4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Jaswanto by Jaswanto
May 4, 2024
in Khas
I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Suasana diskusi publik "I Marya di Belakang Panggung" di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

SEAKAN tak puas, dan tak bosan-bosan, mengetahui dan membicarakan sosok maestro I Ketut Marya, pencipta Tari Kebyar Duduk yang fenomenal itu, setelah mengikuti program napak tilas “Membaca Marya dari Masa Depan”, para pengunjung Festival Merayakan Marya yang diselenggarakan Mulawali Institute, dengan antusias yang sama, berlanjut duduk di kursi yang telah disediakan panitia untuk kembali mendengar dan berdiskusi tentang I Marya.

Kali ini mereka diajak untuk mendengarkan cerita-cerita Marya di belakang panggung dari seorang budayawan cum akademisi, yang namanya sudah sangat familiar di jagat kesenian Bali, Profesor I Wayan Dibia, dalam diskusi publik dengan tajuk “I Marya di Belakang Panggung” yang dipandu langsung oleh budayawan sekaligus wartawan senior Made Adnyana Ole.  Diskusi tersebut berlangsung di kawasan Puri Kaleran Tabanan, tempat festival di selenggarakan, Minggu (28/4/2024) sore.

Jauh sebelum diskusi publik ini digelar, pada tahun 2023, Prof. Dibia telah menerbitkan sebuah buku yang mengulas tentang sosok I Marya. Buku biografi tersebut diberi judul “I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”—sebuah judul yang menunjukkan bahwa penulis sangat menaruh hormat kepada sosok yang ditulisnya.

Secara terang-terangan, Prof. Dibia mengatakan Mario—atau Maria atau Marya—merupakan seorang maestro dan sangat tepat disebut pahlawan kerena perjuangannya dalam seni kebyar. “Tanpa Mario, gong kebyar tidak akan sepopuler seperti sekarang ini,” katanya.

Profesor I Wayan Dibia dan Made Adnyana Ole | Foto: Mulawali Institute

Bisa dibilang, diskusi publik yang dihadiri oleh banyak kalangan itu, juga membicarakan bagaimana Prof. Dibia menulis buku tersebut—dan itu tidak bertentangan dengan tema yang dibicarakan tentu saja. Dalam buku tersebut, menurut Prof. Dibia sebagai penulisnya, tidak hanya menempatkan sosok Marya sebagai seniman saja, tapi juga menelisik sisi-sisi Marya sebagai manusia pada umumnya—tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia biasa yang unggul.

“Saya merasa data-data yang diperoleh untuk menyusun buku ini belumlah sempurna. Saya masih membutuhkan data tambahan untuk melengkapi isi buku ini,” Prof. Dibia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Made Adnyana Ole sebelumnya. Ia juga mengatakan banyak mendapat informasi dari Wayan Begeg, tukang kendang Gong Pangkung yang legendaris itu.

Selama proses pengumpulan data, selain menggunakan kajian pustaka dan arsip-arsip, Prof. Dibia juga melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dan mereka yang pernah berinteraksi dengan I Marya—seperti murid dan teman-teman Marya yang masih hidup. Dalam proses penggalian data inilah, banyak hal tentang Marya yang baru diketahui oleh Prof. Dibia. “Bahkan saya baru tahu kalau Mario punya darah keturunan orang Klungkung,” ujarnya.

Hampir satu setengah jam lebih, Prof. Dibia dan Made Adnyana Ole menyampaikan banyak hal tentang Marya di belakang panggung—tentang sisi-sisi lain dari pencipta Tari Oleg Tamulilingan itu, seperti “kenakalan-kenakalan” Marya di masa muda, pekerjaannya selain menjadi seniman, sampai bahasan-bahasan karya-karya Marya yang monumental.

Marya sebagai Manusia Biasa

Sebagaimana yang dikatakan Made Adnyana Ole dalam mukadimahnya sebelum menyerahkan forum kepada Prof. Dibia, bagaimana pun, sekali lagi tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia unggul, sosok Marya merupakan manusia biasa seperti pada umumnya. Ia memiliki “kenakalan”, kesukaan di luar kesenian, atau dalam kata lain, hidup Marya juga tidak melulu tentang soal-soal tarian atau kesenian.

Prof. Dibia memang mengakui Marya sebagai manusia yang cerdas—walaupun buta huruf. Bahkan bisa dikatakan, pikiran Marya telah melampaui orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Akan tetapi, sebagai manusia biasa, Marya juga tidak luput dari perbuatan-perbuatan “konyol” yang bagi beberapa orang dipandang saru untuk dilakukan seseorang yang memiliki nama besar seperti dirinya.

