17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 21, 2023
in Ulas Rupa
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Lukisan berjudul Ambisi karya Putu Wita Sugianyar, salah satu lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa “Earth Visory” di Kulidan Kitchen

SEJAK PERTAMA KALI dimulai pada tanggal 22 April 1970, gerakan ‘Earth Day’ atau ‘Hari Bumi’ telah mendapatkan dukungan dan perhatian dari dunia luas. Gerakan Hari Bumi yang senantiasa mengampanyekan kesadaran publik dalam menjaga planet yang kita tinggali ini digagas pada awal tahun 1969 oleh seorang senator dan pengajar lingkungan hidup di Amerika Serikat, Gaylord Nelson.

Perhatian Gaylord Nelson pada kerusakan lingkungan akibat insiden tumpahnya minyak di Santa Barbara-California pada tahun yang sama mendorongnya untuk menyuarakan betapa pentingnya kesadaran pada isu-isu lingkungan dan dampak dari pengabaian kesehatan Bumi yang sudah barang tentu berbuntut dan bermuara pada persoalan keberlangsungan hidup manusia dan seluruh komponen kehidupan yang ada di Bumi.

Hingga hari ini, gerakan Hari Bumi telah mencatat setidaknya ada lebih dari 200 juta orang tersebar di 141 negara yang telah berpartisipasi dan turut melanggengkan momentum penuh kebaikan ini. Selain aktivis lingkungan, diantara mereka juga ada para seniman yang terdorong untuk merayakan Hari Bumi dengan menciptakan karya seni.

Salah satunya yang tersohor adalah lagu “Earth” (2019), sebuah suguhan karya seni musik dengan kombinasi animasi kartunal yang dikerjakan oleh lebih dari 30 seniman dimotori oleh penyanyi Lil Dicky.

Selain itu ada juga beberapa gelaran pameran seni rupa di Indonesia yang tercatat sebagai respon atas peringatan Hari Bumi. Hal ini pun bukan hal baru. Bersamaan dengan awal munculnya seni konseptual di barat pada era 1970-an, seni rupa kontemporer kita hari ini memang kian terbuka menunjang aktivisme politik dan lingkungan.

Tahun ini di Bali tepatnya di Kulidan Kitchen and Space, peringatan Hari Bumi kembali dirayakan melalui jalur kesenian yakni pameran seni rupa. Adalah para perupa muda yang tergabung dalam kelompok ”Bukan Seniman Project” yang menginisiasi pameran ini.

Pameran Seni Rupa EARTH VISORY dibuka, Sabtu, 22 April 2023 pukul 17.00 Wita di Kulidan Kitchen and Space, Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali. Pameran akan berlangsung hingga 4 Mei 2023.

Melalui bahasa ungkap yang beragam, perupa dalam pameran ini menghadirkan karya seni yang memperbincangkan kondisi dan persoalan yang berhubungan dengan alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Seluruh karya mereka dipertemukan dan dibingkai dalam sebuah tajuk pameran yaitu “Earth Visory”,yang bisa diartikan sebagai ‘suatu cara pandang’ terhadap Bumi, hingga alam secara luas.

Sesuai konsep tersebut, pameran ini mempersilahkan para peserta pameran untuk secara bebas menafsir dan memaknai objek yang sama yaitu ‘Bumi’ dengan berangkat dari pengalaman dan daya nalarnya masing-masing.

Walaupun didekati oleh para perupa dengan sangat subjektif terutama sebagai manusia Bali yang kesehariannya senantiasa berupaya selaras dengan alam, pesan yang ingin dihadirkan dalam pameran ini sesungguhnya juga berlaku secara universal. Kemungkinan ini hadir melalui karya dengan kecenderungan cara penyampaian seperti dalam lukisan Made Karung, Kadek Satya Atama (Soger), I Made Wijaya Kusuma dan Putu Winta Sugianyar.

