5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Kardian Narayana by Kardian Narayana
April 3, 2024
in Opini
Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Foto ilustrasi : Kardian Narayana

SAYA semakin tidak bisa menahan keresahan pascaperistiwa batalnya Gong Kebyar Mebarung tampil di puncak acara HUT Kota Singaraja ke 420, Sabtu, 30 Maret 2024, di GOR Bhuana Patra Buleleng Bali. Saya sangat terganggung dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, dan pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng. Ini kutipannya:

“Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan sejak tahun lalu selalu memberikan proritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta sell memberikan ruang untuk tampil”

Pertama, terkait dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, yang terdiri dari 4 poin itu. Redaksi point 1 sangat menggangu pikiran saya sejak pernyataan ini resmi dirilis.

“Pemkab Buleleng berkomitmen semenjak kegiatan HUT Kota Singaraja tahun lalu untuk memberikan ruang kepada kesenian lokal buleleng pada event yang digelar pemerintah agar lebih memotivasi untuk tampil dan dikenal oleh masyarakat umum. “

Jika memang memberikan ruang kepada kesenian lokal (seni tradisional) seharusnya sudah diberikan sejak pada poster acara. Poster acara adalah ruang publikasi dan promosi. Lihat saja kesenian lokal (seni tradisional) hanya mendapatkan ruang yang sedikit dan dominan pada posisinya paling bawah. Gambarnya tidak lebih besar dari pengisi acara lainnya.

Selain itu, kenapa tidak pernah terpikirkan untuk memasang foto tokoh seni legendaris dalam poster, misalnya tokoh legendaris karawitan Bali asal Desa Jagaraga Made Kranca, cucu dari Pan Wandres, yang mengembangkan tari Kebyar Legong yang kemudian dimodifikasi kembali oleh Gde Manik, sehingga tercipta Tari Teruna Jaya. (baca : https://tatkala.co/2024/04/02/di-tengah-kisruh-itu-terseliplah-made-kranca-maestro-karawitan-yang-barangkali-tak-banyak-dikenal/)

Itu dari foto, kita lanjutkan pada tulisan nama tabuh dan tari yang akan ditampilkan, mengunakan warna putih sehingga kurang mencolok dan sulit dibaca. Ini menandakan, kurana seriusnya pemerintah dalam memberikan ruang promosi kepada kesenian lokal.

Masih tentang publikasi dan promosi digital. Penampil kesenian lokal, setahu saya tidak dibuatkan flayer digital per satu sekaa. Sangat berbeda dengan para pengisi acara lainnya, sepertinya satu persatu dibuatkan oleh panitia.

Terkait publikasi dan promosi, saya rasa sudah cukup. Next, tentang rundown umum yang saya dapat di media sosial. Penampilan kesenian tradisional selalu pada pukul 19.00-20.00 Wita. Sejak awal memang diposisikan tidak di primetime.

Dari informasi yang saya kumpulkan, panitia melakukan evaluasi rundown acara, berdasarkan kondisi dari hari 1-4, seni tradisional selalu sedikit penonton, dan akhirnya pada hari ke-5, Mebarung Gong Legendaris diletakkan pada primetime pukul 20.00-22.00 Wita. Namun apa daya peristiwa itu pun (batal pentas) terjadi.

Sekarang kita bicara tentang ruang panggung. Panggung HUT ke-420 Kota Singaraja, sesungguhnya tidak ideal untuk pementasan kesenian lokal. Posisi Sekaa Gong yang tampil berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Posisi Sekaa Gong tertutup oleh videotron yang juga berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Dari depan penonton tidak dapat melihat secara keseluruhan anggota sekaa yang tampil. Di mana memberikan ruangnya?

Walau seperti itu, sepertinya panitia sudah memikirkan solusinya dengan menggunakan kamera terhubung ke videotron sebagai pengganti mata, untuk melihat aksi panggung penabuh.

Sayangnya, kamera yang disiapkan hanya 4 buah. Satu kamera berada di ruang master control yang fungsinya untuk gambar wide shoot, satu kamera di kanan panggung, satu di kiri panggung, dan satu kamera moving dengan stabiliser. Kondisi ini pasti sangat tidak memuaskan mata penonton.

