26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Jaswanto by Jaswanto
May 4, 2024
in Khas
I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Suasana diskusi publik "I Marya di Belakang Panggung" di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

SEAKAN tak puas, dan tak bosan-bosan, mengetahui dan membicarakan sosok maestro I Ketut Marya, pencipta Tari Kebyar Duduk yang fenomenal itu, setelah mengikuti program napak tilas “Membaca Marya dari Masa Depan”, para pengunjung Festival Merayakan Marya yang diselenggarakan Mulawali Institute, dengan antusias yang sama, berlanjut duduk di kursi yang telah disediakan panitia untuk kembali mendengar dan berdiskusi tentang I Marya.

Kali ini mereka diajak untuk mendengarkan cerita-cerita Marya di belakang panggung dari seorang budayawan cum akademisi, yang namanya sudah sangat familiar di jagat kesenian Bali, Profesor I Wayan Dibia, dalam diskusi publik dengan tajuk “I Marya di Belakang Panggung” yang dipandu langsung oleh budayawan sekaligus wartawan senior Made Adnyana Ole.  Diskusi tersebut berlangsung di kawasan Puri Kaleran Tabanan, tempat festival di selenggarakan, Minggu (28/4/2024) sore.

Jauh sebelum diskusi publik ini digelar, pada tahun 2023, Prof. Dibia telah menerbitkan sebuah buku yang mengulas tentang sosok I Marya. Buku biografi tersebut diberi judul “I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”—sebuah judul yang menunjukkan bahwa penulis sangat menaruh hormat kepada sosok yang ditulisnya.

Secara terang-terangan, Prof. Dibia mengatakan Mario—atau Maria atau Marya—merupakan seorang maestro dan sangat tepat disebut pahlawan kerena perjuangannya dalam seni kebyar. “Tanpa Mario, gong kebyar tidak akan sepopuler seperti sekarang ini,” katanya.

Profesor I Wayan Dibia dan Made Adnyana Ole | Foto: Mulawali Institute

Bisa dibilang, diskusi publik yang dihadiri oleh banyak kalangan itu, juga membicarakan bagaimana Prof. Dibia menulis buku tersebut—dan itu tidak bertentangan dengan tema yang dibicarakan tentu saja. Dalam buku tersebut, menurut Prof. Dibia sebagai penulisnya, tidak hanya menempatkan sosok Marya sebagai seniman saja, tapi juga menelisik sisi-sisi Marya sebagai manusia pada umumnya—tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia biasa yang unggul.

“Saya merasa data-data yang diperoleh untuk menyusun buku ini belumlah sempurna. Saya masih membutuhkan data tambahan untuk melengkapi isi buku ini,” Prof. Dibia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Made Adnyana Ole sebelumnya. Ia juga mengatakan banyak mendapat informasi dari Wayan Begeg, tukang kendang Gong Pangkung yang legendaris itu.

Selama proses pengumpulan data, selain menggunakan kajian pustaka dan arsip-arsip, Prof. Dibia juga melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dan mereka yang pernah berinteraksi dengan I Marya—seperti murid dan teman-teman Marya yang masih hidup. Dalam proses penggalian data inilah, banyak hal tentang Marya yang baru diketahui oleh Prof. Dibia. “Bahkan saya baru tahu kalau Mario punya darah keturunan orang Klungkung,” ujarnya.

Hampir satu setengah jam lebih, Prof. Dibia dan Made Adnyana Ole menyampaikan banyak hal tentang Marya di belakang panggung—tentang sisi-sisi lain dari pencipta Tari Oleg Tamulilingan itu, seperti “kenakalan-kenakalan” Marya di masa muda, pekerjaannya selain menjadi seniman, sampai bahasan-bahasan karya-karya Marya yang monumental.

Marya sebagai Manusia Biasa

Sebagaimana yang dikatakan Made Adnyana Ole dalam mukadimahnya sebelum menyerahkan forum kepada Prof. Dibia, bagaimana pun, sekali lagi tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia unggul, sosok Marya merupakan manusia biasa seperti pada umumnya. Ia memiliki “kenakalan”, kesukaan di luar kesenian, atau dalam kata lain, hidup Marya juga tidak melulu tentang soal-soal tarian atau kesenian.

Prof. Dibia memang mengakui Marya sebagai manusia yang cerdas—walaupun buta huruf. Bahkan bisa dikatakan, pikiran Marya telah melampaui orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Akan tetapi, sebagai manusia biasa, Marya juga tidak luput dari perbuatan-perbuatan “konyol” yang bagi beberapa orang dipandang saru untuk dilakukan seseorang yang memiliki nama besar seperti dirinya.

