25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 1, 2026
in Cerpen
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERNIKAHAN kami tinggal seminggu lagi. Ada yang tidak berubah darinya, gemar merokok. Itu jadi beban pikiran bagiku. Tidak cukup sebungkus sehari, dua bahkan tiga bungkus! Aku jadi ragu, apakah nantinya kami akan langgeng. Memang, dia punya penghasilan. Tapi tak seberapa.

Dia kerap membeli buku. Kamarnya lebih mirip perpustakaan. Buku di sana-sini. Ingin sekali aku membuangnya saat ia tidak ada.

Pernah aku membaca cerpen tentang perempuan kekasih penyair. Mereka menikah. Hidup amat sederhana. Suaminya pendiam, bahkan ketika mereka bertengkar. Ujung cerita itu menyenangkan. Penyair itu mendapat pekerjaan sebagai editor buku.

Baguslah, pikirku. Diam-diam aku membayangkan menjadi istri dalam cerpen itu.

Calon suamiku juga penyair. Tujuh buku puisi telah ia tulis. Banyak puisi terinspirasi dari kisah asmara kami. Membuat aku tersanjung.

Itu dulu, sebelum logika menguasai diriku. Bagaimana keuangan kami nanti, jika upahnya hanya untuk rokok dan buku-buku. Juga, kebiasaannya nongkrong di kedai kopi.

Bahkan, sejak pacaran dengannya, jangankan baju atau celana, membeli B.H saja aku jarang! Jangan harap dia mau membelikannya, untuk dirinya saja masih kurang.

Aku bertambah cemas. Haruskah aku menikah dengannya? Atau, lebih baik dibatalkan saja? Apa kata keluarga besar nanti? Kami sudah pacaran lama sekali. Hampir tujuh tahun. Kemana saja aku?

Pertanyaan itu terus menghantuiku.

Aku mengenalnya di acara baca puisi kampus. Aku datang sebagai penonton, dia tampil dengan kemeja lusuh dan sandal jepit. Aku ingat betul, saat penyair lain membaca puisi dengan gaya berteriak dan dramatis, dia justru membaca dengan suara pelan. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi entah kenapa ruangan menjadi sunyi. Semua orang mendengarkan.

Puisinya tentang kehilangan ibu. Sederhana, tapi entah kenapa membuatku ingin menangis. Setelah acara, dia duduk sendirian di luar gedung, merokok. Aku memberanikan diri menghampiri.

“Puisinya bagus,” kataku.

Ia mengangguk, tersenyum kecil, lalu berkata, “Terima kasih sudah mau mendengar.”

Sejak itu, kami sering bertemu. Awalnya diskusi buku, lalu makan bakso bersama, lalu nonton film murah di bioskop, lalu tanpa sadar aku selalu menunggunya menghubungi lebih dulu.

Aku jatuh cinta pada caranya melihat dunia. Ia bisa bercerita panjang tentang hujan, tentang orang-orang kecil di pasar, tentang penjual koran yang tetap berteriak meski koran sudah jarang dibeli orang. Ia membuat hal sederhana menjadi indah.

Tapi aku lupa satu hal, bahwa keindahan tidak selalu bisa untuk membayar tagihan.

Tahun-tahun awal pacaran terasa ringan. Kami sama-sama belum berpikir tentang masa depan. Jalan kaki ke mana-mana, makan mi instan bersama, menertawakan kesialan hidup. Iia sering membacakan puisi sebelum aku tidur lewat telepon. Kadang puisi orang lain, kadang puisinya sendiri. Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Namun semakin lama, pertanyaan mulai datang dari keluarga.

“Kapan nikah?”

“Kamu yakin dengan pekerjaannya?”

“Penyair bisa menghidupi keluarga?”

Aku selalu membelanya. Mengatakan ia juga bekerja sebagai editor lepas, kadang mengisi pelatihan menulis, kadang menerima honor baca puisi. Aku bilang kami akan baik-baik saja.

Aku percaya itu. Sampai kemudian aku mulai bekerja tetap dan memahami arti gaji bulanan.

Aku melihat bagaimana uang cepat sekali habis. Listrik, kos, makan, pulsa, transportasi. Belum lagi kebutuhan kecil yang tiba-tiba muncul. Sementara dia tetap seperti dulu. Santai. Tenang. Seolah hidup tidak pernah benar-benar mendesak.

Seminggu lalu, aku datang ke kamar kosnya. Bau rokok menyambut bahkan sebelum pintu dibuka. Di dalam, buku menumpuk di lantai, di meja, di atas lemari, bahkan di dekat kompor kecilnya. Asbak penuh puntung rokok.

“Ini kamar atau gudang buku?” tanyaku.

Ia tertawa kecil. “Buku itu teman.”

“Temanmu banyak sekali.”

Ia hanya tersenyum.

Aku ingin marah. Tapi melihat wajahnya yang lelah setelah lembur editing semalaman, kemarahanku mereda. Ia memang bekerja keras. Hanya saja hasilnya tak pernah terasa cukup. Saat ia mandi, aku membereskan sedikit kamarnya. Di bawah tumpukan buku, aku menemukan amplop berisi uang. Tidak banyak, tapi cukup tebal.

Aku tertegun.

Saat ia keluar kamar mandi, aku bertanya, “Ini uang apa?” Ia terlihat kaget. Lalu cepat mengambil amplop itu.

“Tabungan.”

“Tabungan?” aku tertawa sinis. “Tabungan apa? Kamu selalu bilang uangmu habis.”