Prof. Dibia bercerita (tentu saja cerita ini ia dapat selama proses penggalian data untuk bukunya), pada suatu masa setelah pulang dari Amerika, Marya membeli senapan angin untuk berburu. Dengan mengenakan jas, celana pendek, dan topi—Marya memang orang yang nyentrik—ia berangkat berburu, hendak mencoba senapan barunya.

Bersama beberapa anak yang mengikutinya, Marya berhenti di tanah tinggi di atas sungai. Pada saat membidik, alih-alih mengarahkan teleskop senapan ke atas, Marya malah mengarahkannya ke bawah. Sontak, anak-anak yang mengikutinya bertanya, “Kenapa diarahkan ke bawah?” dengan santai Marya menjawab, “Karena di bawah ada bidadari lagi mandi.”

Cerita di atas menunjukkan bahwa Marya bukanlah orang yang tak bisa “dijangkau”, tenget, atau “serius” sebagaimana interpretasi orang-orang yang mendakunya sebagai ikon zaman—dipuja hingga dikultuskan. Nama Mario—konon ia lebih senang dengan panggilan ini—memang seakan-akan menjadi jaminan mutu. Bahwa seseorang belum merasa menjadi penari bila tak berguru padanya. Nama Mario seperti mantra “penglaris” bagi sebagian orang.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Namun, di balik besarnya nama sang maestro, ada kisah-kisah ketengan yang sangat manusiawi—dan ini jarang dibicarakan orang-orang, seolah hidup Mario hanya tentang kesenian saja.

Selain kisah tentang senapan baru itu, Prof. Dibia juga menyampaikan cerita tentang Mario yang suka mendatangi kalangan tajen—bahasa lain untuk menyebut tempat sambung ayam. “Mario gemar mendatangi tempat sambung ayam bukan untuk berjudi, tapi mencari inspirasi. Ketika menciptakan Oleg, dia jarang di rumah di Tabanan,” kisah Prof. Dibia.

Bahkan, seorang John Coast dan Sampih—teman Barat dan murid Mario—sampai menyindirnya dengan perkataan, “Apakah tajen sudah jadi agama, Pak Mario?” Mendapat pertanyaan yang menyindir itu, tanpa disangka dan diduga, Mario menjawab, “Setiap kali saya mau menari dan mencium darah ayam, saya lebih bersemangat.” Menurut Prof. Dibia, inspirasi seorang Mario datang dari kehidupan sehari-hari. Karya-karya monumentalnya tak jauh-jauh dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Sebagai seorang lelaki, Mario memiliki postur tubuh ideal dan wajah yang tampan. Tak pelak bila dirinya banyak diganderungi para gadis di zamannya. Pada tahun 1930-an, Mario sangat disayangi oleh pengelana asal Amerika, Ni Ketut Tantri—nama samaran dari Mrs. Meng. Dari sini Mario memasuki babak baru dari perjalanan kariernya.

Dari Ketut Tantri ia kerap diminta untuk menghibur para turis di Wisma Tantri di pesisir Kuta. Kadang juga di Sanur, juga di Hotel Bali, Denpasar. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa berkat Ketut Tantri nama Mario kian dikenal dunia. Sebab, dari sini, bersama Gong Pangkung, Tabanan, Mario terbang ke Amerika, Prancis, Kanada, dan sekitarnya. Mario menjadi bintang.

Meski terkenal periang dan “usil”, Marya juga termasuk sosok yang berpendirian teguh dan sangat berani. Pada 1952, menurut cerita Prof. Dibia, Marya pernah membatalkan keberangkatannya ke Amerika dengan alasan kesehatan. Saat itu ia diminta melawat ke Negeri Paman Sam bersama Gong Peliatan.

“Dia sudah menandatangani kontrak,” Prof. Dibia bercerita. Tapi beberapa hari setelah itu, Marya membatalkannya. John Coast, orang yang meminta Marya pentas di Amerika, sempat memarahinya dan mengancam akan menuntut dirinya. Tapi Mario tidak takut. Justru dia menantang balik John Coast.

“Kalau sampai Mario dituntut, Mario akan balik menuntut dengan alasan bahwa dia tidak bisa membaca dan sebelumnya Coast tidak mengatakan bahwa perjanjian tersebut berisi tentang kesepakatan pentas di Amerika,” ujar Prof. Dibia penuh semangat.

Berprofesi sebagai Tukang Pos

Siapa sangka, di tahun-tahun manakala namanya tengah harum bersinar, dengan sepeda kayuh, Mario menjelma menjadi kurir pos. Padahal, sebagaimana dikatakan Prof.Dibia, Mario tidak bisa membaca dan menulis alias buta huruf. Namun, berkat kecerdasannya, seolah tak kehabisan akal, ia “memanfaatkan” anak-anak sekolah untuk membantunya membacakan alamat-alat yang tertera di amplop surat.

