5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Jaswanto by Jaswanto
May 3, 2024
in Khas
Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Seorang peserta napak tilas sedang membaca I Marya | Foto: Mulawali Institute

CERITA membuat manusia bertumbuh, dan terus bertumbuh. Cerita menjadikan manusia lebih humanis, membuatnya lebih peka, menjadikannya manusia yang mendengar, dan sekaligus membuatnya belajar. Dan itulah yang dilakukan Nengah Januartha dan Ari Dwijayanthi dalam program “Napak Tilas: Membaca Marya dari Masa Depan”—serangkaian program Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya yang digelar Mulawali Institute di kawasan Puri Kaleran Tabanan, dari tanggal 26-28 April 2024.

Program napak tilas ini dilaksanakan pada hari ketiga, hari terakhir, setelah festival dibuka secara resmi. Dengan mengadopsi tour guiding, bercerita, sebagai metode penyampaian informasi, Nengah Januartha, yang notabene dikenal sebagai arsiparis, dan Ari Dwijayanthi, seorang akademisi, menjelma menjadi pramuwisata andal yang mengantar para turis (peserta napak tilas) untuk mengetahui lebih banyak tentang sosok I Ketut Marya—maestro tari yang namanya melegenda itu—dan menelusuri tempat-tempat yang pernah Marya pijak semasa hidupnya.

Sore itu, Minggu, 28 April 2024, Janu dan Ari mengajak peserta napak tilas untuk terlebih dahulu mengunjungi Pameran Arsip 1928—yang juga salah satu mata program Festival Merayakan Marya—sebelum menapak ruang-ruang hidup I Ketut Marya.

Di Pameran Arsip, Janu banyak menyampaikan tentang betapa tahun 1920-an menjadi awal berkembangnya kesenian gaya baru di Bali (saat itu Bali sedang berada di tengah revolusi seni dengan kebyar sebagai penggerakknya—gamelan yang paling dominan di masa itu).

Di Bali Utara, misalnya, selain eksis di Desa Jagaraga, sebenarnya Gong Kebyar juga sudah eksis di beberapa desa lain, seperti Bungkulan, Ringdikit, Sawan, Banyuatis, Nagasepa, Patemon, Menyali, Kalapaksa, Bebetin, Bubunan, Bantiran, dan Kedis.

Gong Kebyar—atau gong gede sebagaimana orang Jagaraga menyebutnya—menggelinding, menjalar seperti virus, begitu cepat sampai ke ceruk-ceruk jauh di Pulau Bali. Para maestro di utara dipanggil untuk mengajar di selatan. Atau orang-orang selatan sendiri yang rela menempuh perjalanan jauh ke utara demi belajar Gong Kebyar.

Tahun-tahun itu kesenian Bali sedang bergeliat. Kelompok gamelan tua, orkestra seremonial, dilebur dan ditempa kembali dengan gaya baru. Persaingan antardesa atau daerah mendorong para komponis dan koreografer muda untuk berkarya mengembangkan inovasi dan teknik yang mengesankan, tak terkecuali para seniman di Tabanan—tanah yang membesarkan nama I Ketut Marya.

Marya, sebagaimana Gde Manik dan Ketut Merdana dari utara, juga ikut menyemarakan revolusi kesenian Bali. Melalui tangan dinginnya, ia mencipta tarian yang fenomenal, kalau bukan abadi, seperti Igel Jongkok, Oleg Tambulilingan, dan Kebyar Trompong. Semasa hidupnya, Marya berproses di ruang-ruang lingkungan Puri Kaleran Tabanan.

“Di sini dulu sering diadakan pementasan. Di sini pula Marya menari Igel Jongkok yang kita saksikan di video arsip,” ujar Janu kepada peserta napak tilas saat ia berdiri tepat di depan bangunan gapura Puri Kaleran sebelah utara. Menurut pembacaan Janu, bangunan megah dan bersejarah itu dibangun sekitar tahun 1927-28—rentang tahun di mana orang-orang Jawa sedang bergejolak menghadapi kolonialisme.

Nengah Januartha bersama peserta napak tilas di kawasan Puri Kaleran Tabanan | Foto: Mulawali Institute

Selesai menapak ruang hidup Marya di sekitar puri, Janu dan Ari mengajak peserta napak tilas untuk keluar dari puri dan menelusuri trotoar Jalan Gunung Agung ke selatan menuju satu tempat yang dulu diyakini sebagai alun-alun Kota Tabanan di masa kerajaan. Terdapat pohon beringin besar dengan sulur yang menjuntai sampai tanah di sana.

“Biasanya, dulu, pasar itu berada di bawah pohon beringin. Jadi, di sebelah selatan berdiri Puri Gede, di tengah-tengah ada pasar atau alun-alun, di sebelah utara ada pura, dan di sebelah utaranya lagi baru Puri Kaleran,” terang Janu.

