24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2025
in Esai
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Foto ilustrasi: tatkala.co

Antara Ungkapan dan Kesadaran

Di tengah masyarakat Bali yang kaya akan simbol dan bahasa ritual, ungkapan “mula keto” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah, artinya sederhana: “memang begitu adanya.” Tapi apakah sesederhana itu?

Ungkapan ini bisa menjadi afirmasi terhadap realitas yang tak terbantahkan, sekaligus penanda kerendahan hati untuk tidak mengklaim kebenaran mutlak. Namun, seperti cermin bening yang memantulkan apa pun yang berdiri di depannya, makna mula keto sangat tergantung pada siapa yang mengucapkan, dan dari tingkat kesadaran mana kita berada.

Dua Kutub Mula Keto: Ketundukan atau Kebijaksanaan?

Ketika mula keto diucapkan oleh seseorang dengan kesadaran spiritual yang tinggi, maka ia menjadi semacam koan Zen—pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan sebagian kebenaran harus dijalani, bukan dijelaskan. Maka ungkapan itu seperti undangan untuk menyelami misteri kehidupan yang tidak linier, kompleks, dan penuh lapisan makna.

Namun di sisi lain, jika ungkapan yang sama lahir dari bibir seseorang yang menyerah pada ketidaktahuan atau kemalasan berpikir, mula keto berubah menjadi tameng yang menutup kemungkinan dialog. Ia menjadi perisai malas, tanda ketundukan pada dogma, atau bahkan simbol mentalitas budak.

Nietzsche menyindir ini dengan keras. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyebut manusia yang tak mampu berpikir sendiri sebagai “gerombolan domba” yang berlindung di balik norma dan tradisi tanpa menyelami hakikatnya. Maka mula keto pun bisa menjadi bahaya, jika hanya menjadi alibi untuk berhenti bertanya dan menemukan makna tersirat di balik kata.

Kesadaran dan Kedalaman Pendengaran

Reaksi terhadap ungkapan mula keto juga tergantung pada pendengarnya. Seorang pencari kebenaran mungkin akan tergerak untuk bertanya lebih dalam, menggali lapisan makna di baliknya. Sementara orang lain mungkin akan menerimanya sebagai finalitas—“ya sudahlah, memang begitu.”

Dalam konteks ini, mula keto bisa menjadi ujian: apakah kita berpikir kritis atau hanya mengulang pola lama, sebagai tradisi tanpa nalar?

Sebagaimana dikatakan Guruji Anand Krishna, “kita tidak dapat menerima kebenaran secara utuh.” Yang kita tangkap hanyalah potongan-potongan cahaya dari prisma besar yang disebut kebenaran universal. Dari potongan itu lahirlah sains, lahir pula agama. Tapi keduanya tidak pernah cukup mewakili keseluruhan.

Antara Sains, Agama, dan Filsafat: Wilayah Tak Bertuan

Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa antara agama dan filsafat ada “wilayah tak bertuan”. Wilayah ini diserang oleh agama maupun sains. Daerah tak bertuan itu adalah filsafat.

Mula keto, ketika dibaca dari sudut ini, justru membuka jalan bagi filsafat untuk hidup. Ia menolak penjelasan tunggal. Ia memberi ruang untuk ambigu dan ketakterdugaan. Dan dalam dunia yang makin terpolarisasi antara “logika saintifik” dan “iman dogmatik,” kehadiran filsafat menjadi sangat relevan.

Hindu sebagai Sanatana Dharma: Melampaui Dikotomi

Uniknya, Hindu sebagai Sanatana Dharma tidak mengidentifikasi diri hanya pada sains, agama, atau filsafat. Ia melampaui ketiganya, namun juga mengandung ketiganya. Memaknai Hindu hanya sebatas agama, apalagi dalam lingkup geografi kecil hanyalah bentuk pembonsaian terhadap kebesaran dan kemuliaan Hindu. Meminjam istilah Yang Mulia Dalai Lama, Beyond Religion. Itulah Hindu. Kalaupun kelihatan ada perbedaan itu adalah bentuk luaran semata, pada tataran ritul, berdasarkan Desa Kala, Patra.

Dalam terang Sanatana Dharma, ungkapan seperti mula keto bisa dimaknai sebagai bentuk penerimaan penuh terhadap apa adanya, bukan sebagai bentuk pasrah buta, tetapi kesadaran penuh terhadap realitas. Tidak ada yang perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu diklaim sepenuhnya. Semua adalah bagian dari rta, keteraturan semesta yang dinamis.

Perspektif Psikologi Kesadaran: Hawkins dan Lapisan Batin

David R. Hawkins, dalam Power vs. Force, mengembangkan Peta Kesadaran (Map of Consciousness) yang menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap suatu peristiwa—bahkan terhadap ungkapan seperti mula keto—sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang.

  • Di level rendah (20-100), seperti rasa malu, bersalah, apatis, ungkapan itu mungkin berarti ketidakberdayaan.
  • Di level netral (250), ia menjadi bentuk penerimaan.
  • Di atas 400, ketika akal sehat dan cinta sudah berkembang, mula keto bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup.
  • Dan di level tertinggi (600+), ia menjadi ungkapan misteri tertinggi yang perlu diselami sehingga melahirkan pengalaman pribadi terhadap sebuah kebenaran sejati.

Maka, satu kalimat sederhana bisa memiliki seribu makna tergantung siapa yang memandangnya dan dari mana ia melihat.

Filsafat Laku: Bertindak dengan Kesadaran

Dalam dunia yang makin tergesa, kita sering ingin semua dijelaskan dan diberi nama. Tapi hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa ditangkap logika. Seperti dalam Zen, kadang sebuah tamparan lebih bermakna daripada seribu kata. Mula keto dalam versi yang tercerahkan adalah tamparan kesadaran itu: “berhentilah mengutak-atik, jalanilah.”

Itu sebabnya para bijak, alih-alih menjelaskan secara panjang lebar, kadang hanya berkata, “anak mula keto.” Bukan karena malas menjawab, tapi karena tahu bahwa jawaban sejati harus ditemukan sendiri, dari dalam batin.

Kesadaran Kita Sendirilah yang Menentukan

Kita berada di zaman ketika informasi tak terbatas, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Di sinilah relevansi refleksi terhadap ungkapan seperti mula keto. Ia menguji bukan hanya siapa yang mengucapkannya, tetapi siapa yang mendengarnya.

Maka pertanyaannya bukan: “apa arti mula keto?” Tapi: “dari tingkat kesadaran mana aku memaknainya?”

Jika kita memaknainya sebagai pintu masuk menuju pemahaman batin, maka mula keto bisa menjadi jñana, pengetahuan intuitif. Tapi jika kita memaknainya sebagai akhir dari pertanyaan, ia bisa jadi racun pemalas pikir.

Kita punya pilihan. Dan pilihan itu menentukan arah hidup kita: menjadi budak dogma atau pejalan sunyi menuju terang kesadaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filosofifilsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendakian ke Pucak Mangu, Napak Tilas Leluhur dan Syukur atas Anugerah Alam

Next Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co