24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 6, 2025
in Esai
“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Ilustrasi tatkala.co | Gambar patung difoto dari pameran mahasiswa di Undiksha Singaraja

Kawan yang baik,

Setelah ngobrol tentang gerakan “avant-garde” dalam seni, baiklah kita lanjutkan dengan topik jadul yang tak habis-habis diperdebatkan, yakni pertentangan antara “seni untuk seni” versus “seni untuk masyarakat”, antara estetika ekspresivistik dan formalis vis a vis estetika sosial (istik).

Dalam bentuknya yang ekstrem, dari sudut pandang lensa sebelah “kiri”, semboyan “seni untuk seni” dapat dilihat sebagai manifestasi pembusukan budaya kapitalisme lanjut di mana kaum seniman “borjuis” tidak berdaya menghadapi kemerosotan dan bahkan kekosongan seni dari tujuan-tujuan kolektif.

Kaum ekspresivis atau seniman penganut “avant-garde pemurnian” dianggap telah melenyapkan aspek fungsional dan sosial seni lalu menggunakan seni tersebut sebagai jalan realisasi diri sekaligus wahana pembebasan individu dari segala daya impersonal yang mengungkung. Atau seni semata-mata sebagai wahana mencipta kenyataan “subjektif”yang unik dan “tak terjelaskan” sekaligus sebagai medan penciptaan untuk mengejar penemuan-penemuan estetika baru.

Maka diperlukan alternatif dari kehampaan seni semacam itu. Dan upaya yang paling masuk akal adalah dengan mendorong seni sebagai wahana mencipta, mereproduksi dan jika perlu mengubah “kenyataan” sebagaimana dulu pernah digelorakan oleh kaum “avant-garde sosial-heroik” pada pertengahan abad ke-19.

Agar seni memiliki kekuatan semacam itu, maka ia harus mampu menjangkau khalayak seluas-luasnya sekaligus dapat memberi pendasaran evaluatif terhadap kehidupan sosial.

Sebagian orang mengatakan bahwa jalan buntu akibat benturan, pertentangan dan bahkan antagonisme antara seni sebagai pemenuhan tujuan-tujuan individual, antara “kebenaran” seni pada dirinya sendiri versus “kebenaran” nilai-nilai sosial, pada titik tertentu adalah cerminan dari simptom dan bahkan krisis dalam kebudayaan modern.

Ketika orang memilih berdiri pada satu posisi, semakin lama ia akan merasa “termutilasi” karena sungguh muskil menenggelamkan diri secara penuh dalam posisi tersebut.

Jika dikatakan bahwa kaum seniman dalam masyarakat modern ternyata hanya dapat memainkan peran marjinal, hal itu tidak berarti bahwa seni modern secara intrinsik cacat. Sebliknya jika dikatakan bahwa kaum “kanan”, misalnya kaum “formalis” maupun “abstrak-ekspresionis”, telah terjebak dalam lingkaran estetik yang kosong dan tanpa tujuan, hal itu tidak berarti bahwa masyarakat modern telah benar-benar memisahkan seni dari tujuan-tujuan di luarnya.

Pun jika dikatakan bahwa kaum “kiri” yang berbasis pada nilai sosial telah berupaya keras melenyapkan atau meminimalisir otonomi (ilusif) yang diyakini sebagai wahana kebebasan sekaligus upaya realisasi diri yang otentik, itu bukan berarti seni yang dihasilkannya telah menghapuskan secara total keberadaan individu.

Kawan yang baik,

Sampai di sini, mau tak mau kita harus mengusut kembali akar masalahnya, yakni kian merosotnya kepercayaan individu terhadap nilai-nilai modern itu sendiri. Kandati kaum “kiri” percaya bahwa pencapaian tertinggi suatu seni hanya dapat terwujud melalui nilai-nilai kemasyarakatan, tapi celakanya justru kehidupan modern itu sendirilah yang justru telah melenyapkan dasar-dasar kepercayaan atas nilai-nilai dimaksud.

Individualisme maupun kolektivisme (radikal) dalam bentuk apapun ternyata tidak sepenuhnya dapat merestorasi kepercayaan terhadap nilai-nilai dasar yang melekat pada dirinya. Individualisme tidak dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menolak komunalitas secara total, dan sebaliknya kolektivisme tidak sepenuhnya kebal terhadap gejala eksklusi personal berikut utopia ekspresi “murni” swa-acu yang lahir dari eksklusi tersebut, termasuk gugatan tanpa akhir terhadap materialisme maupun daya-daya impersonal yang mengepungnya.