Apa yang dikatakan Janu pernah dituliskan oleh Horst Henry Geerken dalam bukunya “A Magic Gecko” (2014). Kehidupan desa di Bali, kata Henry, biasanya terpusat di bawah naungan pohon beringin berukuran besar—“batangnya lebih besar daripada pelukan 20 laki-laki.”

Di sini (di bawah naungan pohon beringin), lanjut Henry, “mereka membeli, menawar, dan bergosip. Di sini pula mereka mencukur rambut, berteman, dan melerai permusuhan. Perempuan yang memangggul keranjang penuh dengan hasil kebun berjalan ke pasar untuk mencari nafkah.”

Di tempat di mana para peserta berpijak, tepatnya di sebelah utara Gedung Kesenian I Ketut Maria, Janu mengatakan bahwa di tempat inilah Marya sering menari dan berinteraksi dengan masyarakat Banjar Lebah, Tabanan. Di sini pula, menurut foto arsip yang ditunjukan Janu, sering berlangsung pertunjukan Tari Joget.

Dari beberapa foto arsip pula, peserta napak tilas menjadi tahu bahwa bentuk pagar puri zaman dulu terbuat dari kayu yang disusun menyerupai pagar kandang kuda di wilayah Montana. Bedanya, pagar-pagar puri ditambah dengan semacam atap dari ijuk atau rumbia.

Lanskap Kota Tabanan di masa kerajaan, sebagaimana telah dijelaskan Janu, nyaris mirip seperti tata letak beberapa kota di Jawa. Di Jawa, bangunan kantor pemerintahan—atau keraton tempat sultan/raja bermukim, dulu—selalu dekat dengan alun-alun kota, pasar, dan tempat ibadah. Di alun-alun kota di Jawa, biasanya juga terdapat empat beringin yang berdiri kokoh di setiap sudut tanah lapang tersebut.

Berkunjung ke Rumah Marya

Janu mengajak peserta napak tilas untuk berpindah dan berjalan ke arah barat, memasuki lorong-lorong sempit menuju kediaman I Marya. Di rumah sederhana yang terletak tepat di samping selatan kawasan Puri Kaleran Tabanan itu, pihak keluarga Marya menyambut para peserta. Di sana, panitia festival juga sudah menyiapkan kudapan dan tempat bercerita dan tanya jawab bersama ahli waris I Marya.

Rumah itu tak besar, luas, dan mewah. Terdiri dari tiga bangunan terpisah dengan sedikit taman di halaman. Di dinding ruang tamu, tercantel banyak foto lama Marya. Di sinilah Marya tumbuh bersama keluarganya. Marya, sebagaimana telah banyak tertulis di berbagai media, lahir di Banjar Angkan, Klungkung. Ketika musim paceklik (ada pula yang mengatakan karena perang Klungkung), keluarga Marya pindah ke Denpasar.

Sehuah gang menuju rumah I Ketut Marya | Foto: Mulawali Institute

Di Denpasar, Mario—sebutan lain Marya—sudah mengenal Tari Gandrung. Namun, karena merasa beban hidup semakin berat, serta siuasi politik (penjajahan) saat itu, Mario bersama ibu dan kelima saudaranya (tiga laki-laki dan dua perempuan) kemudian merantau—beberapa orang menyebutnya rarud—sampai ke daerah Tabanan.

Awalnya, keluarga Marya membantu pedagang Cina bernama Tan Khang Sam di Desa Tunjuk, Tabanan, lalu menjadi parekan (abdi) di Puri Kaleran Tabanan. Di puri, Marya kemudian mengenal seni kebyar hingga mencipta tari-tari kekebyaran yang fenomenal itu.

“Saya dulu tidur seranjang dengan kakek,” ujar Nyoman Sudharma, cucu angkat Ketut Marya bercerita kepada peserta napak tilas. Sudharma mengaku dekat dengan sang maestro. Bahkan, tak sedikit ingatan bersama Marya yang disampaikan kepada orang-orang yang mendatangi kediamannya sore itu. “Mario itu suka memancing. Dan saya masih ingat, saat dia pulang dari Amerika, dia memakai jaket wool ke mana-mana. Padahal di sini daerah yang panas,” sambung Sudharma sembari tertawa.

Pada tahun 1925, saat memasuki usia 28 tahun, Marya meminang gadis pujaannya bernama Ni Made Cereg, yang belakangan kerap dipanggil Men Riken. Sayang, setelah begitu lama berumah tangga, pasangan ini tak juga dikaruniai buah hati. Marya kemudian mengadopsi seorang anak, cucu dari kakaknya, namanya I Putu Kerta—pensiunan tentara angkatan udara yang meninggal di Tabanan tahun 1994.

