13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Kardian Narayana by Kardian Narayana
April 3, 2024
in Opini
Selalu Memberikan Ruang Pelaku Seni, Adat dan Musisi; Itu Pernyataan Klise

Foto ilustrasi : Kardian Narayana

SAYA semakin tidak bisa menahan keresahan pascaperistiwa batalnya Gong Kebyar Mebarung tampil di puncak acara HUT Kota Singaraja ke 420, Sabtu, 30 Maret 2024, di GOR Bhuana Patra Buleleng Bali. Saya sangat terganggung dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, dan pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng. Ini kutipannya:

“Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan sejak tahun lalu selalu memberikan proritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta sell memberikan ruang untuk tampil”

Pertama, terkait dengan redaksi klarifikasi pernyataan resmi Pemkab Buleleng, yang terdiri dari 4 poin itu. Redaksi point 1 sangat menggangu pikiran saya sejak pernyataan ini resmi dirilis.

“Pemkab Buleleng berkomitmen semenjak kegiatan HUT Kota Singaraja tahun lalu untuk memberikan ruang kepada kesenian lokal buleleng pada event yang digelar pemerintah agar lebih memotivasi untuk tampil dan dikenal oleh masyarakat umum. “

Jika memang memberikan ruang kepada kesenian lokal (seni tradisional) seharusnya sudah diberikan sejak pada poster acara. Poster acara adalah ruang publikasi dan promosi. Lihat saja kesenian lokal (seni tradisional) hanya mendapatkan ruang yang sedikit dan dominan pada posisinya paling bawah. Gambarnya tidak lebih besar dari pengisi acara lainnya.

Selain itu, kenapa tidak pernah terpikirkan untuk memasang foto tokoh seni legendaris dalam poster, misalnya tokoh legendaris karawitan Bali asal Desa Jagaraga Made Kranca, cucu dari Pan Wandres, yang mengembangkan tari Kebyar Legong yang kemudian dimodifikasi kembali oleh Gde Manik, sehingga tercipta Tari Teruna Jaya. (baca : https://tatkala.co/2024/04/02/di-tengah-kisruh-itu-terseliplah-made-kranca-maestro-karawitan-yang-barangkali-tak-banyak-dikenal/)

Itu dari foto, kita lanjutkan pada tulisan nama tabuh dan tari yang akan ditampilkan, mengunakan warna putih sehingga kurang mencolok dan sulit dibaca. Ini menandakan, kurana seriusnya pemerintah dalam memberikan ruang promosi kepada kesenian lokal.

Masih tentang publikasi dan promosi digital. Penampil kesenian lokal, setahu saya tidak dibuatkan flayer digital per satu sekaa. Sangat berbeda dengan para pengisi acara lainnya, sepertinya satu persatu dibuatkan oleh panitia.

Terkait publikasi dan promosi, saya rasa sudah cukup. Next, tentang rundown umum yang saya dapat di media sosial. Penampilan kesenian tradisional selalu pada pukul 19.00-20.00 Wita. Sejak awal memang diposisikan tidak di primetime.

Dari informasi yang saya kumpulkan, panitia melakukan evaluasi rundown acara, berdasarkan kondisi dari hari 1-4, seni tradisional selalu sedikit penonton, dan akhirnya pada hari ke-5, Mebarung Gong Legendaris diletakkan pada primetime pukul 20.00-22.00 Wita. Namun apa daya peristiwa itu pun (batal pentas) terjadi.

Sekarang kita bicara tentang ruang panggung. Panggung HUT ke-420 Kota Singaraja, sesungguhnya tidak ideal untuk pementasan kesenian lokal. Posisi Sekaa Gong yang tampil berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Posisi Sekaa Gong tertutup oleh videotron yang juga berada pada sayap kiri dan kanan panggung. Dari depan penonton tidak dapat melihat secara keseluruhan anggota sekaa yang tampil. Di mana memberikan ruangnya?

Walau seperti itu, sepertinya panitia sudah memikirkan solusinya dengan menggunakan kamera terhubung ke videotron sebagai pengganti mata, untuk melihat aksi panggung penabuh.

Sayangnya, kamera yang disiapkan hanya 4 buah. Satu kamera berada di ruang master control yang fungsinya untuk gambar wide shoot, satu kamera di kanan panggung, satu di kiri panggung, dan satu kamera moving dengan stabiliser. Kondisi ini pasti sangat tidak memuaskan mata penonton.

