26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Chusmeru by Chusmeru
February 1, 2026
in Tualang
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Pintu masuk Benteng Van der Wijck, Gombong

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh jalan nasional menuju Yogyakarta dari arah barat, dan menuju Bandung dari arah timur. Selain menjadi pusat bisnis di Kabupaten Kebumen, Gombong juga memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi.

Kecamatan dengan jumlah penduduk 47.410 jiwa ini mempunyai sejarah panjang. Sebelum bernama Gombong, daerah ini dahulu bernama Roma atau Rema hingga tahun 1830, bahkan sempat eksis menjadi kabupaten hingga tahun 1936. Rema menjadi bagian wilayah Kasultanan Yogyakarta sebelum dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia.org).

Kecamatan Gombong memiliki kondisi geografis dataran rendah. Sebagai pusat bisnis, sebagian lahan di Kecamatan Gombong digunakan untuk pemukiman penduduk dan lahan persawahan. Sumber air persawahan berasal dari irigasi Waduk Sempor. Selebihnya, di bagian utara terdapat hutan.

Aksesibilitas menuju Gombong sangatlah mudah. Sejumlah ruas jalannya adalah jalan provinsi dan dilintasi jalan nasional, sehingga Gombong menghubungkan beberapa kota di Pulau Jawa. Gombong juga dilalui jalur kereta api yang melayani aglomerasi dan antarkota di lintas selatan Pulau Jawa. Tak heran bila Gombong selalu ramai dengan mobilitas kendaraan.

Selain menjadi pusat bisnis, Gombong juga dikenal dengan potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner yang khas. Waduk Sempor yang ikonik sering dikaitkan dengan Gombong, meski berada di Kecamatan Sempor. Begitu pula dengan Goa Jatijajar yang berada di Kecamatan Ayah, juga kerap disebut berada di Gombong.

Salah satu sudut Benteng Van der Wijck

Makanan khas Gombong tidak jauh berbeda dengan daerah lain di wilayah Eks Karesiden Banyumas. Terdapat tempe mendoan sebagai ciri kuliner Banyumasan dan lanting, sejenis jajanan kering berbentuk bulat berlubang terbuat dari bahan baku singkong. Pada masa lalu jajanan ini banyak ditawarkan pedagang asongan di atas kereta api yang melintas dan berhenti di Gombong.

Jejak Kolonial

Salah satu objek wisata andalan Gombong adalah Benteng Van der Wijck. Objek wisata ini menyimpan jejak silam masa kolonial Belanda. Merujuk pada kebumenkab.go.id (4/10/2025), Benteng Van der Wijck diperkirakan dibangun pada tahun 1818 oleh pemerintah kolonial Belanda. Fungsi utamanya adalah sebagai markas militer dan pusat pertahanan. Nama “Van der Wijck” sendiri diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda, Johan Frederik Van der Wijck.

Objek wisata sejarah Benteng Van der Wijck terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama Purwokerto–Yogyakarta. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari kota Purwokerto berjarak sekitar 56 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van der Wijck dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air) untuk menghadapi sekutu. Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Pada masa setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai markas dan barak militer hingga tahun 2000.

Benteng ini memiliki arsitektur yang unik dan langka, karena memiliki bentuk segi delapan atau oktagonal. Dindingnya kokoh dengan tebal mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Cat berwarna merah bata yang melapisi seluruh dinding luar membuat wisatawan mudah menemukan dan mengenalinya.

Memiliki luas keseluruhan sekitar 7 hetare, benteng ini memiliki ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan lapangan yang digunakan sebagai tempat rekreasi. Ketika penulis berkunjung, Benteng Van der Wijck sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak sempat mengelilingi seluruh ruangan bangunan benteng.

Penulis di makam Mbah Giombong

Tiket masuk objek wisata 25.000 rupiah per orang. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas dan wahana yang disediakan. Kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng. Terdapat pula wahana permainan anak dan ruang pameran sejarah. Benteng ini kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinteron, lantaran nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik.

Benteng Van der Wijck merupakan salah satu situs warisan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi, bukan hanya bagi Kecamatan Gombong dan Kabupaten Kebumen, tetapi juga bagi Indonesia.  Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan masa silam kolonial Belanda sekaligus menjadi bukti kebesaran arsitektur klasik yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Petilasan

Tidak begitu jauh dari Benteng Van der Wijck terdapat petilasan atau makam Mbah Giombong atau Kyai Giyombong dan Mbah Gajah Nguling atau Kyai Gajah Oling. Kedua tokoh ini memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kecamatan Gombong dan perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Petilasan Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling saling berdekatan, berada di Kelurahan Gombong, RT 02 RW 02 di tengah pemukiman warga. Dari tulisan yang terdapat di petilasan, makam Mbah Giombong telah dipugar pada bulan Mei 2010. Sedangkan makam Mbah Gajah Nguling diperbaiki pada bulan Mei 2012. Suasana terasa magis saat penulis mengunjungi kedua makam tersebut.

 Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling dipercaya sebagai pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Pada saat itu, Belanda terdesak dalam pertempuran dan memaksa masyarakat Dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu-membahu mendirikan benteng, yang kemudian bernama Benteng Van der Wijck.

Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah dari pagi hingga petang yang menyebabkan kelaparan di sana-sini, karena sawah tidak ada yang menggarap, dan persediaan makan pun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk Dukuh Giyombong menderita (nataragung.id, 8/2/2025).

Kyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan kemenangan di pihak Mataram. Kyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan.

Kemudian Kyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, lantas pasukan Mataram berpindah markas di daerah Dapuran Pring di sebelah selatan Dukuh Giyombong.

Dikisahkan, pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong. Penduduk sudah tidak bersedia lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh perbekel dukuh mereka untuk bahu-membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belanda pun mundur ke benteng pertahanannya.

Penulis di makam Mbah Gajah Nguling

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibu kota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Sejak tahun 2022 hingga sekarang warga Gombong melakukan acara napak tilas tahunan mengenang kembali perjalanan kepahlawanan leluhur Gombong, yaitu Kyai Giyombong atau Mbah Giombong.

Sejarah selalu mencatat, setiap penindasan dan penjajahan akan melahirkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan. Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling merupakan tokoh yang turut andil mengusir penjajah. Masih banyak tokoh-tokoh di Tanah Air yang berjuang melawan penindasan di masa lalu dan masa kini, dan barangkali tidak tercatat dalam sejarah. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Gunung Selok Cilacap di Tengah Mitos Kekuasaan dan Spiritual
Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik
Tags: catatan perjalananJawa TengahKabupaten KebumenKecamatan Gombong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Next Post

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co