1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 21, 2023
in Ulas Rupa
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Lukisan berjudul Ambisi karya Putu Wita Sugianyar, salah satu lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa “Earth Visory” di Kulidan Kitchen

SEJAK PERTAMA KALI dimulai pada tanggal 22 April 1970, gerakan ‘Earth Day’ atau ‘Hari Bumi’ telah mendapatkan dukungan dan perhatian dari dunia luas. Gerakan Hari Bumi yang senantiasa mengampanyekan kesadaran publik dalam menjaga planet yang kita tinggali ini digagas pada awal tahun 1969 oleh seorang senator dan pengajar lingkungan hidup di Amerika Serikat, Gaylord Nelson.

Perhatian Gaylord Nelson pada kerusakan lingkungan akibat insiden tumpahnya minyak di Santa Barbara-California pada tahun yang sama mendorongnya untuk menyuarakan betapa pentingnya kesadaran pada isu-isu lingkungan dan dampak dari pengabaian kesehatan Bumi yang sudah barang tentu berbuntut dan bermuara pada persoalan keberlangsungan hidup manusia dan seluruh komponen kehidupan yang ada di Bumi.

Hingga hari ini, gerakan Hari Bumi telah mencatat setidaknya ada lebih dari 200 juta orang tersebar di 141 negara yang telah berpartisipasi dan turut melanggengkan momentum penuh kebaikan ini. Selain aktivis lingkungan, diantara mereka juga ada para seniman yang terdorong untuk merayakan Hari Bumi dengan menciptakan karya seni.

Salah satunya yang tersohor adalah lagu “Earth” (2019), sebuah suguhan karya seni musik dengan kombinasi animasi kartunal yang dikerjakan oleh lebih dari 30 seniman dimotori oleh penyanyi Lil Dicky.

Selain itu ada juga beberapa gelaran pameran seni rupa di Indonesia yang tercatat sebagai respon atas peringatan Hari Bumi. Hal ini pun bukan hal baru. Bersamaan dengan awal munculnya seni konseptual di barat pada era 1970-an, seni rupa kontemporer kita hari ini memang kian terbuka menunjang aktivisme politik dan lingkungan.

Tahun ini di Bali tepatnya di Kulidan Kitchen and Space, peringatan Hari Bumi kembali dirayakan melalui jalur kesenian yakni pameran seni rupa. Adalah para perupa muda yang tergabung dalam kelompok ”Bukan Seniman Project” yang menginisiasi pameran ini.

Pameran Seni Rupa EARTH VISORY dibuka, Sabtu, 22 April 2023 pukul 17.00 Wita di Kulidan Kitchen and Space, Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali. Pameran akan berlangsung hingga 4 Mei 2023.

Melalui bahasa ungkap yang beragam, perupa dalam pameran ini menghadirkan karya seni yang memperbincangkan kondisi dan persoalan yang berhubungan dengan alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Seluruh karya mereka dipertemukan dan dibingkai dalam sebuah tajuk pameran yaitu “Earth Visory”,yang bisa diartikan sebagai ‘suatu cara pandang’ terhadap Bumi, hingga alam secara luas.

Sesuai konsep tersebut, pameran ini mempersilahkan para peserta pameran untuk secara bebas menafsir dan memaknai objek yang sama yaitu ‘Bumi’ dengan berangkat dari pengalaman dan daya nalarnya masing-masing.

Walaupun didekati oleh para perupa dengan sangat subjektif terutama sebagai manusia Bali yang kesehariannya senantiasa berupaya selaras dengan alam, pesan yang ingin dihadirkan dalam pameran ini sesungguhnya juga berlaku secara universal. Kemungkinan ini hadir melalui karya dengan kecenderungan cara penyampaian seperti dalam lukisan Made Karung, Kadek Satya Atama (Soger), I Made Wijaya Kusuma dan Putu Winta Sugianyar.

