16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Jaswanto by Jaswanto
May 4, 2024
in Khas
I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Suasana diskusi publik "I Marya di Belakang Panggung" di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

SEAKAN tak puas, dan tak bosan-bosan, mengetahui dan membicarakan sosok maestro I Ketut Marya, pencipta Tari Kebyar Duduk yang fenomenal itu, setelah mengikuti program napak tilas “Membaca Marya dari Masa Depan”, para pengunjung Festival Merayakan Marya yang diselenggarakan Mulawali Institute, dengan antusias yang sama, berlanjut duduk di kursi yang telah disediakan panitia untuk kembali mendengar dan berdiskusi tentang I Marya.

Kali ini mereka diajak untuk mendengarkan cerita-cerita Marya di belakang panggung dari seorang budayawan cum akademisi, yang namanya sudah sangat familiar di jagat kesenian Bali, Profesor I Wayan Dibia, dalam diskusi publik dengan tajuk “I Marya di Belakang Panggung” yang dipandu langsung oleh budayawan sekaligus wartawan senior Made Adnyana Ole.  Diskusi tersebut berlangsung di kawasan Puri Kaleran Tabanan, tempat festival di selenggarakan, Minggu (28/4/2024) sore.

Jauh sebelum diskusi publik ini digelar, pada tahun 2023, Prof. Dibia telah menerbitkan sebuah buku yang mengulas tentang sosok I Marya. Buku biografi tersebut diberi judul “I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”—sebuah judul yang menunjukkan bahwa penulis sangat menaruh hormat kepada sosok yang ditulisnya.

Secara terang-terangan, Prof. Dibia mengatakan Mario—atau Maria atau Marya—merupakan seorang maestro dan sangat tepat disebut pahlawan kerena perjuangannya dalam seni kebyar. “Tanpa Mario, gong kebyar tidak akan sepopuler seperti sekarang ini,” katanya.

Profesor I Wayan Dibia dan Made Adnyana Ole | Foto: Mulawali Institute

Bisa dibilang, diskusi publik yang dihadiri oleh banyak kalangan itu, juga membicarakan bagaimana Prof. Dibia menulis buku tersebut—dan itu tidak bertentangan dengan tema yang dibicarakan tentu saja. Dalam buku tersebut, menurut Prof. Dibia sebagai penulisnya, tidak hanya menempatkan sosok Marya sebagai seniman saja, tapi juga menelisik sisi-sisi Marya sebagai manusia pada umumnya—tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia biasa yang unggul.

“Saya merasa data-data yang diperoleh untuk menyusun buku ini belumlah sempurna. Saya masih membutuhkan data tambahan untuk melengkapi isi buku ini,” Prof. Dibia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Made Adnyana Ole sebelumnya. Ia juga mengatakan banyak mendapat informasi dari Wayan Begeg, tukang kendang Gong Pangkung yang legendaris itu.

Selama proses pengumpulan data, selain menggunakan kajian pustaka dan arsip-arsip, Prof. Dibia juga melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dan mereka yang pernah berinteraksi dengan I Marya—seperti murid dan teman-teman Marya yang masih hidup. Dalam proses penggalian data inilah, banyak hal tentang Marya yang baru diketahui oleh Prof. Dibia. “Bahkan saya baru tahu kalau Mario punya darah keturunan orang Klungkung,” ujarnya.

Hampir satu setengah jam lebih, Prof. Dibia dan Made Adnyana Ole menyampaikan banyak hal tentang Marya di belakang panggung—tentang sisi-sisi lain dari pencipta Tari Oleg Tamulilingan itu, seperti “kenakalan-kenakalan” Marya di masa muda, pekerjaannya selain menjadi seniman, sampai bahasan-bahasan karya-karya Marya yang monumental.

Marya sebagai Manusia Biasa

Sebagaimana yang dikatakan Made Adnyana Ole dalam mukadimahnya sebelum menyerahkan forum kepada Prof. Dibia, bagaimana pun, sekali lagi tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia unggul, sosok Marya merupakan manusia biasa seperti pada umumnya. Ia memiliki “kenakalan”, kesukaan di luar kesenian, atau dalam kata lain, hidup Marya juga tidak melulu tentang soal-soal tarian atau kesenian.

Prof. Dibia memang mengakui Marya sebagai manusia yang cerdas—walaupun buta huruf. Bahkan bisa dikatakan, pikiran Marya telah melampaui orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Akan tetapi, sebagai manusia biasa, Marya juga tidak luput dari perbuatan-perbuatan “konyol” yang bagi beberapa orang dipandang saru untuk dilakukan seseorang yang memiliki nama besar seperti dirinya.

