25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 6, 2025
in Esai
“Kanan” dan “Kiri” dalam Seni

Ilustrasi tatkala.co | Gambar patung difoto dari pameran mahasiswa di Undiksha Singaraja

Kawan yang baik,

Setelah ngobrol tentang gerakan “avant-garde” dalam seni, baiklah kita lanjutkan dengan topik jadul yang tak habis-habis diperdebatkan, yakni pertentangan antara “seni untuk seni” versus “seni untuk masyarakat”, antara estetika ekspresivistik dan formalis vis a vis estetika sosial (istik).

Dalam bentuknya yang ekstrem, dari sudut pandang lensa sebelah “kiri”, semboyan “seni untuk seni” dapat dilihat sebagai manifestasi pembusukan budaya kapitalisme lanjut di mana kaum seniman “borjuis” tidak berdaya menghadapi kemerosotan dan bahkan kekosongan seni dari tujuan-tujuan kolektif.

Kaum ekspresivis atau seniman penganut “avant-garde pemurnian” dianggap telah melenyapkan aspek fungsional dan sosial seni lalu menggunakan seni tersebut sebagai jalan realisasi diri sekaligus wahana pembebasan individu dari segala daya impersonal yang mengungkung. Atau seni semata-mata sebagai wahana mencipta kenyataan “subjektif”yang unik dan “tak terjelaskan” sekaligus sebagai medan penciptaan untuk mengejar penemuan-penemuan estetika baru.

Maka diperlukan alternatif dari kehampaan seni semacam itu. Dan upaya yang paling masuk akal adalah dengan mendorong seni sebagai wahana mencipta, mereproduksi dan jika perlu mengubah “kenyataan” sebagaimana dulu pernah digelorakan oleh kaum “avant-garde sosial-heroik” pada pertengahan abad ke-19.

Agar seni memiliki kekuatan semacam itu, maka ia harus mampu menjangkau khalayak seluas-luasnya sekaligus dapat memberi pendasaran evaluatif terhadap kehidupan sosial.

Sebagian orang mengatakan bahwa jalan buntu akibat benturan, pertentangan dan bahkan antagonisme antara seni sebagai pemenuhan tujuan-tujuan individual, antara “kebenaran” seni pada dirinya sendiri versus “kebenaran” nilai-nilai sosial, pada titik tertentu adalah cerminan dari simptom dan bahkan krisis dalam kebudayaan modern.

Ketika orang memilih berdiri pada satu posisi, semakin lama ia akan merasa “termutilasi” karena sungguh muskil menenggelamkan diri secara penuh dalam posisi tersebut.

Jika dikatakan bahwa kaum seniman dalam masyarakat modern ternyata hanya dapat memainkan peran marjinal, hal itu tidak berarti bahwa seni modern secara intrinsik cacat. Sebliknya jika dikatakan bahwa kaum “kanan”, misalnya kaum “formalis” maupun “abstrak-ekspresionis”, telah terjebak dalam lingkaran estetik yang kosong dan tanpa tujuan, hal itu tidak berarti bahwa masyarakat modern telah benar-benar memisahkan seni dari tujuan-tujuan di luarnya.

Pun jika dikatakan bahwa kaum “kiri” yang berbasis pada nilai sosial telah berupaya keras melenyapkan atau meminimalisir otonomi (ilusif) yang diyakini sebagai wahana kebebasan sekaligus upaya realisasi diri yang otentik, itu bukan berarti seni yang dihasilkannya telah menghapuskan secara total keberadaan individu.

Kawan yang baik,

Sampai di sini, mau tak mau kita harus mengusut kembali akar masalahnya, yakni kian merosotnya kepercayaan individu terhadap nilai-nilai modern itu sendiri. Kandati kaum “kiri” percaya bahwa pencapaian tertinggi suatu seni hanya dapat terwujud melalui nilai-nilai kemasyarakatan, tapi celakanya justru kehidupan modern itu sendirilah yang justru telah melenyapkan dasar-dasar kepercayaan atas nilai-nilai dimaksud.

Individualisme maupun kolektivisme (radikal) dalam bentuk apapun ternyata tidak sepenuhnya dapat merestorasi kepercayaan terhadap nilai-nilai dasar yang melekat pada dirinya. Individualisme tidak dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menolak komunalitas secara total, dan sebaliknya kolektivisme tidak sepenuhnya kebal terhadap gejala eksklusi personal berikut utopia ekspresi “murni” swa-acu yang lahir dari eksklusi tersebut, termasuk gugatan tanpa akhir terhadap materialisme maupun daya-daya impersonal yang mengepungnya.

