12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
July 1, 2021
in Esai
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Karya berjudul Warisan Alam dalam pameran di Kulidan Kitchen

Pada tanggal 20 Maret tahun 2021,  komunitas seniman muda SSRI Crew Art mengadakan pameran seni di Kulidan Kitchen dengan tema “Visualisasi Luapan Ekspresi”. SSRI crew terdiri dari anggota seniman yang bahkan duduk di bangku SMK Negeri 1 Sukawati.

Selain pameran seni, juga diisi dengan live mural, live talkshow, live dj dan live tattoo yang mana semua itu menunjukan kreativitas seniman muda di Bali sekaligus menghibur. 

Mengamati berbagai karya seni yang terpampang di dinding galeri dan di ruang terbuka yang lantainya berumput di sisi timur, ada dua karya seni SSRI Crew yang menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan masalah ekologi yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kedua karya ini patut diapreasiasi karena menunjukkan bahwa seniman muda Sukawati yang duduk di bangku sekolah menunjukkan kepekaan pada lingkungan hidup dan satwa liar. Pujian patut dilayangkan pada Komang Adiartha selaku pemilik Kulidan Kitchen yang telah menyediakan ruang bagi seniman seniman muda untuk mengekpreasikan kreativitasnya.

Karya pertama berjudul Keserakahan Manusia yang dibuat oleh Angga dengan ukuran panjang 60 cm dan lebar 80 cm. Di bawah foto karya pertama adalah hasil kreativitas dan kerja sama murid SMK N 1 Sukawati yang menghasilkan mural berukuran 1 m x 2 m berjudul Warisan Alam. Keduanya dibuat menggunakan tinta akrilik. Kedua lukisan tersebut menggambarkan ekspresi kerusakan habitat satwa liar oleh ulah manusia.

Karya berjudul Keserakahan Manusia

Pada karya pertama, terlukiskan empat ekor harimau yang berdiri pada hutan terakhir yang sudah sekarat menatap sedih ke arah untaian jalan tol yang melilit daerah jelajah hutannya, menyebabkan mereka sulit bermigrasi berburu makanan. Di balik pepohonan besar tempatnya berteduh, beton dan aspal menancap pada ibu bumi. Langit yang menjadi atap rimba telah berwarna kelabu tercemar polusi udara yang mana akan menimbulkan kerusakan iklim.   

Berikutnya, mural yang dipamerkan menunjukkan orangutan yang berdarah darah kesakitan karena hutannya dihancurkan, memberikan tanda kepada semua manusia supaya habitat rimbanya dikembalikan agar ia dan   satwa liar lainnya dapat hidup layak.

Interpretasi

Penderitaan harimau dan orangutan akibat kerusakan hutan pada dua karya di atas merupakan gejala dari penghancuran lingkungan hidup. Akar utamanya adalah paradigma redusionis mekanistik yang mana hanya melihat dunia itu sistem yang terpisah-pisah dan dapat dimanipulasi demi keinginan manusia.

Dalam ekonomi paradigma ini hanya memperhatikan satu aspek saja yaitu perperputaran uang yang semakin cepat dan nilai peredarannya terus meninggi dari konsumsi barang dan jasa demi akumulasi kekayaan dan menomorduakan aspek aspek yang saling berkaitan dengan proses produksi dua hal tersebut serta efek samping yang ditimbulkannya.

Hutan yang beraneka ragam dengan fungsinya menyediakan tanah berhumus, air jernih ,udara murni serta keragaman hayati yang vital bagi ekosistem dipandang rendah nilainya karena menghasilkan perputaran uang yang sedikit dan lambat. Ketika terjaga keasriannya, hutan itu menghidupi penduduk asli setempat seperti suku rimba pedalaman yang telah hidup bersama sama dengan harimau dan orangutan. Mereka mengambil sumber daya hutan secukupnya untuk kebutuhan komunitas agar generasi berikutnya dapat memanfaatkan juga.

Ketika dunia berjalan mengadopsi sistem ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), korporasi perkebunan dan pertambangan diberi keleluasaan  mengubah hutan yang dulunya habitat satwa liar menjadi lahan monokultur yang pantasnyaa disebut gurun hijau dan lubang lubang tambang.

