29 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Jaswanto by Jaswanto
August 2, 2025
in Ulas Pentas
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan "Torso" di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

BERBUSANA merah bak si Manis Jembatan Ancol, di dalam garis lingkaran putih yang membatasinya, perempuan itu menari dengan lambat, kaku, patah-patah, tersendat-sendat (ngeglitch), tapi terpola. Ia hanya menggerakkan bagian tengah tubuh (torso) dan tangannya saja, seperti robot. Sementara ia terus mengulang gerakan itu sambil mengeksplor panggung, musik pengiring terdengar meriah. Ada suara gamelan yang samar, ada suara musik entah apa lagi, dan suara-suara lainnya dengan tempo yang cepat (nge-beat) dan semarak.

Pada pertengahan pertunjukan, tarian perempuan itu perlahan berubah menjadi cepat, seperti lepas kendali. Sesekali ia menunjukkan gerak tari tradisi yang halus dan penuh nilai-nilai kesopan-santunan, tapi tak jarang pula ia menari dengan liar, rambut terurai, erotis dan menggoda.

Menjelang akhir pertunjukan, perempuan itu merusak lingkaran putih yang ada di panggung. Serbuk berwarna putih tersebut ia sibak-sibakkan ke segala arah. Dengan tempo musik yang cepat, perempuan itu bergerak dengan energik sambil menghambur-hamburkan lingkaran tepung itu. Ia terus menari ke sana-kemari laiknya kerasukan atau trance. Lalu ia meratap dan berguling-guling di atas tepung yang berserak.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Di atas adalah gambaran singkat dari pertunjukan tari kontemporer bertajuk Torso yang dipertunjukkan dalam rangkaian Singaraja Literary Festival pada Jumat (25/7/2025) malam di panggung terbuka di depan Museum Buleleng. Repertoar yang berdurasi 40 menit ini merupakan karya baru dari koreografer Ayu Permata Sari yang sekaligus menarikannya. Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama, seperti Soemantri Gelar (seniman visual), Edythia Rio (komposer), Nia Agustina (dramaturg), Nabilla Kurnia Adzan (produser), dan Sulhan Jamil (lighting).

Untuk mendukung pertunjukan Torso, sebenarnya ada video mapping yang ditampilkan. Namun sayang, karena tidak ada layar yang tersedia, karya visual itu ditembakkan ke arah pepohonan di sekitar panggung pertunjukan. Tetapi, menurut saya, itu justru tidak memecah fokus penonton. Penampil Ayu menjadi tidak tercerabut kehadirannya, perhatian penonton tidak terampas oleh tampilan video—meski mungkin video tersebut bisa menggenapi pertunjukan.

Pada babak akhir pertunjukan, Ayu sempat berhenti dan meminta sebotol air minum. Napasnya hampir habis. Kejadian itu menyisakan masa jeda yang sebenarnya cukup menggangu sebab penonton dibiarkan terdiam menunggu. Dalam kondisi ini sebenarnya alur pertunjukan telah dibuat tinggi, dengan beberapa saat panggung dibiarkan kosong membuat emosi penonton terasa menggantung.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Namun, di balik itu semua, sudah barang tentu repertoar ini telah melakukan proses latihan yang tidak sebentar, terlebih pada kekuatan tubuh dan olah pernapasan yang tidak terbilang mudah.

Batas dan Bebas, Bersuara Melalui Tubuh

Tari, sebagai salah satu wujud ekspresi seni yang tua, secara sengaja menggunakan tubuh sebagai wilayah eksplorasi penciptaan seni. Terlepas berpijak pada akar tradisi lokal atau berpijak pada akar tradisi luar, penari sengaja menggunakan tubuhnya untuk mewujudkan ekspresi seni—ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Di situlah tarian mengandung gerak maknawinya.

