12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 26, 2025
in Ulas Film
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

Film Roots

NAMA Walter Spies tentu saja sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Bali, terutama Ubud. Di tempat tinggal terakhirnya tersebut, ia bahkan punya nama yang lebih diakrabi oleh lidah lokal yaitu Tuan Tepis.

Kamis lalu, 22/05/2025, saya menghadiri undangan untuk menonton sebuah film berjudul Roots: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Dari judulnya, saya menebak jika ini akan menjadi sebuah film biograpi pelukis berdarah Jerman-Rusia tersebut.

Dan, saya salah. Sebentar, tidak sepenuhnya salah karena ada juga kilasan cerita tentang kehadirannya di Bali. Sutradaranya bahkan menyertakan kisah ringkas kehidupannya sebelum beranjak ke Hindia Belanda, nama Indonesia pada jaman pra-kemerdekaan. Maksud saya, ini lebih dari sekedar biografi. Ini jauh lebih dalam dan lebih padat. Isinya, jika kita melihatnya dari kacamata masyarakat Bali, adalah sebuah kritik tajam namun disajikan dengan bungkus biografi.

Secara plot, film ini tampil meloncat-loncat. Sesekali, kita disajikan keadaan dunia, terutama di Jerman dan Eropa Barat masa awal abad ke-20, lalu meloncat ke Jakarta dan Yogyakarta tahun 1920-an sebelum ke Bali baik di masa lalu maupun di hari ini. Ini terjadi beberapa kali yang jika digambarkan seperti gigi gergaji, maju mundur. Tetapi dari situ, secara perlahan kita digiring tanpa sadar untuk memahami transformasi apa yang sedang terjadi secara global baik di masa lalu maupun di masa kini. Transformasi yang membuat kita menyaksikan Bali hari ini.

Diceritakaan soal masa kecil hingga remaja Walter Spies, kemudian kehidupan masa perang yang membuatnya cukup nekad bertualang ke Batavia. Tidak sabar menunggu waktu sandar, konon ia melompat dari kapal untuk menuju daratan. Bertahan hidup bukan hal mudah, dan Spies memilih jalan sebagai guru musik hingga ke Yogyakarta di mana ia berjumpa Punggawa Ubud yang membawanya ke Bali. Disinilah petualangannya dimulai.

Spies mengambil sekaligus memberi inspirasi bagi perkembangan seni budaya lokal. Lukisan-lukisannya selama tinggal di Ubud menunjukkan apresiasinya terhadap segala sesuatu yang ada di Bali. Ia juga menginspirasi lahirnya tarian kecak, yang awalnya adalah iringan tarian sacral, untuk bisa menjadi pentas kolosal disaksikan oleh turis. Tidak berhenti di situ, bersama beberapa seniman lokal dan punggawa Ubud, ia juga memodernkan distribusi barang-barang seni melalui koperasi Pita Maha.

Cerita lalu meloncat. Bali kini menghadapi msalah sampah yang pelik. Meningkatnya aktivitas wisata turut berkontrbusi terhadap persoalan yang kini menjadi atensi public. Bli Made Bayak mengajak kita bertualang ke teluk Benoa. Kawasan ini sempat heboh oleh rencana reklamasi yang mendapat penolakan luas. Rencana ini juga merupakan bagian dari perkembangan pariwisata. Bayak bersama seorang warga melihat gunung sampah dari atas perahunya yang melintas di Teluk Benoa.

Persoalan ini juga menjadi inspirasi lukisan-lukisan seniman Gus Dark. Pemuda gondrong asal desa Sidemen ini aktif membuat kartun yang bertemakan kampanye untuk memerangi sampah. Usahanya dilakukan melalui poster hingga penjualan T-Shirt. Desa ini bertetangga dengan Desa Iseh di Karangasem.

Iseh sendiri merupakan desa di mana Spies pernah tinggal saat menjadi buruan pemerintah kolonial. Di sebuah lahan terpencil yang jauh dari permukiman warga, seniman berkulit pucat itu membangun sebuah tempat persembunyian sekaligus tempatnya menyepi. Kini, desa ini ramai dengan rumah peristirahatan berupa villa.

Ya transformasi bidang investasi property juga sedang berlangsung. Lahan-lahan milik masyarakat lokal banyak yang beralih ke tangan investor. Meski tidak segera dibangun, lahan tersebut tetap menguntungkan karena nilainya terus naik setiap tahun. Seorang petani di dalam film, yang ternyata ayah dari seorang kawan, mengatakan ia hanya petani penggarap lahan. Pemiliknya investor besar yang sudah mengakuisisi lahan bertahun lampau.

Di sebelahnya, investor besar dari Rusia sedang membangun mimpi membangun kota global. Pemodal dari seluruh dunia diundang untuk berpartisipasi guna mencapai cita-citanya. Di sana, terselip juga kisah lokal dimana anak-anak diajarkan untuk mencintai budayanya. Selain itu, investasi besar tersebut juga memberi lapangan pekerjaan bagi generasi muda di sana. Ada banyak lagi kisah terserak sepanjang film. Sangat padat, adalah kesan yang saya tangkap.

Di awal acara, sang sutradara menyebutkan Bali menjadi pionir dalam pengembangan pariwisata. Sebelum berkemabng di Bali, memang sudah terjadi perjalanan wisata di eropa tetapi bukan menjangkau wilayah yang jauh dari tempat asal turis. Semenjak Bali dikenal dunia awal abad ke-20, pariwisata dengan tujuan jarak jauh mulai berkembang. Bali, hingga kini, tetap mnjadi salah satu node penting setiap ada pembicaraan atau pembahasan soal pariwisata.

Beberapa kali kesempatan menjadi narasumber seminar di berbagai belahan bumi, orang selalu menanyai saya tentang Bali karena pariwisatanya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu orang yang membuat Bali seperti ini adalah Walter Spies.

Pariwisata dan Bali memang sudah tidak lagi bisa dipisahkan. Dengan segala kontroversi dan keuntungan ekonomi yang dibawanya, kita sudah tidak lagi punya pilihan. Sebagian dari kita memperoleh manfaat langsung dari pariwisata. Sebagian lainnya mungkin tidak mendapat tetapi malah memperoleh gangguan darinya. Di tengahnya, ada masyarakat yang mendapat keuntungan sekaligus juga mendapat kerugian tanpa mampu membuat pilihan. Dualisme dan dualitas yang dilematis inilah yang saya lihat pesan yang ditampilkan.

Ini memang film yang multiintepretasi. Tidak ada hitam putih. Tanpa peran protagonis atau antagonis. Penonton seolah dibiarkan untuk membangun sendiri pembacaannya atas makna yang tersirat. Mereka yng datang sekedar mencari kisah Walter Spies mungkin tidak menemukan apa yang dicarinya secara utuh tetapi menjumpai banyak fakta lain. Fakta-fakta yang tumbuh dari benih dan akar yang ditanam, sebagian, oleh Walter Spies. Karena itulah judulnya sangat tepat: ROOTS. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

  • BACA JUGA:
Harapan itu Bernama Jumbo!
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmSeni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Next Post

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co