Prof. Dibia bercerita (tentu saja cerita ini ia dapat selama proses penggalian data untuk bukunya), pada suatu masa setelah pulang dari Amerika, Marya membeli senapan angin untuk berburu. Dengan mengenakan jas, celana pendek, dan topi—Marya memang orang yang nyentrik—ia berangkat berburu, hendak mencoba senapan barunya.

Bersama beberapa anak yang mengikutinya, Marya berhenti di tanah tinggi di atas sungai. Pada saat membidik, alih-alih mengarahkan teleskop senapan ke atas, Marya malah mengarahkannya ke bawah. Sontak, anak-anak yang mengikutinya bertanya, “Kenapa diarahkan ke bawah?” dengan santai Marya menjawab, “Karena di bawah ada bidadari lagi mandi.”

Cerita di atas menunjukkan bahwa Marya bukanlah orang yang tak bisa “dijangkau”, tenget, atau “serius” sebagaimana interpretasi orang-orang yang mendakunya sebagai ikon zaman—dipuja hingga dikultuskan. Nama Mario—konon ia lebih senang dengan panggilan ini—memang seakan-akan menjadi jaminan mutu. Bahwa seseorang belum merasa menjadi penari bila tak berguru padanya. Nama Mario seperti mantra “penglaris” bagi sebagian orang.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Namun, di balik besarnya nama sang maestro, ada kisah-kisah ketengan yang sangat manusiawi—dan ini jarang dibicarakan orang-orang, seolah hidup Mario hanya tentang kesenian saja.

Selain kisah tentang senapan baru itu, Prof. Dibia juga menyampaikan cerita tentang Mario yang suka mendatangi kalangan tajen—bahasa lain untuk menyebut tempat sambung ayam. “Mario gemar mendatangi tempat sambung ayam bukan untuk berjudi, tapi mencari inspirasi. Ketika menciptakan Oleg, dia jarang di rumah di Tabanan,” kisah Prof. Dibia.

Bahkan, seorang John Coast dan Sampih—teman Barat dan murid Mario—sampai menyindirnya dengan perkataan, “Apakah tajen sudah jadi agama, Pak Mario?” Mendapat pertanyaan yang menyindir itu, tanpa disangka dan diduga, Mario menjawab, “Setiap kali saya mau menari dan mencium darah ayam, saya lebih bersemangat.” Menurut Prof. Dibia, inspirasi seorang Mario datang dari kehidupan sehari-hari. Karya-karya monumentalnya tak jauh-jauh dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Sebagai seorang lelaki, Mario memiliki postur tubuh ideal dan wajah yang tampan. Tak pelak bila dirinya banyak diganderungi para gadis di zamannya. Pada tahun 1930-an, Mario sangat disayangi oleh pengelana asal Amerika, Ni Ketut Tantri—nama samaran dari Mrs. Meng. Dari sini Mario memasuki babak baru dari perjalanan kariernya.

Dari Ketut Tantri ia kerap diminta untuk menghibur para turis di Wisma Tantri di pesisir Kuta. Kadang juga di Sanur, juga di Hotel Bali, Denpasar. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa berkat Ketut Tantri nama Mario kian dikenal dunia. Sebab, dari sini, bersama Gong Pangkung, Tabanan, Mario terbang ke Amerika, Prancis, Kanada, dan sekitarnya. Mario menjadi bintang.

Meski terkenal periang dan “usil”, Marya juga termasuk sosok yang berpendirian teguh dan sangat berani. Pada 1952, menurut cerita Prof. Dibia, Marya pernah membatalkan keberangkatannya ke Amerika dengan alasan kesehatan. Saat itu ia diminta melawat ke Negeri Paman Sam bersama Gong Peliatan.

“Dia sudah menandatangani kontrak,” Prof. Dibia bercerita. Tapi beberapa hari setelah itu, Marya membatalkannya. John Coast, orang yang meminta Marya pentas di Amerika, sempat memarahinya dan mengancam akan menuntut dirinya. Tapi Mario tidak takut. Justru dia menantang balik John Coast.

“Kalau sampai Mario dituntut, Mario akan balik menuntut dengan alasan bahwa dia tidak bisa membaca dan sebelumnya Coast tidak mengatakan bahwa perjanjian tersebut berisi tentang kesepakatan pentas di Amerika,” ujar Prof. Dibia penuh semangat.

Berprofesi sebagai Tukang Pos

Siapa sangka, di tahun-tahun manakala namanya tengah harum bersinar, dengan sepeda kayuh, Mario menjelma menjadi kurir pos. Padahal, sebagaimana dikatakan Prof.Dibia, Mario tidak bisa membaca dan menulis alias buta huruf. Namun, berkat kecerdasannya, seolah tak kehabisan akal, ia “memanfaatkan” anak-anak sekolah untuk membantunya membacakan alamat-alat yang tertera di amplop surat.

