22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
August 2, 2025
in Esai
Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SETIAP tahun pemerintah pusat maupun daerah sering menyerukan pembangunan infrastruktur. Jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta api, pembangkit listrik, perumahan dan saluran air adalah infrastruktur yang jadi prioritas sampai membenani keuangan. Proses pembangunan infrastruktur tersebut  terkadang menimbulkan dampak negatif sosial dan ekologi. Tanah, sungai, danau dan laut yang digunakan untuk produksi pangan dikorbankan untuk hal tersebut. Masyarakat kehilangan mata pencaharian. Lingkungan hidup terdegradasi.

Dari tujuh infrastruktur di atas ada dua infrastruktur yang lebih penting. Dua infrastruktur ini menentukan hidup matinya suatu bangsa. Sepanjang sejarah manusia sebagian besar kerajaan runtuh karena dua infrastruktur ini hancur. Bencana kelaparan dan kekeringan adalah tandanya.  Ketika pemerintah membunyikan slogan NKRI harga mati sementara membiarkan bahkan berperan dalam kerusakan dua infrastruktur ini sampai parah, tindakan tersebut tampak konyol. Dua infrastruktur yang dimaksud adalah tanah subur dan air yang jernih.

Tanah subur berarti tanah itu kaya dengan berbagai macam organisme. Dalam sebidang tanah subur terdapat ribuan spesies mahluk hidup yang hanya dapat diamati oleh  mikroskop electron dan kaca pembesar. Mahluk  hidup yang dapat diamati tanpa alat bantu yaitu cacing tanah dimana ia menggemburkan tanah. Cacing tanah memperoleh nutrisi dari tanah dan setiap mengeluarkan sisa makanan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah.

Tanah merupakan wadah yang hidup. Ia bukan benda mati seperti bebatuan dan pasir. Tanah hidup yang digenggam bersifat lengket dan lunak. Ia tidak seperti butiran bubuk yang melayang saat ditiup. Tidak juga keras seperti batu sehingga tidak dapat memberikan tempat bagi akar tanaman untuk tinggal. Tanah yang hidup ini membuatnya menjadi rumah bagi persemaian benih. Tanah hidup menyimpan air karena tutupan tanaman seperti pohon dan rumput menahannya. Ini membuat air tidak mengalir begitu saja yang mana menimbulkan banjir bandang. Kelebihan air yang tidak terserap oleh tanaman akan disalurkan ke bawah tanah sebagai mata air jernih. Air bawah tanah diperbaharui berkat tanah hidup

Air jernih di sini berupa sungai, danau, mata air dan lautan yang dasarnya dapat terlihat jelas hingga kedalaman 10 meter. Saat memperhatikan air jernih akan terlihat aneka warna di dasarnya. Air yang keruh mengaburkan pandangan. Kejernihan air merupakan faktor terpenting dalam kesehatan mahluk hidup di situ. Air jernih ini digunakan untuk budidaya ikan dan rumput laut, irigasi, tempat minum hewan dan kesehatan manusia yaitu mandi cuci kakus. Kekayaan sejati suatu bangsa berasal dari dua infrastruktur ini.

Amati barang barang yang dimakan dan diminum termasuk untuk obat obatan. Sentuh benda yang dikenakan di badan, dipakai saat duduk dan tidur, dan melapisi benda lainnya. Kemudian lihat kursi, meja, lemari , pintu, jendela dan dinding bangunan yang warnahnya mirip karena berasal dari bahan yang sama. Saat berjalan jalan di toko perhiasan, kita dapat menemui kalung, gelang dan cincin yang menggunakan butiran butiran kerang dari dasar laut dalam dimana harga satu butir mencapai puluhan juta rupiah.

Benda-benda yang disebutkan di atas, yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari hari berasal, dari tanaman dan hewan yang hidup di darat maupun perairan. Pertanian dalam arti luas adalah mengasilkan produk dari tumbuhan dan hewan di daratan dan lautan. Ini termasuk pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Semua makanan bernutrisi, obat obatan untuk menyembuhkan, cairan pewangi dengan aroma menyenangkan, bahan bangunan, mebel dan kerajinan dari kayu dan perhiasan mutiara didasari oleh dua hal yaitu tanah subur dan air jernih.

Perekonomian nyata suatu negara berasal dari sini. Betapapun canggihnya teknologi dan megahnya bangunan yang didirikan setiap manusia tidak akan pernah dapat lepas dari dua hal ini.  Suatu kesalahan besar menanduskan tanah dan mengkeruhkan air demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan penanaman monokultur yang menimbulkan penebangan hutan skala besar dan pengeringan lahan basah. Dua hal yang dilakukan untuk perkebunan monokultur sawit.