Daniel Bell, Sosiolog Amerika tahun 1960-an pernah megatakan bahwa internalisasi nilai-nilai atau sebaliknya gerakan “anti-nilai”, apapun modus operandinya, ternyata tidak mewujud dalam unit-unit masyarakat, kelompok, komunitas, serikat, suku, atau bahkan kota, namun terjadi pada orang per orang, pribadi ke pribadi, jiwa ke jiwa.

Apa boleh buat. Kepekaan artistik individual yang sangat khusus itu harus dilhat dalam kaitan imbal-balik dengan kepekaan sosial yang bersifat umum.

Dulu pada zaman Yunani Klasik maupun dalam seni tradisional di Nuasantara orang yakin bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai wahana menyampaikan ajaran moral sehingga terbangun tata sosial yang lebih baik. Seni tak hanya dilihat sebagai fenomena artistik belaka dan kualitasnya tidak melulu diukur berdasarkan kaidah-kaidah estetik khusus tapi juga harus dapat dievaluasi secara sosial.

Seni yang baik adalah seni yang berguna. Dan sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya bahwa di Eropa kemudian muncul “avant-garde pemurnian” (romantik) yang berhasrat melepaskan praksis seni dari variabel-variabel di luarnya, termasuk tuntutan seni sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna.

Karya seni yang baik adalah karya yang indah dalam kerangka pemahaman “tanpa pamrih” (disinterested). (Mengutip Immanuel Kant, hanya dengan status dan posisi “disinterested” itulah seni dapat menjadi “rasional”).

Sekali lagi, sebagai bagian dari kritik diri terhadap modernitas, seni harus dipisahkan dari segala daya impersonal apapun sehingga menjadi bidang kerja yang sepenuhnya otonom. Sementara di kutub seberangnya terdapat kaum “realis” yang hendak mempertahankan nilai seni berdasarkan kegunaan sosialnya. Ya, seni tidak dapat dipisahkan dari kenyataan sosial karena hanya dengan begitu ia akan beroleh kepenuhan artistiknya.

Sebagai jalan tengah dari ketegangan dan bahkan pertentangan dua kutub itu, dulu orang kembali pada pertanyaan kuno lainnya: seberapa jauh manusia dapat menciptakan wahana atau cara menyeimbangkan dorongan subjektif dan hasrat kebebasan individu dengan tuntutan moralitas kemasyarakatan.

Membayangkan estetika yang berpangkal sekaligus bermuara pada hasrat maupun tujuan eksklusi diri individual secara total sama mustahilnya dengan memimpikan estetika yang meniadakan relasi seni dengan masyarakat maupun estetika yang sepenuhnya melayani tujuan-tujuan di luarnya.

Faktanya, totalisme semacam itu tidak pernah ada. Jikalaupun “di-ada-adakan”, ia tidak akan terjadi secara permanen. Mustahil membayangkan totalisme yang sempurna. Sekecil apapun akan terbuka kemungkinan terjadinya osmosis, percampuran, persilangan atau interseksi pada dimensi-dimensi tertentu.

Begitulah, kawan.

Baiklah kita berputar lagi. Dulu, pada umumnya, makna “keindahan” dalam seni dianggap hanya dapat diukur berdasarkan kaidah-kaidah khusus yang berlaku dalam dunia seni itu sendiri. Proses penciptaan karya yang dilakukan seniman biasanya merujuk pada pengalaman estetik yang bersifat personal dan sering dikaitkan dengan “ilham” yang diperoleh sang seniman pencipta sebagai individu genius.

Sedangkan hubungan antara karya dengan pemirsanya sebagai proses resepsi, juga berada dalam kerangka kekhususan kaidah yang berpusat pada sumber keindahan yang dipancarkan karya. Sang pemirsa adalah pihak luar yang hendak menyelami keindahan karya sebagai wilayah yang nyaris tak terjangkau. Penonton seni adalah orang dari luar pagar yang hendak mengutil atau mengutip secuil makna dari karya yang diselubungi aura artistik yang khusus itu.

Dari proses resepsi semacam itu akan muncul pengalaman estetis melalui proses pencerapan yang dibayangkan tanpa pamrih sehingga penyerapan karya seni hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kualitas khusus dengan standar pengetahuan yang melebihi kemampuan orang biasa. Walah, walah. Seni akhirnya akan menjadi urusan kaum “elite” saja.

