21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 21, 2023
in Ulas Rupa
“Earth Visory” : Pengantar Pameran Seni Rupa Hari Bumi di Kulidan Kitchen and Space

Lukisan berjudul Ambisi karya Putu Wita Sugianyar, salah satu lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa “Earth Visory” di Kulidan Kitchen

SEJAK PERTAMA KALI dimulai pada tanggal 22 April 1970, gerakan ‘Earth Day’ atau ‘Hari Bumi’ telah mendapatkan dukungan dan perhatian dari dunia luas. Gerakan Hari Bumi yang senantiasa mengampanyekan kesadaran publik dalam menjaga planet yang kita tinggali ini digagas pada awal tahun 1969 oleh seorang senator dan pengajar lingkungan hidup di Amerika Serikat, Gaylord Nelson.

Perhatian Gaylord Nelson pada kerusakan lingkungan akibat insiden tumpahnya minyak di Santa Barbara-California pada tahun yang sama mendorongnya untuk menyuarakan betapa pentingnya kesadaran pada isu-isu lingkungan dan dampak dari pengabaian kesehatan Bumi yang sudah barang tentu berbuntut dan bermuara pada persoalan keberlangsungan hidup manusia dan seluruh komponen kehidupan yang ada di Bumi.

Hingga hari ini, gerakan Hari Bumi telah mencatat setidaknya ada lebih dari 200 juta orang tersebar di 141 negara yang telah berpartisipasi dan turut melanggengkan momentum penuh kebaikan ini. Selain aktivis lingkungan, diantara mereka juga ada para seniman yang terdorong untuk merayakan Hari Bumi dengan menciptakan karya seni.

Salah satunya yang tersohor adalah lagu “Earth” (2019), sebuah suguhan karya seni musik dengan kombinasi animasi kartunal yang dikerjakan oleh lebih dari 30 seniman dimotori oleh penyanyi Lil Dicky.

Selain itu ada juga beberapa gelaran pameran seni rupa di Indonesia yang tercatat sebagai respon atas peringatan Hari Bumi. Hal ini pun bukan hal baru. Bersamaan dengan awal munculnya seni konseptual di barat pada era 1970-an, seni rupa kontemporer kita hari ini memang kian terbuka menunjang aktivisme politik dan lingkungan.

Tahun ini di Bali tepatnya di Kulidan Kitchen and Space, peringatan Hari Bumi kembali dirayakan melalui jalur kesenian yakni pameran seni rupa. Adalah para perupa muda yang tergabung dalam kelompok ”Bukan Seniman Project” yang menginisiasi pameran ini.

Pameran Seni Rupa EARTH VISORY dibuka, Sabtu, 22 April 2023 pukul 17.00 Wita di Kulidan Kitchen and Space, Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali. Pameran akan berlangsung hingga 4 Mei 2023.

Melalui bahasa ungkap yang beragam, perupa dalam pameran ini menghadirkan karya seni yang memperbincangkan kondisi dan persoalan yang berhubungan dengan alam dan lingkungan di sekitar mereka.

Seluruh karya mereka dipertemukan dan dibingkai dalam sebuah tajuk pameran yaitu “Earth Visory”,yang bisa diartikan sebagai ‘suatu cara pandang’ terhadap Bumi, hingga alam secara luas.

Sesuai konsep tersebut, pameran ini mempersilahkan para peserta pameran untuk secara bebas menafsir dan memaknai objek yang sama yaitu ‘Bumi’ dengan berangkat dari pengalaman dan daya nalarnya masing-masing.

Walaupun didekati oleh para perupa dengan sangat subjektif terutama sebagai manusia Bali yang kesehariannya senantiasa berupaya selaras dengan alam, pesan yang ingin dihadirkan dalam pameran ini sesungguhnya juga berlaku secara universal. Kemungkinan ini hadir melalui karya dengan kecenderungan cara penyampaian seperti dalam lukisan Made Karung, Kadek Satya Atama (Soger), I Made Wijaya Kusuma dan Putu Winta Sugianyar.

