23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Reja by Reja
August 11, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

SEBAGAI seorang Indonesia, lahir dan besar di tanah air tercinta, memiliki rasa nasionalisme semata tidaklah cukup. Kita wajib memiliki jiwa patriotisme, bukan hanya sekadar merasakannya tetapi mempraktikkan nasionalisme kita dengan semangat bela negara. Hal ini sama halnya dengan bersimpati semata tidaklah cukup, seorang dengan jiwa kesatria harus memiliki empati untuk mencapai rasa tepa selira—istilah ini merujuk pada sikap akhir untuk saling menghargai, memahami, dan berempati terhadap perasaan dan keadaan orang lain di sekitarnya. Di situlah letak makna kemerdekaan sesungguhnya.

Pernyataan “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” merupakan bagian dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap bangsa di dunia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Filosofi Indonesia sangat mendalam, khususnya ketika memaknai kemerdekaan bangsa. Negeri ini bukan lahir dari rangkaian kata-kata indah semata, namun juga semangat bersatu tanpa membedakan kasta.

Dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, kita wajib memeluk nilai-nilai dalam 4 (empat) pilar kebangsaan, mulai dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar kebangsaan ini saling terkait dan berfungsi sebagai fondasi dalam membangun identitas dan karakter bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi, UUD 1945 sebagai landasan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan, semuanya berperan penting dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa Indonesia.

Namun, kini, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Apakah merayakan kemerdekaan Indonesia cukup hanya dengan semangat upacara, atau pengadaan festival dan lomba-lomba? Atau sebenarnya perayaan tersebut hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai orang Indonesia atau cuma “setor muka”pada atasan. Di dalam negeri, kita lebih mem-viralkan hal-hal yang tidak punya nilai kebangsaan. Nilai-nilai tersebut terasa pudar dan samar-samar terdengar, hanya sekadar ditunaikan tapi secara moral gagal dipertanggungjawabkan.

Bayangkan saja, ketika ada sebuah kecurangan berbentuk dinasti politik di bangsa ini, kecurangan tersebut dapat meraih kemenangan. Kita tak lagi seperti orang tua kita pada zaman dahulu, berani maju bersatu, tanpa rasa takut untuk mati. Kini banyak yang berbicara, namun hanya sebatas berani berkomentar menjadi netizentanpa foto profil di media sosial. Padahal sebuah kecaman terhadap bentuk kecurangan negara dapat diselesaikan dengan cara yang intelektual pula, yakni dengan menulis.

Namun, ke mana para cendekiawan Indonesia? Mereka yang berani bersuara “kemarin” sepertinya hanya didominasi akademisi senior dari berbagai universitas Tanah Air, tapi sisanya, ke mana kita? Hanya berkoar? Tapi bukan bersuara.

***

Seorang diaspora profesional Indonesia di Malaysia, Tom, mengaku bingung tentang makna kemerdekaan. Awalnya, dirinya mengira bahwa perasaan cinta tanah air cukup untuk mengatakan bahwa diri kita sudah merdeka. Merdeka sebatas bangga dengan pakaian adat, ikut upacara di luar negeri, atau sekadar hapal nilai-nilai 4 (empat) pilar. Tapi semakin lama dia meninggalkan Indonesia, dia semakin sadar bahwa peduli dengan apa yang menjadi masalah dunia juga merupakan aplikasi terhadap perasaan kemerdekaan.

“Karena dari umur 13 tahun saya sudah tinggal dan sekolah di berbagai negara, banyak orang asing yang rela tidak makan demi membantu para pengungsi negara lain yang kelaparan, dan bagi mereka, membantu bangsa lain juga merupakan bentuk kemerdekaan dirinya sebagai warga negara suatu bangsa,” tegas Tom.

Orang Indonesia di luar negeri dengan diasporanya terus mencanangkan persatuan dan kesatuan Tanah Air, terus menyerukan NKRI harga mati, tapi apa? Semboyan dan teriakan itu terasa semu. Karena, banyak permasalahan diaspora di luar negeri yang diselesaikan sendiri-sendiri, para pekerja migran Indonesia menghadapi ujiannya masing-masing bahkan tak jarang tanpa diketahui oleh perwakilan kita di sana.

