23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 12, 2025
in Esai
Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?

Ilustrasi tatkala.co

BALI tak pernah benar-benar sunyi dari desir ambisi. Di balik harum dupa dan kidung pemujaan, ada mesin-mesin proyek yang diam-diam terus menggerus sunyi. Termasuk yang belakangan ini kembali bergaung seperti mantra yang dipaksakan: Bandara Internasional Bali Utara, atau singkatnya, BIBU.

Nama yang terdengar modern, berwawasan global, dan tentu saja menjanjikan. Tapi apakah benar ia berkah, atau justru serapah yang dibungkus janji? Bali, seperti seorang perempuan tua yang tetap menawan, kini kembali dirayu dengan gincu pembangunan. Tapi tubuhnya tak lagi muda. Tanahnya retak. Lautnya lelah. Langitnya kadang berawan meski musim sedang cerah.

Mimpi yang Ditalangi Utang

Katanya, bandara ini tidak akan menguras APBN. Tak keluar uang sepeser pun. Tapi kita tahu, dalam dunia modern, tak ada makan siang gratis. Yang tak dibayar tunai hari ini, akan ditagih besok lewat cicilan, lewat tanah yang harus digadaikan, lewat ruang hidup yang menyempit, lewat suara jangkrik yang tergantikan deru pesawat.

Dalam akuntansi spiritual Hindu, utang bukan sekadar angka. Ia adalah ṛṇa, utang moral kepada semesta, kepada leluhur, kepada tanah tempat kita berpijak. Dan jika utang ini gagal dibayar, bukan hanya anak-cucu yang menanggungnya, tapi seluruh garis karma Bali akan terikat di simpul dosa kolektif.

Bandara di Atas Laut, Ancaman di Atas Tanah

BIBU rencananya akan dibangun di atas reklamasi laut. Sebagian mungkin menganggap ini solusi cerdas agar tidak merusak daratan. Tapi sesungguhnya, justru fasilitas pendukung seperti jalan tol, kawasan perniagaan, depo logistik, terminal darat, dan kompleks properti yang akan mencaplok lahan hijau, sawah produktif, dan ruang adat di daratan.

Inilah ironi paling menyakitkan: yang disebut “kemajuan” justru meminggirkan alam dan spiritualitas Bali. Sawah dan hutan akan menjadi aspal dan beton. Pura dan jalur upacara akan terpotong proyek. Dan mata air akan tertutup konstruksi.

Ancaman Nyata: Serobot Ekosistem & Fragmentasi Budaya

Menurut Prof. Ir. Daniel Murdiyarso, Ph.D., peneliti senior CIFOR dan pakar ekologi lanskap:

“Pembangunan besar di daerah hijau yang belum terfragmentasi akan menciptakan ecological island yang melemahkan daya tahan kawasan terhadap bencana ekologis seperti banjir dan kekeringan.”

Demikian pula WALHI Bali memperingatkan bahwa proyek pendukung BIBU akan membelah jalur ekosistem dari pegunungan ke laut, menghancurkan biodiversitas, dan memperbesar risiko bencana ekologis di Bali Utara—daerah yang selama ini masih alami.

Nyoman Gelebet: Ruang Bali Adalah Ruang Suci

Ir. I Nyoman M. Gelebet, tokoh arsitektur Bali yang mewariskan tatanan Asta Kosala-Kosali, dengan tegas menolak pembangunan yang mencederai spiritualitas ruang. Ia pernah menyatakan:

“Ruang di Bali bukan sekadar ruang fungsional, melainkan ruang spiritual. Struktur tidak boleh merusak harmoni antara purusa dan bhuwana, manusia dan alam.”

Bagi Gelebet, membangun bandara yang memaksakan pola struktur modern ke dalam lanskap Bali sama dengan mengoyak struktur kosmologis Bali. Di mana tanah tidak boleh lebih tinggi dari gunung, dan pembangunan tidak boleh melangkahi pura. Di mata beliau, ini bukan sekadar salah tempat—tapi salah cara berpikir.

Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba: Bali Itu Jiwa, Bukan Zona Investasi

Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, budayawan dan spiritualis, mengingatkan bahwa:

“Kita terlalu banyak bicara tentang Bali sebagai tempat investasi, terlalu sedikit tentang Bali sebagai tempat pelindungan jiwa.”

Ia menyuarakan kekhawatiran terhadap pembangunan besar yang membajak Bali atas nama kemajuan.

“Bali boleh modern, tapi tidak boleh kehilangan akar. Modernisasi tanpa spiritualisasi adalah pemakaman budaya.”

Bali Adalah Loka, Bukan Lokasi

Guruji Anand Krishna, tokoh spiritual dan penulis buku The Wisdom of Bali (2009), menulis:

“Bali bukan sekadar tempat. Ia adalah loka — ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan langit dan bumi. Pembangunan yang mengabaikan spirit ini hanya akan melahirkan tempat kosong tanpa jiwa.”

Ia menambahkan:

“Jika kita membangun tanpa kesadaran, kita sedang meruntuhkan pilar-pilar budaya kita sendiri. Bali tidak memerlukan lebih banyak bangunan. Bali memerlukan lebih banyak penghormatan terhadap nilai-nilai luhur dan kearifan lokal Bali”

Bagi beliau, pembangunan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kontrak dan kapital. Tanpa itu, kita hanya sedang mengelola kehancuran.

Ibu Kota Baru, Bukan Bandara Baru

Mengapa tidak memindahkan ibu kota provinsi Bali ke utara alih-alih membangun bandara? Singaraja punya sejarah sebagai pusat pemerintahan. Ini bukan ide baru, melainkan kembali ke akar. Pemindahan pusat pemerintahan jauh lebih bermakna dan berkelanjutan dibanding menghadirkan bandara yang akan membuka pintu bagi aliran kapital tak terkendali.

Ini bukan soal gedung, tapi soal arah pandang. Kita perlu menggeser paradigma dari betonisasi ke budhisasi – dari pembangunan fisik menuju pembangunan batin.

Tanah Ini Sudah Penuh Luka

Bali bukan tanah kosong. Ia penuh kisah, penuh roh, penuh upacara. Setiap jengkalnya adalah kitab hidup. Maka setiap proyek pembangunan harus dibaca dengan aksara suci, bukan kalkulasi. Tanah ini sudah penuh luka. Jangan tambahkan lagi.

BIBU mungkin menjanjikan berkat. Tapi jangan lupa: tak semua yang bersinar adalah pencerahan. Kadang, sinarnya justru berasal dari api yang membakar perlahan.

Pembangunan Bukan Soal Beton, Tapi Soal Budhi

Bali bukan pulau untuk dibangun. Ia pulau untuk direnungi. Ia adalah tempat orang belajar menghaturkan dupa dan doa, bukan mendirikan gedung dan parkiran pesawat. Jika kita masih bisa membedakan antara kemajuan dan kesombongan, maka kita masih punya harapan.

Dan jika harapan itu masih ada, mari kita jaga Bali dengan satu mantra yang paling sederhana: cukup.
Save Bali — atau lebih tepatnya:
Serve Bali, Ibu yang telah menyusui kita semua di sini. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!
Mari Memandang Pencoretan Bandara Bali Utara dengan Perspektif Lain
Bali, Pulau Surga yang Lelah
Tags: balibandarabandara bali utarabuleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 1]

Next Post

Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Film "1 Kakak 7 Ponakan" -- Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co