23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Jaswanto by Jaswanto
November 14, 2024
in Khas
Sunari, dan Tujuh Lubang di Tubuhnya

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEORANG kakek berjongkok dan mengeluarkan perkakas dari dalam tas karungnya. Di sana ada palu kayu dan tatah berukuran sedang, tampak juga meteran. Sesaat setelah mendapati alat-alat yang dibutuhkannya lengkap, orang tua itu kini mencoba melubangi bambu panjang yang tergeletak di depannya. Dengan hati-hati dan penuh perhitungan, kakek itu mulai memukul tatah beberapa kali. Syahdan, satu lubang berbentuk segitiga sama sisi tertoreh di bagian atas bambu panjang tersebut.

Di tengah pematang pada siang yang terik, orang tua berkacamata itu mengenakan baju putih, udeng, dan kamen yang bagus, seperti hendak ke pura atau ke hajatan tetangga, alih-alih berkunjung ke sawah untuk membuat alat pengusir burung yang berbunyi saat tertiup angin itu.

Ya, kakek tua itu sedang membuat sunari, alat tradisional Bali yang digunakan sebagai pengusir hama tani—yang terbuat dari buluh bambu dengan lubang-lubang tertentu yang menghasilkan suara saat diterpa angin, dan dipercaya dapat menghalau (seperti lelakut) hama padi, seperti burung dan hama lainnya.

Pekak Reka sedang melubangi bambu untuk membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kakek tua yang sedang membuat sunari itu bernama Ketut Lana. “Tapi biasa dipanggil Pekak Reka,” ujarnya kepada tatkala.co. Ia kini sudah berumur 76 tahun. Lebih muda barang tiga tahun dari Indonesia. Tapi meski sudah berumur setengah abad lebih, Pekak Reka tetap bertenaga. Lututnya tak gemetar sama sekali saat naik-turun pematang sawah Jatiluwih yang terkenal berundak itu.

Pada siang yang terik itu, Pekak Reka tak sendiri. Ada beberapa remaja yang mengerubutinya. Remaja-remaja tersebut ternyata sedang belajar membuat sunari, dan Pekak Reka bertindak sebagai instrukturnya. Patas saja, ini merupakan lokakarya pembuatan sunari yang menjadi bagian dalam gelaran Subak Spirit Festival 2024, program Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali, dari tanggal 9-10 November 2024.

“Saya diminta panitia untuk membuat beberapa [sunari], sekaligus mengajarkan anak-anak,” ungkap Pekak Reka. Di pematang sebelah, beberapa sunari berdiri menjulang dengan anyaman daun kelapa—terlihat seperti bendera—di ujungnya. Anyaman tersebut berkibar kaku saat angin menerpanya. Tapi tak terdengar satu pun sunari bersiul. Entah.

Pekak Reka saat diwawancara sesaat setelah selesai membuat sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan, sama seperti lelakut, sunari tak sekadar alat pengursir hama semata. Di Bali, sunari dianggap sebagai simbol Dewa Brahma dalam upacara keagamaan Hindu, sementara suara yang dihasilkannya dipercaya dapat mengingatkan manusia untuk selalu “eling” dan “ngeh” dengan petunjuk alam, supaya dapat menjaga keseimbangan, keselarasan, dalam setiap aktivitas pertanian—relasi antara manusia dengan alam.

Sebagai pawongan (pelaku), manusia harus menjaga keseimbangan dengan Bhuta Kala (unsur alam), dan sunari—sebagaimana, sekali lagi, lelakut—berfungsi sebagai pengingat akan hal tersebut. Dalam pertanian Bali, sunari dan lelakut sama-sama mencerminkan penghormatan terhadap alam dan usaha menjaga ketahanan pangan, sekaligus simbol pengorbanan kecil dari petani untuk berkolaborasi dengan alam demi hasil yang seimbang dan berkelanjutan.