Sekalinya bergerombol, orang Indonesia sering membuat heboh masyarakat setempat, seperti apa yang terjadi di Jepang, banyak orang Indonesia dinilai “berisik”,meskipun ada juga yang dinilai penyayang tapi seharusnya label “berisik” tidak perlu ada. Tak sedikit dari orang Indonesia yang bangga terhadap budayanya, mempertunjukkan kebaya dan tarian-tarian tradisional di jalan-jalan umum di luar negeri, ini malah sebenarnya mengganggu ketertiban negara tersebut.

Banyak dari kita bangga terhadap budaya sendiri tapi tidak berempati untuk mengamalkan nilai-nilainya dengan cara yang baik dan di tempat yang tepat. Hal ini malah seakan-akan menunjukkan bangsa Indonesia haus validasi, haus pengakuan, seakan-akan bangsanya belum merdeka, padahal itu salah. Indonesia secara fisik sudah sangat merdeka, infrastruktur bangsa kita dapat diadu dengan bangsa maju lainnya. Bagaimana dengan mental?

Sebagai perbandingan, hal ini sangat berbeda dengan diaspora dari negeri tetangga yang juga negara pengirim tenaga kerja seperti diaspora Filipina. Mereka sering membuat advokasi sesama orang Filipina untuk bersatu, saling menjaga dan saling menguatkan di setiap negara. Drama pekerja migran Filipina hampir tidak pernah terjadi. Bahkan tak jarang, orang Filipina banyak menempati posisi-posisi tinggi dalam dunia profesional di belahan dunia mana pun. Padahal secara fisik, gaya berpakaian orang Filipina sangat “kebarat-baratan” tapi secara mental, mereka hadir untuk memerdekakan bangsanya di mana pun mereka berdiri.

Bayang semu kemerdekaan tidak hanya tampak dari warga negaranya, namun juga dalam kehidupan pemerintahan di Indonesia. Misalnya, pada rezim sebelumnya, banyak isu ego sektoral antara instansi yang satu dengan instansi yang lain dalam memproduksi data pemerintah. Saking egonya, banyak sektor publik mengeluarkan data secara masing-masing dan membuat bingung masyarakat sebagai penggunanya. Padahal data yang saling terintegrasi, mampu membuat kebijakan yang akurat bagi Indonesia.

Sikap egosentris bukanlah perwujudan kemerdekaan di pemerintahan. Padahal dari sisi pemerintahan, bangsa ini sangat besar, prestasi Indonesia tidak pernah main-main. Contohnya dalam skala makro ekonomi, inflasi Indonesia dikategorikan stabil sejak 2015 jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, sehingga harga-harga bahan pokok (meski naik terus) namun tidak pernah sampai menimbulkan kelaparan ekstrem. Orang Indonesia masih bisa membeli nasi uduk seharga Rp. 7000 per bungkusnya  (di bawah 1 dolar Amerika). Inilah nikmat yang harus disyukuri untuk menjadi negara yang merdeka.

Pada akhirnya, kita semua harus paham bahwa merdeka tidak hanya sekadar menjaga nilai-nilai yang ada, namun juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini harus terus belajar mengedepankan empati, bukan hanya menunjukkan simpati semata. Mekanisme punishments dan rewards hampir sulit didengar, tapi kita harus belajar memuji mereka yang mengamalkan nilai-nilai 4 (empat) pilar.

Tak hanya itu, kita juga harus berani mengoreksi atau mengkritisi secara konstruktif sebuah kesalahan. Bangsa ini tidak boleh sekadar bersembunyi di balik kata pembuat perubahan semata, namun berani berjuang didepan sebagai agen perubahan demi Indonesia yang merdeka tanpa kata semu.[T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Jaswanto

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa
Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan
Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda
Tags: Hari Kemerdekaan RIpancasilaUUD 1945
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JS Khairen, Membaca Adalah Bahan Bakar Menulis

Next Post

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co