14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
July 1, 2021
in Esai
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen

Karya berjudul Warisan Alam dalam pameran di Kulidan Kitchen

Pada tanggal 20 Maret tahun 2021,  komunitas seniman muda SSRI Crew Art mengadakan pameran seni di Kulidan Kitchen dengan tema “Visualisasi Luapan Ekspresi”. SSRI crew terdiri dari anggota seniman yang bahkan duduk di bangku SMK Negeri 1 Sukawati.

Selain pameran seni, juga diisi dengan live mural, live talkshow, live dj dan live tattoo yang mana semua itu menunjukan kreativitas seniman muda di Bali sekaligus menghibur. 

Mengamati berbagai karya seni yang terpampang di dinding galeri dan di ruang terbuka yang lantainya berumput di sisi timur, ada dua karya seni SSRI Crew yang menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan masalah ekologi yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kedua karya ini patut diapreasiasi karena menunjukkan bahwa seniman muda Sukawati yang duduk di bangku sekolah menunjukkan kepekaan pada lingkungan hidup dan satwa liar. Pujian patut dilayangkan pada Komang Adiartha selaku pemilik Kulidan Kitchen yang telah menyediakan ruang bagi seniman seniman muda untuk mengekpreasikan kreativitasnya.

Karya pertama berjudul Keserakahan Manusia yang dibuat oleh Angga dengan ukuran panjang 60 cm dan lebar 80 cm. Di bawah foto karya pertama adalah hasil kreativitas dan kerja sama murid SMK N 1 Sukawati yang menghasilkan mural berukuran 1 m x 2 m berjudul Warisan Alam. Keduanya dibuat menggunakan tinta akrilik. Kedua lukisan tersebut menggambarkan ekspresi kerusakan habitat satwa liar oleh ulah manusia.

Karya berjudul Keserakahan Manusia

Pada karya pertama, terlukiskan empat ekor harimau yang berdiri pada hutan terakhir yang sudah sekarat menatap sedih ke arah untaian jalan tol yang melilit daerah jelajah hutannya, menyebabkan mereka sulit bermigrasi berburu makanan. Di balik pepohonan besar tempatnya berteduh, beton dan aspal menancap pada ibu bumi. Langit yang menjadi atap rimba telah berwarna kelabu tercemar polusi udara yang mana akan menimbulkan kerusakan iklim.   

Berikutnya, mural yang dipamerkan menunjukkan orangutan yang berdarah darah kesakitan karena hutannya dihancurkan, memberikan tanda kepada semua manusia supaya habitat rimbanya dikembalikan agar ia dan   satwa liar lainnya dapat hidup layak.

Interpretasi

Penderitaan harimau dan orangutan akibat kerusakan hutan pada dua karya di atas merupakan gejala dari penghancuran lingkungan hidup. Akar utamanya adalah paradigma redusionis mekanistik yang mana hanya melihat dunia itu sistem yang terpisah-pisah dan dapat dimanipulasi demi keinginan manusia.

Dalam ekonomi paradigma ini hanya memperhatikan satu aspek saja yaitu perperputaran uang yang semakin cepat dan nilai peredarannya terus meninggi dari konsumsi barang dan jasa demi akumulasi kekayaan dan menomorduakan aspek aspek yang saling berkaitan dengan proses produksi dua hal tersebut serta efek samping yang ditimbulkannya.

Hutan yang beraneka ragam dengan fungsinya menyediakan tanah berhumus, air jernih ,udara murni serta keragaman hayati yang vital bagi ekosistem dipandang rendah nilainya karena menghasilkan perputaran uang yang sedikit dan lambat. Ketika terjaga keasriannya, hutan itu menghidupi penduduk asli setempat seperti suku rimba pedalaman yang telah hidup bersama sama dengan harimau dan orangutan. Mereka mengambil sumber daya hutan secukupnya untuk kebutuhan komunitas agar generasi berikutnya dapat memanfaatkan juga.

Ketika dunia berjalan mengadopsi sistem ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), korporasi perkebunan dan pertambangan diberi keleluasaan  mengubah hutan yang dulunya habitat satwa liar menjadi lahan monokultur yang pantasnyaa disebut gurun hijau dan lubang lubang tambang.

