25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Media yang Berkarakter Patriotik: Catatan Hari Kemerdekaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 11, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

SALAH satu ciri kamajuan zaman adalah loncatan perkembangan teknologi komunikasi yang melumerkan batas ruang dan waktu. Kecepatan perubahan yang ditimbulkannya juga membawa efek yang luar biasa. Gejala perubahan ini telah menghilangkan kemampuan manusia untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Hilangnya kesadaran ini dalam perspektif  pastmodernis sebagai ketidakberdayaan di bawah ‘politik kehidupan’ yang namanya nafsu alias syahwat.

Di bawah kuasa “politik kehidupan nafsu” ini manusia sebagai pemegang otoritas atas dirinya dimanipulasi, dikonstruksi, bahkan dihancurkan sehingga inidividu-individu kehilangan otonominya. Manusia yang tanpa jati diri ini akhirnya menjadi robot seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, menjadi kehilangan jati diri dan karakter.

Hilangnya karakter dan jati diri bangsa, salah satu yang kerap kali dipersalahkan adalah media (sosial-massa). Bila sejatinya media yang merusak karakter anak bangsa, mengapa tidak kita balik hipotesis yang sudah hampir seratus persen publik mempercayainya, media kita gunakan sebagai cara membangun kembali karakter patriotik cinta tanah air pada segala isinya, baik tanahnya, airnya, hutannya, manusianya, budayanya, pemerintahnya, pahlawannya. Tulisan  ini mencoba membahas bagaimana kita memanfaatkan media dalam membangun karakter, dan percaya diri anak-anak bangsa pada tanah airnya.

Sudah menjadi berita dan tayangan sehari-hari runtuhnya moral dan karekter masyarakat  mengalami dekadensi moral. Korupsi, manipulasi, dan “si-si” yang lain. “Mau di bawa ke mana bangsa ini”, demikian suatu ungkapan yang biasa kita dengar para pengamat, pakar, dan ahli versi host suatu acara di ruang-ruang publik, dengan pesimis dan apatis para elit. Padahal seharusnya para pakar, pengamat, nara sumber itu, apa pun latar belakang keahlian, pekerjaannya punya jiwa optimis menatap masa depan negeri.

Kebanyakan para nara sumber yang disebut pakar itu, hipotesis keliru mereka kurang memiliki jiwa patriotik, mereka hanya berjuang menyampaikan gagasan opininya untuk “gengsi” kepentingan diri, dan kelompoknya saja. Mereka berdiskusi berdialog tidak benar-benar untuk membicarakan kepentingan umat, rakyat banyak. Tema-tema yang dibicarakan hanya tema-tema isu “gosip, kabar bohong, katanya-katanya” alias rumor.

Media masih mengangkat tema-tema kacangan asal laku ditonton, datang iklan, uang masuk, beres dach, buat membiayai operasional acaranya. Tidak salah sih, memang itu sudah konsekuensinya. Cuma yang harus diperhatikan adalah kesehatan jiwa, mental pemirsa akibat tayangannya; sebut saja acara Rakyat Bersuara, Interupsi, ILC, dll. Rakyat disuguhi dialog, konflik yang tidak berujung kapan selesainya.

Ini akan mengakibatkan disonan terus menerus pada jiwa pemirsa. Perasaan tidak nyaman yang dialami individu ketika ada ketidaksesuaian antara dua elemen kognitif (keyakinan, sikap, perilaku), apa yang mereka pahami tidak sesuai apa yang dia saksikan lewat tayangan media. Seperti  apa yang disebut Leon Festinger, rasa tidak nyaman akibat disonansi mendorong individu untuk mengambil tindakan guna mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan tersebut. Mereka mungkin akan mengubah keyakinan mereka, mengubah perilaku mereka, atau mencari pembenaran untuk perilaku mereka.

                                                         ***

Publik akan tetap bertanya-tanya setelah menyaksikan suatu acara diskusi, itu baru satu sudut pandang efek dari satu acara diskusi. Dialog apa pun nama acara, juga tayangan-tayangan youtube, ini juga memiliki dampak pada jiwa dan kesehatan mental pemirsanya. Sadar atau tidak para pengelola acara di media sebetulnya ikut andil berkontribusi pada kesehatan jiwa mental khalayak. Ungkapan umpatan masyarakat kelas “elit” (ekonomi sulit) yang jengkel, seolah-olah negeri ini sudah menjadi alat untuk memperkaya diri, dan kelompoknya saja, mungkin ini juga akibat dari sebuah tayangan.

Dalam suasana bulan kemerdekan Agustusan, mari membangun semangat jiwa patriot, dengan optimalkan fungsi media digunakan untuk mendidik, membangun karakter individu dan masyarakat.

Media  massa maupun media sosial saat ini sangat dibutuhkan, dan memiliki peran penting dalam membangun karakter patriotik, terutama di kalangan generasi muda. Media dapat menjadi sarana edukasi dan informasi tentang nilai-nilai kebangsaan, membentuk identitas nasional, serta memfasilitasi partisipasi dalam diskusi publik terkait isu-isu kebangsaan. 

Media harus rela mengorbankan acara populernya untuk mengangkat isu-isu yang memiliki dampak langsung pada khalayak seperti persoalan lingkungan, ketahanan pangan, meminimalkan konflik sosial, menghadapi bencana alam, dll. Sebagai bentuk CSR media tanggung jawab sosial media pada khalayaknya, dengan memberikan porsi slot acaranya lebih banyak.

Melalui berbagai program, artikel, atau konten digital, media dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang identitas nasional, kebhinekaan, dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Media juga dapat mempromosikan semangat cinta tanah air, bangga terhadap produk dalam negeri, serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.

Media dapat membantu membentuk citra positif tentang Indonesia di mata dunia, serta memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap bangsa. Melalui konten-konten yang inspiratif, media dapat menumbuhkan rasa hormat terhadap simbol-simbol negara, seperti bendera, lagu kebangsaan, dan bahasa Indonesia. 

Media juga dapat berperan dalam membangun pemahaman tentang keberagaman budaya dan suku bangsa di Indonesia, serta mempromosikan sikap toleransi dan saling menghargai, dengan pemilihan kata, kalimat, dan bahasa yang santun, tidak selalu mempertontonkan “adu renyom” adu mulut dengan bahasa yang tidak santun.

Sebagai penutup media dapat menyajikan dan mengemas acara contoh-contoh nyata nilai-nilai patriotisme dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengkonkret dalam sebuah program acara makna filosofi Sumpah Palapa, dalam kehidupan nyata saat ini. Merdeka, NKRI harga mati. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?
Demi Waktu yang Terus Berjalan, Aku Adalah Harimu
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Tags: kemerdekaanmedia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Garam Palungan, Masa Depan, dan Sentuhan Digital

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] — Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] — Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [1] -- Memulai Perjalanan 1000 Kilometer dari Gresik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co