2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Jaswanto by Jaswanto
November 14, 2024
in Khas
Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEORANG kakek berjongkok dan mengeluarkan perkakas dari dalam tas karungnya. Di sana ada palu kayu dan tatah berukuran sedang, tampak juga meteran. Sesaat setelah mendapati alat-alat yang dibutuhkannya lengkap, orang tua itu kini mencoba melubangi bambu panjang yang tergeletak di depannya. Dengan hati-hati dan penuh perhitungan, kakek itu mulai memukul tatah beberapa kali. Syahdan, satu lubang berbentuk segitiga sama sisi tertoreh di bagian atas bambu panjang tersebut.

Di tengah pematang pada siang yang terik, orang tua berkacamata itu mengenakan baju putih, udeng, dan kamen yang bagus, seperti hendak ke pura atau ke hajatan tetangga, alih-alih berkunjung ke sawah untuk membuat alat pengusir burung yang berbunyi saat tertiup angin itu.

Ya, kakek tua itu sedang membuat sunari, alat tradisional Bali yang digunakan sebagai pengusir hama tani—yang terbuat dari buluh bambu dengan lubang-lubang tertentu yang menghasilkan suara saat diterpa angin, dan dipercaya dapat menghalau (seperti lelakut) hama padi, seperti burung dan hama lainnya.

Pekak Reka sedang melubangi bambu untuk membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kakek tua yang sedang membuat sunari itu bernama Ketut Lana. “Tapi biasa dipanggil Pekak Reka,” ujarnya kepada tatkala.co. Ia kini sudah berumur 76 tahun. Lebih muda barang tiga tahun dari Indonesia. Tapi meski sudah berumur setengah abad lebih, Pekak Reka tetap bertenaga. Lututnya tak gemetar sama sekali saat naik-turun pematang sawah Jatiluwih yang terkenal berundak itu.

Pada siang yang terik itu, Pekak Reka tak sendiri. Ada beberapa remaja yang mengerubutinya. Remaja-remaja tersebut ternyata sedang belajar membuat sunari, dan Pekak Reka bertindak sebagai instrukturnya. Patas saja, ini merupakan lokakarya pembuatan sunari yang menjadi bagian dalam gelaran Subak Spirit Festival 2024, program Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali, dari tanggal 9-10 November 2024.

“Saya diminta panitia untuk membuat beberapa [sunari], sekaligus mengajarkan anak-anak,” ungkap Pekak Reka. Di pematang sebelah, beberapa sunari berdiri menjulang dengan anyaman daun kelapa—terlihat seperti bendera—di ujungnya. Anyaman tersebut berkibar kaku saat angin menerpanya. Tapi tak terdengar satu pun sunari bersiul. Entah.

Pekak Reka saat diwawancara sesaat setelah selesai membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan, sama seperti lelakut, sunari tak sekadar alat pengursir hama semata. Di Bali, sunari dianggap sebagai simbol Dewa Brahma dalam upacara keagamaan Hindu, sementara suara yang dihasilkannya dipercaya dapat mengingatkan manusia untuk selalu “eling” dan “ngeh” dengan petunjuk alam, supaya dapat menjaga keseimbangan, keselarasan, dalam setiap aktivitas pertanian—relasi antara manusia dengan alam.

Sebagai pawongan (pelaku), manusia harus menjaga keseimbangan dengan Bhuta Kala (unsur alam), dan sunari—sebagaimana, sekali lagi, lelakut—berfungsi sebagai pengingat akan hal tersebut. Dalam pertanian Bali, sunari dan lelakut sama-sama mencerminkan penghormatan terhadap alam dan usaha menjaga ketahanan pangan, sekaligus simbol pengorbanan kecil dari petani untuk berkolaborasi dengan alam demi hasil yang seimbang dan berkelanjutan.

