13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chelsea Hemsen, “Naturalisasi” dan Agrowisata Kunang-Kunang di Desa Taro, Gianyar

I Made Sarjana by I Made Sarjana
April 22, 2024
in Khas
Chelsea Hemsen, “Naturalisasi” dan Agrowisata Kunang-Kunang di Desa Taro, Gianyar

Chelsea Hemsen (kiri)

KEBERADAAN pemain naturalisasi pada kesebelasan Indonesia selalu menarik untuk didiskusikan dan selalu memancing kontroversi. Kalau Timnas Indonesia menang, pemain naturalisasi pasti dipuji, jika hasil yang diraih sebaliknya tak dipungkiri bakal dicaci. Pemain naturalisasi itu kebanyakan berasal dari negeri kincir angin.

Satu dari sekian banyak warga Belanda berdarah Indonesia yang dinaturalisasikan adalah Chelsea Hemsen. Eit tunggu dulu, jangan cari nama ini pada skuad asuhan Pelatih Timnas  Shin Tae-yong. Chelsea berpredikat “pemain naturalisasi” pada pengembangan Agrowisata Kunang-Kunang di Rumah Konservasi Kunang-Kunang Tegal Dukuh Camp, Desa Taro, Tegallalang, Gianyar. 

“Darah Indonesia yang mengalir di tubuh saya, memantik semangat saya untuk datang kesini memahami berbagai hal sosial-budaya lokal dan berkontribusi sekecil apapun bagi negeri leluhur saya disini,” tutur Chelsea berapi-api.

Dia pun bercerita silsilah keluarganya, dia sebagai warga Belanda yang memiliki nenek moyang berdarah Indonesia.

“Nenek saya dan juga kakek saya keturunan Jawa, mereka pernah tinggal di Surabaya dan Malang, sebelum pindah dan menetap di Belanda,” tutur Chealse dengan raut muka berseri.

Sayangnya, kata dia, baik kakek dan neneknya meninggal Bahasa Indonesia dalam komunikasinya setelah tinggal di Belanda sehingga orang tuanya dan dia tak ada yang fasih berbahasa Indonesia.

Chelsea Hemsen datang ke Indonesia pertama kali pada akhir tahun 2022 untuk observasi dan menggali ide thesis yang digunakan sebagai syarat menyelesaikan kuliah di M.Sc. programme bidang pembangunan internasional. 

Chealse Hemsem ingin meneliti dampak pariwisata terhadap eksistensi subak di Bali. Di tengah eksplorasinya terkait organisasi pertanian lahan basah itu dia menemukan destinasi pariwisata alternatif yakni Agrowisata Kunang-Kunang yang dikembangkan I Wayan Wardika, S.ST.Par di Tegal Dukuh Camp Desa Taro.

“Ternyata ada daya tarik wisata dikembangkan jauh dari upaya mengeksploitasi budaya dan alam Bali, saya sangat mengapresiasi ini,” katanya sambil menoleh Wayan Wardika saat penulis memenuhi undangannya bertandang ke tempat dia mengeluti side job disela-sela kesibukannya menulis thesis.

Satu hal yang membuat mata Chelsea terbelalak di Tegal Dukuh adalah niat Wayan Wardika mengembangkan pertanian organik untuk mengkonservasi kunang-kunang. Bagi sebagaian orang, kunang-kunang bukanlah jenis hewan bernilai ekonomis tinggi sehingga layak dikembangkan. Oleh karenanya, Chelsea menawarkan diri menjadi salah satu pihak menyokong keberlanjutan agrowisata kunang-kunang.

Chelsea pun bertindak sebagai ambassador atau tenaga pemasaran destinasi pariwisata tersebut di luar negeri utamanya Belanda. Dia bersama rekannya mempromosikan Tegal Dukuh Camp melalui website dan IG bringbackthelight.org.

“Penjualan paket wisatanya saya langsung ke sekolah atau universitas di Belanda, biasanya di setiap universitas di Belanda ada kegiatan karya siswa ke luar negeri,” jelas Chelsea. Bukti kegigihan Chelsea ketika mampu merubah rencana kegiatan karya siswa Universitas Breda yang semula di jadwalkan ke negara lain ditarik untuk berkunjung ke Tegal Dukuh.

Jumat (19/4/2024) rombongan karya siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp dan ini rombongan pertama yang diinisiasi dan didampingi Chelsea.

Siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp | Foto: Made Sarjana

Wayan Wardika selaku pemilik dan pengelola Tegal Dukuh Camp kesan mahasiswa Breda University sangat bagus terbukti mereka menyatakan bersedia merekomendasikan ke jejaring sosialnnya agar berkunjung dan jug akan melakukan revisit.

