23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Reja by Reja
August 11, 2025
in Esai
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?

Reja

SEBAGAI seorang Indonesia, lahir dan besar di tanah air tercinta, memiliki rasa nasionalisme semata tidaklah cukup. Kita wajib memiliki jiwa patriotisme, bukan hanya sekadar merasakannya tetapi mempraktikkan nasionalisme kita dengan semangat bela negara. Hal ini sama halnya dengan bersimpati semata tidaklah cukup, seorang dengan jiwa kesatria harus memiliki empati untuk mencapai rasa tepa selira—istilah ini merujuk pada sikap akhir untuk saling menghargai, memahami, dan berempati terhadap perasaan dan keadaan orang lain di sekitarnya. Di situlah letak makna kemerdekaan sesungguhnya.

Pernyataan “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” merupakan bagian dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap bangsa di dunia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri. Filosofi Indonesia sangat mendalam, khususnya ketika memaknai kemerdekaan bangsa. Negeri ini bukan lahir dari rangkaian kata-kata indah semata, namun juga semangat bersatu tanpa membedakan kasta.

Dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, kita wajib memeluk nilai-nilai dalam 4 (empat) pilar kebangsaan, mulai dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar kebangsaan ini saling terkait dan berfungsi sebagai fondasi dalam membangun identitas dan karakter bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar ideologi, UUD 1945 sebagai landasan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan, semuanya berperan penting dalam menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa Indonesia.

Namun, kini, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Apakah merayakan kemerdekaan Indonesia cukup hanya dengan semangat upacara, atau pengadaan festival dan lomba-lomba? Atau sebenarnya perayaan tersebut hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai orang Indonesia atau cuma “setor muka”pada atasan. Di dalam negeri, kita lebih mem-viralkan hal-hal yang tidak punya nilai kebangsaan. Nilai-nilai tersebut terasa pudar dan samar-samar terdengar, hanya sekadar ditunaikan tapi secara moral gagal dipertanggungjawabkan.

Bayangkan saja, ketika ada sebuah kecurangan berbentuk dinasti politik di bangsa ini, kecurangan tersebut dapat meraih kemenangan. Kita tak lagi seperti orang tua kita pada zaman dahulu, berani maju bersatu, tanpa rasa takut untuk mati. Kini banyak yang berbicara, namun hanya sebatas berani berkomentar menjadi netizentanpa foto profil di media sosial. Padahal sebuah kecaman terhadap bentuk kecurangan negara dapat diselesaikan dengan cara yang intelektual pula, yakni dengan menulis.

Namun, ke mana para cendekiawan Indonesia? Mereka yang berani bersuara “kemarin” sepertinya hanya didominasi akademisi senior dari berbagai universitas Tanah Air, tapi sisanya, ke mana kita? Hanya berkoar? Tapi bukan bersuara.

***

Seorang diaspora profesional Indonesia di Malaysia, Tom, mengaku bingung tentang makna kemerdekaan. Awalnya, dirinya mengira bahwa perasaan cinta tanah air cukup untuk mengatakan bahwa diri kita sudah merdeka. Merdeka sebatas bangga dengan pakaian adat, ikut upacara di luar negeri, atau sekadar hapal nilai-nilai 4 (empat) pilar. Tapi semakin lama dia meninggalkan Indonesia, dia semakin sadar bahwa peduli dengan apa yang menjadi masalah dunia juga merupakan aplikasi terhadap perasaan kemerdekaan.

“Karena dari umur 13 tahun saya sudah tinggal dan sekolah di berbagai negara, banyak orang asing yang rela tidak makan demi membantu para pengungsi negara lain yang kelaparan, dan bagi mereka, membantu bangsa lain juga merupakan bentuk kemerdekaan dirinya sebagai warga negara suatu bangsa,” tegas Tom.

Orang Indonesia di luar negeri dengan diasporanya terus mencanangkan persatuan dan kesatuan Tanah Air, terus menyerukan NKRI harga mati, tapi apa? Semboyan dan teriakan itu terasa semu. Karena, banyak permasalahan diaspora di luar negeri yang diselesaikan sendiri-sendiri, para pekerja migran Indonesia menghadapi ujiannya masing-masing bahkan tak jarang tanpa diketahui oleh perwakilan kita di sana.

