14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 1, 2026
in Cerpen
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNIKAHAN kami tinggal seminggu lagi. Ada yang tidak berubah darinya, gemar merokok. Itu jadi beban pikiran bagiku. Tidak cukup sebungkus sehari, dua bahkan tiga bungkus! Aku jadi ragu, apakah nantinya kami akan langgeng. Memang, dia punya penghasilan. Tapi tak seberapa.

Dia kerap membeli buku. Kamarnya lebih mirip perpustakaan. Buku di sana-sini. Ingin sekali aku membuangnya saat ia tidak ada.

Pernah aku membaca cerpen tentang perempuan kekasih penyair. Mereka menikah. Hidup amat sederhana. Suaminya pendiam, bahkan ketika mereka bertengkar. Ujung cerita itu menyenangkan. Penyair itu mendapat pekerjaan sebagai editor buku.

Baguslah, pikirku. Diam-diam aku membayangkan menjadi istri dalam cerpen itu.

Calon suamiku juga penyair. Tujuh buku puisi telah ia tulis. Banyak puisi terinspirasi dari kisah asmara kami. Membuat aku tersanjung.

Itu dulu, sebelum logika menguasai diriku. Bagaimana keuangan kami nanti, jika upahnya hanya untuk rokok dan buku-buku. Juga, kebiasaannya nongkrong di kedai kopi.

Bahkan, sejak pacaran dengannya, jangankan baju atau celana, membeli B.H saja aku jarang! Jangan harap dia mau membelikannya, untuk dirinya saja masih kurang.

Aku bertambah cemas. Haruskah aku menikah dengannya? Atau, lebih baik dibatalkan saja? Apa kata keluarga besar nanti? Kami sudah pacaran lama sekali. Hampir tujuh tahun. Kemana saja aku?

Pertanyaan itu terus menghantuiku.

Aku mengenalnya di acara baca puisi kampus. Aku datang sebagai penonton, dia tampil dengan kemeja lusuh dan sandal jepit. Aku ingat betul, saat penyair lain membaca puisi dengan gaya berteriak dan dramatis, dia justru membaca dengan suara pelan. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi entah kenapa ruangan menjadi sunyi. Semua orang mendengarkan.

Puisinya tentang kehilangan ibu. Sederhana, tapi entah kenapa membuatku ingin menangis. Setelah acara, dia duduk sendirian di luar gedung, merokok. Aku memberanikan diri menghampiri.

“Puisinya bagus,” kataku.

Ia mengangguk, tersenyum kecil, lalu berkata, “Terima kasih sudah mau mendengar.”

Sejak itu, kami sering bertemu. Awalnya diskusi buku, lalu makan bakso bersama, lalu nonton film murah di bioskop, lalu tanpa sadar aku selalu menunggunya menghubungi lebih dulu.

Aku jatuh cinta pada caranya melihat dunia. Ia bisa bercerita panjang tentang hujan, tentang orang-orang kecil di pasar, tentang penjual koran yang tetap berteriak meski koran sudah jarang dibeli orang. Ia membuat hal sederhana menjadi indah.

Tapi aku lupa satu hal, bahwa keindahan tidak selalu bisa untuk membayar tagihan.

Tahun-tahun awal pacaran terasa ringan. Kami sama-sama belum berpikir tentang masa depan. Jalan kaki ke mana-mana, makan mi instan bersama, menertawakan kesialan hidup. Iia sering membacakan puisi sebelum aku tidur lewat telepon. Kadang puisi orang lain, kadang puisinya sendiri. Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Namun semakin lama, pertanyaan mulai datang dari keluarga.

“Kapan nikah?”

“Kamu yakin dengan pekerjaannya?”

“Penyair bisa menghidupi keluarga?”

Aku selalu membelanya. Mengatakan ia juga bekerja sebagai editor lepas, kadang mengisi pelatihan menulis, kadang menerima honor baca puisi. Aku bilang kami akan baik-baik saja.

Aku percaya itu. Sampai kemudian aku mulai bekerja tetap dan memahami arti gaji bulanan.

Aku melihat bagaimana uang cepat sekali habis. Listrik, kos, makan, pulsa, transportasi. Belum lagi kebutuhan kecil yang tiba-tiba muncul. Sementara dia tetap seperti dulu. Santai. Tenang. Seolah hidup tidak pernah benar-benar mendesak.

Seminggu lalu, aku datang ke kamar kosnya. Bau rokok menyambut bahkan sebelum pintu dibuka. Di dalam, buku menumpuk di lantai, di meja, di atas lemari, bahkan di dekat kompor kecilnya. Asbak penuh puntung rokok.

“Ini kamar atau gudang buku?” tanyaku.

Ia tertawa kecil. “Buku itu teman.”

“Temanmu banyak sekali.”

Ia hanya tersenyum.

Aku ingin marah. Tapi melihat wajahnya yang lelah setelah lembur editing semalaman, kemarahanku mereda. Ia memang bekerja keras. Hanya saja hasilnya tak pernah terasa cukup. Saat ia mandi, aku membereskan sedikit kamarnya. Di bawah tumpukan buku, aku menemukan amplop berisi uang. Tidak banyak, tapi cukup tebal.

Aku tertegun.

Saat ia keluar kamar mandi, aku bertanya, “Ini uang apa?” Ia terlihat kaget. Lalu cepat mengambil amplop itu.

“Tabungan.”

“Tabungan?” aku tertawa sinis. “Tabungan apa? Kamu selalu bilang uangmu habis.”

