14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sad Agama:  Menelusuri Enam Aliran Kepercayaan di Bali dalam Geguritan Bali Tattwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
November 19, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

WACANA moderasi beragama digulirkan oleh pemerintah untuk menghindari berbagai potensi gesekan antaragama yang kerap terjadi di Indonesia. Ironisnya, ketika program ini menggelinding, masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu justru menghadapi tantangan internal. Ada sejumlah aliran yang kontroversial karena dianggap tidak sesuai dengan kultur budaya Bali dan pengikutnya tetap mempertahankan corak asalnya: India.

Di wilayah akar rumput, polarisasi ini ternyata berakibat pada kecenderungan untuk melihat Bali sebagai wilayah yang tertutup, otentik, dan muasal dari berbagai peradaban. Sisi positifnya memang ada karena situasi ini menyebabkan mereka lebih giat mendalami akar literasi Bali.

Akan tetapi, yang perlu diwaspadai adalah klaim membabi buta yang cenderung fanatik Bali, seperti bahasa Sanskerta ditafsir dari Bali, puja mantra dari tanah Dewata, pusat agama Hindu di Pulau Surga, dan yang lainnya. Hal ini jelas memunggungi perjalanan sejarah Bali yang sangat panjang. Untuk mebuktikan betapa terbukanya Bali terhadap pengaruh luar khususnya India, baik pada tataran orang maupun aliran keyakinan, mari simak paparan Geguritan Bali Tattwa.

Karya ini ditulis oleh Ida Putu Maron, seorang intelektual-spiritual Bali dari Usadhi Nagari (Ubud). Geguritan Bali Tattwa membentangkan sejarah Bali sejak kedatangan Resi Markandya hingga pergolakan politik Bali abad ke-19. Karena begitu panjang, kita coba cukil bagian perjalanan Aji Saka yang bermigrasi dari India ke Jawa lalu ke Bali.     

Aji Saka berasal daerah Surati, Negeri Bharata Warsa (India). Ia adalah seseorang yang bijaksana dan selalu memegang kebenaran. Ketika muda, ia bernama Sang Sangkala atau Sang Jaka Sangkala. Ia adalah putra dari Mpu Anganjali. Atas perintah Hyang Jagatnatha (Shiwa), Sang Sangkala akhirnya berangkat menuju Pulau Jawa.

Banyak penduduk dan pendeta yang mengikuti perjalanannya untuk mendirikan kerajaan di Jawa Tengah, tepatnya di Medang Kamulan atau Medang Kahyangan. Setelah berhasil mendirikan kerajaan, ia kemudian dinobatkan menjadi raja dengan gelar Prabhu Aji Saka. Ia adalah raja pertama dari Negeri Indu (India) yang memerintah di tanah Jawa (Pupuh Sinom I: 56-57).

Sejak pemerintahan Prabhu Aji Saka, penggunaan perhitungan waktu (sasih) dan tahun saka (śaka) mulai diterapkan. Karena kebijaksanaannya, seluruh penduduk diperintahkan untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan sastra yang disebut dengan Sastra Medang. Bentuk aksaranya sama seperti prasasti tembaga. Akan tetapi, saat ini bentuknya sudah berubah seperti aksara Jawa dan Bali.

Pada masa pemerintahan Prabhu Aji Saka, masyarakat juga diajari pengetahuan kebahasaan terutama bhasa bhasita dan tata krama kehidupan. Ia juga membuat tata aturan dunia, terutama Phalakreta, Awig, Simadesi, Subak, sarana persembahan di pura, berbagai perlengkapan upacara agama, yang semuanya diperhitungkan.

Penduduk India dan Jawa merasakan kebahagiaan karena kedua golongan tersebut memiliki pemimpin yang utama. Prabhu Aji Saka juga tidak pilih kasih sehingga pantas disebut sebagai ayah dan ibunya dunia (bhapebhu ning rāt). Banyak bangunan yang meniru langgam India. Hingga saat ini masih banyak cirinya (Pupuh Sinom I: 58-65).

Setelah sebelas tahun Prabhu Aji Saka bertahta, ada tanda berupa cahaya yang muncul di kaki Gunung Agung. Cahaya itu disebut dengan Salodaka. Pada saat yang bersamaan, ada sabda yang diturunkan oleh Hyang Siwa. Prabhu Aji Saka diperintahkan untuk membangun pura besar di Bhasukih, tempat pendaman panca dhatu yang sebelumnya dilakukan oleh Resi Markandya.

Kahyangan Desa yang sudah ada di sana kemudian diubah menjadi Kahyangan Gumi untuk seluruh masyarakat Bali. Seluruh pengerjaan bangunan di pura itu diawasi oleh ahli agama. Panduan sastra yang digunakan juga jelas yaitu Asta Kosali, Asta Kosala, dan Swakarma (Pupuh Sinom I, 66-68).

