3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi Alilitan Catur Desa Adat Tamblingan: Tradisi Pemuliaan Air yang Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
October 13, 2025
in Khas
Tradisi Alilitan Catur Desa Adat Tamblingan: Tradisi Pemuliaan Air yang Kini Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tradisi Alilitan

TAHUN ini, tradisi Alilitan dari Catur Desa Adat Dalem Tamblingan—yang terdiri dari Desa Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero—diresmikan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan. Tradisi tersebut memang layak dilindungi dan dilestarikan. Pasalnya, Alilitan Karya berkaitan erat dengan laku menjaga sumber mata air di kawasan Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar. Alilitan Karya diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Menurut Ketua Tim Sembilan Catur Desa Adat Tamblingan Jro Putu Ardana (59), Danau Tamblingan dianggap sebagai pemersatu Desa Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero. Keempat desa tersebut diikat oleh unsur air yang ada di danau yang terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung itu.

Berdasarkan catatan sejarah, pemerintahan Catur Desa berpusat di Gobleg. Pemimpinnya disebut Pengrajeg Adat Dalem Tamblingan dan sifatnya turun-temurun. Keberadaan masyarakat adat Dalem Tamblingan sudah tercatat pada 900-1100 Masehi, yang tertuang dalam Prasasasti Suradipa, Udayana, dan Ugrasena. Namun, bisa saja, eksistensi Catur Desa malah jauh lebih tua dari angka tahun yang disebutkan dalam prasasti tersebut.

Dahulu, menurut keterangan dalam prasasti, banyak orang bermukim di sekitar Danau Tamblingan dan alas (hutan) Merta Jati. Kemudian, sekitar abad ke 13, masyarakat memutuskan pindah dan menyebar ke bawah yang kini disebut Catur Desa.

“Alasan pindahnya sederhana, yaitu untuk menyucikan Danau Tamblingan. Hutannya disebut Merta Jati atau sumber hidup sesungguhnya. Jadi untuk hidup, desa adat tidak mau mengutak-atik sumber mata airnya, melainkan hanya cukup memanfaatkan rembesannya saja,” jelas Putu Ardana.

Prosesi Tradisi Alilitan Karya

Tradisi Alilitan Karya lahir dari kesadaran-arif atas lingkungan geografi Catur Desa Adat Tamblingan. Masyarakat sangat sadar bahwa air merupakan unsur alam yang sangat berharga bagi kehidupan. Oleh karenanya, tak anek jika keimanan masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan—sebagaimana keterangan Jro Ardana—adalah Piagem Game Tirta atau memuliakan air. Kepercayaan itu berpijak pada kesadaran bahwa masyarakat hidup dari sektor agraris dan memanfaatkan rembesan air danau.

Tradisi Alilitan

Sebagai bentuk syukur atas keberlimpahan air itulah, krama Catur Desa menggelar ritual Alilitan Karya—sebuah tradisi dengan prosesi sangat panjang, dilaksanakan berdasarkan perhitungan sasih dari Tilem Kasa sampai Purnama Kelima. Ritual ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Sebuah tradisi yang tak hanya berorientasi pada laku spiritual semata, tapi juga masa depan.

Jro Ardana menceritakan, Alilitan Karya dimulai pada Tilem Sasih Kasa yang diawali dengan Karya Dalu bermakna sebagai pembersihan—yang dibersihkan adalah Pertiwi. Ritual ini dipusatkan di sebuah sumber mata air di kawasan Cangkub, tepatnya di perbatasan antara Desa Gesing dan Munduk.

“Pada saat Tilem Kasa, diumpamakan masyarakat berada dalam kegelapan. Yang dimaksud kegelapan artinya kemiskinan, kebodohan. Selanjutnya, kami harus melakukan sesuatu—melakukan sesuatu untuk menuju kesejhateraan,” beber Jro Ardana.

Lima belas hari kemudian, tepatnya pada purnama Sasih Karo, krama (penduduk desa adat) melaksanakan Bongkol Karya atau membersihkan dasar bumi, atau sapta patala, sekaligus mulang dasar kamertaan. Ritual ini dilaksanakan di sebuah mata air di perbatasan Desa Munduk dan Gobleg.

