2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Reja by Reja
August 11, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

SEBAGAI seorang Indonesia, lahir dan besar di tanah air tercinta, memiliki rasa nasionalisme semata tidaklah cukup. Kita wajib memiliki jiwa patriotisme, bukan hanya sekadar merasakannya tetapi mempraktikkan nasionalisme kita dengan semangat bela negara. Hal ini sama halnya dengan bersimpati semata tidaklah cukup, seorang dengan jiwa kesatria harus memiliki empati untuk mencapai rasa tepa selira—istilah ini merujuk pada sikap akhir untuk saling menghargai, memahami, dan berempati terhadap perasaan dan keadaan orang lain di sekitarnya. Di situlah letak makna kemerdekaan sesungguhnya.

Pernyataan “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” merupakan bagian dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap bangsa di dunia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Filosofi Indonesia sangat mendalam, khususnya ketika memaknai kemerdekaan bangsa. Negeri ini bukan lahir dari rangkaian kata-kata indah semata, namun juga semangat bersatu tanpa membedakan kasta.

Dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, kita wajib memeluk nilai-nilai dalam 4 (empat) pilar kebangsaan, mulai dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar kebangsaan ini saling terkait dan berfungsi sebagai fondasi dalam membangun identitas dan karakter bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi, UUD 1945 sebagai landasan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan, semuanya berperan penting dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa Indonesia.

Namun, kini, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Apakah merayakan kemerdekaan Indonesia cukup hanya dengan semangat upacara, atau pengadaan festival dan lomba-lomba? Atau sebenarnya perayaan tersebut hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai orang Indonesia atau cuma “setor muka”pada atasan. Di dalam negeri, kita lebih mem-viralkan hal-hal yang tidak punya nilai kebangsaan. Nilai-nilai tersebut terasa pudar dan samar-samar terdengar, hanya sekadar ditunaikan tapi secara moral gagal dipertanggungjawabkan.

Bayangkan saja, ketika ada sebuah kecurangan berbentuk dinasti politik di bangsa ini, kecurangan tersebut dapat meraih kemenangan. Kita tak lagi seperti orang tua kita pada zaman dahulu, berani maju bersatu, tanpa rasa takut untuk mati. Kini banyak yang berbicara, namun hanya sebatas berani berkomentar menjadi netizentanpa foto profil di media sosial. Padahal sebuah kecaman terhadap bentuk kecurangan negara dapat diselesaikan dengan cara yang intelektual pula, yakni dengan menulis.

Namun, ke mana para cendekiawan Indonesia? Mereka yang berani bersuara “kemarin” sepertinya hanya didominasi akademisi senior dari berbagai universitas Tanah Air, tapi sisanya, ke mana kita? Hanya berkoar? Tapi bukan bersuara.

***

Seorang diaspora profesional Indonesia di Malaysia, Tom, mengaku bingung tentang makna kemerdekaan. Awalnya, dirinya mengira bahwa perasaan cinta tanah air cukup untuk mengatakan bahwa diri kita sudah merdeka. Merdeka sebatas bangga dengan pakaian adat, ikut upacara di luar negeri, atau sekadar hapal nilai-nilai 4 (empat) pilar. Tapi semakin lama dia meninggalkan Indonesia, dia semakin sadar bahwa peduli dengan apa yang menjadi masalah dunia juga merupakan aplikasi terhadap perasaan kemerdekaan.

“Karena dari umur 13 tahun saya sudah tinggal dan sekolah di berbagai negara, banyak orang asing yang rela tidak makan demi membantu para pengungsi negara lain yang kelaparan, dan bagi mereka, membantu bangsa lain juga merupakan bentuk kemerdekaan dirinya sebagai warga negara suatu bangsa,” tegas Tom.

Orang Indonesia di luar negeri dengan diasporanya terus mencanangkan persatuan dan kesatuan Tanah Air, terus menyerukan NKRI harga mati, tapi apa? Semboyan dan teriakan itu terasa semu. Karena, banyak permasalahan diaspora di luar negeri yang diselesaikan sendiri-sendiri, para pekerja migran Indonesia menghadapi ujiannya masing-masing bahkan tak jarang tanpa diketahui oleh perwakilan kita di sana.

