5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
July 12, 2025
in Ulas Film
Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Poster film 1 Kakak 7 Ponakan (instagram.com/1kakak7ponakan)

FILM “1 Kakak 7 Ponakan” di Netflix menjadi teman gabut saya di siang hari. Film ini memang sudah rilis sejak 23 Januari 2025  di bioskop, tetapi baru menampakan diri di Netflix, Rabu malam 10 Juli. Apresiasi untuk film ini karena sudah meraih penonton lebih dari 1 juta dalam 17 hari penayangan bioskop.

Sedikit sharing, saya bukan bagian dari generasai sandwich, setidaknya belum. Saya tidak pernah benar-benar tahu rasanya menanggung beban hidup, tetapi saya mengenal yang namanya rasa lelah, bingung, dan saya tahu banyak orang mungkin merasa demikian, yang merasa hidupnya tak lagi tentang dirinya sendiri, seperti yang saya temui di film ini. Mari berkenalan dengan Moko, inilah sosok inspiratif di film “1 Kakak 7 Ponakan”.

Film ini berkisah tentang Moko (diperankan oleh Chicco Kurniawan), seorang mahasiswa arsitektur yang hidupnya seketika jungkir balik saat kakak dan iparnya meninggal dunia dan menyisakan keponakannya yang kini menjadi tanggung jawabnya. Padahal Moko masih muda, masih ingin merasakan untuk berpacaran, masih merangkai kerangka-kerangka mimpinya, kini kandas sudah. Tetapi seperti hidup yang seringkali punya rencana sendiri, Moko terpaksa memeluk semua tanggung jawab itu sendirian. Tanpa sempat benar-benar mengucap “Aku belum siap”.

Menonton adegan demi adegan yang bisa dikatakan tidak berlebihan, sederhana tapi pesannya tersampaikan. Kesederhanaannya itulah yang menohok. Membawa kita dalam suasana yang dimana semua tidak harus meledak-ledak untuk menghantarkan pesan haru, cukup melihat seseorang yang menghela napas pelan di dapur sambil mengenyang bayi mungil, atau menahan rasa sesak di kamar mandi, seperti yang dilakonkan oleh Moko.

Bagi para generasi sandwich, mungkin banyak dari kalian akan merasa seperti Moko. Tidak mati, tetapi selalu membawa rasa kehilangan hidup sendiri, terjebak diantara membahagiakan dan menjaga yang tidak secara plong-plongan dilakukan oleh sesosok paman. Yang belum selesai dengan diri sendiri, tetapi sudah diminta untuk jadi dewasa untuk banyak orang. Apakah bisa seorang paman menggantikan peran menjadi orang tua yang harus menghidupi anak-anaknya? Di film ini, Moko bisa.

Film ini tidak menawarkan solusi, tidak juga menghadirkan akhir bahagia yang ideal. Karena kenyataannya, hidup tak selalu selesai dalam dua jam, dan tidak semua luka sembuh seiring credit title bergulir. Yang ada adalah penerimaan yang lahir dari keikhlasaan.

Saya suka film ini karena tidak semata membuat Moko menjadi sosok pahlawan. Dia kadang marah, lelah, dan bahkan kadang ingin menyerah terlihat dari raut mukanya. Tetapi di situlah ia menjadi manusia. Dan mungkin itu yang kita butuhkan sekarang, cerita tentang manusia biasa yang mencoba bertahan. Bukan karena dia kuat, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Mari berkenalan dengan kelima keponakannya, yang bukan hanya sekadar karakter pendukung. Mereka adalah denyut nadi dari cerita ini, mereka adalah roda penggerak kehidupan Moko. Ada Woko (Fatih Unru) keponakan tertua yang sering merasa harus menjadi pengganti sosok ayah, walau dalam diam juga memikul duka, ia memutuskan untuk tidak kuliah dan lebih memilih untuk menjadi tukang fotocopy untuk mengurangi beban pamannya.

Lalu ada Nina (Freya JKT48) ini ponakan puber yang judes tapi sangat memperhatikan Moko, kalau ditanya siapa sosok ponakan yang sering berdebat dengan Moko, maka ialah orangnya. Ada juga Rivano alias Ano (Ahmad Nadif), berbadan besar dan terlihat lugu, berbekal penyakit radang usus, yang dimana lagi-lagi biaya pengobatannya harus ditanggung oleh Moko.