Menurut saya, dengan kondisi panggung seperti itu, seharusnya disiapkan minimal 7 kamera. Satu kamera dari master kontrol untuk very wide shot, satu kamera untuk wide shoot, dua kamera di kanan-kiri setiap sekaa gong dan satu kamera untuk moving. Dengan jumlah perangkat yang memadai maka detail penampil dapat ditampilkan dengan baik di videotron. Kayang song cunguhne ngenah.

Tampilan visual videotron pada sayap kanan-kiri pun sangat tidak menarik, karena setingannya kacau. Visual dipaksakan fullscreen, sehingga penampil di panggung terlihat lonjong pada videotrone. Ini seperti menonton layar video tahun 90-an saat baru mengenal komputer.

Itu catatan saya tentang redaksi point 1 pernyataan resmi Pemkab Buleleng yang sangat menggangu pikiran.

Hal kedua yang juga menganganggu pikiran, pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng, “Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan dari tahun lalu selalu memberikan prioritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta selalu memberikan ruang untuk tampil,”

Pelaku seni secara umum dapat diartikan orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan seni yang telah diciptakan oleh seorang seniman.

Seniman/se·ni·man/ n orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, dan sebagainya);

Adat n aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala:

Musisi ; musikus/mu·si·kus/ n orang yang mencipta, memimpin, atau menampilkan musik; pencipta atau pemain musik.

Dari pernyataan itu, menurut saya Pemkab Buleleng di kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana hanya memproritaskan seni tradisional dan musisi (mungkin yang dimaksud musik modern, seperti band). Jika memproritaskan seni tradisional seharusnya, catatan saya di atas tidak terjadi. Tidak ada Gong Kebyar yang batal pentas.

Jika proritas seni tradisional kenapa hanya gong kebyar? Kenapa rengganis tidak mendapatkan ruang? Kenapa wayang tidak mendapatkan ruang? Kenapa seni rupa ukiran khas Buleleng tidak mendapatkan ruang, misalnya dengan menggelar pameran seni rupa? Dan, kenapa, kenapa lainnya.

Terkait musisi (mungkin yang dimaksud seperti band), kembali lagi saya mempertanyakan kenapa hanya mereka? Hanya band populer yang mendapatkan ruang? Bagaimana dengan band yang punya segmen khusus, dan karya mereka berkualitas? Bagaimana dengan seniman modern lainnya? Apakah setidak menarik itu?

Memang sih, saat ini jangankan untuk menjadi proritas, perhatian saja minim. Ini yang saya rasakan sendiri sebagai pengiat film di Buleleng Bali. Film masuk sebagai Seni Media Baru kategori yang terus berubah. Hal-hal seni mencakup Video, Fotografi, Media Berbasis Lensa, Teknologi Digital, Teknologi Audio, dan yang lainnya.

Jika bicara tentang perfilman, Buleleng mempunyai sejarah yang sangat kuat. Orang Bali pertama yang membuat film berasal dari Buleleng yaitu Anak Agung Panji Tisna. Nama beliau tercatat dalam Katalog Film Indonesia 1926-1995. Di dalam buku itu tertulis, Judul, Sukreni Gadis Bali, Adaptasi dari novel. Tahun Produksi 1955. Produksi Bali Film Ltd. Pemain Sudhaini, Made Dharmini, Sudharsa. Dengan menghabiskan biaya sekitar Rp. 900.000, dengan perbandingan saat itu harga emas Rp. 30. Jika sekarang harga emas Rp.1.256.000, mungkin biaya produksinya mencapai puluhan milyar rupiah.

Selain itu, Buleleng juga sempat mengalami kejayaan bioskop. Tercatat di Buleleng pernah ada 7 bioskop dari Celukan Bawang-Tamblang. Sekarang satu pun tak ada.

Saya sebagai penggiat film dengan Komunitas Singaraja Menonton, tidak berharap lagi pemerintah akan mencarikan investor mendirikan bioskop atau sekedar ruang micro cinema (mini bioskop) di Buleleng. Karena, seni yang kami tekuni sepertinya bukan prioritas Pemkab Buleleng pada era kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana. Mungkin di kepemimpinan ke depan atau juga sama saja. [T]

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
Di Tengah Kisruh Itu, Terseliplah Made Kranca, Maestro Karawitan yang Barangkali Tak Banyak Dikenal
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Tags: HUT Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya

Next Post

Komunikasi Struktural di Era Digital

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Struktural di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co