26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
February 1, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan

PEREMPUAN TANAH LOT

kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan dada
sebagai luka yang setia
kau gadis yang datang bersama senja
dan pergi bersama pasrah
meninggalkan laut dalam mataku
yang tak pernah surut
aku berdiri jauh tak berani mendekat
sebab cintaku lebih mirip sembahyang daripada pelukan
lebih mirip penyerahan daripada keinginan
di rambutmu angin belajar berzikir
di matamu laut belajar sunyi
aku ingin memanggilmu namun lidahku takut
takut namamu berubah menjadi dosa
atau harapanku menjelma kesombongan
maka aku hanya menyebutmu dalam hati
di antara ombak yang saling bersujud
di antara karang yang sabar menunggu pecah
jika suatu hari kau mendengar
ada lelaki menangis di pesisir
tanpa suara, tanpa tubuh
itulah aku yang mencintaimu
dengan cara paling sunyi

Padang, 2026

SENJA TURUN PERLAHAN DI RAMBUTMU

senja turun perlahan di rambutmu
seperti rahasia yang dilepas Tuhan tanpa saksi
aku melihat laut memejamkan mata
karang-karang berlutut
dan waktu berhenti bernapas, saat kau melintas
di tubuhmu, cahaya kehilangan alamat
menjadi bayang yang gentar menyebut nama
aku menunggumu dalam bentuk doa yang salah eja
huruf hurufnya patah dan maknanya berdarah
kau berjalan namun kakimu tidak menyentuh tanah
kau tersenyum
namun senyummu seperti pintu yang tak ingin dibuka
di rambutmu senja menyembelih siang
darah cahaya mengalir ke laut
dan ombak mengamininya dengan gemetar
aku ingin memelukmu
namun lenganku berubah jadi angin
aku ingin memanggilmu namun suaraku menjelma kabut
gadis tanah lot, kau adalah ayat yang kabur
aku membacanya terbalik
dan kehilangan Tuhan di tengah baris
ketika malam akhirnya tiba
aku tahu
aku tak pernah benar-benar ada
kecuali sebagai bayang di balik senjamu

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG DIJAGA DOA DAN KARANG

malam menjaga langkahmu
seperti luka menjaga darahnya sendiri
kau berjalan, namun bayangmu tertinggal
menempel di karang
menjadi dingin yang tak mau pergi
di tanah lot doa-doa tidak terucap
hanya bernafas pelan
di sela garam dan lumut
aku melihat namamu ditulis ombak
lalu dihapus kembali
seolah Tuhan ragu menyebutmu terlalu terang
perempuan
kau dijaga karang bukan untuk diselamatkan
melainkan agar tetap terluka dan ingat pada laut
aku mendekat namun kakiku ditarik sunyi
tanganku dipatahkan angin
dan hatiku dipulangkan dalam peti senyap
di rambutmu malam bersarang
menetas menjadi bisikan
yang menyebut namaku tanpa suara
aku ingin percaya kau manusia
namun tubuhmu lebih mirip doa
yang salah alamat
dan tak ingin kembali
jika suatu saat kau menoleh
dan melihat aku sudah tiada
jangan takut
aku hanya berubah menjadi kabut
yang setia menjaga jarak
antara cintamu dan Tuhan

Padang, 2026

LAUT MENYIMPAN WAJAHMU LEBIH LAMA

di permukaan laut
wajahmu terselip seperti rahasia yang lupa dipanggil
ombak datang
memecah matamu ke batu karang
dan darah senyapku ikut terseret
aku berenang, tanpa tubuh, tanpa suara
hanya rindu yang membusuk di dasar
karang bernapas pelan
seperti dada orang yang sekarat
bulan jatuh
dan tak pernah diangkat kembali
kau dijaga laut
bukan untuk diselamatkan
melainkan untuk menghukum
agar aku tak pernah benar-benar pulang
perempuan tanah lot
namamu menjadi arang
yang kusimpan di rongga dada
dan setiap napasku
terbakar olehmu

Padang, 2026

UPACARA SUNYI YANG KITA SEBUT CINTA

di ruang sunyi
cinta kita menyalakan dupa yang tak berasap
setiap napasmu menjadi gerakan rahasia
yang aku baca dengan jantung yang gemetar
kau berdiri di tepi karang
dan ombak berlutut di kakimu
membisikkan doa yang tak pernah kutahu artinya
namun aku tahu itu menuntunku pulang
aku menulis namamu di pasir
lalu laut menghapusnya perlahan
seperti tuhan menghapus dosa yang terlalu berat
atau rindu yang tak sanggup menahan diri
cinta ini adalah upacara
tanpa saksi, tanpa pelukan
hanya keheningan yang memanggil
dan kita menjawabnya
dengan bayangan yang sama
perempuan tanah lot
kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri
menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu
dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan

Padang, 2026

DOA YANG TAK SEMPAT PULANG

ada doa yang tak sempat pulang
tersesat di antara ombak dan angin
mengambang di rambutmu
menjadi kabut yang menahan napasku
kau berjalan di tanah lot
seperti bayangan yang lupa nama
meninggalkan jejak
yang tak bisa kugapai
aku ingin menjemputnya
namun doa itu lebih cepat dari langkahku
lebih dalam dari karang
dan lebih dingin dari laut
setiap malam aku menyisir pantai
mencari serpihan doa yang kau tinggalkan
namun yang kutemukan hanya kesunyian
yang menggelayut di dadaku
seperti arang yang tak padam
perempuan tanah lot
namamu adalah doa yang terlambat
dan cintaku adalah laut yang menunggu tanpa akhir

Padang, 2026

AKU TINGGAL DI TANAH LOT YANG BERNAMA RINDU

di tepian yang tak berjiwa
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
setiap karang adalah luka
dan setiap ombak adalah doa yang patah
kau datang seperti senja
meninggalkan bayangmu di mataku
dan aku menunggu
dengan tangan kosong
yang memungut angin
laut mengajarku pasrah
dan malam mengajarku menahan
aku belajar mencintaimu
dengan jarak yang memotong dada
dan diam yang menusuk hati
perempuan tanah lot
namamu adalah tangisan yang tak terdengar
dan cintaku adalah api yang tak padam
yang terus menari di antara gelombang
hingga aku lupa siapa yang berjalan
dan siapa yang tenggelam
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
dan setiap detik adalah pengakuan
bahwa mencintaimu
adalah doa yang tak pernah sampai
namun tetap kudoakan

Padang, 2026

.

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Next Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co