6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Jaswanto by Jaswanto
May 4, 2024
in Khas
I Marya di Belakang Panggung: Membicarakan Sisi Kemanusiaan I Ketut Marya

Suasana diskusi publik "I Marya di Belakang Panggung" di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

SEAKAN tak puas, dan tak bosan-bosan, mengetahui dan membicarakan sosok maestro I Ketut Marya, pencipta Tari Kebyar Duduk yang fenomenal itu, setelah mengikuti program napak tilas “Membaca Marya dari Masa Depan”, para pengunjung Festival Merayakan Marya yang diselenggarakan Mulawali Institute, dengan antusias yang sama, berlanjut duduk di kursi yang telah disediakan panitia untuk kembali mendengar dan berdiskusi tentang I Marya.

Kali ini mereka diajak untuk mendengarkan cerita-cerita Marya di belakang panggung dari seorang budayawan cum akademisi, yang namanya sudah sangat familiar di jagat kesenian Bali, Profesor I Wayan Dibia, dalam diskusi publik dengan tajuk “I Marya di Belakang Panggung” yang dipandu langsung oleh budayawan sekaligus wartawan senior Made Adnyana Ole.  Diskusi tersebut berlangsung di kawasan Puri Kaleran Tabanan, tempat festival di selenggarakan, Minggu (28/4/2024) sore.

Jauh sebelum diskusi publik ini digelar, pada tahun 2023, Prof. Dibia telah menerbitkan sebuah buku yang mengulas tentang sosok I Marya. Buku biografi tersebut diberi judul “I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”—sebuah judul yang menunjukkan bahwa penulis sangat menaruh hormat kepada sosok yang ditulisnya.

Secara terang-terangan, Prof. Dibia mengatakan Mario—atau Maria atau Marya—merupakan seorang maestro dan sangat tepat disebut pahlawan kerena perjuangannya dalam seni kebyar. “Tanpa Mario, gong kebyar tidak akan sepopuler seperti sekarang ini,” katanya.

Profesor I Wayan Dibia dan Made Adnyana Ole | Foto: Mulawali Institute

Bisa dibilang, diskusi publik yang dihadiri oleh banyak kalangan itu, juga membicarakan bagaimana Prof. Dibia menulis buku tersebut—dan itu tidak bertentangan dengan tema yang dibicarakan tentu saja. Dalam buku tersebut, menurut Prof. Dibia sebagai penulisnya, tidak hanya menempatkan sosok Marya sebagai seniman saja, tapi juga menelisik sisi-sisi Marya sebagai manusia pada umumnya—tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia biasa yang unggul.

“Saya merasa data-data yang diperoleh untuk menyusun buku ini belumlah sempurna. Saya masih membutuhkan data tambahan untuk melengkapi isi buku ini,” Prof. Dibia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Made Adnyana Ole sebelumnya. Ia juga mengatakan banyak mendapat informasi dari Wayan Begeg, tukang kendang Gong Pangkung yang legendaris itu.

Selama proses pengumpulan data, selain menggunakan kajian pustaka dan arsip-arsip, Prof. Dibia juga melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dan mereka yang pernah berinteraksi dengan I Marya—seperti murid dan teman-teman Marya yang masih hidup. Dalam proses penggalian data inilah, banyak hal tentang Marya yang baru diketahui oleh Prof. Dibia. “Bahkan saya baru tahu kalau Mario punya darah keturunan orang Klungkung,” ujarnya.

Hampir satu setengah jam lebih, Prof. Dibia dan Made Adnyana Ole menyampaikan banyak hal tentang Marya di belakang panggung—tentang sisi-sisi lain dari pencipta Tari Oleg Tamulilingan itu, seperti “kenakalan-kenakalan” Marya di masa muda, pekerjaannya selain menjadi seniman, sampai bahasan-bahasan karya-karya Marya yang monumental.

Marya sebagai Manusia Biasa

Sebagaimana yang dikatakan Made Adnyana Ole dalam mukadimahnya sebelum menyerahkan forum kepada Prof. Dibia, bagaimana pun, sekali lagi tanpa mengesampingkan anggapan bahwa Marya merupakan manusia unggul, sosok Marya merupakan manusia biasa seperti pada umumnya. Ia memiliki “kenakalan”, kesukaan di luar kesenian, atau dalam kata lain, hidup Marya juga tidak melulu tentang soal-soal tarian atau kesenian.

Prof. Dibia memang mengakui Marya sebagai manusia yang cerdas—walaupun buta huruf. Bahkan bisa dikatakan, pikiran Marya telah melampaui orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Akan tetapi, sebagai manusia biasa, Marya juga tidak luput dari perbuatan-perbuatan “konyol” yang bagi beberapa orang dipandang saru untuk dilakukan seseorang yang memiliki nama besar seperti dirinya.