Peserta napak tilas sampai di rumah I Ketut Marya | Foto: Mulawali Institute

Putu Kerta inilah bapak dari Nyoman Sudharma—yang sekarang menghuni rumah Marya. Jadi, secara biologis, Nyoman Sudharma sebenarnya merupakan cicit dari Marya. Tapi, secara angkat, ia cucu Marya—karena Putu Kerta, yang notabene cucu Marya, diangkat menjadi anaknya.               

“Marya itu orangnya sangat nyentrik. Kalau dia berkunjung ke pasar, dia sering menari di tengah keramaian. Dia juga sering nongkrong di Kopi Aboe Talib [kedai kopi legendari di Tabanan]. Saya sering diajak beli es krim zaman dulu,” terang Sudharma.

Sambil menikmati kudapan dari panitia festival, peserta napak tilas khusyuk mendengarkan cerita dari Sudharma. Lelaki paruh baya itu, dengan terbata-bata, mencoba mengingat segala hal yang berkaitan dengan Ketut Marya. Ia mengingat Marya pernah mendapat penghargaan dari Presiden Soekarno, Gubernur Bali, dan Presiden Megawati. Namun sayang, pada tahun 1990-an, emas penghargaan dari Gubernur Bali terpaksa dijual untuk keperluan keluarga.

“Selama mengajar tari, Marya tak pernah meminta bayaran. Kadang, saat hari raya, murid-murid Marya banyak membawa beras dan segala keperluan upacara ke rumah,” ujar Sudharma. Cerita seperti ini tak hanya datang dari riwayat Marya. Banyak maestro yang mengajar tanpa pamrih, dulu, sebut saja I Gde Manik dari Jagaraga, Buleleng.

Menjelang kembali ke Asal, sangkan paraning dumadi, menurut Sudharma, pada saat malam hari Marya sempat menyalakan sabut kelapa untuk mengusir nyamuk. Karena tidur di kamar yang sempit, asap itu membuat Sudharma sesak napas—ia memang tidur sedipan dengan Marya. “Saat Marya meninggal, saya masih di sekolah mengambil rapor. Itu tahun 1968,” kenang Sudharma. Pada saat ditanya barang-barang peninggalan Marya, dengan sedih Sudharma mengatakan, “Barang-barang Marya ikut diaben saat ia meninggal.”

Nengah Januartha bersama Nyoman Sudharma sekeluarga di rumah I Ketut Marya | Foto: Mulawali Institute

Maka, mengenai penggalian benda-benda peninggalan, atau sejarah-riwayat hidup Marya, tak ubahnya mencari jejak kaki di lidah pantai—ada saja jejak yang seolah terhapus ombak. Riwayat hidupnya tak seterang namanya.

Tetapi, berkat ingatan kolektif dan arsip, riwayat Marya ternyata tak segelap seperti yang dipikirkan. Selalu ada tanda yang bisa direkam dan dicatat, ada petunjuk yang dapat memberi arah—cerita-cerita dari orang-orang terdekatnya atau informasi-informasi yang tertuang dalam buku, misalnya, “The Life Story of the Great Balinese Dancer, I Mario” karya Amir Sjamsudin dan I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali karya I Wayan Dibia.

I Ketut Marya/Maria/Mario, si jenius yang buta huruf, “pemberontak” kebekuan kesenian Bali. Di tengah-tengah kelesuan selera klasik tarian Bali, ia hadir dengan gagasan baru, menciptakan sesuatu yang mungkin tak pernah terbesit dalam kepala orang Bali pada umumnya.

Dari rahim kecerdasannya, Marya melahirkan Tari Kebyar Duduk (Igel Jongkok) sekitar tahun 1925. Dan mengutip I Wayan Westa, tak ada kata paling indah untuk memuji ketenaran Ketut Marya, kecuali dengan satu ungkapan, “ia adalah seorang penari legendaris Bali”.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Membaca, Mengenal, dan Memahami I Ketut Marya dalam Lokakarya Koreografi “Dari Igel Jongkok Menuju Kebyar Duduk”
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
Festival The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya—Usaha Merawat Ingatan tentang sang Maestro
Mari Merayakan Ketut Marya dan Igel Jongkok di Tabanan, 26-28 April 2024
Tentang Mario yang Tak Banyak Diketahui: Bertemu Soekarno dan Embrio Kebyar Duduk dari Busungbiu
“Bee Dances” : Menembus Batas, Melebur Identitas
Tags: I Ketut MaryaIgel JongkokKebyar DudukKetut MarioMerayakan MaryaMulawali Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Next Post

“The Blessing of Siva-Visvapujita”, Drama Tari Kolaborasi Bali-India yang Memikat di ISI Denpasar

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails
Next Post
“The Blessing of Siva-Visvapujita”, Drama Tari Kolaborasi Bali-India yang Memikat di ISI Denpasar

"The Blessing of Siva-Visvapujita", Drama Tari Kolaborasi Bali-India yang Memikat di ISI Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co