12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Afred Suci by Afred Suci
May 3, 2024
in Opini
Sekelumit Ironi di Balik Tembok Perguruan Tinggi

Ilustrasi tatkala | Dek Omo

Fakta-Fakta Yang (Seakan) Tabu Diungkap

Sudah menjadi kepercayaan publik bahwa perguruan tinggi merupakan sumber ilmu pengetahuan, teladan integritas, produsen budaya, atau pintu gerbang terakhir yang harus dilewati mahasiswa untuk menjadi profesional di dunia nyata kelak ketika tali toga mereka telah dipindahkan dari kiri ke kanan oleh pimpinan kampus, sebagai tanda mereka “siap” mengarungi dunia yang sebenarnya.

Banyak lagi istilah luar biasa yang dinisbatkan kepada perguruan tinggi sebagai bentuk pengakuan bahwa lembaga ini merupakan pembentuk keterampilan kognitif, mental, motorik, sekaligus spiritual bagi para mahasiswa untuk bisa sukses dengan perannya masing-masing di kehidupan.

Faktanya?

Sebagian kampus relatif berhasil mengeksekusi “tugas suci” tersebut, sebagiannya lagi—bahkan banyak yang menyatakan mayoritasnya—gagal. Skeptisme yang menyebutkan bahwa perguruan tinggi dewasa ini laiknya pabrik ijazah, menjadi kelaziman yang kerap terdengar. Konon, ada simbiosis mutualisme yang terjadi antara kampus dengan mahasiswa. Banyak mahasiswa—meskipun banyak juga yang tidak begitu—menginginkan proses perkuliahan yang “dimudahkan” dan nilai yang “dimurahkan” dari dosennya.

Demand yang cukup besar ini kemudian direspon secara pragmatis oleh kampus—dengan dalih hyper competition antar perguruan tinggi—dengan menggampangkan proses masuk/rekrutmen dan keluar/kelulusan mahasiswa. Bukan sekadar lulus tentu saja. Dengan dalih kebutuhan akreditasi, yang di antara poin “gemuk”nya adalah nilai rata-rata dan masa studi mahasiswa, dewasa ini nilai tiga koma lima ke atas nyaris menjadi nilai rata-rata kelulusan di banyak kampus—(maaf) khususnya swasta—yang kemudian secara semu dicap sebagai prestasi kampus.

Bahkan, jika satu-dua dekade lalu mahasiswa yang mampu mendapat predikat cum laude sangat langka, jangan heran jika saat ini predikat tersebut menjadi begitu mudahnya didapat. Daya magis cum laude seolah memudar. Bahkan ironisnya, tidak lagi aneh ketika kita mendengar ada dosen “ditegur” oleh pimpinan kampus ketika memberikan nilai rendah untuk mahasiswa.

Dari sisi integritas pengajarnya sendiri, bisik-bisik yang terdengar jelas di kalangan dosen mengatakan, cukup banyak dosen yang tidak cakap mengajar serta lemah dalam riset, cenderung boros nilai dan “malas” mengevaluasi hasil kerja mahasiswanya. Di kelas sekadar duduk mendengarkan mahasiswa presentasi, berkomentar berdasarkan opini pribadi, tidak didasarkan pada teori dan penelitian yang menjadi kepakaran ilmunya, lalu dengan begitu saja menyelesaikan sesi perkuliahan. Nyaris tidak ada ilmu yang ditransfer kepada mahasiswanya.

Yang lebih menggenaskan bahkan ada oknum dosen yang “membarter” nilai bagus kepada mahasiswa dengan tebusan beberapa puluh hingga ratusan ribu harga buku tulisan oknum dosen yang bersangkutan. Tak kalah ironis, dalam konteks kepemimpinan, tidak jarang mahasiswa merasa aneh ketika ada sejumlah dosen yang menurut pengamatan dan pengalaman mereka selama berinteraksi di kampus dianggap “tidak berkualitas” justru menduduki jabatan-jabatan penting di kampus yang di tangan mereka tergantung hidup matinya perguruan tinggi.

Konsekuensinya, ketika pimpinan kampus itu sendiri “tidak berkualitas”, bagaimana mungkin berharap mereka bisa menjadi teladan, mengonsolidasi kurikulum dan proses pembelajaran, serta mengawasi jalannya proses pembelajaran yang berkualitas?

Ini belum bicara soal fasilitas pembelajaran yang memprihatinkan, sementara uang pembangunan terus mengalir setiap tahun ke kocek kampus setiap tahun ajaran baru. Orientasi anggaran seolah-olah tidak diprioritaskan untuk mahasiswa sebagai kontributor finansial utama yang menggerakkan operasional kampus.

Dalam banyak kasus, mahasiswa bahkan tidak tahu kemana saja anggaran yang bersumber dari SPP/UKT yang mereka setorkan itu dibelanjakan oleh pimpinan kampus. Keterbukaan menjadi barang langka dan super mahal. Ironisnya, oknum pimpinan kampus ada yang dengan sengaja mengintervensi kepemimpinan organisasi mahasiswa atau memberikan iming-iming kepada oknum pejabat organisasi mahasiswa untuk “tidak bersuara” terhadap kondisi kampus.

