3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Panggung
Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Pertunjukan puisi Kutuk Sita dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima di Singaraja

APAKAH puisi itu adalah pertunjukan? Tentu bukan, tapi bisa.

Puisi ditulis. Kekuatannya ada pada kata menempel di kertas atau layar hape Anda, dan ia dibaca. Penyair bisa bertapa untuk memilih kata pada puisinya, selain soal bentuk.

Sedang pertunjukan, ada pada aksi panggung—dipertontonkan. Kekuatannya ada pada gerak atau aksi pemain serta musik, dengan seabrek elemen pendukung—yang dimatangkan oleh sutradara sebagai penguat cerita.

Dan, begitulah. Puisi Kutuk Sita karya Made Adnyana Ole dipertunjukkan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Kamis, 2 Oktober 2025. Pertunjukan itu disutradarai Wahyu Mahaputra, seorang pegiat teater dan penyair dari Komunitas Mahima.

Kekuatan kata pada puisi itu dialihwanakan dengan kombinasi kekuatan yang lain: pembacaan di atas panggung, gerak pemain, lagu dan musik pengiring.

Pertunjukan itu dimainkan Rety Wijayanti, Chatrine F. Ndrotdrot, Gede Yoga Wismantara dan Kadek Wisnu Oktaditya. Dan, mereka “memperlihatkan” puisi di tas panggung dengan totalitas yang tinggi. Pertunjukan ini bisa menjadi satu gaya baru atau memang sebelumnya sudah ada, dalam memperlakukan puisi di atas panggung—sebagai pembacaan sang sutradara (seperti teater) tentang puisi tersebut.

Chatrine F. Ndrotdrot

Pertunjukan ini memberikan pengalaman membaca—dengan cara menononton, juga mendengarkan.

Ketika membaca puisi itu dalam bentuk teks, barangkali akan terasa bayangan tentang Bali. Tapi berbeda setelah menonton pertunjukan itu, nuasa demikian lenyap. Ada makna lain yang diberikan oleh sang sutradara. Dan barangkali, di sanalah konsep dimainkan Wahyu dalam mengantarkan—seperti apa Kutuk Sita di atas panggung sebagai mediumnya.

Ketika empat pemain masuk ke panggung. Satu pemain (Chatrine) membaca ulang puisi itu;

Jauhkan kutukmu

Dari jiwaku, Sita.

Aku Bukan Rama!—lanjut pembacaan Wisnu.

Lelaki kera—susul Yoga.

Perempuan bunga—kembali ke Chatrine.

Burung-burung singa—tegas Rety.

Ular ekor cahaya, seketika jadi bengis—tancap Wisnu dan Yoga.

Ketika berebut cincin mata delima di puncak kota—lanjut Wisnu

(Mendesis mereka bersamaan usai membaca itu)

Yang kalah mengulum bara. Yang menang

Menggenggam api

“Siapa menyelamatkan aku dari perkosa tanah,” —kata Rety membacakannya dengan tegas.

Aku bukan Rama!—keras suara Wisnu menimpali pembacaan Rety.

Lalu Chatrine menimpali lagi; Laut menangis, bersujud pada gunung.

Usai bait di atas dibacakan saling silang, terdengarlah tambahan lagu etnik Papua dibaie dibaio kuraiquide i o dibaie, yang dinyanyikan sendu oleh Chatrine yang memang berasal dari Papua.

Hal itu memberikan sesuatu, semacam ada kutukan di Papua. Tentu, sebagai penonton, pikiran saya pergi ke satu hal; tentang tanah—atau mungkin ular yang hilang selain tanah adat dan atau pembabatan hutan—yang bisa dilacak di google.

Chatrine F. Ndrotdrot, Kadek Wisnu Oktaditya, Gede Yoga Wismantara dan Rety Wijayanti, dalam pertunjukan puisi Kutuk Sita

Setelah itu, disusul nyanyian senandung Osing-Banyuwangi oleh Rety. Dua pemain menari—Aku Bukan Rama, ditajamkan oleh suara desisan ular dengan beberapa kain berkelabat—atas respon banyaknya peristiwa tak enak yang terekam oleh Rety dan Chatrine, termasuk Yoga dan Wisnu tentang Bali.

“Saya ingin, puisi Kutuk Sita ini, tak hanya dibaca atau ditonton ketika di atas panggung dalam pertunjukan puisi itu, bukan saja menyoal Bali, atau segala macam dongengnya. Ia harus dinikmati maknanya secara umum,” kata Wahyu, sutradara.

Dalam memaknai puisi itu, Wahyu dengan caranya sendiri, seakan membagikan bekal ilmu pengetahuannya yang diperoleh bulan lalu di Bandung ketika berlatih teater di Komunitas Celah-Celah Langit.

Ia membawa Kutuk Sita—pada gaya yang ekspresif seperti dramawan Iman Soleh, dengan nada yang tegas, mungkin juga bisa dibilang menantang ketika di atas panggung itu, memberi kesan protes.

Wahyu membagi perbait puisi itu pada masing-masing pemain satu, ada juga yang dua. Lalu satu bait terakhir dibacakan bersama; Tapi Aku Bukan Rama. Ya, secara tegas.

Dan pembacaan ulang pada puisi ke dalam pertunjukan, adalah bagian kepenyairan Wahyu—dalam menerka-nerka makna puisi bisa dirasakan dengan cara berbeda.

Dalam hal ini, Wahyu meramu interpretasi secara kolektif bersama empat pemainnya. Setiap pemain, merespon atas masalah apa yang sedang terjadi di kampung halamannya dengan cara mengalir saja.

Sehingga ketika bergerak, mereka menemukan bentuk lain, untuk memperkuat pemaknaan sebagaimana dimaksudkan Wahyu.

“Tak ada sutradara di pertunjukan ini,” kata Wahyu. “Kami semua terlibat—memaknai puisi ini ke dalam pertunjukan.”

Penonton pertunjukan puisi Kutuk Sita

Meski dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dengan waktu berlatih yang sebentar, satu minggu, kepuasan tetap didapat setelah empat orang itu—dari berbagai asal daerah; Bali, Banyuwangi, Papua—membawakan gerak tubuhnya dalam satu ruang yang sama, dengan nada pembacaan yang khas apalagi.

Kutuk Sita keluar dari kutukannya sebagai puisi—yang dianggap banyak orang; melulu tentang masalah Bali soal tanah yang kian dicaplok hantu, misalnya.

Tetapi di tempat lain juga seperti Papua, Banyuwangi, juga ada. Dan itu tawarkan oleh Chatrine dan Rety. Melalui konsep semacam itu, menjadi penegasan Wahyu, makna puisi sangatlah universal.

Sebut saja konflik tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang belum menemukan titik terang untuk rakyat mendapatkan maksudnya.

Rety membawanya pada pertunjukan dengan gerak masyarakat di sana masih berjuang atas haknya dalam mengembalikan nasib atas ruang hidup yang semula baik, sebelum ada proyek tambang.

Kain dibentangkan di atas panggung, tanda menolak, kain dihentak-hentak—pertanda protes dilakukan—menjadi bebunyian tambahan selain suara suling busur yang mengalun sepanjang pembacaan.

“Maknanya diserahkan pada penonton!” tutup Wahyu, tentang puisi itu, juga pertunjukannya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaMade Adnyana Olepertunjukan puisiPuisiRabu Puisiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
0
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

Read moreDetails

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co