Ia tampak salah tingkah. “Ya… sedikit-sedikit.”

“Sedikit-sedikit tapi kamu merokok tiga bungkus sehari?”

Ia diam. Aku pulang dengan hati kesal. Rasanya seperti ditipu. Malam itu, kami bertengkar melalui telepon. Pertengkaran terpanjang selama tujuh tahun pacaran.

“Kamu tidak pernah serius memikirkan masa depan!” bentakku.

“Aku serius,” jawabnya pelan.

“Serius apa? Rokokmu lebih penting!”

Ia diam lama. Lalu berkata, “Aku sedang berusaha.”

“Berusaha apa? Menjadi penyair miskin?”

Kata-kata itu keluar begitu saja. Begitu tajam bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya.

Telepon sepi.

Lalu ia berkata pelan, “Kalau kamu malu punya pasangan penyair miskin, kamu tidak harus menikah denganku.”

Klik.

Telepon ditutup.

Aku menangis sepanjang malam. Tapi juga merasa marah. Mengapa selalu aku yang harus mengerti? Mengapa aku yang harus menyesuaikan diri?

Dua hari kami tidak saling menghubungi. Persiapan pernikahan terus berjalan. Keluarga sibuk, undangan hampir semua tersebar, gedung sudah dibayar. Aku merasa terjebak di tengah arus yang tidak bisa dihentikan.Pada hari ketiga, ia datang ke rumahku. Wajahnya lebih kurus dari biasanya. Kami duduk di teras. Lama tanpa bicara.

Ia menyerahkan sebuah kantong kertas.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Aku membukanya perlahan. Di dalamnya kotak kecil. Saat kubuka, aku terdiam.

B.H baru. Dua buah. Warnanya lembut. Cantik. Merek yang biasanya tak sanggup kubeli.

Aku bingung.

“Aku dengar kamu mengeluh ke temanmu,” katanya pelan. “Katanya sejak pacaran denganku kamu jarang beli B.H baru.”

Aku tersipu malu sekaligus kesal. “Kamu menguping?”

Ia tersenyum tipis. “Aku tidak menguping. Aku hanya mendengar karena kalian bicara keras sekali di kedai kopi.”

Aku tak tahu harus berkata apa.

“Aku tahu aku banyak kekurangan,” lanjutnya. “Aku juga tahu hidup dengan penyair bukan pilihan mudah.”

Aku menunduk.

“Uang di amplop itu aku tabung buat nikah. Aku ingin kita punya sedikit pegangan. Aku memang masih merokok. Masih beli buku. Tapi aku sedang mencoba berubah pelan-pelan.”

Aku menatapnya. Matanya tampak sungguh-sungguh.

“Aku juga dapat tawaran kerja tetap di penerbit. Editor. Mulai bulan depan.”

Aku terkejut. “Kenapa tidak bilang?”

“Aku mau kasih kejutan setelah menikah. Tapi kita keburu bertengkar.”

Kami sama-sama tertawa kecil.

Malam itu, aku lama berpikir di kamar. Tentang tujuh tahun bersama. Tentang perjalanan kami. Tentang semua hal kecil yang membuatku jatuh cinta dulu.

Ia memang tidak sempurna. Ia ceroboh soal uang. Ia keras kepala. Ia sulit berubah cepat. Tapi ia tidak pernah berbohong soal perasaan. Ia selalu ada ketika aku sakit. Ia menemani ketika ayahku meninggal. Ia berjalan kaki dua jam hanya untuk membawakan bubur ketika aku demam.

Aku sadar, ketakutanku bukan hanya soal uang. Aku takut hidup sederhana. Takut tidak seperti teman-temanku yang menikah dengan lelaki mapan. Aku takut dinilai gagal. Padahal, bukankah sejak awal aku jatuh cinta pada kesederhanaannya?

Seminggu kemudian, di hari pernikahan kami, ia tampak canggung mengenakan jas pinjaman. Aku hampir tertawa melihatnya berkeringat gugup. Saat ijab kabul selesai dan semua orang bersorak bahagia, aku menatap wajahnya. Lelaki yang sudah bersamaku tujuh tahun.

Penyair miskin, mungkin. Tapi juga lelaki yang selalu berusaha, meski lambat. Malam pertama kami sederhana. Rumah kontrakan kecil. Kasur tipis. Kipas angin berisik. Ia duduk di tepi kasur, terlihat bingung harus berkata apa.

Aku membuka lemari kecil dan mengeluarkan kotak pemberiannya. B.H baru itu. Ia langsung salah tingkah. “Eh… aku beli itu bukan buat sekarang juga.”

Aku tertawa.

“Terima kasih,” kataku.

Ia mengangguk gugup. Lalu berkata pelan, “Aku akan berusaha mengurangi rokok.”

“Aku juga akan berusaha tidak membuang buku-bukumu,” jawabku.

Kami tertawa bersama.

Di luar, suara motor lewat, anjing menggonggong, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak dramatis seperti puisi, tidak manis seperti cerpen yang dulu kubaca.

Hanya kehidupan biasa, dengan dua orang yang belajar bertahan bersama.

Sebelum tidur, ia berkata pelan, “Aku sudah menulis puisi baru.”

“Judulnya apa?”

Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum nakal.

“B.H.”

Aku memukul lengannya dengan bantal.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak lagi takut pada masa depan. [T]

[Untuk R.S.]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Next Post

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co