Maka menjadi tidak mengherankan jika saat ini cukup banyak aktivis mahasiswa terkesan begitu garang mengkritik tata kelola pemerintah yang jauh dari kampusnya, tapi “masuk angin” dengan kondisi tata kelola kampusnya sendiri yang mungkin tak kalah bobroknya. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak!

Lebih ironisnya, pemahaman akan prinsip kolegialisme dalam struktur kepemimpinan kampus banyak dipahami secara keliru. Perguruan tinggi sering disamakan dengan perusahaan yang sifat hubungan vertikalnya adalah manajerial—prinsip atasan bawahan. Jadi ketika seorang dosen terpilih menjadi pimpinan, seolah-olah segala titah dan perilakunya akan dianggap benar dan harus dipatuhi layaknya seorang bos perusahaan.

Padahal dalam konsep kolegialisme, pimpinan kampus bukan “majikan” dosen, melainkan sekadar dosen yang dipilih dan diberi tunjangan dalam periode terbatas untuk mengurusi administrasi, manajemen kampus, serta melayani dosen dan mahasiswa. Ketika masanya habis, maka pimpinan tersebut akan kembali menjadi dosen biasa yang duduk bersama secara sejajar di ruangan dosen.

Apa bedanya?

Prinsip kolegialisme menghalalkan kritik dan kebebasan akademik, sebaliknya prinsip manajerial, dalam batasan tertentu di kehidupan politik kampus, boleh dikatakan agak alergi terhadap kritik dan kebebasan akademik yang mengkritisi—atau setidaknya menyindir—berbagai kebijakan pimpinan yang dianggap kurang patut. Lagi-lagi, bisik-bisik bahwa mereka yang kritis cenderung “dipinggirkan” oleh pimpinan kampus, cukup santer terdengar. Bentuknya beragam, mulai dari mempersulit proses administrasi, mengurangi jam mengajar dan bimbingan mahasiswa, menghalangi keikutsertaan dalam sejumlah kegiatan, diskriminasi, mereduksi hak-hak tertentu namun disaat bersamaan memberatkan kewajiban, atau menghalangi karir struktural dan akademik dosen yang dianggap berseberangan dengan kebijakan pimpinan.

Dampaknya, terjadi perkubuan (in-group vs. out-group) dan silence behavior—sebuah kondisi dimana warga kampus lebih memilih diam (playing safe) ketika menyaksikan berbagai indikasi fraud, sexual abuse, moral hazard, tindakan inkompeten dan tidak professional, bahkan perilaku koruptif dari sejumlah oknum pimpinan kampus. Fenomena ini menjadi sebuah ironi ketika kampus yang identik sebagai pejuang dan penjaga demokrasi, justru menjadi institusi yang menghalangi demokrasi menyala di sendi-sendi kehidupan kampus.

Politisasi Rekrutmen dan Pengawasan

Tak ada asap jika tak ada api.

Tidak akan terjadi fakta-fakta di atas tanpa sebab. Ada dua mekanisme untuk mendapatkan sumberdaya manusia yang professional dan berintegritas. Di hulu, melalui proses rekrutmen dan penempatan. Di hilir, melalui proses pengawasan. Di perguruan tinggi negeri (PTN), boleh dibilang proses tersebut lebih baik karena regulasi yang berlapis, bahkan hingga melibatkan pihak eksternal seperti inspektorat, BPK, KPK, kepolisian, dan kejaksaan. Hal ini dikarenakan pendanaan yang berasal dari negara dan status mayoritas SDM-nya adalah aparatur sipil negara (ASN). Tetapi jumlah PTN adalah minoritas, ± 10%-an dari total kampus di Indonesia yang mencapai 4000 lebih. Sisanya adalah swasta. Problematika rekrutmen dan pengawasan paling besar—namun jarang terungkap—ada di perguruan tinggi swasta (PTS), terutama yang berstatus medioker ke bawah.

 Mayoritas sistem rekrutmen pimpinan PTS dilakukan dengan mekanisme pemilihan senat akademik sebagai perumus kebijakan sekaligus bertindak sebagai pengawas jalannya proses akademik di perguruan tinggi. Celakanya, komposisi mayoritas senat akademik di banyak PTS justru didominasi oleh jajaran pimpinan incumbent akibat adanya sistem ­ex-officio di mana pimpinan-pimpinan di tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan/program studi, otomatis menjadi anggota senat akademik.

Bahkan tak jarang, rektor dan dekan sebagai kepala eksekutif pelaksana kebijakan sekaligus menjabat sebagai ketua senat akademik sebagai kepala pengawas pelaksanaan kebijakan pimpinan kampus. Regulasi mengharamkan kondisi ini pada PTN, tapi tidak pada PTS. Itu sama artinya, seorang presiden, gubernur atau bupati merangkap sebagai ketua DPR/DPRD. Alhasil, peta keanggotaan senat akademik, dari aspek suara, didominasi oleh para pimpinan itu sendiri. Sisanya ada yang dari utusan dosen, tapi jumlah suaranya relatif hanya sebagai “pelengkap penghibur” sistem politik demokratis kampus. Sebagian PTS mungkin memiliki utusan-utusan dari Dewan Guru Besar, namun jumlahnya sangat kecil mengingat banyak PTS menengah ke bawah masih kesulitan memiliki dosen berstatus Lektor Kepala hingga Guru Besar/Profesor.

