14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Chusmeru by Chusmeru
October 4, 2025
in Tualang
Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Penulis di Situs Ciung Wanara / Foto Dok.Penulis

TERLETAK di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, situs Ciung Wanara menjadi objek wisata alam, budaya dan sejarah yang banyak dikunjungi. Ciung Wanara sering dikaitkan dengan Kerajaan Galuh yang merupakan kerajaan tertua di tanah Pasundan yang berdiri sekitar abad ke-7 Masehi atau tahun 612 Masehi.

Berada di lahan seluas 25 hektare, objek wisata Ciung Wanara terletak di pinggir jalan nasional menuju ke arah Tasikmalaya dan Bandung. Posisinya yang sangat strategis menjadikan situs dan objek wisata ini sering digunakan sebagai rest area bagi pengendara.

Sebagai sebuah situs, objek wisata Ciung Wanara tampak asri dengan banyaknya pohon besar dan rimbun. Hewan liar juga masih bisa ditemukan di Ciung Wanara, seperti monyet dan aneka satwa burung. Sepintas memang tampak aura mistis di objek wisata ini. Namun suasana yang sejuk membuat pengunjung merasa tenang berada di Ciung Wanara.

Berjarak sekitar 17 kilometer dari alun-alun kota Ciamis, objek wisata Ciung Wanara buka setiap hari pukul 07.00 sampai 20.00. Harga tiket masuknya  cukup murah, hanya 3.500 rupiah. Objek wisata yang sarat dengan legenda ini menarik penulis dan beberapa peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto untuk berkunjung ke Ciung Wanara.

Banyak peninggalan yang bernilai sejarah di Ciung Wanara, baik berupa alam maupun benda-benda arkeologis. Terdapat Leuwi Sipatahuan, yaitu sebuah kolam atau leuwi yang memiliki nilai sejarah dan legenda di kawasan situs. Yang ikonik adalah batu Pangcalikan, berupa  batu yang dipercaya menjadi tempat duduk para raja di masa lalu, yang digunakan untuk berbagai upacara penting.

Peneliti Unsoed di Situs Pangcalikan (Singgasana Raja) | Foto Dok.Penulis

Ciung Wanara identik pula dengan sumber kehidupan. Itu dapat terlihat dari adanya situs Cikahuripan yang berhubungan dengan air kehidupan. Situs ini juga diidentifikasi sebagai pertemuan dua sungai, Citanduy dan Cimuntur, serta memiliki sumur yang konon airnya tidak pernah kering.

Tradisi menyimpan bahan pangan dan upaya mempertahankan diri juga tampak dari adanya situs Pamangkonan dan Sanghyang Bedil. Pamangkonan merupakan batu yang dulunya digunakan untuk menyimpan harta, kemudian berubah makna menjadi tempat penyimpanan beras. Sedangkan Sanghyang Bedil diyakini sebagai tempat penyimpanan senjata-senjata penting di masa Kerajaan Galuh.  

Aktivitas sabung ayam juga sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Galuh ini. Terdapat sebuah situs berupa Panyabungan Hayam, yaitu tempat diadakannya sayembara atau adu ayam antara ayam Ciung Wanara dan ayam Raja Galuh saat itu.

Menurut Kistia Dermawan juru kunci objek wisata Ciung Wanara, situs ini merupakan cikal-bakal keberadaan masyarakat Jawa dan Sunda. Situs Ciung Wanara dianggap sebagai kerajaan tertua di dunia. Banyak wisatawan dari Bali, Kalimantan, dan Sumatra mengunjungi Ciung Wanara.

“Bahkan ada pengunjung dari Belanda dan Australia,” kata Kistia Dermawan kepada penulis.

Legenda Ciung Wanara

Dikutip dari Wikipedia.org, nama Ciung Wanara berasal dari sejarah dan legenda kerajaan besar di pulau Jawa yang bernama Kerajaan Galuh, dengan ibu kota terletak di Galuh, dekat Ciamis sekarang. Legenda ini juga berkaitan dengan asal-usul nama Sungai Pemali dan hubungan budaya antara orang Sunda dan orang Jawa di bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Peneliti Unsoed di Situs Sanghyang Bedil | Foto Dok.Penulis

Syahdan, raja Galuh saat itu Prabu Permana Di Kusumah memutuskan untuk menjadi seorang pertapa setelah sekian lama memerintah. Raja menunjuk seorang menteri yang bernama Aria Kebonan menggantikannya sebagai raja dengan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Tak lupa Raja menitipkan kedua istrinya Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum dengan pesan agar diperlakukan baik-baik. Meski kenyataannya Barma Wijaya kerap bertindak kasar kepada kedua istri Raja.

Saat ditinggal bertapa, kedua istri Raja dalam keadaan hamil. Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga. Namun ketika Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum, secara ajaib janin dalam kandungan Naganingrum yang belum lahir tersebut berbicara: “Barma Wijaya, Engkau telah melupakan banyak janjimu. Semakin banyak Anda melakukan hal-hal kejam, kekuasaan Anda akan semakin pendek”.

