24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Bebas Mobil Sedunia

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
September 23, 2021
in Esai
Hari Bebas Mobil Sedunia

Ilustrasi foto tatkala.co

Tanggal 22 September ditetapkan sebagai hari bebas mobil. Di beberapa kota dunia, hari itu diwarnai dengan penutupan jalan untuk kendaraan bermotor. Hari bebas mobil ini mulai diperingati tahun 2000. Apa yang melatarbelakangi gagasan hari bebas mobil/ kendaraan bermotor?

Ada hal yang menarik dari bagian kota-kota dunia yang dijadikan foto dalam kartu pos. Salah satunya adalah bangunan bersejarah dengan jalan yang tidak dilalui kendaraan bermotor melainkan pejalan kaki dan sepeda dayung. Hal yang diaggap umum pada masanya dijadikan simbol keindahan yang langka.

Sedangkan distrik kota dengan jalanan beraspal yang diidolakan sebagai simbol pembangunan nilai keindahannya rendah karena bangunan hanya mementingkan fungsi tanpa ornament dan kendaraan bermotor yang pakir di badan jalan bahkan bangunan berada di bawah jalan layang. Jalan layang yang melilit kota kota di Jawa dan minimnya ruang hijau adalah bukti aspek estetika kota diabaikan. Bali berkat adat yang masih dipertahankan, mencegah timbulnya jalan layang.

Kendaraan bermotor diklaim memudahkan manusia untuk bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lain. Seringkali barang itu jadi simbol status seseorang di masyarakat. Dalam konteks di Indonesia termasuk Bali, saya melihat dan merasakan lima efek samping dari maraknya penggunaan kendaraan pribadi. Kebisingan, polusi udara, kemacetan, kecelakaan dan menyusutnya ruang hijau untuk parkir kendaraan dan pembangunan jalan beraspal.

Suara kendaraan bermotor yang setiap saat melintas di depan rumah siang malam setiap hari mempengaruhi kesehatan seseorang. Lima efek samping dari kendaraan bermotor menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan fisik dan psikologis manusia.

Stress akibat polusi suara, gas beracun dari knalpot, waktu yang terbuang karena harus terhambat sampai tujuan akibat kemacetan yang seharusnya dicapai dalam waktu 30 menit menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih lama bila terjadi kecelakaan, dan udara yang gerah karena kurangnya tanaman penyerap gas rumah kaca adalah dampak kepada mental. Stress menurunkan daya pikir bahkan ketahanan fisik yang membuat seseorang lebih rentan terserang penyakit.

Seseorang yang stress mudah berprasangka hingga tersulut kemarahan yang membuat hubungan sosialnya memburuk. Banyak orang terkena darah tinggi, stroke (pecahnya pembuluh darah) hingga penyakit jantung karena ini.

Gas beracun sisa pembuangan yang dihirup turut menjadi faktor timbulnya sakit pada sistem organ pernafasan. Gas karbon monoksida paling akrab pada kita karena terlihat jelas dari asap. Gas lain yang muncul adalah Nitrogen Oksida saat bensir dibakar menimbulkan reaksi antara oksigen dan nitrogen. Kanker pada paru paru dan tenggorokan yang sering kita dengar dapat jadi pertimbangan untuk memperhatikan secara serius kualitas udara perkotaan dan sub perkotaan.

Orang yang beraktivitas di luar ruangan lebih rentan terkena penyakit sistem pernafasan karena langsung terpapar partikel beracun yang beterbangan di udara dari gas buangan mobil dan motor. Anak anak dan manula paling rentan dengan hal ini. Polusi udara dari kendaraan bermotor berperan dalam pemasanan global.

Tersendatnya lalu lintas akibat penumpukan kendaraan seperti aliran darah yang tidak mengalir lancar akibat banyaknya lemak jenuh dalam pembuluh darah. Akan terasa tidak enak jika darah mengalir seperti itu.

Kemacetan mengurangi produktivitas kerja, potensi daya pikiran dan fisik manusia karena energinya sudah dikuras untuk menghadapi macet, waktu terbuang hingga menurunkan kualitas hubungan antar sesama karena biasanya seseorang yang pulang kerja setelah lelah di tempat kerja ditambah terjebak antrian kendaraan ingin langsung mengurus dirinya sendiri lalu tidur. Sedikit waktu yang dimiliki untuk interaksi yang berarti dengan anggota keluarga di dalam rumah apalagi dengan tetangganya.

Kemacetan membuat kota jadi kurang layak dihuni untuk kesehatan jiwa dan raga. Coba pikirkan, jika waktu tempuh ke tempat publik yang jaraknya sejauh 12 km dari rumah sering membutuhkan waktu 1 jam atau lebih karena menunggu giliran kendaraan lewat padahal orang itu mengendarai mobilnya sendiri. Dia harus mengeluarkan biaya bensin, oli dan aki lebih banyak karena mesin kendaraannya hidup selama 1 jam dibandingkan bila mesin mobilnya bekerja 30 menit. Ruang public jadi kurang dia minati.

