14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Primanindya Dini Maheswari by Primanindya Dini Maheswari
August 6, 2025
in Ulas Pentas
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

CAHAYA gelap lalu perlahan temaram mengawali pertunjukkan malam itu. Dalam temaram, muncul keanggunan dalam balutan kain putih-kontras-membius perhatian. Si putih cantik itu langsung duduk di meja rias membelakangi penonton. Tanpa ragu mematut di depan cermin seolah menyapa yang ada di dalam diri sebelum bertemu dunia. Setelahnya liukan tubuh seirama alunan kelembutan musik yang sayup-sayup mengiringi.

Perkenalan. Itu kalimat pertama yang dilontarkan lisannya. Klise, sebagaimana semua orang memperkenalkan diri pertama kali. Berbeda pada perkenalan pada umumnya, ia memperkenalkan dalam maksud lain. Ia mengoneksi pada ‘kelahirannya’ kembali. Kami diseret ke hari dimana ia dilahirkan dan diberi nama “I Gusti Ayu Laksmiyani” yang dua dasawarsa kemudian dikenal dengan “Ayu Laksmi”.

Demikian pembukaan pentas monolog Ayu Laksmi di panggung Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025. Monolog itu berjudul “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri” yang naskahnya ditulis Kadek Sonia Piscayanti.

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

Sebagaimana menaiki mesin waktu, kita pergi ke masa yang semua orang setuju bahwa masa paling bahagia. Ya, masa kanak-kanak. Dimana tidak ada tanggungjawab, tidak ada aturan baku, tidak ada pembawaan diri. Hanya bermain dan bermain. Ayu Laksmi apik mengeluarkan Ayu cilik di panggung pementasan itu.

Alunan lembut berubah menjadi hening sebelum kemudian mendebarkan. Layar polos berubah menjadi visual hitam putih garis-garis. Senyum kanak-kanak itu berubah menjadi tatapan nanar kehilangan. Kehilangan ayah menjadi luka dalam yang bahkan sampai saat ini garisnya tak akan hilang. Si bungsu ketiga yang mungil itu harus kehilangan ayah yang menjadi sosok pelindung. Ibu, menjalani super multi peran. Ibu menjadi tumpuan bagi anak-anaknya yang menghidupi dengan musik dan lagu.

When I was just a little girl
I asked my mother
What will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here’s what she said to me
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be

Dari ibunya-lah ia mengenal warna-warni indahnya seni, musik dan lagu. Que Sera-sera menjadi lagu yang sangat emosional. Kebingungan masa kecil yang membelenggu, tanpa ragu ibunya meyakinkan dengan sungguh bahwa masa depan akan baik-baik saja. Bahkan saat ini, saat Ibunda Ayu kehilangan dirinya sendiri, ketika mendengar lagu itu, sorot matanya hidup dan menyiratkan semangat membuncah. Sungguh Ajaib.

Musik dan lagu bukan hanya menguatkan jiwa Ayu, namun juga menghidupkan. Awal karir di tengah gegap gempitanya kota Jakarta pada sebuah ajang pencarian bakat.  Mengharumkan nama Bali dan Singaraja di Ibu Kota. “Istana yang Hilang” menjadi titik melejitnya Ayu Laksmi. Lagu art rock sangat pas dibawakan dengan warna suara dan interpretasi seorang Ayu Laksmi. Terang dan redup, naik dan turun, kata-kata itu teramat dekat. Titik melejit bersamaan dengan titik terbawahnya, sebagaimana judulnya, Ayu benar-benar menghilang dari industri musik tanah air. Ia belajar dalam kesunyian, keheningan.

Dalam keheningan, Ayu mencari kedamaian. Saking heningnya bahkan ia mendengarkan ke dalam jiwanya sendiri. Lika-liku hidupnya benar-benar dinikmati, bukan hanya dilalui tanpa arti. Pada pertunjukan matembang, ia menyisipkan nilai-nilai luhur yang terus dipegang dalam hidupnya.

  • BACA JUGA:
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Prosesnya begitu jauh hingga Ayu bergelut di dunia seni peran. Kadang ia menjadi ibu penghidupan, kadang ia menjadi sosok misterius yang ditakuti, kadang ia menjadi seorang yang digandrungi. Hidupnya menjadi siapa dan apa tergantung arahan sutradara. Ayu melepaskan dirinya di dunia seni peran ini untuk diatur sesuai keinginan kehendak. Seni peran menariknya kembali ke hiruk pikuk kerasnya kota Jakarta. Lebih banyak lagi yang mengenalinya dari sini. Sejauh-jauh ia melangkah, tak lupa arah pulang.

Ketika pulang, ia tersadar bahwa ibunya-yang mengenalkannya pada dunia-sudah tak lagi mengenali dirinya sendiri. Bahkan ibunya lupa apakah dirinya laki-laki atau perempuan. “Aku disini, ibu,” pekiknya berulang kali.

Monolog yang dimainkan Ayu Laksmi itu memang lebih banyak bercerita tentang kisah hidup dirinya sendiri, terutama kisah hubungan antara dia dan ibunya. Pada bagian cerita tentang ibu, kisah itu sepertinya masuk ke setiap diri penonton dan penonton seperti merasakan kisah yang sama.

Saya, sebagai penonton, bahkan mengeluarkan air mata, membayangkan raga orang tersayang masih ada namun jiwanya terbang entah kemana. Tak mengenali diri kita lagi.

“Mesuk sukma” mantra yang ia lantunkan terus menerus di penghujung pertunjukkan. Secara harfiah berarti “memasuki sukma” artinya “masuk ke dalam jiwa”. Penghambaan diri Ayu terhadap takdir. Ia sudah berserah jika kelak nanti ia akan menyatu kembali dengan ayahnya dan ibunya. Itulah daur hidup yang mesti dilalui. [T]

Penulis: Primanindya Dini Maheswari
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini ditulis peserta pelatihan risidensi Menulis Festival yang diselenggarakan tatkala.co bekerjasama dengan Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025
  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Tags: Ayu LaksmiMonologSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Teater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong, Wayang, Janggan dan Jazz yang Membumi di UVJF 2025

Next Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Primanindya Dini Maheswari

Primanindya Dini Maheswari

Berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah yang lahir tahun 2002. Seorang karyawan biasa di salah satu media yang suka makan bakso tanpa kecap dan saos. Identitasnya tergantung dimana ia dikenal. Kadang menjadi voice over talent, kadang MC, kadang Social Media Specialist, kadang traveller, kadang suka hibernasi. Di tengah hiruk pikuk duniawi, ia menuangkan kepalanya yang penuh dengan tulisan. Baginya, menulis menjadi sarana tenang dari riuh.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang  — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang -- Lukisan "Sisa-sisa Pembangunan" dan "Awas Sigap" Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co