3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Chusmeru by Chusmeru
February 1, 2026
in Tualang
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Pintu masuk Benteng Van der Wijck, Gombong

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh jalan nasional menuju Yogyakarta dari arah barat, dan menuju Bandung dari arah timur. Selain menjadi pusat bisnis di Kabupaten Kebumen, Gombong juga memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi.

Kecamatan dengan jumlah penduduk 47.410 jiwa ini mempunyai sejarah panjang. Sebelum bernama Gombong, daerah ini dahulu bernama Roma atau Rema hingga tahun 1830, bahkan sempat eksis menjadi kabupaten hingga tahun 1936. Rema menjadi bagian wilayah Kasultanan Yogyakarta sebelum dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia.org).

Kecamatan Gombong memiliki kondisi geografis dataran rendah. Sebagai pusat bisnis, sebagian lahan di Kecamatan Gombong digunakan untuk pemukiman penduduk dan lahan persawahan. Sumber air persawahan berasal dari irigasi Waduk Sempor. Selebihnya, di bagian utara terdapat hutan.

Aksesibilitas menuju Gombong sangatlah mudah. Sejumlah ruas jalannya adalah jalan provinsi dan dilintasi jalan nasional, sehingga Gombong menghubungkan beberapa kota di Pulau Jawa. Gombong juga dilalui jalur kereta api yang melayani aglomerasi dan antarkota di lintas selatan Pulau Jawa. Tak heran bila Gombong selalu ramai dengan mobilitas kendaraan.

Selain menjadi pusat bisnis, Gombong juga dikenal dengan potensi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner yang khas. Waduk Sempor yang ikonik sering dikaitkan dengan Gombong, meski berada di Kecamatan Sempor. Begitu pula dengan Goa Jatijajar yang berada di Kecamatan Ayah, juga kerap disebut berada di Gombong.

Salah satu sudut Benteng Van der Wijck

Makanan khas Gombong tidak jauh berbeda dengan daerah lain di wilayah Eks Karesiden Banyumas. Terdapat tempe mendoan sebagai ciri kuliner Banyumasan dan lanting, sejenis jajanan kering berbentuk bulat berlubang terbuat dari bahan baku singkong. Pada masa lalu jajanan ini banyak ditawarkan pedagang asongan di atas kereta api yang melintas dan berhenti di Gombong.

Jejak Kolonial

Salah satu objek wisata andalan Gombong adalah Benteng Van der Wijck. Objek wisata ini menyimpan jejak silam masa kolonial Belanda. Merujuk pada kebumenkab.go.id (4/10/2025), Benteng Van der Wijck diperkirakan dibangun pada tahun 1818 oleh pemerintah kolonial Belanda. Fungsi utamanya adalah sebagai markas militer dan pusat pertahanan. Nama “Van der Wijck” sendiri diambil dari nama seorang perwira tinggi Belanda, Johan Frederik Van der Wijck.

Objek wisata sejarah Benteng Van der Wijck terletak di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama Purwokerto–Yogyakarta. Dari pusat kota Kebumen, jaraknya sekitar 19 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari kota Purwokerto berjarak sekitar 56 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng Van der Wijck dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan anggota PETA (Pembela Tanah Air) untuk menghadapi sekutu. Selain sebagai basis militer, benteng ini di masa silam juga pernah difungsikan sebagai tempat pendidikan militer bagi calon perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Pada masa setelah kemerdekaan, benteng ini sempat digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai markas dan barak militer hingga tahun 2000.

Benteng ini memiliki arsitektur yang unik dan langka, karena memiliki bentuk segi delapan atau oktagonal. Dindingnya kokoh dengan tebal mencapai lebih dari satu meter, dilengkapi jendela-jendela besar bergaya khas Belanda. Cat berwarna merah bata yang melapisi seluruh dinding luar membuat wisatawan mudah menemukan dan mengenalinya.

Memiliki luas keseluruhan sekitar 7 hetare, benteng ini memiliki ruangan bekas barak prajurit, aula pertemuan, gudang senjata, dan lapangan yang digunakan sebagai tempat rekreasi. Ketika penulis berkunjung, Benteng Van der Wijck sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak sempat mengelilingi seluruh ruangan bangunan benteng.

Penulis di makam Mbah Giombong

Tiket masuk objek wisata 25.000 rupiah per orang. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas dan wahana yang disediakan. Kereta mini akan mengantarkan pengunjung mengelilingi benteng. Terdapat pula wahana permainan anak dan ruang pameran sejarah. Benteng ini kerap digunakan sebagai lokasi syuting film dan sinteron, lantaran nuansa Eropa klasik yang masih terjaga dengan baik.

Benteng Van der Wijck merupakan salah satu situs warisan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi, bukan hanya bagi Kecamatan Gombong dan Kabupaten Kebumen, tetapi juga bagi Indonesia.  Benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan masa silam kolonial Belanda sekaligus menjadi bukti kebesaran arsitektur klasik yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Petilasan

Tidak begitu jauh dari Benteng Van der Wijck terdapat petilasan atau makam Mbah Giombong atau Kyai Giyombong dan Mbah Gajah Nguling atau Kyai Gajah Oling. Kedua tokoh ini memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Kecamatan Gombong dan perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Petilasan Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling saling berdekatan, berada di Kelurahan Gombong, RT 02 RW 02 di tengah pemukiman warga. Dari tulisan yang terdapat di petilasan, makam Mbah Giombong telah dipugar pada bulan Mei 2010. Sedangkan makam Mbah Gajah Nguling diperbaiki pada bulan Mei 2012. Suasana terasa magis saat penulis mengunjungi kedua makam tersebut.

 Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling dipercaya sebagai pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Pada saat itu, Belanda terdesak dalam pertempuran dan memaksa masyarakat Dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu-membahu mendirikan benteng, yang kemudian bernama Benteng Van der Wijck.

Kyai Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah dari pagi hingga petang yang menyebabkan kelaparan di sana-sini, karena sawah tidak ada yang menggarap, dan persediaan makan pun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk Dukuh Giyombong menderita (nataragung.id, 8/2/2025).

Kyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan kemenangan di pihak Mataram. Kyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan.

Kemudian Kyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, lantas pasukan Mataram berpindah markas di daerah Dapuran Pring di sebelah selatan Dukuh Giyombong.

Dikisahkan, pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong. Penduduk sudah tidak bersedia lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh perbekel dukuh mereka untuk bahu-membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belanda pun mundur ke benteng pertahanannya.

Penulis di makam Mbah Gajah Nguling

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibu kota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong. Sejak tahun 2022 hingga sekarang warga Gombong melakukan acara napak tilas tahunan mengenang kembali perjalanan kepahlawanan leluhur Gombong, yaitu Kyai Giyombong atau Mbah Giombong.

Sejarah selalu mencatat, setiap penindasan dan penjajahan akan melahirkan tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan. Mbah Giombong dan Mbah Gajah Nguling merupakan tokoh yang turut andil mengusir penjajah. Masih banyak tokoh-tokoh di Tanah Air yang berjuang melawan penindasan di masa lalu dan masa kini, dan barangkali tidak tercatat dalam sejarah. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Gunung Selok Cilacap di Tengah Mitos Kekuasaan dan Spiritual
Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik
Tags: catatan perjalananJawa TengahKabupaten KebumenKecamatan Gombong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Next Post

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Penggunaan Aksara Bali Harus Jadi Gerakan Kolektif di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co