Sekalinya bergerombol, orang Indonesia sering membuat heboh masyarakat setempat, seperti apa yang terjadi di Jepang, banyak orang Indonesia dinilai “berisik”,meskipun ada juga yang dinilai penyayang tapi seharusnya label “berisik” tidak perlu ada. Tak sedikit dari orang Indonesia yang bangga terhadap budayanya, mempertunjukkan kebaya dan tarian-tarian tradisional di jalan-jalan umum di luar negeri, ini malah sebenarnya mengganggu ketertiban negara tersebut.

Banyak dari kita bangga terhadap budaya sendiri tapi tidak berempati untuk mengamalkan nilai-nilainya dengan cara yang baik dan di tempat yang tepat. Hal ini malah seakan-akan menunjukkan bangsa Indonesia haus validasi, haus pengakuan, seakan-akan bangsanya belum merdeka, padahal itu salah. Indonesia secara fisik sudah sangat merdeka, infrastruktur bangsa kita dapat diadu dengan bangsa maju lainnya. Bagaimana dengan mental?

Sebagai perbandingan, hal ini sangat berbeda dengan diaspora dari negeri tetangga yang juga negara pengirim tenaga kerja seperti diaspora Filipina. Mereka sering membuat advokasi sesama orang Filipina untuk bersatu, saling menjaga dan saling menguatkan di setiap negara. Drama pekerja migran Filipina hampir tidak pernah terjadi. Bahkan tak jarang, orang Filipina banyak menempati posisi-posisi tinggi dalam dunia profesional di belahan dunia mana pun. Padahal secara fisik, gaya berpakaian orang Filipina sangat “kebarat-baratan” tapi secara mental, mereka hadir untuk memerdekakan bangsanya di mana pun mereka berdiri.

Bayang semu kemerdekaan tidak hanya tampak dari warga negaranya, namun juga dalam kehidupan pemerintahan di Indonesia. Misalnya, pada rezim sebelumnya, banyak isu ego sektoral antara instansi yang satu dengan instansi yang lain dalam memproduksi data pemerintah. Saking egonya, banyak sektor publik mengeluarkan data secara masing-masing dan membuat bingung masyarakat sebagai penggunanya. Padahal data yang saling terintegrasi, mampu membuat kebijakan yang akurat bagi Indonesia.

Sikap egosentris bukanlah perwujudan kemerdekaan di pemerintahan. Padahal dari sisi pemerintahan, bangsa ini sangat besar, prestasi Indonesia tidak pernah main-main. Contohnya dalam skala makro ekonomi, inflasi Indonesia dikategorikan stabil sejak 2015 jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, sehingga harga-harga bahan pokok (meski naik terus) namun tidak pernah sampai menimbulkan kelaparan ekstrem. Orang Indonesia masih bisa membeli nasi uduk seharga Rp. 7000 per bungkusnya  (di bawah 1 dolar Amerika). Inilah nikmat yang harus disyukuri untuk menjadi negara yang merdeka.

Pada akhirnya, kita semua harus paham bahwa merdeka tidak hanya sekadar menjaga nilai-nilai yang ada, namun juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini harus terus belajar mengedepankan empati, bukan hanya menunjukkan simpati semata. Mekanisme punishments dan rewards hampir sulit didengar, tapi kita harus belajar memuji mereka yang mengamalkan nilai-nilai 4 (empat) pilar.

Tak hanya itu, kita juga harus berani mengoreksi atau mengkritisi secara konstruktif sebuah kesalahan. Bangsa ini tidak boleh sekadar bersembunyi di balik kata pembuat perubahan semata, namun berani berjuang didepan sebagai agen perubahan demi Indonesia yang merdeka tanpa kata semu.[T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Jaswanto

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa
Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan
Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda
Tags: Hari Kemerdekaan RIpancasilaUUD 1945
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JS Khairen, Membaca Adalah Bahan Bakar Menulis

Next Post

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co