2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
August 2, 2025
in Esai
Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SETIAP tahun pemerintah pusat maupun daerah sering menyerukan pembangunan infrastruktur. Jalan raya, pelabuhan, bandar udara, rel kereta api, pembangkit listrik, perumahan dan saluran air adalah infrastruktur yang jadi prioritas sampai membenani keuangan. Proses pembangunan infrastruktur tersebut  terkadang menimbulkan dampak negatif sosial dan ekologi. Tanah, sungai, danau dan laut yang digunakan untuk produksi pangan dikorbankan untuk hal tersebut. Masyarakat kehilangan mata pencaharian. Lingkungan hidup terdegradasi.

Dari tujuh infrastruktur di atas ada dua infrastruktur yang lebih penting. Dua infrastruktur ini menentukan hidup matinya suatu bangsa. Sepanjang sejarah manusia sebagian besar kerajaan runtuh karena dua infrastruktur ini hancur. Bencana kelaparan dan kekeringan adalah tandanya.  Ketika pemerintah membunyikan slogan NKRI harga mati sementara membiarkan bahkan berperan dalam kerusakan dua infrastruktur ini sampai parah, tindakan tersebut tampak konyol. Dua infrastruktur yang dimaksud adalah tanah subur dan air yang jernih.

Tanah subur berarti tanah itu kaya dengan berbagai macam organisme. Dalam sebidang tanah subur terdapat ribuan spesies mahluk hidup yang hanya dapat diamati oleh  mikroskop electron dan kaca pembesar. Mahluk  hidup yang dapat diamati tanpa alat bantu yaitu cacing tanah dimana ia menggemburkan tanah. Cacing tanah memperoleh nutrisi dari tanah dan setiap mengeluarkan sisa makanan mengembalikan nutrisi ke dalam tanah.

Tanah merupakan wadah yang hidup. Ia bukan benda mati seperti bebatuan dan pasir. Tanah hidup yang digenggam bersifat lengket dan lunak. Ia tidak seperti butiran bubuk yang melayang saat ditiup. Tidak juga keras seperti batu sehingga tidak dapat memberikan tempat bagi akar tanaman untuk tinggal. Tanah yang hidup ini membuatnya menjadi rumah bagi persemaian benih. Tanah hidup menyimpan air karena tutupan tanaman seperti pohon dan rumput menahannya. Ini membuat air tidak mengalir begitu saja yang mana menimbulkan banjir bandang. Kelebihan air yang tidak terserap oleh tanaman akan disalurkan ke bawah tanah sebagai mata air jernih. Air bawah tanah diperbaharui berkat tanah hidup

Air jernih di sini berupa sungai, danau, mata air dan lautan yang dasarnya dapat terlihat jelas hingga kedalaman 10 meter. Saat memperhatikan air jernih akan terlihat aneka warna di dasarnya. Air yang keruh mengaburkan pandangan. Kejernihan air merupakan faktor terpenting dalam kesehatan mahluk hidup di situ. Air jernih ini digunakan untuk budidaya ikan dan rumput laut, irigasi, tempat minum hewan dan kesehatan manusia yaitu mandi cuci kakus. Kekayaan sejati suatu bangsa berasal dari dua infrastruktur ini.

Amati barang barang yang dimakan dan diminum termasuk untuk obat obatan. Sentuh benda yang dikenakan di badan, dipakai saat duduk dan tidur, dan melapisi benda lainnya. Kemudian lihat kursi, meja, lemari , pintu, jendela dan dinding bangunan yang warnahnya mirip karena berasal dari bahan yang sama. Saat berjalan jalan di toko perhiasan, kita dapat menemui kalung, gelang dan cincin yang menggunakan butiran butiran kerang dari dasar laut dalam dimana harga satu butir mencapai puluhan juta rupiah.

Benda-benda yang disebutkan di atas, yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari hari berasal, dari tanaman dan hewan yang hidup di darat maupun perairan. Pertanian dalam arti luas adalah mengasilkan produk dari tumbuhan dan hewan di daratan dan lautan. Ini termasuk pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Semua makanan bernutrisi, obat obatan untuk menyembuhkan, cairan pewangi dengan aroma menyenangkan, bahan bangunan, mebel dan kerajinan dari kayu dan perhiasan mutiara didasari oleh dua hal yaitu tanah subur dan air jernih.

Perekonomian nyata suatu negara berasal dari sini. Betapapun canggihnya teknologi dan megahnya bangunan yang didirikan setiap manusia tidak akan pernah dapat lepas dari dua hal ini.  Suatu kesalahan besar menanduskan tanah dan mengkeruhkan air demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan penanaman monokultur yang menimbulkan penebangan hutan skala besar dan pengeringan lahan basah. Dua hal yang dilakukan untuk perkebunan monokultur sawit.