Prof. Dibia bercerita (tentu saja cerita ini ia dapat selama proses penggalian data untuk bukunya), pada suatu masa setelah pulang dari Amerika, Marya membeli senapan angin untuk berburu. Dengan mengenakan jas, celana pendek, dan topi—Marya memang orang yang nyentrik—ia berangkat berburu, hendak mencoba senapan barunya.

Bersama beberapa anak yang mengikutinya, Marya berhenti di tanah tinggi di atas sungai. Pada saat membidik, alih-alih mengarahkan teleskop senapan ke atas, Marya malah mengarahkannya ke bawah. Sontak, anak-anak yang mengikutinya bertanya, “Kenapa diarahkan ke bawah?” dengan santai Marya menjawab, “Karena di bawah ada bidadari lagi mandi.”

Cerita di atas menunjukkan bahwa Marya bukanlah orang yang tak bisa “dijangkau”, tenget, atau “serius” sebagaimana interpretasi orang-orang yang mendakunya sebagai ikon zaman—dipuja hingga dikultuskan. Nama Mario—konon ia lebih senang dengan panggilan ini—memang seakan-akan menjadi jaminan mutu. Bahwa seseorang belum merasa menjadi penari bila tak berguru padanya. Nama Mario seperti mantra “penglaris” bagi sebagian orang.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Namun, di balik besarnya nama sang maestro, ada kisah-kisah ketengan yang sangat manusiawi—dan ini jarang dibicarakan orang-orang, seolah hidup Mario hanya tentang kesenian saja.

Selain kisah tentang senapan baru itu, Prof. Dibia juga menyampaikan cerita tentang Mario yang suka mendatangi kalangan tajen—bahasa lain untuk menyebut tempat sambung ayam. “Mario gemar mendatangi tempat sambung ayam bukan untuk berjudi, tapi mencari inspirasi. Ketika menciptakan Oleg, dia jarang di rumah di Tabanan,” kisah Prof. Dibia.

Bahkan, seorang John Coast dan Sampih—teman Barat dan murid Mario—sampai menyindirnya dengan perkataan, “Apakah tajen sudah jadi agama, Pak Mario?” Mendapat pertanyaan yang menyindir itu, tanpa disangka dan diduga, Mario menjawab, “Setiap kali saya mau menari dan mencium darah ayam, saya lebih bersemangat.” Menurut Prof. Dibia, inspirasi seorang Mario datang dari kehidupan sehari-hari. Karya-karya monumentalnya tak jauh-jauh dari apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Sebagai seorang lelaki, Mario memiliki postur tubuh ideal dan wajah yang tampan. Tak pelak bila dirinya banyak diganderungi para gadis di zamannya. Pada tahun 1930-an, Mario sangat disayangi oleh pengelana asal Amerika, Ni Ketut Tantri—nama samaran dari Mrs. Meng. Dari sini Mario memasuki babak baru dari perjalanan kariernya.

Dari Ketut Tantri ia kerap diminta untuk menghibur para turis di Wisma Tantri di pesisir Kuta. Kadang juga di Sanur, juga di Hotel Bali, Denpasar. Bahkan, beberapa orang mengatakan bahwa berkat Ketut Tantri nama Mario kian dikenal dunia. Sebab, dari sini, bersama Gong Pangkung, Tabanan, Mario terbang ke Amerika, Prancis, Kanada, dan sekitarnya. Mario menjadi bintang.

Meski terkenal periang dan “usil”, Marya juga termasuk sosok yang berpendirian teguh dan sangat berani. Pada 1952, menurut cerita Prof. Dibia, Marya pernah membatalkan keberangkatannya ke Amerika dengan alasan kesehatan. Saat itu ia diminta melawat ke Negeri Paman Sam bersama Gong Peliatan.

“Dia sudah menandatangani kontrak,” Prof. Dibia bercerita. Tapi beberapa hari setelah itu, Marya membatalkannya. John Coast, orang yang meminta Marya pentas di Amerika, sempat memarahinya dan mengancam akan menuntut dirinya. Tapi Mario tidak takut. Justru dia menantang balik John Coast.

“Kalau sampai Mario dituntut, Mario akan balik menuntut dengan alasan bahwa dia tidak bisa membaca dan sebelumnya Coast tidak mengatakan bahwa perjanjian tersebut berisi tentang kesepakatan pentas di Amerika,” ujar Prof. Dibia penuh semangat.

Berprofesi sebagai Tukang Pos

Siapa sangka, di tahun-tahun manakala namanya tengah harum bersinar, dengan sepeda kayuh, Mario menjelma menjadi kurir pos. Padahal, sebagaimana dikatakan Prof.Dibia, Mario tidak bisa membaca dan menulis alias buta huruf. Namun, berkat kecerdasannya, seolah tak kehabisan akal, ia “memanfaatkan” anak-anak sekolah untuk membantunya membacakan alamat-alat yang tertera di amplop surat.

