23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik”, Grafis, Koruptor dan Anjing | Catatan dari Perupa

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
May 11, 2023
in Ulas Rupa
Pameran Seni Rupa “Politik Titik Titik”, Grafis, Koruptor dan Anjing | Catatan dari Perupa

PENGUNJUNG PAMERAN SENI RUPA “Politik Titik Titik”di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, akan melihat sejumlah suguhan karya seni rupa yang menggelitik hati, barangkali juga menggelitik emosi.

Pameran itu menghadirkan tiga jenis karya rupa dengan teknik dan proses kekaryaan yang berbeda. Ada lukisan di atas kanvas, lukisan kaca,  dan grafis. Sesuai topik yang diangkat, setiap karya menyentil isu-isu politik, kebijakan pemerintah, dan isu tindak korupsi dalam lembaga-lembaga formal.

Pameran seni rupa “Politik Titik Titik” digelar serangkaian perayaan dan pemaknaan ulang tahun ke-7, Tatkala.co, sebuah media yang mengembangkan jurnalisme sastra dan jurnalisme warga dengan perhatian besar pada seni, budaya, dan aktivitas manusia. Tatkala.co juga senantiasa mengembangkan wacana baru sebagai bahan diskusi dan sekadar perenungan bersama.

Pameran itu dibuka Minggu, 7 Mei, dan dibuka hingga Minggu 28 Mei 2023. Di tengah-tengah acara pameran, juga digelar berbagai acara lain seperti pementasan, diskusi dan workshop.

***

Dalam ajang kritik mengkritik, salah satu yang umum dan sering digunakan dalam karya seni rupa, adalah karya grafis. Kebanyakan karya grafis berisi kritik dan sentilan terhadap pemerintahan.

Grafis adalah salah satu cabang seni rupa dua dimensi yang di buat dengan cara mencetak. Ada 4 teknik di dalam cetak grafis. Cetak tinggi, cetak dalam, cetak saring dan cetak datar.

Penulis/perupa dengan latar lukisan karya grafisnya | Foto: Dok Pribadi

Saya adalah satu perupa muda yang masih mencari kemungkinan-kemungkinan kreatif yang bisa dikembangkan seni grafis. Dalam pameran “Politik Titik Titik”, saya turut memajang karya grafis dengan upaya-upaya terbatas memberi makna pada kritik-kritik sosial yang ada di negara ini.

Dalam pameran “Politik Titik Titik”, saya sebagai perupa menghadirkan karya grafis dengan teknik cetak tinggi.

Sederhananya, cetak tinggi dalam keseharian adalah stempel/cap. Diawali dengan membuat cetakan, dengan proses mencukil bahan yang bisa terbuat dari karet lino atau bisa dengan menggunakan hardboard. Kemudian karet atau hardboard itu dilapisi dengan tinta dan dicetak di atas media kertas atau kanvas.

***

Saya sebagai perupa yang ikut memamerkan karya grafis akan membahas konsep karya seni grafis itu dan pesan apa yang hendak saya sampaikan. Bahasan ini bukanlah pembelaan diri, bukan pula sebagai upaya creator untuk menjelas-jelaskan karyanya sendiri agar dianggap bagus. Bukan.

Penikmat seni tetap bisa memberikan persepsi, asumsi, dugaan-dugaan, sekaligus juga kesimpulan.

Namun penting rasanya saya menjelaskan kehendak saya dalam menciptakan karya seni, agar asumsi penikmat seni tidak terlalu liar atau jauh menyimpang. Walaupun ketika pengunjung berasumsi, menerka dan memiliki penilaian sendiri terhadap sebuah karya adalah sebuah bentuk apresiasi yang besar dirasakan oleh seniman seperti saya.

Judul : Never Let It Go, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 3/4, Ukuran : 23×32, Tahun : 2016

Dalam pameran itu terdapat karya grafis grouping, yang mengangkat isu korupsi dengan teknik cetak tinggi yang terdiri dari 4 karya buatan saya sendiri. Karya ini merupakan karya lama yang kini keluar kandang lagi. Karya itu menggambarkan tokoh pejabat namun kepala tokoh tersebut diganti dengan kepala anjing.

Gagasan ini muncul ketika muncul semacam kebencian saya terhadap pejabat yang berlaku korup. Muncul ide untuk menghujat si koruptor dengan sebuah karya.

