4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2025
in Esai
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Foto ilustrasi: tatkala.co

Antara Ungkapan dan Kesadaran

Di tengah masyarakat Bali yang kaya akan simbol dan bahasa ritual, ungkapan “mula keto” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah, artinya sederhana: “memang begitu adanya.” Tapi apakah sesederhana itu?

Ungkapan ini bisa menjadi afirmasi terhadap realitas yang tak terbantahkan, sekaligus penanda kerendahan hati untuk tidak mengklaim kebenaran mutlak. Namun, seperti cermin bening yang memantulkan apa pun yang berdiri di depannya, makna mula keto sangat tergantung pada siapa yang mengucapkan, dan dari tingkat kesadaran mana kita berada.

Dua Kutub Mula Keto: Ketundukan atau Kebijaksanaan?

Ketika mula keto diucapkan oleh seseorang dengan kesadaran spiritual yang tinggi, maka ia menjadi semacam koan Zen—pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan sebagian kebenaran harus dijalani, bukan dijelaskan. Maka ungkapan itu seperti undangan untuk menyelami misteri kehidupan yang tidak linier, kompleks, dan penuh lapisan makna.

Namun di sisi lain, jika ungkapan yang sama lahir dari bibir seseorang yang menyerah pada ketidaktahuan atau kemalasan berpikir, mula keto berubah menjadi tameng yang menutup kemungkinan dialog. Ia menjadi perisai malas, tanda ketundukan pada dogma, atau bahkan simbol mentalitas budak.

Nietzsche menyindir ini dengan keras. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyebut manusia yang tak mampu berpikir sendiri sebagai “gerombolan domba” yang berlindung di balik norma dan tradisi tanpa menyelami hakikatnya. Maka mula keto pun bisa menjadi bahaya, jika hanya menjadi alibi untuk berhenti bertanya dan menemukan makna tersirat di balik kata.

Kesadaran dan Kedalaman Pendengaran

Reaksi terhadap ungkapan mula keto juga tergantung pada pendengarnya. Seorang pencari kebenaran mungkin akan tergerak untuk bertanya lebih dalam, menggali lapisan makna di baliknya. Sementara orang lain mungkin akan menerimanya sebagai finalitas—“ya sudahlah, memang begitu.”

Dalam konteks ini, mula keto bisa menjadi ujian: apakah kita berpikir kritis atau hanya mengulang pola lama, sebagai tradisi tanpa nalar?

Sebagaimana dikatakan Guruji Anand Krishna, “kita tidak dapat menerima kebenaran secara utuh.” Yang kita tangkap hanyalah potongan-potongan cahaya dari prisma besar yang disebut kebenaran universal. Dari potongan itu lahirlah sains, lahir pula agama. Tapi keduanya tidak pernah cukup mewakili keseluruhan.

Antara Sains, Agama, dan Filsafat: Wilayah Tak Bertuan

Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa antara agama dan filsafat ada “wilayah tak bertuan”. Wilayah ini diserang oleh agama maupun sains. Daerah tak bertuan itu adalah filsafat.

Mula keto, ketika dibaca dari sudut ini, justru membuka jalan bagi filsafat untuk hidup. Ia menolak penjelasan tunggal. Ia memberi ruang untuk ambigu dan ketakterdugaan. Dan dalam dunia yang makin terpolarisasi antara “logika saintifik” dan “iman dogmatik,” kehadiran filsafat menjadi sangat relevan.

Hindu sebagai Sanatana Dharma: Melampaui Dikotomi

Uniknya, Hindu sebagai Sanatana Dharma tidak mengidentifikasi diri hanya pada sains, agama, atau filsafat. Ia melampaui ketiganya, namun juga mengandung ketiganya. Memaknai Hindu hanya sebatas agama, apalagi dalam lingkup geografi kecil hanyalah bentuk pembonsaian terhadap kebesaran dan kemuliaan Hindu. Meminjam istilah Yang Mulia Dalai Lama, Beyond Religion. Itulah Hindu. Kalaupun kelihatan ada perbedaan itu adalah bentuk luaran semata, pada tataran ritul, berdasarkan Desa Kala, Patra.

Dalam terang Sanatana Dharma, ungkapan seperti mula keto bisa dimaknai sebagai bentuk penerimaan penuh terhadap apa adanya, bukan sebagai bentuk pasrah buta, tetapi kesadaran penuh terhadap realitas. Tidak ada yang perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu diklaim sepenuhnya. Semua adalah bagian dari rta, keteraturan semesta yang dinamis.

Perspektif Psikologi Kesadaran: Hawkins dan Lapisan Batin

David R. Hawkins, dalam Power vs. Force, mengembangkan Peta Kesadaran (Map of Consciousness) yang menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap suatu peristiwa—bahkan terhadap ungkapan seperti mula keto—sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang.

  • Di level rendah (20-100), seperti rasa malu, bersalah, apatis, ungkapan itu mungkin berarti ketidakberdayaan.
  • Di level netral (250), ia menjadi bentuk penerimaan.
  • Di atas 400, ketika akal sehat dan cinta sudah berkembang, mula keto bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup.
  • Dan di level tertinggi (600+), ia menjadi ungkapan misteri tertinggi yang perlu diselami sehingga melahirkan pengalaman pribadi terhadap sebuah kebenaran sejati.

Maka, satu kalimat sederhana bisa memiliki seribu makna tergantung siapa yang memandangnya dan dari mana ia melihat.

Filsafat Laku: Bertindak dengan Kesadaran

Dalam dunia yang makin tergesa, kita sering ingin semua dijelaskan dan diberi nama. Tapi hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa ditangkap logika. Seperti dalam Zen, kadang sebuah tamparan lebih bermakna daripada seribu kata. Mula keto dalam versi yang tercerahkan adalah tamparan kesadaran itu: “berhentilah mengutak-atik, jalanilah.”

Itu sebabnya para bijak, alih-alih menjelaskan secara panjang lebar, kadang hanya berkata, “anak mula keto.” Bukan karena malas menjawab, tapi karena tahu bahwa jawaban sejati harus ditemukan sendiri, dari dalam batin.

Kesadaran Kita Sendirilah yang Menentukan

Kita berada di zaman ketika informasi tak terbatas, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Di sinilah relevansi refleksi terhadap ungkapan seperti mula keto. Ia menguji bukan hanya siapa yang mengucapkannya, tetapi siapa yang mendengarnya.

Maka pertanyaannya bukan: “apa arti mula keto?” Tapi: “dari tingkat kesadaran mana aku memaknainya?”

Jika kita memaknainya sebagai pintu masuk menuju pemahaman batin, maka mula keto bisa menjadi jñana, pengetahuan intuitif. Tapi jika kita memaknainya sebagai akhir dari pertanyaan, ia bisa jadi racun pemalas pikir.

Kita punya pilihan. Dan pilihan itu menentukan arah hidup kita: menjadi budak dogma atau pejalan sunyi menuju terang kesadaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filosofifilsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendakian ke Pucak Mangu, Napak Tilas Leluhur dan Syukur atas Anugerah Alam

Next Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co