2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Made Susanta Dwitanaya by Made Susanta Dwitanaya
April 22, 2024
in Ulas Rupa
Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Gede Wira Dananjaya, Keberlanjutan, pencil on canvas, 100X80, 2023

MAHASISWA seni rupa Undiksha Singaraja  menggelar pameran bertajuk “Upload ke Dunia Nyata” di Galeri Paduraksa di kampus FBS, Unidkhsa, selama seminggu, 22-29 April 2024. Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Upload ke Dunia Nyata” ini merupakan bagian dari tugas akhir (TA) mahasiswa seni rupa Undiksha dari angkatan yang bisa disebut sebagai “angkatan pandemi Covid-19”. Atau mereka menyebutnya “MayaArt20”. Atau angkatan “maya” tahun 2020.

Tulisan ini adalah catatan pengantar dari pameran itu:

***

Apa paradigma paling  fundamental dari proses pendidikan hari ini? Jawabanya adalah penemuan potensi terbaik dari seorang individu. Kata penemuan sebagai kata kerja aktif merepresentasikan bahwa proses pendidikan hari ini berpusat pada peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan.

Pendidikan hari ini tidak lagi terpusat kepada peran pendidik, tetapi juga mengedepankan peran aktif dari peserta didik sebagai subjek dari proses pendidikan itu sendiri. Kemudahan untuk mengakses berbagai informasi di platform online menjadikan sumber  belajar yang  tersebar  dapat diakses dengan mudah. Terjadi desentralisasi dalam pemaknaan atas proses pembelajaran.

Pendidik bukan lagi subyek utama yang menjadi sumber belajar. Kemudahan-kemudahan ini selain membawa peluang bagi terwujudnya pendidikan yang inklusif  sekaligus membawa sebuah  tantangan. Tantangan tersebut juga terjadi dalam konteks pendidikan seni rupa.

Pembelajaran seni rupa yang di dalamnya terdapat aspek teoritik dan praktik menuntut adanya kombinasi antara aspek pengetahuan dan pengalaman, antara kognitif hingga motorik. Pada titik inilah peran seorang pendidik seni rupa menjadi kompleks.

Pendidik seni rupa dituntut untuk melakukan proses supervisi yang lebih dekat, humanistik kepada peserta didik. Sehingga interaksi yang intensif antara pendidik dan peserta didik dalam hal memberikan aspek pengalaman bagi para peserta didik masih tetap urgen untuk dilakukan.

Interaksi yang tak mungkin dilakukan dalam batasan batasan layar namun diperlukan interaksi yang lebih intim sehingga menghadirkan sebuah pengalaman yang menubuh.

Prodi Pendidikan Seni Rupa Undiksha sebagai sebuah program studi LPTK (Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan) sampai saat ini tentu masih memelihara visi untuk menghasilkan output calon pendidik seni rupa yang utuh, cakap dalam mengaplikasikan berbagai metode dan ilmu kependidikan sekaligus memiliki pengalaman artistik dan menguasai praktik kesenirupaan.

“Guru yang baik adalah pelaku yang baik“ demikian jika kita mengutip pernyataan Oho Garha seorang akademisi pendidikan. Jika kita renungkan lebih jauh pada kalimat  guru yang baik sebagai pelaku yang baik  tersemat suatu tanggung jawab yang besar sebagai seorang calon calon pendidik.

Menjadi pendidik tidak saja sebagai sebuah profesi namun juga hendaknya disadari sebagai sebuah cita cita ideologis yang menuntut tanggung jawab, integritas serta idealisme didalam menjalankanya. Guna membekali pengalaman  bagi mahasiswa sebagai guru seni rupa yang baik dengan kecakapan pengetahuan dan keterampilan teknis kesenirupaan serta bagaimana mengelola sebuah hasil kerja kesenian maka mata kuliah seperti pameran tugas akhir masih sangat penting untuk dijalankan.

Melalui pengalaman  pameran tugas akhirlah segala akumulasi pengalaman berkarya seni rupa para mahasiswa  yang telah didapat selama masa studi dipertangungjawabkan dan  dipresentasikan kehadapan publik.

Pada titik ini pameran tugas akhir dapat dimaknai sebagai simulasi bagi para mahasiswa untuk hadir dalam dunia seni rupa yang sesungguhnya baik sebagai pendidik seni maupun sebagai pelaku seni.

Pameran karya tugas akhir pada akhirnya menjadi sebuah “ritual akademik” tahunan yang menjadi momentum bagi para mahasiswa prodi pendidikan seni rupa Undiksha untuk menampilkan hasil eksplorasi gagasan dan artistik mereka dalam proses pendidikan kesenirupaan mereka kehadapan publik.

Lalu bagaimanakah kita sebagai apresiator mengapresiasi sebuah karya yang dihasilkan oleh para perupa yang sedang berada dalam masa studi?

Sebagai sebuah karya yang lahir dari mereka yang sedang dalam proses studi kita akan disuguhi oleh sehamparan visual yang menunjukkan tanda-tanda sedang bergerak untuk menjadi, untuk menuju pematangan-pematangan. Kita akan dihadapkan pada potensi-potensi individu yang sedang bertumbuh. Maka horizon harapan kita sebagai apresiator tentu tidaklah sama ketika kita berhadapan dengan karya-karya perupa yang telah melampui fase studi.

Walaupun demikian sebuah proses kritik yang sehat sangat penting diterapkan untuk mengapresiasi bibit bibit yang sedang bertumbuh itu. Supervisi, coaching, pendampingan-pendampingan serta kritik yang bersifat pedagogi rasanya pasti telah dilakukan oleh para pengajar mereka dalam studio kampus sebagai sebuah proses pembelajaran.

