2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 18 Juli lalu diperingati sebagai Hari Mendengarkan Sedunia. Tapi saya yakin para pembaca yang budiman tentu melewatkannya.  Tidak merayakannya.  Ya sebenarnya tidak apa. Tapi tunggu dulu, kita mungkin perlu mengetahui hal ini agar bisa memetik refleksi dari hari yang indah itu.  Ini bukan soal mendengarkan curhatan kawan baik, nasihat emak, atau kuliahan dosen yang kebanyakan kasih tugas. Yang hadir di sini adalah ajakan, yang lebih tepatnya adalah  tamparan halus, untuk kita agar berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia, lalu benar-benar mendengarkan.

Hari Mendengarkan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010, dan diinisiasi oleh World Listening Project, sebuah organisasi internasional yang mempromosikan suatu pemahaman lebih dalam pada dunia, lingkungan, budaya dan alam sekitar dengan cara mendengar.

Peringatan Hari Mendengarkan Sedunia bukan hanya suatu ajang romantisasi mendengarkan suara alam atau ajakan yang sok-sok mindfulness. Sebenarnya tujuan utamanya adalah membuat kita sadar bahwa lingkungan suara, baik yang dari hutan, kota, atau kamar tetangga, semua itu penting dan layak diperhatikan. Ini soal nguping dengan etika, alias mendengarkan aktif, bukan hanya asal mendengar, macam orang mendengarkan musik sambil scroll TikTok.

Hari  tersebut juga menjadi momen untuk kita menyoroti polusi suara yang makin kacau dan dampaknya yang diam-diam menyiksa, baik ke manusia maupun makhluk lain yang butuh oksigen. Dan terakhir, ini juga merupakan ruang ekspresi, artinya bagaimana suara bisa menjadi karya, entah lewat rekaman, musik nyeleneh, atau seni eksperimental yang membuat orang jadi mikir, “Oh, ternyata dunia ini kedengaran juga, ya.”

Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk “mendengar”, bukan hanya mendengar dalam arti suara masuk ke telinga, tapi mendengarkan secara sadar. Hadir utuh,  ada di sana, untuk mendengar suara lain yang bukan suara kita sendiri. Nah, sayangnya, kita hidup di zaman yang nyaris mustahil untuk itu. Kok bisa?

Begini, selain anak muda yang lalu lalang di depan gang dengan knalpot brong dan suara tahu bulat yang berkumandang sampai malam, sosial media juga telah menciptakan budaya yang luar biasa bising. Story demi story, status demi status, notifikasi, reminder, pop-up. Semua orang punya mikrofon, semua orang punya panggung. Kalau perlu, bikin panggungnya sendiri. Dan tiap orang seperti berseru, “Tolong dengar aku, ni lho!”,

Ya memang,tidak salah ingin didengar. Tapi kalau semua orang bicara pada saat yang sama, terus, siapa yang mendengarkan? Dalam dunia seperti itu, mendengarkan menjadi tindakan yang langka, bahkan bisa dibilang radikal. Sosiolog Sherry Turkle dalam bukunya “Reclaiming Conversation” (2015), menulis bahwa generasi kita makin sulit membangun koneksi mendalam karena terlalu terbiasa berinteraksi tanpa kehadiran. Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami.  Lalu, di mana letak makna mendengarkan?

Diam yang Penuh Makna

Hari Mendengarkan Sedunia alias World Listening Day,  diperingati setiap 18 Juli untuk mengenang R. Murray Schafer. Ia seorang  komponis dan pencetus konsep “soundscape” atau lanskap suara, dan dia percaya bahwa cara manusia mendengarkan dunia mencerminkan cara mereka hidup di dalamnya.

Jadi, kalau kita tidak bisa lagi mendengar angin, air, burung, atau rintik hujan, bisa jadi itu artinya kita juga kehilangan koneksi dengan dunia alami. Karena mendengarkan suara lingkungan bukan sekadar latihan telinga, tapi juga suatu bentuk  latihan kesadaran. Kita dipaksa berhenti jadi pusat, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini kita abaikan. Suara apa pun. Termasuk suara-suara alam, suara minoritas, suara hati, dan bahkan, yang makin pudar, adalah suara nurani.

Hari ini, kita bisa mendengar lagu dari seluruh penjuru dunia, suara dari Mars, atau di youtube suara dari alam kubur, bahkan giberlink yang merupakan obrolan antar kecerdasan buatan. Tapi ironisnya, kita gagal mendengar suara adik kita sendiri di kamar sebelah yang mungkin sedang ingin curhat.  Carl Rogers, bapak terapi humanistik, menyebut mendengarkan sebagai bentuk paling murni dari penghargaan terhadap manusia lain. Tapi siapa sih yang masih piawai melakukannya hari ini? Orang di sekitar kita lebih sibuk scrolling daripada observing, lebih suka share daripada care. Dalam dunia seperti ini, diam memang kemudian menjadi bentuk sikap yang mencerminkan keberanian.