Prof. Dibia bercerita (tentu saja cerita ini ia dapat selama proses penggalian data untuk bukunya), pada suatu masa setelah pulang dari Amerika, Marya membeli senapan angin untuk berburu. Dengan mengenakan jas, celana pendek, dan topi—Marya memang orang yang nyentrik—ia berangkat berburu, hendak mencoba senapan barunya.

Bersama beberapa anak yang mengikutinya, Marya berhenti di tanah tinggi di atas sungai. Pada saat membidik, alih-alih mengarahkan teleskop senapan ke atas, Marya malah mengarahkannya ke bawah. Sontak, anak-anak yang mengikutinya bertanya, “Kenapa diarahkan ke bawah?” dengan santai Marya menjawab, “Karena di bawah ada bidadari lagi mandi.”

Cerita di atas menunjukkan bahwa Marya bukanlah orang yang tak bisa “dijangkau”, tenget, atau “serius” sebagaimana interpretasi orang-orang yang mendakunya sebagai ikon zaman—dipuja hingga dikultuskan. Nama Mario—konon ia lebih senang dengan panggilan ini—memang seakan-akan menjadi jaminan mutu. Bahwa seseorang belum merasa menjadi penari bila tak berguru padanya. Nama Mario seperti mantra “penglaris” bagi sebagian orang.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Namun, di balik besarnya nama sang maestro, ada kisah-kisah ketengan yang sangat manusiawi—dan ini jarang dibicarakan orang-orang, seolah hidup Mario hanya tentang kesenian saja.

Selain kisah tentang senapan baru itu, Prof. Dibia juga menyampaikan cerita tentang Mario yang suka mendatangi kalangan tajen—bahasa lain untuk menyebut tempat sambung ayam. “Mario gemar mendatangi tempat sambung ayam bukan untuk berjudi, tapi mencari inspirasi. Ketika menciptakan Oleg, dia jarang di rumah di Tabanan,” kisah Prof. Dibia.

Bahkan, seorang John Coast dan Sampih—teman Barat dan murid Mario—sampai menyindirnya dengan perkataan, “Apakah tajen sudah jadi agama, Pak Mario?” Mendapat pertanyaan yang menyindir itu, tanpa disangka dan diduga, Mario menjawab, “Setiap kali saya mau menari dan mencium darah ayam, saya lebih bersemangat.” Menurut Prof. Dibia, inspirasi seorang Mario datang dari kehidupan sehari-hari. Karya-karya monumentalnya tak jauh-jauh dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Sebagai seorang lelaki, Mario memiliki postur tubuh ideal dan wajah yang tampan. Tak pelak bila dirinya banyak diganderungi para gadis di zamannya. Pada tahun 1930-an, Mario sangat disayangi oleh pengelana asal Amerika, Ni Ketut Tantri—nama samaran dari Mrs. Meng. Dari sini Mario memasuki babak baru dari perjalanan kariernya.

Dari Ketut Tantri ia kerap diminta untuk menghibur para turis di Wisma Tantri di pesisir Kuta. Kadang juga di Sanur, juga di Hotel Bali, Denpasar. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa berkat Ketut Tantri nama Mario kian dikenal dunia. Sebab, dari sini, bersama Gong Pangkung, Tabanan, Mario terbang ke Amerika, Prancis, Kanada, dan sekitarnya. Mario menjadi bintang.

Meski terkenal periang dan “usil”, Marya juga termasuk sosok yang berpendirian teguh dan sangat berani. Pada 1952, menurut cerita Prof. Dibia, Marya pernah membatalkan keberangkatannya ke Amerika dengan alasan kesehatan. Saat itu ia diminta melawat ke Negeri Paman Sam bersama Gong Peliatan.

“Dia sudah menandatangani kontrak,” Prof. Dibia bercerita. Tapi beberapa hari setelah itu, Marya membatalkannya. John Coast, orang yang meminta Marya pentas di Amerika, sempat memarahinya dan mengancam akan menuntut dirinya. Tapi Mario tidak takut. Justru dia menantang balik John Coast.

“Kalau sampai Mario dituntut, Mario akan balik menuntut dengan alasan bahwa dia tidak bisa membaca dan sebelumnya Coast tidak mengatakan bahwa perjanjian tersebut berisi tentang kesepakatan pentas di Amerika,” ujar Prof. Dibia penuh semangat.

Berprofesi sebagai Tukang Pos

Siapa sangka, di tahun-tahun manakala namanya tengah harum bersinar, dengan sepeda kayuh, Mario menjelma menjadi kurir pos. Padahal, sebagaimana dikatakan Prof.Dibia, Mario tidak bisa membaca dan menulis alias buta huruf. Namun, berkat kecerdasannya, seolah tak kehabisan akal, ia “memanfaatkan” anak-anak sekolah untuk membantunya membacakan alamat-alat yang tertera di amplop surat.