Akibat lain monokultur adalah penggunaan berlebihan pupuk dan pembasmi hama kimia yang bahan bakunya diperoleh dari menambang perut bumi lalu mencemari udara dengan gas rumah kaca, membuat air tak layak dihuni ikan, dan biota tanah seperti cacing jumlahnya langka dalam sebidang tanah yang terlalu banyak zat kimia dibandingkan tanah pertanian ramah lingkungan.

Atas nama pembangunan, industri dan tambang membuang sampah padat dan limbah beracun ke sungai, danau dan lautan. Kualitas air menurun. Bahkan mata air yang sudah terkena zat kimia tidak layak untuk membasahi sawah dan pekarangan rumah yang pada gilirannya menurunkan kualitas makanan. Jarang ada orang yang mau menyentuh air itu atau izinkan hewan piarannya minum air tersebut jika tidak terpaksa.   Hasil-hasil pertanian dan perikanan dari lahan, sungai, danau, tepi pantai dan laut terpuruk.

Di atas kertas pemegang kebijakan ekonomi, kegiatan yang merusak ini direstui karena mendatangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto dimana dalam indikator ini pertumbuhan uang dari barang dan jasa adalah tanda kemakmuran suatu negara meski efek sampingnya diabaikan. Mendirikan perkebunan skala besar, tambang yang meratakan bukit dan pabrik raksasa membuat perputaran uang yang luar biasa besar dan cepat.

Kegiatan perputaran uang ini mencakup pemusnahan lahan, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengadaan mesin-mesin, bahan bangunan dan kimia dan tenaga kerja, pelubangan bukit, dan penyaluran ke konsumen. Perputaran uang di sini mencapai trilliun rupiah.  Dalam prosesnya di tengah jalan, banyak wilayah rakyat kecil dirampas tanpa ada kompensasi layak dan habitat satwa liar musnah karena dianggap tidak berkontribusi pada PDB.

Jika hutan dan lahan basah dibiarkan asri dengan keragaman hewan dan tanamannya yang berfungsi sebagai pemurni udara dan menjaga mata air jernih selama ribuan tahun dan komunitas setempat menggunakaannya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan berbagi habitat dengan satwa liar, itu hanya menghasilkan PDB yang lebih sedikit untuk jangka pendek. PDB akan dihasilkan saat hutan dijadikan kayu dan lahan basah yang mana jadi tempat aneka burung dan ikan dijadikan gedung dan perumahan oleh pengembang. Satwa liar semakin terancam punah dan rakyat menghadapi  kesengsaraan ekologis seperti sesak nafas dan berbagai penyakit dari limbah. Bahkan banjir jika hutan yang dirusak adalah kawasan pegunungan dan perbukitan.

Kepunahan flora dan fauna, kesengsaraan ekologi rakyat kecil, degradasi tanah dan pencemaran air merupakan efek samping kegiatan demi Produk Domestik Bruto . Jika empat dampak ekologis itu dimasukkan dalam kalkulasi Produk Domestik Bruto  maka pertumbuhannya dapat menjadi minus.

Saat ini kelangkaan air bersih dan tanah subur terus mengintai yang berujung pada konflik di masyarakat. Paradigma alternatif harus dibangun berdasarkan pada dua hal ini yaitu tanah subur dan air jernih sebagai solusi permulaan. Untuk dapat hidup makmur setiap orang butuh makanan bernutrisi, air jernih, pakaian yang sesuai, tempat berteduh layak, ketercukupan energi, kesehatan fisik, jiwa dan lingkungan, rasa aman dan pendidikan relevan untuk mengembangkan daya cipta rasa dan karsa.

Barang-barang yang diperoleh untuk memenuhi delapan kebutuhan pokok tersebut berasal dari hubungan yang erat antara siklus air dan kesuburan tanah. Peran negara menurut konstitusi dimana menjamin setiap warga hidup layak wajib memfasilitasi tiap warganya untuk mengakses delapan kebutuhan pokok tersebut. Tanah subur dan air jernih adalah modal dasar untuk itu. Jika pertumbuhan PDB kecil (setelah keuntungan dikurangi dengan empat beban yang dihasilkan dengan perhitungan jujur) sementara tiap warga negara dapat mencukupi delapan kebutuhan tersebut, kualitas ekologi terjaga, habitat satwa yang terdegrasi dipulihkan, air keruh menjadi jernih dan tanah tandus kembali subur itu bukti bahwa kelayakan hidup bangsa tercapai. [T]

Penulis: Doni Sugiarto Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Taman Kota yang Multifungsi
Sentral Parkir, Jalan Kaki, Shuttle Bus dan Saran Kecil Untuk Lalu-Lintas Ubud
Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian
Hari Bebas Mobil Sedunia
Tags: ekologirenunganTanah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Next Post

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co