Daniel Bell, Sosiolog Amerika tahun 1960-an pernah megatakan bahwa internalisasi nilai-nilai atau sebaliknya gerakan “anti-nilai”, apapun modus operandinya, ternyata tidak mewujud dalam unit-unit masyarakat, kelompok, komunitas, serikat, suku, atau bahkan kota, namun terjadi pada orang per orang, pribadi ke pribadi, jiwa ke jiwa.

Apa boleh buat. Kepekaan artistik individual yang sangat khusus itu harus dilhat dalam kaitan imbal-balik dengan kepekaan sosial yang bersifat umum.

Dulu pada zaman Yunani Klasik maupun dalam seni tradisional di Nuasantara orang yakin bahwa salah satu fungsi seni adalah sebagai wahana menyampaikan ajaran moral sehingga terbangun tata sosial yang lebih baik. Seni tak hanya dilihat sebagai fenomena artistik belaka dan kualitasnya tidak melulu diukur berdasarkan kaidah-kaidah estetik khusus tapi juga harus dapat dievaluasi secara sosial.

Seni yang baik adalah seni yang berguna. Dan sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya bahwa di Eropa kemudian muncul “avant-garde pemurnian” (romantik) yang berhasrat melepaskan praksis seni dari variabel-variabel di luarnya, termasuk tuntutan seni sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna.

Karya seni yang baik adalah karya yang indah dalam kerangka pemahaman “tanpa pamrih” (disinterested). (Mengutip Immanuel Kant, hanya dengan status dan posisi “disinterested” itulah seni dapat menjadi “rasional”).

Sekali lagi, sebagai bagian dari kritik diri terhadap modernitas, seni harus dipisahkan dari segala daya impersonal apapun sehingga menjadi bidang kerja yang sepenuhnya otonom. Sementara di kutub seberangnya terdapat kaum “realis” yang hendak mempertahankan nilai seni berdasarkan kegunaan sosialnya. Ya, seni tidak dapat dipisahkan dari kenyataan sosial karena hanya dengan begitu ia akan beroleh kepenuhan artistiknya.

Sebagai jalan tengah dari ketegangan dan bahkan pertentangan dua kutub itu, dulu orang kembali pada pertanyaan kuno lainnya: seberapa jauh manusia dapat menciptakan wahana atau cara menyeimbangkan dorongan subjektif dan hasrat kebebasan individu dengan tuntutan moralitas kemasyarakatan.

Membayangkan estetika yang berpangkal sekaligus bermuara pada hasrat maupun tujuan eksklusi diri individual secara total sama mustahilnya dengan memimpikan estetika yang meniadakan relasi seni dengan masyarakat maupun estetika yang sepenuhnya melayani tujuan-tujuan di luarnya.

Faktanya, totalisme semacam itu tidak pernah ada. Jikalaupun “di-ada-adakan”, ia tidak akan terjadi secara permanen. Mustahil membayangkan totalisme yang sempurna. Sekecil apapun akan terbuka kemungkinan terjadinya osmosis, percampuran, persilangan atau interseksi pada dimensi-dimensi tertentu.

Begitulah, kawan.

Baiklah kita berputar lagi. Dulu, pada umumnya, makna “keindahan” dalam seni dianggap hanya dapat diukur berdasarkan kaidah-kaidah khusus yang berlaku dalam dunia seni itu sendiri. Proses penciptaan karya yang dilakukan seniman biasanya merujuk pada pengalaman estetik yang bersifat personal dan sering dikaitkan dengan “ilham” yang diperoleh sang seniman pencipta sebagai individu genius.

Sedangkan hubungan antara karya dengan pemirsanya sebagai proses resepsi, juga berada dalam kerangka kekhususan kaidah yang berpusat pada sumber keindahan yang dipancarkan karya. Sang pemirsa adalah pihak luar yang hendak menyelami keindahan karya sebagai wilayah yang nyaris tak terjangkau. Penonton seni adalah orang dari luar pagar yang hendak mengutil atau mengutip secuil makna dari karya yang diselubungi aura artistik yang khusus itu.

Dari proses resepsi semacam itu akan muncul pengalaman estetis melalui proses pencerapan yang dibayangkan tanpa pamrih sehingga penyerapan karya seni hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kualitas khusus dengan standar pengetahuan yang melebihi kemampuan orang biasa. Walah, walah. Seni akhirnya akan menjadi urusan kaum “elite” saja.

