24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Jaswanto by Jaswanto
November 14, 2024
in Khas
Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEORANG kakek berjongkok dan mengeluarkan perkakas dari dalam tas karungnya. Di sana ada palu kayu dan tatah berukuran sedang, tampak juga meteran. Sesaat setelah mendapati alat-alat yang dibutuhkannya lengkap, orang tua itu kini mencoba melubangi bambu panjang yang tergeletak di depannya. Dengan hati-hati dan penuh perhitungan, kakek itu mulai memukul tatah beberapa kali. Syahdan, satu lubang berbentuk segitiga sama sisi tertoreh di bagian atas bambu panjang tersebut.

Di tengah pematang pada siang yang terik, orang tua berkacamata itu mengenakan baju putih, udeng, dan kamen yang bagus, seperti hendak ke pura atau ke hajatan tetangga, alih-alih berkunjung ke sawah untuk membuat alat pengusir burung yang berbunyi saat tertiup angin itu.

Ya, kakek tua itu sedang membuat sunari, alat tradisional Bali yang digunakan sebagai pengusir hama tani—yang terbuat dari buluh bambu dengan lubang-lubang tertentu yang menghasilkan suara saat diterpa angin, dan dipercaya dapat menghalau (seperti lelakut) hama padi, seperti burung dan hama lainnya.

Pekak Reka sedang melubangi bambu untuk membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kakek tua yang sedang membuat sunari itu bernama Ketut Lana. “Tapi biasa dipanggil Pekak Reka,” ujarnya kepada tatkala.co. Ia kini sudah berumur 76 tahun. Lebih muda barang tiga tahun dari Indonesia. Tapi meski sudah berumur setengah abad lebih, Pekak Reka tetap bertenaga. Lututnya tak gemetar sama sekali saat naik-turun pematang sawah Jatiluwih yang terkenal berundak itu.

Pada siang yang terik itu, Pekak Reka tak sendiri. Ada beberapa remaja yang mengerubutinya. Remaja-remaja tersebut ternyata sedang belajar membuat sunari, dan Pekak Reka bertindak sebagai instrukturnya. Patas saja, ini merupakan lokakarya pembuatan sunari yang menjadi bagian dalam gelaran Subak Spirit Festival 2024, program Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali, dari tanggal 9-10 November 2024.

“Saya diminta panitia untuk membuat beberapa [sunari], sekaligus mengajarkan anak-anak,” ungkap Pekak Reka. Di pematang sebelah, beberapa sunari berdiri menjulang dengan anyaman daun kelapa—terlihat seperti bendera—di ujungnya. Anyaman tersebut berkibar kaku saat angin menerpanya. Tapi tak terdengar satu pun sunari bersiul. Entah.

Pekak Reka saat diwawancara sesaat setelah selesai membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan, sama seperti lelakut, sunari tak sekadar alat pengursir hama semata. Di Bali, sunari dianggap sebagai simbol Dewa Brahma dalam upacara keagamaan Hindu, sementara suara yang dihasilkannya dipercaya dapat mengingatkan manusia untuk selalu “eling” dan “ngeh” dengan petunjuk alam, supaya dapat menjaga keseimbangan, keselarasan, dalam setiap aktivitas pertanian—relasi antara manusia dengan alam.

Sebagai pawongan (pelaku), manusia harus menjaga keseimbangan dengan Bhuta Kala (unsur alam), dan sunari—sebagaimana, sekali lagi, lelakut—berfungsi sebagai pengingat akan hal tersebut. Dalam pertanian Bali, sunari dan lelakut sama-sama mencerminkan penghormatan terhadap alam dan usaha menjaga ketahanan pangan, sekaligus simbol pengorbanan kecil dari petani untuk berkolaborasi dengan alam demi hasil yang seimbang dan berkelanjutan.

