5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2025
in Esai
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Foto ilustrasi: tatkala.co

Antara Ungkapan dan Kesadaran

Di tengah masyarakat Bali yang kaya akan simbol dan bahasa ritual, ungkapan “mula keto” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah, artinya sederhana: “memang begitu adanya.” Tapi apakah sesederhana itu?

Ungkapan ini bisa menjadi afirmasi terhadap realitas yang tak terbantahkan, sekaligus penanda kerendahan hati untuk tidak mengklaim kebenaran mutlak. Namun, seperti cermin bening yang memantulkan apa pun yang berdiri di depannya, makna mula keto sangat tergantung pada siapa yang mengucapkan, dan dari tingkat kesadaran mana kita berada.

Dua Kutub Mula Keto: Ketundukan atau Kebijaksanaan?

Ketika mula keto diucapkan oleh seseorang dengan kesadaran spiritual yang tinggi, maka ia menjadi semacam koan Zen—pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan sebagian kebenaran harus dijalani, bukan dijelaskan. Maka ungkapan itu seperti undangan untuk menyelami misteri kehidupan yang tidak linier, kompleks, dan penuh lapisan makna.

Namun di sisi lain, jika ungkapan yang sama lahir dari bibir seseorang yang menyerah pada ketidaktahuan atau kemalasan berpikir, mula keto berubah menjadi tameng yang menutup kemungkinan dialog. Ia menjadi perisai malas, tanda ketundukan pada dogma, atau bahkan simbol mentalitas budak.

Nietzsche menyindir ini dengan keras. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyebut manusia yang tak mampu berpikir sendiri sebagai “gerombolan domba” yang berlindung di balik norma dan tradisi tanpa menyelami hakikatnya. Maka mula keto pun bisa menjadi bahaya, jika hanya menjadi alibi untuk berhenti bertanya dan menemukan makna tersirat di balik kata.

Kesadaran dan Kedalaman Pendengaran

Reaksi terhadap ungkapan mula keto juga tergantung pada pendengarnya. Seorang pencari kebenaran mungkin akan tergerak untuk bertanya lebih dalam, menggali lapisan makna di baliknya. Sementara orang lain mungkin akan menerimanya sebagai finalitas—“ya sudahlah, memang begitu.”

Dalam konteks ini, mula keto bisa menjadi ujian: apakah kita berpikir kritis atau hanya mengulang pola lama, sebagai tradisi tanpa nalar?

Sebagaimana dikatakan Guruji Anand Krishna, “kita tidak dapat menerima kebenaran secara utuh.” Yang kita tangkap hanyalah potongan-potongan cahaya dari prisma besar yang disebut kebenaran universal. Dari potongan itu lahirlah sains, lahir pula agama. Tapi keduanya tidak pernah cukup mewakili keseluruhan.

Antara Sains, Agama, dan Filsafat: Wilayah Tak Bertuan

Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa antara agama dan filsafat ada “wilayah tak bertuan”. Wilayah ini diserang oleh agama maupun sains. Daerah tak bertuan itu adalah filsafat.

Mula keto, ketika dibaca dari sudut ini, justru membuka jalan bagi filsafat untuk hidup. Ia menolak penjelasan tunggal. Ia memberi ruang untuk ambigu dan ketakterdugaan. Dan dalam dunia yang makin terpolarisasi antara “logika saintifik” dan “iman dogmatik,” kehadiran filsafat menjadi sangat relevan.

Hindu sebagai Sanatana Dharma: Melampaui Dikotomi

Uniknya, Hindu sebagai Sanatana Dharma tidak mengidentifikasi diri hanya pada sains, agama, atau filsafat. Ia melampaui ketiganya, namun juga mengandung ketiganya. Memaknai Hindu hanya sebatas agama, apalagi dalam lingkup geografi kecil hanyalah bentuk pembonsaian terhadap kebesaran dan kemuliaan Hindu. Meminjam istilah Yang Mulia Dalai Lama, Beyond Religion. Itulah Hindu. Kalaupun kelihatan ada perbedaan itu adalah bentuk luaran semata, pada tataran ritul, berdasarkan Desa Kala, Patra.

Dalam terang Sanatana Dharma, ungkapan seperti mula keto bisa dimaknai sebagai bentuk penerimaan penuh terhadap apa adanya, bukan sebagai bentuk pasrah buta, tetapi kesadaran penuh terhadap realitas. Tidak ada yang perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu diklaim sepenuhnya. Semua adalah bagian dari rta, keteraturan semesta yang dinamis.

Perspektif Psikologi Kesadaran: Hawkins dan Lapisan Batin

David R. Hawkins, dalam Power vs. Force, mengembangkan Peta Kesadaran (Map of Consciousness) yang menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap suatu peristiwa—bahkan terhadap ungkapan seperti mula keto—sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang.

  • Di level rendah (20-100), seperti rasa malu, bersalah, apatis, ungkapan itu mungkin berarti ketidakberdayaan.
  • Di level netral (250), ia menjadi bentuk penerimaan.
  • Di atas 400, ketika akal sehat dan cinta sudah berkembang, mula keto bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup.
  • Dan di level tertinggi (600+), ia menjadi ungkapan misteri tertinggi yang perlu diselami sehingga melahirkan pengalaman pribadi terhadap sebuah kebenaran sejati.

Maka, satu kalimat sederhana bisa memiliki seribu makna tergantung siapa yang memandangnya dan dari mana ia melihat.

Filsafat Laku: Bertindak dengan Kesadaran

Dalam dunia yang makin tergesa, kita sering ingin semua dijelaskan dan diberi nama. Tapi hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa ditangkap logika. Seperti dalam Zen, kadang sebuah tamparan lebih bermakna daripada seribu kata. Mula keto dalam versi yang tercerahkan adalah tamparan kesadaran itu: “berhentilah mengutak-atik, jalanilah.”

Itu sebabnya para bijak, alih-alih menjelaskan secara panjang lebar, kadang hanya berkata, “anak mula keto.” Bukan karena malas menjawab, tapi karena tahu bahwa jawaban sejati harus ditemukan sendiri, dari dalam batin.

Kesadaran Kita Sendirilah yang Menentukan

Kita berada di zaman ketika informasi tak terbatas, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Di sinilah relevansi refleksi terhadap ungkapan seperti mula keto. Ia menguji bukan hanya siapa yang mengucapkannya, tetapi siapa yang mendengarnya.

Maka pertanyaannya bukan: “apa arti mula keto?” Tapi: “dari tingkat kesadaran mana aku memaknainya?”

Jika kita memaknainya sebagai pintu masuk menuju pemahaman batin, maka mula keto bisa menjadi jñana, pengetahuan intuitif. Tapi jika kita memaknainya sebagai akhir dari pertanyaan, ia bisa jadi racun pemalas pikir.

Kita punya pilihan. Dan pilihan itu menentukan arah hidup kita: menjadi budak dogma atau pejalan sunyi menuju terang kesadaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filosofifilsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendakian ke Pucak Mangu, Napak Tilas Leluhur dan Syukur atas Anugerah Alam

Next Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co