Lihat bagaimana penggambaran Bumi bulat yang dipayungi, tumbuhan yang merambat dalam kepala, sampah plastik yang kian menumpuk, hingga pohon tua yang bersanding dengan paras cantik. Lukisan-lukisan ini semuanya sengaja meminjam ikon-ikon ikonik yang dapat langsung merepresentasikan makna yang ingin disampaikan perupa. Lewat menghadirkannya kembali diatas kanvas secara sederhana tanpa bertele-tele, juga mempersingkat proses penyampaian pesan itu kepada para audiens.

Pernyataan bahwa Bali memiliki caranya sendiri dalam merawat alam bukan ada tanpa alasan. Lewat momen ini juga para perupa ingin menegaskan hal tersebut. Lihat semisal karya Toshi Wahyudi yang mengilustrasikan konsep Bedawang Nala yang biasanya lebih sering diwujudkan sebagai ornamen pada dasar bangunan meru, sebuah konsep dalam kepercayaan agama Hindu Bali untuk menentramkan dan menghormati eksistensi alam huniannya dari masalah bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami.

Masyarakat Bali juga memiliki ritual khusus untuk menunjukkan rasa syukurnya pada tumbuhan dan alam yang disebut Tumpek Uduh/Wariga/Pengantag, pesan ini hadir secara tersirat dan samar-samar dalam lukisan Gus Sinchan. Selain Tumpek Uduh, perayaan hari suci Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Bali setiap setahun sekali juga mengambil peran nyata dalam menjaga alam Bumi, karya instalasi lembaran plastik yang ditatah hasil kolaborasi Made Arsana dan Gung Jawok ingin bercerita tentang itu.

Dua lainnya, Mangde Bendesa dan I Nyoman Sastrawan (Mang Sas) menghighlight persoalan air yang belakangan menjadi salah satu topik diskursus alot dalam banyak forum di Bali akibat kelangkaan dan ekplorasi-eksploitasi yang menimpanya. Persoalan air dipandang oleh Mangsas seperti sebuah pusaran kuat, ia menarik persoalan-persoalan lain disekitarnya. Demikian peran air sebagai elemen krusial dalam kehidupan kita, bila mengalami masalah juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Sementara Mangde lewat lukisannya yang menggayakan bentuk air memandang air secara lebih simbolik. Air baginya menyimpan kekuatan tersendiri, ia dapat menyembuhkan, membersihkan, hingga menyucikan.

“Payung hijau”, I Kadek Satya Atama(Soger), Media: ACrillyk on kanvas

“Whirlpool”, I Nyoman Sastrawan, Media: plastik, 50 cm x 50 cm, tahun 2023

“Ambisi”, Putu Wita Sugianyar, Media: akrilik di atas kanvas, 80 x 80 cm, tahun 2023

“Heaven in Nature”, Ida Bagus Made Mariadi (Gussinchan), Media: Acrilik di kanvas, 60 x 60 cm, tahun 2023

Alam dan dunia kreasi sungguh adalah dua hal yang inheren, keduanya saling bertaut dan tidak terpisah. Katakanlah sederhananya lewat sebuah karya seni, kita bisa mengidentifikasi dimana lingkungan seorang seniman tumbuh dan tinggal.

Dengan demikian mereka yang memilih jalan kesenimanan menyadari keberadaannya dengan bersatupadu atau berusaha kenal betul dengan alam dan segala persoalan yang dimilikinya. Apabila sebaliknya, maka keberadaan seniman itu sendiri patut dipertanyakan.

Demikian sekelumit tulisan ini diharap dapat mengantarkan publik lebih memahami konteks pameran ini.

Natura Artist Magistra, alam adalah guru terbaik bagi seniman!

Selamat Hari Bumi 2023!

[][][]

BACA artikel PAMERAN SENI RUPA dan ULAS RUPA yang lain

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen
Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang
Tags: Hari BumiKulidan KitchenPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelindan Obor dan Sunari, Api dan Angin, Lukisan dan Suara, dalam Nungkalik Festival “Panumbra’s Final Gloom”  

Next Post

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Perempuan Setengah Buta Penjual Pepaya di Pasar Bendo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co