3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Bebas Mobil Sedunia

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 23, 2021
in Esai
Hari Bebas Mobil Sedunia

Ilustrasi foto tatkala.co

Tanggal 22 September ditetapkan sebagai hari bebas mobil. Di beberapa kota dunia, hari itu diwarnai dengan penutupan jalan untuk kendaraan bermotor. Hari bebas mobil ini mulai diperingati tahun 2000. Apa yang melatarbelakangi gagasan hari bebas mobil/ kendaraan bermotor?

Ada hal yang menarik dari bagian kota-kota dunia yang dijadikan foto dalam kartu pos. Salah satunya adalah bangunan bersejarah dengan jalan yang tidak dilalui kendaraan bermotor melainkan pejalan kaki dan sepeda dayung. Hal yang diaggap umum pada masanya dijadikan simbol keindahan yang langka.

Sedangkan distrik kota dengan jalanan beraspal yang diidolakan sebagai simbol pembangunan nilai keindahannya rendah karena bangunan hanya mementingkan fungsi tanpa ornament dan kendaraan bermotor yang pakir di badan jalan bahkan bangunan berada di bawah jalan layang. Jalan layang yang melilit kota kota di Jawa dan minimnya ruang hijau adalah bukti aspek estetika kota diabaikan. Bali berkat adat yang masih dipertahankan, mencegah timbulnya jalan layang.

Kendaraan bermotor diklaim memudahkan manusia untuk bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lain. Seringkali barang itu jadi simbol status seseorang di masyarakat. Dalam konteks di Indonesia termasuk Bali, saya melihat dan merasakan lima efek samping dari maraknya penggunaan kendaraan pribadi. Kebisingan, polusi udara, kemacetan, kecelakaan dan menyusutnya ruang hijau untuk parkir kendaraan dan pembangunan jalan beraspal.

Suara kendaraan bermotor yang setiap saat melintas di depan rumah siang malam setiap hari mempengaruhi kesehatan seseorang. Lima efek samping dari kendaraan bermotor menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan fisik dan psikologis manusia.

Stress akibat polusi suara, gas beracun dari knalpot, waktu yang terbuang karena harus terhambat sampai tujuan akibat kemacetan yang seharusnya dicapai dalam waktu 30 menit menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih lama bila terjadi kecelakaan, dan udara yang gerah karena kurangnya tanaman penyerap gas rumah kaca adalah dampak kepada mental. Stress menurunkan daya pikir bahkan ketahanan fisik yang membuat seseorang lebih rentan terserang penyakit.

Seseorang yang stress mudah berprasangka hingga tersulut kemarahan yang membuat hubungan sosialnya memburuk. Banyak orang terkena darah tinggi, stroke (pecahnya pembuluh darah) hingga penyakit jantung karena ini.

Gas beracun sisa pembuangan yang dihirup turut menjadi faktor timbulnya sakit pada sistem organ pernafasan. Gas karbon monoksida paling akrab pada kita karena terlihat jelas dari asap. Gas lain yang muncul adalah Nitrogen Oksida saat bensir dibakar menimbulkan reaksi antara oksigen dan nitrogen. Kanker pada paru paru dan tenggorokan yang sering kita dengar dapat jadi pertimbangan untuk memperhatikan secara serius kualitas udara perkotaan dan sub perkotaan.

Orang yang beraktivitas di luar ruangan lebih rentan terkena penyakit sistem pernafasan karena langsung terpapar partikel beracun yang beterbangan di udara dari gas buangan mobil dan motor. Anak anak dan manula paling rentan dengan hal ini. Polusi udara dari kendaraan bermotor berperan dalam pemasanan global.

Tersendatnya lalu lintas akibat penumpukan kendaraan seperti aliran darah yang tidak mengalir lancar akibat banyaknya lemak jenuh dalam pembuluh darah. Akan terasa tidak enak jika darah mengalir seperti itu.

Kemacetan mengurangi produktivitas kerja, potensi daya pikiran dan fisik manusia karena energinya sudah dikuras untuk menghadapi macet, waktu terbuang hingga menurunkan kualitas hubungan antar sesama karena biasanya seseorang yang pulang kerja setelah lelah di tempat kerja ditambah terjebak antrian kendaraan ingin langsung mengurus dirinya sendiri lalu tidur. Sedikit waktu yang dimiliki untuk interaksi yang berarti dengan anggota keluarga di dalam rumah apalagi dengan tetangganya.

Kemacetan membuat kota jadi kurang layak dihuni untuk kesehatan jiwa dan raga. Coba pikirkan, jika waktu tempuh ke tempat publik yang jaraknya sejauh 12 km dari rumah sering membutuhkan waktu 1 jam atau lebih karena menunggu giliran kendaraan lewat padahal orang itu mengendarai mobilnya sendiri. Dia harus mengeluarkan biaya bensin, oli dan aki lebih banyak karena mesin kendaraannya hidup selama 1 jam dibandingkan bila mesin mobilnya bekerja 30 menit. Ruang public jadi kurang dia minati.

