13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Afred Suci by Afred Suci
May 3, 2024
in Opini
Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Ilustrasi tatkala | Dek Omo

Fakta-Fakta Yang (Seakan) Tabu Diungkap

Sudah menjadi kepercayaan publik bahwa perguruan tinggi merupakan sumber ilmu pengetahuan, teladan integritas, produsen budaya, atau pintu gerbang terakhir yang harus dilewati mahasiswa untuk menjadi profesional di dunia nyata kelak ketika tali toga mereka telah dipindahkan dari kiri ke kanan oleh pimpinan kampus, sebagai tanda mereka “siap” mengarungi dunia yang sebenarnya.

Banyak lagi istilah luar biasa yang dinisbatkan kepada perguruan tinggi sebagai bentuk pengakuan bahwa lembaga ini merupakan pembentuk keterampilan kognitif, mental, motorik, sekaligus spiritual bagi para mahasiswa untuk bisa sukses dengan perannya masing-masing di kehidupan.

Faktanya?

Sebagian kampus relatif berhasil mengeksekusi “tugas suci” tersebut, sebagiannya lagi—bahkan banyak yang menyatakan mayoritasnya—gagal. Skeptisme yang menyebutkan bahwa perguruan tinggi dewasa ini laiknya pabrik ijazah, menjadi kelaziman yang kerap terdengar. Konon, ada simbiosis mutualisme yang terjadi antara kampus dengan mahasiswa. Banyak mahasiswa—meskipun banyak juga yang tidak begitu—menginginkan proses perkuliahan yang “dimudahkan” dan nilai yang “dimurahkan” dari dosennya.

Demand yang cukup besar ini kemudian direspon secara pragmatis oleh kampus—dengan dalih hyper competition antar perguruan tinggi—dengan menggampangkan proses masuk/rekrutmen dan keluar/kelulusan mahasiswa. Bukan sekadar lulus tentu saja. Dengan dalih kebutuhan akreditasi, yang di antara poin “gemuk”nya adalah nilai rata-rata dan masa studi mahasiswa, dewasa ini nilai tiga koma lima ke atas nyaris menjadi nilai rata-rata kelulusan di banyak kampus—(maaf) khususnya swasta—yang kemudian secara semu dicap sebagai prestasi kampus.

Bahkan, jika satu-dua dekade lalu mahasiswa yang mampu mendapat predikat cum laude sangat langka, jangan heran jika saat ini predikat tersebut menjadi begitu mudahnya didapat. Daya magis cum laude seolah memudar. Bahkan ironisnya, tidak lagi aneh ketika kita mendengar ada dosen “ditegur” oleh pimpinan kampus ketika memberikan nilai rendah untuk mahasiswa.

Dari sisi integritas pengajarnya sendiri, bisik-bisik yang terdengar jelas di kalangan dosen mengatakan, cukup banyak dosen yang tidak cakap mengajar serta lemah dalam riset, cenderung boros nilai dan “malas” mengevaluasi hasil kerja mahasiswanya. Di kelas sekadar duduk mendengarkan mahasiswa presentasi, berkomentar berdasarkan opini pribadi, tidak didasarkan pada teori dan penelitian yang menjadi kepakaran ilmunya, lalu dengan begitu saja menyelesaikan sesi perkuliahan. Nyaris tidak ada ilmu yang ditransfer kepada mahasiswanya.

Yang lebih menggenaskan bahkan ada oknum dosen yang “membarter” nilai bagus kepada mahasiswa dengan tebusan beberapa puluh hingga ratusan ribu harga buku tulisan oknum dosen yang bersangkutan. Tak kalah ironis, dalam konteks kepemimpinan, tidak jarang mahasiswa merasa aneh ketika ada sejumlah dosen yang menurut pengamatan dan pengalaman mereka selama berinteraksi di kampus dianggap “tidak berkualitas” justru menduduki jabatan-jabatan penting di kampus yang di tangan mereka tergantung hidup matinya perguruan tinggi.

Konsekuensinya, ketika pimpinan kampus itu sendiri “tidak berkualitas”, bagaimana mungkin berharap mereka bisa menjadi teladan, mengonsolidasi kurikulum dan proses pembelajaran, serta mengawasi jalannya proses pembelajaran yang berkualitas?

Ini belum bicara soal fasilitas pembelajaran yang memprihatinkan, sementara uang pembangunan terus mengalir setiap tahun ke kocek kampus setiap tahun ajaran baru. Orientasi anggaran seolah-olah tidak diprioritaskan untuk mahasiswa sebagai kontributor finansial utama yang menggerakkan operasional kampus.

Dalam banyak kasus, mahasiswa bahkan tidak tahu kemana saja anggaran yang bersumber dari SPP/UKT yang mereka setorkan itu dibelanjakan oleh pimpinan kampus. Keterbukaan menjadi barang langka dan super mahal. Ironisnya, oknum pimpinan kampus ada yang dengan sengaja mengintervensi kepemimpinan organisasi mahasiswa atau memberikan iming-iming kepada oknum pejabat organisasi mahasiswa untuk “tidak bersuara” terhadap kondisi kampus.