Tapi, kita juga dapat membayangkan bahwa praksis seni tidak melulu dipahami dalam konteks pengalaman khusus, melainkan sebagai bagian dari inter-relasi individu dalam hubungan-hubungan sosial sehingga kemungkinan pemaknaannya pun akan tergantung pada lingkungan tempat seni tersebut diproduksi dan disebar luaskan. Karya seni berikut moda penciptaannya hanyalah bagian dari konstelasi atau hubungan-hubungan sosio-kultural pembentuknya.

Hubungan antara wilayah penciptaan khusus dengan daya-daya pembentuknya boleh jadi juga berlangsung secara dialektik sehingga setiap wahana artistik adalah hasil dari perkembangan sejarah sosial maupun sejarah estetik pembentuknya. Jika dilihat dengan cara seperti itu maka tidak tampak lagi dikotomi atau bahkan pertentangan antara “bentuk” dan “isi”.

Artinya, seni yang bermutu secara estetik dengan sendirinya akan mengandung dimensi-dimensi sosial yang juga bermutu. Bahkan bisa mengandung aspek emansipatoris tertentu. Atau, seni dengan kualitas estetik individul yang bermutu akan mengandung dimensi nilai dan pemaknaan individual yang bermutu pula.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu dicatat adalah terjadinya pergeseran proses pemaknaan seni akibat perkembangan ilmu dan teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi telah memungkinkan produksi dan reproduksi seni secara mekanis. Teknologi telah medesakralisasi proses penciptaan karya yang semula diselubungi aura misterius yang seolah-olah tak terjangkau oleh orang biasa.

Pada dekade 1930, pemikir kebudayaan Walter Benjamin mengemukakan bahwa hilangnya aura seni tersebut justru akan memperluas akses bagi masyarakat terhadap pengalaman estetik sekaligus terjadinya perluasan distribusi seni itu sendiri. Demistifikasi benda seni telah menghapus status elitisnya sehingga proses penciptaannya dapat disetarakan dengan proses produksi benda-benda lain.

Bidang kerja seniman sama belaka dengan pekerjaan di bidang-bidang lain yang sama-sama membutuhkan keahlian khusus. Status karya seni tidak melulu bertumpu pada singularitas dan kesubliman artistik, melainkan pada sistem distribusi kerja yang memungkinkan produksi benda tersebut terjadi.

Di sinilah kita dapat menempatkan konteks dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Tentu hal itu berbeda dengan “relativisme” yang sering tampak dalam salah kaprah ungkapan: “Karena relatif, maka seribu kepala akan muncul seribu tafsir . Maka suka-suka gua. Jangan paksa gua punya tafsir yang sama”. Waduh, jika tidak hati-hati, merujuk “relativisme” semacam itu memang bisa runyam. Bisa “salah kadaden”.

Baiklah. Kita bisa melihat nilai dan makna seni dari konteks yang lain lagi. Beberapa pemikir seni dekade 1970 seperti Arthur Danto misalnya, menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai status dan kualitas seni sangat tergantung pada konsensus di dalam “art world” penopangnya seperti jaringan seniman, kurator, pemilik galeri, kritikus, kolektor dan institusi-institusi lainnya. Merekalah yang kemudian memberi legitimasi terhadap karya.

Artinya, nilai dan mutu seni tercipta melalui hubungan-hubungan konsensual yang berlangsung dalam lingkup tertentu untuk memutuskan atau membaptis suatu benda atau peristiwa sebagai karya seni. Apa yang disebut karya seni merupakan hasil akumulasi nilai yang terbentuk di luar karya, yaitu semacam relasi sosial di balik wujud fisiknya. Bahkan sebuah jamban porselin karya Marcel Duchamp dan kotak kardus bekas “Brillo” karya Andy Warhol misalnya, dapat dinobatkan sebagai karya seni selama para pemangku kepentingan di “art world” bersepakat bahwa benda itu mengandung nilai estetik.

Itulah pandangan “institusional” di mana status, nilai dan makna seni ditentukan oleh relasi antar pemangku kepentingan terpenting. Inilah konteks lain dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu kita camkan adalah penjelasan lama tentang seni yang bertumpu pada aspek formal-materialnya sehingga terdapat dikotomi antara “bentuk” dan “isi”, antara aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Namun jika kita memasukkan aspek relasi sosial di balik benda, maka dikotomi antara bentuk dan isi jadi relatif juga. Lantaran karya seni merupakan resultante atau hasil konsensus sosial tentang suatu benda, maka dimensi intrinsik benda tersebut adalah manifestasi dari aspek-aspek ekstrinsiknya. Suatu benda hanya dapat disebut sebagai karya seni selama berada di dalam relasi nilai sosio-kultural masyarakat maupun ekosistem penyangganya.