Lihat bagaimana penggambaran Bumi bulat yang dipayungi, tumbuhan yang merambat dalam kepala, sampah plastik yang kian menumpuk, hingga pohon tua yang bersanding dengan paras cantik. Lukisan-lukisan ini semuanya sengaja meminjam ikon-ikon ikonik yang dapat langsung merepresentasikan makna yang ingin disampaikan perupa. Lewat menghadirkannya kembali diatas kanvas secara sederhana tanpa bertele-tele, juga mempersingkat proses penyampaian pesan itu kepada para audiens.

Pernyataan bahwa Bali memiliki caranya sendiri dalam merawat alam bukan ada tanpa alasan. Lewat momen ini juga para perupa ingin menegaskan hal tersebut. Lihat semisal karya Toshi Wahyudi yang mengilustrasikan konsep Bedawang Nala yang biasanya lebih sering diwujudkan sebagai ornamen pada dasar bangunan meru, sebuah konsep dalam kepercayaan agama Hindu Bali untuk menentramkan dan menghormati eksistensi alam huniannya dari masalah bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami.

Masyarakat Bali juga memiliki ritual khusus untuk menunjukkan rasa syukurnya pada tumbuhan dan alam yang disebut Tumpek Uduh/Wariga/Pengantag, pesan ini hadir secara tersirat dan samar-samar dalam lukisan Gus Sinchan. Selain Tumpek Uduh, perayaan hari suci Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Bali setiap setahun sekali juga mengambil peran nyata dalam menjaga alam Bumi, karya instalasi lembaran plastik yang ditatah hasil kolaborasi Made Arsana dan Gung Jawok ingin bercerita tentang itu.

Dua lainnya, Mangde Bendesa dan I Nyoman Sastrawan (Mang Sas) menghighlight persoalan air yang belakangan menjadi salah satu topik diskursus alot dalam banyak forum di Bali akibat kelangkaan dan ekplorasi-eksploitasi yang menimpanya. Persoalan air dipandang oleh Mangsas seperti sebuah pusaran kuat, ia menarik persoalan-persoalan lain disekitarnya. Demikian peran air sebagai elemen krusial dalam kehidupan kita, bila mengalami masalah juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Sementara Mangde lewat lukisannya yang menggayakan bentuk air memandang air secara lebih simbolik. Air baginya menyimpan kekuatan tersendiri, ia dapat menyembuhkan, membersihkan, hingga menyucikan.

“Payung hijau”, I Kadek Satya Atama(Soger), Media: ACrillyk on kanvas

“Whirlpool”, I Nyoman Sastrawan, Media: plastik, 50 cm x 50 cm, tahun 2023

“Ambisi”, Putu Wita Sugianyar, Media: akrilik di atas kanvas, 80 x 80 cm, tahun 2023

“Heaven in Nature”, Ida Bagus Made Mariadi (Gussinchan), Media: Acrilik di kanvas, 60 x 60 cm, tahun 2023

Alam dan dunia kreasi sungguh adalah dua hal yang inheren, keduanya saling bertaut dan tidak terpisah. Katakanlah sederhananya lewat sebuah karya seni, kita bisa mengidentifikasi dimana lingkungan seorang seniman tumbuh dan tinggal.

Dengan demikian mereka yang memilih jalan kesenimanan menyadari keberadaannya dengan bersatupadu atau berusaha kenal betul dengan alam dan segala persoalan yang dimilikinya. Apabila sebaliknya, maka keberadaan seniman itu sendiri patut dipertanyakan.

Demikian sekelumit tulisan ini diharap dapat mengantarkan publik lebih memahami konteks pameran ini.

Natura Artist Magistra, alam adalah guru terbaik bagi seniman!

Selamat Hari Bumi 2023!

[][][]

BACA artikel PAMERAN SENI RUPA dan ULAS RUPA yang lain

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen
Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang
Tags: Hari BumiKulidan KitchenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Next Post

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co