2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Son Lomri by Son Lomri
August 2, 2025
in Khas
Lokakarya “Pewarna Alam pada Kain”: Cara Menyembuhkan Semesta dengan Pewarna Alami

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

PADA Jumat, 25 Juli 2025, di halaman Museum Buleleng, sedang berlangsung lokakarya dengan tajuk “Pewarna Alam pada Kain”, salah satu mata program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025. Workshop ini diampu oleh Andika Putra, founder Pagi Motley—industri kreatif yang berfokus pada pewarna alami—dan Dina Widiawan, founder Din’z Handmade—pun perempuan kreatif yang juga intens menggunakan kain berwarna alam untuk produk-produknya.

Namun, lebih dari sekadar workshop celup-menyelup kain, lokakarya ini juga sebagai bentuk respon atas dampak limbah kimia, terutama di bidang industri tekstil. Di situlah letak keterhubungan antara terselenggaranya lokakarya ini dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini, yakni “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta”. Artinya, dalam hal ini peserta mendapat dua hal sekaligus, yakni tata cara pembuatan pewarna alam sekaligus pengaplikasiannya pada kain; dan pengetahuan akan dampak dari lingkungan yang tercemar oleh penggunaan bahan kimia pada industri tekstil.

Ya, di tengah derasnya diskursus akan kerusakan lingkungan karena aktivitas industri sandang, workshop ini memberikan satu kesempatan belajar dan menyadarkan para peserta untuk dapat menyembuhkan semesta melalui pewarna alami.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Pagi Motley dan Din’z Handmade tampaknya bukan sekadar tempat usaha. Ia mengandung, katakanlah, napas perjuangan yang luhur. Ya, Andika dan Dina merupakan sosok yang sangat menghormati lingkungan—bukan Wahabi Lingkungan, ya. Mereka meyakini industri pewarna alam dapat mendorong aksi-aksi pelestarian lingkungan hidup, paling tidak dapat melestarikan tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan bahan baku pewarna alam, seperti secang, mangga, ketapang, kelapa, dan indigo.

Kegiatan belajar dan praktik yang berlangsung di depan mobil bersejarah Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja itu, diikuti belasan siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Singaraja dan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Singaraja. Para peserta itu teteg dari awal sampai kegiatan workshop berakhir.

Biru Indigo, Sebuah Fermentasi

Andika Putra, sosok yang sudah berpengalaman selama dua puluh tahun di bidang pewarna alam, begitu menggebu saat menjelaskan cara membuat pewarna alami. Terang saja, melalui Studio Pagi Motley di Sembiran, Tejakula, Andika telah bertungkus-lumus dengan pewarna alam sampai mendapat penghargaan Sewaka Kerthi Mahawidya Nugraha 2023 dari Institut Seni Indonesia Depasar.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

“Proses pewarnaan alam ini seperti memasak sayur, bahannya kita ekstrak dengan cara direbus,” kata Andika kepada para peserta workshop.

Ia mengatakan bahwa berbagai tumbuhan di sekitar kita sebenarnya dapat menghasilkan warna-warna yang unik, dan tentunya sehat. Daun mangga menghasilkan warna kuning, daun ketapang memberikan warna hitam pekat, serabut kelapa diubah menjadi warna coklat, dan kayu secang mampu menghasilkan warna merah.

Selayaknya sebuah lokakarya, para peserta diajak meracik warna indigo, yang menghasilkan warna biru. Berbeda dengan teknik ekstraksi rebus, indigo memerlukan proses yang lebih kompleks dan “spesial”, yaitu fermentasi.

“Yang spesial adalah warna indigo. Itu yang fermentasi. Jadi dibusukkan. Dari daun, kita ubah menjadi pasta dulu. Setelah jadi pasta, kita campur dengan gula lontar, baru bisa jadi warna,” ungkap Andika.

