14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
February 1, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan

PEREMPUAN TANAH LOT

kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan dada
sebagai luka yang setia
kau gadis yang datang bersama senja
dan pergi bersama pasrah
meninggalkan laut dalam mataku
yang tak pernah surut
aku berdiri jauh tak berani mendekat
sebab cintaku lebih mirip sembahyang daripada pelukan
lebih mirip penyerahan daripada keinginan
di rambutmu angin belajar berzikir
di matamu laut belajar sunyi
aku ingin memanggilmu namun lidahku takut
takut namamu berubah menjadi dosa
atau harapanku menjelma kesombongan
maka aku hanya menyebutmu dalam hati
di antara ombak yang saling bersujud
di antara karang yang sabar menunggu pecah
jika suatu hari kau mendengar
ada lelaki menangis di pesisir
tanpa suara, tanpa tubuh
itulah aku yang mencintaimu
dengan cara paling sunyi

Padang, 2026

SENJA TURUN PERLAHAN DI RAMBUTMU

senja turun perlahan di rambutmu
seperti rahasia yang dilepas Tuhan tanpa saksi
aku melihat laut memejamkan mata
karang-karang berlutut
dan waktu berhenti bernapas, saat kau melintas
di tubuhmu, cahaya kehilangan alamat
menjadi bayang yang gentar menyebut nama
aku menunggumu dalam bentuk doa yang salah eja
huruf hurufnya patah dan maknanya berdarah
kau berjalan namun kakimu tidak menyentuh tanah
kau tersenyum
namun senyummu seperti pintu yang tak ingin dibuka
di rambutmu senja menyembelih siang
darah cahaya mengalir ke laut
dan ombak mengamininya dengan gemetar
aku ingin memelukmu
namun lenganku berubah jadi angin
aku ingin memanggilmu namun suaraku menjelma kabut
gadis tanah lot, kau adalah ayat yang kabur
aku membacanya terbalik
dan kehilangan Tuhan di tengah baris
ketika malam akhirnya tiba
aku tahu
aku tak pernah benar-benar ada
kecuali sebagai bayang di balik senjamu

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG DIJAGA DOA DAN KARANG

malam menjaga langkahmu
seperti luka menjaga darahnya sendiri
kau berjalan, namun bayangmu tertinggal
menempel di karang
menjadi dingin yang tak mau pergi
di tanah lot doa-doa tidak terucap
hanya bernafas pelan
di sela garam dan lumut
aku melihat namamu ditulis ombak
lalu dihapus kembali
seolah Tuhan ragu menyebutmu terlalu terang
perempuan
kau dijaga karang bukan untuk diselamatkan
melainkan agar tetap terluka dan ingat pada laut
aku mendekat namun kakiku ditarik sunyi
tanganku dipatahkan angin
dan hatiku dipulangkan dalam peti senyap
di rambutmu malam bersarang
menetas menjadi bisikan
yang menyebut namaku tanpa suara
aku ingin percaya kau manusia
namun tubuhmu lebih mirip doa
yang salah alamat
dan tak ingin kembali
jika suatu saat kau menoleh
dan melihat aku sudah tiada
jangan takut
aku hanya berubah menjadi kabut
yang setia menjaga jarak
antara cintamu dan Tuhan

Padang, 2026

LAUT MENYIMPAN WAJAHMU LEBIH LAMA

di permukaan laut
wajahmu terselip seperti rahasia yang lupa dipanggil
ombak datang
memecah matamu ke batu karang
dan darah senyapku ikut terseret
aku berenang, tanpa tubuh, tanpa suara
hanya rindu yang membusuk di dasar
karang bernapas pelan
seperti dada orang yang sekarat
bulan jatuh
dan tak pernah diangkat kembali
kau dijaga laut
bukan untuk diselamatkan
melainkan untuk menghukum
agar aku tak pernah benar-benar pulang
perempuan tanah lot
namamu menjadi arang
yang kusimpan di rongga dada
dan setiap napasku
terbakar olehmu

Padang, 2026

UPACARA SUNYI YANG KITA SEBUT CINTA

di ruang sunyi
cinta kita menyalakan dupa yang tak berasap
setiap napasmu menjadi gerakan rahasia
yang aku baca dengan jantung yang gemetar
kau berdiri di tepi karang
dan ombak berlutut di kakimu
membisikkan doa yang tak pernah kutahu artinya
namun aku tahu itu menuntunku pulang
aku menulis namamu di pasir
lalu laut menghapusnya perlahan
seperti tuhan menghapus dosa yang terlalu berat
atau rindu yang tak sanggup menahan diri
cinta ini adalah upacara
tanpa saksi, tanpa pelukan
hanya keheningan yang memanggil
dan kita menjawabnya
dengan bayangan yang sama
perempuan tanah lot
kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri
menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu
dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan

Padang, 2026

DOA YANG TAK SEMPAT PULANG

ada doa yang tak sempat pulang
tersesat di antara ombak dan angin
mengambang di rambutmu
menjadi kabut yang menahan napasku
kau berjalan di tanah lot
seperti bayangan yang lupa nama
meninggalkan jejak
yang tak bisa kugapai
aku ingin menjemputnya
namun doa itu lebih cepat dari langkahku
lebih dalam dari karang
dan lebih dingin dari laut
setiap malam aku menyisir pantai
mencari serpihan doa yang kau tinggalkan
namun yang kutemukan hanya kesunyian
yang menggelayut di dadaku
seperti arang yang tak padam
perempuan tanah lot
namamu adalah doa yang terlambat
dan cintaku adalah laut yang menunggu tanpa akhir

Padang, 2026

AKU TINGGAL DI TANAH LOT YANG BERNAMA RINDU

di tepian yang tak berjiwa
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
setiap karang adalah luka
dan setiap ombak adalah doa yang patah
kau datang seperti senja
meninggalkan bayangmu di mataku
dan aku menunggu
dengan tangan kosong
yang memungut angin
laut mengajarku pasrah
dan malam mengajarku menahan
aku belajar mencintaimu
dengan jarak yang memotong dada
dan diam yang menusuk hati
perempuan tanah lot
namamu adalah tangisan yang tak terdengar
dan cintaku adalah api yang tak padam
yang terus menari di antara gelombang
hingga aku lupa siapa yang berjalan
dan siapa yang tenggelam
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
dan setiap detik adalah pengakuan
bahwa mencintaimu
adalah doa yang tak pernah sampai
namun tetap kudoakan

Padang, 2026

.

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Next Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co