Ia tampak salah tingkah. “Ya… sedikit-sedikit.”

“Sedikit-sedikit tapi kamu merokok tiga bungkus sehari?”

Ia diam. Aku pulang dengan hati kesal. Rasanya seperti ditipu. Malam itu, kami bertengkar melalui telepon. Pertengkaran terpanjang selama tujuh tahun pacaran.

“Kamu tidak pernah serius memikirkan masa depan!” bentakku.

“Aku serius,” jawabnya pelan.

“Serius apa? Rokokmu lebih penting!”

Ia diam lama. Lalu berkata, “Aku sedang berusaha.”

“Berusaha apa? Menjadi penyair miskin?”

Kata-kata itu keluar begitu saja. Begitu tajam bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya.

Telepon sepi.

Lalu ia berkata pelan, “Kalau kamu malu punya pasangan penyair miskin, kamu tidak harus menikah denganku.”

Klik.

Telepon ditutup.

Aku menangis sepanjang malam. Tapi juga merasa marah. Mengapa selalu aku yang harus mengerti? Mengapa aku yang harus menyesuaikan diri?

Dua hari kami tidak saling menghubungi. Persiapan pernikahan terus berjalan. Keluarga sibuk, undangan hampir semua tersebar, gedung sudah dibayar. Aku merasa terjebak di tengah arus yang tidak bisa dihentikan.Pada hari ketiga, ia datang ke rumahku. Wajahnya lebih kurus dari biasanya. Kami duduk di teras. Lama tanpa bicara.

Ia menyerahkan sebuah kantong kertas.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Aku membukanya perlahan. Di dalamnya kotak kecil. Saat kubuka, aku terdiam.

B.H baru. Dua buah. Warnanya lembut. Cantik. Merek yang biasanya tak sanggup kubeli.

Aku bingung.

“Aku dengar kamu mengeluh ke temanmu,” katanya pelan. “Katanya sejak pacaran denganku kamu jarang beli B.H baru.”

Aku tersipu malu sekaligus kesal. “Kamu menguping?”

Ia tersenyum tipis. “Aku tidak menguping. Aku hanya mendengar karena kalian bicara keras sekali di kedai kopi.”

Aku tak tahu harus berkata apa.

“Aku tahu aku banyak kekurangan,” lanjutnya. “Aku juga tahu hidup dengan penyair bukan pilihan mudah.”

Aku menunduk.

“Uang di amplop itu aku tabung buat nikah. Aku ingin kita punya sedikit pegangan. Aku memang masih merokok. Masih beli buku. Tapi aku sedang mencoba berubah pelan-pelan.”

Aku menatapnya. Matanya tampak sungguh-sungguh.

“Aku juga dapat tawaran kerja tetap di penerbit. Editor. Mulai bulan depan.”

Aku terkejut. “Kenapa tidak bilang?”

“Aku mau kasih kejutan setelah menikah. Tapi kita keburu bertengkar.”

Kami sama-sama tertawa kecil.

Malam itu, aku lama berpikir di kamar. Tentang tujuh tahun bersama. Tentang perjalanan kami. Tentang semua hal kecil yang membuatku jatuh cinta dulu.

Ia memang tidak sempurna. Ia ceroboh soal uang. Ia keras kepala. Ia sulit berubah cepat. Tapi ia tidak pernah berbohong soal perasaan. Ia selalu ada ketika aku sakit. Ia menemani ketika ayahku meninggal. Ia berjalan kaki dua jam hanya untuk membawakan bubur ketika aku demam.

Aku sadar, ketakutanku bukan hanya soal uang. Aku takut hidup sederhana. Takut tidak seperti teman-temanku yang menikah dengan lelaki mapan. Aku takut dinilai gagal. Padahal, bukankah sejak awal aku jatuh cinta pada kesederhanaannya?

Seminggu kemudian, di hari pernikahan kami, ia tampak canggung mengenakan jas pinjaman. Aku hampir tertawa melihatnya berkeringat gugup. Saat ijab kabul selesai dan semua orang bersorak bahagia, aku menatap wajahnya. Lelaki yang sudah bersamaku tujuh tahun.

Penyair miskin, mungkin. Tapi juga lelaki yang selalu berusaha, meski lambat. Malam pertama kami sederhana. Rumah kontrakan kecil. Kasur tipis. Kipas angin berisik. Ia duduk di tepi kasur, terlihat bingung harus berkata apa.

Aku membuka lemari kecil dan mengeluarkan kotak pemberiannya. B.H baru itu. Ia langsung salah tingkah. “Eh… aku beli itu bukan buat sekarang juga.”

Aku tertawa.

“Terima kasih,” kataku.

Ia mengangguk gugup. Lalu berkata pelan, “Aku akan berusaha mengurangi rokok.”

“Aku juga akan berusaha tidak membuang buku-bukumu,” jawabku.

Kami tertawa bersama.

Di luar, suara motor lewat, anjing menggonggong, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak dramatis seperti puisi, tidak manis seperti cerpen yang dulu kubaca.

Hanya kehidupan biasa, dengan dua orang yang belajar bertahan bersama.

Sebelum tidur, ia berkata pelan, “Aku sudah menulis puisi baru.”

“Judulnya apa?”

Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum nakal.

“B.H.”

Aku memukul lengannya dengan bantal.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak lagi takut pada masa depan. [T]

[Untuk R.S.]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Next Post

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co