2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Bebas Mobil Sedunia

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 23, 2021
in Esai
Hari Bebas Mobil Sedunia

Ilustrasi foto tatkala.co

Tanggal 22 September ditetapkan sebagai hari bebas mobil. Di beberapa kota dunia, hari itu diwarnai dengan penutupan jalan untuk kendaraan bermotor. Hari bebas mobil ini mulai diperingati tahun 2000. Apa yang melatarbelakangi gagasan hari bebas mobil/ kendaraan bermotor?

Ada hal yang menarik dari bagian kota-kota dunia yang dijadikan foto dalam kartu pos. Salah satunya adalah bangunan bersejarah dengan jalan yang tidak dilalui kendaraan bermotor melainkan pejalan kaki dan sepeda dayung. Hal yang diaggap umum pada masanya dijadikan simbol keindahan yang langka.

Sedangkan distrik kota dengan jalanan beraspal yang diidolakan sebagai simbol pembangunan nilai keindahannya rendah karena bangunan hanya mementingkan fungsi tanpa ornament dan kendaraan bermotor yang pakir di badan jalan bahkan bangunan berada di bawah jalan layang. Jalan layang yang melilit kota kota di Jawa dan minimnya ruang hijau adalah bukti aspek estetika kota diabaikan. Bali berkat adat yang masih dipertahankan, mencegah timbulnya jalan layang.

Kendaraan bermotor diklaim memudahkan manusia untuk bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lain. Seringkali barang itu jadi simbol status seseorang di masyarakat. Dalam konteks di Indonesia termasuk Bali, saya melihat dan merasakan lima efek samping dari maraknya penggunaan kendaraan pribadi. Kebisingan, polusi udara, kemacetan, kecelakaan dan menyusutnya ruang hijau untuk parkir kendaraan dan pembangunan jalan beraspal.

Suara kendaraan bermotor yang setiap saat melintas di depan rumah siang malam setiap hari mempengaruhi kesehatan seseorang. Lima efek samping dari kendaraan bermotor menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan fisik dan psikologis manusia.

Stress akibat polusi suara, gas beracun dari knalpot, waktu yang terbuang karena harus terhambat sampai tujuan akibat kemacetan yang seharusnya dicapai dalam waktu 30 menit menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih lama bila terjadi kecelakaan, dan udara yang gerah karena kurangnya tanaman penyerap gas rumah kaca adalah dampak kepada mental. Stress menurunkan daya pikir bahkan ketahanan fisik yang membuat seseorang lebih rentan terserang penyakit.

Seseorang yang stress mudah berprasangka hingga tersulut kemarahan yang membuat hubungan sosialnya memburuk. Banyak orang terkena darah tinggi, stroke (pecahnya pembuluh darah) hingga penyakit jantung karena ini.

Gas beracun sisa pembuangan yang dihirup turut menjadi faktor timbulnya sakit pada sistem organ pernafasan. Gas karbon monoksida paling akrab pada kita karena terlihat jelas dari asap. Gas lain yang muncul adalah Nitrogen Oksida saat bensir dibakar menimbulkan reaksi antara oksigen dan nitrogen. Kanker pada paru paru dan tenggorokan yang sering kita dengar dapat jadi pertimbangan untuk memperhatikan secara serius kualitas udara perkotaan dan sub perkotaan.

Orang yang beraktivitas di luar ruangan lebih rentan terkena penyakit sistem pernafasan karena langsung terpapar partikel beracun yang beterbangan di udara dari gas buangan mobil dan motor. Anak anak dan manula paling rentan dengan hal ini. Polusi udara dari kendaraan bermotor berperan dalam pemasanan global.

Tersendatnya lalu lintas akibat penumpukan kendaraan seperti aliran darah yang tidak mengalir lancar akibat banyaknya lemak jenuh dalam pembuluh darah. Akan terasa tidak enak jika darah mengalir seperti itu.

Kemacetan mengurangi produktivitas kerja, potensi daya pikiran dan fisik manusia karena energinya sudah dikuras untuk menghadapi macet, waktu terbuang hingga menurunkan kualitas hubungan antar sesama karena biasanya seseorang yang pulang kerja setelah lelah di tempat kerja ditambah terjebak antrian kendaraan ingin langsung mengurus dirinya sendiri lalu tidur. Sedikit waktu yang dimiliki untuk interaksi yang berarti dengan anggota keluarga di dalam rumah apalagi dengan tetangganya.

Kemacetan membuat kota jadi kurang layak dihuni untuk kesehatan jiwa dan raga. Coba pikirkan, jika waktu tempuh ke tempat publik yang jaraknya sejauh 12 km dari rumah sering membutuhkan waktu 1 jam atau lebih karena menunggu giliran kendaraan lewat padahal orang itu mengendarai mobilnya sendiri. Dia harus mengeluarkan biaya bensin, oli dan aki lebih banyak karena mesin kendaraannya hidup selama 1 jam dibandingkan bila mesin mobilnya bekerja 30 menit. Ruang public jadi kurang dia minati.

