2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka

Chusmeru by Chusmeru
October 13, 2025
in Tualang
Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka

Cagar Budaya Astana Gede Kawali, Ciamis / Foto Dok.Penulis

CIAMIS merupakan kabupaten yang berada di bagian timur Provinsi Jawa Barat. Berasal dari kata Ci atau Cai yang berarti air, dan Amis yang berarti manis. Ciamis lantas diartikan sebagai Kota Manis. Predikat ini ditujukan pada masyarakat Ciamis yang dikenal ramah, ditambah dengan pemandangan alam yang indah.

Selain penduduknya yang ramah, Ciamis juga dikenal dengan berbagai situs yang bernilai sejarah dan budaya tinggi. Kerajaan Galuh yang dianggap sebagai kerajaan tertua di tanah Pasundan dan Jawa berada di Kabupaten Ciamis. Kerajaan ini dipercaya sebagai cikal-bakal keberadaan masyarakat Sunda dan Jawa.

Situs Kerajaan Galuh juga terdapat di Kecamatan Kawali, Ciamis yang bernama Astana Gede Kawali. Berada di lahan seluas 5 hektare, situs atau cagar budaya Astana Gede Kawali memiliki berbagai peninggalan arkeologis yang menggambarkan tiga budaya berbeda, yaitu budaya lokal, Hindu, dan Islam. Situs ini dahulu kala merupakan ibu kota Kerajaan Galuh di masa Prabu Niskala Wastu Kencana pada abad ke-14 atau sekitar tahun 1371 – 1475 Masehi.

Hari sudah menjelang senja ketika penulis mengunjungi cagar budaya ini. Tanpa ditemani pemandu atau juru kunci, penulis mengamati berbagai situs dan prasasti yang ada di Astana Gede Kawali. Situs ini dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis. Suasana terasa sedikit mistis di dalam cagar budaya ini, membuat merinding penulis.

Pintu Gerbang Astana Gede Kawali | Foto Dok.Penulis

Berdasarkan papan informasi yang terdapat di cagar budaya, terdapat enam peninggalan arkeologi berupa enam prasasti. Keenam prasasti ini merupakan peninggalan Prabu Wastu Kencana. Terdapat pula situs makam Adipati Singacala dan situs tempat abu jasad Dyah Pitaloka Citraresmi. Semua situs maupun prasasti yang ada di Astana Gede Kawali memiliki nilai sejarah dan budaya yang potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah, budaya, dan edukasi.

Dari keenam prasasti yang ada, prasasti Kawali I, II, dan VI mengandung pesan moral bagi masyarakat saat itu, dan tentu saja kekinian. Prasasti Kawali I diduga merupakan tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali. Selain itu, terdapat juga Batu Palinggih, yang konon digunakan untuk melantik para raja Galuh saat memerintah di wilayah Kawali.

Prasasti I berbunyi: “hayua diponaḥ ponaḥ, hayua dicawuḥ cawuḥ iňa neker iňa ager iňa nincak iňa rĕmpag”. Artinya: “Jangan dilangkahi, jangan dirusak, yang memotong akan binasa, yang menginjak biar runtuh”. Prasasti Kawali I secara umum berisi larangan terhadap tindakan seperti melangkahi, merusak, memotong, atau menginjak objek tertentu ( wikibooks.org).

Prasasti Kawali II, merupakan salah satu dari enam prasasti yang ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda Kuno. Bunyi prasasti itu adalah: “aya manu ṅösi ina kawali ini pakena kěṛta běněr pakön nanjör na juritan”. Artinya, “Adanya yang menghuni Kawali senantiasa berbuat makmur lagi adil, supaya berjaya dalam laga”. Isi prasasti ini mengungkapkan harapan agar penduduk Kawali mencapai kemakmuran dan kemenangan dalam peperangan.

Prasasti Kawali VI isinya cukup menarik, karena menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Dalam catatan Tim Arkeologi Sejarah FIB UNPAD yang terdapat di papan informasi, Prasasti Kawali VI disebutkan: “Peninggalan dari astiti rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi bisa sengsara”. Ternyata larangan untuk berjudi sudah tertulis dalam prasasti di Astana Gede Kawali.

Makam Adipati Singacala

Makam Adipati Singacala terletak pada koordinat 7,1904S 108,3624E. Terletak ditengah-tengah situs Kawali, mengisi pada lahan yang diperkirakan punden yang dipagari bambu dengan pintu masuk disisi utara dan selatan. Makamnya berbentuk dua undakan dibuat dari susunan kerikil andesit. Nisan kepala dan nisan kaki berbentuk dan berukuran sama, yaitu segi empat pipih dengan bagian atas berundak yang semakin mengecil di bagian puncak (galuhvirtual.ciamiskab.go.id).

Situs Makam Adipati Singacala | Foto Dok.Penulis

Adipati Singacala adalah penguasa Kawali setelah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda pindah ke Pakuan Pajajaran. Di sebelah barat makam Adipati Singacala terdapat makam Pangeran Usman. Tokoh ini dikenal sebagai utusan dari Cirebon yang bertugas menyebarkan agama Islam di Kawali. Dalam aktivitasnya, Pangeran Usman mendapat dukungan Adipati Singacala (www.geni.com, 26/4/2024).