Tapi, kita juga dapat membayangkan bahwa praksis seni tidak melulu dipahami dalam konteks pengalaman khusus, melainkan sebagai bagian dari inter-relasi individu dalam hubungan-hubungan sosial sehingga kemungkinan pemaknaannya pun akan tergantung pada lingkungan tempat seni tersebut diproduksi dan disebar luaskan. Karya seni berikut moda penciptaannya hanyalah bagian dari konstelasi atau hubungan-hubungan sosio-kultural pembentuknya.

Hubungan antara wilayah penciptaan khusus dengan daya-daya pembentuknya boleh jadi juga berlangsung secara dialektik sehingga setiap wahana artistik adalah hasil dari perkembangan sejarah sosial maupun sejarah estetik pembentuknya. Jika dilihat dengan cara seperti itu maka tidak tampak lagi dikotomi atau bahkan pertentangan antara “bentuk” dan “isi”.

Artinya, seni yang bermutu secara estetik dengan sendirinya akan mengandung dimensi-dimensi sosial yang juga bermutu. Bahkan bisa mengandung aspek emansipatoris tertentu. Atau, seni dengan kualitas estetik individul yang bermutu akan mengandung dimensi nilai dan pemaknaan individual yang bermutu pula.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu dicatat adalah terjadinya pergeseran proses pemaknaan seni akibat perkembangan ilmu dan teknologi. Pesatnya kemajuan teknologi telah memungkinkan produksi dan reproduksi seni secara mekanis. Teknologi telah medesakralisasi proses penciptaan karya yang semula diselubungi aura misterius yang seolah-olah tak terjangkau oleh orang biasa.

Pada dekade 1930, pemikir kebudayaan Walter Benjamin mengemukakan bahwa hilangnya aura seni tersebut justru akan memperluas akses bagi masyarakat terhadap pengalaman estetik sekaligus terjadinya perluasan distribusi seni itu sendiri. Demistifikasi benda seni telah menghapus status elitisnya sehingga proses penciptaannya dapat disetarakan dengan proses produksi benda-benda lain.

Bidang kerja seniman sama belaka dengan pekerjaan di bidang-bidang lain yang sama-sama membutuhkan keahlian khusus. Status karya seni tidak melulu bertumpu pada singularitas dan kesubliman artistik, melainkan pada sistem distribusi kerja yang memungkinkan produksi benda tersebut terjadi.

Di sinilah kita dapat menempatkan konteks dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Tentu hal itu berbeda dengan “relativisme” yang sering tampak dalam salah kaprah ungkapan: “Karena relatif, maka seribu kepala akan muncul seribu tafsir . Maka suka-suka gua. Jangan paksa gua punya tafsir yang sama”. Waduh, jika tidak hati-hati, merujuk “relativisme” semacam itu memang bisa runyam. Bisa “salah kadaden”.

Baiklah. Kita bisa melihat nilai dan makna seni dari konteks yang lain lagi. Beberapa pemikir seni dekade 1970 seperti Arthur Danto misalnya, menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai status dan kualitas seni sangat tergantung pada konsensus di dalam “art world” penopangnya seperti jaringan seniman, kurator, pemilik galeri, kritikus, kolektor dan institusi-institusi lainnya. Merekalah yang kemudian memberi legitimasi terhadap karya.

Artinya, nilai dan mutu seni tercipta melalui hubungan-hubungan konsensual yang berlangsung dalam lingkup tertentu untuk memutuskan atau membaptis suatu benda atau peristiwa sebagai karya seni. Apa yang disebut karya seni merupakan hasil akumulasi nilai yang terbentuk di luar karya, yaitu semacam relasi sosial di balik wujud fisiknya. Bahkan sebuah jamban porselin karya Marcel Duchamp dan kotak kardus bekas “Brillo” karya Andy Warhol misalnya, dapat dinobatkan sebagai karya seni selama para pemangku kepentingan di “art world” bersepakat bahwa benda itu mengandung nilai estetik.

Itulah pandangan “institusional” di mana status, nilai dan makna seni ditentukan oleh relasi antar pemangku kepentingan terpenting. Inilah konteks lain dari ungkapan: “Keindahan karya seni adalah relatif”.