Sejak saat itu pula, masyarakat Bali Aga diajari berbagai pengetahuan seperti membaca dan menulis, sastra Medang, tata bahasa, tata cara mengolah perunggu, ketahanan negara, tata aturan desa dan tata kelola air. Akan tetapi, hal-hal yang berkaitan dengan pura dan pemujaan kepada Hyang Widhi tidak diajarkan lagi karena sudah menjadi bagian dari agama Brahmi. Bagian dari agama Brahmi yang dimaksud adalah Sambu, Brahma, Indra, Kala, Bayu, dan Sambu. Secara keseluruhan berbagai aliran yang dianut warga Bali itu disebut dengan Sad Agama (Pupuh Sinom, 69-70).

Ajaran dari enam aliran ini tidak terlalu jauh berbeda karena memang merupakan cabang dari agama Brahma. Berikut ini akan diuraikan satu per satu identitas aliran tersebut sesuai dengan keunggulannya. Sesungguhnya meskipun terdapat perbedaan, ke enam aliran tersebut sesungguhnya berasal dari yang tunggal dan akan kembali ke yang tunggal pula.

Pertama, Gama Sambu itu cirinya adalah menyembah arca dan ketika penganutnya meninggal dunia, mereka menggunakan air rendaman ketan sebagai sarana untuk menyucikan jenazah. Setelah dibersihkan, jenazah lalu diletakkan di tempat yang bagus.

Kedua, Gama Brahma, cirinya adalah menyembah Siwa Agni atau Siwa Raditya. Setelah meninggal dunia, jenazah penganut agama Brahma akan dimandikan dengan air daun delima. Setelah selesai dimandikan, jenazah akan dibakar di api.

Ketiga, agama Indra, cirinya adalah menyembah Hyang Siwa Giri atau Siwa Mrĕtta atau Candra. Pada saat meninggal dunia, jenazah penganut aliran ini akan disucikan menggunakan air beras, selanjutnya dikubur atau diletakkan jenazahnya di jurang atau gua.

Keempat, Gama Kala yang cirinya menyembah segala yang menakutkan, seperti pohon atau batu besar. Pada saat meninggal dunia, jenazah para pengikut aliran ini akan disucikan dengan air daun bekul. Setelah bersih, mayatnya lalu dijadikan makanan binatang buas.

Kelima, Gama Bayu yang cirinya adalah menyembah Siwa Nirmala Hening, Maruta, dan Bintang. Pada saat meninggal dunia,  jenazah para pengikut aliran ini dibersihkan menggunakan air jawuh. Setelah itu, mayatnya dikubur di kuburan atau di samping gunung.

Keenam, Gama Wisnu yang cirinya adalah menyembah Siwa Pawitra Hening. Ketika meninggal dunia, pengikut aliran ini akan disucikan menggunakan sarana air bunga. Setelah itu, mayatnya dihanyut di sungai (Pupuh Sinom I: 71-79).

Demikianlah kenyataan enam aliran yang pernah dilakoni di Bali. Meskipun terdapat perbedaan, sesungguhnya tujuannya adalah bakti kepada Tuhan khususnya Shiwa dalam berbagai manifestasinya. Sesuai dengan sabda Bhatara Shiwa Aditya kepada Bhagawan Byasa, bahwa persembahan yang utama kepada para dewata adalah rasa bakti dan welas asih (satya bhakti ring kami), serta budi yang hening (mahninga buddhinta).

Dari berbagai aliran yang diceritakan dalam Geguritan Bali Tattwa itu, masyarakat Bali sejatinya tidak arlergi terhadap aliran keyakinan sepanjang aliran tersebut sesuai dengan ruang tempatnya mengalir. Sama seperti fitrah air, ia akan memiliki warna sama dengan tempat yang dilalui atau digenanginya. Ada kalanya juga aliran itu akan bergabung dengan aliran lain yang arusnya lebih kuat dan deras. Bahkan, dalam sejarahnya aliran itu juga tampak mengalami pasang, surut, dan mongering lalu hilang.

Pada suatu zaman, banyak orang yang meyakini suatu aliran mendekatkan penganutnya pada Tuhan, tetapi pada zaman berbeda yang terjadi bisa saja sebaliknya. Terlebih, apabila aliran-aliran tersebut telah kehilangan kejernihannya untuk mengantarkan pengikutnya untuk sampai pada samudra kesadaran Ketuhanan. Siapa lagi yang mencemari aliran itu selain tokoh-tokohnya sendiri.

Para pencemar alir aliran itu barangkali lupa, tugasnya bukanlah mencari orang untuk menikmati aliran, tetapi memperlancar aliran agar semakin cepat bisa bersatu dengan laut yang Mahaluas. Di laut itu, ia tak lagi membedakan dirinya dengan yang lain. Di laut kesadaran, ia bebas dari dirinya.[T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Jelajah Aksara Dalam Sarira : Catatan dari Tutur Sang Hyang Aji Saraswati
Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita
Grehasta Sastra: Sastra sebagai Pegangan dalam Membina Rumah Tangga
Tags: agamaaksara balibalilontar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar

Next Post

Meja yang Menyatakan Hasrat

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Meja yang Menyatakan Hasrat

Meja yang Menyatakan Hasrat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co