23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan by Iwan Setiawan
February 1, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja Turun Perlahan di Rambutmu

Iwan Setiawan

PEREMPUAN TANAH LOT

kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan dada
sebagai luka yang setia
kau gadis yang datang bersama senja
dan pergi bersama pasrah
meninggalkan laut dalam mataku
yang tak pernah surut
aku berdiri jauh tak berani mendekat
sebab cintaku lebih mirip sembahyang daripada pelukan
lebih mirip penyerahan daripada keinginan
di rambutmu angin belajar berzikir
di matamu laut belajar sunyi
aku ingin memanggilmu namun lidahku takut
takut namamu berubah menjadi dosa
atau harapanku menjelma kesombongan
maka aku hanya menyebutmu dalam hati
di antara ombak yang saling bersujud
di antara karang yang sabar menunggu pecah
jika suatu hari kau mendengar
ada lelaki menangis di pesisir
tanpa suara, tanpa tubuh
itulah aku yang mencintaimu
dengan cara paling sunyi

Padang, 2026

SENJA TURUN PERLAHAN DI RAMBUTMU

senja turun perlahan di rambutmu
seperti rahasia yang dilepas Tuhan tanpa saksi
aku melihat laut memejamkan mata
karang-karang berlutut
dan waktu berhenti bernapas, saat kau melintas
di tubuhmu, cahaya kehilangan alamat
menjadi bayang yang gentar menyebut nama
aku menunggumu dalam bentuk doa yang salah eja
huruf hurufnya patah dan maknanya berdarah
kau berjalan namun kakimu tidak menyentuh tanah
kau tersenyum
namun senyummu seperti pintu yang tak ingin dibuka
di rambutmu senja menyembelih siang
darah cahaya mengalir ke laut
dan ombak mengamininya dengan gemetar
aku ingin memelukmu
namun lenganku berubah jadi angin
aku ingin memanggilmu namun suaraku menjelma kabut
gadis tanah lot, kau adalah ayat yang kabur
aku membacanya terbalik
dan kehilangan Tuhan di tengah baris
ketika malam akhirnya tiba
aku tahu
aku tak pernah benar-benar ada
kecuali sebagai bayang di balik senjamu

Padang, 2026

PEREMPUAN YANG DIJAGA DOA DAN KARANG

malam menjaga langkahmu
seperti luka menjaga darahnya sendiri
kau berjalan, namun bayangmu tertinggal
menempel di karang
menjadi dingin yang tak mau pergi
di tanah lot doa-doa tidak terucap
hanya bernafas pelan
di sela garam dan lumut
aku melihat namamu ditulis ombak
lalu dihapus kembali
seolah Tuhan ragu menyebutmu terlalu terang
perempuan
kau dijaga karang bukan untuk diselamatkan
melainkan agar tetap terluka dan ingat pada laut
aku mendekat namun kakiku ditarik sunyi
tanganku dipatahkan angin
dan hatiku dipulangkan dalam peti senyap
di rambutmu malam bersarang
menetas menjadi bisikan
yang menyebut namaku tanpa suara
aku ingin percaya kau manusia
namun tubuhmu lebih mirip doa
yang salah alamat
dan tak ingin kembali
jika suatu saat kau menoleh
dan melihat aku sudah tiada
jangan takut
aku hanya berubah menjadi kabut
yang setia menjaga jarak
antara cintamu dan Tuhan

Padang, 2026

LAUT MENYIMPAN WAJAHMU LEBIH LAMA

di permukaan laut
wajahmu terselip seperti rahasia yang lupa dipanggil
ombak datang
memecah matamu ke batu karang
dan darah senyapku ikut terseret
aku berenang, tanpa tubuh, tanpa suara
hanya rindu yang membusuk di dasar
karang bernapas pelan
seperti dada orang yang sekarat
bulan jatuh
dan tak pernah diangkat kembali
kau dijaga laut
bukan untuk diselamatkan
melainkan untuk menghukum
agar aku tak pernah benar-benar pulang
perempuan tanah lot
namamu menjadi arang
yang kusimpan di rongga dada
dan setiap napasku
terbakar olehmu

Padang, 2026

UPACARA SUNYI YANG KITA SEBUT CINTA

di ruang sunyi
cinta kita menyalakan dupa yang tak berasap
setiap napasmu menjadi gerakan rahasia
yang aku baca dengan jantung yang gemetar
kau berdiri di tepi karang
dan ombak berlutut di kakimu
membisikkan doa yang tak pernah kutahu artinya
namun aku tahu itu menuntunku pulang
aku menulis namamu di pasir
lalu laut menghapusnya perlahan
seperti tuhan menghapus dosa yang terlalu berat
atau rindu yang tak sanggup menahan diri
cinta ini adalah upacara
tanpa saksi, tanpa pelukan
hanya keheningan yang memanggil
dan kita menjawabnya
dengan bayangan yang sama
perempuan tanah lot
kau berjalan di antara doa dan karang
dan aku tetap berdiri
menjadi penjaga sunyi
yang belajar mencintaimu
dengan cara paling suci
dan paling menyakitkan

Padang, 2026

DOA YANG TAK SEMPAT PULANG

ada doa yang tak sempat pulang
tersesat di antara ombak dan angin
mengambang di rambutmu
menjadi kabut yang menahan napasku
kau berjalan di tanah lot
seperti bayangan yang lupa nama
meninggalkan jejak
yang tak bisa kugapai
aku ingin menjemputnya
namun doa itu lebih cepat dari langkahku
lebih dalam dari karang
dan lebih dingin dari laut
setiap malam aku menyisir pantai
mencari serpihan doa yang kau tinggalkan
namun yang kutemukan hanya kesunyian
yang menggelayut di dadaku
seperti arang yang tak padam
perempuan tanah lot
namamu adalah doa yang terlambat
dan cintaku adalah laut yang menunggu tanpa akhir

Padang, 2026

AKU TINGGAL DI TANAH LOT YANG BERNAMA RINDU

di tepian yang tak berjiwa
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
setiap karang adalah luka
dan setiap ombak adalah doa yang patah
kau datang seperti senja
meninggalkan bayangmu di mataku
dan aku menunggu
dengan tangan kosong
yang memungut angin
laut mengajarku pasrah
dan malam mengajarku menahan
aku belajar mencintaimu
dengan jarak yang memotong dada
dan diam yang menusuk hati
perempuan tanah lot
namamu adalah tangisan yang tak terdengar
dan cintaku adalah api yang tak padam
yang terus menari di antara gelombang
hingga aku lupa siapa yang berjalan
dan siapa yang tenggelam
aku tinggal di tanah lot yang bernama rindu
dan setiap detik adalah pengakuan
bahwa mencintaimu
adalah doa yang tak pernah sampai
namun tetap kudoakan

Padang, 2026

.

Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Festival Sastra di Singaraja yang Mengaktivasi Cagar Budaya Gedong Kirtya

Next Post

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Iwan Setiawan

Iwan Setiawan

Lahir di Kota bumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Penyair dengan karya-karya bernapas sufistik dan melankolis yang menempatkan puisi sebagai ziarah batin, doa, dan perenungan atas iman, sejarah, serta penderitaan manusia. Puisinya dimuat di berbagai media daring dan cetak, serta terkumpul dalam buku Sang Pencari Cinta dan Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera pada 2017.

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
B.H. | Cerpen Angga Wijaya

B.H. | Cerpen Angga Wijaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co