6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam

Jaswanto by Jaswanto
May 11, 2023
in Persona
Yoga Pratama: Mencoba Mendengar Masa Lalu dari Piringan Hitam

Yoga Pratama saat memutar piringan hitam dalam acara Tatkala May May May 2023, Sabtu (6/5/2023) | Dok. Tatkala.co

PEMUDA DENGAN nama lengkap I Gede Agus Yoga Pratama tampak berbinar seusai memutar beberapa piringan hitam yang memuat lagu-lagu lawas dalam acara pembukaan Tatkala May May May 2023—perayaan hari ulang tahun ke-7 Media Tatkala.co—di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, pada Sabtu (6/5/2023).

Pemuda lulusan S2 Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada itu tersenyum lebar setelah apa yang dilakukannya mendapat sambutan meriah dari pengunjung.

Yoga, begitu ia akrab dipanggil. Pria kelahiran 29 Juni 1994 itu menghabiskan masa kecilnya di Kota Singaraja, Bali. Dan pada 2012, ia memutuskan untuk merantau ke Bandung, Jawa Barat, menempuh pendidikan di Institut Teknologi Nasional Bandung dengan mengambil jurusan S1 Perencanaan Wilayah dan Kota.

Tak puas sampai di situ, pada 2018, setahun setelah merampungkan kuliah di ITN Bandung, ia berangkat ke Yogyakarta. Yoga melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada Program Pasca Sarjna Perencanaan Wilayah dan Kota (Konsentrasi Perkotaan)—dan ia lulus pada 2020 dengan IPK 3.75.

Yoga Pratama saat berbicara tentang piringan hitam dalam acara Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Tatkala.co

Yoga kembali ke kampung halamannya di Singaraja setelah mendapat banyak ilmu dan pengalaman. Ia pernah menjadi Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota di beberapa perusahaan, mengerjakan project Pemerintahan Daerah dan Kementrian, di antaranya Rencana Detail Tata Ruang Kota, Real Estate, Zoning Plan, Zoning Regulation dan Site Plan.

Tapi, dari semua hal yang telah dilakukannya, ada satu hal yang memiliki tempat khusus di lubuk hatinya, satu hal tersebut tak lain ialah: lagu lawas yang termuat dalam piringan hitam atau kaset pita.

Ia mengaku, kegemarannya mendengarkan lagu-lagu lawas didapatkan dari orang tuanya. “Kebiasaan orang tua kami, dulu, memutar lagu-lagu era 80-90an dipagi hari, sebelum kami berangkat sekolah. Kenangan itu seakan melekat di telinga,” ujarnya kepada Tatakala.co, Senin (8/5/2023).

Musik, khususnya musik lawas, menurut Yoga, melalui sentuhan sederhananya, sebenarnya membuat setiap orang lebih mudah untuk terhubung. Tetapi, dengan nada sedikit putus asa, Yoga menyesali generasi hari ini yang tak banyak menghargai karya dengan menikmati rekaman fisik.

“Cara yang sudah usang, memang, tapi seakan membawa sepirit baru bagi saya untuk bersenang-senang,” akunya.

Jika ditarik ke belakang, Yoga menambahkan, semangat ini terinspirasi dari album “Kesepakatan dalam Kepekatan” oleh Guruh Gipsy. Dari sana, ia seolah mendengar masa lalu yang bermacam-macam. Ia menjelaskan, cover album tersebut terdapat kaligrafi Dasa Bayu berupa rangkaian 10 aksara Bali.

“Kaligrafi itu—i-a, a-ka-sa, ma-ra, la-wa dan ya-ung—berarti suatu keadaan hampa atau kosong yang kelak akan berubah menjadi kebenaran,” jelas pemuda yang sekarang bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang 3d modeling arsitektur dari Swiss itu.

Mencoba menekuninya

Di tengah kesibukannya bekerja, Yoga tetap meluangkan waktu untuk memikirkan nasib koleksi piringan hitam dan kaset-kaset pitanya.

Hingga pada 2018, berawal dari Yuda, adiknya, yang sangat gemar dan cinta terhadap rilisan fisik yang bergenre jazz, groove, pop classic, tribe, psychedelic dan funk era 80an, ia memiliki ide untuk mewadahi teman-temannya yang cinta terhadap rilisan fisik.

Kesempatan itu akhirnya muncul pada tahun 2022, saat ia dan kawan-kawannya melihat banyaknya arsip rilisan fisik koleksi RRI Singaraja. Dari sana mereka memutuskan untuk membentuk grup selekta dengan nama Irama Utara.

Irama Utara merupakan group selekta dari kota kecil di Bali Utara yang masih bagian dari Komunitas Hulutara. Grup ini piawai membawakan setlist dengan piringan hitam dan controller digital.

“Jadi, kolektif Hulutara merupakan cikal bakal terbentuknya grup selekta Irama Utara dengan empat anggota: saya, Yuda, Yauk, dan Angga,” jelasnya.

Hulutara dibentuk pada awal tahun 2020 silam, secara tiba-tiba, atas dasar keinginan yang sama, yakni menjelajah Bali Utara. Dengan adanya kolektif budaya semacam ini, mereka berharap bisa mengenal lebih dalam akar mereka dari hulu sampai hilir. Bersama Komunitas Hulutara, Yoga mulai tertarik untuk menekuni piringan hitam dan segala hal tentangnya.

“Hulutara mempunyai visi ke depan untuk mengenal hulu dan hilir di Bali Utara. Maka dari itu, kolektif budaya ini kami namakan Hulutara, hulu Bali Utara. Jadi, Hulutara itu seperti stasiun. Kami punya kereta yang mempunyai tujuan macam-macam, seperti kuliner, berkunjung, dan musik terutama rilisan fisik,” terang Made Aryawan dilansir dari rri.co.id.

