23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
July 1, 2021
in Esai
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Karya berjudul Warisan Alam dalam pameran di Kulidan Kitchen

Pada tanggal 20 Maret tahun 2021,  komunitas seniman muda SSRI Crew Art mengadakan pameran seni di Kulidan Kitchen dengan tema “Visualisasi Luapan Ekspresi”. SSRI crew terdiri dari anggota seniman yang bahkan duduk di bangku SMK Negeri 1 Sukawati.

Selain pameran seni, juga diisi dengan live mural, live talkshow, live dj dan live tattoo yang mana semua itu menunjukan kreativitas seniman muda di Bali sekaligus menghibur. 

Mengamati berbagai karya seni yang terpampang di dinding galeri dan di ruang terbuka yang lantainya berumput di sisi timur, ada dua karya seni SSRI Crew yang menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan masalah ekologi yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kedua karya ini patut diapreasiasi karena menunjukkan bahwa seniman muda Sukawati yang duduk di bangku sekolah menunjukkan kepekaan pada lingkungan hidup dan satwa liar. Pujian patut dilayangkan pada Komang Adiartha selaku pemilik Kulidan Kitchen yang telah menyediakan ruang bagi seniman seniman muda untuk mengekpreasikan kreativitasnya.

Karya pertama berjudul Keserakahan Manusia yang dibuat oleh Angga dengan ukuran panjang 60 cm dan lebar 80 cm. Di bawah foto karya pertama adalah hasil kreativitas dan kerja sama murid SMK N 1 Sukawati yang menghasilkan mural berukuran 1 m x 2 m berjudul Warisan Alam. Keduanya dibuat menggunakan tinta akrilik. Kedua lukisan tersebut menggambarkan ekspresi kerusakan habitat satwa liar oleh ulah manusia.

Karya berjudul Keserakahan Manusia

Pada karya pertama, terlukiskan empat ekor harimau yang berdiri pada hutan terakhir yang sudah sekarat menatap sedih ke arah untaian jalan tol yang melilit daerah jelajah hutannya, menyebabkan mereka sulit bermigrasi berburu makanan. Di balik pepohonan besar tempatnya berteduh, beton dan aspal menancap pada ibu bumi. Langit yang menjadi atap rimba telah berwarna kelabu tercemar polusi udara yang mana akan menimbulkan kerusakan iklim.   

Berikutnya, mural yang dipamerkan menunjukkan orangutan yang berdarah darah kesakitan karena hutannya dihancurkan, memberikan tanda kepada semua manusia supaya habitat rimbanya dikembalikan agar ia dan   satwa liar lainnya dapat hidup layak.

Interpretasi

Penderitaan harimau dan orangutan akibat kerusakan hutan pada dua karya di atas merupakan gejala dari penghancuran lingkungan hidup. Akar utamanya adalah paradigma redusionis mekanistik yang mana hanya melihat dunia itu sistem yang terpisah-pisah dan dapat dimanipulasi demi keinginan manusia.

Dalam ekonomi paradigma ini hanya memperhatikan satu aspek saja yaitu perperputaran uang yang semakin cepat dan nilai peredarannya terus meninggi dari konsumsi barang dan jasa demi akumulasi kekayaan dan menomorduakan aspek aspek yang saling berkaitan dengan proses produksi dua hal tersebut serta efek samping yang ditimbulkannya.

Hutan yang beraneka ragam dengan fungsinya menyediakan tanah berhumus, air jernih ,udara murni serta keragaman hayati yang vital bagi ekosistem dipandang rendah nilainya karena menghasilkan perputaran uang yang sedikit dan lambat. Ketika terjaga keasriannya, hutan itu menghidupi penduduk asli setempat seperti suku rimba pedalaman yang telah hidup bersama sama dengan harimau dan orangutan. Mereka mengambil sumber daya hutan secukupnya untuk kebutuhan komunitas agar generasi berikutnya dapat memanfaatkan juga.

Ketika dunia berjalan mengadopsi sistem ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), korporasi perkebunan dan pertambangan diberi keleluasaan  mengubah hutan yang dulunya habitat satwa liar menjadi lahan monokultur yang pantasnyaa disebut gurun hijau dan lubang lubang tambang.