Saban hari, Mario mesti menunggu murid-murid di Sekolah Rakyat (SR) pulang sekolah. Dari murid-murid SR inilah ia mengetahui nama dan alamat yang harus ia tuju. Setelah mengetahui hendak dikirim kepada siapa dan ke mana surat-surat tersebut, Mario memberinya tanda-tanda sebelum akhirnya ia kirimkan kepada penerima surat. “Kadang Mario menjanjikan manisan kepada anak-anak itu,” ujar Prof. Dibia.

Selain pernah bekerja sebagai tukang pos, menurut beberapa sumber yang tercecer di Internet, jauh sebelum itu, Mario juga pernah bekerja di sebuah instansi Pemerintah Belanda (1938), yakni di Kantor Landschap Tabanan dan selanjutnya pindah ke Kantor Pengadilan. Tak jelas apa yang dikerjakan Mario saat bekerja di kantor pemerintah kolonial tersebut—ini sama tak jelasnya dengan sumber yang menyebutkan hal tesebut.

Namun, terlepas dari pekerjaan Mario selain sebagai seniman, yang jelas, dalam piring kesenian Bali, namanya disebut-sebut sebagai nyala zaman. Dengan keberaniannya ia mendobrak “kebekuan” kesenian Bali pada zaman itu. Di tengah-tengah kelesuan akan selera klasik tari Bali, Mario membawa gagasan baru, yang segar, dengan semangat baru pula. Meskipun pada awalnya, menurut pengakuan salah satu peserta diskusi publik sore itu, di kalangan seniman zaman itu karya Mario dianggap “aneh”, tak biasa—bahkan cenderung diremehkan.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Pada kisaran tahun 1920-an, seiring dengan kebijakan Belanda yang dikenal dengan istilah “Balinisasi” (atau Baliseering) , kesenian Bali saat itu mengalami revolusi yang mengagetkan, memang. Di Bali Utara, di sekitaran Desa Jagaraga, Menyali, Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Kalapaksa, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis, Gong Kebyar menjalar seperti virus, begitu cepat sampai ke ceruk-ceruk jauh di Pulau Bali.

Tahun-tahun itu kesenian Bali sedang bergeliat. Kelompok-kelompok gamelan tua, orkestra-orkestra seremonial, dilebur dan ditempa kembali dengan gaya dan model baru. Persaingan antardesa atau daerah mendorong para komponis dan koreografer muda untuk berkarya mengembangkan inovasi dan teknik yang mengesankan, tak terkecuali para seniman seperti I Gde Manik (Jagaraga), Ketut Merdana (Kedis), dan I Ketut Marya (Tabanan) tentu saja.

I Gde Manik dengan Tari Trunajaya-nya yang menjadi simbol semangat kepemudaan; Ketut Merdana dengan tari-tari yang bernuansa realisme-sosialis seperti Tari Nelayan, Tari Tenun, dan sebagainya; dan I Ketut Marya dengan ciptaan-ciptaannya yang spektakuler seperti Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan, dan Kebyar Trompong, membuat mata orientalis Barat macam McPhee, Spies, Covarrubias, sampai Coast berdenyar terkagum-kagum.

I Marya, juga Manik dan Merdana, sangat pantas diposisikan sebagai ikon penanda zaman—jembatan peralihan generasi zaman kesenian klasik menuju zaman kesenian baru, yakni Gong Kebyar. Ketiga nama maestro itu, nyaris selalu disebut saat orang berbicara tentang sejarah tari Bali. Hingga kedua nama mereka, I Marya dan Gde Manik, diabadikan sebagai nama gedung kesenian di Tabanan dan Buleleng—walaupun ini bukan merupakan penghargaan yang paling tinggi.

Waktu berganti secepat penari Bali menyeledetkan matanya. Tak terasa diskusi publik yang mengungkap banyak hal tentang sosok Marya di belakang panggung itu harus disudahi. Maka dari itu, tulisan ini pun juga kita sudahi sampai di sini saja.

Akhirnya, seolah mengerti akan pesan Akashi Kapil—cendekiawan India yang mempelajari kebudayaan Jawa dan Bali—di Majalah Budaya (1958), Festival Merayakan Marya dengan berbagai mata program yang diselenggarakan, menjadi ruang yang “menyelamatkan” dan mengembangkan karya-karya ciptaan—menyopet istilah Kapil—“mahapenari Mario dari nganga ketiadaan perhatian”.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Tags: Desa JagaragaDesa KedisFestival Merayakan MaryaGde ManikI Ketut MaryaKetut MarioKetut MerdanaMulawali Institutetabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Kehangatan Akulturasi Budaya di Desa Pegayaman Bersama Mahasiswa Norwegia

Next Post

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co