Setelah pertiwi dan dasar bumi dibersihkan, barulah masing-masing krama harus membersihkan diri di pura dadia-nya masing-masing, yaitu bertepatan di Purnama Ketiga. Selanjutnya, Purnama Sasih Kapat mereka melaksanakan Karya Pangrakih di daerah hulu, tepatnya di Danau Tamblingan dan Alas Merta Jati. “Karena sumber merta kami di sana. Sambil membersihkan hulu, sambil nunas merta di Luhuring Capah,” terang Ardana.

Penyucian Pratima Ida Bhatara Penghulu

Ritual terus berlanjut. Seusai nunas merta, tepat pada Tilem Sasih Kapat, air yang sudah disucikan itu dibagikan kepada masyarakat di luar Catur Desa. Ritual ini diawali dengan menyucikan pratima Ida Bhatara Penghulu ke segara (laut) dengan berjalan kaki dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, sejauh 21 kilometer.

Menariknya, krama yang mengusung pratima Ida Bhatara Penghulu—yang disebut Truna Tekor—ini seolah tak kenal lelah. Mereka kerap berlari saat mendapat kesempatan untuk mengusung pratima itu. Seolah ada kekuatan niskala yang mendorongnya. Jro Ardana, yang juga mantan Kelian Adat Munduk, mengungkapkan, saat ritual ini berlangsung, ribuan krama tumpah ruah ngiringang Ida Bhtara Penghulu mesucian ke laut. Sepanjang perjalanan dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, masyarakat yang wilayahnya dilalui para Truna Tekor kerap menghaturkan makanan dan minuman untuk warga Catur Desa yang ngiringang.

“Sehingga, kami tidak mungkin kelaparan dan kehausan selama perjalanan. Bahkan, ada keyakinan, jika makanan dan minuman yang dihaturkan krama di pinggir jalan itu habis, artinya sangat diberkahi. Begitu juga sebaliknya,” kata Jro Ardana.

Tradisi Alilitan

Di Pura Labuhan Aji, Ida Bhatara mesucian hingga tiga hari. Selama itu pula, segala bentuk kebutuhan makan dan minum krama yang ngiringang telah disediakan oleh krama subak yang selama ini memanfaatkan sumber air dari Mendaum untuk mengairi sawahnya.

Seusai mesucian, Ida Bhatara Penghulu kembali balik ke Gobleg saat tengah malam. Namun, kali ini rute yang ditempuh berbeda dengan saat menuju Pura Labuhan Aji. Pertimbangannya agar sebaran merta  semakin luas, sehingga seluruh tanaman masyarakat tumbuh subur.

Puncaknya adalah upacara Pengayu-ayu pada Purnama Sasih Kalmia. Ritual ini bermakna ngenteg linggih jagad dan ngenteg linggih kemertaan. “Kesejahteraan yang kami dapatkan harus dikukuhkan lewat Upacara Ngayu-Ayu,” kata Jro Ardana.

Segala bentuk ritual yang dilakukan selama Alilitan Karya memiliki makna filosofis sebagai pemuliaan air. “Leluhur kami sudah sejak dahulu melakukannya. Memuliakan air secara skala dan niskala. Apalagi sumber hidup kita kan dari air. Dan masyarakat luar Catur Desa juga mengakui spiritualitasnya,” ujar Jro Ardana.

Saat ini, jumlah warga yang tercatat sebagai anggota krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan mencapai 6 ribu KK, di mana luas lahan kawasan ini mencapai 7 ribu hektar. Dari jumlah tersebut, luas lahan untuk hutan tercatat 1.300 hektar. Dan kini, sekali lagi, negara menetapkan tradisi Alilitan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) yang wajib dijaga dan dilestarikan. Dengan begitu, syarat mutlak yang harus dijalankan negara—dan kita semua—adalah menjaga sumber mata air Tamblingan tetap ada dan lestari. [T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengcatur desa dalem tamblinganTradisi AlilitanWarisan Budaya Tak Benda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Astana Gede Kawali dan Kisah Tragis Dyah Pitaloka

Next Post

Tari Baris Bedog Buleleng sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Tari Baris Bedog Buleleng sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tari Baris Bedog Buleleng sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co