12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 29, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 18 Juli lalu diperingati sebagai Hari Mendengarkan Sedunia. Tapi saya yakin para pembaca yang budiman tentu melewatkannya.  Tidak merayakannya.  Ya sebenarnya tidak apa. Tapi tunggu dulu, kita mungkin perlu mengetahui hal ini agar bisa memetik refleksi dari hari yang indah itu.  Ini bukan soal mendengarkan curhatan kawan baik, nasihat emak, atau kuliahan dosen yang kebanyakan kasih tugas. Yang hadir di sini adalah ajakan, yang lebih tepatnya adalah  tamparan halus, untuk kita agar berhenti sejenak dari hingar-bingar dunia, lalu benar-benar mendengarkan.

Hari Mendengarkan Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010, dan diinisiasi oleh World Listening Project, sebuah organisasi internasional yang mempromosikan suatu pemahaman lebih dalam pada dunia, lingkungan, budaya dan alam sekitar dengan cara mendengar.

Peringatan Hari Mendengarkan Sedunia bukan hanya suatu ajang romantisasi mendengarkan suara alam atau ajakan yang sok-sok mindfulness. Sebenarnya tujuan utamanya adalah membuat kita sadar bahwa lingkungan suara, baik yang dari hutan, kota, atau kamar tetangga, semua itu penting dan layak diperhatikan. Ini soal nguping dengan etika, alias mendengarkan aktif, bukan hanya asal mendengar, macam orang mendengarkan musik sambil scroll TikTok.

Hari  tersebut juga menjadi momen untuk kita menyoroti polusi suara yang makin kacau dan dampaknya yang diam-diam menyiksa, baik ke manusia maupun makhluk lain yang butuh oksigen. Dan terakhir, ini juga merupakan ruang ekspresi, artinya bagaimana suara bisa menjadi karya, entah lewat rekaman, musik nyeleneh, atau seni eksperimental yang membuat orang jadi mikir, “Oh, ternyata dunia ini kedengaran juga, ya.”

Tapi kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk “mendengar”, bukan hanya mendengar dalam arti suara masuk ke telinga, tapi mendengarkan secara sadar. Hadir utuh,  ada di sana, untuk mendengar suara lain yang bukan suara kita sendiri. Nah, sayangnya, kita hidup di zaman yang nyaris mustahil untuk itu. Kok bisa?

Begini, selain anak muda yang lalu lalang di depan gang dengan knalpot brong dan suara tahu bulat yang berkumandang sampai malam, sosial media juga telah menciptakan budaya yang luar biasa bising. Story demi story, status demi status, notifikasi, reminder, pop-up. Semua orang punya mikrofon, semua orang punya panggung. Kalau perlu, bikin panggungnya sendiri. Dan tiap orang seperti berseru, “Tolong dengar aku, ni lho!”,

Ya memang,tidak salah ingin didengar. Tapi kalau semua orang bicara pada saat yang sama, terus, siapa yang mendengarkan? Dalam dunia seperti itu, mendengarkan menjadi tindakan yang langka, bahkan bisa dibilang radikal. Sosiolog Sherry Turkle dalam bukunya “Reclaiming Conversation” (2015), menulis bahwa generasi kita makin sulit membangun koneksi mendalam karena terlalu terbiasa berinteraksi tanpa kehadiran. Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk memahami.  Lalu, di mana letak makna mendengarkan?

Diam yang Penuh Makna

Hari Mendengarkan Sedunia alias World Listening Day,  diperingati setiap 18 Juli untuk mengenang R. Murray Schafer. Ia seorang  komponis dan pencetus konsep “soundscape” atau lanskap suara, dan dia percaya bahwa cara manusia mendengarkan dunia mencerminkan cara mereka hidup di dalamnya.

Jadi, kalau kita tidak bisa lagi mendengar angin, air, burung, atau rintik hujan, bisa jadi itu artinya kita juga kehilangan koneksi dengan dunia alami. Karena mendengarkan suara lingkungan bukan sekadar latihan telinga, tapi juga suatu bentuk  latihan kesadaran. Kita dipaksa berhenti jadi pusat, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini kita abaikan. Suara apa pun. Termasuk suara-suara alam, suara minoritas, suara hati, dan bahkan, yang makin pudar, adalah suara nurani.

Hari ini, kita bisa mendengar lagu dari seluruh penjuru dunia, suara dari Mars, atau di youtube suara dari alam kubur, bahkan giberlink yang merupakan obrolan antar kecerdasan buatan. Tapi ironisnya, kita gagal mendengar suara adik kita sendiri di kamar sebelah yang mungkin sedang ingin curhat.  Carl Rogers, bapak terapi humanistik, menyebut mendengarkan sebagai bentuk paling murni dari penghargaan terhadap manusia lain. Tapi siapa sih yang masih piawai melakukannya hari ini? Orang di sekitar kita lebih sibuk scrolling daripada observing, lebih suka share daripada care. Dalam dunia seperti ini, diam memang kemudian menjadi bentuk sikap yang mencerminkan keberanian.

