14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 2, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS kembali tiba, membawa semangat merah putih yang gejalanya mulai terlihat di pinggir-pinggir jalan. Mulai nampak orang berjualan bendera , umbul-umbul, tiang bambu, sampai aksesori yang ditempel di kaca mobil.  Sebentar lagi akan banyak  instansi pemerintah berlomba-lomba mengganti banner profil media sosialnya dengan nuansa kemerdekaan.

Nah, ironisnya saat di tengah semua geliat nuansa kemerdekaan itu, diam-diam, ada satu peristiwa penting yang  jadi  sorotan publik secara  luas. Dikabarkan pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat untuk transfer data pribadi warganya. Konon malah disebut sebagai salah satu prestasi di bidang ekonomi. Sebuah keputusan yang besar, dilakukan nyaris tanpa debat publik yang sehat.

Kontan saja, kita semua di sana-sini lantas berbicara bukan hanya soal informasi digital, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam, soal kedaulatan data. Entah bagaimana saat saya memandang ke saudara-saudara kita yang berjualan bendera merah putih di pinggir jalan itu, pikiran saya jadi ngelantur ke soal  kebebasan berpikir itu sendiri. Maksud saya, Jika kita kehilangan kedaulatan data, apakah kita juga sedang menuju pada sistuasi kehilangan kedaulatan berpikir?

Dalam narasi klasik, kedaulatan sering dimaknai sebagai kontrol atas wilayah dan sumber daya alam. Bung Karno dahulu berteriak lantang tentang kemerdekaan yang harus penuh dan tidak setengah-setengah. Artinya bukan hanya bebas dari penjajah, tapi juga berdaulat atas tanah, udara, dan laut kita sendiri. Tapi hari ini, ada wilayah baru yang tak dinyana sebelumnya, yaitu ruang digital. Di era modern ini, di sinilah kehidupan sehari-hari kita berlangsung. 

Kita bercakap, berbelanja, menonton, bahkan menyatakan cinta dan berpolitik. Dan semua aktivitas itu meninggalkan jejak, potongan data yang jika dikumpulkan, akan membentuk potret utuh tentang siapa kita, apa yang kita pikirkan,  selera kita, dan bagaimana kita bisa dipengaruhi. Padahal, seperti diingatkan oleh Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996), kekuasaan hari ini tak lagi bergantung pada senjata atau tanah, tapi pada akses terhadap informasi dan kemampuan membentuk kesadaran.

Jean Bodin dulu mendefinisikan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dan tanpa campur tangan dari pihak lain. Tapi dalam konteks digital sekarang, kekuasaan tertinggi itu seringkali tidak lagi berada pada negara, melainkan pada server yang tak terlihat, algoritma yang berpolitik, dan platform yang tak berkewarganegaraan.

Kedaulatan Bukan Lagi Soal Wilayah

Transfer data pribadi ke luar negeri, dalam hal ini ke Amerika Serikat, bukan sekadar soal dokumen teknis antarnegara. Ia adalah isyarat bahwa kendali atas identitas digital warga Indonesia kini sebagian berada di luar yurisdiksi nasional. Ketika data warga Indonesia dikirim ke AS, bukan cuma file yang berpindah tangan. Yang berpindah adalah peta perilaku, emosi, selera, kebiasaan, bahkan potensi politik setiap individu.

Data itu kemudian diproses oleh algoritma untuk memprediksi dan mengarahkan pilihan-pilihan kita. Data yang mencakup lokasi, preferensi, kebiasaan, bahkan suara dan wajah kita, bisa dianalisis, diprediksi, dan dimonetisasi oleh algoritma yang tidak kita pahami, apalagi kuasai. Di sinilah letak persoalan besar itu. Ketika negara tidak lagi sepenuhnya mengontrol data warganya, apakah ia masih bisa mengklaim dirinya berdaulat? Ya, bisa saja mengklaim seperti itu, tapi kan tetap saja mengggelikan.

Lebih jauh lagi, ini bukan hanya tentang siapa yang mengakses data, tapi tentang siapa yang membentuk cara kita berpikir. Yuval Noah Harari menyebut bahwa algoritma bisa mengenali manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Dengan data yang cukup, mesin bisa memperkirakan apa yang akan kita pilih bahkan sebelum kita sendiri sadar kita akan memilihnya. Maka, pertanyaan selanjutnya dari siapa yang punya data kita, menjadi siapa yang punya kontrol atas pikiran kita.

Bisa kita bayangkan saja seperti ini, jika seseorang di Amerika, dia bekerja untuk perusahaan raksasa teknologi, kemudian bisa mengakses pola konsumsi para petani warga desa di Wonosobo, misalnya. Dia tahu kapan para petani itu online, apa saja yang mereka tonton, bahkan kapan mereka merasa sedih di masa-masa gagal panen, dan saat-saat tertentu di mana mereka paling mungkin membeli sesuatu. Dengan kekuatan itu, dia bukan hanya bisa menjual produk, dia bisa juga membentuk keinginan. Maka, dalam dunia seperti ini, kita tak lagi berpikir karena tahu, tapi tahu karena diprogram untuk berpikir seperti itu. Sepertinya inilah penjajahan versi baru. Tidak ada tank, tidak ada senapan, yang ada hanya layar sentuh dan rekomendasi yang terasa begitu personal.

Tugas Kita, Anak Bangsa yang Mau Tetap Waras

Perjanjian sudah terlanjur ditandatangani, sepertinya kita mungkin tidak bisa mundur lagi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya kedaulatan yang tersisa dan tak boleh diserahkan adalah kedaulatan berpikir. Seperti kata Paulo Freire, kesadaran kritis adalah jalan menuju pembebasan. Selama kita masih bisa bertanya, mempertanyakan, menguji informasi, dan tak serta-merta percaya pada narasi yang disodorkan algoritma, selama itu pula kita masih punya ruang untuk menjadi manusia merdeka. Inilah semangat yang harus kita bawa.

Menjaga kewarasan di era ini adalah bentuk perlawanan. Ketika informasi datang  bagaikan hujan deras tanpa henti, kemampuan menyaring dan kejernihan berpikir akan menjadi bentuk paling radikal dari kemerdekaan dalam konteks era digital sekarang ini. Jangan biarkan semangat Agustus hanya sebatas lomba balap karung dan pawai kendaraan hias. Mari kita tanya diri sendiri dengan sadar,  apakah kita masih punya kemerdekaan yang sesungguhnya, jika setiap klik, scroll, dan swipe kita dibaca oleh sistem yang bekerja diam-diam dengan sangat cerdas?

Indonesia sudah merdeka secara administratif sejak 1945. Tapi kemerdekaan pikiran seluruh anak bangsa adalah proyek yang harus diperjuangkan setiap hari. Apalagi di era ketika kolonialisme tak lagi memakai seragam militer, melainkan berbentuk dashboard analitik dan machine learning. Maka di tengah hari-hari menyongsong bulan jadi Hari Kemerdekaan ini, barangkali pertanyaan penting saat membuat banner agustusan bukanlah “tahun ini peringatan tahun ke berapa, sih?”, tapi “apakah pikiran kita masih benar-benar milik kita sendiri?”Karena jika kita tak sadar sedang dijajah, maka penjajahan itu sudah paripurna.

Dan jika kita kehilangan kedaulatan berpikir, maka bahkan kemerdekaan pun bisa menjadi sekadar mitos tahunan. Oya, saya mau tanya hal penting, tahun ini peringatan kemerdekaan yang ke berapa, yak? Eh, gak jadi ah. Sungkan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: Hari Kemerdekaan RIHUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co