23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Primanindya Dini Maheswari by Primanindya Dini Maheswari
August 6, 2025
in Ulas Pentas
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

CAHAYA gelap lalu perlahan temaram mengawali pertunjukkan malam itu. Dalam temaram, muncul keanggunan dalam balutan kain putih-kontras-membius perhatian. Si putih cantik itu langsung duduk di meja rias membelakangi penonton. Tanpa ragu mematut di depan cermin seolah menyapa yang ada di dalam diri sebelum bertemu dunia. Setelahnya liukan tubuh seirama alunan kelembutan musik yang sayup-sayup mengiringi.

Perkenalan. Itu kalimat pertama yang dilontarkan lisannya. Klise, sebagaimana semua orang memperkenalkan diri pertama kali. Berbeda pada perkenalan pada umumnya, ia memperkenalkan dalam maksud lain. Ia mengoneksi pada ‘kelahirannya’ kembali. Kami diseret ke hari dimana ia dilahirkan dan diberi nama “I Gusti Ayu Laksmiyani” yang dua dasawarsa kemudian dikenal dengan “Ayu Laksmi”.

Demikian pembukaan pentas monolog Ayu Laksmi di panggung Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025. Monolog itu berjudul “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri” yang naskahnya ditulis Kadek Sonia Piscayanti.

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

Sebagaimana menaiki mesin waktu, kita pergi ke masa yang semua orang setuju bahwa masa paling bahagia. Ya, masa kanak-kanak. Dimana tidak ada tanggungjawab, tidak ada aturan baku, tidak ada pembawaan diri. Hanya bermain dan bermain. Ayu Laksmi apik mengeluarkan Ayu cilik di panggung pementasan itu.

Alunan lembut berubah menjadi hening sebelum kemudian mendebarkan. Layar polos berubah menjadi visual hitam putih garis-garis. Senyum kanak-kanak itu berubah menjadi tatapan nanar kehilangan. Kehilangan ayah menjadi luka dalam yang bahkan sampai saat ini garisnya tak akan hilang. Si bungsu ketiga yang mungil itu harus kehilangan ayah yang menjadi sosok pelindung. Ibu, menjalani super multi peran. Ibu menjadi tumpuan bagi anak-anaknya yang menghidupi dengan musik dan lagu.

When I was just a little girl
I asked my mother
What will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here’s what she said to me
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be

Dari ibunya-lah ia mengenal warna-warni indahnya seni, musik dan lagu. Que Sera-sera menjadi lagu yang sangat emosional. Kebingungan masa kecil yang membelenggu, tanpa ragu ibunya meyakinkan dengan sungguh bahwa masa depan akan baik-baik saja. Bahkan saat ini, saat Ibunda Ayu kehilangan dirinya sendiri, ketika mendengar lagu itu, sorot matanya hidup dan menyiratkan semangat membuncah. Sungguh Ajaib.

Musik dan lagu bukan hanya menguatkan jiwa Ayu, namun juga menghidupkan. Awal karir di tengah gegap gempitanya kota Jakarta pada sebuah ajang pencarian bakat.  Mengharumkan nama Bali dan Singaraja di Ibu Kota. “Istana yang Hilang” menjadi titik melejitnya Ayu Laksmi. Lagu art rock sangat pas dibawakan dengan warna suara dan interpretasi seorang Ayu Laksmi. Terang dan redup, naik dan turun, kata-kata itu teramat dekat. Titik melejit bersamaan dengan titik terbawahnya, sebagaimana judulnya, Ayu benar-benar menghilang dari industri musik tanah air. Ia belajar dalam kesunyian, keheningan.

Dalam keheningan, Ayu mencari kedamaian. Saking heningnya bahkan ia mendengarkan ke dalam jiwanya sendiri. Lika-liku hidupnya benar-benar dinikmati, bukan hanya dilalui tanpa arti. Pada pertunjukan matembang, ia menyisipkan nilai-nilai luhur yang terus dipegang dalam hidupnya.

  • BACA JUGA:
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Prosesnya begitu jauh hingga Ayu bergelut di dunia seni peran. Kadang ia menjadi ibu penghidupan, kadang ia menjadi sosok misterius yang ditakuti, kadang ia menjadi seorang yang digandrungi. Hidupnya menjadi siapa dan apa tergantung arahan sutradara. Ayu melepaskan dirinya di dunia seni peran ini untuk diatur sesuai keinginan kehendak. Seni peran menariknya kembali ke hiruk pikuk kerasnya kota Jakarta. Lebih banyak lagi yang mengenalinya dari sini. Sejauh-jauh ia melangkah, tak lupa arah pulang.

Ketika pulang, ia tersadar bahwa ibunya-yang mengenalkannya pada dunia-sudah tak lagi mengenali dirinya sendiri. Bahkan ibunya lupa apakah dirinya laki-laki atau perempuan. “Aku disini, ibu,” pekiknya berulang kali.

Monolog yang dimainkan Ayu Laksmi itu memang lebih banyak bercerita tentang kisah hidup dirinya sendiri, terutama kisah hubungan antara dia dan ibunya. Pada bagian cerita tentang ibu, kisah itu sepertinya masuk ke setiap diri penonton dan penonton seperti merasakan kisah yang sama.

Saya, sebagai penonton, bahkan mengeluarkan air mata, membayangkan raga orang tersayang masih ada namun jiwanya terbang entah kemana. Tak mengenali diri kita lagi.

“Mesuk sukma” mantra yang ia lantunkan terus menerus di penghujung pertunjukkan. Secara harfiah berarti “memasuki sukma” artinya “masuk ke dalam jiwa”. Penghambaan diri Ayu terhadap takdir. Ia sudah berserah jika kelak nanti ia akan menyatu kembali dengan ayahnya dan ibunya. Itulah daur hidup yang mesti dilalui. [T]

Penulis: Primanindya Dini Maheswari
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini ditulis peserta pelatihan risidensi Menulis Festival yang diselenggarakan tatkala.co bekerjasama dengan Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025
  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Tags: Ayu LaksmiMonologSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Teater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong, Wayang, Janggan dan Jazz yang Membumi di UVJF 2025

Next Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Primanindya Dini Maheswari

Primanindya Dini Maheswari

Berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah yang lahir tahun 2002. Seorang karyawan biasa di salah satu media yang suka makan bakso tanpa kecap dan saos. Identitasnya tergantung dimana ia dikenal. Kadang menjadi voice over talent, kadang MC, kadang Social Media Specialist, kadang traveller, kadang suka hibernasi. Di tengah hiruk pikuk duniawi, ia menuangkan kepalanya yang penuh dengan tulisan. Baginya, menulis menjadi sarana tenang dari riuh.

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang  — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang -- Lukisan "Sisa-sisa Pembangunan" dan "Awas Sigap" Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co