Peristiwa aneh janin yang dapat berbicara tersebut membuat Barma Wijaya sangat marah dan takut terhadap ancaman janin tersebut. Dia ingin menyingkirkan janin itu dengan meminta bantuan Dewi Pangrenyep untuk dapat terlepas dari bayi Dewi Naganingrum yang akan lahir. Dia tidak akan cocok untuk menjadi penguasa negeri ini bersama-sama dengan Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep.

Saat  Dewi Naganingrum melahirkan, bayi laki-laki itu pun  dimasukkan keranjang dan dibuang oleh Barma Wijaya ke Sungai Citanduy. Di desa Geger Sunten, di tepian Sungai Citanduy bayi laki-laki itu ditemukan oleh sepasang suami istri yang biasa memasang bubu keramba penangkap ikan. Bayi itu pun diangkat menjadi anak mereka.

Peneliti Unsoed di Situs Sabung Ayam | Foto Dok.Penulis

Dengan berlalunya waktu, bayi itu tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua di dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet. Pemuda itu bertanya kepada orang tuanya, hewan apakah itu. Orang tua pemuda itu menjawab, burung itu bernama Ciung, dan monyet itu bernama Wanara. Seketika pemuda itu mengatakan ingin memiliki nama Ciung Wanara.

Intrik Politik

Ciung Wanara tidak hanya meninggalkan situs arkeologi yang bernilai tinggi, tetapi juga cerita yang melegenda di masyarakat. Legenda tentang kekuasaan, cerita tentang niat jahat manusia, dan kisah tentang intrik politik di satu kerajaan.

 Legenda tentang kekuasaan tampak dari sosok Barma Wijaya yang ambisius mengantikan Raja Galuh dan takut kehilangan kekuasaan. Kehadiran anak Raja Galuh Permana Di Kusumah dari istrinya Dewi Naganingrum dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan Barma Wijaya. Untuk itu anak itu harus disingkirkan.

Kekuasaan juga melahirkan kejahatan. Jabang bayi yang belum mengenal dosa itu harus dihanyutkan ke sungai demi ambisi kekuasaan. Barma Wijaya menjadi representasi simbol kekuasaan politik yang menghalalkan berbagai cara.

Ciung Wanara yang tumbuh dewasa akhirnya tahu bahwa ia adalah anak keturunan Raja Galuh, Prabu Permana Di Kusumah. Saat Barma Wijaya mengadakan kegiatan sabung ayam, Ciung Wanara hadir. Barma Wijaya sesumbar, ia akan mengabulkan keinginan apa pun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam andalannya. Dalam sabung ayam itu, ayam Ciung Wanara berhasil mengalahkan ayam Barma Wijaya. Ia pun mendapat hadiah setengah dari wilayah Kerajaan Galuh.

Legenda Ciung Wanara yang sarat konflik politik dimulai ketika ia hendak membalas sakit hatinya di masa lalu, saat ia masih bayi dibuang oleh Barma Wijaya. Ciung Wanara menagkap dan memenjarakan Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep. Tentu saja membuat Hariang Banga murka lantaran ibunya ditangkap dan ditahan.

Hariang Banga melakukan pemberontakan, mengumpulkan banyak tentara dan memimpin perang melawan Ciung Wanara, adiknya. Terjadilah perang saudara. Pertempuran berlangsung sengit, karena masing-masing memiliki keahlian pencak silat. Ciung Wanara berhasil mendesak Hariang Banga ke tepi Sungai Brebes.

Saat kedua kaka beradik masih berperang,  tiba-tiba muncul ayah mereka, Raja Prabu Permana Di Kusumah. Sang Raja memerintahkan untuk menghentikan pertempuran, karena mereka masih bersaudara, sehingga pamali (tabu atau pantangan) untuk bertikai. Sungai Brebes pun berubah nama menjadi Sungai Pamali.

Peneliti Unsoed di Pohon Raksasa Binong | Foto Dok.Penulis

Hariang Banga pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh. Dia mendirikan kerajaan Jawa dan menjadi raja Jawa, dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Ciung Wanara memerintah kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya adalah orang Sunda, sejak itu Galuh dan Jawa makmur lagi seperti pada zaman Prabu Permana Di Kusumah. 

Situs Ciung Wanara memberi pelajaran, bahwa kekuasaan dan jabatan dapat membuat orang lupa diri. Barma Wijaya yang mendapat mandat dari Raja Galuh untuk menggantikannya sementara ternyata berbuat keji, membuang bayi yang dikhawatirkan akan merongrong kekuasaannya.

“Pesan dari Ciung Wanara adalah agar hidup ini saling asah, asih, dan asuh. Maka damailah dunia ini,” tutur juru kunci Kistia Dermawan.

Intrik politik seringkali mewarnai cerita, legenda, maupun sejarah di mana pun. Bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, intrik politik juga kerap ditemui. Melalui sejarah dan legenda orang dapat belajar, bahwa intrik politik sering datang dari orang-orang terdekat, teman, bahkan dari dalam keluarga sendiri. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ciung WanaraJawa Baratkerajaanobyek wisatasitus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BHUTA KALA KATAKSINI — PENAMPAKAN PULAU KURA-KURA

Next Post

Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Pertunjukan Puisi "Kutuk Sita", Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co