risih dan takut melakukan hal yang sama berulang kali.

Judul : Terkurung Bebas, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 5/5, Ukuran : 50×60, Tahun : 2016

Ya, “anjing” menjadi pilihan. Ketika kata anjing dilontarkan kepada seseorang, akan muncul konotasi kasar, bisa makian, bisa hujatan. Ketika koruptor kita sebut anjing, maka tingkat kepuasan dalam meluapkan amarah kita dapat tersalurkan. Terbukti saat ini, kata anjing, anjay, anjir, yang konotasinya sama, selalu dilontarkan ketika merasakan kesal terhadap sesuatu.

Selain hujatan, anjing adalah salah satu hewan penurut. Ya, penurut kepada tuannya. Seniman juga ingin menggambarkan, bahwa setiap pejabat memiliki tuannya masing-masing yang wajib dipatuhi segala perintahnya. Bahkan petinggi-petinggi yang mengatasnamakan rakyat, selalu mengambil keputusan atas perintah majikannya. Bagi saya, anjing adalah sebutan yang pas buat mereka yang berperilaku seperti itu.

Saya memang banyak mengadopsi kebiasaan anjing untuk dijadikan  simbol dalam karya. Menjilat, mengendus, mencari kesalahan orang, bahkan pendendam. Semua itu juga tersirat pada sifat-sifat dan kebiasaan oknum pejabat yang korup dan suka menyelewengkan wewenang dan kekuasaan.

Judul : Authorization’s Fight, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 5/5, Ukuran : 23×32, Tahun : 2016

Judul : I Like Money, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 6/6, Ukuran : 42×64, Tahun : 2016

Selain itu, dalam karya itu  juga terselip siluet Tugu Monas (Monumen Nasional) di dalam karya. Itu menyiratkan bahwa kejadian itu terjadi di Indonesia. Monas sebagai simbol Jakarta yang menjadi pusat dari pemerintahan di negara ini.

Setiap karya menceritakan kejadian tersendiri. Salah satu karya dengan judul “Terkurung Bebas” menggambarkan oknum pejabat yang berada di dalam penjara dengan kasus korupsi. Namun, keadaan di dalam penjara terkesan nyaman dan tak seperti penjara pada umumnya. Terlihat gembok penjara yang terbuka, menyiratkan kebebasan mereka untuk keluar masuk dengan laluasa. Di satu sisi masyarakat melihat mereka sudah terpenjara, namun kenyataan mereka masih bebas berkeliaran.

Banyak pesan yang ingin seniman sampaikan. Dan karya yang tercipta menyiratkan isi hati sang seniman kepada oknum pejabat yang berprilaku korup. Hanya dengan karya, seniman menghujat dan memaki. Walau mungkin makian dan hujatan itu takkan sampai di telinga mereka, namun kepuasan seniman telah tersalurkan pada sebuah karya.

Pameran Politik Titik Titik ini berlangsung sampai 28 Mei 2023 dan dibuka setiap hari. Mari kunjungi dan apresiasi, serta biarkan pikiran liar menerka pesan yang ingin seniman sampaikan lewat karya, yang tentunya karya menggelitik. [T]

Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam
Malam Pembukaan Tatkala May May May 2023: Ada Puisi, Tarian, dan Piringan Hitam
Tags: Pameran Seni RupaPolitikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak yang Menjelma Burung Rantau

Next Post

Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co