Menurut Imam Setyobudi dan Mukhlas Alkaf, melihat tari sebagai aspek komunikasi di dalamnya tentu mencakup adanya retorika yang meniscayakan kemungkinan yang bersifat manipulatif, rekayasa. Struktur dan makna tari, menurut Imam dan Mukhlas, bukan semata-mata estetika seni untuk seni, melainkan persoalan ideologis-politis yang telah merasuk ke dalam gerak-gerik (gesture) tarian itu sendiri.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Dalam sebuah sinopsis singkat, misalnya, Torso berusaha membedah bagaimana konstruksi budaya turut membentuk ekspresi tubuh. Melalui pintu masuk tari tradisi yang familiar, Torso hadir sebagai medium dialog reflektif untuk mempertanyakan kepemilikan dan kedaulatan tubuh perempuan, tidak semata sebagai hiburan atau sekadar gerak kosong tanpa tujuan.

Hal itu tampak jelas dengan adanya garis lingkaran yang “mengungkung” Ayu pada saat menari. Garis lingkaran itu sebagai simbol batas antara perempuan dengan hal-hal di luar dirinya, seperti adat (budaya), agama, maupun norma-norma yang disepakati di tengah masyarakat. Bagi Ayu, kadangkala batas-batas itu menjadi penghambat tumbuh-kembang perempuan.

Sekadar informasi, Ayu memulai karier kepenariannya menjadi penari Sigeh Penguten—sebuah tari kreasi yang berasal dari Lampung, tanah kelahiran Ayu. Tarian itulah, bersama dengan Tari Cangget, yang menjadi dasar Torso—yang saya kira bertujuan untuk merefleksikan bagaimana tubuh perempuan Lampung dibentuk, dibatasi, dan dijalankan oleh adat dan budaya.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Simaklah kisah ini. Selama belajar Sigeh Penguten, Ayu sering sembunyi-sembunyi dari pengawasan sang ayah. Ya, dalam sebuah wawancara Ayu mengaku sang ayah tidak merestuinya menjadi penari. Tapi karena ia merasa tari adalah jalan hidupnya, Ayu “melawan” ayahnya sendiri—dan mengubur mimpinya menjadi bidan. Ia tetap keras kepala belajar menari dan pada akhirnya memilih belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari sanalah Ayu memulai pengalaman ketubuhannya. Ia mencoba semua hal yang ia inginkan. Ia tumbuh bersama karya-karya yang ia maupun orang lain ciptakan.

Ayu tumbuh dalam lingkaran adat Lampung Pepadun. Di Jogja ia merasa bebas, baik dalam berkarya maupun sekadar mengekspresikan diri. Namun, ketika kembali ke kampung halaman dan hidup dengan seperangkat aturan adat, agama, dan lingkungan yang ketat nilai kesopan-santunan, ia merasa kesusahan untuk menjalaninya.

Kebudayaan, menurut Foucault, selalu berkenaan dengan jalinan kuasa-pengetahuan. Kebudayaan tiada lain adalah ruang tempat kuasa-pengetahuan selalu berkelindan. Kekuasaan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga produktif. Kekuasaan menciptakan pengetahuan, dan pengetahuan pada gilirannya digunakan untuk menjalankan kekuasaan.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Dalam konteks masyarakat partiarki, laki-laki lah yang berhak memegang kendali atas kekuasaan—termasuk kendali atas tubuh perempuan. Bagi pandangan masyarakat patriarki, suara dan pikiran perempuan seolah anonim atau sengaja diabsenkan. Dan itulah yang barangkali hendak Ayu lawan dan suarakan—meski tentu tak semudah dibayangkan.

Torso jelas ingin menarasikan ihwal batang tubuh perempuan sebagai kekuatan terhadap dominasi laki-laki, adat-istiadat, tradisi, dan norma-norma lainnya yang mengungkung kebebasan perempuan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Ayu Permata SariSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025tari kontemporerTorso
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Next Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky
Cerpen

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan
Liputan Khusus

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

by Jaswanto
June 28, 2026
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
Bulan Juni Milik Empat Presiden
Esai

Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co