15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Kardian Narayana by Kardian Narayana
April 3, 2024
in Opini
Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Foto ilustrasi : Kardian Narayana

SAYA semakin tidak bisa menahan keresahan pascaperistiwa batalnya Gong Kebyar Mebarung tampil di puncak acara HUT Kota Singaraja ke 420, Sabtu, 30 Maret 2024, di GOR Bhuana Patra Buleleng Bali. Saya sangat terganggung dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, dan pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng. Ini kutipannya:

“Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan sejak tahun lalu selalu memberikan proritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta sell memberikan ruang untuk tampil”

Pertama, terkait dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, yang terdiri dari 4 poin itu. Redaksi point 1 sangat menggangu pikiran saya sejak pernyataan ini resmi dirilis.

“Pemkab Buleleng berkomitmen semenjak kegiatan HUT Kota Singaraja tahun lalu untuk memberikan ruang kepada kesenian lokal buleleng pada event yang digelar pemerintah agar lebih memotivasi untuk tampil dan dikenal oleh masyarakat umum. “

Jika memang memberikan ruang kepada kesenian lokal (seni tradisional) seharusnya sudah diberikan sejak pada poster acara. Poster acara adalah ruang publikasi dan promosi. Lihat saja kesenian lokal (seni tradisional) hanya mendapatkan ruang yang sedikit dan dominan pada posisinya paling bawah. Gambarnya tidak lebih besar dari pengisi acara lainnya.

Selain itu, kenapa tidak pernah terpikirkan untuk memasang foto tokoh seni legendaris dalam poster, misalnya tokoh legendaris karawitan Bali asal Desa Jagaraga Made Kranca, cucu dari Pan Wandres, yang mengembangkan tari Kebyar Legong yang kemudian dimodifikasi kembali oleh Gde Manik, sehingga tercipta Tari Teruna Jaya. (baca : https://tatkala.co/2024/04/02/di-tengah-kisruh-itu-terseliplah-made-kranca-maestro-karawitan-yang-barangkali-tak-banyak-dikenal/)

Itu dari foto, kita lanjutkan pada tulisan nama tabuh dan tari yang akan ditampilkan, mengunakan warna putih sehingga kurang mencolok dan sulit dibaca. Ini menandakan, kurana seriusnya pemerintah dalam memberikan ruang promosi kepada kesenian lokal.

Masih tentang publikasi dan promosi digital. Penampil kesenian lokal, setahu saya tidak dibuatkan flayer digital per satu sekaa. Sangat berbeda dengan para pengisi acara lainnya, sepertinya satu persatu dibuatkan oleh panitia.

Terkait publikasi dan promosi, saya rasa sudah cukup. Next, tentang rundown umum yang saya dapat di media sosial. Penampilan kesenian tradisional selalu pada pukul 19.00-20.00 Wita. Sejak awal memang diposisikan tidak di primetime.

Dari informasi yang saya kumpulkan, panitia melakukan evaluasi rundown acara, berdasarkan kondisi dari hari 1-4, seni tradisional selalu sedikit penonton, dan akhirnya pada hari ke-5, Mebarung Gong Legendaris diletakkan pada primetime pukul 20.00-22.00 Wita. Namun apa daya peristiwa itu pun (batal pentas) terjadi.

Sekarang kita bicara tentang ruang panggung. Panggung HUT ke-420 Kota Singaraja, sesungguhnya tidak ideal untuk pementasan kesenian lokal. Posisi Sekaa Gong yang tampil berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Posisi Sekaa Gong tertutup oleh videotron yang juga berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Dari depan penonton tidak dapat melihat secara keseluruhan anggota sekaa yang tampil. Di mana memberikan ruangnya?

Walau seperti itu, sepertinya panitia sudah memikirkan solusinya dengan menggunakan kamera terhubung ke videotron sebagai pengganti mata, untuk melihat aksi panggung penabuh.

Sayangnya, kamera yang disiapkan hanya 4 buah. Satu kamera berada di ruang master control yang fungsinya untuk gambar wide shoot, satu kamera di kanan panggung, satu di kiri panggung, dan satu kamera moving dengan stabiliser. Kondisi ini pasti sangat tidak memuaskan mata penonton.

