15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 11, 2025
in Panggung
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

“CINTA pertama saya adalah hip-hop.”

Kalimat itu keluar dari Herry Sutresna, atau lebih dikenal dengan Morgue Vanguard atau Ucok Homicide, tanpa ragu. Di tengah ragam proyek musik yang telah ia jalani selama puluhan tahun, hip-hop tetap menjadi titik mula dan poros yang tak tergantikan.

Malam itu, sekitar pukul sepuluh, gedung kesenian Sasana Budaya, Buleleng, Bali, menjelma ruang dengan denyut lampu merah, hijau, dan biru yang menari di panggung secara bergantian. Cahaya-cahaya itu jatuh di antara siluet penonton, sesekali memantul di wajah Herry Sutresna.

Diawali Marlowe Bandem dan Adi Pratama dengan set DJ yang santai, nyaris menyerupai suasana kafe larut malam—untuk yang ini, udara seperti dipenuhi kesan yang lebih pekat. Proyektor dari utara menembakkan visuan-visual cadas, horor, retakan-retakan noise ala 90-an, cuplikan video yang membawa kembali aroma tahun 1998—masa ketika jalanan Indonesia bergetar oleh perlawanan dan aparat bersiaga di setiap sudut.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Visual yang memberi pesan akan ada ledakan malam ini. Intronya berjalan lama, membentuk ruang dengar yang perlahan mengikat perhatian. Hingga kemudian, giliran panggung diserahkan pada sosok yang telah lama membawa gema perlawanan di setiap katanya, the one and only, Ucok, mantan vokalis Homicide.

Kehadiran Ucok membelah riuh. Meski pencahayaan remang-remang, sorot kamera dari segala arah menembus gelap, menangkap tiap geraknya. Umur hanyalah angka, kata orang-orang, penampilan Ucok tak kalah dengan pemuda-pemuda di luar sana. Malam itu, ia menutup uban di kepalanya dengan topi berlambang bendera Palestina—menunjukan kepada siapa ia berpihak.

Ucok membuka dengan salam dan ucapan terima kasih atas undangan di Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, lalu dengan nada sedikit getir, ia menyinggung kota kelahirannya, Bandung, yang menurutnya tak punya ruang sehebat ini, ruang yang berhasil mempertemukan penulis, dan para pencinta sastra.

Banyak sajak dihujamkan malam itu, salah satunya berjudul “Jeruji”. Kata-kata yang terdengar seperti tusukan demi tusukan yang menelusuri luka sosial dan politik. Ia menggaungkan tentang generasi yang mungkin hanya akan menjadi “pabrik”, tentang masa depan yang penuh tirani. Setiap barisnya disampaikan dengan nada geram yang tak sekadar lantang, tapi berat juga, bak batu yang dilempar tepat ke tengah arus.

Penampilan Ucok Homicide dan Marlowe Bandem di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Penonton tak sekadar mendengar, mereka menanggung gema yang menggetarkan dada. Lalu “Barisan Nisan”, sebuah lontaran panjang yang menggabungkan satire dan kritik sosial. Di antara kata-kata yang diucapnya, terselip ironi betapa indahnya dunia yang berdiri di atas “barisan nisan yang dikebiri matahari”. Pesannya getir, mengoyak suasana penonton yang hadir.

Namun, puncak malam itu datang ketika Ucok membawakan “Sajak Suara” karya Wiji Thukul, sang legenda yang hilang. Sebelum memulai, ia menutup pengantarnya dengan kalimat menggetarkan. “Selamat kepada kalian semua, semoga kalian berbahagia, karena kalian telah memilih penculik sebagai pemimpin kalian saat ini”.

Suara seraknya menghidupkan kembali perlawanan yang terkandung dalam teks “Sajak Suara”, memproklamasikan bahwa suara tak bisa diredam, dan bagian “aku akan memburumu seperti kutukan” dengan nada yang mengeras, entah, itu bukan sekadar teriakan, tapi itu seperti benar-benar kutukan yang dilempar tengah malam. Penonton terpukau, seolah setiap kata menjadi bara yang melompat ke panggung.

Malam itu, Ucok membawakan lima puisi dengan gema yang menggetarkan, yakni Jeruji, Barisan Nisan, Wicirna Sahana, Sajak Suara, dan Kabut.

Ucok dan Hip-hop

Ucok pertama kali jatuh cinta pada hip-hop pada tahun 1983, saat usianya baru menginjak sembilan tahun. Musik itu bukan sekadar terdengar di sekitarnya, tapi ia memilihnya secara sadar. Sebelum tergabung dalam grup mana pun, ia sudah kerap tampil solo, membawakan hip-hop di berbagai panggung kecil.