Maka menjadi tidak mengherankan jika saat ini cukup banyak aktivis mahasiswa terkesan begitu garang mengkritik tata kelola pemerintah yang jauh dari kampusnya, tapi “masuk angin” dengan kondisi tata kelola kampusnya sendiri yang mungkin tak kalah bobroknya. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak!

Lebih ironisnya, pemahaman akan prinsip kolegialisme dalam struktur kepemimpinan kampus banyak dipahami secara keliru. Perguruan tinggi sering disamakan dengan perusahaan yang sifat hubungan vertikalnya adalah manajerial—prinsip atasan bawahan. Jadi ketika seorang dosen terpilih menjadi pimpinan, seolah-olah segala titah dan perilakunya akan dianggap benar dan harus dipatuhi layaknya seorang bos perusahaan.

Padahal dalam konsep kolegialisme, pimpinan kampus bukan “majikan” dosen, melainkan sekadar dosen yang dipilih dan diberi tunjangan dalam periode terbatas untuk mengurusi administrasi, manajemen kampus, serta melayani dosen dan mahasiswa. Ketika masanya habis, maka pimpinan tersebut akan kembali menjadi dosen biasa yang duduk bersama secara sejajar di ruangan dosen.

Apa bedanya?

Prinsip kolegialisme menghalalkan kritik dan kebebasan akademik, sebaliknya prinsip manajerial, dalam batasan tertentu di kehidupan politik kampus, boleh dikatakan agak alergi terhadap kritik dan kebebasan akademik yang mengkritisi—atau setidaknya menyindir—berbagai kebijakan pimpinan yang dianggap kurang patut. Lagi-lagi, bisik-bisik bahwa mereka yang kritis cenderung “dipinggirkan” oleh pimpinan kampus, cukup santer terdengar. Bentuknya beragam, mulai dari mempersulit proses administrasi, mengurangi jam mengajar dan bimbingan mahasiswa, menghalangi keikutsertaan dalam sejumlah kegiatan, diskriminasi, mereduksi hak-hak tertentu namun disaat bersamaan memberatkan kewajiban, atau menghalangi karir struktural dan akademik dosen yang dianggap berseberangan dengan kebijakan pimpinan.

Dampaknya, terjadi perkubuan (in-group vs. out-group) dan silence behavior—sebuah kondisi dimana warga kampus lebih memilih diam (playing safe) ketika menyaksikan berbagai indikasi fraud, sexual abuse, moral hazard, tindakan inkompeten dan tidak professional, bahkan perilaku koruptif dari sejumlah oknum pimpinan kampus. Fenomena ini menjadi sebuah ironi ketika kampus yang identik sebagai pejuang dan penjaga demokrasi, justru menjadi institusi yang menghalangi demokrasi menyala di sendi-sendi kehidupan kampus.

Politisasi Rekrutmen dan Pengawasan

Tak ada asap jika tak ada api.

Tidak akan terjadi fakta-fakta di atas tanpa sebab. Ada dua mekanisme untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang professional dan berintegritas. Di hulu, melalui proses rekrutmen dan penempatan. Di hilir, melalui proses pengawasan. Di perguruan tinggi negeri (PTN), boleh dibilang proses tersebut lebih baik karena regulasi yang berlapis, bahkan hingga melibatkan pihak eksternal seperti inspektorat, BPK, KPK, kepolisian, dan kejaksaan. Hal ini dikarenakan pendanaan yang berasal dari negara dan status mayoritas SDM-nya adalah aparatur sipil negara (ASN). Tetapi jumlah PTN adalah minoritas, ± 10%-an dari total kampus di Indonesia yang mencapai 4000 lebih. Sisanya adalah swasta. Problematika rekrutmen dan pengawasan paling besar—namun jarang terungkap—ada di perguruan tinggi swasta (PTS), terutama yang berstatus medioker ke bawah.

 Mayoritas sistem rekrutmen pimpinan PTS dilakukan dengan mekanisme pemilihan senat akademik sebagai perumus kebijakan sekaligus bertindak sebagai pengawas jalannya proses akademik di perguruan tinggi. Celakanya, komposisi mayoritas senat akademik di banyak PTS justru didominasi oleh jajaran pimpinan incumbent akibat adanya sistem ­ex-officio di mana pimpinan-pimpinan di tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan/program studi, otomatis menjadi anggota senat akademik.