Saban hari, Mario mesti menunggu murid-murid di Sekolah Rakyat (SR) pulang sekolah. Dari murid-murid SR inilah ia mengetahui nama dan alamat yang harus ia tuju. Setelah mengetahui hendak dikirim kepada siapa dan ke mana surat-surat tersebut, Mario memberinya tanda-tanda sebelum akhirnya ia kirimkan kepada penerima surat. “Kadang Mario menjanjikan manisan kepada anak-anak itu,” ujar Prof. Dibia.

Selain pernah bekerja sebagai tukang pos, menurut beberapa sumber yang tercecer di Internet, jauh sebelum itu, Mario juga pernah bekerja di sebuah instansi Pemerintah Belanda (1938), yakni di Kantor Landschap Tabanan dan selanjutnya pindah ke Kantor Pengadilan. Tak jelas apa yang dikerjakan Mario saat bekerja di kantor pemerintah kolonial tersebut—ini sama tak jelasnya dengan sumber yang menyebutkan hal tesebut.

Namun, terlepas dari pekerjaan Mario selain sebagai seniman, yang jelas, dalam piring kesenian Bali, namanya disebut-sebut sebagai nyala zaman. Dengan keberaniannya ia mendobrak “kebekuan” kesenian Bali pada zaman itu. Di tengah-tengah kelesuan akan selera klasik tari Bali, Mario membawa gagasan baru, yang segar, dengan semangat baru pula. Meskipun pada awalnya, menurut pengakuan salah satu peserta diskusi publik sore itu, di kalangan seniman zaman itu karya Mario dianggap “aneh”, tak biasa—bahkan cenderung diremehkan.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Pada kisaran tahun 1920-an, seiring dengan kebijakan Belanda yang dikenal dengan istilah “Balinisasi” (atau Baliseering) , kesenian Bali saat itu mengalami revolusi yang mengagetkan, memang. Di Bali Utara, di sekitaran Desa Jagaraga, Menyali, Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Kalapaksa, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis, Gong Kebyar menjalar seperti virus, begitu cepat sampai ke ceruk-ceruk jauh di Pulau Bali.

Tahun-tahun itu kesenian Bali sedang bergeliat. Kelompok-kelompok gamelan tua, orkestra-orkestra seremonial, dilebur dan ditempa kembali dengan gaya dan model baru. Persaingan antardesa atau daerah mendorong para komponis dan koreografer muda untuk berkarya mengembangkan inovasi dan teknik yang mengesankan, tak terkecuali para seniman seperti I Gde Manik (Jagaraga), Ketut Merdana (Kedis), dan I Ketut Marya (Tabanan) tentu saja.

I Gde Manik dengan Tari Trunajaya-nya yang menjadi simbol semangat kepemudaan; Ketut Merdana dengan tari-tari yang bernuansa realisme-sosialis seperti Tari Nelayan, Tari Tenun, dan sebagainya; dan I Ketut Marya dengan ciptaan-ciptaannya yang spektakuler seperti Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan, dan Kebyar Trompong, membuat mata orientalis Barat macam McPhee, Spies, Covarrubias, sampai Coast berdenyar terkagum-kagum.

I Marya, juga Manik dan Merdana, sangat pantas diposisikan sebagai ikon penanda zaman—jembatan peralihan generasi zaman kesenian klasik menuju zaman kesenian baru, yakni Gong Kebyar. Ketiga nama maestro itu, nyaris selalu disebut saat orang berbicara tentang sejarah tari Bali. Hingga kedua nama mereka, I Marya dan Gde Manik, diabadikan sebagai nama gedung kesenian di Tabanan dan Buleleng—walaupun ini bukan merupakan penghargaan yang paling tinggi.

Waktu berganti secepat penari Bali menyeledetkan matanya. Tak terasa diskusi publik yang mengungkap banyak hal tentang sosok Marya di belakang panggung itu harus disudahi. Maka dari itu, tulisan ini pun juga kita sudahi sampai di sini saja.

Akhirnya, seolah mengerti akan pesan Akashi Kapil—cendekiawan India yang mempelajari kebudayaan Jawa dan Bali—di Majalah Budaya (1958), Festival Merayakan Marya dengan berbagai mata program yang diselenggarakan, menjadi ruang yang “menyelamatkan” dan mengembangkan karya-karya ciptaan—menyopet istilah Kapil—“mahapenari Mario dari nganga ketiadaan perhatian”.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Tags: Desa JagaragaDesa KedisFestival Merayakan MaryaGde ManikI Ketut MaryaKetut MarioKetut MerdanaMulawali Institutetabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Kehangatan Akulturasi Budaya di Desa Pegayaman Bersama Mahasiswa Norwegia

Next Post

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co