Menurut Pekak Reka, sunari konon berasal dari kata “sunar” yang berarti sinar, yang bermakna menerangi umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Namun, menurut K.M Suhardana dalam buku Sundarigama (2010), kata sunari berarti buluh perindu. Sedangkan sunari dalam situs BASAibu Wiki diartikan sebagai bambu tinggi yang dilubangi sehingga angin yang melewati lubang tersebut menghasilkan suara seperti suling. Dan dalam kamus Jawa Kuna-Indonesia P.J Zoetmoulder ditemukan kata sundari yang disebut sebagai sejenis serangga bersuara nyaring di pepohonan.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Terlepas dari arti istilah sunari, yang jelas, alat tradisional ini terbuat dari bambu yang ruasnya rata-rata sama panjang. Selain itu, kulit bambu harus tipis supaya menghasilkan suara yang nyaring saat diterpa angin. Suara sunari dihasilkan dari lubang yang dibuat pada bambu. Cara kerjanya seperti peluit atau seruling, pada saat lubang tersebut terkena angin, maka akan menghasilkan pola bunyi yang khas.

Bunyi sunari diyakini dapat memberikan kesan harmonis, ketenangan lahir batin bagi masyarakat yang memiliki hajatan, upacara. Barangkali bunyi sunari dapat berpengaruh terhadap psikologi manusia. “Ada tujuh lubang yang bentuknya berbeda dalam setiap sunari,” terang Pekak Reka kepada beberapa remaja yang mengikuti lokakaryanya, Minggu (10/11/2024) siang. Lalu ia mulai menjelaskan pelan-pelan mengenai makna di setiap lubang.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lubang pertama, yang berbentuk segitiga sama sisi dan terdapat di bagian atas bambu, melambangkan nada atau bintang. Kemudian lubang kedua berbentuk bulat atau nol itu melambangkan windu. Selanjutnya, pada lubang ketiga, yang berbentuk bulan sabit, melambangkan ardha candra—lambang dari kesatuan tiga unsur, yaitu bayu, sabda, dan idep.

“Lubang keempat berbentuk tegak lurus. Ini sebagai lambang purusa atau lingga. Sedangkan lubang kelima berbentuk lesung yang melambangkan yoni atau pradana,” Pekak Reka menjelaskan dengan bahasa Bali bercampur Indonesia, jalin-jemalin. Remaja-remaja itu hanya menganggukkan kepalanya.

Pekak Reka melanjutkan, lubang keenam, katanya, berbentuk swastika. Ini merupakan simbol keseimbangan. Dan lubang ketujuh, yang posisinya paling bawah itu, berbentuk segi empat dan melambangkan bumi.

Dua remaja sedang meniup lubang sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ketika sunari ditiup angin, maka lubang-lubang ini akan mengeluarkan suara merdu yang berbeda-beda pula. Saking merdunya, dikisahkan, para widyadara dan widyadari [dewa-dewi] menjadi senang. Itu pertanda jika yadnya yang dilaksanakan juga mendapatkan anugerah,” kata Pekak Reka sambil tersenyum.

Hari tiba-tiba mulai mendung. Anyaman daun kelapa di ujung sunari melambai-lambai. Siang itu, meski ada angin, tak satu pun sunari terdengar bersiul. Apa dewa-dewi tak senang dengan festival ini, Pekak Reka? Dari arah selatan, secara tiba-tiba, awan hitam berarak dengan cepat. Gemuruh mulai berbunyi. Orang-orang bersiap berteduh. Dan benar. Hujan mulai turun, sesaat setelah Pekak Reka dan beberapa remaja berusaha meniup lubang-lubang di tubuh sunari yang belum didirikan itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Kepuakan, Bedil Bukan, tapi Alat Pengusir Burung di Sawah
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024
Melihat Jatayu Menari di Jatiluwih
Menciptakan Generasi Asik, Petani Muda Penangkap Lindung, di Jatiluwih
Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Tags: jatiluwihKementerian KebudayaanSubak Spirit Festivalsunari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Film Sinema Akhir Tahun #9: Diikuti 300 Film, 21 Lolos Kurasi, 1 Karya Film dari Bali 

Next Post

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co