Lahir di Sungailiat, Bangka, pada 21 Juni 1974, Ucok menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah. Meski sempat tinggal di Banten, ia menyebut Bandung sebagai tempat yang paling membentuk cara pandangnya. “Mungkin kalau bukan di Bandung, saya tidak akan seperti sekarang,” ujarnya. Kota itu tidak hanya memberi ruang tumbuh, tapi juga mempertemukannya dengan komunitas yang membuka wawasan terhadap musik, sastra, dan gerakan sosial.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Pada era 1990-an, hip-hop bukanlah genre yang populer di Indonesia. Di tengah dominasi punk, metal, dan pop, hip-hop seperti anak tiri—tidak banyak yang menggandrunginya secara serius. “Nyaris tidak ada grup hip-hop independen yang punya album waktu itu,” kenang Ucok. Banyak yang hanya mengikut tren, tanpa benar-benar menjalani esensinya. Karena itu, membangun sebuah grup hip-hop adalah perjuangan yang tidak mudah.

Ucok tahu betul betapa sulitnya menemukan orang yang satu frekuensi. Ia sering datang ke festival-festival musik, bukan sekadar untuk menonton, tapi mencari rekan seperjuangan ─ orang-orang yang mencintai hip-hop bukan sebagai gaya, tapi sebagai jalan hidup.

Tahun 1994, Ucok mendirikan Homicide, grup hip-hop independen yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah musik bawah tanah Indonesia. Bersama Homicide, Ucok merilis sejumlah album yang sarat kritik sosial dan muatan politik, di antaranya Godzkilla Necronometry, Barisan Nisan, The Nekrophone Dayz, dan Illsurrekshun. Lirik-lirik mereka tajam, penuh amarah, tapi juga cerdas dan reflektif—menunjukkan bahwa hip-hop bisa menjadi ruang perlawanan yang bermakna.

Meski Homicide resmi berhenti pada tahun 2007, semangat itu tidak pernah padam. Beberapa album lama seperti Barisan Nisan dan Godzkilla Necronometry bahkan dirilis ulang dan di-remaster oleh Ucok, sebagai bentuk kecintaannya pada rilisan fisik dan warisan karya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Ucok juga mendirikan Grimloc Records, label rekaman yang konsisten merilis karya-karya independen, termasuk rilisan Homicide dan proyek-proyek eksperimental lainnya. Melalui label ini, ia membangun ekosistem musik alternatif yang mandiri dan berani bersuara.

Di luar musik, Ucok juga dikenal sebagai seorang aktivis politik yang aktif dalam berbagai gerakan sosial. Bagi Ucok, musik bukan sekadar hiburan, tapi alat untuk menyuarakan keresahan, membangun kesadaran, dan memobilisasi kemuakan terhadap ketidakadilan.

Setelah Homicide bubar, Ucok kembali ke panggung dengan semangat yang sama melalui proyek Bars of Death pada tahun 2014. Proyek ini melahirkan lagu seperti All Cops Are Gods, yang masuk dalam kompilasi Memobilisasi Kemuakan rilisan Grimloc dalam format digital. Hingga kini, Bars of Death masih berjalan, menjadi wadah baru untuk menyuarakan keresahan lama dengan cara yang lebih eksploratif.

Ucok juga sempat berkolaborasi dengan berbagai musisi dalam sejumlah proyek seperti Fateh (2014, bersama DJ Still), Demi Masa (2018, bersama Doyz), dan Morbid Funk (2020, bersama Bars of Death). Ia tak berhenti mencipta, bereksperimen, dan memperluas cakrawala musikalnya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Selain bermusik, Ucok juga menulis. Buku Setelah Boombox Usai Menyalak (2016) dan Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd dalam Satu Dekade (2017) menjadi bukti bahwa kecintaannya pada kata-kata tak berhenti di lirik lagu. Pendidikan formalnya di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB juga tampak mewarnai ketajaman narasi dan kedalaman visual dalam karya-karyanya.

Hari ini, nama Ucok Homicide atau Morgue Vanguard tetap diperhitungkan, bukan karena nostalgia masa lalu, tapi karena konsistensinya dalam merawat api: api perlawanan, kejujuran, dan cinta terhadap hip-hop. Ia bukan sekadar musisi, tapi juga seorang kurator suara zaman, yang terus menggali makna dari dentuman musik dan bait-bait protes.

Dan, seperti yang Ucok bilang di awal: cinta pertamanya itu tak pernah pudar. Bagi Ucok, hip-hop adalah rumah—tempat ia tumbuh, bersuara, dan selalu kembali.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna dan Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Jaswanto

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan
Menelusuri “Jejak Sunyi-Petualangan Puitis” Umbu Landu Paranggi dari Karya-karyanya
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi
Tags: Herry SutresnaHip-hopMorgue VanguardSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Ucok Homicide
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Next Post

Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co