Semakin banyak kendaraan bermotor semakin rentan kecelakaan. Kota yang dibangun untuk kendaraan pribadi tidak manusiawi karena meminggirkan anak anak dan manula. Dua kelompok ini tidak mendapat kemudahan akses yang sama pada ruang public dibandingkan dengan orang orang dewasa. Anak di bawah umur yang tidak dibolehkan memiliki SIM sulit bepergian sendiri ke sekolah dari rumahnya tanpa diantar orangtua.

Orang berusia manula yang sudah tidak mampu mengendarai kendaraan tapi masih dapat berjalan kaki atau memanfaatkan kursi roda elektrik sulit bepergian sendiri keluar rumah saat harus membeli kebutuhan sehari hari. Jika ingin ke museum, galeri seni dan taman baca umum harus menunggu orang dewasa mengatarkannya. Ini mengurangi kemandirian anak anak dan manula dan menambah kerepotan orang dewasa.

Mengenai ruang hijau yang disebut paru paru kota. Ruang hijau terus dikikis untuk kendaraan bermotor. Ruang hijau memiliki lima potensi yang berharga.

Pertama sebagai penyedia udara segar dan penyerap polusi udara dan bunyi. Kedua, berpotensi sebagai sumber nutrisi dengan menanam tanaman yang dapat dimakan seperti buah, sayur dan umbi yang mudah tumbuh dengan perawatan minim. Kolam luas di taman kota dengan beragam ikan berpotensi menambah protein.  

Ketiga, dapat menjadi apotik hidup kota dengan beragam tanaman herbal di situ. Keempat,  tanaman yang memancarkan aroma harum seperti bunga melati, sandat dan lain lain dapat dijadikan minyak atsiri dan hydrosol yaitu air sisa penyulingan bunga berfungsi untuk aromaterapi, bahan kosmetik dan pengharum ruangan yang sehat tanpa zat kimia yang tidak kita ketahui asal usunya seperti pada produk pengharum ruangan yang dijual di swalayan.

Kelima, keragaman tanaman tanaman yang dijadikan makanan, obat dan pewangi ditambah kolam ikan berukuran besar yang airnya selalu jernih memancarkan keindahan kota. Kolam besar di taman kota yang mana seseorang dapat melihat pantulan dengan jelas saat berdiri di depannya seperti melihat cermin ditambah aroma wangi dari tanaman sekitar kolam dapat membantu menjernihkan pikiran.

Melihat kota-kota sudah menjadi seperti ini, upaya upaya pembatasan kendaraan pribadi perlu dilakukan. Menertibkan kawasan parkir supaya tidak selalu mobil dan motor dapat parkir tepat di depat tempat tujuan saat seseorang ingin mengunjungi suatu tempat yang membuat kemacetan di jalan raya. Sediakan kawasan tempat parkir khusus dan trotoar yang layak pakai.

Misalnya untuk kawasan Seminyak yang rawan macet, mobil dan motor harus parkir di tempat yang telah ditetapkan lalu harus berjalan kaki jika ingin ke restoran atau tempat belanja yang tidak menyediakan halaman parkir. Tarif parkir diterapkan dalam satuan jam sebagai biaya untuk perawatan jalan raya, trotoar dan fasilitas parkir.

Siapkan jalur sepeda yang aman dan nyaman dengan larangan parkir kendaraan bermotor, dagang kaki lima atau tempat kendaraan berjalan sehingga orang mudah melakukan perjalanan yang jaraknya kurang dari 12 km dengan sepeda dayung. Dengan begini, masyarakat menjadi lebih sehat, menekan peningkatan polusi udara dan polusi suara. Biaya konsumsi BBM, oli dan aki dikurang sehingga orang dapat menggunakan uangnya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat daripada itu.

Mobil dan motor harus diperiksa kelayakannya secara ketat. Semakin tua usia kendaraan semakin bising dan banyak gas buangan yang dikeluarkan. Jika kebisingan dan gas buangan melampaui ambang batas, kendaraannya harus diperbaiki atau tidak boleh dipakai di jalan raya. Jalan yang terus dilalui oleh kendaraan lamban laun menurun kualitasnya sehingga perlu perbaikan. Pajak dari kendaraan bermotor harus dinaikkan karena setiap pengguna kendaraan pribadi wajib membayar biaya perbaikan jalan raya.

Buatlah kebijakan dimana setiap rumah harus memiliki garasi. Bagi yang tinggal di apartement wajib memarkin mobilnya di gedung parkir. Dealer mobil harus memastikan si pembeli mobil memiliki garasi yang cukup sebelum membeli mobil. Ini mencegah mobil yang diparkir menghalangi tetangga yang ingin beraktivitas di luar rumah. Jadi pembatasan kendaraan pribadi amat diperlukan untuk memperkecil efek samping yang ditimbulkan sekaligus membangun kota yang sehat. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perhatian, Perhatian! Festival Seni Bali Jani 2021 Segera Dimulai

Next Post

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co