Saban hari, Mario mesti menunggu murid-murid di Sekolah Rakyat (SR) pulang sekolah. Dari murid-murid SR inilah ia mengetahui nama dan alamat yang harus ia tuju. Setelah mengetahui hendak dikirim kepada siapa dan ke mana surat-surat tersebut, Mario memberinya tanda-tanda sebelum akhirnya ia kirimkan kepada penerima surat. “Kadang Mario menjanjikan manisan kepada anak-anak itu,” ujar Prof. Dibia.

Selain pernah bekerja sebagai tukang pos, menurut beberapa sumber yang tercecer di Internet, jauh sebelum itu, Mario juga pernah bekerja di sebuah instansi Pemerintah Belanda (1938), yakni di Kantor Landschap Tabanan dan selanjutnya pindah ke Kantor Pengadilan. Tak jelas apa yang dikerjakan Mario saat bekerja di kantor pemerintah kolonial tersebut—ini sama tak jelasnya dengan sumber yang menyebutkan hal tesebut.

Namun, terlepas dari pekerjaan Mario selain sebagai seniman, yang jelas, dalam piring kesenian Bali, namanya disebut-sebut sebagai nyala zaman. Dengan keberaniannya ia mendobrak “kebekuan” kesenian Bali pada zaman itu. Di tengah-tengah kelesuan akan selera klasik tari Bali, Mario membawa gagasan baru, yang segar, dengan semangat baru pula. Meskipun pada awalnya, menurut pengakuan salah satu peserta diskusi publik sore itu, di kalangan seniman zaman itu karya Mario dianggap “aneh”, tak biasa—bahkan cenderung diremehkan.

Suasana diskusi publik “I Marya di Belakang Panggung” di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Pada kisaran tahun 1920-an, seiring dengan kebijakan Belanda yang dikenal dengan istilah “Balinisasi” (atau Baliseering) , kesenian Bali saat itu mengalami revolusi yang mengagetkan, memang. Di Bali Utara, di sekitaran Desa Jagaraga, Menyali, Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Kalapaksa, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis, Gong Kebyar menjalar seperti virus, begitu cepat sampai ke ceruk-ceruk jauh di Pulau Bali.

Tahun-tahun itu kesenian Bali sedang bergeliat. Kelompok-kelompok gamelan tua, orkestra-orkestra seremonial, dilebur dan ditempa kembali dengan gaya dan model baru. Persaingan antardesa atau daerah mendorong para komponis dan koreografer muda untuk berkarya mengembangkan inovasi dan teknik yang mengesankan, tak terkecuali para seniman seperti I Gde Manik (Jagaraga), Ketut Merdana (Kedis), dan I Ketut Marya (Tabanan) tentu saja.

I Gde Manik dengan Tari Trunajaya-nya yang menjadi simbol semangat kepemudaan; Ketut Merdana dengan tari-tari yang bernuansa realisme-sosialis seperti Tari Nelayan, Tari Tenun, dan sebagainya; dan I Ketut Marya dengan ciptaan-ciptaannya yang spektakuler seperti Kebyar Duduk, Oleg Tamulilingan, dan Kebyar Trompong, membuat mata orientalis Barat macam McPhee, Spies, Covarrubias, sampai Coast berdenyar terkagum-kagum.

I Marya, juga Manik dan Merdana, sangat pantas diposisikan sebagai ikon penanda zaman—jembatan peralihan generasi zaman kesenian klasik menuju zaman kesenian baru, yakni Gong Kebyar. Ketiga nama maestro itu, nyaris selalu disebut saat orang berbicara tentang sejarah tari Bali. Hingga kedua nama mereka, I Marya dan Gde Manik, diabadikan sebagai nama gedung kesenian di Tabanan dan Buleleng—walaupun ini bukan merupakan penghargaan yang paling tinggi.

Waktu berganti secepat penari Bali menyeledetkan matanya. Tak terasa diskusi publik yang mengungkap banyak hal tentang sosok Marya di belakang panggung itu harus disudahi. Maka dari itu, tulisan ini pun juga kita sudahi sampai di sini saja.

Akhirnya, seolah mengerti akan pesan Akashi Kapil—cendekiawan India yang mempelajari kebudayaan Jawa dan Bali—di Majalah Budaya (1958), Festival Merayakan Marya dengan berbagai mata program yang diselenggarakan, menjadi ruang yang “menyelamatkan” dan mengembangkan karya-karya ciptaan—menyopet istilah Kapil—“mahapenari Mario dari nganga ketiadaan perhatian”.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya
Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Tags: Desa JagaragaDesa KedisFestival Merayakan MaryaGde ManikI Ketut MaryaKetut MarioKetut MerdanaMulawali Institutetabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Kehangatan Akulturasi Budaya di Desa Pegayaman Bersama Mahasiswa Norwegia

Next Post

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co