Bahkan tak jarang, rektor dan dekan sebagai kepala eksekutif pelaksana kebijakan sekaligus menjabat sebagai ketua senat akademik sebagai kepala pengawas pelaksanaan kebijakan pimpinan kampus. Regulasi mengharamkan kondisi ini pada PTN, tapi tidak pada PTS. Itu sama artinya, seorang presiden, gubernur atau bupati merangkap sebagai ketua DPR/DPRD. Alhasil, peta keanggotaan senat akademik, dari aspek suara, didominasi oleh para pimpinan itu sendiri. Sisanya ada yang dari utusan dosen, tapi jumlah suaranya relatif hanya sebagai “pelengkap penghibur” sistem politik demokratis kampus. Sebagian PTS mungkin memiliki utusan-utusan dari Dewan Guru Besar, namun jumlahnya sangat kecil mengingat banyak PTS menengah ke bawah masih kesulitan memiliki dosen berstatus Lektor Kepala hingga Guru Besar/Profesor.

Pola seperti ini berbeda dengan sistem demokrasi praktis one man one vote, karena aspirasi dosen dan mahasiswa dalam memilih pimpinan sangat mungkin berbeda dengan apa yang diinginkan oleh anggota senat akademik. Dosen pun tidak bisa “menghakimi” dan “menghukum” anggota senat akademik apabila “salah pilih” karena mayoritas keanggotaan senat akademik adalah ex-officio yang bukan dipilih oleh dosen. Sementara anggota senat akademik pilihan dosen mungkin hanya 1-2 orang per jurusan/program studi, yang itu pun di banyak PTS “diharamkan” menjadi ketua dan sekretaris senat akademik.

Dengan mekanisme “demokrasi semu” seperti itu akan sangat membuka peluang terjadinya politik transaksional di antara anggota senat akademik itu sendiri. Sinisme yang muncul adalah “siapa akan mendapatkan apa?” Sangat mungkin terjadi, pertimbangan rekrutmen dan penempatan calon pimpinan kampus tidak lagi didasarkan pada prinsip merit system yang mengutamakan kompetensi, kualitas kepemimpinan, dan rekam jejak meskipun calon tersebut notabene kritis terhadap berbagai kebijakan yang ada.

Tapi kan banyak juga pimpinan PTS yang bagus dan berkualitas.

Pasti! Tapi pokok permasalahannya bukan pada personal pimpinannya belaka, melainkan pada sistem. Faktanya, tidak semua manusia itu baik. Jangankan di institusi pendidikan tinggi, bahkan di institusi keagamaan pun ada cukup banyak oknum yang berperilaku buruk. Orang baik dalam pusaran sistem yang buruk, pun berpotensi untuk terkontaminasi keburukannya—minimal mendiamkan keburukan itu, karena memang sistemnya “menghalalkan” itu terus terjadi.

Sebaliknya, sistem yang baik akan menyaring dan menghalangi agar calon-calon yang buruk tidak bisa masuk ke dalam dan menguasai sistem tersebut. Kecemasan yang terbesar adalah, ketika sistem yang buruk merekrut dan menempatkan calon-calon yang buruk tersebut masuk dan menguasai sistem. Ketika ini terjadi, maka siklus keburukan akan berkelanjutan dan dipelihara karena sistem yang buruk itu memberikan kenyamanan bagi pimpinan-pimpinan yang sama buruknya.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Adagium Lord Acton (1834-1902), yang masih relevan hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak boleh terlalu kuat pada satu orang atau kelompok karena akan memicu potensi perilaku pemimpin yang sentralistik yang tidak terawasi secara seimbang. Kampus bukan kerajaan atau perusahaan. Bahkan Yayasan pendiri PTS pun diharamkan menjadi raja-raja yang bisa sesukanya memperlakukan kampus, karena lembaga pendidikan tinggi ini merupakan badan publik yang melaksanakan fungsi negara di bidang pendidikan. Kampus hanya tunduk pada peraturan perundang-undangan terkait—bukan “diskresi liar” pimpinan kampus atau Yayasan dan keluarga serta kroninya.

Komposisi pemerintahan kampus harus dikelola secara proporsional dengan pemisahan yang jelas antara pimpinan pelaksana (rektor, direktur, dekan) dengan pimpinan pengawas (senat akademik). Harus ada power balance yang bisa merumuskan dan mengawasi berbagai kebijakan kampus, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk dalam hal rekrutmen/penempatan pimpinan-pimpinan kampus.

Partisipasi dosen dan mahasiswa harus mendapatkan porsi yang memadai dalam proses pengawasan. Sentralisasi kekuasaan dikhawatirkan hanya akan menimbulkan pola transaksional di dalam lingkaran kekuasaan yang itu-itu saja, sehingga menegasikan urjensi mengedepankan merit system dalam praktik politik kampus yang professional dan berintegritas. Bukankah ini yang selalu kita ajarkan kepada mahasiswa di kelas? [T]

BACA artikel lain tentang PERGURUAN TINGGI

Model Tata Kelola Kolegial, Masihkah Tepat Mencegah Perilaku Koruptif di Perguruan Tinggi Swasta?
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Praktisi Mengajar: Solusi Ciptakan Kelas Kolaboratif dan Partisipatif
Tags: dosenkampusmahasiswaPendidikanPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Komunikasi

Next Post

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Afred Suci

Afred Suci

Pemerhati Integritas dan Profesionalitas Perguruan Tinggi

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co