Menurut saya, dengan kondisi panggung seperti itu, seharusnya disiapkan minimal 7 kamera. Satu kamera dari master kontrol untuk very wide shot, satu kamera untuk wide shoot, dua kamera di kanan-kiri setiap sekaa gong dan satu kamera untuk moving. Dengan jumlah perangkat yang memadai maka detail penampil dapat ditampilkan dengan baik di videotron. Kayang song cunguhne ngenah.

Tampilan visual videotron pada sayap kanan-kiri pun sangat tidak menarik, karena setingannya kacau. Visual dipaksakan fullscreen, sehingga penampil di panggung terlihat lonjong pada videotrone. Ini seperti menonton layar video tahun 90-an saat baru mengenal komputer.

Itu catatan saya tentang redaksi point 1 pernyataan resmi Pemkab Buleleng yang sangat menggangu pikiran.

Hal kedua yang juga menganganggu pikiran, pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng, “Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan dari tahun lalu selalu memberikan prioritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta selalu memberikan ruang untuk tampil,”

Pelaku seni secara umum dapat diartikan orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan seni yang telah diciptakan oleh seorang seniman.

Seniman/se·ni·man/ n orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, dan sebagainya);

Adat n aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala:

Musisi ; musikus/mu·si·kus/ n orang yang mencipta, memimpin, atau menampilkan musik; pencipta atau pemain musik.

Dari pernyataan itu, menurut saya Pemkab Buleleng di kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana hanya memproritaskan seni tradisional dan musisi (mungkin yang dimaksud musik modern, seperti band). Jika memproritaskan seni tradisional seharusnya, catatan saya di atas tidak terjadi. Tidak ada Gong Kebyar yang batal pentas.

Jika proritas seni tradisional kenapa hanya gong kebyar? Kenapa rengganis tidak mendapatkan ruang? Kenapa wayang tidak mendapatkan ruang? Kenapa seni rupa ukiran khas Buleleng tidak mendapatkan ruang, misalnya dengan menggelar pameran seni rupa? Dan, kenapa, kenapa lainnya.

Terkait musisi (mungkin yang dimaksud seperti band), kembali lagi saya mempertanyakan kenapa hanya mereka? Hanya band populer yang mendapatkan ruang? Bagaimana dengan band yang punya segmen khusus, dan karya mereka berkualitas? Bagaimana dengan seniman modern lainnya? Apakah setidak menarik itu?

Memang sih, saat ini jangankan untuk menjadi proritas, perhatian saja minim. Ini yang saya rasakan sendiri sebagai pengiat film di Buleleng Bali. Film masuk sebagai Seni Media Baru kategori yang terus berubah. Hal-hal seni mencakup Video, Fotografi, Media Berbasis Lensa, Teknologi Digital, Teknologi Audio, dan yang lainnya.

Jika bicara tentang perfilman, Buleleng mempunyai sejarah yang sangat kuat. Orang Bali pertama yang membuat film berasal dari Buleleng yaitu Anak Agung Panji Tisna. Nama beliau tercatat dalam Katalog Film Indonesia 1926-1995. Di dalam buku itu tertulis, Judul, Sukreni Gadis Bali, Adaptasi dari novel. Tahun Produksi 1955. Produksi Bali Film Ltd. Pemain Sudhaini, Made Dharmini, Sudharsa. Dengan menghabiskan biaya sekitar Rp. 900.000, dengan perbandingan saat itu harga emas Rp. 30. Jika sekarang harga emas Rp.1.256.000, mungkin biaya produksinya mencapai puluhan milyar rupiah.

Selain itu, Buleleng juga sempat mengalami kejayaan bioskop. Tercatat di Buleleng pernah ada 7 bioskop dari Celukan Bawang-Tamblang. Sekarang satu pun tak ada.

Saya sebagai penggiat film dengan Komunitas Singaraja Menonton, tidak berharap lagi pemerintah akan mencarikan investor mendirikan bioskop atau sekedar ruang micro cinema (mini bioskop) di Buleleng. Karena, seni yang kami tekuni sepertinya bukan prioritas Pemkab Buleleng pada era kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana. Mungkin di kepemimpinan ke depan atau juga sama saja. [T]

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
Di Tengah Kisruh Itu, Terseliplah Made Kranca, Maestro Karawitan yang Barangkali Tak Banyak Dikenal
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Tags: HUT Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya

Next Post

Komunikasi Struktural di Era Digital

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Struktural di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co