22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Afred Suci by Afred Suci
May 3, 2024
in Opini
Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Ilustrasi tatkala | Dek Omo

Fakta-Fakta Yang (Seakan) Tabu Diungkap

Sudah menjadi kepercayaan publik bahwa perguruan tinggi merupakan sumber ilmu pengetahuan, teladan integritas, produsen budaya, atau pintu gerbang terakhir yang harus dilewati mahasiswa untuk menjadi profesional di dunia nyata kelak ketika tali toga mereka telah dipindahkan dari kiri ke kanan oleh pimpinan kampus, sebagai tanda mereka “siap” mengarungi dunia yang sebenarnya.

Banyak lagi istilah luar biasa yang dinisbatkan kepada perguruan tinggi sebagai bentuk pengakuan bahwa lembaga ini merupakan pembentuk keterampilan kognitif, mental, motorik, sekaligus spiritual bagi para mahasiswa untuk bisa sukses dengan perannya masing-masing di kehidupan.

Faktanya?

Sebagian kampus relatif berhasil mengeksekusi “tugas suci” tersebut, sebagiannya lagi—bahkan banyak yang menyatakan mayoritasnya—gagal. Skeptisme yang menyebutkan bahwa perguruan tinggi dewasa ini laiknya pabrik ijazah, menjadi kelaziman yang kerap terdengar. Konon, ada simbiosis mutualisme yang terjadi antara kampus dengan mahasiswa. Banyak mahasiswa—meskipun banyak juga yang tidak begitu—menginginkan proses perkuliahan yang “dimudahkan” dan nilai yang “dimurahkan” dari dosennya.

Demand yang cukup besar ini kemudian direspon secara pragmatis oleh kampus—dengan dalih hyper competition antar perguruan tinggi—dengan menggampangkan proses masuk/rekrutmen dan keluar/kelulusan mahasiswa. Bukan sekadar lulus tentu saja. Dengan dalih kebutuhan akreditasi, yang di antara poin “gemuk”nya adalah nilai rata-rata dan masa studi mahasiswa, dewasa ini nilai tiga koma lima ke atas nyaris menjadi nilai rata-rata kelulusan di banyak kampus—(maaf) khususnya swasta—yang kemudian secara semu dicap sebagai prestasi kampus.

Bahkan, jika satu-dua dekade lalu mahasiswa yang mampu mendapat predikat cum laude sangat langka, jangan heran jika saat ini predikat tersebut menjadi begitu mudahnya didapat. Daya magis cum laude seolah memudar. Bahkan ironisnya, tidak lagi aneh ketika kita mendengar ada dosen “ditegur” oleh pimpinan kampus ketika memberikan nilai rendah untuk mahasiswa.

Dari sisi integritas pengajarnya sendiri, bisik-bisik yang terdengar jelas di kalangan dosen mengatakan, cukup banyak dosen yang tidak cakap mengajar serta lemah dalam riset, cenderung boros nilai dan “malas” mengevaluasi hasil kerja mahasiswanya. Di kelas sekadar duduk mendengarkan mahasiswa presentasi, berkomentar berdasarkan opini pribadi, tidak didasarkan pada teori dan penelitian yang menjadi kepakaran ilmunya, lalu dengan begitu saja menyelesaikan sesi perkuliahan. Nyaris tidak ada ilmu yang ditransfer kepada mahasiswanya.

Yang lebih menggenaskan bahkan ada oknum dosen yang “membarter” nilai bagus kepada mahasiswa dengan tebusan beberapa puluh hingga ratusan ribu harga buku tulisan oknum dosen yang bersangkutan. Tak kalah ironis, dalam konteks kepemimpinan, tidak jarang mahasiswa merasa aneh ketika ada sejumlah dosen yang menurut pengamatan dan pengalaman mereka selama berinteraksi di kampus dianggap “tidak berkualitas” justru menduduki jabatan-jabatan penting di kampus yang di tangan mereka tergantung hidup matinya perguruan tinggi.

Konsekuensinya, ketika pimpinan kampus itu sendiri “tidak berkualitas”, bagaimana mungkin berharap mereka bisa menjadi teladan, mengonsolidasi kurikulum dan proses pembelajaran, serta mengawasi jalannya proses pembelajaran yang berkualitas?

Ini belum bicara soal fasilitas pembelajaran yang memprihatinkan, sementara uang pembangunan terus mengalir setiap tahun ke kocek kampus setiap tahun ajaran baru. Orientasi anggaran seolah-olah tidak diprioritaskan untuk mahasiswa sebagai kontributor finansial utama yang menggerakkan operasional kampus.

Dalam banyak kasus, mahasiswa bahkan tidak tahu kemana saja anggaran yang bersumber dari SPP/UKT yang mereka setorkan itu dibelanjakan oleh pimpinan kampus. Keterbukaan menjadi barang langka dan super mahal. Ironisnya, oknum pimpinan kampus ada yang dengan sengaja mengintervensi kepemimpinan organisasi mahasiswa atau memberikan iming-iming kepada oknum pejabat organisasi mahasiswa untuk “tidak bersuara” terhadap kondisi kampus.

