4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Son Lomri by Son Lomri
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang  — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

INDONESIA adalah tempat pohon-pohon tumbuh menjadi hutan. Tempat burung ular monyet gajah harimau meliarkan hidupnya. Indonesia pula tempat hidup manusia banyak etnis dan kepercayaan, juga tempat terbentuknya adat istiadat dan kampung-kampung. Ada hutan adat ada desa adat.

Indonesia adalah sungai mengalir banyak ikan tawar berenang.  Laut biru nelayan melaut mencari ikan berenang di kedalaman. Menjaring-memancing ikan-ikan. Ada terumbu karang yang indah di laut biru Indonesia. Orang dalam-luar bisa liburan itu bernama—snorkeling, atau sejenisnya sebagai gaya modern untuk menikmati alam.

Indonesia adalah sawah-sawah dan gunung-gunung. Tepi bukit. Kaki gunung. Tempat mendaki—menanam yang bagus. Gemah Ripah Loh Jinawi—adalah panggilan yang lain untuk Indonesia. Tapi tidak dengan lukisan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa berjudul Awas Sigap (2023), oil on canvas berukuran 145×200 cm, yang saya lihat, Jumat, 25 Juli 2025, yang dipemarkan di Ruang Pameran Paduraksa Undiksha Singaraja.

Pameran bertajuk “Buda Kecapi : Seni dan Penjelajahan Ke Dalam Diri” itu merupakan serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 dengan konteks yang sama, penyembuhan. Pameran itu dilakukan tiga seniman senior, seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa.

Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son

Pada ruang pameran, lukisan Polenk yang berjudul Awas Sigap itu ditempel di dinding dengan posisi lsedemikian rupa agar menyesuaikan dengan tinggi si pelihat, seperti sebuah kesengajaan untuk menentukan posisi untuk fokus, tentang definisi visual Indonesia yang chaos akhir-akhir ini.

Lukisan itu dibuat dengan canvas besar dan nyaris tingginya se-saya. Saya merasakan suasana perjalanan melalui pikiran tentang defisini Indonesia.

Menatap pohon tumbang terbakar dengan seekor burung garuda berdiri celingukan di tunggul kayu dengan lendir merah putih di kakinya, terkesan ada ekspresi kebingunan dengan sebuah tanda tanya besar. Apa yang membuat pepohonan hangus terbakar tumbang menjadi arang, menjadikan tanah botak-gersang?

Seketika definisi saya berubah tentang Indonesia. Di mata saya Indonesia adalah kumpulan arang pepohonan yang rebah habis terbakar. Tanah yang gersang. Sungai yang macet. Laut biru yang menggigil. Kampung-kampung yang terusik. Hutan adat yang terusik. Desa adat yang terusik. Yang menggaris merahkan Indonesia pada ranah sulit hidup yang tinggi, sebagai tempat monyet ular harimau—manusia bingung dan menangis.

Tentang ruang hidup yang semakin mengecil di darat, baik bagi hewan-hewan atau manusia, Indonesia tak gubahnya menjadi laut kesedihan yang lebih asin dari rasa laut yang sebenarnya.

Kemudian pada karya Polenk Rediasa yang kedua berjudul Sisa-sisa Pembangunan (2023), oil on canvas ukuran 100×120 cm itu, seperti petunjuk yang bisa mengantarkan si pengunjung untuk tahu, apa yang membuat tanah menjadi botak gersang. Untuk tahu bahwa semua itu adalah pembangunan.

Lukisan “Awas Sigap” karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son

Polenk mengumpulkan patahan kayu yang sudah jadi arang dengan lelehan asap terkena hujan, yang mencair seperti nanah pada lukisan Sia-sia Pembangunan. Secara gamblang, di mana kondisi mengerikan itu di canvas, menggambarkan kondisi Kalimantan Timur pasca Ibu Kota Nusantara (IKN) berdiri megah.

Gedung seperti istana itu, dalam hal ini gedung IKN, dihadirkan Polenk, memudahkan pengunjung menebak-nebak tentang lukisannya tentang-seperti apa. Polenk melalui simbol IKN dan pohon terbakar menjadi arang itu, seakan menarik kembali peristiwa apa yang membuat pembangunan IKN bisa berdiri dan dipaksa diterima.

Mari kita tengok hasil penelitian Yayasan Aurigia Nusantara yang dimuat Mongabay.co.id. Di situ disebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan jadi leak Indonesia yang menakutkan. Ada 6,1 juta hektar lahan terbakar di Indonesia selama kurun waktu 2013-2023.

Sebanyak 55% terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Kemudian meningkat 10 juta hektar jika dihitung kebakarang di areal yang sama. Titik kebakaran di lokasi baru saja sudah luasnya 3,7 hektar, dan ada 3,3 juta hektar lahan terbakar berulang kali, perkiraan dari dua sampai sebelas kali.

Dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat catatan bahwa kebakaran disebabkan oleh musim yang buruk dari kemarau panjang atau fenomena El Nino. Sehingga harus dicegah bersama-sama. Harus hati-hati pada musim yang buruk. Atau…

Tapi kondisi kebakaran itu seperti sebuah sirine tentang pembukaan lahan yang serampangan oleh musim, yang dimanfaatkan sebagian pihak kreatif untuk ditanami tumbuhan baru—sebagai sumber ketahanan pangan, misalnya. Atau beton-beton.

Tapi, dari hasil apa Mega Proyek Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur itu terbangun megah berdiri, adalah hasil dari penebangan (deforestasi)—seperti imajinasi Polenk pada dua lukisannya tadi; ada pohon habis terbakar menjadi arang, ada tunggul pohon habis ditebang.

Hasil reportase  fwi.or.id menunjukkan bahwa selama tiga tahun, yaitu dari 2018-2021, pembabatan hutan terjadi mencapai 18 ribu hektare di wilayah IKN, mencakup deforestasi sebanyak 14,01 ribu hektare di hutan produksi, 3,14 ribu hektare di Area Pegunungan Lain. Sisanya 807 hektare di Tahura, 9 hektare di hutan lindung, 15 hektare di area lainnya. Adalah kondisi yang mengerikan, dan secara terpaksa IKN mesti diterima. Dan Polenk melalui dua lukisannya itu mengajak semua orang bangkit. Mengajak semua orang mengambil lagi apa yang masih tersisa.

Tapi, tentu, dengan pembabatan hutan seluas itu, bisa dibayangkan ke mana masyarakat adat dan hewan-hewan di sekitarnya atau di dalam hutan itu melangsungkan hidup?

Dari burung garuda di lukisan Awas Sigap 145×200 cm itu sedikitnya menjawab: bingung. Bukan bangkit. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Pameran Seni RupaPolenk RediasaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Next Post

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co