Bersama teman-temannya di Hulutara, pada Kamis (10/11/2022), di Museum Sunda Kecil di Pelabuhan Tua Buleleng, impian Yoga untuk mengenalkan lagu-lagu lawas akhirnya terwujud. Sekitar 50 buah piringan hitam dan 100 buah kaset pita ia pamerkan di beberapa titik di dalam museum.

Puluhan piringan hitam mereka “selamatkan” dari arsip RRI Singaraja. Begitu juga dengan ratusan kaset pita yang kini sudah jarang digunakan. Beberapa kaset pita juga ada yang diselamatkan dari perorangan yang memiliki koleksi di rumahnya. Secara sukarela benda-benda tersebut diserahkan kepada komunitas Hulutara berikut dengan alat pemutarnya.

Di sana, Yoga dan kawan-kawannya juga memutar beberapa piringan hitam dengan turntable layaknya menikmati musik Dj masa kini. Mereka kembali memperkenalkan artis-artis lawas dengan lagu-lagunya yang populer pada zaman dulu.  Saat itu, Yoga merasa heran, kendati yang diputar adalah musik-musik lawas, justru yang banyak hadir adalah kaum milenial.

Yoga bersama kawannya di Irama Utara sedang memutar piringan hitam dalam acara Tatkala May May May 2023 / Dok. Tatkala.co

Yoga menjelaskan bahwa kegiatan yang diberi tajuk “Senandung Padu Irama” itu sedikit banyak terpengaruh oleh I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, pendiri Arsip Bali 1928, yang dengan teguh melakukan repatriasi sekaligus restorasi dokumen bersejarah Bali era 1930-an.

“Tokoh yang membuat kami terpantik untuk menggelar acara ini adalah Marlowe Bandem. Banyak dari rilisan fisik yang terkait dengan Bali sudah beliau selamatkan. Penyelamatan rilisan fisik yang beliau lakukan tak terbatas di dalam negeri saja,” ungkap Yoga.

Keinginannya untuk merawat Irama Utara tak lain adalah agar generasi muda yang ada di Bali, khususnya di Singaraja, menikmati buah pikir para musisi atau seniman zaman dulu.

Sebuah tantangan

Kerja-kerja yang dilakukan Yoga tentu bukan sesuatu yang ringan, butuh usaha keras untuk bisa konsisten mempelajari dan mengembangkannya.

Benda semacam piringan hitam dan kaset-kaset pita merupakan produk masa lalu yang harus mendapat perhatian khusus, bukan saja dalam hal perawatan, tapi juga perjuangan dalam mendapatkannya.

“Kami sering mendapatkan piringan hitam dalam kondisi sudah rusak. Covernya sobek, dimakan rayap, dll. Tapi, selama platnya masih bagus, biasanya kami akan membikin cover baru,” terang Yoga.

Dalam hal perawatan piringan hitam, Yoga mengatakan, yang penting disimpan di ruangan yang tidak lembab, sebab itu dapat mengakibatkan plat menjadi jamuran, dan itu bisa berakibat fatal.

“Plat yang sudah rusak parah, misal jamuran parah atau patah, tentu sudah dapat digunakan. Tapi kalau hanya ada goresan-goresan kecil masih bisa diselamatkan,” jelasnya.

Plat piringan hitam / Dok. Tatkala.co

Di tengah maraknya platform musik digital macam Spotify, YouTube Music, JooX, Shazam, Deezer, dan semacamnya, yang mudah didapat, menekuni dan mendengar musik melalui rilisan fisik (piringan hitam dan kaset pita) tentu sebuah tantangan yang berat.

Namun, saat ini, Irama Utara, menurut Yoga, mencoba mengesampingkan faktor-faktor dari luar dahulu. Ia mengatakan, untuk saat ini, ia dan kawan-kawannya mencoba, sebisa mungkin, untuk tetap menjaga energi kolektif terlebih dahulu. Artinya, ia tak terlalu peduli terhadap apakah peminat musik rilisan fisik banyak atau sedikit. Yang jelas, pihaknya akan terus berusaha, tak berhenti berproses.

“Itu tantangan yang harus kami hadapi. Tapi, meskipun begitu, kami juga tak mau pasrah begitu saja. Kami akan terus berjuang atas apa yang telah kami mulai. Sebab, saya menyadari bahwa band atau musisi Indonesia zaman dulu itu tak kalah keren dengan band atau musisi zaman kiwari,” tuturnya.

Semangat Yoga dalam mempelajari, merawat, mengarsipkan, dan mencoba menjadi “berbeda” tampaknya membuat kita sadar bahwa orang memang perlu menerima gelora-geloranya yang kuat, dan tidak kehilangan semangatnya untuk menaklukkan. Ini bagian dari hidup, dan membawa suka cita pada mereka yang ikut berpartisipasi di dalamnya.

Mari mendengar masa lalu dari piringan hitam bersama Yoga.[T]

Tags: game musikmusikmusik kontemporertokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasamuhan Agung Basa Bali VIII : Dua Hari Bicara Bahasa, Aksara dan Sastra Bali

Next Post

Menjadi MC Dadakan, Melihat Tatkala May May May 2023 dari Kacamata Mahasiswa Magang

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi MC Dadakan, Melihat Tatkala May May May 2023 dari Kacamata Mahasiswa Magang

Menjadi MC Dadakan, Melihat Tatkala May May May 2023 dari Kacamata Mahasiswa Magang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co