Semakin banyak kendaraan bermotor semakin rentan kecelakaan. Kota yang dibangun untuk kendaraan pribadi tidak manusiawi karena meminggirkan anak anak dan manula. Dua kelompok ini tidak mendapat kemudahan akses yang sama pada ruang public dibandingkan dengan orang orang dewasa. Anak di bawah umur yang tidak dibolehkan memiliki SIM sulit bepergian sendiri ke sekolah dari rumahnya tanpa diantar orangtua.

Orang berusia manula yang sudah tidak mampu mengendarai kendaraan tapi masih dapat berjalan kaki atau memanfaatkan kursi roda elektrik sulit bepergian sendiri keluar rumah saat harus membeli kebutuhan sehari hari. Jika ingin ke museum, galeri seni dan taman baca umum harus menunggu orang dewasa mengatarkannya. Ini mengurangi kemandirian anak anak dan manula dan menambah kerepotan orang dewasa.

Mengenai ruang hijau yang disebut paru paru kota. Ruang hijau terus dikikis untuk kendaraan bermotor. Ruang hijau memiliki lima potensi yang berharga.

Pertama sebagai penyedia udara segar dan penyerap polusi udara dan bunyi. Kedua, berpotensi sebagai sumber nutrisi dengan menanam tanaman yang dapat dimakan seperti buah, sayur dan umbi yang mudah tumbuh dengan perawatan minim. Kolam luas di taman kota dengan beragam ikan berpotensi menambah protein.  

Ketiga, dapat menjadi apotik hidup kota dengan beragam tanaman herbal di situ. Keempat,  tanaman yang memancarkan aroma harum seperti bunga melati, sandat dan lain lain dapat dijadikan minyak atsiri dan hydrosol yaitu air sisa penyulingan bunga berfungsi untuk aromaterapi, bahan kosmetik dan pengharum ruangan yang sehat tanpa zat kimia yang tidak kita ketahui asal usunya seperti pada produk pengharum ruangan yang dijual di swalayan.

Kelima, keragaman tanaman tanaman yang dijadikan makanan, obat dan pewangi ditambah kolam ikan berukuran besar yang airnya selalu jernih memancarkan keindahan kota. Kolam besar di taman kota yang mana seseorang dapat melihat pantulan dengan jelas saat berdiri di depannya seperti melihat cermin ditambah aroma wangi dari tanaman sekitar kolam dapat membantu menjernihkan pikiran.

Melihat kota-kota sudah menjadi seperti ini, upaya upaya pembatasan kendaraan pribadi perlu dilakukan. Menertibkan kawasan parkir supaya tidak selalu mobil dan motor dapat parkir tepat di depat tempat tujuan saat seseorang ingin mengunjungi suatu tempat yang membuat kemacetan di jalan raya. Sediakan kawasan tempat parkir khusus dan trotoar yang layak pakai.

Misalnya untuk kawasan Seminyak yang rawan macet, mobil dan motor harus parkir di tempat yang telah ditetapkan lalu harus berjalan kaki jika ingin ke restoran atau tempat belanja yang tidak menyediakan halaman parkir. Tarif parkir diterapkan dalam satuan jam sebagai biaya untuk perawatan jalan raya, trotoar dan fasilitas parkir.

Siapkan jalur sepeda yang aman dan nyaman dengan larangan parkir kendaraan bermotor, dagang kaki lima atau tempat kendaraan berjalan sehingga orang mudah melakukan perjalanan yang jaraknya kurang dari 12 km dengan sepeda dayung. Dengan begini, masyarakat menjadi lebih sehat, menekan peningkatan polusi udara dan polusi suara. Biaya konsumsi BBM, oli dan aki dikurang sehingga orang dapat menggunakan uangnya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat daripada itu.

Mobil dan motor harus diperiksa kelayakannya secara ketat. Semakin tua usia kendaraan semakin bising dan banyak gas buangan yang dikeluarkan. Jika kebisingan dan gas buangan melampaui ambang batas, kendaraannya harus diperbaiki atau tidak boleh dipakai di jalan raya. Jalan yang terus dilalui oleh kendaraan lamban laun menurun kualitasnya sehingga perlu perbaikan. Pajak dari kendaraan bermotor harus dinaikkan karena setiap pengguna kendaraan pribadi wajib membayar biaya perbaikan jalan raya.

Buatlah kebijakan dimana setiap rumah harus memiliki garasi. Bagi yang tinggal di apartement wajib memarkin mobilnya di gedung parkir. Dealer mobil harus memastikan si pembeli mobil memiliki garasi yang cukup sebelum membeli mobil. Ini mencegah mobil yang diparkir menghalangi tetangga yang ingin beraktivitas di luar rumah. Jadi pembatasan kendaraan pribadi amat diperlukan untuk memperkecil efek samping yang ditimbulkan sekaligus membangun kota yang sehat. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perhatian, Perhatian! Festival Seni Bali Jani 2021 Segera Dimulai

Next Post

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co