14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 18, 2025
in Khas
Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Pengibaran bendera merah putih HUT Kemerdekaan RI di Desa Panji, Buleleng | Foto: Ganesha

SETIAP tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia bersatu dalam semangat nasionalisme untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di berbagai penjuru negeri dilaksanakan upacara bendera dengan penuh khidmat.  Menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Dalam upacara tersebut, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) memegang peranan yang begitu penting. Umumnya, Paskibraka diisi oleh para pemuda-pemudi terpilih dari kalangan pelajar tingkat SMA atau sederajat. Tubuh tegap, wajah serius dan rupawan serta langkah yang selaras menjadi ciri khas mereka.

Namun, ada yang berbeda di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang diselenggarakan di Lapangan Kibarak Panji Sakti, hadir sebuah Paskibraka yang unik, menginspirasi, sekaligus membanggakan. Pasukan ini bukanlah para pelajar, bukan pula anggota TNI atau Polri. Mereka adalah para bapak dari Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Desa Panji. Dulu kita mengenal mereka dengan sebutan Hansip.

Pengibaran bendera merah putih HUT Kemerdekaan RI di Desa Panji, Buleleng | Foto: Ganesha

Paskibraka yang tak biasa ini, terdiri dari 32 orang anggota Linmas Desa Panji didaulat menjadi Paskibraka dalam upacara bendera kali ini. Usia mereka berkisar antara 35 hingga hampir 60 tahun. Dalam keseharian saya mengenal mereka adalah warga biasa-biasa. Dengan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Ada yang berprofesi sebagai tukang bangunan, sopir, tukang cukur, petani, hingga petugas kebersihan. Seperti bapak-bapak desa yang saya kenal pada umumnya.

Dalam balutan seragam Linmas yang sederhana. Dengan sedikit balutan sarung tangan putih dan syal merah yang melingkar di leher. Mereka tampil penuh percaya diri di tengah lapangan. Tidak terlihat raut gugup atau ragu. Langkah mereka tegap dan serentak, mengiringi sang Merah Putih yang berkibar di langit pagi Desa Panji. Paduan suara dari ibu-ibu PKK turut memperindah suasana, menjadikan momen itu begitu sakral dan menyentuh hati.

Mengemban tugas sebagai Paskibraka bukanlah perkara mudah, saya saja merasa tidak mampu. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki dasar latihan baris-berbaris. Mebayangkan saja saya tidak berani. Dari cerita Kasatgas Limnas Desa Panji Nyoman Merta diketahui bahwa mereka latihan hanya sebentar. Pun baru dimulai pada akhir Juli, sekitar 20 hari menjelang upacara.

Pria yang akrab di sapa Mang Bos ini mengungkapkan bahwa mereka cukup sebentar latianya, itupun hanya sore-sore saja sekitar pukul 17.00 Wita jelasnya pada pada saya. Tentu sore hari dipilih menyesuaikan dengan para anggota Linmas yang harus menyelesaikan pekerjaan utama mereka. Meski waktu yang singkat itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Pelatih mereka adalah Babinsa Desa Panji, Nyoman Karya. Latihan dilakukan dengan keras dan disiplin. Bahkan, saking beratnya latihan. Mang Bos menuturkan sempat ada satu anggota yang hampir mengundurkan diri, tak hanya dari peran Paskibraka, tetapi juga dari keanggotaan Linmas. Sampai berniat mengembalikan baju linmas. Kenangnya bercerita sembari tertawa.

Namun berkat pendekatan dan komunikasi yang baik dari sang pelatih. Serta demi kekompakan dan dorongan sesama rekan, ia mau tetap bertahan. Ini demi semangat kebersamaan, rasa tanggung jawab dan cinta tanah air begitu kata pelatih waktu itu ujar Mang Bos. Dan memang semangat itu yang menjadi bahan bakar utama mereka.

Bapak-bapak jadi pasukan paskibraka di Desa Panji | Foto: Ganesha

Mang Bos sendiri selaku Kepala Satuan Linmas Desa Panji bertindak menjadi Komandan Upacara. Dirinya menerangkan bahwa tahun ini menjadi momen yang cukup bersejarah. Untuk pertama kalinya, seluruh anggota Linmas dilibatkan sebagai Paskibraka. Sebelumnya, hanya saya sebagai komandan dan beberapa orang saja yang dipilih mejadi membawa bendera, sisanya jadi peserta upacara.

Namun di Tahun 2025 ini berbeda—semua ikut ambil bagian. “Kita ingin mencoba hal yang baru, ini jadi bentuk penghargaan atas pengabdian mereka,” terang Mangbos. “Saya juga ingin ini jadi langkah untuk membuktikan bahwa semua warga, tanpa terkecuali, bisa berperan dalam peringatan hari kemerdekaan. Meskipun hanya bapak-bapak biasa tetapi saya ingin masyarakat tahu bahwa Linmas juga bisa.”

Melihat itu, saya merasakan yang dilakukan Linmas Desa Panji bukan sekadar rutinitas seremonial. Itu adalah bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam membangun makna kemerdekaan. Keikutsertaan mereka menjadi cerminan bahwa upacara 17 Agustus bukan milik anak muda saja. Kemerdekaan adalah milik bersama, dan merayakannya adalah hak semua warga negara.

Seperti halnya Made Astawa salah satu anggota Linmas ini, rumahnya bersebelahan dengan saya. Terlihat begitu besar antusiasmenya. Saya liat langsung, Ia tak pernah absen latihan. Bahkan membagikan prosesnya di laman media sosial Facebooknya. Saya cukup yakin ia senang, karena kalau seperti saya. Kalau sesuatu itu tidak bikin bangga dan senang pasti tidak di unggah.

Latihannya meski keras, terlihat keceriaan dan semangat mereka dalam latihan dan saat upacara berlangsung terasa tulus. Tidak ada paksaan. Semua dilakukan dengan sukarela, dengan rasa bangga, dan mungkin sedikit rasa gugup yang tertutupi oleh semangat gotong royong.

Saat latihan | Foto: Ganesha

Saya pribadi yang menyaksikan langsung prosesnya, merasa terharu dan bangga. Momen ini jadi begitu istimewa, bukan hanya soal bendera yang dikibarkan, tetapi tentang semangat warga yang memilih untuk ikut serta, lalu berani mengambil peran, dan menunjukkan kepada saya bahwa nasionalisme bisa lahir dari siapa saja.

Paskibraka Linmas Desa Panji jadi contoh nyata bagi saya, bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu harus dalam bentuk besar atau di panggung nasional. Terkadang, di desa kecil, di tengah lapangan sederhana, semangat kemerdekaan justru dapat bersinar terang.

Ketika para bapak yang sehari-hari berkutat dengan pekerjaan kasar, dengan berbagai profesi dan usia yang tak muda lagi, mereka memilih untuk berlatih dan tampil sebagai pengibar bendera, di situlah saya belajar melihat makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Pekerjaan mereka mungkin sederhana, tetapi pengabdiaan mereka luar biasa. [T]

Reporter/Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Hikayat Oven Tembakau: Saksi Bisu Kejayaan Petani Tembakau di Desa Panji
Bicara-bicara Atas Nama Air di Desa Panji Buleleng
Agus dan Yogi, Anak Muda Desa Memimpin Pengelolaan Sampah TPS 3R Desa Panji
Tags: Desa PanjiHUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Setelah Pentas: Garaka, Galang Kangin, dan Wajah Positif Literasi Sekolah

Next Post

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co