Pola seperti ini berbeda dengan sistem demokrasi praktis one man one vote, karena aspirasi dosen dan mahasiswa dalam memilih pimpinan sangat mungkin berbeda dengan apa yang diinginkan oleh anggota senat akademik. Dosen pun tidak bisa “menghakimi” dan “menghukum” anggota senat akademik apabila “salah pilih” karena mayoritas keanggotaan senat akademik adalah ex-officio yang bukan dipilih oleh dosen. Sementara anggota senat akademik pilihan dosen mungkin hanya 1-2 orang per jurusan/program studi, yang itu pun di banyak PTS “diharamkan” menjadi ketua dan sekretaris senat akademik.

Dengan mekanisme “demokrasi semu” seperti itu akan sangat membuka peluang terjadinya politik transaksional di antara anggota senat akademik itu sendiri. Sinisme yang muncul adalah “siapa akan mendapatkan apa?” Sangat mungkin terjadi, pertimbangan rekrutmen dan penempatan calon pimpinan kampus tidak lagi didasarkan pada prinsip merit system yang mengutamakan kompetensi, kualitas kepemimpinan, dan rekam jejak meskipun calon tersebut notabene kritis terhadap berbagai kebijakan yang ada.

Tapi kan banyak juga pimpinan PTS yang bagus dan berkualitas.

Pasti! Tapi pokok permasalahannya bukan pada personal pimpinannya belaka, melainkan pada sistem. Faktanya, tidak semua manusia itu baik. Jangankan di institusi pendidikan tinggi, bahkan di institusi keagamaan pun ada cukup banyak oknum yang berperilaku buruk. Orang baik dalam pusaran sistem yang buruk, pun berpotensi untuk terkontaminasi keburukannya—minimal mendiamkan keburukan itu, karena memang sistemnya “menghalalkan” itu terus terjadi.

Sebaliknya, sistem yang baik akan menyaring dan menghalangi agar calon-calon yang buruk tidak bisa masuk ke dalam dan menguasai sistem tersebut. Kecemasan yang terbesar adalah, ketika sistem yang buruk merekrut dan menempatkan calon-calon yang buruk tersebut masuk dan menguasai sistem. Ketika ini terjadi, maka siklus keburukan akan berkelanjutan dan dipelihara karena sistem yang buruk itu memberikan kenyamanan bagi pimpinan-pimpinan yang sama buruknya.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Adagium Lord Acton (1834-1902), yang masih relevan hingga hari ini, mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak boleh terlalu kuat pada satu orang atau kelompok karena akan memicu potensi perilaku pemimpin yang sentralistik yang tidak terawasi secara seimbang. Kampus bukan kerajaan atau perusahaan. Bahkan Yayasan pendiri PTS pun diharamkan menjadi raja-raja yang bisa sesukanya memperlakukan kampus, karena lembaga pendidikan tinggi ini merupakan badan publik yang melaksanakan fungsi negara di bidang pendidikan. Kampus hanya tunduk pada peraturan perundang-undangan terkait—bukan “diskresi liar” pimpinan kampus atau Yayasan dan keluarga serta kroninya.

Komposisi pemerintahan kampus harus dikelola secara proporsional dengan pemisahan yang jelas antara pimpinan pelaksana (rektor, direktur, dekan) dengan pimpinan pengawas (senat akademik). Harus ada power balance yang bisa merumuskan dan mengawasi berbagai kebijakan kampus, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk dalam hal rekrutmen/penempatan pimpinan-pimpinan kampus.

Partisipasi dosen dan mahasiswa harus mendapatkan porsi yang memadai dalam proses pengawasan. Sentralisasi kekuasaan dikhawatirkan hanya akan menimbulkan pola transaksional di dalam lingkaran kekuasaan yang itu-itu saja, sehingga menegasikan urjensi mengedepankan merit system dalam praktik politik kampus yang professional dan berintegritas. Bukankah ini yang selalu kita ajarkan kepada mahasiswa di kelas? [T]

BACA artikel lain tentang PERGURUAN TINGGI

Model Tata Kelola Kolegial, Masihkah Tepat Mencegah Perilaku Koruptif di Perguruan Tinggi Swasta?
Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Hindu, Untuk Apa?
Praktisi Mengajar: Solusi Ciptakan Kelas Kolaboratif dan Partisipatif
Tags: dosenkampusmahasiswaPendidikanPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Komunikasi

Next Post

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Afred Suci

Afred Suci

Pemerhati Integritas dan Profesionalitas Perguruan Tinggi

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Membaca Marya dari Masa Depan: Catatan Berkunjung ke Rumah Peninggalan I Ketut Marya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co