2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928

Jaswanto by Jaswanto
May 4, 2024
in Pameran
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928

Pameran Arsip 1928 | Foto: Rsudi

DI sebuah balai sederhana di kawasan Puri Kaleran Tabanan, foto-foto dan video lama dipamerkan. Gambar-gambar yang sudah menjadi arsip itu difigura dan disusun sedemikian rupa, digantung seolah menjadi dinding balai yang mengagumkan. Balai itu kecil saja, tak luas sebagaimana ruang-ruang pameran pada umumnya.

Foto-foto lama yang dipamerkan cukup banyak dan beragam. Dari sosok yang terkenal, sampai yang namanya tak pernah tercatat oleh tinta sejarah. Tetapi, meski beragam, semua foto sebenarnya mengabadikan hal yang sama: kesenian Bali, khususnya tarian yang dipentaskan antara tahun 1930-an sampai 1940-an.

Di antara puluhan foto yang dipamerkan, terdapat foto I Wayan Sampih, salah satu murid sang maestro I Ketut Marya, sedang menari kebyar (Igel Jongkok) dengan Gong Peliatan. Foto ini diambil Colin McPhee antara tahun 1932-35. Masih dalam satu bingkai, di sana juga terdapat sosok juru kendang A.A. Gde Mandera.

Selain Sampih, McPhee juga sempat memotret I Nyoman Nyongnyong dari Belaluan antara tahun 1931-38. Lalu I Gde Lila saat bermain trompong (Gong Jineng Dalem Buleleng) antara tahun 1931-38. Dan tentu saja juga ada foto I Gde Manik dari Jagaraga, Buleleng, yang namanya melegenda itu.

Pameran Arsip 1928 | Foto: Rsudi

Dalam khazanah kesenian Bali, khususnya Gong Kebyar, nama-nama yang disebut di atas tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, seniman, akademisi, dan pegiat seni-budaya di Bali. Mereka adalah “empu” kesenian Bali awal abad 20. Nama mereka sudah menjadi ingatan kolektif yang hadir seperti mimpi—yang melibatkan indra dalam tidur atau pengalaman bawah sadar.

Ingatan kolektif tersebut semakin kuat saat sosoknya hadir—dengan bentuk seonggok tubuh hitam-putih dalam arsip—di hadapan mata kita. Dan karena itulah Pameran Arsip 1928 I Marya dan Kebyar: “Meneropong Masa Depan yang Lampau” yang diselenggarakan Mulawali Institute bekerja sama dengan Arsip Bali 1928 itu menjadi penting.

Tak hanya menguatkan ingatan kolektif mereka yang pernah bersinggungan langsung dengan para maestro, yang potretnya dipamerkan, pameran ini juga mengajak mereka yang sama sekali tak memiliki ingatan apa pun akan hal tersebut untuk mengenal dan mengalami masa lalu melalui arsip. Arsip 1928 membuka sejumlah dokumentasi I Ketut Marya, karyanya, dan sejumlah hal yang pernah berhubungan dengannya, termasuk potret beberapa seniman yang pernah menjadi muridnya.

Melalui arsip yang dipamerkan, kita dapat melihat, membayangkan, dan meneroka sosok I Marya (Mario/Maria) di masa hidupnya, serta bagaimana wajah Bali pada awal abad ke-20. Sosok Marya, maestro tari kontemporer Bali itu, memang tumbuh pada era transisi Bali dari kerajaan menjadi wilayah jajahan kolonial. Ia dikenal lantaran karyanya yang monumental, seperti Igel Jongkok/Kebyar Duduk, Kebyar Terompong, dan Oleg Tamulilingan. Sepertinya Tuhan mencipta Marya saat menari.

Pameran Arsip 1928 ini merupakan salah satu program dari Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya yang diselenggarakan Mulawali Institute—melalui kolaborasi dengan lembaga seperti Arsip Bali 1928, ITB Stikom Bali, Gurat Institute, Bang Dance, Ninus dan Sanggar Sunari Wakya dan Komunitas Seni Arjuna Production, serta Haridwipa Gamelan Group—di kawasan Puri Kaleran Tabanan, dari tanggal 26 sampai 28 April 2024 lalu.

Pameran dipersiapkan oleh Marlowe Bandem, Adi Pratama Putra, Nengah Januartha, dan Maithila Bandem. Sedangkan dekorasi lamak/ceniaga khas Tabanan oleh Ni Nyoman Trisnawati.

Arsip: Jembatan Masa

Terselenggaranya Pameran Arsip 1928 ini semakin menguatkan betapa pentingnya kerja pengarsipan. Dengan arsip yang dipamerkan—foto dan video arsip—kita dapat mengetahui jejak-jejak seni dan budaya juga wajah Bali pada masa yang jauh.

Pada salah satu foto arsip yang dipamerkan, sekira tahun 1930-an, tertangkap gambar seorang pemuda Bali yang mengenakan pakaian still dengan kacamata hitam berkilau. Siapakah dia? Tak ada yang tahu. Tapi itu menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa pada zaman itu orang Bali sudah melek dengan gaya busana modern dan asing.  

Sebagai manusia yang hidup di masa kini, Pameran Arsip 1928 menjadi jembatan masa yang mengantarkan kita menuju masa lampau yang jauh, yang tak terbayangkan sebelumnya. Pameran ini, dengan kata lain, juga semacam kapsul waktu yang membawa kita memasuki lorong-lorong ingatan yang dibekukan.