Semakin banyak kendaraan bermotor semakin rentan kecelakaan. Kota yang dibangun untuk kendaraan pribadi tidak manusiawi karena meminggirkan anak anak dan manula. Dua kelompok ini tidak mendapat kemudahan akses yang sama pada ruang public dibandingkan dengan orang orang dewasa. Anak di bawah umur yang tidak dibolehkan memiliki SIM sulit bepergian sendiri ke sekolah dari rumahnya tanpa diantar orangtua.

Orang berusia manula yang sudah tidak mampu mengendarai kendaraan tapi masih dapat berjalan kaki atau memanfaatkan kursi roda elektrik sulit bepergian sendiri keluar rumah saat harus membeli kebutuhan sehari hari. Jika ingin ke museum, galeri seni dan taman baca umum harus menunggu orang dewasa mengatarkannya. Ini mengurangi kemandirian anak anak dan manula dan menambah kerepotan orang dewasa.

Mengenai ruang hijau yang disebut paru paru kota. Ruang hijau terus dikikis untuk kendaraan bermotor. Ruang hijau memiliki lima potensi yang berharga.

Pertama sebagai penyedia udara segar dan penyerap polusi udara dan bunyi. Kedua, berpotensi sebagai sumber nutrisi dengan menanam tanaman yang dapat dimakan seperti buah, sayur dan umbi yang mudah tumbuh dengan perawatan minim. Kolam luas di taman kota dengan beragam ikan berpotensi menambah protein.  

Ketiga, dapat menjadi apotik hidup kota dengan beragam tanaman herbal di situ. Keempat,  tanaman yang memancarkan aroma harum seperti bunga melati, sandat dan lain lain dapat dijadikan minyak atsiri dan hydrosol yaitu air sisa penyulingan bunga berfungsi untuk aromaterapi, bahan kosmetik dan pengharum ruangan yang sehat tanpa zat kimia yang tidak kita ketahui asal usunya seperti pada produk pengharum ruangan yang dijual di swalayan.

Kelima, keragaman tanaman tanaman yang dijadikan makanan, obat dan pewangi ditambah kolam ikan berukuran besar yang airnya selalu jernih memancarkan keindahan kota. Kolam besar di taman kota yang mana seseorang dapat melihat pantulan dengan jelas saat berdiri di depannya seperti melihat cermin ditambah aroma wangi dari tanaman sekitar kolam dapat membantu menjernihkan pikiran.

Melihat kota-kota sudah menjadi seperti ini, upaya upaya pembatasan kendaraan pribadi perlu dilakukan. Menertibkan kawasan parkir supaya tidak selalu mobil dan motor dapat parkir tepat di depat tempat tujuan saat seseorang ingin mengunjungi suatu tempat yang membuat kemacetan di jalan raya. Sediakan kawasan tempat parkir khusus dan trotoar yang layak pakai.

Misalnya untuk kawasan Seminyak yang rawan macet, mobil dan motor harus parkir di tempat yang telah ditetapkan lalu harus berjalan kaki jika ingin ke restoran atau tempat belanja yang tidak menyediakan halaman parkir. Tarif parkir diterapkan dalam satuan jam sebagai biaya untuk perawatan jalan raya, trotoar dan fasilitas parkir.

Siapkan jalur sepeda yang aman dan nyaman dengan larangan parkir kendaraan bermotor, dagang kaki lima atau tempat kendaraan berjalan sehingga orang mudah melakukan perjalanan yang jaraknya kurang dari 12 km dengan sepeda dayung. Dengan begini, masyarakat menjadi lebih sehat, menekan peningkatan polusi udara dan polusi suara. Biaya konsumsi BBM, oli dan aki dikurang sehingga orang dapat menggunakan uangnya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat daripada itu.

Mobil dan motor harus diperiksa kelayakannya secara ketat. Semakin tua usia kendaraan semakin bising dan banyak gas buangan yang dikeluarkan. Jika kebisingan dan gas buangan melampaui ambang batas, kendaraannya harus diperbaiki atau tidak boleh dipakai di jalan raya. Jalan yang terus dilalui oleh kendaraan lamban laun menurun kualitasnya sehingga perlu perbaikan. Pajak dari kendaraan bermotor harus dinaikkan karena setiap pengguna kendaraan pribadi wajib membayar biaya perbaikan jalan raya.

Buatlah kebijakan dimana setiap rumah harus memiliki garasi. Bagi yang tinggal di apartement wajib memarkin mobilnya di gedung parkir. Dealer mobil harus memastikan si pembeli mobil memiliki garasi yang cukup sebelum membeli mobil. Ini mencegah mobil yang diparkir menghalangi tetangga yang ingin beraktivitas di luar rumah. Jadi pembatasan kendaraan pribadi amat diperlukan untuk memperkecil efek samping yang ditimbulkan sekaligus membangun kota yang sehat. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perhatian, Perhatian! Festival Seni Bali Jani 2021 Segera Dimulai

Next Post

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co