Umumnya koruptor dilambangkan sebagai seekor tikus, yang diambil dari kebiasaan tikus yang menggerogoti seisi perabotan di rumah. Tikus menjadi lambang koruptor karena dianggap menggerogoti uang rakyat.

Namun saya merasa kurang puas, ketika ingin menghujat koruptor dengan sebutan tikus. Simbol itu terasa kurang tajam dan terkesan lucu ketika koruptor dibilang tikus. Terbukti, sampai saat ini, koruptor masih merajalela, hilang satu tumbuh seribu.

Saya beranggapan, ketika simbol diganti dengan binatang lain yang konotasinya menghujat dan memaki, mungkin koruptor akan merasa risih dan takut melakukan hal yang sama berulang kali.

Judul : Terkurung Bebas, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 5/5, Ukuran : 50×60, Tahun : 2016

Ya, “anjing” menjadi pilihan. Ketika kata anjing dilontarkan kepada seseorang, akan muncul konotasi kasar, bisa makian, bisa hujatan. Ketika koruptor kita sebut anjing, maka tingkat kepuasan dalam meluapkan amarah kita dapat tersalurkan. Terbukti saat ini, kata anjing, anjay, anjir, yang konotasinya sama, selalu dilontarkan ketika merasakan kesal terhadap sesuatu.

Selain hujatan, anjing adalah salah satu hewan penurut. Ya, penurut kepada tuannya. Seniman juga ingin menggambarkan, bahwa setiap pejabat memiliki tuannya masing-masing yang wajib dipatuhi segala perintahnya. Bahkan petinggi-petinggi yang mengatasnamakan rakyat, selalu mengambil keputusan atas perintah majikannya. Bagi saya, anjing adalah sebutan yang pas buat mereka yang berperilaku seperti itu.

Saya memang banyak mengadopsi kebiasaan anjing untuk dijadikan  simbol dalam karya. Menjilat, mengendus, mencari kesalahan orang, bahkan pendendam. Semua itu juga tersirat pada sifat-sifat dan kebiasaan oknum pejabat yang korup dan suka menyelewengkan wewenang dan kekuasaan.

Judul : Authorization’s Fight, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 5/5, Ukuran : 23×32, Tahun : 2016

Judul : I Like Money, Teknik : Lino Cut On Paper, Cetakan : 6/6, Ukuran : 42×64, Tahun : 2016

Selain itu, dalam karya itu  juga terselip siluet Tugu Monas (Monumen Nasional) di dalam karya. Itu menyiratkan bahwa kejadian itu terjadi di Indonesia. Monas sebagai simbol Jakarta yang menjadi pusat dari pemerintahan di negara ini.

Setiap karya menceritakan kejadian tersendiri. Salah satu karya dengan judul “Terkurung Bebas” menggambarkan oknum pejabat yang berada di dalam penjara dengan kasus korupsi. Namun, keadaan di dalam penjara terkesan nyaman dan tak seperti penjara pada umumnya. Terlihat gembok penjara yang terbuka, menyiratkan kebebasan mereka untuk keluar masuk dengan laluasa. Di satu sisi masyarakat melihat mereka sudah terpenjara, namun kenyataan mereka masih bebas berkeliaran.

Banyak pesan yang ingin seniman sampaikan. Dan karya yang tercipta menyiratkan isi hati sang seniman kepada oknum pejabat yang berprilaku korup. Hanya dengan karya, seniman menghujat dan memaki. Walau mungkin makian dan hujatan itu takkan sampai di telinga mereka, namun kepuasan seniman telah tersalurkan pada sebuah karya.

Pameran Politik Titik Titik ini berlangsung sampai 28 Mei 2023 dan dibuka setiap hari. Mari kunjungi dan apresiasi, serta biarkan pikiran liar menerka pesan yang ingin seniman sampaikan lewat karya, yang tentunya karya menggelitik. [T]

Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam
Malam Pembukaan Tatkala May May May 2023: Ada Puisi, Tarian, dan Piringan Hitam
Tags: Pameran Seni RupaPolitikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak yang Menjelma Burung Rantau

Next Post

Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

Pemilu 2024: Nahdliyin Adalah Kunci

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co