24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Chusmeru by Chusmeru
February 1, 2026
in Tualang
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Pintu masuk Benteng Van der Wijck, Gombong

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh jalan nasional menuju Yogyakarta dari arah barat, dan menuju Bandung dari arah timur. Selain menjadi pusat bisnis di Kabupaten Kebumen, Gombong juga memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi.

Kecamatan dengan jumlah penduduk 47.410 jiwa ini mempunyai sejarah panjang. Sebelum bernama Gombong, daerah ini dahulu bernama Roma atau Rema hingga tahun 1830, bahkan sempat eksis menjadi kabupaten hingga tahun 1936. Rema menjadi bagian wilayah Kasultanan Yogyakarta sebelum dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia.org).

Kecamatan Gombong memiliki kondisi geografis dataran rendah. Sebagai pusat bisnis, sebagian lahan di Kecamatan Gombong digunakan untuk pemukiman penduduk dan lahan persawahan. Sumber air persawahan berasal dari irigasi Waduk Sempor. Selebihnya, di bagian utara terdapat hutan.

Aksesibilitas menuju Gombong sangatlah mudah. Sejumlah ruas jalannya adalah jalan provinsi dan dilintasi jalan nasional, sehingga Gombong menghubungkan beberapa kota di Pulau Jawa. Gombong juga dilalui jalur kereta api yang melayani aglomerasi dan antarkota di lintas selatan Pulau Jawa. Tak heran bila Gombong selalu ramai dengan mobilitas kendaraan.

Selain menjadi pusat bisnis, Gombong juga dikenal dengan potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner yang khas. Waduk Sempor yang ikonik sering dikaitkan dengan Gombong, meski berada di Kecamatan Sempor. Begitu pula dengan Goa Jatijajar yang berada di Kecamatan Ayah, juga kerap disebut berada di Gombong.

Salah satu sudut Benteng Van der Wijck

Makanan khas Gombong tidak jauh berbeda dengan daerah lain di wilayah Eks Karesiden Banyumas. Terdapat tempe mendoan sebagai ciri kuliner Banyumasan dan lanting, sejenis jajanan kering berbentuk bulat berlubang terbuat dari bahan baku singkong. Pada masa lalu jajanan ini banyak ditawarkan pedagang asongan di atas kereta api yang melintas dan berhenti di Gombong.

Jejak Kolonial

Salah satu objek wisata andalan Gombong adalah Benteng Van der Wijck. Objek wisata ini menyimpan jejak silam masa kolonial Belanda. Merujuk pada kebumenkab.go.id (4/10/2025), Benteng Van der Wijck diperkirakan dibangun pada tahun 1818 oleh pemerintah kolonial Belanda. Fungsi utamanya adalah sebagai markas militer dan pusat pertahanan. Nama “Van der Wijck” sendiri diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda, Johan Frederik Van der Wijck.

Objek wisata sejarah Benteng Van der Wijck terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama Purwokerto–Yogyakarta. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari kota Purwokerto berjarak sekitar 56 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van der Wijck dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air) untuk menghadapi sekutu. Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Pada masa setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai markas dan barak militer hingga tahun 2000.

Benteng ini memiliki arsitektur yang unik dan langka, karena memiliki bentuk segi delapan atau oktagonal. Dindingnya kokoh dengan tebal mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Cat berwarna merah bata yang melapisi seluruh dinding luar membuat wisatawan mudah menemukan dan mengenalinya.

Memiliki luas keseluruhan sekitar 7 hetare, benteng ini memiliki ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan lapangan yang digunakan sebagai tempat rekreasi. Ketika penulis berkunjung, Benteng Van der Wijck sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak sempat mengelilingi seluruh ruangan bangunan benteng.

Penulis di makam Mbah Giombong

Tiket masuk objek wisata 25.000 rupiah per orang. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas dan wahana yang disediakan. Kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng. Terdapat pula wahana permainan anak dan ruang pameran sejarah. Benteng ini kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinteron, lantaran nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik.

Benteng Van der Wijck merupakan salah satu situs warisan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi, bukan hanya bagi Kecamatan Gombong dan Kabupaten Kebumen, tetapi juga bagi Indonesia.  Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan masa silam kolonial Belanda sekaligus menjadi bukti kebesaran arsitektur klasik yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Petilasan

Tidak begitu jauh dari Benteng Van der Wijck terdapat petilasan atau makam Mbah Giombong atau Kyai Giyombong dan Mbah Gajah Nguling atau Kyai Gajah Oling. Kedua tokoh ini memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kecamatan Gombong dan perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Petilasan Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling saling berdekatan, berada di Kelurahan Gombong, RT 02 RW 02 di tengah pemukiman warga. Dari tulisan yang terdapat di petilasan, makam Mbah Giombong telah dipugar pada bulan Mei 2010. Sedangkan makam Mbah Gajah Nguling diperbaiki pada bulan Mei 2012. Suasana terasa magis saat penulis mengunjungi kedua makam tersebut.

 Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling dipercaya sebagai pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Pada saat itu, Belanda terdesak dalam pertempuran dan memaksa masyarakat Dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu-membahu mendirikan benteng, yang kemudian bernama Benteng Van der Wijck.

Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah dari pagi hingga petang yang menyebabkan kelaparan di sana-sini, karena sawah tidak ada yang menggarap, dan persediaan makan pun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk Dukuh Giyombong menderita (nataragung.id, 8/2/2025).

Kyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan kemenangan di pihak Mataram. Kyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan.

Kemudian Kyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, lantas pasukan Mataram berpindah markas di daerah Dapuran Pring di sebelah selatan Dukuh Giyombong.

Dikisahkan, pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong. Penduduk sudah tidak bersedia lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh perbekel dukuh mereka untuk bahu-membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belanda pun mundur ke benteng pertahanannya.

Penulis di makam Mbah Gajah Nguling

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibu kota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Sejak tahun 2022 hingga sekarang warga Gombong melakukan acara napak tilas tahunan mengenang kembali perjalanan kepahlawanan leluhur Gombong, yaitu Kyai Giyombong atau Mbah Giombong.

Sejarah selalu mencatat, setiap penindasan dan penjajahan akan melahirkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan. Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling merupakan tokoh yang turut andil mengusir penjajah. Masih banyak tokoh-tokoh di Tanah Air yang berjuang melawan penindasan di masa lalu dan masa kini, dan barangkali tidak tercatat dalam sejarah. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Gunung Selok Cilacap di Tengah Mitos Kekuasaan dan Spiritual
Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik
Tags: catatan perjalananJawa TengahKabupaten KebumenKecamatan Gombong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Next Post

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co