Proses pembuatan pasta indigo ini sendiri membutuhkan waktu dan kesabaran. Daun indigo jenis Strobilanthes cusia, yang aslinya berasal dari Bhutan dan kini telah berhasil dibudidayakan di Jawa dan Bali, direndam selama 24 hingga 48 jam, tergantung kondisi cuaca.

Proses perendaman ini merupakan tahap awal fermentasi untuk mengeluarkan pigmen warna. Selanjutnya, air rendaman tersebut diproses oksidasi dengan penambahan kapur (limestone).

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Tampak di proses itu para peserta dengan antusias mencoba “mengocok” campuran air indigo dan kapur, mirip seperti membuat teh tarik. Proses itu untuk memasukkan oksigen, juga mengubah cairan yang semula kehijauan menjadi biru pekat. Buih-buih yang muncul menjadi penanda jika proses oksidasi telah berjalan baik.

“Jika kapurnya terlalu banyak, pasta yang didapat banyak tapi kualitas warnanya turun. Jika kapurnya sedikit, warnanya bagus tapi pastanya sedikit,” Andika menerangkan berapa takaran yang pas.

Setelah didiamkan semalaman, endapan pasta biru akan terpisah dari airnya. Pasta inilah yang kemudian diaktifkan kembali menggunakan air hangat dan gula aren sebelum siap digunakan untuk mencelup kain. Gula lontar berfungsi sebagai aktivator untuk menaikkan pH larutan pewarna.

Pentingnya Proses Mordanting

Selain teknik pewarnaan yang unik, para pengampu juga menekankan pentingnya persiapan kain. Dina Widiawan menjelaskan bahwa kain harus melalui proses mordanting— proses pra-perlakuan kain, terutama untuk pewarnaan alami, dengan merendamnya dalam larutan mordan (biasanya tawas dan soda abu)—terlebih dahulu sebelum diwarnai.

“Kadang-kadang, kegagalan orang mewarnai itu karena kainnya tidak di-mordan dulu. Mordan itu satu step sebelum pewarnaan untuk menyiapkan kain,” jelas Dina.

Suasana workshop “Pewarna Alam pada Kain” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Puja

Kemudian ia melanjutkan, bahwa proses ini bertujuan agar warna dapat terikat sempurna pada serat kain dan tidak mudah luntur. Uniknya, abu dari sisa daun indigo yang telah difermentasi pun dapat dimanfaatkan untuk proses mordanting, sehingga tidak ada yang terbuang.

Dina juga menambahkan pentingnya pemilihan bahan kain. Karena bermain dengan yang natural, seratnya harus serat natural seperti katun atau linen. Tidak bisa memakai kain bersifat plastik seperti bahan poliester.

Proses pencelupan indigo tidak bisa terburu-buru, ia harus sabar dan tenang. Layaknya sebuah meditasi, kain yang dicelup tidak boleh terlalu banyak bergerak di dalam air untuk menghindari oksidasi yang berlebihan, yang bisa mematikan zat warna.

Untuk mendapatkan warna biru yang pekat, proses pencelupan bisa diulang hingga lebih dari sepuluh kali. Dalam sesi praktik itu, para peserta workshop dibolehkan untuk berkreasi membuat berbagai motif pada kain menggunakan teknik jumputan (tie-dye).

Dengan bantuan jepitan, sumpit, tali rafia, dan karet gelang, para peserta menciptakan pola-pola unik sebelum mencelupkannya ke dalam larutan indigo yang telah disiapkan. Workshop ini memberikan keterampilan baru bagi peserta dan membuka wawasan tentang potensi alam, dan gaya hidup yang sehat di bidang fashion—dan sedikit melangkah menuju penyembuhan semesta dengan pewarna alami.[T]

Reporter: Komang Puja Savitri
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Bongkar Pasang Andre Syahreza dalam Novel “Semua Karena Nirankara”
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Din’z HandmadePagi Motleypewarna alamSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Next Post

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Menulis dan Bercerita dengan Perspektif Dekolonialisasi | Catatan Workshop “Decolonial Storytelling in the Context of Bali”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co