Lanjut, ada Gadis atau Ais (Kawai Labiba) anak titipan dari guru les piano Moko yang kemudian ikut tinggal bersama mereka, menambah nuansa cinta di keluarga itu. Dan terakhir Imah, si bayi mungil yang belum bisa bicara, kelahirannya menjadi kematian bagi ibunya.

Mereka hadir bukan semerta-merta menjadi beban bagi Moko, Moko tidak pernah merasa terbebani, walaupun raut mukanya jelas berpikir demikian. Keponakannya menjadi flora keikhlasan yang tumbuh perlahan.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa yang ditampilkan hanya lima keponakan saja, tetapi sebenarnya ada satu adegan yang menjadi kunci jawaban bahwa memang benar Moko memiliki tujuh ponakan. Seperti adegan dimana Moko sedikit berdebat dengan teman perempuannya yang selalu menemani dari awal hingga akhir film ini. Namanya Mauri (Amanda Rawles) yang tetiba nyeletuk kalau sebenarnya Moko memliki tujuh ponakan, yang lima ponakan ditambah dengan 1 kakak perempuan kedua dan ipar Moko. Mereka hadir disini bukan sebagai orang yang membantu Moko, tetapi mereka bagai pemotivasi yang keji.

Mereka datang seolah berkunjung ke rumah Moko, tetapi nyatanya hanya menumpang untuk dinafkahi juga. Iparnya bernama Eka (Ringgo Agus Rahman) seolah memotivasi Moko tetapi secara halus merendahkan derajat Moko dan selalu memeras Moko untuk memberikan uang dengan iming-iming membenahi rumah tangga. Dari situlah diibaratkan Moko menafkahi ketujuh ponakannya.

Sebagai karya sinema, film karya sutradara Yandi Laurens ini berhasil menyampaikan pesan tersiratnya kepada para generasi sandwich diluar sana. Filmnya tidak memaksakan adegan dramatika, tapi justru merangkai perasaan lewat hal-hal kecil yang terlihat nyata dan relevan. Ditambah alunan musik dari Sal Priadi, musik yang tidak sedih, tetapi maknanya dalam sesuai dengan scene. Para pemeran anak tidak terlihat seperti akting, mereka benar-benar hidup sebagai anak-anak yang keras kepala, yang polos, yang sedikit manja, itulah pembawa nuansa film ini.

Memang ada beberapa adegan yang dirasa kurang plong nih untuk dibahas seperti bagaimana pesan terakhir kepergian kakak dan ipar Moko, proses hukum hak asuh yang mungkin secara logika akan menimbulkan pertanyaan. Tetapi balik lagi, film ini bagi saya bukan untuk dianalisis, tetapi mengajak kita untuk melihat bagaimana titik rendah dan perjuangan seorang kakak (paman) dengan ketujuh ponakannya. Melihat bahwa hidup tak selalu memberi kita waktu untuk siap, tetapi justru dari ketidaksiapan itu, kita belajar tumbuh.

Pada akhirnya, film “1 Kakak 7 Ponakan” ini menyuguhkan kita para penonton bagaimana tanggung jawab yang tidak dipilih, tetapi dijalani. Cinta yang tidak diucapkan secara klise, tetapi diutarakan disetiap kehadiran sosok Moko bagi para keponakannya.

Ada satu kalimat yang mungkin bisa mewakili perasaan untuk seorang Moko bahwa “yang harus ditanggung itu biaya hidup, bukan gaya hidup”. Percayalah teman-teman, di saat saya menulis ini, saya kembali ditemani oleh Moko dan ketujuh ponakannya. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali
Harapan itu Bernama Jumbo!
Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Tags: filmFilm IndonesiaKeluarga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?

Next Post

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025”: Kolaborasi Seniman Toba dan Bali di Santrian Art Gallery Sanur

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Pameran “Тoba Bali Art Project 2025”: Kolaborasi Seniman Toba dan Bali di Santrian Art Gallery Sanur

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025”: Kolaborasi Seniman Toba dan Bali di Santrian Art Gallery Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co