Saban hari, Mario mesti menunggu murid-murid di Sekolah Rakyat (SR) pulang sekolah. Dari murid-murid SR inilah ia mengetahui nama dan alamat yang harus ia tuju. Setelah mengetahui hendak dikirim kepada siapa dan ke mana surat-surat tersebut, Mario memberinya tanda-tanda sebelum akhirnya ia kirimkan kepada penerima surat. “Kadang Mario menjanjikan manisan kepada anak-anak itu,” ujar Prof. Dibia.

Selain pernah bekerja sebagai tukang pos, menurut beberapa sumber yang tercecer di Internet, jauh sebelum itu, Mario juga pernah bekerja di sebuah instansi Pemerintah Belanda (1938), yakni di Kantor Landschap Tabanan dan selanjutnya pindah ke Kantor Pengadilan. Tak jelas apa yang dikerjakan Mario saat bekerja di kantor pemerintah kolonial tersebut—ini sama tak jelasnya dengan sumber yang menyebutkan hal tesebut.

Namun, terlepas dari pekerjaan Mario selain sebagai seniman, yang jelas, dalam piring kesenian Bali, namanya disebut-sebut sebagai nyala zaman. Dengan keberaniannya ia mendobrak “kebekuan” kesenian Bali pada zaman itu. Di tengah-tengah kelesuan akan selera klasik tari Bali, Mario membawa gagasan baru, yang segar, dengan semangat baru pula. Meskipun pada awalnya, menurut pengakuan salah satu peserta diskusi publik sore itu, di kalangan seniman zaman itu karya Mario dianggap “aneh”, tak biasa—bahkan cenderung diremehkan.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Pada kisaran tahun 1920-an, seiring dengan kebijakan Belanda yang dikenal dengan istilah “Balinisasi” (atau Baliseering) , kesenian Bali saat itu mengalami revolusi yang mengagetkan, memang. Di Bali Utara, di sekitaran Desa Jagaraga, Menyali, Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Kalapaksa, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis, Gong Kebyar menjalar seperti virus, begitu cepat sampai ke ceruk-ceruk jauh di Pulau Bali.

Tahun-tahun itu kesenian Bali sedang bergeliat. Kelompok-kelompok gamelan tua, orkestra-orkestra seremonial, dilebur dan ditempa kembali dengan gaya dan model baru. Persaingan antardesa atau daerah mendorong para komponis dan koreografer muda untuk berkarya mengembangkan inovasi dan teknik yang mengesankan, tak terkecuali para seniman seperti I Gde Manik (Jagaraga), Ketut Merdana (Kedis), dan I Ketut Marya (Tabanan) tentu saja.

I Gde Manik dengan Tari Trunajaya-nya yang menjadi simbol semangat kepemudaan; Ketut Merdana dengan tari-tari yang bernuansa realisme-sosialis seperti Tari Nelayan, Tari Tenun, dan sebagainya; dan I Ketut Marya dengan ciptaan-ciptaannya yang spektakuler seperti Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan, dan Kebyar Trompong, membuat mata orientalis Barat macam McPhee, Spies, Covarrubias, sampai Coast berdenyar terkagum-kagum.

I Marya, juga Manik dan Merdana, sangat pantas diposisikan sebagai ikon penanda zaman—jembatan peralihan generasi zaman kesenian klasik menuju zaman kesenian baru, yakni Gong Kebyar. Ketiga nama maestro itu, nyaris selalu disebut saat orang berbicara tentang sejarah tari Bali. Hingga kedua nama mereka, I Marya dan Gde Manik, diabadikan sebagai nama gedung kesenian di Tabanan dan Buleleng—walaupun ini bukan merupakan penghargaan yang paling tinggi.

Waktu berganti secepat penari Bali menyeledetkan matanya. Tak terasa diskusi publik yang mengungkap banyak hal tentang sosok Marya di belakang panggung itu harus disudahi. Maka dari itu, tulisan ini pun juga kita sudahi sampai di sini saja.

Akhirnya, seolah mengerti akan pesan Akashi Kapil—cendekiawan India yang mempelajari kebudayaan Jawa dan Bali—di Majalah Budaya (1958), Festival Merayakan Marya dengan berbagai mata program yang diselenggarakan, menjadi ruang yang “menyelamatkan” dan mengembangkan karya-karya ciptaan—menyopet istilah Kapil—“mahapenari Mario dari nganga ketiadaan perhatian”.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Tags: Desa JagaragaDesa KedisFestival Merayakan MaryaGde ManikI Ketut MaryaKetut MarioKetut MerdanaMulawali Institutetabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Kehangatan Akulturasi Budaya di Desa Pegayaman Bersama Mahasiswa Norwegia

Next Post

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co