Sekolah Ikut Bising

Ada juga yang lebih gawat, dunia pendidikan kita ikut-ikutan ribut. Guru sibuk menyampaikan, murid sibuk mencatat, semua berlomba menyelesaikan kurikulum. Kejar tayang kejar target, tapi nampaknya kita tidak benar-benar mengajak siswa mendengarkan.Bukan mendengarkan guru, tapi mendengarkan dunia sekitar, bukan juga mendengarkan jawaban, tapi lebih ke mendengarkan pertanyaan.  Sepertinya makin hari makin jarang ada pengajaran untuk mendengarkan. Padahal itu dasar dari empati, dialog, dan perdamaian.

Coba bayangkan kegiatan sederhana di mana anak-anak diajak ke luar kelas, diminta duduk diam 10 menit, lalu menceritakan suara apa saja yang mereka dengar. Lalu mereka bisa berdiskusi suara mana yang membuat tenang, mana yang membuat risau, dan suara mana yang terasa manusiawi. Dari situ, kita bisa masuk ke pembelajaran lintasbidang, mulai dari IPA, seni, agama, hingga pendidikan karakter. Karena sesungguhnya, mendengarkan adalah jembatan menuju kebijaksanaan.

Mendengarkan Adalah Tindakan Politis

Banyak hal penting di dunia ini yang tidak berteriak nyaring. Kadang mereka itu,  dalam bahasa puitisnya,  hanya berbisik. Dan kita melewatkannya, karena sudah terlalu sibuk dengan speaker dalam diri kita sendiri. “Suara” hutan yang ditebang habis, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang dipotong upah, anak yang ditinggal seharian kerja orang tuanya, lansia yang kesepian. Nah, suara alam dari Halmahera sekarang juga makin samar, kan. Mereka tidak viral, tidak juga trending, kadang memang sengaja dibungkam. Tapi  suara-suara itu nyata. Semua ini akhirnya menyoal keadilan dan juga keberpihakan. Ini soal memilih untuk tidak tuli sosial.

Filsuf Perancis, Jacques Rancière, pernah berkata, “Siapa yang diizinkan bicara dan siapa yang didengar adalah bentuk paling dasar dari politik.”  Kalau begitu, mendengarkan sebenarnya adalah tindakan politis. Sebab dengan menentukan arah telinga kita, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang hanya mendengar mereka yang punya kuasa, atau melawan dengan cara membuka telinga bagi mereka yang tak pernah didengar.

Mari Mencoba Hening

Hari Mendengarkan Sedunia adalah momen penting untuk kita semua. Tidak hanya penting untuk para aktivis lingkungan, seniman suara, atau guru seni budaya. Tapi untuk siapa saja di antara kita yang masih punya telinga dan hati. Coba dulu, luangkan waktu sebentar. Kita taruh HP, matikan notifikasi. Lalu kita dengarkan suara-suara kecil di sekitar kita, macam suara angin, jam dinding, atau bahkan suara detak hati sendiri yang udah lama kita abaikan.

Dengarkan juga orang-orang yang kita sayangi, sebelum satu-satunya yang tersisa kelak hanya chat yang tak sempat terbaca. Berani juga untuk mendengarkan mereka yang pikirannya berbeda, yang pandangannya kadang bikin sebel, tapi siapa tahu justru di situlah pelajaran hidup bisa diperoleh. Dan, kalau sudah cukup berani, mari coba dengarkan suara dari dalam diri kita  sendiri. Suara yang malah paling sering kita matikan demi validasi likes atau views. Karena di zaman yang semuanya berlomba tampil dan teriak, diam bisa jadi justeru menjadi hal yang dibutuhkan.

Hari Mendengarkan Sedunia bukan hari seremoni. Tapi, mari kita peringati sebagai ajakan untuk merebut kembali kepekaan kita sebagai manusia. Agar kita bisa hadir, bukan hanya tampil, agar kita bisa nyambung, bukan sekadar online. Karena yang dunia butuhkan hari ini bukan lebih banyak pembicara, tapi lebih banyak pendengar. Bisa jadi, itu bentuk cinta paling mahal yang bisa kita berikan, pada orang lain, pada keluarga, dan pada diri sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: gaya hidupHari Mendengarkan Seduniarenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co