25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 21, 2023
in Ulas Rupa
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Lukisan berjudul Ambisi karya Putu Wita Sugianyar, salah satu lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa “Earth Visory” di Kulidan Kitchen

SEJAK PERTAMA KALI dimulai pada tanggal 22 April 1970, gerakan ‘Earth Day’ atau ‘Hari Bumi’ telah mendapatkan dukungan dan perhatian dari dunia luas. Gerakan Hari Bumi yang senantiasa mengampanyekan kesadaran publik dalam menjaga planet yang kita tinggali ini digagas pada awal tahun 1969 oleh seorang senator dan pengajar lingkungan hidup di Amerika Serikat, Gaylord Nelson.

Perhatian Gaylord Nelson pada kerusakan lingkungan akibat insiden tumpahnya minyak di Santa Barbara-California pada tahun yang sama mendorongnya untuk menyuarakan betapa pentingnya kesadaran pada isu-isu lingkungan dan dampak dari pengabaian kesehatan Bumi yang sudah barang tentu berbuntut dan bermuara pada persoalan keberlangsungan hidup manusia dan seluruh komponen kehidupan yang ada di Bumi.

Hingga hari ini, gerakan Hari Bumi telah mencatat setidaknya ada lebih dari 200 juta orang tersebar di 141 negara yang telah berpartisipasi dan turut melanggengkan momentum penuh kebaikan ini. Selain aktivis lingkungan, diantara mereka juga ada para seniman yang terdorong untuk merayakan Hari Bumi dengan menciptakan karya seni.

Salah satunya yang tersohor adalah lagu “Earth” (2019), sebuah suguhan karya seni musik dengan kombinasi animasi kartunal yang dikerjakan oleh lebih dari 30 seniman dimotori oleh penyanyi Lil Dicky.

Selain itu ada juga beberapa gelaran pameran seni rupa di Indonesia yang tercatat sebagai respon atas peringatan Hari Bumi. Hal ini pun bukan hal baru. Bersamaan dengan awal munculnya seni konseptual di barat pada era 1970-an, seni rupa kontemporer kita hari ini memang kian terbuka menunjang aktivisme politik dan lingkungan.

Tahun ini di Bali tepatnya di Kulidan Kitchen and Space, peringatan Hari Bumi kembali dirayakan melalui jalur kesenian yakni pameran seni rupa. Adalah para perupa muda yang tergabung dalam kelompok ”Bukan Seniman Project” yang menginisiasi pameran ini.

Pameran Seni Rupa EARTH VISORY dibuka, Sabtu, 22 April 2023 pukul 17.00 Wita di Kulidan Kitchen and Space, Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali. Pameran akan berlangsung hingga 4 Mei 2023.

Melalui bahasa ungkap yang beragam, perupa dalam pameran ini menghadirkan karya seni yang memperbincangkan kondisi dan persoalan yang berhubungan dengan alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Seluruh karya mereka dipertemukan dan dibingkai dalam sebuah tajuk pameran yaitu “Earth Visory”,yang bisa diartikan sebagai ‘suatu cara pandang’ terhadap Bumi, hingga alam secara luas.

Sesuai konsep tersebut, pameran ini mempersilahkan para peserta pameran untuk secara bebas menafsir dan memaknai objek yang sama yaitu ‘Bumi’ dengan berangkat dari pengalaman dan daya nalarnya masing-masing.

Walaupun didekati oleh para perupa dengan sangat subjektif terutama sebagai manusia Bali yang kesehariannya senantiasa berupaya selaras dengan alam, pesan yang ingin dihadirkan dalam pameran ini sesungguhnya juga berlaku secara universal. Kemungkinan ini hadir melalui karya dengan kecenderungan cara penyampaian seperti dalam lukisan Made Karung, Kadek Satya Atama (Soger), I Made Wijaya Kusuma dan Putu Winta Sugianyar.

