2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sad Agama:  Menelusuri Enam Aliran Kepercayaan di Bali dalam Geguritan Bali Tattwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
November 19, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

WACANA moderasi beragama digulirkan oleh pemerintah untuk menghindari berbagai potensi gesekan antaragama yang kerap terjadi di Indonesia. Ironisnya, ketika program ini menggelinding, masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu justru menghadapi tantangan internal. Ada sejumlah aliran yang kontroversial karena dianggap tidak sesuai dengan kultur budaya Bali dan pengikutnya tetap mempertahankan corak asalnya: India.

Di wilayah akar rumput, polarisasi ini ternyata berakibat pada kecenderungan untuk melihat Bali sebagai wilayah yang tertutup, otentik, dan muasal dari berbagai peradaban. Sisi positifnya memang ada karena situasi ini menyebabkan mereka lebih giat mendalami akar literasi Bali.

Akan tetapi, yang perlu diwaspadai adalah klaim membabi buta yang cenderung fanatik Bali, seperti bahasa Sanskerta ditafsir dari Bali, puja mantra dari tanah Dewata, pusat agama Hindu di Pulau Surga, dan yang lainnya. Hal ini jelas memunggungi perjalanan sejarah Bali yang sangat panjang. Untuk mebuktikan betapa terbukanya Bali terhadap pengaruh luar khususnya India, baik pada tataran orang maupun aliran keyakinan, mari simak paparan Geguritan Bali Tattwa.

Karya ini ditulis oleh Ida Putu Maron, seorang intelektual-spiritual Bali dari Usadhi Nagari (Ubud). Geguritan Bali Tattwa membentangkan sejarah Bali sejak kedatangan Resi Markandya hingga pergolakan politik Bali abad ke-19. Karena begitu panjang, kita coba cukil bagian perjalanan Aji Saka yang bermigrasi dari India ke Jawa lalu ke Bali.     

Aji Saka berasal daerah Surati, Negeri Bharata Warsa (India). Ia adalah seseorang yang bijaksana dan selalu memegang kebenaran. Ketika muda, ia bernama Sang Sangkala atau Sang Jaka Sangkala. Ia adalah putra dari Mpu Anganjali. Atas perintah Hyang Jagatnatha (Shiwa), Sang Sangkala akhirnya berangkat menuju Pulau Jawa.

Banyak penduduk dan pendeta yang mengikuti perjalanannya untuk mendirikan kerajaan di Jawa Tengah, tepatnya di Medang Kamulan atau Medang Kahyangan. Setelah berhasil mendirikan kerajaan, ia kemudian dinobatkan menjadi raja dengan gelar Prabhu Aji Saka. Ia adalah raja pertama dari Negeri Indu (India) yang memerintah di tanah Jawa (Pupuh Sinom I: 56-57).

Sejak pemerintahan Prabhu Aji Saka, penggunaan perhitungan waktu (sasih) dan tahun saka (śaka) mulai diterapkan. Karena kebijaksanaannya, seluruh penduduk diperintahkan untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan sastra yang disebut dengan Sastra Medang. Bentuk aksaranya sama seperti prasasti tembaga. Akan tetapi, saat ini bentuknya sudah berubah seperti aksara Jawa dan Bali.

Pada masa pemerintahan Prabhu Aji Saka, masyarakat juga diajari pengetahuan kebahasaan terutama bhasa bhasita dan tata krama kehidupan. Ia juga membuat tata aturan dunia, terutama Phalakreta, Awig, Simadesi, Subak, sarana persembahan di pura, berbagai perlengkapan upacara agama, yang semuanya diperhitungkan.

Penduduk India dan Jawa merasakan kebahagiaan karena kedua golongan tersebut memiliki pemimpin yang utama. Prabhu Aji Saka juga tidak pilih kasih sehingga pantas disebut sebagai ayah dan ibunya dunia (bhapebhu ning rāt). Banyak bangunan yang meniru langgam India. Hingga saat ini masih banyak cirinya (Pupuh Sinom I: 58-65).

Setelah sebelas tahun Prabhu Aji Saka bertahta, ada tanda berupa cahaya yang muncul di kaki Gunung Agung. Cahaya itu disebut dengan Salodaka. Pada saat yang bersamaan, ada sabda yang diturunkan oleh Hyang Siwa. Prabhu Aji Saka diperintahkan untuk membangun pura besar di Bhasukih, tempat pendaman panca dhatu yang sebelumnya dilakukan oleh Resi Markandya.

Kahyangan Desa yang sudah ada di sana kemudian diubah menjadi Kahyangan Gumi untuk seluruh masyarakat Bali. Seluruh pengerjaan bangunan di pura itu diawasi oleh ahli agama. Panduan sastra yang digunakan juga jelas yaitu Asta Kosali, Asta Kosala, dan Swakarma (Pupuh Sinom I, 66-68).

