23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Son Lomri by Son Lomri
August 2, 2025
in Khas
Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

PADA Jumat, 25 Juli 2025, di halaman Museum Buleleng, sedang berlangsung lokakarya dengan tajuk “Pewarna Alam pada Kain”, salah satu mata program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Workshop ini diampu oleh Andika Putra, founder Pagi Motley—industri kreatif yang berfokus pada pewarna alami—dan Dina Widiawan, founder Din’z Handmade—pun perempuan kreatif yang juga intens menggunakan kain berwarna alam untuk produk-produknya.

Namun, lebih dari sekadar workshop celup-menyelup kain, lokakarya ini juga sebagai bentuk respon atas dampak limbah kimia, terutama di bidang industri tekstil. Di situlah letak keterhubungan antara terselenggaranya lokakarya ini dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini, yakni “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”. Artinya, dalam hal ini peserta mendapat dua hal sekaligus, yakni tata cara pembuatan pewarna alam sekaligus pengaplikasiannya pada kain; dan pengetahuan akan dampak dari lingkungan yang tercemar oleh penggunaan bahan kimia pada industri tekstil.

Ya, di tengah derasnya diskursus akan kerusakan lingkungan karena aktivitas industri sandang, workshop ini memberikan satu kesempatan belajar dan menyadarkan para peserta untuk dapat menyembuhkan semesta melalui pewarna alami.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Pagi Motley dan Din’z Handmade tampaknya bukan sekadar tempat usaha. Ia mengandung, katakanlah, napas perjuangan yang luhur. Ya, Andika dan Dina merupakan sosok yang sangat menghormati lingkungan—bukan Wahabi Lingkungan, ya. Mereka meyakini industri pewarna alam dapat mendorong aksi-aksi pelestarian lingkungan hidup, paling tidak dapat melestarikan tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan bahan baku pewarna alam, seperti secang, mangga, ketapang, kelapa, dan indigo.

Kegiatan belajar dan praktik yang berlangsung di depan mobil bersejarah Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja itu, diikuti belasan siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Singaraja dan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Singaraja. Para peserta itu teteg dari awal sampai kegiatan workshop berakhir.

Biru Indigo, Sebuah Fermentasi

Andika Putra, sosok yang sudah berpengalaman selama dua puluh tahun di bidang pewarna alam, begitu menggebu saat menjelaskan cara membuat pewarna alami. Terang saja, melalui Studio Pagi Motley di Sembiran, Tejakula, Andika telah bertungkus-lumus dengan pewarna alam sampai mendapat penghargaan Sewaka Kerthi Mahawidya Nugraha 2023 dari Institut Seni Indonesia Depasar.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

“Proses pewarnaan alam ini seperti memasak sayur, bahannya kita ekstrak dengan cara direbus,” kata Andika kepada para peserta workshop.

Ia mengatakan bahwa berbagai tumbuhan di sekitar kita sebenarnya dapat menghasilkan warna-warna yang unik, dan tentunya sehat. Daun mangga menghasilkan warna kuning, daun ketapang memberikan warna hitam pekat, serabut kelapa diubah menjadi warna coklat, dan kayu secang mampu menghasilkan warna merah.

Selayaknya sebuah lokakarya, para peserta diajak meracik warna indigo, yang menghasilkan warna biru. Berbeda dengan teknik ekstraksi rebus, indigo memerlukan proses yang lebih kompleks dan “spesial”, yaitu fermentasi.

“Yang spesial adalah warna indigo. Itu yang fermentasi. Jadi dibusukkan. Dari daun, kita ubah menjadi pasta dulu. Setelah jadi pasta, kita campur dengan gula lontar, baru bisa jadi warna,” ungkap Andika.

Proses pembuatan pasta indigo ini sendiri membutuhkan waktu dan kesabaran. Daun indigo jenis Strobilanthes cusia, yang aslinya berasal dari Bhutan dan kini telah berhasil dibudidayakan di Jawa dan Bali, direndam selama 24 hingga 48 jam, tergantung kondisi cuaca.

Proses perendaman ini merupakan tahap awal fermentasi untuk mengeluarkan pigmen warna. Selanjutnya, air rendaman tersebut diproses oksidasi dengan penambahan kapur (limestone).

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Tampak di proses itu para peserta dengan antusias mencoba “mengocok” campuran air indigo dan kapur, mirip seperti membuat teh tarik. Proses itu untuk memasukkan oksigen, juga mengubah cairan yang semula kehijauan menjadi biru pekat. Buih-buih yang muncul menjadi penanda jika proses oksidasi telah berjalan baik.

“Jika kapurnya terlalu banyak, pasta yang didapat banyak tapi kualitas warnanya turun. Jika kapurnya sedikit, warnanya bagus tapi pastanya sedikit,” Andika menerangkan berapa takaran yang pas.

Setelah didiamkan semalaman, endapan pasta biru akan terpisah dari airnya. Pasta inilah yang kemudian diaktifkan kembali menggunakan air hangat dan gula aren sebelum siap digunakan untuk mencelup kain. Gula lontar berfungsi sebagai aktivator untuk menaikkan pH larutan pewarna.

Pentingnya Proses Mordanting

Selain teknik pewarnaan yang unik, para pengampu juga menekankan pentingnya persiapan kain. Dina Widiawan menjelaskan bahwa kain harus melalui proses mordanting— proses pra-perlakuan kain, terutama untuk pewarnaan alami, dengan merendamnya dalam larutan mordan (biasanya tawas dan soda abu)—terlebih dahulu sebelum diwarnai.

“Kadang-kadang, kegagalan orang mewarnai itu karena kainnya tidak di-mordan dulu. Mordan itu satu step sebelum pewarnaan untuk menyiapkan kain,” jelas Dina.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Kemudian ia melanjutkan, bahwa proses ini bertujuan agar warna dapat terikat sempurna pada serat kain dan tidak mudah luntur. Uniknya, abu dari sisa daun indigo yang telah difermentasi pun dapat dimanfaatkan untuk proses mordanting, sehingga tidak ada yang terbuang.

Dina juga menambahkan pentingnya pemilihan bahan kain. Karena bermain dengan yang natural, seratnya harus serat natural seperti katun atau linen. Tidak bisa memakai kain bersifat plastik seperti bahan poliester.

Proses pencelupan indigo tidak bisa terburu-buru, ia harus sabar dan tenang. Layaknya sebuah meditasi, kain yang dicelup tidak boleh terlalu banyak bergerak di dalam air untuk menghindari oksidasi yang berlebihan, yang bisa mematikan zat warna.

Untuk mendapatkan warna biru yang pekat, proses pencelupan bisa diulang hingga lebih dari sepuluh kali. Dalam sesi praktik itu, para peserta workshop dibolehkan untuk berkreasi membuat berbagai motif pada kain menggunakan teknik jumputan (tie-dye).

Dengan bantuan jepitan, sumpit, tali rafia, dan karet gelang, para peserta menciptakan pola-pola unik sebelum mencelupkannya ke dalam larutan indigo yang telah disiapkan. Workshop ini memberikan keterampilan baru bagi peserta dan membuka wawasan tentang potensi alam, dan gaya hidup yang sehat di bidang fashion—dan sedikit melangkah menuju penyembuhan semesta dengan pewarna alami.[T]

Reporter: Komang Puja Savitri
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Bongkar Pasang Andre Syahreza dalam Novel “Semua Karena Nirankara”
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Din’z HandmadePagi Motleypewarna alamSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Next Post

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co