Akibat lain monokultur adalah penggunaan berlebihan pupuk dan pembasmi hama kimia yang bahan bakunya diperoleh dari menambang perut bumi lalu mencemari udara dengan gas rumah kaca, membuat air tak layak dihuni ikan, dan biota tanah seperti cacing jumlahnya langka dalam sebidang tanah yang terlalu banyak zat kimia dibandingkan tanah pertanian ramah lingkungan.

Atas nama pembangunan, industri dan tambang membuang sampah padat dan limbah beracun ke sungai, danau dan lautan. Kualitas air menurun. Bahkan mata air yang sudah terkena zat kimia tidak layak untuk membasahi sawah dan pekarangan rumah yang pada gilirannya menurunkan kualitas makanan. Jarang ada orang yang mau menyentuh air itu atau izinkan hewan piarannya minum air tersebut jika tidak terpaksa.   Hasil-hasil pertanian dan perikanan dari lahan, sungai, danau, tepi pantai dan laut terpuruk.

Di atas kertas pemegang kebijakan ekonomi, kegiatan yang merusak ini direstui karena mendatangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto dimana dalam indikator ini pertumbuhan uang dari barang dan jasa adalah tanda kemakmuran suatu negara meski efek sampingnya diabaikan. Mendirikan perkebunan skala besar, tambang yang meratakan bukit dan pabrik raksasa membuat perputaran uang yang luar biasa besar dan cepat.

Kegiatan perputaran uang ini mencakup pemusnahan lahan, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengadaan mesin-mesin, bahan bangunan dan kimia dan tenaga kerja, pelubangan bukit, dan penyaluran ke konsumen. Perputaran uang di sini mencapai trilliun rupiah.  Dalam prosesnya di tengah jalan, banyak wilayah rakyat kecil dirampas tanpa ada kompensasi layak dan habitat satwa liar musnah karena dianggap tidak berkontribusi pada PDB.

Jika hutan dan lahan basah dibiarkan asri dengan keragaman hewan dan tanamannya yang berfungsi sebagai pemurni udara dan menjaga mata air jernih selama ribuan tahun dan komunitas setempat menggunakaannya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan berbagi habitat dengan satwa liar, itu hanya menghasilkan PDB yang lebih sedikit untuk jangka pendek. PDB akan dihasilkan saat hutan dijadikan kayu dan lahan basah yang mana jadi tempat aneka burung dan ikan dijadikan gedung dan perumahan oleh pengembang. Satwa liar semakin terancam punah dan rakyat menghadapi  kesengsaraan ekologis seperti sesak nafas dan berbagai penyakit dari limbah. Bahkan banjir jika hutan yang dirusak adalah kawasan pegunungan dan perbukitan.

Kepunahan flora dan fauna, kesengsaraan ekologi rakyat kecil, degradasi tanah dan pencemaran air merupakan efek samping kegiatan demi Produk Domestik Bruto . Jika empat dampak ekologis itu dimasukkan dalam kalkulasi Produk Domestik Bruto  maka pertumbuhannya dapat menjadi minus.

Saat ini kelangkaan air bersih dan tanah subur terus mengintai yang berujung pada konflik di masyarakat. Paradigma alternatif harus dibangun berdasarkan pada dua hal ini yaitu tanah subur dan air jernih sebagai solusi permulaan. Untuk dapat hidup makmur setiap orang butuh makanan bernutrisi, air jernih, pakaian yang sesuai, tempat berteduh layak, ketercukupan energi, kesehatan fisik, jiwa dan lingkungan, rasa aman dan pendidikan relevan untuk mengembangkan daya cipta rasa dan karsa.

Barang-barang yang diperoleh untuk memenuhi delapan kebutuhan pokok tersebut berasal dari hubungan yang erat antara siklus air dan kesuburan tanah. Peran negara menurut konstitusi dimana menjamin setiap warga hidup layak wajib memfasilitasi tiap warganya untuk mengakses delapan kebutuhan pokok tersebut. Tanah subur dan air jernih adalah modal dasar untuk itu. Jika pertumbuhan PDB kecil (setelah keuntungan dikurangi dengan empat beban yang dihasilkan dengan perhitungan jujur) sementara tiap warga negara dapat mencukupi delapan kebutuhan tersebut, kualitas ekologi terjaga, habitat satwa yang terdegrasi dipulihkan, air keruh menjadi jernih dan tanah tandus kembali subur itu bukti bahwa kelayakan hidup bangsa tercapai. [T]

Penulis: Doni Sugiarto Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Taman Kota yang Multifungsi
Sentral Parkir, Jalan Kaki, Shuttle Bus dan Saran Kecil Untuk Lalu-Lintas Ubud
Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian
Hari Bebas Mobil Sedunia
Tags: ekologirenunganTanah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Next Post

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co