4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Chusmeru by Chusmeru
February 1, 2026
in Tualang
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Pintu masuk Benteng Van der Wijck, Gombong

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh jalan nasional menuju Yogyakarta dari arah barat, dan menuju Bandung dari arah timur. Selain menjadi pusat bisnis di Kabupaten Kebumen, Gombong juga memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi.

Kecamatan dengan jumlah penduduk 47.410 jiwa ini mempunyai sejarah panjang. Sebelum bernama Gombong, daerah ini dahulu bernama Roma atau Rema hingga tahun 1830, bahkan sempat eksis menjadi kabupaten hingga tahun 1936. Rema menjadi bagian wilayah Kasultanan Yogyakarta sebelum dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia.org).

Kecamatan Gombong memiliki kondisi geografis dataran rendah. Sebagai pusat bisnis, sebagian lahan di Kecamatan Gombong digunakan untuk pemukiman penduduk dan lahan persawahan. Sumber air persawahan berasal dari irigasi Waduk Sempor. Selebihnya, di bagian utara terdapat hutan.

Aksesibilitas menuju Gombong sangatlah mudah. Sejumlah ruas jalannya adalah jalan provinsi dan dilintasi jalan nasional, sehingga Gombong menghubungkan beberapa kota di Pulau Jawa. Gombong juga dilalui jalur kereta api yang melayani aglomerasi dan antarkota di lintas selatan Pulau Jawa. Tak heran bila Gombong selalu ramai dengan mobilitas kendaraan.

Selain menjadi pusat bisnis, Gombong juga dikenal dengan potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner yang khas. Waduk Sempor yang ikonik sering dikaitkan dengan Gombong, meski berada di Kecamatan Sempor. Begitu pula dengan Goa Jatijajar yang berada di Kecamatan Ayah, juga kerap disebut berada di Gombong.

Salah satu sudut Benteng Van der Wijck

Makanan khas Gombong tidak jauh berbeda dengan daerah lain di wilayah Eks Karesiden Banyumas. Terdapat tempe mendoan sebagai ciri kuliner Banyumasan dan lanting, sejenis jajanan kering berbentuk bulat berlubang terbuat dari bahan baku singkong. Pada masa lalu jajanan ini banyak ditawarkan pedagang asongan di atas kereta api yang melintas dan berhenti di Gombong.

Jejak Kolonial

Salah satu objek wisata andalan Gombong adalah Benteng Van der Wijck. Objek wisata ini menyimpan jejak silam masa kolonial Belanda. Merujuk pada kebumenkab.go.id (4/10/2025), Benteng Van der Wijck diperkirakan dibangun pada tahun 1818 oleh pemerintah kolonial Belanda. Fungsi utamanya adalah sebagai markas militer dan pusat pertahanan. Nama “Van der Wijck” sendiri diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda, Johan Frederik Van der Wijck.

Objek wisata sejarah Benteng Van der Wijck terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama Purwokerto–Yogyakarta. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari kota Purwokerto berjarak sekitar 56 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van der Wijck dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air) untuk menghadapi sekutu. Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Pada masa setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai markas dan barak militer hingga tahun 2000.

Benteng ini memiliki arsitektur yang unik dan langka, karena memiliki bentuk segi delapan atau oktagonal. Dindingnya kokoh dengan tebal mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Cat berwarna merah bata yang melapisi seluruh dinding luar membuat wisatawan mudah menemukan dan mengenalinya.

Memiliki luas keseluruhan sekitar 7 hetare, benteng ini memiliki ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan lapangan yang digunakan sebagai tempat rekreasi. Ketika penulis berkunjung, Benteng Van der Wijck sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak sempat mengelilingi seluruh ruangan bangunan benteng.

Penulis di makam Mbah Giombong

Tiket masuk objek wisata 25.000 rupiah per orang. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas dan wahana yang disediakan. Kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng. Terdapat pula wahana permainan anak dan ruang pameran sejarah. Benteng ini kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinteron, lantaran nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik.

Benteng Van der Wijck merupakan salah satu situs warisan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi, bukan hanya bagi Kecamatan Gombong dan Kabupaten Kebumen, tetapi juga bagi Indonesia.  Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan masa silam kolonial Belanda sekaligus menjadi bukti kebesaran arsitektur klasik yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Petilasan

Tidak begitu jauh dari Benteng Van der Wijck terdapat petilasan atau makam Mbah Giombong atau Kyai Giyombong dan Mbah Gajah Nguling atau Kyai Gajah Oling. Kedua tokoh ini memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kecamatan Gombong dan perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Petilasan Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling saling berdekatan, berada di Kelurahan Gombong, RT 02 RW 02 di tengah pemukiman warga. Dari tulisan yang terdapat di petilasan, makam Mbah Giombong telah dipugar pada bulan Mei 2010. Sedangkan makam Mbah Gajah Nguling diperbaiki pada bulan Mei 2012. Suasana terasa magis saat penulis mengunjungi kedua makam tersebut.

 Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling dipercaya sebagai pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Pada saat itu, Belanda terdesak dalam pertempuran dan memaksa masyarakat Dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu-membahu mendirikan benteng, yang kemudian bernama Benteng Van der Wijck.

Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah dari pagi hingga petang yang menyebabkan kelaparan di sana-sini, karena sawah tidak ada yang menggarap, dan persediaan makan pun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk Dukuh Giyombong menderita (nataragung.id, 8/2/2025).

Kyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan kemenangan di pihak Mataram. Kyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan.

Kemudian Kyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, lantas pasukan Mataram berpindah markas di daerah Dapuran Pring di sebelah selatan Dukuh Giyombong.

Dikisahkan, pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong. Penduduk sudah tidak bersedia lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh perbekel dukuh mereka untuk bahu-membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belanda pun mundur ke benteng pertahanannya.

Penulis di makam Mbah Gajah Nguling

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibu kota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Sejak tahun 2022 hingga sekarang warga Gombong melakukan acara napak tilas tahunan mengenang kembali perjalanan kepahlawanan leluhur Gombong, yaitu Kyai Giyombong atau Mbah Giombong.

Sejarah selalu mencatat, setiap penindasan dan penjajahan akan melahirkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan. Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling merupakan tokoh yang turut andil mengusir penjajah. Masih banyak tokoh-tokoh di Tanah Air yang berjuang melawan penindasan di masa lalu dan masa kini, dan barangkali tidak tercatat dalam sejarah. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Gunung Selok Cilacap di Tengah Mitos Kekuasaan dan Spiritual
Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik
Tags: catatan perjalananJawa TengahKabupaten KebumenKecamatan Gombong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Next Post

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co