Sekolah Ikut Bising

Ada juga yang lebih gawat, dunia pendidikan kita ikut-ikutan ribut. Guru sibuk menyampaikan, murid sibuk mencatat, semua berlomba menyelesaikan kurikulum. Kejar tayang kejar target, tapi nampaknya kita tidak benar-benar mengajak siswa mendengarkan.Bukan mendengarkan guru, tapi mendengarkan dunia sekitar, bukan juga mendengarkan jawaban, tapi lebih ke mendengarkan pertanyaan.  Sepertinya makin hari makin jarang ada pengajaran untuk mendengarkan. Padahal itu dasar dari empati, dialog, dan perdamaian.

Coba bayangkan kegiatan sederhana di mana anak-anak diajak ke luar kelas, diminta duduk diam 10 menit, lalu menceritakan suara apa saja yang mereka dengar. Lalu mereka bisa berdiskusi suara mana yang membuat tenang, mana yang membuat risau, dan suara mana yang terasa manusiawi. Dari situ, kita bisa masuk ke pembelajaran lintasbidang, mulai dari IPA, seni, agama, hingga pendidikan karakter. Karena sesungguhnya, mendengarkan adalah jembatan menuju kebijaksanaan.

Mendengarkan Adalah Tindakan Politis

Banyak hal penting di dunia ini yang tidak berteriak nyaring. Kadang mereka itu,  dalam bahasa puitisnya,  hanya berbisik. Dan kita melewatkannya, karena sudah terlalu sibuk dengan speaker dalam diri kita sendiri. “Suara” hutan yang ditebang habis, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang dipotong upah, anak yang ditinggal seharian kerja orang tuanya, lansia yang kesepian. Nah, suara alam dari Halmahera sekarang juga makin samar, kan. Mereka tidak viral, tidak juga trending, kadang memang sengaja dibungkam. Tapi  suara-suara itu nyata. Semua ini akhirnya menyoal keadilan dan juga keberpihakan. Ini soal memilih untuk tidak tuli sosial.

Filsuf Perancis, Jacques Rancière, pernah berkata, “Siapa yang diizinkan bicara dan siapa yang didengar adalah bentuk paling dasar dari politik.”  Kalau begitu, mendengarkan sebenarnya adalah tindakan politis. Sebab dengan menentukan arah telinga kita, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari sistem yang hanya mendengar mereka yang punya kuasa, atau melawan dengan cara membuka telinga bagi mereka yang tak pernah didengar.

Mari Mencoba Hening

Hari Mendengarkan Sedunia adalah momen penting untuk kita semua. Tidak hanya penting untuk para aktivis lingkungan, seniman suara, atau guru seni budaya. Tapi untuk siapa saja di antara kita yang masih punya telinga dan hati. Coba dulu, luangkan waktu sebentar. Kita taruh HP, matikan notifikasi. Lalu kita dengarkan suara-suara kecil di sekitar kita, macam suara angin, jam dinding, atau bahkan suara detak hati sendiri yang udah lama kita abaikan.

Dengarkan juga orang-orang yang kita sayangi, sebelum satu-satunya yang tersisa kelak hanya chat yang tak sempat terbaca. Berani juga untuk mendengarkan mereka yang pikirannya berbeda, yang pandangannya kadang bikin sebel, tapi siapa tahu justru di situlah pelajaran hidup bisa diperoleh. Dan, kalau sudah cukup berani, mari coba dengarkan suara dari dalam diri kita  sendiri. Suara yang malah paling sering kita matikan demi validasi likes atau views. Karena di zaman yang semuanya berlomba tampil dan teriak, diam bisa jadi justeru menjadi hal yang dibutuhkan.

Hari Mendengarkan Sedunia bukan hari seremoni. Tapi, mari kita peringati sebagai ajakan untuk merebut kembali kepekaan kita sebagai manusia. Agar kita bisa hadir, bukan hanya tampil, agar kita bisa nyambung, bukan sekadar online. Karena yang dunia butuhkan hari ini bukan lebih banyak pembicara, tapi lebih banyak pendengar. Bisa jadi, itu bentuk cinta paling mahal yang bisa kita berikan, pada orang lain, pada keluarga, dan pada diri sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: gaya hidupHari Mendengarkan Seduniarenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik dan Tari untuk Putu Bawa Samar Gantang di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Dewa Nyoman Sarjana, Penerima Bali Jani Nugraha: Penulis Sastra Bali Modern dari Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co