2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
July 1, 2021
in Esai
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Karya berjudul Warisan Alam dalam pameran di Kulidan Kitchen

Pada tanggal 20 Maret tahun 2021,  komunitas seniman muda SSRI Crew Art mengadakan pameran seni di Kulidan Kitchen dengan tema “Visualisasi Luapan Ekspresi”. SSRI crew terdiri dari anggota seniman yang bahkan duduk di bangku SMK Negeri 1 Sukawati.

Selain pameran seni, juga diisi dengan live mural, live talkshow, live dj dan live tattoo yang mana semua itu menunjukan kreativitas seniman muda di Bali sekaligus menghibur. 

Mengamati berbagai karya seni yang terpampang di dinding galeri dan di ruang terbuka yang lantainya berumput di sisi timur, ada dua karya seni SSRI Crew yang menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan masalah ekologi yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kedua karya ini patut diapreasiasi karena menunjukkan bahwa seniman muda Sukawati yang duduk di bangku sekolah menunjukkan kepekaan pada lingkungan hidup dan satwa liar. Pujian patut dilayangkan pada Komang Adiartha selaku pemilik Kulidan Kitchen yang telah menyediakan ruang bagi seniman seniman muda untuk mengekpreasikan kreativitasnya.

Karya pertama berjudul Keserakahan Manusia yang dibuat oleh Angga dengan ukuran panjang 60 cm dan lebar 80 cm. Di bawah foto karya pertama adalah hasil kreativitas dan kerja sama murid SMK N 1 Sukawati yang menghasilkan mural berukuran 1 m x 2 m berjudul Warisan Alam. Keduanya dibuat menggunakan tinta akrilik. Kedua lukisan tersebut menggambarkan ekspresi kerusakan habitat satwa liar oleh ulah manusia.

Karya berjudul Keserakahan Manusia

Pada karya pertama, terlukiskan empat ekor harimau yang berdiri pada hutan terakhir yang sudah sekarat menatap sedih ke arah untaian jalan tol yang melilit daerah jelajah hutannya, menyebabkan mereka sulit bermigrasi berburu makanan. Di balik pepohonan besar tempatnya berteduh, beton dan aspal menancap pada ibu bumi. Langit yang menjadi atap rimba telah berwarna kelabu tercemar polusi udara yang mana akan menimbulkan kerusakan iklim.   

Berikutnya, mural yang dipamerkan menunjukkan orangutan yang berdarah darah kesakitan karena hutannya dihancurkan, memberikan tanda kepada semua manusia supaya habitat rimbanya dikembalikan agar ia dan   satwa liar lainnya dapat hidup layak.

Interpretasi

Penderitaan harimau dan orangutan akibat kerusakan hutan pada dua karya di atas merupakan gejala dari penghancuran lingkungan hidup. Akar utamanya adalah paradigma redusionis mekanistik yang mana hanya melihat dunia itu sistem yang terpisah-pisah dan dapat dimanipulasi demi keinginan manusia.

Dalam ekonomi paradigma ini hanya memperhatikan satu aspek saja yaitu perperputaran uang yang semakin cepat dan nilai peredarannya terus meninggi dari konsumsi barang dan jasa demi akumulasi kekayaan dan menomorduakan aspek aspek yang saling berkaitan dengan proses produksi dua hal tersebut serta efek samping yang ditimbulkannya.

Hutan yang beraneka ragam dengan fungsinya menyediakan tanah berhumus, air jernih ,udara murni serta keragaman hayati yang vital bagi ekosistem dipandang rendah nilainya karena menghasilkan perputaran uang yang sedikit dan lambat. Ketika terjaga keasriannya, hutan itu menghidupi penduduk asli setempat seperti suku rimba pedalaman yang telah hidup bersama sama dengan harimau dan orangutan. Mereka mengambil sumber daya hutan secukupnya untuk kebutuhan komunitas agar generasi berikutnya dapat memanfaatkan juga.

Ketika dunia berjalan mengadopsi sistem ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), korporasi perkebunan dan pertambangan diberi keleluasaan  mengubah hutan yang dulunya habitat satwa liar menjadi lahan monokultur yang pantasnyaa disebut gurun hijau dan lubang lubang tambang.

