23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 2, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS kembali tiba, membawa semangat merah putih yang gejalanya mulai terlihat di pinggir-pinggir jalan. Mulai nampak orang berjualan bendera , umbul-umbul, tiang bambu, sampai aksesori yang ditempel di kaca mobil.  Sebentar lagi akan banyak  instansi pemerintah berlomba-lomba mengganti banner profil media sosialnya dengan nuansa kemerdekaan.

Nah, ironisnya saat di tengah semua geliat nuansa kemerdekaan itu, diam-diam, ada satu peristiwa penting yang  jadi  sorotan publik secara  luas. Dikabarkan pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat untuk transfer data pribadi warganya. Konon malah disebut sebagai salah satu prestasi di bidang ekonomi. Sebuah keputusan yang besar, dilakukan nyaris tanpa debat publik yang sehat.

Kontan saja, kita semua di sana-sini lantas berbicara bukan hanya soal informasi digital, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam, soal kedaulatan data. Entah bagaimana saat saya memandang ke saudara-saudara kita yang berjualan bendera merah putih di pinggir jalan itu, pikiran saya jadi ngelantur ke soal  kebebasan berpikir itu sendiri. Maksud saya, Jika kita kehilangan kedaulatan data, apakah kita juga sedang menuju pada sistuasi kehilangan kedaulatan berpikir?

Dalam narasi klasik, kedaulatan sering dimaknai sebagai kontrol atas wilayah dan sumber daya alam. Bung Karno dahulu berteriak lantang tentang kemerdekaan yang harus penuh dan tidak setengah-setengah. Artinya bukan hanya bebas dari penjajah, tapi juga berdaulat atas tanah, udara, dan laut kita sendiri. Tapi hari ini, ada wilayah baru yang tak dinyana sebelumnya, yaitu ruang digital. Di era modern ini, di sinilah kehidupan sehari-hari kita berlangsung. 

Kita bercakap, berbelanja, menonton, bahkan menyatakan cinta dan berpolitik. Dan semua aktivitas itu meninggalkan jejak, potongan data yang jika dikumpulkan, akan membentuk potret utuh tentang siapa kita, apa yang kita pikirkan,  selera kita, dan bagaimana kita bisa dipengaruhi. Padahal, seperti diingatkan oleh Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996), kekuasaan hari ini tak lagi bergantung pada senjata atau tanah, tapi pada akses terhadap informasi dan kemampuan membentuk kesadaran.

Jean Bodin dulu mendefinisikan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dan tanpa campur tangan dari pihak lain. Tapi dalam konteks digital sekarang, kekuasaan tertinggi itu seringkali tidak lagi berada pada negara, melainkan pada server yang tak terlihat, algoritma yang berpolitik, dan platform yang tak berkewarganegaraan.

Kedaulatan Bukan Lagi Soal Wilayah

Transfer data pribadi ke luar negeri, dalam hal ini ke Amerika Serikat, bukan sekadar soal dokumen teknis antarnegara. Ia adalah isyarat bahwa kendali atas identitas digital warga Indonesia kini sebagian berada di luar yurisdiksi nasional. Ketika data warga Indonesia dikirim ke AS, bukan cuma file yang berpindah tangan. Yang berpindah adalah peta perilaku, emosi, selera, kebiasaan, bahkan potensi politik setiap individu.

Data itu kemudian diproses oleh algoritma untuk memprediksi dan mengarahkan pilihan-pilihan kita. Data yang mencakup lokasi, preferensi, kebiasaan, bahkan suara dan wajah kita, bisa dianalisis, diprediksi, dan dimonetisasi oleh algoritma yang tidak kita pahami, apalagi kuasai. Di sinilah letak persoalan besar itu. Ketika negara tidak lagi sepenuhnya mengontrol data warganya, apakah ia masih bisa mengklaim dirinya berdaulat? Ya, bisa saja mengklaim seperti itu, tapi kan tetap saja mengggelikan.

Lebih jauh lagi, ini bukan hanya tentang siapa yang mengakses data, tapi tentang siapa yang membentuk cara kita berpikir. Yuval Noah Harari menyebut bahwa algoritma bisa mengenali manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Dengan data yang cukup, mesin bisa memperkirakan apa yang akan kita pilih bahkan sebelum kita sendiri sadar kita akan memilihnya. Maka, pertanyaan selanjutnya dari siapa yang punya data kita, menjadi siapa yang punya kontrol atas pikiran kita.

Bisa kita bayangkan saja seperti ini, jika seseorang di Amerika, dia bekerja untuk perusahaan raksasa teknologi, kemudian bisa mengakses pola konsumsi para petani warga desa di Wonosobo, misalnya. Dia tahu kapan para petani itu online, apa saja yang mereka tonton, bahkan kapan mereka merasa sedih di masa-masa gagal panen, dan saat-saat tertentu di mana mereka paling mungkin membeli sesuatu. Dengan kekuatan itu, dia bukan hanya bisa menjual produk, dia bisa juga membentuk keinginan. Maka, dalam dunia seperti ini, kita tak lagi berpikir karena tahu, tapi tahu karena diprogram untuk berpikir seperti itu. Sepertinya inilah penjajahan versi baru. Tidak ada tank, tidak ada senapan, yang ada hanya layar sentuh dan rekomendasi yang terasa begitu personal.

Tugas Kita, Anak Bangsa yang Mau Tetap Waras

Perjanjian sudah terlanjur ditandatangani, sepertinya kita mungkin tidak bisa mundur lagi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya kedaulatan yang tersisa dan tak boleh diserahkan adalah kedaulatan berpikir. Seperti kata Paulo Freire, kesadaran kritis adalah jalan menuju pembebasan. Selama kita masih bisa bertanya, mempertanyakan, menguji informasi, dan tak serta-merta percaya pada narasi yang disodorkan algoritma, selama itu pula kita masih punya ruang untuk menjadi manusia merdeka. Inilah semangat yang harus kita bawa.

Menjaga kewarasan di era ini adalah bentuk perlawanan. Ketika informasi datang  bagaikan hujan deras tanpa henti, kemampuan menyaring dan kejernihan berpikir akan menjadi bentuk paling radikal dari kemerdekaan dalam konteks era digital sekarang ini. Jangan biarkan semangat Agustus hanya sebatas lomba balap karung dan pawai kendaraan hias. Mari kita tanya diri sendiri dengan sadar,  apakah kita masih punya kemerdekaan yang sesungguhnya, jika setiap klik, scroll, dan swipe kita dibaca oleh sistem yang bekerja diam-diam dengan sangat cerdas?

Indonesia sudah merdeka secara administratif sejak 1945. Tapi kemerdekaan pikiran seluruh anak bangsa adalah proyek yang harus diperjuangkan setiap hari. Apalagi di era ketika kolonialisme tak lagi memakai seragam militer, melainkan berbentuk dashboard analitik dan machine learning. Maka di tengah hari-hari menyongsong bulan jadi Hari Kemerdekaan ini, barangkali pertanyaan penting saat membuat banner agustusan bukanlah “tahun ini peringatan tahun ke berapa, sih?”, tapi “apakah pikiran kita masih benar-benar milik kita sendiri?”Karena jika kita tak sadar sedang dijajah, maka penjajahan itu sudah paripurna.

Dan jika kita kehilangan kedaulatan berpikir, maka bahkan kemerdekaan pun bisa menjadi sekadar mitos tahunan. Oya, saya mau tanya hal penting, tahun ini peringatan kemerdekaan yang ke berapa, yak? Eh, gak jadi ah. Sungkan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: Hari Kemerdekaan RIHUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co