Sejak saat itu pula, masyarakat Bali Aga diajari berbagai pengetahuan seperti membaca dan menulis, sastra Medang, tata bahasa, tata cara mengolah perunggu, ketahanan negara, tata aturan desa dan tata kelola air. Akan tetapi, hal-hal yang berkaitan dengan pura dan pemujaan kepada Hyang Widhi tidak diajarkan lagi karena sudah menjadi bagian dari agama Brahmi. Bagian dari agama Brahmi yang dimaksud adalah Sambu, Brahma, Indra, Kala, Bayu, dan Sambu. Secara keseluruhan berbagai aliran yang dianut warga Bali itu disebut dengan Sad Agama (Pupuh Sinom, 69-70).

Ajaran dari enam aliran ini tidak terlalu jauh berbeda karena memang merupakan cabang dari agama Brahma. Berikut ini akan diuraikan satu per satu identitas aliran tersebut sesuai dengan keunggulannya. Sesungguhnya meskipun terdapat perbedaan, ke enam aliran tersebut sesungguhnya berasal dari yang tunggal dan akan kembali ke yang tunggal pula.

Pertama, Gama Sambu itu cirinya adalah menyembah arca dan ketika penganutnya meninggal dunia, mereka menggunakan air rendaman ketan sebagai sarana untuk menyucikan jenazah. Setelah dibersihkan, jenazah lalu diletakkan di tempat yang bagus.

Kedua, Gama Brahma, cirinya adalah menyembah Siwa Agni atau Siwa Raditya. Setelah meninggal dunia, jenazah penganut agama Brahma akan dimandikan dengan air daun delima. Setelah selesai dimandikan, jenazah akan dibakar di api.

Ketiga, agama Indra, cirinya adalah menyembah Hyang Siwa Giri atau Siwa Mrĕtta atau Candra. Pada saat meninggal dunia, jenazah penganut aliran ini akan disucikan menggunakan air beras, selanjutnya dikubur atau diletakkan jenazahnya di jurang atau gua.

Keempat, Gama Kala yang cirinya menyembah segala yang menakutkan, seperti pohon atau batu besar. Pada saat meninggal dunia, jenazah para pengikut aliran ini akan disucikan dengan air daun bekul. Setelah bersih, mayatnya lalu dijadikan makanan binatang buas.

Kelima, Gama Bayu yang cirinya adalah menyembah Siwa Nirmala Hening, Maruta, dan Bintang. Pada saat meninggal dunia,  jenazah para pengikut aliran ini dibersihkan menggunakan air jawuh. Setelah itu, mayatnya dikubur di kuburan atau di samping gunung.

Keenam, Gama Wisnu yang cirinya adalah menyembah Siwa Pawitra Hening. Ketika meninggal dunia, pengikut aliran ini akan disucikan menggunakan sarana air bunga. Setelah itu, mayatnya dihanyut di sungai (Pupuh Sinom I: 71-79).

Demikianlah kenyataan enam aliran yang pernah dilakoni di Bali. Meskipun terdapat perbedaan, sesungguhnya tujuannya adalah bakti kepada Tuhan khususnya Shiwa dalam berbagai manifestasinya. Sesuai dengan sabda Bhatara Shiwa Aditya kepada Bhagawan Byasa, bahwa persembahan yang utama kepada para dewata adalah rasa bakti dan welas asih (satya bhakti ring kami), serta budi yang hening (mahninga buddhinta).

Dari berbagai aliran yang diceritakan dalam Geguritan Bali Tattwa itu, masyarakat Bali sejatinya tidak arlergi terhadap aliran keyakinan sepanjang aliran tersebut sesuai dengan ruang tempatnya mengalir. Sama seperti fitrah air, ia akan memiliki warna sama dengan tempat yang dilalui atau digenanginya. Ada kalanya juga aliran itu akan bergabung dengan aliran lain yang arusnya lebih kuat dan deras. Bahkan, dalam sejarahnya aliran itu juga tampak mengalami pasang, surut, dan mongering lalu hilang.

Pada suatu zaman, banyak orang yang meyakini suatu aliran mendekatkan penganutnya pada Tuhan, tetapi pada zaman berbeda yang terjadi bisa saja sebaliknya. Terlebih, apabila aliran-aliran tersebut telah kehilangan kejernihannya untuk mengantarkan pengikutnya untuk sampai pada samudra kesadaran Ketuhanan. Siapa lagi yang mencemari aliran itu selain tokoh-tokohnya sendiri.

Para pencemar alir aliran itu barangkali lupa, tugasnya bukanlah mencari orang untuk menikmati aliran, tetapi memperlancar aliran agar semakin cepat bisa bersatu dengan laut yang Mahaluas. Di laut itu, ia tak lagi membedakan dirinya dengan yang lain. Di laut kesadaran, ia bebas dari dirinya.[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati
Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita
Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga
Tags: agamaaksara balibalilontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar

Next Post

Meja yang Menyatakan Hasrat

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Meja yang Menyatakan Hasrat

Meja yang Menyatakan Hasrat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co