Tentu, setiap relasi tidak pernah steril dari dimensi-dimensi ideologis maupun interes-interes ekonomi dan sosio-kultural pembentuknya. Oleh karena itu, model evaluasi seni (termasuk penilaian berdasarkan aspek formalnya) perlu dikaitkan dengan matriks-matriks sosial yang melahirkan kaidah estetik yang digunakan.

Jadi, ketika karya seni disepakati sebagai bagian dari sistem relasi sosial, maka makna keindahannya juga sangat tergantung pada konsensus yang membentuk standar estetik di dalam masyarakat itu sendiri.

Akibatnya mutu suatu karya seni akan tergantung pada sejauh mana ia dapat memicu terciptanya nilai-nilai, makna, juga hubungan-hubungan sosial tertentu dan kualitas intrinsiknya pun tergantung pada sejauh mana karya tersebut mampu menghadirkan pengalaman estetik bersama.

Di sini kita juga dapat membayangkan pergeseran posisi seniman sebagai subjek kreator. Sebagaimana telah dikatakan bahwa dulu seorang seniman dipandang sebagai individu genius yang beroleh “ilham” dan dengan segenap kepekaan artistiknya mencipta karya-karya yang diselubungi aura misterius yang unik dan tak tergantikan.

Pada saat yang sama seniman ternyata juga bukan makhluk yang bekerja dalam ruang-ruang penciptaan yang terisolasi secara total, karena memang hal itu tidak mungkin, melainkan berada di kancah tarik-menarik aneka nilai dalam relasi sosial tempatnya berada, termasuk kesadaran untuk menciptakan makna yang bersumber pada akar kultural dalam medan seni itu sendiri.

Meminjam istilah sisiolog Thomas Luckmann dan Peter L Berger dalam bukunya “Sacred canopy”, proses pemaknaan seni di situ dengan sendirinya akan terkait dengan apa yang disebut sebagai “social construction of reality”. Yaitu makna yang terbentuk dari pengetahuan yang hidup dalam sistem kesadaran kolektif sebagai bagian dari konstruksi dan model-model tata sosial yang harus dijalankan dan bagaimana konstruksi-konstruksi tersebut tersusun sehingga melahirkan struktur makna terhadap “kenyataan-kenyataan” sosial yang terintegrasi secara langsung dengan pelaksanaan pengetahuan itu sendiri.

Artinya, seniman dan karya seni yang diciptakan senantiasa mengandung nilai dan makna pada tingkatan proses pemaknaan yang berbeda-beda, tergantung pada aspek formal estetik yang dimiliki. Penyerapan aspek formal seni non-representasional seperti seni “abstrak maupun “abstrak-ekspresionistik” tentu berbeda dengan aspek formal seni representasional. Konteks makna dan nilai seni abstrak niscaya berbeda dengan seni realistik.

Maka, “kanan” adalah “kanan” dan “kiri” adalah “kiri”. Yang satu tidak dapat meniadakan atau menggantikan yang lain, begitu juga sebaliknya. Masing-masing tidak dapat dipertukarkan atau dipertengkarkan.

Demikian, kawan. Salam dari Tawang Alun.

NB:

Ingatlah beberapa anekdot berikut ini:

– Seorang penyair selalu ditanya: “Tuan, untuk apa anda bikin puisi? Apa gunanya puisi?”. Karena jengkel dia menjawab: “Apa gunanya diciptakan kicau burung itu? Ha?”

– Juga ingatlah Jean-Paul Sartre yang pernah mengatakan bahwa seni dapat bicara tentang penderitaan manusia, tapi penderitaan toh akan tetap sebagai penderitaan. Atau Albert Camus yang pernah mengatakan bahwa setiap seniman dikutuk untuk tidak dapat menerima kenyataan, dan karena itu berkarya terus untuk menyempurnakannya.

– Tentu saja, setiap seniman niscaya gagal mencapai karya yang sempurna dan justru karena itu ia terus mencoba, mencipta dan mencipta, ujar Pak William Faulkner.

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: sastraSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co