2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Reja by Reja
August 18, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

Negeri ini memberikan banyak pengalaman berharga soal pelayanan. Indonesia “katanya” dikenal begitu ramah dalam kehidupan sehari-hari, namun bagi sebagian masyarakat Indonesia sendiri apalagi yang sudah sering melancong keluar negeri, sepertinya tidak begitu.

Bagi masyarakat asing, keramahan itu mungkin terlihat jelas, banyak pelayanan di negeri ini justru melayani orang asing dengan penuh arti. Inferiority Complex dapat menjadi salah satu faktor penyebabnya. Perasaan lebih kecil daripada orang luar, atau perasaan bahwa orang luar lebih mampu dari sisi finansial, sering kali membuat ragam pelayanan di negeri ini lebih cenderung ramah terhadap orang asing ketimbang bangsa sendiri, termasuk dalam hal pelayanan publiknya. Padahal banyak kantor pelayanan publik di Indonesia mengedepankan tagline 5S alias senyum, salam, sapa, sopan dan santun.

Dahulu mungkin berbagai pelayanan publik sangat berbau politis, siapa yang memiliki koneksi di dalam kantor pemerintahan, maka dirinya akan diutamakan dengan begitu mudahnya. Namun di era yang serba elektronik dan bermain by the rule and by the system, hal serupa seharusnya sudah tak ada lagi. Tapi jika melihat banyak google review tentang kantor pelayanan pemerintah, banyak sekali pelayanan publik tidak maksimal.

Apalagi kalau soal mengurus administrasi di kantor pemerintahan cabang terdekat, banyak keluhan masyarakat yang merasa diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Masyarakat seakan-akan ditinggal tanpa kepastian pelayanan. Hanya bank pemerintah yang masih tersenyum layanannya, itu pun karena ada orientasi profit di dalamnya, sudah seharusnya dunia perbankan seperti itu terhadap masyarakat yang menjadi kliennya.

Praktik korupsi dan nepotisme banyak terjadi demi mencapai pelayanan publik yang maksimal. Praktik korupsinya mulai dari tingkatan dan jumlah yang kecil-kecil atau petty corruption yang identik dengan praktik uang pelicin di tingkat kelurahan dan kecamatan hingga kasus-kasus besar atau political corruption yang sering menyandung para pejabat dan politikus.

Menurut Ombudsman RI, salah satu penyebab korupsi dalam pelayanan publik adalah maladministrasi. Sedangkan praktik nepotisme menurut Guru Besar UGM, Erwan Agus Purwanto mencatat bahwa terdapat 171 daerah terindikasi dinasti politik (Kemendagri, 2023). Padahal jelas tertera dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, bahwasannya pada Pasal 18 huruf (i) Masyarakat berhak mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. Itu artinya, negara sudah menjamin kualitas pelayanan publik yang baik untuk masyarakat.

Gender Bias dan Permasalahan Finansial Diduga Mendasari Pelayanan yang Tidak Optimal?

Gender bias adalah musuh pelayanan publik yang optimal. Banyak pelayanan publik menempatkan wanita untuk melayani kebutuhan masyarakat berjenis kelamin pria, begitu juga sebaliknya. Tapi dalam pelayanan publik di kantor pemerintah, hal ini tidak harus terjadi. Meskipun banyak penelitian dunia Barat mengatakan bahwa wanita mampu tersenyum sebanyak 62x daripada pria yang hanya 8x tersenyum setiap harinya, tapi justru sebutan “judes” dalam banyak pelayanan publik di Indonesia malah sering ditujukan kepada pegawai wanita.

Dalam salah satu wawancara penulis dengan mantan pegawai honorer pria, sebut saja namanya, Apri. Apri adalah mantan pegawai di salah satu pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di daerah Kota Bekasi. Dirinya mengatakan bahwa meski pria tampak jarang tersenyum, tapi pria dapat jauh lebih tulus dalam hal melayani. Karena faktor biologis dan psikologis dalam kesehariannya, mood wanita lebih sering berubah-ubah.

“Secara finansial, honorer yang melakukan pelayanan publik sering kali dibayar 4 sampai 6 kali lebih lebih murah dibanding ASN-nya. Pria sering diuji memang apalagi dalam rumah tangga Bang, jadi kami lebih banyak bersikap sabar,” canda Apri.

Para pegawai pemerintah yang melakukan pelayanan publik di Indonesia memang beragam budayanya. Hal ini mungkin terjadi karena faktor gender bias, bisa juga faktor finansial. Sayangnya dari sisi pelayan publik, jika dilihat dari fungsi kerjanya, banyak dari mereka malah bukan ASN alias tenaga honorer yang biasanya dibayar tanpa skema kepegawaian yang jelas. Manusiawi memang, manusia yang belum selesai akan permasalahan dirinya, pasti cenderung tidak akan melayani kebutuhan publik secara maksimal.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) yang mulai berlaku tahun 2025, instansi pemerintah sudah dilarang mengangkat tenaga Non-ASN. Ini adalah bentuk Political Willingness dari para pemimpin pemerintahan di Indonesia yang ingin memperbaiki salah satunya, yakni dengan memberi pelayanan publik secara optimal. Nantinya pelayanan publik diisi secara penuh oleh para abdi negara yang kompeten dan “harusnya” siap melayani rakyat dengan sepenuh hati.

Setelah kantor pemerintah diisi oleh abdi negara 100 persen, diharapkan kantor pelayanan publik di Indonesia dapat menjadi lebih baik terutama dalam hal pelayanan publik. Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada era 2019, banyak melaporkan kepada DPR RI tentang Government Public Relations, harusnya inisiatif ini diteruskan dan menjadi cikal bakal pelayanan publik yang tidak hanya optimal namun juga ramah bagi semua.

Pemimpin setiap instansi pemerintahan harus memiliki political willingness dari setiap unit pelayanan publik dalam melakukan pengawasan para pegawainya secara berkala saat melayani masyarakat. Selain itu, meski dominasi pelayanan publik di Indonesia tidak berorientasi pada profit atau keuntungan semata, bukan berarti pelayanan publik tidak dapat mengedepankan prinsip smiling service kepada masyarakat kan?

Para pemimpin unit harus banyak melakukan pelatihan terhadap ASN agar lebih banyak tersenyum ketika berhadapan dengan masyarakat Indonesia dan segala kebutuhan masyarakat yang kompleks. [T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Adnyana Ole

Membludaknya Bentuk Layanan Publik Elektronik di Kantor Pemerintah: Bentuk Latah FOMO?
Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu
Antara Infrastruktur dan Kebijakan Digital Pemerintah Indonesia: “Dekat di Mata, Jauh di Hati”
Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Next Post

Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co