Di pameran ini, kita juga bisa mengintip dunia para perintis antropologi visual, Margaret Mead dan Gregory Bateson, yang pada tahun 1936-39 menetap di Bali, meneliti cerlang karakter dan kreativitas senimannya di seputar pulau. Visual yang mereka hasilkan adalah jembatan masa yang sangat berharga.

Pengunjung sedang memperhatikan foto-foto di Pameran Arsip 1928 | Foto: Mulawali Institute

“Bekerja sama dengan Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, Arsip Bali 1928 berhasil memulangkan berbagai film karya mereka [Margaret dan Bateson]. Sebagai penghormatan lintas waktu, kami tampilkan cuplikan film Marya, sang maestro yang kita rayakan dalam festival ini,” ujar Marlowe Bandem, Arsip Bali 1928, Sabtu (27/4/2024) sore.

Melalui beberapa rekaman arsip, kita menjadi tahu bahwa setiap pelaku/penari Igel Jongkok, yang notabene merupakan murid langsung Ketut Marya, memiliki gaya berbeda pada setiap respon tubuh terhadap gamelan dan pengajaran Marya. Nama-nama seperti Nyoman Nyongnyong (Belaluan), Wayan Sampih (Bongkasa/Kutuh Sayan/Peliatan), I Wayan Rindi (Lebah/Denpasar), dan Gusti Ngurah Raka (Penebel), memiliki gayanya masing-masing.

Hal di atas seolah membuktikan bahwa Marya sangat membebaskan murid-muridnya dalam merespon pengetahuan yang dibagikan dan diajarkannya. Sampai di sini, hal tersebut menjadi masuk akal sebab dalam koreografinya sendiri Marya juga tidak menggunakan suatu pakem tertentu—atau konsisten. Hingga hari ini, setiap penari Igel Jongkok di Peliatan memiliki struktur dan ragam gerak yang berbeda dengan gubahan gending yang masih dipertahankan sejak pertama kali dikenalkan di daerah tersebut.

Namun, diakui atau tidak, kerja-kerja pengarsipan di negara ini memang tampak tidak lebih penting dan populer dari membersihkan sampah di pantai dan di sungai. Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Politik Tanpa Dokumen (2018) menyebut “Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.”

Banyak dari kita yang memandang arsip bukanlah barang yang menghasilkan keuntungan materi atau bukan barang yang memiliki timbal balik. Sehingga, arsip mendapat posisi antrean paling belakang. Arsip dianggap benda mati semata, tidak hidup dan menghidupi. Padahal, sesuai pendapat Muhidin, “Arsip bagian dari kehidupan dengan cara terus-menerus dirawat melalui tafsiran untuk kehidupan yang akan datang, bersandar pada kepentingan-kepentingan masa kini dengan tolok ukur peristiwa yang sudah-sudah.”

Pameran Arsip 1928 merupakan album sejarah yang mengagumkan. Dan kita tahu, sejarah memang menyisakan banyak hal, begitulah kiranya. Orang bijak bilang sejarah memberikan pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan.

Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna, kita ditantang merawatnya agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang serat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. Babad-babad klasik mengajarkan pada kita: melalui sabda pandita serta fatwa resi-resi nan bijaksana. Tambo—karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda yang berkaitan dengan asal-usul suku bangsa, negeri, tradisi, dan alam—mengisahkan buramnya masa silam agar kita tak kembali terperosok dalam hitam yang serupa.

Demikian hieroglif—sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet—ditata pada dinding-dinding gua di Mesir. Begitu pula maksud aksara Jawa kuno yang tertoreh di lontar-lontar yang berusia lanjut.

Namun, sebab memori manusia itu rapuh, mudah diubah, dan mudah dibentuk; maka manusia akhirnya menciptakan alat pengganti yang dapat menyimpan dan menyediakan media memori ke bentuk yang tidak berubah. Dan fotografi, sejatinya membekukan benda-benda dalam waktu dan peristiwa yang bergerak. Tapi pembekuan itu tak harus menjadikan objek menjadi kaku.

Teknologi memungkinkan pembekukan waktu itu tetap mengesankan benda-benda dan peristiwa di dalamnya tetap hidup, bergerak dalam bingkai yang kita inginkan, supaya cerita yang terkandung di dalamnya tetap abadi. Karena itu foto menjadi bagian dari kesenian. Ia setara dengan sastra, lukisan, atau karya-karya agung lain dari cipta karya tangan manusia.

Foto mengabadikan cerita manusia dan benda-benda di sekelilingnya, sehingga waktu yang terus bergerak itu menjadi berhenti, terabadikan dalam lensa kamera sehingga generasi berikutnya akan mendapat pengetahuan yang sama dengan mereka yang berada dalam peristiwa-peristiwa itu.[T]

“Love Robots” dari Antonius Kho, Ketika Manusia Dikuasai Robot
Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Hardiman; Sekali Lagi, Jalak Bali
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro
Tags: Arsip Bali 1928Merayakan MaryaMulawali InstitutePameran Arsip 1928
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BPK Bali-Nusra Putar Film di STAHN Mpu Kuturan: Ikhtiar Membentuk Pemikir Kebudayaan

Next Post

Sehat atau Kuat?

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Besakih dan Medsos

Sehat atau Kuat?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co