Sekalinya bergerombol, orang Indonesia sering membuat heboh masyarakat setempat, seperti apa yang terjadi di Jepang, banyak orang Indonesia dinilai “berisik”,meskipun ada juga yang dinilai penyayang tapi seharusnya label “berisik” tidak perlu ada. Tak sedikit dari orang Indonesia yang bangga terhadap budayanya, mempertunjukkan kebaya dan tarian-tarian tradisional di jalan-jalan umum di luar negeri, ini malah sebenarnya mengganggu ketertiban negara tersebut.

Banyak dari kita bangga terhadap budaya sendiri tapi tidak berempati untuk mengamalkan nilai-nilainya dengan cara yang baik dan di tempat yang tepat. Hal ini malah seakan-akan menunjukkan bangsa Indonesia haus validasi, haus pengakuan, seakan-akan bangsanya belum merdeka, padahal itu salah. Indonesia secara fisik sudah sangat merdeka, infrastruktur bangsa kita dapat diadu dengan bangsa maju lainnya. Bagaimana dengan mental?

Sebagai perbandingan, hal ini sangat berbeda dengan diaspora dari negeri tetangga yang juga negara pengirim tenaga kerja seperti diaspora Filipina. Mereka sering membuat advokasi sesama orang Filipina untuk bersatu, saling menjaga dan saling menguatkan di setiap negara. Drama pekerja migran Filipina hampir tidak pernah terjadi. Bahkan tak jarang, orang Filipina banyak menempati posisi-posisi tinggi dalam dunia profesional di belahan dunia mana pun. Padahal secara fisik, gaya berpakaian orang Filipina sangat “kebarat-baratan” tapi secara mental, mereka hadir untuk memerdekakan bangsanya di mana pun mereka berdiri.

Bayang semu kemerdekaan tidak hanya tampak dari warga negaranya, namun juga dalam kehidupan pemerintahan di Indonesia. Misalnya, pada rezim sebelumnya, banyak isu ego sektoral antara instansi yang satu dengan instansi yang lain dalam memproduksi data pemerintah. Saking egonya, banyak sektor publik mengeluarkan data secara masing-masing dan membuat bingung masyarakat sebagai penggunanya. Padahal data yang saling terintegrasi, mampu membuat kebijakan yang akurat bagi Indonesia.

Sikap egosentris bukanlah perwujudan kemerdekaan di pemerintahan. Padahal dari sisi pemerintahan, bangsa ini sangat besar, prestasi Indonesia tidak pernah main-main. Contohnya dalam skala makro ekonomi, inflasi Indonesia dikategorikan stabil sejak 2015 jika dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, sehingga harga-harga bahan pokok (meski naik terus) namun tidak pernah sampai menimbulkan kelaparan ekstrem. Orang Indonesia masih bisa membeli nasi uduk seharga Rp. 7000 per bungkusnya  (di bawah 1 dolar Amerika). Inilah nikmat yang harus disyukuri untuk menjadi negara yang merdeka.

Pada akhirnya, kita semua harus paham bahwa merdeka tidak hanya sekadar menjaga nilai-nilai yang ada, namun juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini harus terus belajar mengedepankan empati, bukan hanya menunjukkan simpati semata. Mekanisme punishments dan rewards hampir sulit didengar, tapi kita harus belajar memuji mereka yang mengamalkan nilai-nilai 4 (empat) pilar.

Tak hanya itu, kita juga harus berani mengoreksi atau mengkritisi secara konstruktif sebuah kesalahan. Bangsa ini tidak boleh sekadar bersembunyi di balik kata pembuat perubahan semata, namun berani berjuang didepan sebagai agen perubahan demi Indonesia yang merdeka tanpa kata semu.[T]

Reporter/Penulis: Reja
Editor: Jaswanto

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa
Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan
Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda
Tags: Hari Kemerdekaan RIpancasilaUUD 1945
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JS Khairen, Membaca Adalah Bahan Bakar Menulis

Next Post

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Reja

Reja

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co