3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 2, 2025
in Panggung
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Seremoni pembukaan UVJF 2025 (1/8) │Foto: tatkala.co/Dede

“Jazz itu kayak ngobrol, tapi tanpa kata-kata,” ujar Wayan Putra, seorang pemuda asal Gianyar yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai koperasi.

Malam itu, ia berdiri di antara kerumunan, di Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025. Pandangannya tak lepas dari panggung Subak Stage. Di sana, Smokey Chamber Trio tengah memainkan komposisi orisinal yang belum pernah ia dengar. Tangannya tak henti mengikuti irama, meski wajahnya sesekali menyiratkan kebingungan.

“Saya nggak ngerti notasi, tapi rasanya kayak diajak ngobrol. Mungkin jazz memang begitu,” kata Wayan Putra. Pandangannya masih tetap, lurus ke panggung.

Untuk pertama kalinya, Wayan Putra memutuskan datang ke UVJF 2025 ─ gelaran musik tahunan yang sejak 2023 berpindah ke Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott, di Mawang, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali. Festival ini resmi dibuka untuk ke-12 kalinya pada Jumat, 1 Agustus 2025, dan dihelat sampai Sabtu, 2 Agustus 2025, dengan semangat yang sama: menghadirkan jazz sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan benua.

Pembukaan UVJF 2025 berlangsung meriah namun tetap bersahaja, sebagaimana wajah Ubud yang riuh namun teduh. Sejumlah tokoh hadir memberikan sambutan. Heru Djatmiko (Head of Ticketing UVJF), Lasta Arimbawa (General Manager Sthala), Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace(Ketua PHRI dan perwakilan Puri Ubud), serta Ida Ayu Indah Yustikarini (Kepala Divisi Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Bali) yang turut hadir dan membuka festival secara resmi.

 

Bojan Cvetković Quartet di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Dalam sambutannya, Cok Ace mengapresiasi penyelenggaraan UVJF yang tetap konsisten sampai saat ini. Ia menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan festival ini bagi ekosistem budaya dan pariwisata Bali.

“Musik jazz bisa masuk ke Ubud, dan ke depan, acara seperti ini harus selalu direncanakan dan dilanjutkan,” kata Cok Ace, disambut sorak sorai dan riuh tepuk tangan penonton.

Seremoni berlanjut ke momen simbolik, pembukaan bersama co-founder UVJF, Yuri Mahatma dan A.A. Anom Darsana, serta perwakilan Dinas Pariwisata Gianyar. Tanda dimulainya festival disambut dengan semarak oleh fanfare dari East West European Jazz Orchestra (EWEJO), kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para tokoh dan tim UVJF.

Hari pertama UVJF menghadirkan delapan penampil dengan warna dan karakter beragam, tampil silih berganti di dua panggung utama, Subak Stage dan Giri Stage. Di Subak Stage, Smokey Chamber Trio ─ kelompok musisi Indonesia, membuka dengan komposisi orisinal seperti Kesari (Eko Sumarsano) dan Free Delivery (Yuri Mahatma). Penampilan mereka terasa intim, penuh kehangatan, seolah mengajak penonton masuk ke ruang percakapan musik yang dalam.

Para penonton di depan Giri Stage, UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara di Giri Stage, SILK ─ band asal Jerman, membangkitkan suasana dengan lagu-lagu funk dan soul seperti Tiki Hut Strut (Cory Wong) hingga Boogie Down (Al Jarreau, Michael Omartian). Energi mereka membuat penonton bergerak, ada yang sekadar menganggukan kepala mengikuti irama, ada pula yang berdansa kecil bersama pasangan, semua hal itu tampak biasa, tapi membuat suasana menjadi hidup di tengah festival yang tenang.  

Puncak malam diwarnai oleh penampilan EWEJO. Dengan formasi big-band lengkap, mereka membawakan aransemen seperti Chega de Saudade (Carlos Jobim) dan Street Life (Joe Sample), berpadu dengan vokal memukau Dian Pratiwi yang kembali tampil di tanah air. UVJF 2025 juga menghadirkan keunikan musikal dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah duo Jazz Steps asal Vietnam yang memperlihatkan kolaborasi unik antara jazz modern dan ritme tradisional Vietnam. Sedangkan New Centropezn Quartet dari Rusia membawa warna soul dan folk Armenia dalam setiap lagunya.

