2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 2, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS kembali tiba, membawa semangat merah putih yang gejalanya mulai terlihat di pinggir-pinggir jalan. Mulai nampak orang berjualan bendera , umbul-umbul, tiang bambu, sampai aksesori yang ditempel di kaca mobil.  Sebentar lagi akan banyak  instansi pemerintah berlomba-lomba mengganti banner profil media sosialnya dengan nuansa kemerdekaan.

Nah, ironisnya saat di tengah semua geliat nuansa kemerdekaan itu, diam-diam, ada satu peristiwa penting yang  jadi  sorotan publik secara  luas. Dikabarkan pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat untuk transfer data pribadi warganya. Konon malah disebut sebagai salah satu prestasi di bidang ekonomi. Sebuah keputusan yang besar, dilakukan nyaris tanpa debat publik yang sehat.

Kontan saja, kita semua di sana-sini lantas berbicara bukan hanya soal informasi digital, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam, soal kedaulatan data. Entah bagaimana saat saya memandang ke saudara-saudara kita yang berjualan bendera merah putih di pinggir jalan itu, pikiran saya jadi ngelantur ke soal  kebebasan berpikir itu sendiri. Maksud saya, Jika kita kehilangan kedaulatan data, apakah kita juga sedang menuju pada sistuasi kehilangan kedaulatan berpikir?

Dalam narasi klasik, kedaulatan sering dimaknai sebagai kontrol atas wilayah dan sumber daya alam. Bung Karno dahulu berteriak lantang tentang kemerdekaan yang harus penuh dan tidak setengah-setengah. Artinya bukan hanya bebas dari penjajah, tapi juga berdaulat atas tanah, udara, dan laut kita sendiri. Tapi hari ini, ada wilayah baru yang tak dinyana sebelumnya, yaitu ruang digital. Di era modern ini, di sinilah kehidupan sehari-hari kita berlangsung. 

Kita bercakap, berbelanja, menonton, bahkan menyatakan cinta dan berpolitik. Dan semua aktivitas itu meninggalkan jejak, potongan data yang jika dikumpulkan, akan membentuk potret utuh tentang siapa kita, apa yang kita pikirkan,  selera kita, dan bagaimana kita bisa dipengaruhi. Padahal, seperti diingatkan oleh Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996), kekuasaan hari ini tak lagi bergantung pada senjata atau tanah, tapi pada akses terhadap informasi dan kemampuan membentuk kesadaran.

Jean Bodin dulu mendefinisikan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dan tanpa campur tangan dari pihak lain. Tapi dalam konteks digital sekarang, kekuasaan tertinggi itu seringkali tidak lagi berada pada negara, melainkan pada server yang tak terlihat, algoritma yang berpolitik, dan platform yang tak berkewarganegaraan.

Kedaulatan Bukan Lagi Soal Wilayah

Transfer data pribadi ke luar negeri, dalam hal ini ke Amerika Serikat, bukan sekadar soal dokumen teknis antarnegara. Ia adalah isyarat bahwa kendali atas identitas digital warga Indonesia kini sebagian berada di luar yurisdiksi nasional. Ketika data warga Indonesia dikirim ke AS, bukan cuma file yang berpindah tangan. Yang berpindah adalah peta perilaku, emosi, selera, kebiasaan, bahkan potensi politik setiap individu.

Data itu kemudian diproses oleh algoritma untuk memprediksi dan mengarahkan pilihan-pilihan kita. Data yang mencakup lokasi, preferensi, kebiasaan, bahkan suara dan wajah kita, bisa dianalisis, diprediksi, dan dimonetisasi oleh algoritma yang tidak kita pahami, apalagi kuasai. Di sinilah letak persoalan besar itu. Ketika negara tidak lagi sepenuhnya mengontrol data warganya, apakah ia masih bisa mengklaim dirinya berdaulat? Ya, bisa saja mengklaim seperti itu, tapi kan tetap saja mengggelikan.

Lebih jauh lagi, ini bukan hanya tentang siapa yang mengakses data, tapi tentang siapa yang membentuk cara kita berpikir. Yuval Noah Harari menyebut bahwa algoritma bisa mengenali manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Dengan data yang cukup, mesin bisa memperkirakan apa yang akan kita pilih bahkan sebelum kita sendiri sadar kita akan memilihnya. Maka, pertanyaan selanjutnya dari siapa yang punya data kita, menjadi siapa yang punya kontrol atas pikiran kita.

Bisa kita bayangkan saja seperti ini, jika seseorang di Amerika, dia bekerja untuk perusahaan raksasa teknologi, kemudian bisa mengakses pola konsumsi para petani warga desa di Wonosobo, misalnya. Dia tahu kapan para petani itu online, apa saja yang mereka tonton, bahkan kapan mereka merasa sedih di masa-masa gagal panen, dan saat-saat tertentu di mana mereka paling mungkin membeli sesuatu. Dengan kekuatan itu, dia bukan hanya bisa menjual produk, dia bisa juga membentuk keinginan. Maka, dalam dunia seperti ini, kita tak lagi berpikir karena tahu, tapi tahu karena diprogram untuk berpikir seperti itu. Sepertinya inilah penjajahan versi baru. Tidak ada tank, tidak ada senapan, yang ada hanya layar sentuh dan rekomendasi yang terasa begitu personal.

Tugas Kita, Anak Bangsa yang Mau Tetap Waras

Perjanjian sudah terlanjur ditandatangani, sepertinya kita mungkin tidak bisa mundur lagi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya kedaulatan yang tersisa dan tak boleh diserahkan adalah kedaulatan berpikir. Seperti kata Paulo Freire, kesadaran kritis adalah jalan menuju pembebasan. Selama kita masih bisa bertanya, mempertanyakan, menguji informasi, dan tak serta-merta percaya pada narasi yang disodorkan algoritma, selama itu pula kita masih punya ruang untuk menjadi manusia merdeka. Inilah semangat yang harus kita bawa.

Menjaga kewarasan di era ini adalah bentuk perlawanan. Ketika informasi datang  bagaikan hujan deras tanpa henti, kemampuan menyaring dan kejernihan berpikir akan menjadi bentuk paling radikal dari kemerdekaan dalam konteks era digital sekarang ini. Jangan biarkan semangat Agustus hanya sebatas lomba balap karung dan pawai kendaraan hias. Mari kita tanya diri sendiri dengan sadar,  apakah kita masih punya kemerdekaan yang sesungguhnya, jika setiap klik, scroll, dan swipe kita dibaca oleh sistem yang bekerja diam-diam dengan sangat cerdas?

Indonesia sudah merdeka secara administratif sejak 1945. Tapi kemerdekaan pikiran seluruh anak bangsa adalah proyek yang harus diperjuangkan setiap hari. Apalagi di era ketika kolonialisme tak lagi memakai seragam militer, melainkan berbentuk dashboard analitik dan machine learning. Maka di tengah hari-hari menyongsong bulan jadi Hari Kemerdekaan ini, barangkali pertanyaan penting saat membuat banner agustusan bukanlah “tahun ini peringatan tahun ke berapa, sih?”, tapi “apakah pikiran kita masih benar-benar milik kita sendiri?”Karena jika kita tak sadar sedang dijajah, maka penjajahan itu sudah paripurna.

Dan jika kita kehilangan kedaulatan berpikir, maka bahkan kemerdekaan pun bisa menjadi sekadar mitos tahunan. Oya, saya mau tanya hal penting, tahun ini peringatan kemerdekaan yang ke berapa, yak? Eh, gak jadi ah. Sungkan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: Hari Kemerdekaan RIHUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co