24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2025
in Esai
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Foto ilustrasi: tatkala.co

Antara Ungkapan dan Kesadaran

Di tengah masyarakat Bali yang kaya akan simbol dan bahasa ritual, ungkapan “mula keto” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah, artinya sederhana: “memang begitu adanya.” Tapi apakah sesederhana itu?

Ungkapan ini bisa menjadi afirmasi terhadap realitas yang tak terbantahkan, sekaligus penanda kerendahan hati untuk tidak mengklaim kebenaran mutlak. Namun, seperti cermin bening yang memantulkan apa pun yang berdiri di depannya, makna mula keto sangat tergantung pada siapa yang mengucapkan, dan dari tingkat kesadaran mana kita berada.

Dua Kutub Mula Keto: Ketundukan atau Kebijaksanaan?

Ketika mula keto diucapkan oleh seseorang dengan kesadaran spiritual yang tinggi, maka ia menjadi semacam koan Zen—pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan sebagian kebenaran harus dijalani, bukan dijelaskan. Maka ungkapan itu seperti undangan untuk menyelami misteri kehidupan yang tidak linier, kompleks, dan penuh lapisan makna.

Namun di sisi lain, jika ungkapan yang sama lahir dari bibir seseorang yang menyerah pada ketidaktahuan atau kemalasan berpikir, mula keto berubah menjadi tameng yang menutup kemungkinan dialog. Ia menjadi perisai malas, tanda ketundukan pada dogma, atau bahkan simbol mentalitas budak.

Nietzsche menyindir ini dengan keras. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyebut manusia yang tak mampu berpikir sendiri sebagai “gerombolan domba” yang berlindung di balik norma dan tradisi tanpa menyelami hakikatnya. Maka mula keto pun bisa menjadi bahaya, jika hanya menjadi alibi untuk berhenti bertanya dan menemukan makna tersirat di balik kata.

Kesadaran dan Kedalaman Pendengaran

Reaksi terhadap ungkapan mula keto juga tergantung pada pendengarnya. Seorang pencari kebenaran mungkin akan tergerak untuk bertanya lebih dalam, menggali lapisan makna di baliknya. Sementara orang lain mungkin akan menerimanya sebagai finalitas—“ya sudahlah, memang begitu.”

Dalam konteks ini, mula keto bisa menjadi ujian: apakah kita berpikir kritis atau hanya mengulang pola lama, sebagai tradisi tanpa nalar?

Sebagaimana dikatakan Guruji Anand Krishna, “kita tidak dapat menerima kebenaran secara utuh.” Yang kita tangkap hanyalah potongan-potongan cahaya dari prisma besar yang disebut kebenaran universal. Dari potongan itu lahirlah sains, lahir pula agama. Tapi keduanya tidak pernah cukup mewakili keseluruhan.

Antara Sains, Agama, dan Filsafat: Wilayah Tak Bertuan

Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa antara agama dan filsafat ada “wilayah tak bertuan”. Wilayah ini diserang oleh agama maupun sains. Daerah tak bertuan itu adalah filsafat.

Mula keto, ketika dibaca dari sudut ini, justru membuka jalan bagi filsafat untuk hidup. Ia menolak penjelasan tunggal. Ia memberi ruang untuk ambigu dan ketakterdugaan. Dan dalam dunia yang makin terpolarisasi antara “logika saintifik” dan “iman dogmatik,” kehadiran filsafat menjadi sangat relevan.

Hindu sebagai Sanatana Dharma: Melampaui Dikotomi

Uniknya, Hindu sebagai Sanatana Dharma tidak mengidentifikasi diri hanya pada sains, agama, atau filsafat. Ia melampaui ketiganya, namun juga mengandung ketiganya. Memaknai Hindu hanya sebatas agama, apalagi dalam lingkup geografi kecil hanyalah bentuk pembonsaian terhadap kebesaran dan kemuliaan Hindu. Meminjam istilah Yang Mulia Dalai Lama, Beyond Religion. Itulah Hindu. Kalaupun kelihatan ada perbedaan itu adalah bentuk luaran semata, pada tataran ritul, berdasarkan Desa Kala, Patra.

Dalam terang Sanatana Dharma, ungkapan seperti mula keto bisa dimaknai sebagai bentuk penerimaan penuh terhadap apa adanya, bukan sebagai bentuk pasrah buta, tetapi kesadaran penuh terhadap realitas. Tidak ada yang perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu diklaim sepenuhnya. Semua adalah bagian dari rta, keteraturan semesta yang dinamis.

Perspektif Psikologi Kesadaran: Hawkins dan Lapisan Batin

David R. Hawkins, dalam Power vs. Force, mengembangkan Peta Kesadaran (Map of Consciousness) yang menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap suatu peristiwa—bahkan terhadap ungkapan seperti mula keto—sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang.

  • Di level rendah (20-100), seperti rasa malu, bersalah, apatis, ungkapan itu mungkin berarti ketidakberdayaan.
  • Di level netral (250), ia menjadi bentuk penerimaan.
  • Di atas 400, ketika akal sehat dan cinta sudah berkembang, mula keto bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup.
  • Dan di level tertinggi (600+), ia menjadi ungkapan misteri tertinggi yang perlu diselami sehingga melahirkan pengalaman pribadi terhadap sebuah kebenaran sejati.

Maka, satu kalimat sederhana bisa memiliki seribu makna tergantung siapa yang memandangnya dan dari mana ia melihat.

Filsafat Laku: Bertindak dengan Kesadaran

Dalam dunia yang makin tergesa, kita sering ingin semua dijelaskan dan diberi nama. Tapi hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa ditangkap logika. Seperti dalam Zen, kadang sebuah tamparan lebih bermakna daripada seribu kata. Mula keto dalam versi yang tercerahkan adalah tamparan kesadaran itu: “berhentilah mengutak-atik, jalanilah.”

Itu sebabnya para bijak, alih-alih menjelaskan secara panjang lebar, kadang hanya berkata, “anak mula keto.” Bukan karena malas menjawab, tapi karena tahu bahwa jawaban sejati harus ditemukan sendiri, dari dalam batin.

Kesadaran Kita Sendirilah yang Menentukan

Kita berada di zaman ketika informasi tak terbatas, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Di sinilah relevansi refleksi terhadap ungkapan seperti mula keto. Ia menguji bukan hanya siapa yang mengucapkannya, tetapi siapa yang mendengarnya.

Maka pertanyaannya bukan: “apa arti mula keto?” Tapi: “dari tingkat kesadaran mana aku memaknainya?”

Jika kita memaknainya sebagai pintu masuk menuju pemahaman batin, maka mula keto bisa menjadi jñana, pengetahuan intuitif. Tapi jika kita memaknainya sebagai akhir dari pertanyaan, ia bisa jadi racun pemalas pikir.

Kita punya pilihan. Dan pilihan itu menentukan arah hidup kita: menjadi budak dogma atau pejalan sunyi menuju terang kesadaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filosofifilsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendakian ke Pucak Mangu, Napak Tilas Leluhur dan Syukur atas Anugerah Alam

Next Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co