Mantan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro ini bercerita kontribusi Chelsea sangat vital dalam menyokong keberlanjutan rumah konservasi kunang-kunang Tegal Dukuh Camp.

“Jujur semula saya tidak memperhitungkan curuk pasar mahasiswa di luar negeri, tetapi kehadiran Chelsea sebagai mitra dalam pemasaran telah memotivasi dan menguatkan tekad saya untuk memperdalam pengetahuan terkait kunang-kunang sehingga kualitas produk pariwisata berbasiskan alam dan budaya pertanian semakin meningkat,” papar Wardika.

Bagi Wardika, kunang-kunang memiliki aspek kultural dan kesehatan lingkungan bagi masyarakat Bali. Secara kultural, jelasnya, masyarakat Bali meyakini kunang-kunang sebagai simbul lampu penerangan perjalanan arwah leluhur menuju sorga. Dalam konteks, alam menunjukkan populasi kunang-kunang yang banyak berarti lingkungan pertanian di lokasi tersebut sehat, tanahnya tidak diolah dengan mesin/traktor dan tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia.

“Buktinya, kunang-kunang populasinya yang paling banyak ada di setra,” kata Wardika menguatkan asumsinya.

Ditambahkan, aspek ilmiah kunang-kunang dieksplorasi di laboratorium dengan tiga peneliti berkualifikasi S1, dan seorang supervisor berkualifikasi S3. Supervisor ini, katanya, untuk membantu mengidentifikasi spesies kunang-kunang. Dijelaskan, berdasarkan habitatnya kunang-kunang ada dua jenis, yang hidup di air dan yang hidup di darat.

Menariknya, seekor kunang hanya menghadirkan keindahan pada keheningan malam selama 22 hari, namun perjuangannya untuk mencapai fase ‘indah pada waktunya’ selama 1,5 tahun dengan 9 tahapan. Seekor betina kunang-kunang menghasilkan telor sekitar 300 butir namun yang berhasil menyelesaikan fase dewasa dengan lampu menyala indah kadang hanya satu atau dua ekor saja. Jadi persentase keberhasilan melewati rintangan dalam siklus hidup kunang-kunang sangat kecil.

“Inilah fakta kehidupan, walau sangat berat dan persaingan ketat tetaplah berjuang dengan semangat tinggi, jangan pernah berputus asa,” ujar pria yang bertindak sebagai mentor pada pengembangan sejumlah desa wisata di Bali dan di luar Bali itu.

Siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp | Foto: Made Sarjana

Chelsea pun menceritakan pengalamannya pertama kali melihat kunang-kunang.  Kala itu dia baru tamat SMA dan sedang kebingungan memutuskan mau mengambil jurusan apa dijenjang pendidikan S1.

Suatu malam dia bersama teman-temannya melintas di sekitas kuburan di Belanda dan dia tertarik dengan sinar kelap-kelip yang indah dikuburan. Saat diranyakan kepada orang tuanya, sinar itu berasal dari hewan yang disebut kunang-kunang. Ajaibnya, pasca kejadian itu Chelsea punya keteguhan hati untuk mengambil keputusan menempuh S1 Jurusan Pariwisata di Universitas Breda.

“Kini saya mendapatkan kerja sampingan di rumah konservasi kunang-kunang ditengah kegelapan menyelesaikan thesis. Ternyata pariwisata dan kunang-kunang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya,” seloroh Chelsea.

Boleh dibilang Chelsea kini mendapatkan pencerahan dari semboyan Pahlawan Nasional RA Kartini: Habis Gelap, Terbitlah Terang. Sinar terang itu dari gemerlap sinar ratusan kunang-kunang yang dibudidayakan di Tegal Dukuh Camp. Selamat Hari Kartini buat Chelsea dan perempuan berdarah Indonesia dimana pun berada. [T] 

Penulis: Made Sarjana
Editor: Adnyana Ole

Sekuntum Kamboja Bagi Dwiwindu Ilmu Pariwisata Indonesia
Beragam Peran Cendikiawan Mengawal Ilmu Pariwisata Indonesia
Tingkatkan Daya Pariwisata, SDM Tidak Cukup Hanya Menyandang Gelar “MSC”
Tags: Agrowisata Kunang-KunangDesa TaroGianyarPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Beruntung, Kita Bisa Temukan “Nasi Campur Bu Mangku”, Unik dan Melegenda di Desa Les

Next Post

Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

I Made Sarjana

I Made Sarjana

Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc., lahir di Desa Mengani, Bangli. Ketua Lab. Subak dan Agrowisata, Prodi Agribisnis FP Unud

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co