5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 11, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

SALAH satu ciri kamajuan zaman adalah loncatan perkembangan teknologi komunikasi yang melumerkan batas ruang dan waktu. Kecepatan perubahan yang ditimbulkannya juga membawa efek yang luar biasa. Gejala perubahan ini telah menghilangkan kemampuan manusia untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Hilangnya kesadaran ini dalam perspektif  pastmodernis sebagai ketidakberdayaan di bawah ‘politik kehidupan’ yang namanya nafsu alias syahwat.

Di bawah kuasa “politik kehidupan nafsu” ini manusia sebagai pemegang otoritas atas dirinya dimanipulasi, dikonstruksi, bahkan dihancurkan sehingga inidividu-individu kehilangan otonominya. Manusia yang tanpa jati diri ini akhirnya menjadi robot seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, menjadi kehilangan jati diri dan karakter.

Hilangnya karakter dan jati diri bangsa, salah satu yang kerap kali dipersalahkan adalah media (sosial-massa). Bila sejatinya media yang merusak karakter anak bangsa, mengapa tidak kita balik hipotesis yang sudah hampir seratus persen publik mempercayainya, media kita gunakan sebagai cara membangun kembali karakter patriotik cinta tanah air pada segala isinya, baik tanahnya, airnya, hutannya, manusianya, budayanya, pemerintahnya, pahlawannya. Tulisan  ini mencoba membahas bagaimana kita memanfaatkan media dalam membangun karakter, dan percaya diri anak-anak bangsa pada tanah airnya.

Sudah menjadi berita dan tayangan sehari-hari runtuhnya moral dan karekter masyarakat  mengalami dekadensi moral. Korupsi, manipulasi, dan “si-si” yang lain. “Mau di bawa ke mana bangsa ini”, demikian suatu ungkapan yang biasa kita dengar para pengamat, pakar, dan ahli versi host suatu acara di ruang-ruang publik, dengan pesimis dan apatis para elit. Padahal seharusnya para pakar, pengamat, nara sumber itu, apa pun latar belakang keahlian, pekerjaannya punya jiwa optimis menatap masa depan negeri.

Kebanyakan para nara sumber yang disebut pakar itu, hipotesis keliru mereka kurang memiliki jiwa patriotik, mereka hanya berjuang menyampaikan gagasan opininya untuk “gengsi” kepentingan diri, dan kelompoknya saja. Mereka berdiskusi berdialog tidak benar-benar untuk membicarakan kepentingan umat, rakyat banyak. Tema-tema yang dibicarakan hanya tema-tema isu “gosip, kabar bohong, katanya-katanya” alias rumor.

Media masih mengangkat tema-tema kacangan asal laku ditonton, datang iklan, uang masuk, beres dach, buat membiayai operasional acaranya. Tidak salah sih, memang itu sudah konsekuensinya. Cuma yang harus diperhatikan adalah kesehatan jiwa, mental pemirsa akibat tayangannya; sebut saja acara Rakyat Bersuara, Interupsi, ILC, dll. Rakyat disuguhi dialog, konflik yang tidak berujung kapan selesainya.

Ini akan mengakibatkan disonan terus menerus pada jiwa pemirsa. Perasaan tidak nyaman yang dialami individu ketika ada ketidaksesuaian antara dua elemen kognitif (keyakinan, sikap, perilaku), apa yang mereka pahami tidak sesuai apa yang dia saksikan lewat tayangan media. Seperti  apa yang disebut Leon Festinger, rasa tidak nyaman akibat disonansi mendorong individu untuk mengambil tindakan guna mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan tersebut. Mereka mungkin akan mengubah keyakinan mereka, mengubah perilaku mereka, atau mencari pembenaran untuk perilaku mereka.

                                                         ***

Publik akan tetap bertanya-tanya setelah menyaksikan suatu acara diskusi, itu baru satu sudut pandang efek dari satu acara diskusi. Dialog apa pun nama acara, juga tayangan-tayangan youtube, ini juga memiliki dampak pada jiwa dan kesehatan mental pemirsanya. Sadar atau tidak para pengelola acara di media sebetulnya ikut andil berkontribusi pada kesehatan jiwa mental khalayak. Ungkapan umpatan masyarakat kelas “elit” (ekonomi sulit) yang jengkel, seolah-olah negeri ini sudah menjadi alat untuk memperkaya diri, dan kelompoknya saja, mungkin ini juga akibat dari sebuah tayangan.

Dalam suasana bulan kemerdekan Agustusan, mari membangun semangat jiwa patriot, dengan optimalkan fungsi media digunakan untuk mendidik, membangun karakter individu dan masyarakat.

Media  massa maupun media sosial saat ini sangat dibutuhkan, dan memiliki peran penting dalam membangun karakter patriotik, terutama di kalangan generasi muda. Media dapat menjadi sarana edukasi dan informasi tentang nilai-nilai kebangsaan, membentuk identitas nasional, serta memfasilitasi partisipasi dalam diskusi publik terkait isu-isu kebangsaan. 

Media harus rela mengorbankan acara populernya untuk mengangkat isu-isu yang memiliki dampak langsung pada khalayak seperti persoalan lingkungan, ketahanan pangan, meminimalkan konflik sosial, menghadapi bencana alam, dll. Sebagai bentuk CSR media tanggung jawab sosial media pada khalayaknya, dengan memberikan porsi slot acaranya lebih banyak.

Melalui berbagai program, artikel, atau konten digital, media dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang identitas nasional, kebhinekaan, dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Media juga dapat mempromosikan semangat cinta tanah air, bangga terhadap produk dalam negeri, serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.

Media dapat membantu membentuk citra positif tentang Indonesia di mata dunia, serta memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap bangsa. Melalui konten-konten yang inspiratif, media dapat menumbuhkan rasa hormat terhadap simbol-simbol negara, seperti bendera, lagu kebangsaan, dan bahasa Indonesia. 

Media juga dapat berperan dalam membangun pemahaman tentang keberagaman budaya dan suku bangsa di Indonesia, serta mempromosikan sikap toleransi dan saling menghargai, dengan pemilihan kata, kalimat, dan bahasa yang santun, tidak selalu mempertontonkan “adu renyom” adu mulut dengan bahasa yang tidak santun.

Sebagai penutup media dapat menyajikan dan mengemas acara contoh-contoh nyata nilai-nilai patriotisme dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengkonkret dalam sebuah program acara makna filosofi Sumpah Palapa, dalam kehidupan nyata saat ini. Merdeka, NKRI harga mati. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?
Demi Waktu yang Terus Berjalan, Aku Adalah Harimu
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Tags: kemerdekaanmedia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Garam Palungan, Masa Depan, dan Sentuhan Digital

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] — Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] — Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] -- Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co