Sekarang tinggal bagaimana mereka menyerap pengetahuan, informasi, bimbingan hingga kritik yang didapat tersebut dan menyambut semua itu dengan niat dan tekad yang tumbuh dalam diri mereka hingga berakumulasi menjadi serangkaian pengalaman empirik yang menubuh yang akan mereka bawa sebagai bekal dalam memasuki medan seni rupa dan pendidikan yang sesungguhnya setelah menempuh studi kependidikan seni rupa.

Hal inilah yang dapat kita cerap dan rasakan sebagai apresiator ketika menyaksikan apa yang ditampilkan oleh para mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Undiksha angkatan 2020 yang saat ini berpameran Tugas Akhir yang bertajuk “Upload ke Dunia Nyata”.

Pemilihan judul ini mencerminkan niat dan tekad serta proses refleksi yang mereka lakukan atas diri mereka. Tentang sebuah pertanyaan seberapa siapkah mereka untuk terjun ke dunia seni rupa dan dunia pendidikan setelah mereka menamatkan studi sebentar lagi.  

Tahun 2020 dunia sedang dilanda oleh pandemi covid 19 yang mengharuskan terjadinya berbagai pembatasan-pembatasan interaksi langsung antar manusia guna mencegah mata rantai persebaran virus corona yang kala itu menjadi momok dunia. Berbagai penyesuaian-penyesuaian dan perubahan-perubahan pola hidup terjadi secara masif. Termasuk dalam dunia pendidikan.

Interaksi-interaksi yang langsung dan intim dalam dunia pendidikan tak mungkin dilakukan kala itu. Pembelajaranpun dilakukan di ruang ruang virtual, ruang-ruang kelas, studio tempat praktik, menyempit hanya seluas layar gawai masing-masing. Praktis hampir selama dua tahun para mahasiswa yang saat ini berpameran hanya bisa berinteraksi dengan para pengajar, kawan sejawat, hanya di ruang ruang virtual dan di depan layar.

Selama hampir dua tahun pula mereka tidak merasakan bagaimana mereka berpraktik dan dibimbing secara langsung oleh para pendidik mereka di studio kampus sebuah kondisi yang mungkin saja menjadi catatan tersendiri dalam proses belajar mereka sebab hal ini juga menjadi persoalan tersendiri dalam dunia pendidikan seni rupa yang mengedepankan aspek praktik dan pengalaman berkarya yang menjadi sedikit terhambat jika dilakukan secara daring.

Namun kini pandemi telah berlalu, pembelajaran yang sempat mereka jalani secara daring kini telah kembali kepada pembelajaran luring. Mereka mencoba mengejar hal hal yang terlewatkan atau sedikit terhambat dalam proses pembelajaran secara daring yang mereka lakukan.

Melalui proses pembelajaran yang dilalui dengan proses pembelajaran daring dan luring itu mereka menampilkan akumulasi gagasan, konsep hingga pengalaman mengolah dan meramu berbagai aspek artistik karya-karya mereka. Apa yang ditampilkan oleh ke-15 mahasiswa prodi angkatan 2020 dalam pameran ini memperlihatkan bagaimana keberagaman ide,material,  media, hingga cara presentasi karya mereka.

Sebagian dari mereka mengangkat hal hal yang bersifat personal dan dekat dengan keseharian mereka, sebagian lagi melihat aspek memori kultural, religi hingga budaya popular. Sebaran ide, konsep, hingga material , media dan cara presentasi ini adalah tanda tanda mereka mulai pada tahap eksplorasi dan mencoba berbagai kemungkinan.

Maka dalam pameran ini kita akan disuguhi dengan karya-karya dua dimensional hingga tiga dimensional, mulai dari seni lukis, seni patung, grafis, prasi , desain, kriya dan lain sebagainya.

Dengan cadangan bakat yang mereka miliki, proses latian yang terus menerus, keberanian dan tekad untuk mencoba berbagai kemungkinan diharapkan menjadi bekal dan potensi yang bisa terus mereka asah dan kembangkan lagi.

Maka sebuah pertanyaan reflektif tentang seberapa siapkah mereka untuk menguploud eksistensi diri mereka ke dunia yang sesungguhnya kelak baik sebagai pelaku seni maupun praktisi pendidikan seni rupa hanya dapat dijawab oleh seberapa kuat tekad, usaha serta komitmen mereka pada diri mereka sendiri untuk menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

Pada akhirnya selamat mengupload diri ke dunia nyata untuk kawan kawan mahasiswa angkatan 2020, sebab dunia tak selebar layar, tapi melalui layar kita dapat melihat luasnya dunia.

Dan selamat mengkonfirmasi tatapan  kalian tentang dunia dari layar dengan dunia yang akan kalian alami secara empiris. [T]

BACA ulas seni rupa lain dari penulis SUSANTA DWITANAYA

Hardiman; Sekali Lagi, Jalak Bali
“Weaving The Colours of The Archipelago”, Pertiwi Negeriku Toba Exhibition
“Ekara” Nyoman Erawan’s Visual Verse
Tags: pameran seniPameran Seni RupaPendidikanUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Chelsea Hemsen, “Naturalisasi” dan Agrowisata Kunang-Kunang di Desa Taro, Gianyar

Next Post

“Luxury Tourism”: Wisata Mewah Wujudkan Mimpi

Made Susanta Dwitanaya

Made Susanta Dwitanaya

Penulis dan kurator seni rupa. Lahir dan tinggal di Tampaksiring, Gianyar

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Luxury Tourism”: Wisata Mewah Wujudkan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co