Menurut Pekak Reka, sunari konon berasal dari kata “sunar” yang berarti sinar, yang bermakna menerangi umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Namun, menurut K.M Suhardana dalam buku Sundarigama (2010), kata sunari berarti buluh perindu. Sedangkan sunari dalam situs BASAibu Wiki diartikan sebagai bambu tinggi yang dilubangi sehingga angin yang melewati lubang tersebut menghasilkan suara seperti suling. Dan dalam kamus Jawa Kuna-Indonesia P.J Zoetmoulder ditemukan kata sundari yang disebut sebagai sejenis serangga bersuara nyaring di pepohonan.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Terlepas dari arti istilah sunari, yang jelas, alat tradisional ini terbuat dari bambu yang ruasnya rata-rata sama panjang. Selain itu, kulit bambu harus tipis supaya menghasilkan suara yang nyaring saat diterpa angin. Suara sunari dihasilkan dari lubang yang dibuat pada bambu. Cara kerjanya seperti peluit atau seruling, pada saat lubang tersebut terkena angin, maka akan menghasilkan pola bunyi yang khas.

Bunyi sunari diyakini dapat memberikan kesan harmonis, ketenangan lahir batin bagi masyarakat yang memiliki hajatan, upacara. Barangkali bunyi sunari dapat berpengaruh terhadap psikologi manusia. “Ada tujuh lubang yang bentuknya berbeda dalam setiap sunari,” terang Pekak Reka kepada beberapa remaja yang mengikuti lokakaryanya, Minggu (10/11/2024) siang. Lalu ia mulai menjelaskan pelan-pelan mengenai makna di setiap lubang.

Sunari-sunari karya Pekak Reka di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lubang pertama, yang berbentuk segitiga sama sisi dan terdapat di bagian atas bambu, melambangkan nada atau bintang. Kemudian lubang kedua berbentuk bulat atau nol itu melambangkan windu. Selanjutnya, pada lubang ketiga, yang berbentuk bulan sabit, melambangkan ardha candra—lambang dari kesatuan tiga unsur, yaitu bayu, sabda, dan idep.

“Lubang keempat berbentuk tegak lurus. Ini sebagai lambang purusa atau lingga. Sedangkan lubang kelima berbentuk lesung yang melambangkan yoni atau pradana,” Pekak Reka menjelaskan dengan bahasa Bali bercampur Indonesia, jalin-jemalin. Remaja-remaja itu hanya menganggukkan kepalanya.

Pekak Reka melanjutkan, lubang keenam, katanya, berbentuk swastika. Ini merupakan simbol keseimbangan. Dan lubang ketujuh, yang posisinya paling bawah itu, berbentuk segi empat dan melambangkan bumi.

Dua remaja sedang meniup lubang sunari di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Ketika sunari ditiup angin, maka lubang-lubang ini akan mengeluarkan suara merdu yang berbeda-beda pula. Saking merdunya, dikisahkan, para widyadara dan widyadari [dewa-dewi] menjadi senang. Itu pertanda jika yadnya yang dilaksanakan juga mendapatkan anugerah,” kata Pekak Reka sambil tersenyum.

Hari tiba-tiba mulai mendung. Anyaman daun kelapa di ujung sunari melambai-lambai. Siang itu, meski ada angin, tak satu pun sunari terdengar bersiul. Apa dewa-dewi tak senang dengan festival ini, Pekak Reka? Dari arah selatan, secara tiba-tiba, awan hitam berarak dengan cepat. Gemuruh mulai berbunyi. Orang-orang bersiap berteduh. Dan benar. Hujan mulai turun, sesaat setelah Pekak Reka dan beberapa remaja berusaha meniup lubang-lubang di tubuh sunari yang belum didirikan itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Kepuakan, Bedil Bukan, tapi Alat Pengusir Burung di Sawah
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024
Melihat Jatayu Menari di Jatiluwih
Menciptakan Generasi Asik, Petani Muda Penangkap Lindung, di Jatiluwih
Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Tags: jatiluwihKementerian KebudayaanSubak Spirit Festivalsunari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Film Sinema Akhir Tahun #9: Diikuti 300 Film, 21 Lolos Kurasi, 1 Karya Film dari Bali 

Next Post

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Diskusi Terpumpun “Tradisi Lisan dan Ritus”: Bahas Upaya Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co