Tak kalah mencuri perhatian, di Subak Stage, Astrid Sulaiman bersama Soukma dan Doni Wirandana menyuguhkan komposisi pribadi seperti Motherhood dan Midnight in Mumbul, serta lagu daerah Indonesia seperti Panon Hideung, yang dibalut dengan nuansa jazz harmonis dan mengalun lembut. Dari Serbia, Bojan Cvetković Quartet menambah dimensi musik dengan sentuhan Balkan yang khas dalam jazz modern ─ ritmis dan penuh ekspresi. Tak habis sampai di situ, penampilan Gayatri Quartet di Subak Stage, yang membawakan standar jazz dan lagu pop-soul seperti Desafinado (Antonio Carlos Jobim) hingga Black & Gold (Sam Sparro) menutup hari pertama dengan perpaduan klasik dan modern yang apik.

A.A. Anom Darsana, co-founder UVJF, mengatakan, “tahun ini, kami menyesuaikan diri dengan dinamika global. Ini adalah keputusan yang disusun dengan matang ─ untuk menciptakan pengalaman yang lebih optimal bagi musisi dan penonton, serta menghadirkan ruang yang lebih lapang dan atmosfer yang lebih intim,” ungkapnya.

Duo Jazz Steps saat berkolaborasi dengan Yuri Mahatma (gitar) dan Gustu Brahmanta (drum) di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Yuri Mahatma, co-founder UVJF, membagikan pandangannya terhadap eksistensi jazz di tanah air. “Jazz di Indonesia memang nggak pernah populer, dari zaman dulu sampai sekarang tetap segmented. Untuk menikmati jazz, pertama harus punya level apresiasi ─ keterbukaan hati untuk menerima dan menghargai walaupun tidak mengerti. Setelah itu, baru bisa menikmati musiknya,” tuturnya, setelah tampil bersama duo Jazz Step dari Vietnam di Subak Stage.

Menurut Yuri, UVJF adalah salah satu medium untuk menyebarkan serta menularkan “virus jazz” ke masyarakat yang lebih luas, meskipun hingga saat ini, pengunjung UVJF tetap didominasi kalangan turis mancanegara.

“Jazz nggak akan pernah mati. Jazz itu eksklusif sekaligus inklusif. Eksklusif karena butuh perjuangan untuk menikmatinya, tapi juga inklusif karena siapapun bisa menikmati jazz, terbuka untuk mereka yang bisa menghargai. Bagi saya, jazz adalah demokrasi yang seutuhnya. Bebas, tapi tetap harus ada ilmunya. Kita bisa langsung main bersama, berdialog dengan nada, saling mendengarkan satu sama lain,” ucap Yuri.

Festival ini juga telah tumbuh menjadi panggung jazz berskala global, berkat dukungan berbagai kedutaan dan lembaga kebudayaan, serta kolaborasi lintas negara. Yuri menambahkan, “pertumbuhan festival ini adalah hasil lebih dari satu dekade dedikasi dan kepercayaan yang terbangun dengan komunitas lokal maupun internasional,” katanya.

East West European Jazz Orchestra (EWEJO) di UVJF 2025│Foto: UVJF 2025

Wayan Putra, yang semula awam dengan jazz, hari itu datang dengan keberanian untuk mengenal jazz. Malam itu, ia pulang dengan perasaan berbeda. “Saya masih belum mengerti sepenuhnya, tapi untuk permulaan, saya merasa betah. Menyaksikan jazz, rasanya seperti diajak ngobrol, bukan pakai kata-kata, tapi lewat nada,” ujarnya.

Hari pertama Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025 berhasil menyuguhkan perjalanan musik yang beragam dan hidup. Di tengah suasana hangat dan lanskap alam Ubud yang tenang, penonton menikmati berbagai bentuk jazz, dari kamar musik intim hingga format big-band, dari nuansa Asia Tenggara hingga warna khas Eropa Timur. Festival ini menjadi ruang pertemuan musik dan budaya yang terbuka, dan sangat sesuai berada di Bali.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Salah Satu Perayaan Budaya Paling Dinamis di Indonesia
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Lampion-lampion Harapan dari Nara Devintha dan Nadin di UVJF 2024
Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”
Rason Wardjojo, Gitaris Cilik, dan Bagaimana Ia Mengenal Jazz
Tags: festival musik jazzjazzmusikUbudUbud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Next Post

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co