Dalam perspektif PDB, dua aktivitas ini menggerakkan uang puluhan miliar rupiah mulai dari pengadaan peralatan, pembangunan gedung kantor, pabrik pengolahan, jalan raya dan gaji tenaga kerja. Efek samping yang meliputi ancaman kepunahan satwa liar sampai bencana banjir dan longsor akibat hutan alami tempat raja rimba , orangutan dan aneka satwa lainnya hidup mengikis lapisan humus tanah. Ini membuat daya dukung lingkungan untuk keragaman tanaman sebagai produsen makanan pada ekosistem di daratan menurun.

Dampak ini melebar pada berbagai jenis satwa hutan hujan tropis yang bergantung hidupnya pada beberapa spesies tanaman yang hanya hidup di situ. Kadangkala, tanah longsor dan banjir menghancurkan lahan pertanian dan rumah warga lokal yang berada di bawah bukit yang menggangu produksi makanan.

 Zat kimia dari kebun monokultur dan pertambangan menjadi sumber pencemaran  air tawar sehingga tidak layak digunakan pakai dan tidak layak sebagai habitat keragaman hayati air tawar sehingga semua hal itu membuat masyarakat setempat menderita dianggap bukan biaya yang harus ditanggung oleh korporasi. E

fek samping yang dipaparkan di atas disebut eksternalitas negative dan diabaikan oleh korporasi sehingga meraih laba luar biasa besar dan cepat. Negara terpaksa mengeluarkan biaya khusus menolong warga yang terkena dampak bencana ekologis. Berarti korporasi raksasa itu sudah mendapat laba, kemudian disubsidi oleh negara.

Kebun monokultur dan pertambangan yang didirikan di atas pembantaian satwa liar dan degradasi ekologi bertujuan untuk memenuhi sifat konsumtif manusia yang terus menginginkan barang dan jasa melalui propaganda iklan dari berbagai saluran media massa. Karena barang barang itu sifatnya tidak begitu esensial korporasi menggunakan berbagai cara agar terbeli.

Untuk mendekatkan konsumen dengan produknya, korporasi membayar orang orang yang disebut selebriti sebagai jembatan antara emosi manusia dengan barang tersebut. Ada kencenderungan bagi masyrakat untuk mengonsumsi produk produk yang digunakan oleh selebriti agar tampil keren padahal ia tidak tahu proses pembuatan barang itu. Barang ini menjadi komoditas yang diidolakan (fetishisme komoditas). 

Korporasi merancang barang-barang cepat untuk dikonsumsi agar produksi semakin banyak yang mana semuanya akan dijual ke pasar sehingga laju perputaran uang semakin kencang dan laba terakumulasi dimana itu digunakan untuk mendirikan lagi kebun dan tambang sampai lapisan humus tanah musnah, air terpolusi dan isi bumi habis ditambang meninggalkan negeri yang tandus, keruh dan berlubang.

Untuk menanggulangi hal ini yang mendasar adalah perubahan paradigma dari mengutamakan kuantitas menjadi mengutamakan kualitas secara menyeluruh dalam arti kualitas itu mencakup proses produksi bahan mentah yang memperhatikan lapisan humus tanah, air, kondisi habitat satwa liar di sekitarnya, kondisi kelayakan pekerja, rancangan barang dan pengolahan limbah.

Ada lembaga yang mempraktekan hal ini yaitu perusahaan Mitra Bali Fair trade yang bergerak dibidang kerajinan kayu dimana ia memperhatikan proses penanaman pohon kayu, kondisi tanah, air, pekerja dan limbah. Di waktu yang sama berperan dalam pelestarian lingkungan hidup karena dasar dari ekologi yang sehat adalah lapisan tanah kaya humus dan air yang jernih.

Pada skala makro yang mencakup nasional hingga internasional paradigma yang mengejar pertumbuhan ekonomi digeser dengan berfokus pada kelayakan hidup manusia, dan pembaharuan lingkungan (pemulihan satwa liar, tanah , air dan udara). [T]

Tags: alamhutanKulidan KitchenlingkunganPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Notaris dan Prinsip Kehati-hatian dalam Menjaga Harkat Martabat Jabatan

Next Post

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co