Maka menjadi tidak mengherankan jika saat ini cukup banyak aktivis mahasiswa terkesan begitu garang mengkritik tata kelola pemerintah yang jauh dari kampusnya, tapi “masuk angin” dengan kondisi tata kelola kampusnya sendiri yang mungkin tak kalah bobroknya. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak!

Lebih ironisnya, pemahaman akan prinsip kolegialisme dalam struktur kepemimpinan kampus banyak dipahami secara keliru. Perguruan tinggi sering disamakan dengan perusahaan yang sifat hubungan vertikalnya adalah manajerial—prinsip atasan bawahan. Jadi ketika seorang dosen terpilih menjadi pimpinan, seolah-olah segala titah dan perilakunya akan dianggap benar dan harus dipatuhi layaknya seorang bos perusahaan.

Padahal dalam konsep kolegialisme, pimpinan kampus bukan “majikan” dosen, melainkan sekadar dosen yang dipilih dan diberi tunjangan dalam periode terbatas untuk mengurusi administrasi, manajemen kampus, serta melayani dosen dan mahasiswa. Ketika masanya habis, maka pimpinan tersebut akan kembali menjadi dosen biasa yang duduk bersama secara sejajar di ruangan dosen.

Apa bedanya?

Prinsip kolegialisme menghalalkan kritik dan kebebasan akademik, sebaliknya prinsip manajerial, dalam batasan tertentu di kehidupan politik kampus, boleh dikatakan agak alergi terhadap kritik dan kebebasan akademik yang mengkritisi—atau setidaknya menyindir—berbagai kebijakan pimpinan yang dianggap kurang patut. Lagi-lagi, bisik-bisik bahwa mereka yang kritis cenderung “dipinggirkan” oleh pimpinan kampus, cukup santer terdengar. Bentuknya beragam, mulai dari mempersulit proses administrasi, mengurangi jam mengajar dan bimbingan mahasiswa, menghalangi keikutsertaan dalam sejumlah kegiatan, diskriminasi, mereduksi hak-hak tertentu namun disaat bersamaan memberatkan kewajiban, atau menghalangi karir struktural dan akademik dosen yang dianggap berseberangan dengan kebijakan pimpinan.

Dampaknya, terjadi perkubuan (in-group vs. out-group) dan silence behavior—sebuah kondisi dimana warga kampus lebih memilih diam (playing safe) ketika menyaksikan berbagai indikasi fraud, sexual abuse, moral hazard, tindakan inkompeten dan tidak professional, bahkan perilaku koruptif dari sejumlah oknum pimpinan kampus. Fenomena ini menjadi sebuah ironi ketika kampus yang identik sebagai pejuang dan penjaga demokrasi, justru menjadi institusi yang menghalangi demokrasi menyala di sendi-sendi kehidupan kampus.

Politisasi Rekrutmen dan Pengawasan

Tak ada asap jika tak ada api.

Tidak akan terjadi fakta-fakta di atas tanpa sebab. Ada dua mekanisme untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang professional dan berintegritas. Di hulu, melalui proses rekrutmen dan penempatan. Di hilir, melalui proses pengawasan. Di perguruan tinggi negeri (PTN), boleh dibilang proses tersebut lebih baik karena regulasi yang berlapis, bahkan hingga melibatkan pihak eksternal seperti inspektorat, BPK, KPK, kepolisian, dan kejaksaan. Hal ini dikarenakan pendanaan yang berasal dari negara dan status mayoritas SDM-nya adalah aparatur sipil negara (ASN). Tetapi jumlah PTN adalah minoritas, ± 10%-an dari total kampus di Indonesia yang mencapai 4000 lebih. Sisanya adalah swasta. Problematika rekrutmen dan pengawasan paling besar—namun jarang terungkap—ada di perguruan tinggi swasta (PTS), terutama yang berstatus medioker ke bawah.

 Mayoritas sistem rekrutmen pimpinan PTS dilakukan dengan mekanisme pemilihan senat akademik sebagai perumus kebijakan sekaligus bertindak sebagai pengawas jalannya proses akademik di perguruan tinggi. Celakanya, komposisi mayoritas senat akademik di banyak PTS justru didominasi oleh jajaran pimpinan incumbent akibat adanya sistem ­ex-officio di mana pimpinan-pimpinan di tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan/program studi, otomatis menjadi anggota senat akademik.

