14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 26, 2025
in Ulas Film
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

Film Roots

NAMA Walter Spies tentu saja sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Bali, terutama Ubud. Di tempat tinggal terakhirnya tersebut, ia bahkan punya nama yang lebih diakrabi oleh lidah lokal yaitu Tuan Tepis.

Kamis lalu, 22/05/2025, saya menghadiri undangan untuk menonton sebuah film berjudul Roots: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Dari judulnya, saya menebak jika ini akan menjadi sebuah film biograpi pelukis berdarah Jerman-Rusia tersebut.

Dan, saya salah. Sebentar, tidak sepenuhnya salah karena ada juga kilasan cerita tentang kehadirannya di Bali. Sutradaranya bahkan menyertakan kisah ringkas kehidupannya sebelum beranjak ke Hindia Belanda, nama Indonesia pada jaman pra-kemerdekaan. Maksud saya, ini lebih dari sekedar biografi. Ini jauh lebih dalam dan lebih padat. Isinya, jika kita melihatnya dari kacamata masyarakat Bali, adalah sebuah kritik tajam namun disajikan dengan bungkus biografi.

Secara plot, film ini tampil meloncat-loncat. Sesekali, kita disajikan keadaan dunia, terutama di Jerman dan Eropa Barat masa awal abad ke-20, lalu meloncat ke Jakarta dan Yogyakarta tahun 1920-an sebelum ke Bali baik di masa lalu maupun di hari ini. Ini terjadi beberapa kali yang jika digambarkan seperti gigi gergaji, maju mundur. Tetapi dari situ, secara perlahan kita digiring tanpa sadar untuk memahami transformasi apa yang sedang terjadi secara global baik di masa lalu maupun di masa kini. Transformasi yang membuat kita menyaksikan Bali hari ini.

Diceritakaan soal masa kecil hingga remaja Walter Spies, kemudian kehidupan masa perang yang membuatnya cukup nekad bertualang ke Batavia. Tidak sabar menunggu waktu sandar, konon ia melompat dari kapal untuk menuju daratan. Bertahan hidup bukan hal mudah, dan Spies memilih jalan sebagai guru musik hingga ke Yogyakarta di mana ia berjumpa Punggawa Ubud yang membawanya ke Bali. Disinilah petualangannya dimulai.

Spies mengambil sekaligus memberi inspirasi bagi perkembangan seni budaya lokal. Lukisan-lukisannya selama tinggal di Ubud menunjukkan apresiasinya terhadap segala sesuatu yang ada di Bali. Ia juga menginspirasi lahirnya tarian kecak, yang awalnya adalah iringan tarian sacral, untuk bisa menjadi pentas kolosal disaksikan oleh turis. Tidak berhenti di situ, bersama beberapa seniman lokal dan punggawa Ubud, ia juga memodernkan distribusi barang-barang seni melalui koperasi Pita Maha.

Cerita lalu meloncat. Bali kini menghadapi msalah sampah yang pelik. Meningkatnya aktivitas wisata turut berkontrbusi terhadap persoalan yang kini menjadi atensi public. Bli Made Bayak mengajak kita bertualang ke teluk Benoa. Kawasan ini sempat heboh oleh rencana reklamasi yang mendapat penolakan luas. Rencana ini juga merupakan bagian dari perkembangan pariwisata. Bayak bersama seorang warga melihat gunung sampah dari atas perahunya yang melintas di Teluk Benoa.

Persoalan ini juga menjadi inspirasi lukisan-lukisan seniman Gus Dark. Pemuda gondrong asal desa Sidemen ini aktif membuat kartun yang bertemakan kampanye untuk memerangi sampah. Usahanya dilakukan melalui poster hingga penjualan T-Shirt. Desa ini bertetangga dengan Desa Iseh di Karangasem.

Iseh sendiri merupakan desa di mana Spies pernah tinggal saat menjadi buruan pemerintah kolonial. Di sebuah lahan terpencil yang jauh dari permukiman warga, seniman berkulit pucat itu membangun sebuah tempat persembunyian sekaligus tempatnya menyepi. Kini, desa ini ramai dengan rumah peristirahatan berupa villa.

Ya transformasi bidang investasi property juga sedang berlangsung. Lahan-lahan milik masyarakat lokal banyak yang beralih ke tangan investor. Meski tidak segera dibangun, lahan tersebut tetap menguntungkan karena nilainya terus naik setiap tahun. Seorang petani di dalam film, yang ternyata ayah dari seorang kawan, mengatakan ia hanya petani penggarap lahan. Pemiliknya investor besar yang sudah mengakuisisi lahan bertahun lampau.

Di sebelahnya, investor besar dari Rusia sedang membangun mimpi membangun kota global. Pemodal dari seluruh dunia diundang untuk berpartisipasi guna mencapai cita-citanya. Di sana, terselip juga kisah lokal dimana anak-anak diajarkan untuk mencintai budayanya. Selain itu, investasi besar tersebut juga memberi lapangan pekerjaan bagi generasi muda di sana. Ada banyak lagi kisah terserak sepanjang film. Sangat padat, adalah kesan yang saya tangkap.

Di awal acara, sang sutradara menyebutkan Bali menjadi pionir dalam pengembangan pariwisata. Sebelum berkemabng di Bali, memang sudah terjadi perjalanan wisata di eropa tetapi bukan menjangkau wilayah yang jauh dari tempat asal turis. Semenjak Bali dikenal dunia awal abad ke-20, pariwisata dengan tujuan jarak jauh mulai berkembang. Bali, hingga kini, tetap mnjadi salah satu node penting setiap ada pembicaraan atau pembahasan soal pariwisata.

Beberapa kali kesempatan menjadi narasumber seminar di berbagai belahan bumi, orang selalu menanyai saya tentang Bali karena pariwisatanya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu orang yang membuat Bali seperti ini adalah Walter Spies.

Pariwisata dan Bali memang sudah tidak lagi bisa dipisahkan. Dengan segala kontroversi dan keuntungan ekonomi yang dibawanya, kita sudah tidak lagi punya pilihan. Sebagian dari kita memperoleh manfaat langsung dari pariwisata. Sebagian lainnya mungkin tidak mendapat tetapi malah memperoleh gangguan darinya. Di tengahnya, ada masyarakat yang mendapat keuntungan sekaligus juga mendapat kerugian tanpa mampu membuat pilihan. Dualisme dan dualitas yang dilematis inilah yang saya lihat pesan yang ditampilkan.

Ini memang film yang multiintepretasi. Tidak ada hitam putih. Tanpa peran protagonis atau antagonis. Penonton seolah dibiarkan untuk membangun sendiri pembacaannya atas makna yang tersirat. Mereka yng datang sekedar mencari kisah Walter Spies mungkin tidak menemukan apa yang dicarinya secara utuh tetapi menjumpai banyak fakta lain. Fakta-fakta yang tumbuh dari benih dan akar yang ditanam, sebagian, oleh Walter Spies. Karena itulah judulnya sangat tepat: ROOTS. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

  • BACA JUGA:
Harapan itu Bernama Jumbo!
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmSeni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Next Post

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co