25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Son Lomri by Son Lomri
August 6, 2025
in Ulas Rupa
Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang  — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

INDONESIA adalah tempat pohon-pohon tumbuh menjadi hutan. Tempat burung ular monyet gajah harimau meliarkan hidupnya. Indonesia pula tempat hidup manusia banyak etnis dan kepercayaan, juga tempat terbentuknya adat istiadat dan kampung-kampung. Ada hutan adat ada desa adat.

Indonesia adalah sungai mengalir banyak ikan tawar berenang.  Laut biru nelayan melaut mencari ikan berenang di kedalaman. Menjaring-memancing ikan-ikan. Ada terumbu karang yang indah di laut biru Indonesia. Orang dalam-luar bisa liburan itu bernama—snorkeling, atau sejenisnya sebagai gaya modern untuk menikmati alam.

Indonesia adalah sawah-sawah dan gunung-gunung. Tepi bukit. Kaki gunung. Tempat mendaki—menanam yang bagus. Gemah Ripah Loh Jinawi—adalah panggilan yang lain untuk Indonesia. Tapi tidak dengan lukisan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa berjudul Awas Sigap (2023), oil on canvas berukuran 145×200 cm, yang saya lihat, Jumat, 25 Juli 2025, yang dipemarkan di Ruang Pameran Paduraksa Undiksha Singaraja.

Pameran bertajuk “Buda Kecapi : Seni dan Penjelajahan Ke Dalam Diri” itu merupakan serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 dengan konteks yang sama, penyembuhan. Pameran itu dilakukan tiga seniman senior, seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa.

Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son

Pada ruang pameran, lukisan Polenk yang berjudul Awas Sigap itu ditempel di dinding dengan posisi lsedemikian rupa agar menyesuaikan dengan tinggi si pelihat, seperti sebuah kesengajaan untuk menentukan posisi untuk fokus, tentang definisi visual Indonesia yang chaos akhir-akhir ini.

Lukisan itu dibuat dengan canvas besar dan nyaris tingginya se-saya. Saya merasakan suasana perjalanan melalui pikiran tentang defisini Indonesia.

Menatap pohon tumbang terbakar dengan seekor burung garuda berdiri celingukan di tunggul kayu dengan lendir merah putih di kakinya, terkesan ada ekspresi kebingunan dengan sebuah tanda tanya besar. Apa yang membuat pepohonan hangus terbakar tumbang menjadi arang, menjadikan tanah botak-gersang?

Seketika definisi saya berubah tentang Indonesia. Di mata saya Indonesia adalah kumpulan arang pepohonan yang rebah habis terbakar. Tanah yang gersang. Sungai yang macet. Laut biru yang menggigil. Kampung-kampung yang terusik. Hutan adat yang terusik. Desa adat yang terusik. Yang menggaris merahkan Indonesia pada ranah sulit hidup yang tinggi, sebagai tempat monyet ular harimau—manusia bingung dan menangis.

Tentang ruang hidup yang semakin mengecil di darat, baik bagi hewan-hewan atau manusia, Indonesia tak gubahnya menjadi laut kesedihan yang lebih asin dari rasa laut yang sebenarnya.

Kemudian pada karya Polenk Rediasa yang kedua berjudul Sisa-sisa Pembangunan (2023), oil on canvas ukuran 100×120 cm itu, seperti petunjuk yang bisa mengantarkan si pengunjung untuk tahu, apa yang membuat tanah menjadi botak gersang. Untuk tahu bahwa semua itu adalah pembangunan.

Lukisan “Awas Sigap” karya Polenk Rediasa | Foto: tatkala.co/Son

Polenk mengumpulkan patahan kayu yang sudah jadi arang dengan lelehan asap terkena hujan, yang mencair seperti nanah pada lukisan Sia-sia Pembangunan. Secara gamblang, di mana kondisi mengerikan itu di canvas, menggambarkan kondisi Kalimantan Timur pasca Ibu Kota Nusantara (IKN) berdiri megah.

Gedung seperti istana itu, dalam hal ini gedung IKN, dihadirkan Polenk, memudahkan pengunjung menebak-nebak tentang lukisannya tentang-seperti apa. Polenk melalui simbol IKN dan pohon terbakar menjadi arang itu, seakan menarik kembali peristiwa apa yang membuat pembangunan IKN bisa berdiri dan dipaksa diterima.

Mari kita tengok hasil penelitian Yayasan Aurigia Nusantara yang dimuat Mongabay.co.id. Di situ disebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan jadi leak Indonesia yang menakutkan. Ada 6,1 juta hektar lahan terbakar di Indonesia selama kurun waktu 2013-2023.

Sebanyak 55% terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Kemudian meningkat 10 juta hektar jika dihitung kebakarang di areal yang sama. Titik kebakaran di lokasi baru saja sudah luasnya 3,7 hektar, dan ada 3,3 juta hektar lahan terbakar berulang kali, perkiraan dari dua sampai sebelas kali.

Dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat catatan bahwa kebakaran disebabkan oleh musim yang buruk dari kemarau panjang atau fenomena El Nino. Sehingga harus dicegah bersama-sama. Harus hati-hati pada musim yang buruk. Atau…

Tapi kondisi kebakaran itu seperti sebuah sirine tentang pembukaan lahan yang serampangan oleh musim, yang dimanfaatkan sebagian pihak kreatif untuk ditanami tumbuhan baru—sebagai sumber ketahanan pangan, misalnya. Atau beton-beton.

Tapi, dari hasil apa Mega Proyek Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur itu terbangun megah berdiri, adalah hasil dari penebangan (deforestasi)—seperti imajinasi Polenk pada dua lukisannya tadi; ada pohon habis terbakar menjadi arang, ada tunggul pohon habis ditebang.

Hasil reportase  fwi.or.id menunjukkan bahwa selama tiga tahun, yaitu dari 2018-2021, pembabatan hutan terjadi mencapai 18 ribu hektare di wilayah IKN, mencakup deforestasi sebanyak 14,01 ribu hektare di hutan produksi, 3,14 ribu hektare di Area Pegunungan Lain. Sisanya 807 hektare di Tahura, 9 hektare di hutan lindung, 15 hektare di area lainnya. Adalah kondisi yang mengerikan, dan secara terpaksa IKN mesti diterima. Dan Polenk melalui dua lukisannya itu mengajak semua orang bangkit. Mengajak semua orang mengambil lagi apa yang masih tersisa.

Tapi, tentu, dengan pembabatan hutan seluas itu, bisa dibayangkan ke mana masyarakat adat dan hewan-hewan di sekitarnya atau di dalam hutan itu melangsungkan hidup?

Dari burung garuda di lukisan Awas Sigap 145×200 cm itu sedikitnya menjawab: bingung. Bukan bangkit. [T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Pameran Seni RupaPolenk RediasaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Next Post

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co