Bahkan tak jarang, rektor dan dekan sebagai kepala eksekutif pelaksana kebijakan sekaligus menjabat sebagai ketua senat akademik sebagai kepala pengawas pelaksanaan kebijakan pimpinan kampus. Regulasi mengharamkan kondisi ini pada PTN, tapi tidak pada PTS. Itu sama artinya, seorang presiden, gubernur atau bupati merangkap sebagai ketua DPR/DPRD. Alhasil, peta keanggotaan senat akademik, dari aspek suara, didominasi oleh para pimpinan itu sendiri. Sisanya ada yang dari utusan dosen, tapi jumlah suaranya relatif hanya sebagai “pelengkap penghibur” sistem politik demokratis kampus. Sebagian PTS mungkin memiliki utusan-utusan dari Dewan Guru Besar, namun jumlahnya sangat kecil mengingat banyak PTS menengah ke bawah masih kesulitan memiliki dosen berstatus Lektor Kepala hingga Guru Besar/Profesor.

Pola seperti ini berbeda dengan sistem demokrasi praktis one man one vote, karena aspirasi dosen dan mahasiswa dalam memilih pimpinan sangat mungkin berbeda dengan apa yang diinginkan oleh anggota senat akademik. Dosen pun tidak bisa “menghakimi” dan “menghukum” anggota senat akademik apabila “salah pilih” karena mayoritas keanggotaan senat akademik adalah ex-officio yang bukan dipilih oleh dosen. Sementara anggota senat akademik pilihan dosen mungkin hanya 1-2 orang per jurusan/program studi, yang itu pun di banyak PTS “diharamkan” menjadi ketua dan sekretaris senat akademik.

Dengan mekanisme “demokrasi semu” seperti itu akan sangat membuka peluang terjadinya politik transaksional di antara anggota senat akademik itu sendiri. Sinisme yang muncul adalah “siapa akan mendapatkan apa?” Sangat mungkin terjadi, pertimbangan rekrutmen dan penempatan calon pimpinan kampus tidak lagi didasarkan pada prinsip merit system yang mengutamakan kompetensi, kualitas kepemimpinan, dan rekam jejak meskipun calon tersebut notabene kritis terhadap berbagai kebijakan yang ada.

Tapi kan banyak juga pimpinan PTS yang bagus dan berkualitas.

Pasti! Tapi pokok permasalahannya bukan pada personal pimpinannya belaka, melainkan pada sistem. Faktanya, tidak semua manusia itu baik. Jangankan di institusi pendidikan tinggi, bahkan di institusi keagamaan pun ada cukup banyak oknum yang berperilaku buruk. Orang baik dalam pusaran sistem yang buruk, pun berpotensi untuk terkontaminasi keburukannya—minimal mendiamkan keburukan itu, karena memang sistemnya “menghalalkan” itu terus terjadi.

Sebaliknya, sistem yang baik akan menyaring dan menghalangi agar calon-calon yang buruk tidak bisa masuk ke dalam dan menguasai sistem tersebut. Kecemasan yang terbesar adalah, ketika sistem yang buruk merekrut dan menempatkan calon-calon yang buruk tersebut masuk dan menguasai sistem. Ketika ini terjadi, maka siklus keburukan akan berkelanjutan dan dipelihara karena sistem yang buruk itu memberikan kenyamanan bagi pimpinan-pimpinan yang sama buruknya.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Adagium Lord Acton (1834-1902), yang masih relevan hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak boleh terlalu kuat pada satu orang atau kelompok karena akan memicu potensi perilaku pemimpin yang sentralistik yang tidak terawasi secara seimbang. Kampus bukan kerajaan atau perusahaan. Bahkan Yayasan pendiri PTS pun diharamkan menjadi raja-raja yang bisa sesukanya memperlakukan kampus, karena lembaga pendidikan tinggi ini merupakan badan publik yang melaksanakan fungsi negara di bidang pendidikan. Kampus hanya tunduk pada peraturan perundang-undangan terkait—bukan “diskresi liar” pimpinan kampus atau Yayasan dan keluarga serta kroninya.

Komposisi pemerintahan kampus harus dikelola secara proporsional dengan pemisahan yang jelas antara pimpinan pelaksana (rektor, direktur, dekan) dengan pimpinan pengawas (senat akademik). Harus ada power balance yang bisa merumuskan dan mengawasi berbagai kebijakan kampus, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk dalam hal rekrutmen/penempatan pimpinan-pimpinan kampus.

Partisipasi dosen dan mahasiswa harus mendapatkan porsi yang memadai dalam proses pengawasan. Sentralisasi kekuasaan dikhawatirkan hanya akan menimbulkan pola transaksional di dalam lingkaran kekuasaan yang itu-itu saja, sehingga menegasikan urjensi mengedepankan merit system dalam praktik politik kampus yang professional dan berintegritas. Bukankah ini yang selalu kita ajarkan kepada mahasiswa di kelas? [T]

BACA artikel lain tentang PERGURUAN TINGGI

Model Tata Kelola Kolegial, Masihkah Tepat Mencegah Perilaku Koruptif di Perguruan Tinggi Swasta?
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Praktisi Mengajar: Solusi Ciptakan Kelas Kolaboratif dan Partisipatif
Tags: dosenkampusmahasiswaPendidikanPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Komunikasi

Next Post

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Afred Suci

Afred Suci

Pemerhati Integritas dan Profesionalitas Perguruan Tinggi

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co