Menurut saya, dengan kondisi panggung seperti itu, seharusnya disiapkan minimal 7 kamera. Satu kamera dari master kontrol untuk very wide shot, satu kamera untuk wide shoot, dua kamera di kanan-kiri setiap sekaa gong dan satu kamera untuk moving. Dengan jumlah perangkat yang memadai maka detail penampil dapat ditampilkan dengan baik di videotron. Kayang song cunguhne ngenah.

Tampilan visual videotron pada sayap kanan-kiri pun sangat tidak menarik, karena setingannya kacau. Visual dipaksakan fullscreen, sehingga penampil di panggung terlihat lonjong pada videotrone. Ini seperti menonton layar video tahun 90-an saat baru mengenal komputer.

Itu catatan saya tentang redaksi point 1 pernyataan resmi Pemkab Buleleng yang sangat menggangu pikiran.

Hal kedua yang juga menganganggu pikiran, pernyataan Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng, “Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan dari tahun lalu selalu memberikan prioritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta selalu memberikan ruang untuk tampil,”

Pelaku seni secara umum dapat diartikan orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan seni yang telah diciptakan oleh seorang seniman.

Seniman/se·ni·man/ n orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, dan sebagainya);

Adat n aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala:

Musisi ; musikus/mu·si·kus/ n orang yang mencipta, memimpin, atau menampilkan musik; pencipta atau pemain musik.

Dari pernyataan itu, menurut saya Pemkab Buleleng di kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana hanya memproritaskan seni tradisional dan musisi (mungkin yang dimaksud musik modern, seperti band). Jika memproritaskan seni tradisional seharusnya, catatan saya di atas tidak terjadi. Tidak ada Gong Kebyar yang batal pentas.

Jika proritas seni tradisional kenapa hanya gong kebyar? Kenapa rengganis tidak mendapatkan ruang? Kenapa wayang tidak mendapatkan ruang? Kenapa seni rupa ukiran khas Buleleng tidak mendapatkan ruang, misalnya dengan menggelar pameran seni rupa? Dan, kenapa, kenapa lainnya.

Terkait musisi (mungkin yang dimaksud seperti band), kembali lagi saya mempertanyakan kenapa hanya mereka? Hanya band populer yang mendapatkan ruang? Bagaimana dengan band yang punya segmen khusus, dan karya mereka berkualitas? Bagaimana dengan seniman modern lainnya? Apakah setidak menarik itu?

Memang sih, saat ini jangankan untuk menjadi proritas, perhatian saja minim. Ini yang saya rasakan sendiri sebagai pengiat film di Buleleng Bali. Film masuk sebagai Seni Media Baru kategori yang terus berubah. Hal-hal seni mencakup Video, Fotografi, Media Berbasis Lensa, Teknologi Digital, Teknologi Audio, dan yang lainnya.

Jika bicara tentang perfilman, Buleleng mempunyai sejarah yang sangat kuat. Orang Bali pertama yang membuat film berasal dari Buleleng yaitu Anak Agung Panji Tisna. Nama beliau tercatat dalam Katalog Film Indonesia 1926-1995. Di dalam buku itu tertulis, Judul, Sukreni Gadis Bali, Adaptasi dari novel. Tahun Produksi 1955. Produksi Bali Film Ltd. Pemain Sudhaini, Made Dharmini, Sudharsa. Dengan menghabiskan biaya sekitar Rp. 900.000, dengan perbandingan saat itu harga emas Rp. 30. Jika sekarang harga emas Rp.1.256.000, mungkin biaya produksinya mencapai puluhan milyar rupiah.

Selain itu, Buleleng juga sempat mengalami kejayaan bioskop. Tercatat di Buleleng pernah ada 7 bioskop dari Celukan Bawang-Tamblang. Sekarang satu pun tak ada.

Saya sebagai penggiat film dengan Komunitas Singaraja Menonton, tidak berharap lagi pemerintah akan mencarikan investor mendirikan bioskop atau sekedar ruang micro cinema (mini bioskop) di Buleleng. Karena, seni yang kami tekuni sepertinya bukan prioritas Pemkab Buleleng pada era kepemimpinan Pj Bupati Ketut Lihadnyana. Mungkin di kepemimpinan ke depan atau juga sama saja. [T]

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
Di Tengah Kisruh Itu, Terseliplah Made Kranca, Maestro Karawitan yang Barangkali Tak Banyak Dikenal
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Tags: HUT Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya

Next Post

Komunikasi Struktural di Era Digital

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Struktural di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co