2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 26, 2025
in Ulas Film
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali

Film Roots

NAMA Walter Spies tentu saja sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Bali, terutama Ubud. Di tempat tinggal terakhirnya tersebut, ia bahkan punya nama yang lebih diakrabi oleh lidah lokal yaitu Tuan Tepis.

Kamis lalu, 22/05/2025, saya menghadiri undangan untuk menonton sebuah film berjudul Roots: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Dari judulnya, saya menebak jika ini akan menjadi sebuah film biograpi pelukis berdarah Jerman-Rusia tersebut.

Dan, saya salah. Sebentar, tidak sepenuhnya salah karena ada juga kilasan cerita tentang kehadirannya di Bali. Sutradaranya bahkan menyertakan kisah ringkas kehidupannya sebelum beranjak ke Hindia Belanda, nama Indonesia pada jaman pra-kemerdekaan. Maksud saya, ini lebih dari sekedar biografi. Ini jauh lebih dalam dan lebih padat. Isinya, jika kita melihatnya dari kacamata masyarakat Bali, adalah sebuah kritik tajam namun disajikan dengan bungkus biografi.

Secara plot, film ini tampil meloncat-loncat. Sesekali, kita disajikan keadaan dunia, terutama di Jerman dan Eropa Barat masa awal abad ke-20, lalu meloncat ke Jakarta dan Yogyakarta tahun 1920-an sebelum ke Bali baik di masa lalu maupun di hari ini. Ini terjadi beberapa kali yang jika digambarkan seperti gigi gergaji, maju mundur. Tetapi dari situ, secara perlahan kita digiring tanpa sadar untuk memahami transformasi apa yang sedang terjadi secara global baik di masa lalu maupun di masa kini. Transformasi yang membuat kita menyaksikan Bali hari ini.

Diceritakaan soal masa kecil hingga remaja Walter Spies, kemudian kehidupan masa perang yang membuatnya cukup nekad bertualang ke Batavia. Tidak sabar menunggu waktu sandar, konon ia melompat dari kapal untuk menuju daratan. Bertahan hidup bukan hal mudah, dan Spies memilih jalan sebagai guru musik hingga ke Yogyakarta di mana ia berjumpa Punggawa Ubud yang membawanya ke Bali. Disinilah petualangannya dimulai.

Spies mengambil sekaligus memberi inspirasi bagi perkembangan seni budaya lokal. Lukisan-lukisannya selama tinggal di Ubud menunjukkan apresiasinya terhadap segala sesuatu yang ada di Bali. Ia juga menginspirasi lahirnya tarian kecak, yang awalnya adalah iringan tarian sacral, untuk bisa menjadi pentas kolosal disaksikan oleh turis. Tidak berhenti di situ, bersama beberapa seniman lokal dan punggawa Ubud, ia juga memodernkan distribusi barang-barang seni melalui koperasi Pita Maha.

Cerita lalu meloncat. Bali kini menghadapi msalah sampah yang pelik. Meningkatnya aktivitas wisata turut berkontrbusi terhadap persoalan yang kini menjadi atensi public. Bli Made Bayak mengajak kita bertualang ke teluk Benoa. Kawasan ini sempat heboh oleh rencana reklamasi yang mendapat penolakan luas. Rencana ini juga merupakan bagian dari perkembangan pariwisata. Bayak bersama seorang warga melihat gunung sampah dari atas perahunya yang melintas di Teluk Benoa.

Persoalan ini juga menjadi inspirasi lukisan-lukisan seniman Gus Dark. Pemuda gondrong asal desa Sidemen ini aktif membuat kartun yang bertemakan kampanye untuk memerangi sampah. Usahanya dilakukan melalui poster hingga penjualan T-Shirt. Desa ini bertetangga dengan Desa Iseh di Karangasem.

Iseh sendiri merupakan desa di mana Spies pernah tinggal saat menjadi buruan pemerintah kolonial. Di sebuah lahan terpencil yang jauh dari permukiman warga, seniman berkulit pucat itu membangun sebuah tempat persembunyian sekaligus tempatnya menyepi. Kini, desa ini ramai dengan rumah peristirahatan berupa villa.

Ya transformasi bidang investasi property juga sedang berlangsung. Lahan-lahan milik masyarakat lokal banyak yang beralih ke tangan investor. Meski tidak segera dibangun, lahan tersebut tetap menguntungkan karena nilainya terus naik setiap tahun. Seorang petani di dalam film, yang ternyata ayah dari seorang kawan, mengatakan ia hanya petani penggarap lahan. Pemiliknya investor besar yang sudah mengakuisisi lahan bertahun lampau.

Di sebelahnya, investor besar dari Rusia sedang membangun mimpi membangun kota global. Pemodal dari seluruh dunia diundang untuk berpartisipasi guna mencapai cita-citanya. Di sana, terselip juga kisah lokal dimana anak-anak diajarkan untuk mencintai budayanya. Selain itu, investasi besar tersebut juga memberi lapangan pekerjaan bagi generasi muda di sana. Ada banyak lagi kisah terserak sepanjang film. Sangat padat, adalah kesan yang saya tangkap.

Di awal acara, sang sutradara menyebutkan Bali menjadi pionir dalam pengembangan pariwisata. Sebelum berkemabng di Bali, memang sudah terjadi perjalanan wisata di eropa tetapi bukan menjangkau wilayah yang jauh dari tempat asal turis. Semenjak Bali dikenal dunia awal abad ke-20, pariwisata dengan tujuan jarak jauh mulai berkembang. Bali, hingga kini, tetap mnjadi salah satu node penting setiap ada pembicaraan atau pembahasan soal pariwisata.

Beberapa kali kesempatan menjadi narasumber seminar di berbagai belahan bumi, orang selalu menanyai saya tentang Bali karena pariwisatanya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu orang yang membuat Bali seperti ini adalah Walter Spies.

Pariwisata dan Bali memang sudah tidak lagi bisa dipisahkan. Dengan segala kontroversi dan keuntungan ekonomi yang dibawanya, kita sudah tidak lagi punya pilihan. Sebagian dari kita memperoleh manfaat langsung dari pariwisata. Sebagian lainnya mungkin tidak mendapat tetapi malah memperoleh gangguan darinya. Di tengahnya, ada masyarakat yang mendapat keuntungan sekaligus juga mendapat kerugian tanpa mampu membuat pilihan. Dualisme dan dualitas yang dilematis inilah yang saya lihat pesan yang ditampilkan.

Ini memang film yang multiintepretasi. Tidak ada hitam putih. Tanpa peran protagonis atau antagonis. Penonton seolah dibiarkan untuk membangun sendiri pembacaannya atas makna yang tersirat. Mereka yng datang sekedar mencari kisah Walter Spies mungkin tidak menemukan apa yang dicarinya secara utuh tetapi menjumpai banyak fakta lain. Fakta-fakta yang tumbuh dari benih dan akar yang ditanam, sebagian, oleh Walter Spies. Karena itulah judulnya sangat tepat: ROOTS. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

  • BACA JUGA:
Harapan itu Bernama Jumbo!
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmSeni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Next Post

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Wahyu Sanjaya dan Cintya Pradnyandewi Terpilih Sebagai Duta Bahasa Provinsi Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co