Dalam perspektif PDB, dua aktivitas ini menggerakkan uang puluhan miliar rupiah mulai dari pengadaan peralatan, pembangunan gedung kantor, pabrik pengolahan, jalan raya dan gaji tenaga kerja. Efek samping yang meliputi ancaman kepunahan satwa liar sampai bencana banjir dan longsor akibat hutan alami tempat raja rimba , orangutan dan aneka satwa lainnya hidup mengikis lapisan humus tanah. Ini membuat daya dukung lingkungan untuk keragaman tanaman sebagai produsen makanan pada ekosistem di daratan menurun.

Dampak ini melebar pada berbagai jenis satwa hutan hujan tropis yang bergantung hidupnya pada beberapa spesies tanaman yang hanya hidup di situ. Kadangkala, tanah longsor dan banjir menghancurkan lahan pertanian dan rumah warga lokal yang berada di bawah bukit yang menggangu produksi makanan.

 Zat kimia dari kebun monokultur dan pertambangan menjadi sumber pencemaran  air tawar sehingga tidak layak digunakan pakai dan tidak layak sebagai habitat keragaman hayati air tawar sehingga semua hal itu membuat masyarakat setempat menderita dianggap bukan biaya yang harus ditanggung oleh korporasi. E

fek samping yang dipaparkan di atas disebut eksternalitas negative dan diabaikan oleh korporasi sehingga meraih laba luar biasa besar dan cepat. Negara terpaksa mengeluarkan biaya khusus menolong warga yang terkena dampak bencana ekologis. Berarti korporasi raksasa itu sudah mendapat laba, kemudian disubsidi oleh negara.

Kebun monokultur dan pertambangan yang didirikan di atas pembantaian satwa liar dan degradasi ekologi bertujuan untuk memenuhi sifat konsumtif manusia yang terus menginginkan barang dan jasa melalui propaganda iklan dari berbagai saluran media massa. Karena barang barang itu sifatnya tidak begitu esensial korporasi menggunakan berbagai cara agar terbeli.

Untuk mendekatkan konsumen dengan produknya, korporasi membayar orang orang yang disebut selebriti sebagai jembatan antara emosi manusia dengan barang tersebut. Ada kencenderungan bagi masyrakat untuk mengonsumsi produk produk yang digunakan oleh selebriti agar tampil keren padahal ia tidak tahu proses pembuatan barang itu. Barang ini menjadi komoditas yang diidolakan (fetishisme komoditas). 

Korporasi merancang barang-barang cepat untuk dikonsumsi agar produksi semakin banyak yang mana semuanya akan dijual ke pasar sehingga laju perputaran uang semakin kencang dan laba terakumulasi dimana itu digunakan untuk mendirikan lagi kebun dan tambang sampai lapisan humus tanah musnah, air terpolusi dan isi bumi habis ditambang meninggalkan negeri yang tandus, keruh dan berlubang.

Untuk menanggulangi hal ini yang mendasar adalah perubahan paradigma dari mengutamakan kuantitas menjadi mengutamakan kualitas secara menyeluruh dalam arti kualitas itu mencakup proses produksi bahan mentah yang memperhatikan lapisan humus tanah, air, kondisi habitat satwa liar di sekitarnya, kondisi kelayakan pekerja, rancangan barang dan pengolahan limbah.

Ada lembaga yang mempraktekan hal ini yaitu perusahaan Mitra Bali Fair trade yang bergerak dibidang kerajinan kayu dimana ia memperhatikan proses penanaman pohon kayu, kondisi tanah, air, pekerja dan limbah. Di waktu yang sama berperan dalam pelestarian lingkungan hidup karena dasar dari ekologi yang sehat adalah lapisan tanah kaya humus dan air yang jernih.

Pada skala makro yang mencakup nasional hingga internasional paradigma yang mengejar pertumbuhan ekonomi digeser dengan berfokus pada kelayakan hidup manusia, dan pembaharuan lingkungan (pemulihan satwa liar, tanah , air dan udara). [T]

Tags: alamhutanKulidan KitchenlingkunganPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris dan Prinsip Kehati-hatian dalam Menjaga Harkat Martabat Jabatan

Next Post

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co