22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Pelayanan Publik Tak Berbentuk: Seni Komunikasi Mengabaikan Rakyat dengan Elegan?

Reja by Reja
August 18, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

Negeri ini memberikan banyak pengalaman berharga soal pelayanan. Indonesia “katanya” dikenal begitu ramah dalam kehidupan sehari-hari, namun bagi sebagian masyarakat Indonesia sendiri apalagi yang sudah sering melancong keluar negeri, sepertinya tidak begitu.

Bagi masyarakat asing, keramahan itu mungkin terlihat jelas, banyak pelayanan di negeri ini justru melayani orang asing dengan penuh arti. Inferiority Complex dapat menjadi salah satu faktor penyebabnya. Perasaan lebih kecil daripada orang luar, atau perasaan bahwa orang luar lebih mampu dari sisi finansial, sering kali membuat ragam pelayanan di negeri ini lebih cenderung ramah terhadap orang asing ketimbang bangsa sendiri, termasuk dalam hal pelayanan publiknya. Padahal banyak kantor pelayanan publik di Indonesia mengedepankan tagline 5S alias senyum, salam, sapa, sopan dan santun.

Dahulu mungkin berbagai pelayanan publik sangat berbau politis, siapa yang memiliki koneksi di dalam kantor pemerintahan, maka dirinya akan diutamakan dengan begitu mudahnya. Namun di era yang serba elektronik dan bermain by the rule and by the system, hal serupa seharusnya sudah tak ada lagi. Tapi jika melihat banyak google review tentang kantor pelayanan pemerintah, banyak sekali pelayanan publik tidak maksimal.

Apalagi kalau soal mengurus administrasi di kantor pemerintahan cabang terdekat, banyak keluhan masyarakat yang merasa diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Masyarakat seakan-akan ditinggal tanpa kepastian pelayanan. Hanya bank pemerintah yang masih tersenyum layanannya, itu pun karena ada orientasi profit di dalamnya, sudah seharusnya dunia perbankan seperti itu terhadap masyarakat yang menjadi kliennya.

Praktik korupsi dan nepotisme banyak terjadi demi mencapai pelayanan publik yang maksimal. Praktik korupsinya mulai dari tingkatan dan jumlah yang kecil-kecil atau petty corruption yang identik dengan praktik uang pelicin di tingkat kelurahan dan kecamatan hingga kasus-kasus besar atau political corruption yang sering menyandung para pejabat dan politikus.

Menurut Ombudsman RI, salah satu penyebab korupsi dalam pelayanan publik adalah maladministrasi. Sedangkan praktik nepotisme menurut Guru Besar UGM, Erwan Agus Purwanto mencatat bahwa terdapat 171 daerah terindikasi dinasti politik (Kemendagri, 2023). Padahal jelas tertera dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, bahwasannya pada Pasal 18 huruf (i) Masyarakat berhak mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. Itu artinya, negara sudah menjamin kualitas pelayanan publik yang baik untuk masyarakat.

Gender Bias dan Permasalahan Finansial Diduga Mendasari Pelayanan yang Tidak Optimal?

Gender bias adalah musuh pelayanan publik yang optimal. Banyak pelayanan publik menempatkan wanita untuk melayani kebutuhan masyarakat berjenis kelamin pria, begitu juga sebaliknya. Tapi dalam pelayanan publik di kantor pemerintah, hal ini tidak harus terjadi. Meskipun banyak penelitian dunia Barat mengatakan bahwa wanita mampu tersenyum sebanyak 62x daripada pria yang hanya 8x tersenyum setiap harinya, tapi justru sebutan “judes” dalam banyak pelayanan publik di Indonesia malah sering ditujukan kepada pegawai wanita.

Dalam salah satu wawancara penulis dengan mantan pegawai honorer pria, sebut saja namanya, Apri. Apri adalah mantan pegawai di salah satu pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di daerah Kota Bekasi. Dirinya mengatakan bahwa meski pria tampak jarang tersenyum, tapi pria dapat jauh lebih tulus dalam hal melayani. Karena faktor biologis dan psikologis dalam kesehariannya, mood wanita lebih sering berubah-ubah.

“Secara finansial, honorer yang melakukan pelayanan publik sering kali dibayar 4 sampai 6 kali lebih lebih murah dibanding ASN-nya. Pria sering diuji memang apalagi dalam rumah tangga Bang, jadi kami lebih banyak bersikap sabar,” canda Apri.

Para pegawai pemerintah yang melakukan pelayanan publik di Indonesia memang beragam budayanya. Hal ini mungkin terjadi karena faktor gender bias, bisa juga faktor finansial. Sayangnya dari sisi pelayan publik, jika dilihat dari fungsi kerjanya, banyak dari mereka malah bukan ASN alias tenaga honorer yang biasanya dibayar tanpa skema kepegawaian yang jelas. Manusiawi memang, manusia yang belum selesai akan permasalahan dirinya, pasti cenderung tidak akan melayani kebutuhan publik secara maksimal.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) yang mulai berlaku tahun 2025, instansi pemerintah sudah dilarang mengangkat tenaga Non-ASN. Ini adalah bentuk Political Willingness dari para pemimpin pemerintahan di Indonesia yang ingin memperbaiki salah satunya, yakni dengan memberi pelayanan publik secara optimal. Nantinya pelayanan publik diisi secara penuh oleh para abdi negara yang kompeten dan “harusnya” siap melayani rakyat dengan sepenuh hati.

Setelah kantor pemerintah diisi oleh abdi negara 100 persen, diharapkan kantor pelayanan publik di Indonesia dapat menjadi lebih baik terutama dalam hal pelayanan publik. Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada era 2019, banyak melaporkan kepada DPR RI tentang Government Public Relations, harusnya inisiatif ini diteruskan dan menjadi cikal bakal pelayanan publik yang tidak hanya optimal namun juga ramah bagi semua.

Pemimpin setiap instansi pemerintahan harus memiliki political willingness dari setiap unit pelayanan publik dalam melakukan pengawasan para pegawainya secara berkala saat melayani masyarakat. Selain itu, meski dominasi pelayanan publik di Indonesia tidak berorientasi pada profit atau keuntungan semata, bukan berarti pelayanan publik tidak dapat mengedepankan prinsip smiling service kepada masyarakat kan?

Para pemimpin unit harus banyak melakukan pelatihan terhadap ASN agar lebih banyak tersenyum ketika berhadapan dengan masyarakat Indonesia dan segala kebutuhan masyarakat yang kompleks. [T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Adnyana Ole

Membludaknya Bentuk Layanan Publik Elektronik di Kantor Pemerintah: Bentuk Latah FOMO?
Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu
Antara Infrastruktur dan Kebijakan Digital Pemerintah Indonesia: “Dekat di Mata, Jauh di Hati”
Kebijakan “Publisher Rights”: Perusahaan Pers Harusnya Tak Lagi Berdarah Karena Punya Jatah
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paskibraka Istimewa dari Desa Panji: Ketika Para Bapak Menjadi Pengibar Bendera Pusaka

Next Post

Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Abdi Budaya Nugraha: Apresiasi Listibiya Kuta Kepada Enam Pengabdi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co