Lihat bagaimana penggambaran Bumi bulat yang dipayungi, tumbuhan yang merambat dalam kepala, sampah plastik yang kian menumpuk, hingga pohon tua yang bersanding dengan paras cantik. Lukisan-lukisan ini semuanya sengaja meminjam ikon-ikon ikonik yang dapat langsung merepresentasikan makna yang ingin disampaikan perupa. Lewat menghadirkannya kembali diatas kanvas secara sederhana tanpa bertele-tele, juga mempersingkat proses penyampaian pesan itu kepada para audiens.

Pernyataan bahwa Bali memiliki caranya sendiri dalam merawat alam bukan ada tanpa alasan. Lewat momen ini juga para perupa ingin menegaskan hal tersebut. Lihat semisal karya Toshi Wahyudi yang mengilustrasikan konsep Bedawang Nala yang biasanya lebih sering diwujudkan sebagai ornamen pada dasar bangunan meru, sebuah konsep dalam kepercayaan agama Hindu Bali untuk menentramkan dan menghormati eksistensi alam huniannya dari masalah bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami.

Masyarakat Bali juga memiliki ritual khusus untuk menunjukkan rasa syukurnya pada tumbuhan dan alam yang disebut Tumpek Uduh/Wariga/Pengantag, pesan ini hadir secara tersirat dan samar-samar dalam lukisan Gus Sinchan. Selain Tumpek Uduh, perayaan hari suci Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Bali setiap setahun sekali juga mengambil peran nyata dalam menjaga alam Bumi, karya instalasi lembaran plastik yang ditatah hasil kolaborasi Made Arsana dan Gung Jawok ingin bercerita tentang itu.

Dua lainnya, Mangde Bendesa dan I Nyoman Sastrawan (Mang Sas) menghighlight persoalan air yang belakangan menjadi salah satu topik diskursus alot dalam banyak forum di Bali akibat kelangkaan dan ekplorasi-eksploitasi yang menimpanya. Persoalan air dipandang oleh Mangsas seperti sebuah pusaran kuat, ia menarik persoalan-persoalan lain disekitarnya. Demikian peran air sebagai elemen krusial dalam kehidupan kita, bila mengalami masalah juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Sementara Mangde lewat lukisannya yang menggayakan bentuk air memandang air secara lebih simbolik. Air baginya menyimpan kekuatan tersendiri, ia dapat menyembuhkan, membersihkan, hingga menyucikan.

“Payung hijau”, I Kadek Satya Atama(Soger), Media: ACrillyk on kanvas

“Whirlpool”, I Nyoman Sastrawan, Media: plastik, 50 cm x 50 cm, tahun 2023

“Ambisi”, Putu Wita Sugianyar, Media: akrilik di atas kanvas, 80 x 80 cm, tahun 2023

“Heaven in Nature”, Ida Bagus Made Mariadi (Gussinchan), Media: Acrilik di kanvas, 60 x 60 cm, tahun 2023

Alam dan dunia kreasi sungguh adalah dua hal yang inheren, keduanya saling bertaut dan tidak terpisah. Katakanlah sederhananya lewat sebuah karya seni, kita bisa mengidentifikasi dimana lingkungan seorang seniman tumbuh dan tinggal.

Dengan demikian mereka yang memilih jalan kesenimanan menyadari keberadaannya dengan bersatupadu atau berusaha kenal betul dengan alam dan segala persoalan yang dimilikinya. Apabila sebaliknya, maka keberadaan seniman itu sendiri patut dipertanyakan.

Demikian sekelumit tulisan ini diharap dapat mengantarkan publik lebih memahami konteks pameran ini.

Natura Artist Magistra, alam adalah guru terbaik bagi seniman!

Selamat Hari Bumi 2023!

[][][]

BACA artikel PAMERAN SENI RUPA dan ULAS RUPA yang lain

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen
Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang
Tags: Hari BumiKulidan KitchenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Next Post

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co