Lihat bagaimana penggambaran Bumi bulat yang dipayungi, tumbuhan yang merambat dalam kepala, sampah plastik yang kian menumpuk, hingga pohon tua yang bersanding dengan paras cantik. Lukisan-lukisan ini semuanya sengaja meminjam ikon-ikon ikonik yang dapat langsung merepresentasikan makna yang ingin disampaikan perupa. Lewat menghadirkannya kembali diatas kanvas secara sederhana tanpa bertele-tele, juga mempersingkat proses penyampaian pesan itu kepada para audiens.

Pernyataan bahwa Bali memiliki caranya sendiri dalam merawat alam bukan ada tanpa alasan. Lewat momen ini juga para perupa ingin menegaskan hal tersebut. Lihat semisal karya Toshi Wahyudi yang mengilustrasikan konsep Bedawang Nala yang biasanya lebih sering diwujudkan sebagai ornamen pada dasar bangunan meru, sebuah konsep dalam kepercayaan agama Hindu Bali untuk menentramkan dan menghormati eksistensi alam huniannya dari masalah bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami.

Masyarakat Bali juga memiliki ritual khusus untuk menunjukkan rasa syukurnya pada tumbuhan dan alam yang disebut Tumpek Uduh/Wariga/Pengantag, pesan ini hadir secara tersirat dan samar-samar dalam lukisan Gus Sinchan. Selain Tumpek Uduh, perayaan hari suci Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Bali setiap setahun sekali juga mengambil peran nyata dalam menjaga alam Bumi, karya instalasi lembaran plastik yang ditatah hasil kolaborasi Made Arsana dan Gung Jawok ingin bercerita tentang itu.

Dua lainnya, Mangde Bendesa dan I Nyoman Sastrawan (Mang Sas) menghighlight persoalan air yang belakangan menjadi salah satu topik diskursus alot dalam banyak forum di Bali akibat kelangkaan dan ekplorasi-eksploitasi yang menimpanya. Persoalan air dipandang oleh Mangsas seperti sebuah pusaran kuat, ia menarik persoalan-persoalan lain disekitarnya. Demikian peran air sebagai elemen krusial dalam kehidupan kita, bila mengalami masalah juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Sementara Mangde lewat lukisannya yang menggayakan bentuk air memandang air secara lebih simbolik. Air baginya menyimpan kekuatan tersendiri, ia dapat menyembuhkan, membersihkan, hingga menyucikan.

“Payung hijau”, I Kadek Satya Atama(Soger), Media: ACrillyk on kanvas

“Whirlpool”, I Nyoman Sastrawan, Media: plastik, 50 cm x 50 cm, tahun 2023

“Ambisi”, Putu Wita Sugianyar, Media: akrilik di atas kanvas, 80 x 80 cm, tahun 2023

“Heaven in Nature”, Ida Bagus Made Mariadi (Gussinchan), Media: Acrilik di kanvas, 60 x 60 cm, tahun 2023

Alam dan dunia kreasi sungguh adalah dua hal yang inheren, keduanya saling bertaut dan tidak terpisah. Katakanlah sederhananya lewat sebuah karya seni, kita bisa mengidentifikasi dimana lingkungan seorang seniman tumbuh dan tinggal.

Dengan demikian mereka yang memilih jalan kesenimanan menyadari keberadaannya dengan bersatupadu atau berusaha kenal betul dengan alam dan segala persoalan yang dimilikinya. Apabila sebaliknya, maka keberadaan seniman itu sendiri patut dipertanyakan.

Demikian sekelumit tulisan ini diharap dapat mengantarkan publik lebih memahami konteks pameran ini.

Natura Artist Magistra, alam adalah guru terbaik bagi seniman!

Selamat Hari Bumi 2023!

[][][]

BACA artikel PAMERAN SENI RUPA dan ULAS RUPA yang lain

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen
Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang
Tags: Hari BumiKulidan KitchenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Next Post

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co