Dalam perspektif PDB, dua aktivitas ini menggerakkan uang puluhan miliar rupiah mulai dari pengadaan peralatan, pembangunan gedung kantor, pabrik pengolahan, jalan raya dan gaji tenaga kerja. Efek samping yang meliputi ancaman kepunahan satwa liar sampai bencana banjir dan longsor akibat hutan alami tempat raja rimba , orangutan dan aneka satwa lainnya hidup mengikis lapisan humus tanah. Ini membuat daya dukung lingkungan untuk keragaman tanaman sebagai produsen makanan pada ekosistem di daratan menurun.

Dampak ini melebar pada berbagai jenis satwa hutan hujan tropis yang bergantung hidupnya pada beberapa spesies tanaman yang hanya hidup di situ. Kadangkala, tanah longsor dan banjir menghancurkan lahan pertanian dan rumah warga lokal yang berada di bawah bukit yang menggangu produksi makanan.

 Zat kimia dari kebun monokultur dan pertambangan menjadi sumber pencemaran  air tawar sehingga tidak layak digunakan pakai dan tidak layak sebagai habitat keragaman hayati air tawar sehingga semua hal itu membuat masyarakat setempat menderita dianggap bukan biaya yang harus ditanggung oleh korporasi. E

fek samping yang dipaparkan di atas disebut eksternalitas negative dan diabaikan oleh korporasi sehingga meraih laba luar biasa besar dan cepat. Negara terpaksa mengeluarkan biaya khusus menolong warga yang terkena dampak bencana ekologis. Berarti korporasi raksasa itu sudah mendapat laba, kemudian disubsidi oleh negara.

Kebun monokultur dan pertambangan yang didirikan di atas pembantaian satwa liar dan degradasi ekologi bertujuan untuk memenuhi sifat konsumtif manusia yang terus menginginkan barang dan jasa melalui propaganda iklan dari berbagai saluran media massa. Karena barang barang itu sifatnya tidak begitu esensial korporasi menggunakan berbagai cara agar terbeli.

Untuk mendekatkan konsumen dengan produknya, korporasi membayar orang orang yang disebut selebriti sebagai jembatan antara emosi manusia dengan barang tersebut. Ada kencenderungan bagi masyrakat untuk mengonsumsi produk produk yang digunakan oleh selebriti agar tampil keren padahal ia tidak tahu proses pembuatan barang itu. Barang ini menjadi komoditas yang diidolakan (fetishisme komoditas). 

Korporasi merancang barang-barang cepat untuk dikonsumsi agar produksi semakin banyak yang mana semuanya akan dijual ke pasar sehingga laju perputaran uang semakin kencang dan laba terakumulasi dimana itu digunakan untuk mendirikan lagi kebun dan tambang sampai lapisan humus tanah musnah, air terpolusi dan isi bumi habis ditambang meninggalkan negeri yang tandus, keruh dan berlubang.

Untuk menanggulangi hal ini yang mendasar adalah perubahan paradigma dari mengutamakan kuantitas menjadi mengutamakan kualitas secara menyeluruh dalam arti kualitas itu mencakup proses produksi bahan mentah yang memperhatikan lapisan humus tanah, air, kondisi habitat satwa liar di sekitarnya, kondisi kelayakan pekerja, rancangan barang dan pengolahan limbah.

Ada lembaga yang mempraktekan hal ini yaitu perusahaan Mitra Bali Fair trade yang bergerak dibidang kerajinan kayu dimana ia memperhatikan proses penanaman pohon kayu, kondisi tanah, air, pekerja dan limbah. Di waktu yang sama berperan dalam pelestarian lingkungan hidup karena dasar dari ekologi yang sehat adalah lapisan tanah kaya humus dan air yang jernih.

Pada skala makro yang mencakup nasional hingga internasional paradigma yang mengejar pertumbuhan ekonomi digeser dengan berfokus pada kelayakan hidup manusia, dan pembaharuan lingkungan (pemulihan satwa liar, tanah , air dan udara). [T]

Tags: alamhutanKulidan KitchenlingkunganPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris dan Prinsip Kehati-hatian dalam Menjaga Harkat Martabat Jabatan

Next Post

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co