23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepuakan, Bedil Bukan, tapi Alat Pengusir Burung di Sawah

Son Lomri by Son Lomri
November 12, 2024
in Khas
Kepuakan, Bedil Bukan, tapi Alat Pengusir Burung di Sawah

Kepuakan di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Son

BURUNG-burung terus hinggap di padi yang sudah menguning, tentu, bersamaan dengan belalang. Menggigit daun, mengupas padi menguning yang keemas-emasan itu; menyesap, dan para petani di Jatiluwih sudah biasa mengusir mereka (hama) dengan kepuakan.

Mengapa tidak bedil?

“Gak boleh!” kata Ketut Suke (69), petani asal Jatiluwih. Di sana, sejak pagi ia menunggu Wakil Mentri (Wamen) Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, untuk membuka Subak Spirit Festival 2024 pada Sabtu, 9 November 2024.

Waktu itu, Suke diminta panitia untuk menyambut Giring menggunakan bunyi kepuakan.

I Ketut Sumantra menggunakan baju hitam sisi paling kiri, saat memainkan kepuakan | Foto: tatkala.co/Son

Kepuakan adalah alat pengusir burung yang terbuat dari bambu setengah tua—alias muda tapi gak muda-muda amat. Pokoknya begitulah. Panjangnya sekitar 60 cm. Dan Suke sudah membuatnya dari rumah, juga dengan yang lain. Secara bersamaan, alat itu terus dibunyikkan—diperkenalkan kepada para pengunjung suaranya.

Setiap masa panen raya, para petani sudah biasa membunyikannya, tentu, di samping lelakut—orang-orangan sawah yang sudah di pasang di sekitar sawah mereka. Menakuti burung tengah malam, atau menakuti musang itu malam-malam. Horor tapi nyeni.

Sebuah manipulasi yang bagus, burung bisa tergocek dengan sendirinya, juga musang. Bahkan dengan kepuakan, belum digocek, sudah becek—begitulah kira-kira kata komedian Kiki Saputri. Hehe..

Mesti kita sadari, kepuakan menjadi alat yang teramah walaupun memiliki fungsi mengusir, dan bedil tentu tidak. Bedil memang bisa mengusir burung, bahkan juga mengusir manusia. Sebab itulah bedil dianggap tidak ramah karena dapat membantai ekosistem (mata rantai makanan) di sawah. Apalagi nuklir. Haram jaddah!

Instalasi kepuakan yang dipajang di panggung utama Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswan

“Burung itu jangan ditembak, Mas, nanti mati. Pakai alat ini aja,” ujar Ketut Suke tersenyum sambil menunjukkan alat yang ia pegang, kepuakan.

“Tuktuktuktuk..” ia membunyikkan kepuakannya kemudian.

Padi lokal Bali di Jatiluwih, itu menjadi pemandangan yang agaknya langka. Tentu, revolusi hijau—yang digenjot oleh Orde Baru (Orba)—merubah cara pandang para petani, tak hanya di Bali, tetapi juga di seluruh Indonesia. Sampai sekarang.

Padi-padi asli Bali panjangnya bisa melebihi anak SD kelas lima. Dan ketika alat kepuakan dibunyikkan saat jam makan siang si burung—oleh Pak Tani, tok..tok..tok..  Syahdan, burung-burung itu terbang tak beraturan. Sepertinya suara kepuakan adalah suara petani itu sendiri.

Simulasi Kecil Menyambut Panen Raya

Tak terbayang, menjadi pemandangan yang bagus itu jika kita melihatnya di atas ketinggian, atau setara dengan padi lokal menjulang sejajar tubuh kita. Tentu, sekarang, barangkali fenomena itu masih ada, tetapi tidak banyak—sebagaimana padi lokal kini. Cobalah datang saat panen raya tiba. Semoga ada.

Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, saat mencoba membunyikan kepuakan | Foto: tatkala.co/Son

Di Jatiluwih, tentang sawah—yang luasnya sekitar 636 hektar itu—-dengan petaknya yang berundak, telah menciptakan lanskap hijau yang bagus. Uh. Mata siapa yang tidak tercolok untuk menatapnya lebih lama? Bule-bule bertengger untuk itu, dan dolar dikoceknya dalam-dalam.

Dan Subak Spirit Festival 2024, barangkali merupa ruang perayaan dan sebuah simulasi kecil panen raya. Bagaimana aktivitas para petani dipertunjukkan, beserta dengan alat-alat peraga yang biasa mereka gunakan saat bertani. Lihat aktivitas membuat lelakutyang ditulis Kanda saya, Mas Jaswan di sini: Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024.

Tapi saya mau cerita yang lain. Di balik gapura yang cantik, berjejer para petani memeragakan dirinya, tentu, sebagai petani. I Ketut Sumantra (63), misalnya. Ia berdiri tak memakai baju dengan waktu cukup lama. Kulitnya yang sawo matang itu, menggurat usia, menandakan begitu lamanya ia sudah menjadi petani. Tak terbayang asam–garam sebagai petani ia pernah rasakan.

I Ketut Sumantra, tengah, sedang menagen atau memonggok hasil bumi: padi, bersama petani yang lain saat menyambut Wakil Menteri Kebudayaan | Foto: tatkala.co/Son

Ia adalah seorang petani dari Desa Jatiluwih. Di sana, ia memonggok hasil panen sebagai contoh bagaimana masyarakat memiliki corak budaya demikian. Intinya, festival ini melibatkan masyarakat untuk kembali memainkan ornamental pertanian subak di Jatiluwih.

Berderet dengan yang lain, yang membawa bakul, oleh ibu-ibu, menjadi tukang sabit rumput kemudian bapak-bapak itu. Membawa dedaunan, membawa sayu-sayuran—atau hasil panen, masyarakat benar-benar tampak terlihat tradisional.

Kemudian, tak hanya tentang lanskap yang indah secara sekala atau nyata itu, tetapi juga bagaimana masyarakat Bali begitu mengagungkan alam—menghubungkannya dengan rasa spiritual. Melalui subak, yaitu sistem pengairan itu, masyarakat di Jatiluwih secara niskala pun memiliki pura subak yang agung.

Ibu-ibu petani saat menyambut Wakil Menteri Kebudayaan di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Tapi bagaimana dengan Revolusi Hijau yang memiliki efek samping sangat panjang sekarang? Sawah tak lagi agung?! Atau memang tak dipikirkan sedetail petani memikirkan alat pengusir burung? Hehe..dorrrr..! Tiaraaaaaap….[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Melihat Jatayu Menari di Jatiluwih
Menciptakan Generasi Asik, Petani Muda Penangkap Lindung, di Jatiluwih
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024
Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air
Tags: jatiluwihKepuakanSubak Spirit Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Jatayu Menari di Jatiluwih

Next Post

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co