Dengan pindahnya pusat pemerintahan ke Pakuan Pajajaran, kawasan timur Kerajaan Sunda yang juga disebut dengan daerah Galuh terpecah-pecah. Kota Kawali berada di bawah kepemimpinan Adipati Singacala. Keadaan ini terus berlangsung hingga Susuhunan Jati, penguasa Cirebon, mempersatukan kembali desa-desa di daerah Galuh dengan Islam sebagai alat pemersatunya.

Ketika penulis memasuki situs makam Adipati Singacala, suasana magis begitu terasa. Terdapat bekas taburan bunga dan dupa. Sepertinya  baru saja ada pengunjung yang melakukan ziarah ke makam tokoh penguasa Kawali ini. Sekawanan monyet bergelantungan di pepohonan besar sekitar makam, membuat suasana bertambah seram.

Abu Jasad Dyah Pitaloka

Cagar budaya Astana Gede Kawali memiliki menhir, yaitu batu purbakala berbentuk tegak lurus sebagai persemayaman abu jasad Dyah Pitaloka Citraresmi  atau Citra Rashmi. Disebutkan dalam berbagai cerita, Dyah Pitaloka adalah gadis yang sangat cantik, hidup di tahun 1340 – 1357. Dyah Pitaloka sering dikaitkan dengan terjadinya perang  Bubat di bagian utara, Trowulan, ibu kota Majapahit.   Dalam  tragedi Perang Bubat , putri raja Sunda ini bunuh diri setelah mendapati ayahnya Prabu Maharaja Lingga Buana dan semua pengiring rombongan tewas.

Terdapat banyak versi tentang kisah tragis Dyah Pitaloka. Konon raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan motif politik ingin menikahi Dyah Pitaloka sebagai istrinya. Berbesar hati serta melihat perjodohan ini sebagai peluang untuk mengikat persekutuan dengan kerajaan Majapahit yang besar dan jaya, Raja Sunda dengan suka cita memberikan restunya dan ikut pergi mengantarkan putrinya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk (Wikipedia.org).

Pada tahun 1357 rombongan Kerajaan Sunda tiba di Majapahit setelah melayari Laut Jawa. Rombongan Kerajaan Sunda mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat di bagian utara Trowulan, ibu kota Majapahit. Mereka menantikan jemputan dari pihak Majapahit serta upacara kerajaan yang pantas layaknya pernikahan agung kerajaan.

Situs Abu Jasad Dyah Pitaloka | Foto Dok.Penulis

Namun ternyata rencana pernikahan itu menimbulkan dilema. Hayam Wuruk dianggap masih memiliki kekerabatan dekat dengan calon permaisuri. Hal ini menjadikan Gajah Mada menyampaikan kepada rombongan Kerajaan Sunda bahwa perkawinan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka tidak dapat dilaksanakan. Merasa dipermalukan, rombongan kerajaan Sunda pada akhirnya memilih berperang melawan Majapahit demi menjaga kehormatan.

Rombongan kerajaan Sunda berniat untuk belapati melakukan puputan demi membela kehormatan mereka di Lapangan Bubat. Meskipun memberikan perlawanan dengan gagah berani, rombongan kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya gugur dalam kepungan tentara Majapahit. Hampir seluruh rombongan kerajaan Sunda tewas dalam tragedi ini

 Dyah Pitaloka larut dalam kesedihan dengan hati yang remuk redam. Sang Putri pun melakukan bunuh diri untuk membela kehormatan dan harga diri negaranya. Kisah tragis kematian Dyah Pitaloka diratapi oleh Hayam Wuruk serta segenap rakyat Kerajaan Sunda yang kehilangan sebagian besar keluarga kerajaannya. Jenazah Dyah Pitaloka dibawa kembali ke Kerajaan Sunda, dan abu jasadnya disemayamkan di Astana Gede Kawali.

Menhir Batu Abu Jasad Dyah Pitaloka | Foto Dok.Kartika Soetrisno

Cinta dan kekuasaan kadang memerlukan pengorbanan. Dyah Pitaloka Citraresmi ingin membuktikan, bahwa ia tak sudi menjadi milik orang lain dengan dalih ambisi kekuasaan tanpa dilandasi rasa cinta. Menyerah pasrah bukan jalan yang ia tempuh. Mengorbankan diri adalah pilihan terbaik baginya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Gunung Galunggung: Wisata dengan Aura Mistis
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik
Tags: cagar budayaciamisJawa Barat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Next Post

Tradisi Alilitan Catur Desa Adat Tamblingan: Tradisi Pemuliaan Air yang Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Alilitan Catur Desa Adat Tamblingan: Tradisi Pemuliaan Air yang Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tradisi Alilitan Catur Desa Adat Tamblingan: Tradisi Pemuliaan Air yang Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co