22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sentral Parkir, Jalan Kaki, Shuttle Bus dan Saran Kecil Untuk Lalu-Lintas Ubud

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
July 8, 2022
in Esai
Sentral Parkir, Jalan Kaki, Shuttle Bus dan Saran Kecil Untuk Lalu-Lintas Ubud

Suasana di Ubud. Foto diambil 3 Juli 2022 | Doni Wijaya

Pada tanggal 3 Juli 2022 siang saya mengendarai mobil menuju Little Talk Café yang berada di Jalan Raya Ubud di Ubud, Gianyar, Bali, untuk menghadiri acara Ubud Bookclub. Saya masuk dari arah Sukawati. Lalu lintas relatif lancar sampai di Jalan Cok Rai Pudak. Mulai dari jalan raya Teges kemacetan muncul.

Saya mengendarai mobil menelusuri Jalan Made Lebah lalu belok ke utara menuju Jalan Pengosekan Ubud dan kemudian melalui Jalan Raya Monkey Forest. Rute tersebut saya pilih karena saya anggap lebih lancar daripada rute Jalan Cok Gede Rai-Jalan Raya Ubud.

Ternyata dugaan saya salah. Kemacetan yang terjadi di rute yang saya lalui sama saja dengan rute yang sebelumnya saya lalui saat menuju Hotel Gayatri untuk menghadiri acara yang sama dua minggu lalu.

Setelah melalui kemacetan, saya akhirnya memarkir mobil di tepi Jalan Raya Ubud yang tidak jauh dari Little Talk. Sambil menunggu waktu, saya keluar dari mobil dan memutuskan untuk berjalan kaki. Saya selalu parkir mobil di tempat yang paling gampang keluar masuk mobil sekalipun harus berjalan puluhan meter hingga ratusan meter.

Perbedaan yang saya temukan berjalan kaki dibandingkan dengan mengendarai mobil dan sepeda motor adalah terdapat sentuhan langsung dengan bentang lahan (landscape) yang dilalui ketika berjalan. Saat menyetir mobil saya berada di ruangan tertutup, tidak sepenuhnya bersentuhan dengan lingkungan.

Begitu juga dengan sepda motor, karena lajunya cepat, sentuhan yang saya dapat amat minim. Dengan Saya merasakan langsung polusi udara, kebisingan, ketidaklayakan jalur pejalan kaki, dan melihat bahwa pemandangan menjadi terganggu saat kendaraan bermotor parkir di badan jalan.

Berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari tempat parkir tidak buruk. Justru akan lebih sehat.

Saya berpikir, dan punya saran sederhana untuk mengatasi kemacetan di Ubud. Yakni, ada sentral parkir terpadu, di mana ada tempat pejalan kaki yang nyaman, dan ada shuttle bus dengan pengaturan yang bagus.

Sentral Parkir Terpadu

Saat ini ada satu sentra parkir di Ubud yaitu di Jalan Monkey Forest. Penggunaan sentra parkir tersebut belum optimal. Di sepanjang jalan Monkey Forest, badan jalan sering dipakai untuk parkir kendaraan. Ini buat arus lalu lintas tersendat.

Orang orang lebih suka parkir kendaraan di badan jalan supaya langsung sampai tujuan dan tidak berjalan jauh. Meski sudah ada rambu dilarang parkir, tetap saja dilanggar. Ketidakdisiplinanan berlalulintas dan lemahnya penegakkan aturan harus dibenahi. Semua ini berakibat pada kurang nyamannya wisatawan. Tiap kemacetan itu pasti membuang waktu dan materi. Bensin, oli dan aki terkuras sia sia.  

Sentra parkir bukan hanya sekedar tempat parkir mobil saja. Ia terhubung dengan kendaraan khusus, penataan parkir dan jalur pejalan kaki. Penggunaan sentra parkir akan maksimal bila tiga hal yang terhubung dengannya memadai.

Foto: Sentral Parkir di Ubud

Pemerintah harus siapkan shuttle bus dari sentra parkir yang melintasi jalan Monkey Forest, Jalan Hanoman, Jalan Dewi Sita dan Jalan Raya Ubud yang membentang dari Istana Ubud sampai kantor BPD Bali yang terletak di persimpangan Jalan Raya Ubud dan Jalan Hanoman.

Tiap tiga ratus meter harus disiapkan halte pemberhentian.  Tanda Halte bus harus jelas dan tidak terhalangi oleh pohon, tiang atau papan reklame. Shuttle bus wajib memiliki tempat duduk yang nyaman dan ber AC demi kenyamanan penumpang yang merupakan wisatawan di Ubud. 

Di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh shuttle bus, badan jalan sama sekali tidak boleh dijadikan tempat parkir atau dagangan kaki lima. Tiap kendaraan bermotor harus parkir di sentra parkir atau di tempat yang disediakan oleh pemilik usaha.

Ini akan memperlancar lalu lintas dan meningkatkan efisiensi waktu perjalanan shuttle bus. Orang orang akan semakin banyak memanfaatkan kendaraan itu karena waktu tempuhnya. Waktu pengiriman barang juga akan lebih singkat.

Semua Gembira, Semua Tersenyum | Wagub Cok Ace Buka Ubud Food Festival 2022

Pemandangan kota tentunya akan lebih asri bila parkir tertata. Dari segi aturan, Polisi lalu lintas melakukan patrol di kawasan untuk memastikan aturan terlaksana. Pemilik kendaraan yang melanggar parkir harus dikenakan sanksi. Ini juga akan menumbuhkan budaya berjalan kaki dan mengendarai sepeda dayung karena “dipaksa”oleh lingkungan untuk itu.

Jalur Pejalan Kaki di Jalan Monkey Forest, Jalan Dewi Sita, Jalan Hanoman dan Jalan Raya Ubud masih belum sepenuhnya layak. Ukuran yang sempit dan tidak mulus membuat pejalan kaki kurang nyaman. Kadang kala sepeda motor terlihat parkir di atas trotoar membuat pejalan kaki merasa rentan. Mereka berpotensi besar terbentur sepeda motor yang parkir di tengah jalan.

Trotoar tempat orang berjalan harus bebas dari pedagang kaki lima dan parkir kendaraan. Benahi trotoar agar aman dan nyaman digunakan untuk segala usia. Lubang lubang harus ditutup dan bagian yang tidak rata karena lapisannya rusak harus diperbaiki. Trotoar yang inklusif untuk segala usia dapat dilalui oleh kursi roda dan orang difabilitas.

Jika sentral parkir Monkey Forest berfungsi maksimal dan terpadu sehingga arus lalu lintas lancar di kelurahan tersebut, maka akan terjadi efek beruntun yaitu kendaraan yang melintasi ujung timur jalan raya Ubud yang ditandai dengan patung Dewa Indra sampai Jalan Raya Sanggingan akan relative lebih lancar. Kemacetan akan semakin berkurang.

Waktu tempuh kendaraan dari Jalan Raya Pengosekan, Jalan Cok Gede Rai dan Jalan Made Lebah juga lebih singkat. Tiga jalan ini adalah rute yang paling sering dilalui oleh kendaraan yang datang dari arah Denpasar, Kuta Selatan, Kuta Utara, dan Kecamatan Sukawati menuju pusat Ubud. [T]

Tags: balilalu lintasPariwisataUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stand Up Paddle, Jaga laut, di Pantai Penyumbahan Desa Les

Next Post

Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok

Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co