Menurut Pekak Reka, sunari konon berasal dari kata “sunar” yang berarti sinar, yang bermakna menerangi umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Namun, menurut K.M Suhardana dalam buku Sundarigama (2010), kata sunari berarti buluh perindu. Sedangkan sunari dalam situs BASAibu Wiki diartikan sebagai bambu tinggi yang dilubangi sehingga angin yang melewati lubang tersebut menghasilkan suara seperti suling. Dan dalam kamus Jawa Kuna-Indonesia P.J Zoetmoulder ditemukan kata sundari yang disebut sebagai sejenis serangga bersuara nyaring di pepohonan.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Terlepas dari arti istilah sunari, yang jelas, alat tradisional ini terbuat dari bambu yang ruasnya rata-rata sama panjang. Selain itu, kulit bambu harus tipis supaya menghasilkan suara yang nyaring saat diterpa angin. Suara sunari dihasilkan dari lubang yang dibuat pada bambu. Cara kerjanya seperti peluit atau seruling, pada saat lubang tersebut terkena angin, maka akan menghasilkan pola bunyi yang khas.

Bunyi sunari diyakini dapat memberikan kesan harmonis, ketenangan lahir batin bagi masyarakat yang memiliki hajatan, upacara. Barangkali bunyi sunari dapat berpengaruh terhadap psikologi manusia. “Ada tujuh lubang yang bentuknya berbeda dalam setiap sunari,” terang Pekak Reka kepada beberapa remaja yang mengikuti lokakaryanya, Minggu (10/11/2024) siang. Lalu ia mulai menjelaskan pelan-pelan mengenai makna di setiap lubang.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lubang pertama, yang berbentuk segitiga sama sisi dan terdapat di bagian atas bambu, melambangkan nada atau bintang. Kemudian lubang kedua berbentuk bulat atau nol itu melambangkan windu. Selanjutnya, pada lubang ketiga, yang berbentuk bulan sabit, melambangkan ardha candra—lambang dari kesatuan tiga unsur, yaitu bayu, sabda, dan idep.

“Lubang keempat berbentuk tegak lurus. Ini sebagai lambang purusa atau lingga. Sedangkan lubang kelima berbentuk lesung yang melambangkan yoni atau pradana,” Pekak Reka menjelaskan dengan bahasa Bali bercampur Indonesia, jalin-jemalin. Remaja-remaja itu hanya menganggukkan kepalanya.

Pekak Reka melanjutkan, lubang keenam, katanya, berbentuk swastika. Ini merupakan simbol keseimbangan. Dan lubang ketujuh, yang posisinya paling bawah itu, berbentuk segi empat dan melambangkan bumi.

Dua remaja sedang meniup lubang sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ketika sunari ditiup angin, maka lubang-lubang ini akan mengeluarkan suara merdu yang berbeda-beda pula. Saking merdunya, dikisahkan, para widyadara dan widyadari [dewa-dewi] menjadi senang. Itu pertanda jika yadnya yang dilaksanakan juga mendapatkan anugerah,” kata Pekak Reka sambil tersenyum.

Hari tiba-tiba mulai mendung. Anyaman daun kelapa di ujung sunari melambai-lambai. Siang itu, meski ada angin, tak satu pun sunari terdengar bersiul. Apa dewa-dewi tak senang dengan festival ini, Pekak Reka? Dari arah selatan, secara tiba-tiba, awan hitam berarak dengan cepat. Gemuruh mulai berbunyi. Orang-orang bersiap berteduh. Dan benar. Hujan mulai turun, sesaat setelah Pekak Reka dan beberapa remaja berusaha meniup lubang-lubang di tubuh sunari yang belum didirikan itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Kepuakan, Bedil Bukan, tapi Alat Pengusir Burung di Sawah
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024
Melihat Jatayu Menari di Jatiluwih
Menciptakan Generasi Asik, Petani Muda Penangkap Lindung, di Jatiluwih
Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Tags: jatiluwihKementerian KebudayaanSubak Spirit Festivalsunari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Film Sinema Akhir Tahun #9: Diikuti 300 Film, 21 Lolos Kurasi, 1 Karya Film dari Bali 

Next Post

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co