GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh jalan nasional menuju Yogyakarta dari arah barat, dan menuju Bandung dari arah timur. Selain menjadi pusat bisnis di Kabupaten Kebumen, Gombong juga memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi.
Kecamatan dengan jumlah penduduk 47.410 jiwa ini mempunyai sejarah panjang. Sebelum bernama Gombong, daerah ini dahulu bernama Roma atau Rema hingga tahun 1830, bahkan sempat eksis menjadi kabupaten hingga tahun 1936. Rema menjadi bagian wilayah Kasultanan Yogyakarta sebelum dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia.org).
Kecamatan Gombong memiliki kondisi geografis dataran rendah. Sebagai pusat bisnis, sebagian lahan di Kecamatan Gombong digunakan untuk pemukiman penduduk dan lahan persawahan. Sumber air persawahan berasal dari irigasi Waduk Sempor. Selebihnya, di bagian utara terdapat hutan.
Aksesibilitas menuju Gombong sangatlah mudah. Sejumlah ruas jalannya adalah jalan provinsi dan dilintasi jalan nasional, sehingga Gombong menghubungkan beberapa kota di Pulau Jawa. Gombong juga dilalui jalur kereta api yang melayani aglomerasi dan antarkota di lintas selatan Pulau Jawa. Tak heran bila Gombong selalu ramai dengan mobilitas kendaraan.
Selain menjadi pusat bisnis, Gombong juga dikenal dengan potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner yang khas. Waduk Sempor yang ikonik sering dikaitkan dengan Gombong, meski berada di Kecamatan Sempor. Begitu pula dengan Goa Jatijajar yang berada di Kecamatan Ayah, juga kerap disebut berada di Gombong.

Makanan khas Gombong tidak jauh berbeda dengan daerah lain di wilayah Eks Karesiden Banyumas. Terdapat tempe mendoan sebagai ciri kuliner Banyumasan dan lanting, sejenis jajanan kering berbentuk bulat berlubang terbuat dari bahan baku singkong. Pada masa lalu jajanan ini banyak ditawarkan pedagang asongan di atas kereta api yang melintas dan berhenti di Gombong.
Jejak Kolonial
Salah satu objek wisata andalan Gombong adalah Benteng Van der Wijck. Objek wisata ini menyimpan jejak silam masa kolonial Belanda. Merujuk pada kebumenkab.go.id (4/10/2025), Benteng Van der Wijck diperkirakan dibangun pada tahun 1818 oleh pemerintah kolonial Belanda. Fungsi utamanya adalah sebagai markas militer dan pusat pertahanan. Nama “Van der Wijck” sendiri diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda, Johan Frederik Van der Wijck.
Objek wisata sejarah Benteng Van der Wijck terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama Purwokerto–Yogyakarta. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari kota Purwokerto berjarak sekitar 56 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van der Wijck dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air) untuk menghadapi sekutu. Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Pada masa setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai markas dan barak militer hingga tahun 2000.
Benteng ini memiliki arsitektur yang unik dan langka, karena memiliki bentuk segi delapan atau oktagonal. Dindingnya kokoh dengan tebal mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Cat berwarna merah bata yang melapisi seluruh dinding luar membuat wisatawan mudah menemukan dan mengenalinya.
Memiliki luas keseluruhan sekitar 7 hetare, benteng ini memiliki ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan lapangan yang digunakan sebagai tempat rekreasi. Ketika penulis berkunjung, Benteng Van der Wijck sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak sempat mengelilingi seluruh ruangan bangunan benteng.

Tiket masuk objek wisata 25.000 rupiah per orang. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas dan wahana yang disediakan. Kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng. Terdapat pula wahana permainan anak dan ruang pameran sejarah. Benteng ini kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinteron, lantaran nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik.
Benteng Van der Wijck merupakan salah satu situs warisan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi, bukan hanya bagi Kecamatan Gombong dan Kabupaten Kebumen, tetapi juga bagi Indonesia. Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan masa silam kolonial Belanda sekaligus menjadi bukti kebesaran arsitektur klasik yang masih kokoh berdiri hingga kini.
Petilasan
Tidak begitu jauh dari Benteng Van der Wijck terdapat petilasan atau makam Mbah Giombong atau Kyai Giyombong dan Mbah Gajah Nguling atau Kyai Gajah Oling. Kedua tokoh ini memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kecamatan Gombong dan perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Petilasan Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling saling berdekatan, berada di Kelurahan Gombong, RT 02 RW 02 di tengah pemukiman warga. Dari tulisan yang terdapat di petilasan, makam Mbah Giombong telah dipugar pada bulan Mei 2010. Sedangkan makam Mbah Gajah Nguling diperbaiki pada bulan Mei 2012. Suasana terasa magis saat penulis mengunjungi kedua makam tersebut.
Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling dipercaya sebagai pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Pada saat itu, Belanda terdesak dalam pertempuran dan memaksa masyarakat Dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu-membahu mendirikan benteng, yang kemudian bernama Benteng Van der Wijck.
Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah dari pagi hingga petang yang menyebabkan kelaparan di sana-sini, karena sawah tidak ada yang menggarap, dan persediaan makan pun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk Dukuh Giyombong menderita (nataragung.id, 8/2/2025).
Kyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan kemenangan di pihak Mataram. Kyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan.
Kemudian Kyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, lantas pasukan Mataram berpindah markas di daerah Dapuran Pring di sebelah selatan Dukuh Giyombong.
Dikisahkan, pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong. Penduduk sudah tidak bersedia lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh perbekel dukuh mereka untuk bahu-membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belanda pun mundur ke benteng pertahanannya.

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibu kota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Sejak tahun 2022 hingga sekarang warga Gombong melakukan acara napak tilas tahunan mengenang kembali perjalanan kepahlawanan leluhur Gombong, yaitu Kyai Giyombong atau Mbah Giombong.
Sejarah selalu mencatat, setiap penindasan dan penjajahan akan melahirkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan. Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling merupakan tokoh yang turut andil mengusir penjajah. Masih banyak tokoh-tokoh di Tanah Air yang berjuang melawan penindasan di masa lalu dan masa kini, dan barangkali tidak tercatat dalam sejarah. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:



























