PANGGUNG Taman Budaya Candra Bhuana, Amlapura, Sabtu, 16 Agustus, 2025 kembali menjadi saksi geliat teater sekolah. Kali ini, dua komunitas teater muda hadir dengan semangat dan tawaran estetiknya masing-masing: Teater Garuda Akasha (Garaka) SMA Negeri 1 Amlapura dengan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning dan Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura dengan lakon Bintang Nusantara.
Teater Garaka–Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning
Pementasan Garaka membuka malam dengan naskah berbahasa Bali yang adaptif terhadap cerita rakyat Ni Tuwung Kuning. Kisahnya menyoroti Pudak, seorang penjudi yang egois dan tega mengorbankan keluarganya demi tajen. Konflik rumah tangga berpuncak pada ancaman pembunuhan bayi yang baru lahir, hingga hadir simbol Kanda Pat, saudara spiritual yang menyertai manusia sejak lahir.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan
Pementasan dibuka dengan aksi panggung laki-laki penjudi yang berlakon selayaknya ayam judian merampas harta benda. Lalu adegan berpindah ke latar sebuah kalangan judi, para penjudi lengkap dengan pedagangnya. I Pudak kalah berjudi sehingga ia harus membayar kekalahannya. Di rumah, istri I Pudak sedang hamil. Bagi I Pudak, kehamilannya adalah biang dari kekalahannya. Saat itulah ia memerintahkan sang isrti agar ia membunuh janin itu dan mencacahnya menjadi makanan ayam, kecuali jika yang lahir adalah laki-laki.
Sebagai perempuan (Bali) pada umumnya yang tunduk (tertindas) oleh laki-laki, istri I Pudak tunduk. Naas, yang lahir adalah perempuan (diberi nama Ni Tuwung Kuning). Istri Pudak putus asa dan ia pun bersiap membunuh janin itu. Saat pisau kecil akan menancap di tubuh bayi mungil itu, kesadaran sang ibu muncul lewat kelebat bayang Kanda Pat, yaitu empat saudara gaib yang selalu menyertai manusia sejak lahir hingga mati.

Pementasan lakon Kanda Pat: Nadi Ni Tuwung Kuning oleh Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan
Mereka adalah saudara spiritual yang terdiri dari getih (darah), lamas (lemak kulit/tali pusar), yeh nyom (air ketuban), dan ari-ari (plasenta). Kehadiran Kanda Pat digambarkan lewat gerak empat penari. Singkat cerita, Ni Tuwung Kuning beranjak dewasa. Ia ingin sekali bertemu ayahnya. Cerita kemudian ditutup kejadian naas pertemuan Ni Tuwung Kuning dengan ayahnya, I Pudak. I Pudak mati di arena tajen karena taji ayam jagonya sendiri.
Garaka berhasil menghadirkan kontras antara kelucuan ala dadong di panggung dengan atmosfer mistis Kanda Pat. Tata lampu mendukung nuansa spiritualitas itu sehingga adegan mistis tidak sekadar serem, tetapi juga menyentuh sisi filosofis. Pementasan ini jelas membuka ruang tafsir baru: kemerdekaan perempuan yang selama ini tertindas oleh hegemoni laki-laki.
Teater Galang Kangin–Bintang Nusantara
Sesudah Garaka, Galang Kangin menampilkan warna yang berbeda. Dengan format drama musikal, Bintang Nusantara menghadirkan sosok Roekiah—bintang keroncong dan film era 1940-an. Kisahnya merentang dari mimpi seorang gadis untuk berada di panggung, konflik dengan ayah yang menolak, hingga keterlibatan Roekiah dalam propaganda Jepang.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan
Pementasan dibuka oleh kehadiran Roekiah kecil yang bernyanyi sambil bermain dengan teman-temannya. Kemudian ibu dan ayahnya datang. Roekiah menceritakan keinginannya untuk berada menjadi penyanyi panggung.
Ayahnya menolak dengan keras dan menegaskan agar kelak Roekiah menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga saja. Roekiah sedih dan ibu menawarkan perjanjian. Roekiah beranjak besar hingga menjadi penyanyi dan pemain sandiwara. Lalu, ia bertemu Kartolo, sang seniman musik. Mereka kemudian jatuh cinta dan menikah.

Pementasan lakon Bintang Nusantara oleh Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura | Foto: Aries Pidrawan
Roekiah dengan bakat film dan bernyanyinya terus melakukan propaganda semangat dan perjuangan penduduk terhadap Jepang. Jepang hadir mengintimidasi Roekiah dan memaksanya menyanyikan lagu Jepang. Perlakuan Jepang kepada Roekiah membuat kesadaran rakyat muncul dan mereka melakukan perlawanan. Namun, perlawanan itu akhirnya membuat Roekiah gugur.
Dramaturgi pementasan ini memadukan nyanyian, musik, dan adegan historis. Pilihan tema mengajak penonton mengingat kembali strategi kolonial Jepang mengendalikan dunia seni. Adegan pemaksaan Roekiah menyanyi lagu Jepang di panggung terasa kuat, menyampaikan pesan betapa seni bisa dijadikan alat dominasi. Kebaruan bentuk musikal dalam teater sekolah membuat Galang Kangin tampil segar dan berbeda.
Kemerdekaan dalam Beragam Perspektif
Meski dari dua dunia berbeda—satu bersumber pada cerita rakyat Bali, satu pada biografi seniman nasional—kedua pementasan bertemu dalam tema besar kemerdekaan. Garaka mengartikannya sebagai kemerdekaan perempuan dari patriarki, sedangkan Galang Kangin menekankannya pada kemerdekaan bangsa dari penjajahan Jepang. Dua perspektif ini saling melengkapi, memperkaya makna “merdeka” yang ditawarkan di panggung.
Kekuatan utama Garaka terletak pada keberanian memasukkan tafsir filosofis Kanda Pat dalam cerita rakyat. Sedangkan Galang Kangin unggul pada keberanian mencoba bentuk baru berupa drama musikal. Dari sisi teknis, keduanya didukung tata lampu dan properti yang cukup memadai, sehingga menghadirkan suasana yang hidup.

Foto bersama seusai pentas | Foto: Aries Pidrawan
Namun, titik lemah keduanya cukup jelas: penggunaan dubbing. Dialog yang direkam sebelumnya belum mampu menghidupkan karakter secara utuh. Emosi dan watak tokoh terasa terhambat karena suara tidak menyatu dengan tubuh aktor. Selain itu, penguasaan panggung para pemain masih perlu diasah agar gerak dan posisi tubuh lebih luwes.
Kehadiran dua teater sekolah ini membuktikan bahwa dunia teater adalah wajah lain dari literasi. Di balik naskah, ada proses membaca, menafsir, dan mendiskusikan teks. Di balik panggung, ada kerja kolaboratif melibatkan banyak disiplin ilmu. Karena itu, penting bagi sekolah memberi ruang berkelanjutan, termasuk dukungan anggaran khusus.
Yang tak kalah penting, pementasan ini telah menjadi ruang inklusif bagi masyarakat Amlapura. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk berdampingan, tertawa, merinding, bahkan terharu bersama-sama. Panggung bukan hanya milik pemain, melainkan milik seluruh komunitas yang datang merayakan kebanggaan bersama.[T]
Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Jaswanto



