Dalam perspektif PDB, dua aktivitas ini menggerakkan uang puluhan miliar rupiah mulai dari pengadaan peralatan, pembangunan gedung kantor, pabrik pengolahan, jalan raya dan gaji tenaga kerja. Efek samping yang meliputi ancaman kepunahan satwa liar sampai bencana banjir dan longsor akibat hutan alami tempat raja rimba , orangutan dan aneka satwa lainnya hidup mengikis lapisan humus tanah. Ini membuat daya dukung lingkungan untuk keragaman tanaman sebagai produsen makanan pada ekosistem di daratan menurun.

Dampak ini melebar pada berbagai jenis satwa hutan hujan tropis yang bergantung hidupnya pada beberapa spesies tanaman yang hanya hidup di situ. Kadangkala, tanah longsor dan banjir menghancurkan lahan pertanian dan rumah warga lokal yang berada di bawah bukit yang menggangu produksi makanan.

 Zat kimia dari kebun monokultur dan pertambangan menjadi sumber pencemaran  air tawar sehingga tidak layak digunakan pakai dan tidak layak sebagai habitat keragaman hayati air tawar sehingga semua hal itu membuat masyarakat setempat menderita dianggap bukan biaya yang harus ditanggung oleh korporasi. E

fek samping yang dipaparkan di atas disebut eksternalitas negative dan diabaikan oleh korporasi sehingga meraih laba luar biasa besar dan cepat. Negara terpaksa mengeluarkan biaya khusus menolong warga yang terkena dampak bencana ekologis. Berarti korporasi raksasa itu sudah mendapat laba, kemudian disubsidi oleh negara.

Kebun monokultur dan pertambangan yang didirikan di atas pembantaian satwa liar dan degradasi ekologi bertujuan untuk memenuhi sifat konsumtif manusia yang terus menginginkan barang dan jasa melalui propaganda iklan dari berbagai saluran media massa. Karena barang barang itu sifatnya tidak begitu esensial korporasi menggunakan berbagai cara agar terbeli.

Untuk mendekatkan konsumen dengan produknya, korporasi membayar orang orang yang disebut selebriti sebagai jembatan antara emosi manusia dengan barang tersebut. Ada kencenderungan bagi masyrakat untuk mengonsumsi produk produk yang digunakan oleh selebriti agar tampil keren padahal ia tidak tahu proses pembuatan barang itu. Barang ini menjadi komoditas yang diidolakan (fetishisme komoditas). 

Korporasi merancang barang-barang cepat untuk dikonsumsi agar produksi semakin banyak yang mana semuanya akan dijual ke pasar sehingga laju perputaran uang semakin kencang dan laba terakumulasi dimana itu digunakan untuk mendirikan lagi kebun dan tambang sampai lapisan humus tanah musnah, air terpolusi dan isi bumi habis ditambang meninggalkan negeri yang tandus, keruh dan berlubang.

Untuk menanggulangi hal ini yang mendasar adalah perubahan paradigma dari mengutamakan kuantitas menjadi mengutamakan kualitas secara menyeluruh dalam arti kualitas itu mencakup proses produksi bahan mentah yang memperhatikan lapisan humus tanah, air, kondisi habitat satwa liar di sekitarnya, kondisi kelayakan pekerja, rancangan barang dan pengolahan limbah.

Ada lembaga yang mempraktekan hal ini yaitu perusahaan Mitra Bali Fair trade yang bergerak dibidang kerajinan kayu dimana ia memperhatikan proses penanaman pohon kayu, kondisi tanah, air, pekerja dan limbah. Di waktu yang sama berperan dalam pelestarian lingkungan hidup karena dasar dari ekologi yang sehat adalah lapisan tanah kaya humus dan air yang jernih.

Pada skala makro yang mencakup nasional hingga internasional paradigma yang mengejar pertumbuhan ekonomi digeser dengan berfokus pada kelayakan hidup manusia, dan pembaharuan lingkungan (pemulihan satwa liar, tanah , air dan udara). [T]

Tags: alamhutanKulidan KitchenlingkunganPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris dan Prinsip Kehati-hatian dalam Menjaga Harkat Martabat Jabatan

Next Post

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co