Kawan yang baik,

Hal lain yang perlu kita camkan adalah penjelasan lama tentang seni yang bertumpu pada aspek formal-materialnya sehingga terdapat dikotomi antara “bentuk” dan “isi”, antara aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Namun jika kita memasukkan aspek relasi sosial di balik benda, maka dikotomi antara bentuk dan isi jadi relatif juga. Lantaran karya seni merupakan resultante atau hasil konsensus sosial tentang suatu benda, maka dimensi intrinsik benda tersebut adalah manifestasi dari aspek-aspek ekstrinsiknya. Suatu benda hanya dapat disebut sebagai karya seni selama berada di dalam relasi nilai sosio-kultural masyarakat maupun ekosistem penyangganya.

Tentu, setiap relasi tidak pernah steril dari dimensi-dimensi ideologis maupun interes-interes ekonomi dan sosio-kultural pembentuknya. Oleh karena itu, model evaluasi seni (termasuk penilaian berdasarkan aspek formalnya) perlu dikaitkan dengan matriks-matriks sosial yang melahirkan kaidah estetik yang digunakan.

Jadi, ketika karya seni disepakati sebagai bagian dari sistem relasi sosial, maka makna keindahannya juga sangat tergantung pada konsensus yang membentuk standar estetik di dalam masyarakat itu sendiri.

Akibatnya mutu suatu karya seni akan tergantung pada sejauh mana ia dapat memicu terciptanya nilai-nilai, makna, juga hubungan-hubungan sosial tertentu dan kualitas intrinsiknya pun tergantung pada sejauh mana karya tersebut mampu menghadirkan pengalaman estetik bersama.

Di sini kita juga dapat membayangkan pergeseran posisi seniman sebagai subjek kreator. Sebagaimana telah dikatakan bahwa dulu seorang seniman dipandang sebagai individu genius yang beroleh “ilham” dan dengan segenap kepekaan artistiknya mencipta karya-karya yang diselubungi aura misterius yang unik dan tak tergantikan.

Pada saat yang sama seniman ternyata juga bukan makhluk yang bekerja dalam ruang-ruang penciptaan yang terisolasi secara total, karena memang hal itu tidak mungkin, melainkan berada di kancah tarik-menarik aneka nilai dalam relasi sosial tempatnya berada, termasuk kesadaran untuk menciptakan makna yang bersumber pada akar kultural dalam medan seni itu sendiri.

Meminjam istilah sisiolog Thomas Luckmann dan Peter L Berger dalam bukunya “Sacred canopy”, proses pemaknaan seni di situ dengan sendirinya akan terkait dengan apa yang disebut sebagai “social construction of reality”. Yaitu makna yang terbentuk dari pengetahuan yang hidup dalam sistem kesadaran kolektif sebagai bagian dari konstruksi dan model-model tata sosial yang harus dijalankan dan bagaimana konstruksi-konstruksi tersebut tersusun sehingga melahirkan struktur makna terhadap “kenyataan-kenyataan” sosial yang terintegrasi secara langsung dengan pelaksanaan pengetahuan itu sendiri.

Artinya, seniman dan karya seni yang diciptakan senantiasa mengandung nilai dan makna pada tingkatan proses pemaknaan yang berbeda-beda, tergantung pada aspek formal estetik yang dimiliki. Penyerapan aspek formal seni non-representasional seperti seni “abstrak maupun “abstrak-ekspresionistik” tentu berbeda dengan aspek formal seni representasional. Konteks makna dan nilai seni abstrak niscaya berbeda dengan seni realistik.

Maka, “kanan” adalah “kanan” dan “kiri” adalah “kiri”. Yang satu tidak dapat meniadakan atau menggantikan yang lain, begitu juga sebaliknya. Masing-masing tidak dapat dipertukarkan atau dipertengkarkan.

Demikian, kawan. Salam dari Tawang Alun.

NB:

Ingatlah beberapa anekdot berikut ini:

– Seorang penyair selalu ditanya: “Tuan, untuk apa anda bikin puisi? Apa gunanya puisi?”. Karena jengkel dia menjawab: “Apa gunanya diciptakan kicau burung itu? Ha?”

– Juga ingatlah Jean-Paul Sartre yang pernah mengatakan bahwa seni dapat bicara tentang penderitaan manusia, tapi penderitaan toh akan tetap sebagai penderitaan. Atau Albert Camus yang pernah mengatakan bahwa setiap seniman dikutuk untuk tidak dapat menerima kenyataan, dan karena itu berkarya terus untuk menyempurnakannya.

– Tentu saja, setiap seniman niscaya gagal mencapai karya yang sempurna dan justru karena itu ia terus mencoba, mencipta dan mencipta, ujar Pak William Faulkner.

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair
Tags: sastraSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Bupati Nyoman Sutjidra Pertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co