23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Panggung
Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Pertunjukan puisi Kutuk Sita dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima di Singaraja

APAKAH puisi itu adalah pertunjukan? Tentu bukan, tapi bisa.

Puisi ditulis. Kekuatannya ada pada kata menempel di kertas atau layar hape Anda, dan ia dibaca. Penyair bisa bertapa untuk memilih kata pada puisinya, selain soal bentuk.

Sedang pertunjukan, ada pada aksi panggung—dipertontonkan. Kekuatannya ada pada gerak atau aksi pemain serta musik, dengan seabrek elemen pendukung—yang dimatangkan oleh sutradara sebagai penguat cerita.

Dan, begitulah. Puisi Kutuk Sita karya Made Adnyana Ole dipertunjukkan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Kamis, 2 Oktober 2025. Pertunjukan itu disutradarai Wahyu Mahaputra, seorang pegiat teater dan penyair dari Komunitas Mahima.

Kekuatan kata pada puisi itu dialihwanakan dengan kombinasi kekuatan yang lain: pembacaan di atas panggung, gerak pemain, lagu dan musik pengiring.

Pertunjukan itu dimainkan Rety Wijayanti, Chatrine F. Ndrotdrot, Gede Yoga Wismantara dan Kadek Wisnu Oktaditya. Dan, mereka “memperlihatkan” puisi di tas panggung dengan totalitas yang tinggi. Pertunjukan ini bisa menjadi satu gaya baru atau memang sebelumnya sudah ada, dalam memperlakukan puisi di atas panggung—sebagai pembacaan sang sutradara (seperti teater) tentang puisi tersebut.

Chatrine F. Ndrotdrot

Pertunjukan ini memberikan pengalaman membaca—dengan cara menononton, juga mendengarkan.

Ketika membaca puisi itu dalam bentuk teks, barangkali akan terasa bayangan tentang Bali. Tapi berbeda setelah menonton pertunjukan itu, nuasa demikian lenyap. Ada makna lain yang diberikan oleh sang sutradara. Dan barangkali, di sanalah konsep dimainkan Wahyu dalam mengantarkan—seperti apa Kutuk Sita di atas panggung sebagai mediumnya.

Ketika empat pemain masuk ke panggung. Satu pemain (Chatrine) membaca ulang puisi itu;

Jauhkan kutukmu

Dari jiwaku, Sita.

Aku Bukan Rama!—lanjut pembacaan Wisnu.

Lelaki kera—susul Yoga.

Perempuan bunga—kembali ke Chatrine.

Burung-burung singa—tegas Rety.

Ular ekor cahaya, seketika jadi bengis—tancap Wisnu dan Yoga.

Ketika berebut cincin mata delima di puncak kota—lanjut Wisnu

(Mendesis mereka bersamaan usai membaca itu)

Yang kalah mengulum bara. Yang menang

Menggenggam api

“Siapa menyelamatkan aku dari perkosa tanah,” —kata Rety membacakannya dengan tegas.

Aku bukan Rama!—keras suara Wisnu menimpali pembacaan Rety.

Lalu Chatrine menimpali lagi; Laut menangis, bersujud pada gunung.

Usai bait di atas dibacakan saling silang, terdengarlah tambahan lagu etnik Papua dibaie dibaio kuraiquide i o dibaie, yang dinyanyikan sendu oleh Chatrine yang memang berasal dari Papua.

Hal itu memberikan sesuatu, semacam ada kutukan di Papua. Tentu, sebagai penonton, pikiran saya pergi ke satu hal; tentang tanah—atau mungkin ular yang hilang selain tanah adat dan atau pembabatan hutan—yang bisa dilacak di google.

Chatrine F. Ndrotdrot, Kadek Wisnu Oktaditya, Gede Yoga Wismantara dan Rety Wijayanti, dalam pertunjukan puisi Kutuk Sita

Setelah itu, disusul nyanyian senandung Osing-Banyuwangi oleh Rety. Dua pemain menari—Aku Bukan Rama, ditajamkan oleh suara desisan ular dengan beberapa kain berkelabat—atas respon banyaknya peristiwa tak enak yang terekam oleh Rety dan Chatrine, termasuk Yoga dan Wisnu tentang Bali.

“Saya ingin, puisi Kutuk Sita ini, tak hanya dibaca atau ditonton ketika di atas panggung dalam pertunjukan puisi itu, bukan saja menyoal Bali, atau segala macam dongengnya. Ia harus dinikmati maknanya secara umum,” kata Wahyu, sutradara.

Dalam memaknai puisi itu, Wahyu dengan caranya sendiri, seakan membagikan bekal ilmu pengetahuannya yang diperoleh bulan lalu di Bandung ketika berlatih teater di Komunitas Celah-Celah Langit.

Ia membawa Kutuk Sita—pada gaya yang ekspresif seperti dramawan Iman Soleh, dengan nada yang tegas, mungkin juga bisa dibilang menantang ketika di atas panggung itu, memberi kesan protes.

Wahyu membagi perbait puisi itu pada masing-masing pemain satu, ada juga yang dua. Lalu satu bait terakhir dibacakan bersama; Tapi Aku Bukan Rama. Ya, secara tegas.

Dan pembacaan ulang pada puisi ke dalam pertunjukan, adalah bagian kepenyairan Wahyu—dalam menerka-nerka makna puisi bisa dirasakan dengan cara berbeda.

Dalam hal ini, Wahyu meramu interpretasi secara kolektif bersama empat pemainnya. Setiap pemain, merespon atas masalah apa yang sedang terjadi di kampung halamannya dengan cara mengalir saja.

Sehingga ketika bergerak, mereka menemukan bentuk lain, untuk memperkuat pemaknaan sebagaimana dimaksudkan Wahyu.

“Tak ada sutradara di pertunjukan ini,” kata Wahyu. “Kami semua terlibat—memaknai puisi ini ke dalam pertunjukan.”

Penonton pertunjukan puisi Kutuk Sita

Meski dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dengan waktu berlatih yang sebentar, satu minggu, kepuasan tetap didapat setelah empat orang itu—dari berbagai asal daerah; Bali, Banyuwangi, Papua—membawakan gerak tubuhnya dalam satu ruang yang sama, dengan nada pembacaan yang khas apalagi.

Kutuk Sita keluar dari kutukannya sebagai puisi—yang dianggap banyak orang; melulu tentang masalah Bali soal tanah yang kian dicaplok hantu, misalnya.

Tetapi di tempat lain juga seperti Papua, Banyuwangi, juga ada. Dan itu tawarkan oleh Chatrine dan Rety. Melalui konsep semacam itu, menjadi penegasan Wahyu, makna puisi sangatlah universal.

Sebut saja konflik tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang belum menemukan titik terang untuk rakyat mendapatkan maksudnya.

Rety membawanya pada pertunjukan dengan gerak masyarakat di sana masih berjuang atas haknya dalam mengembalikan nasib atas ruang hidup yang semula baik, sebelum ada proyek tambang.

Kain dibentangkan di atas panggung, tanda menolak, kain dihentak-hentak—pertanda protes dilakukan—menjadi bebunyian tambahan selain suara suling busur yang mengalun sepanjang pembacaan.

“Maknanya diserahkan pada penonton!” tutup Wahyu, tentang puisi itu, juga pertunjukannya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaMade Adnyana Olepertunjukan puisiPuisiRabu Puisiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co