2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
February 1, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan

PEREMPUAN TANAH LOT

kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan dada
sebagai luka yang setia
kau gadis yang datang bersama senja
dan pergi bersama pasrah
meninggalkan laut dalam mataku
yang tak pernah surut
aku berdiri jauh tak berani mendekat
sebab cintaku lebih mirip sembahyang daripada pelukan
lebih mirip penyerahan daripada keinginan
di rambutmu angin belajar berzikir
di matamu laut belajar sunyi
aku ingin memanggilmu namun lidahku takut
takut namamu berubah menjadi dosa
atau harapanku menjelma kesombongan
maka aku hanya menyebutmu dalam hati
di antara ombak yang saling bersujud
di antara karang yang sabar menunggu pecah
jika suatu hari kau mendengar
ada lelaki menangis di pesisir
tanpa suara, tanpa tubuh
itulah aku yang mencintaimu
dengan cara paling sunyi

Padang, 2026

SENJA TURUN PERLAHAN DI RAMBUTMU

senja turun perlahan di rambutmu
seperti rahasia yang dilepas Tuhan tanpa saksi
aku melihat laut memejamkan mata
karang-karang berlutut
dan waktu berhenti bernapas, saat kau melintas
di tubuhmu, cahaya kehilangan alamat
menjadi bayang yang gentar menyebut nama
aku menunggumu dalam bentuk doa yang salah eja
huruf hurufnya patah dan maknanya berdarah
kau berjalan namun kakimu tidak menyentuh tanah
kau tersenyum
namun senyummu seperti pintu yang tak ingin dibuka
di rambutmu senja menyembelih siang
darah cahaya mengalir ke laut
dan ombak mengamininya dengan gemetar
aku ingin memelukmu
namun lenganku berubah jadi angin
aku ingin memanggilmu namun suaraku menjelma kabut
gadis tanah lot, kau adalah ayat yang kabur
aku membacanya terbalik
dan kehilangan Tuhan di tengah baris
ketika malam akhirnya tiba
aku tahu
aku tak pernah benar-benar ada
kecuali sebagai bayang di balik senjamu

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG DIJAGA DOA DAN KARANG

malam menjaga langkahmu
seperti luka menjaga darahnya sendiri
kau berjalan, namun bayangmu tertinggal
menempel di karang
menjadi dingin yang tak mau pergi
di tanah lot doa-doa tidak terucap
hanya bernafas pelan
di sela garam dan lumut
aku melihat namamu ditulis ombak
lalu dihapus kembali
seolah Tuhan ragu menyebutmu terlalu terang
perempuan
kau dijaga karang bukan untuk diselamatkan
melainkan agar tetap terluka dan ingat pada laut
aku mendekat namun kakiku ditarik sunyi
tanganku dipatahkan angin
dan hatiku dipulangkan dalam peti senyap
di rambutmu malam bersarang
menetas menjadi bisikan
yang menyebut namaku tanpa suara
aku ingin percaya kau manusia
namun tubuhmu lebih mirip doa
yang salah alamat
dan tak ingin kembali
jika suatu saat kau menoleh
dan melihat aku sudah tiada
jangan takut
aku hanya berubah menjadi kabut
yang setia menjaga jarak
antara cintamu dan Tuhan

Padang, 2026

LAUT MENYIMPAN WAJAHMU LEBIH LAMA

di permukaan laut
wajahmu terselip seperti rahasia yang lupa dipanggil
ombak datang
memecah matamu ke batu karang
dan darah senyapku ikut terseret
aku berenang, tanpa tubuh, tanpa suara
hanya rindu yang membusuk di dasar
karang bernapas pelan
seperti dada orang yang sekarat
bulan jatuh
dan tak pernah diangkat kembali
kau dijaga laut
bukan untuk diselamatkan
melainkan untuk menghukum
agar aku tak pernah benar-benar pulang
perempuan tanah lot
namamu menjadi arang
yang kusimpan di rongga dada
dan setiap napasku
terbakar olehmu

Padang, 2026

UPACARA SUNYI YANG KITA SEBUT CINTA

di ruang sunyi
cinta kita menyalakan dupa yang tak berasap
setiap napasmu menjadi gerakan rahasia
yang aku baca dengan jantung yang gemetar
kau berdiri di tepi karang
dan ombak berlutut di kakimu
membisikkan doa yang tak pernah kutahu artinya
namun aku tahu itu menuntunku pulang
aku menulis namamu di pasir
lalu laut menghapusnya perlahan
seperti tuhan menghapus dosa yang terlalu berat
atau rindu yang tak sanggup menahan diri
cinta ini adalah upacara
tanpa saksi, tanpa pelukan
hanya keheningan yang memanggil
dan kita menjawabnya
dengan bayangan yang sama
perempuan tanah lot
kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri
menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu
dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan

Padang, 2026

DOA YANG TAK SEMPAT PULANG

ada doa yang tak sempat pulang
tersesat di antara ombak dan angin
mengambang di rambutmu
menjadi kabut yang menahan napasku
kau berjalan di tanah lot
seperti bayangan yang lupa nama
meninggalkan jejak
yang tak bisa kugapai
aku ingin menjemputnya
namun doa itu lebih cepat dari langkahku
lebih dalam dari karang
dan lebih dingin dari laut
setiap malam aku menyisir pantai
mencari serpihan doa yang kau tinggalkan
namun yang kutemukan hanya kesunyian
yang menggelayut di dadaku
seperti arang yang tak padam
perempuan tanah lot
namamu adalah doa yang terlambat
dan cintaku adalah laut yang menunggu tanpa akhir

Padang, 2026

AKU TINGGAL DI TANAH LOT YANG BERNAMA RINDU

di tepian yang tak berjiwa
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
setiap karang adalah luka
dan setiap ombak adalah doa yang patah
kau datang seperti senja
meninggalkan bayangmu di mataku
dan aku menunggu
dengan tangan kosong
yang memungut angin
laut mengajarku pasrah
dan malam mengajarku menahan
aku belajar mencintaimu
dengan jarak yang memotong dada
dan diam yang menusuk hati
perempuan tanah lot
namamu adalah tangisan yang tak terdengar
dan cintaku adalah api yang tak padam
yang terus menari di antara gelombang
hingga aku lupa siapa yang berjalan
dan siapa yang tenggelam
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
dan setiap detik adalah pengakuan
bahwa mencintaimu
adalah doa yang tak pernah sampai
namun tetap kudoakan

Padang, 2026

.

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Next Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co