15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 1, 2025
in Esai
Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Foto ilustrasi: tatkala.co

Antara Ungkapan dan Kesadaran

Di tengah masyarakat Bali yang kaya akan simbol dan bahasa ritual, ungkapan “mula keto” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah, artinya sederhana: “memang begitu adanya.” Tapi apakah sesederhana itu?

Ungkapan ini bisa menjadi afirmasi terhadap realitas yang tak terbantahkan, sekaligus penanda kerendahan hati untuk tidak mengklaim kebenaran mutlak. Namun, seperti cermin bening yang memantulkan apa pun yang berdiri di depannya, makna mula keto sangat tergantung pada siapa yang mengucapkan, dan dari tingkat kesadaran mana kita berada.

Dua Kutub Mula Keto: Ketundukan atau Kebijaksanaan?

Ketika mula keto diucapkan oleh seseorang dengan kesadaran spiritual yang tinggi, maka ia menjadi semacam koan Zen—pengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan sebagian kebenaran harus dijalani, bukan dijelaskan. Maka ungkapan itu seperti undangan untuk menyelami misteri kehidupan yang tidak linier, kompleks, dan penuh lapisan makna.

Namun di sisi lain, jika ungkapan yang sama lahir dari bibir seseorang yang menyerah pada ketidaktahuan atau kemalasan berpikir, mula keto berubah menjadi tameng yang menutup kemungkinan dialog. Ia menjadi perisai malas, tanda ketundukan pada dogma, atau bahkan simbol mentalitas budak.

Nietzsche menyindir ini dengan keras. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyebut manusia yang tak mampu berpikir sendiri sebagai “gerombolan domba” yang berlindung di balik norma dan tradisi tanpa menyelami hakikatnya. Maka mula keto pun bisa menjadi bahaya, jika hanya menjadi alibi untuk berhenti bertanya dan menemukan makna tersirat di balik kata.

Kesadaran dan Kedalaman Pendengaran

Reaksi terhadap ungkapan mula keto juga tergantung pada pendengarnya. Seorang pencari kebenaran mungkin akan tergerak untuk bertanya lebih dalam, menggali lapisan makna di baliknya. Sementara orang lain mungkin akan menerimanya sebagai finalitas—“ya sudahlah, memang begitu.”

Dalam konteks ini, mula keto bisa menjadi ujian: apakah kita berpikir kritis atau hanya mengulang pola lama, sebagai tradisi tanpa nalar?

Sebagaimana dikatakan Guruji Anand Krishna, “kita tidak dapat menerima kebenaran secara utuh.” Yang kita tangkap hanyalah potongan-potongan cahaya dari prisma besar yang disebut kebenaran universal. Dari potongan itu lahirlah sains, lahir pula agama. Tapi keduanya tidak pernah cukup mewakili keseluruhan.

Antara Sains, Agama, dan Filsafat: Wilayah Tak Bertuan

Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa antara agama dan filsafat ada “wilayah tak bertuan”. Wilayah ini diserang oleh agama maupun sains. Daerah tak bertuan itu adalah filsafat.

Mula keto, ketika dibaca dari sudut ini, justru membuka jalan bagi filsafat untuk hidup. Ia menolak penjelasan tunggal. Ia memberi ruang untuk ambigu dan ketakterdugaan. Dan dalam dunia yang makin terpolarisasi antara “logika saintifik” dan “iman dogmatik,” kehadiran filsafat menjadi sangat relevan.

Hindu sebagai Sanatana Dharma: Melampaui Dikotomi

Uniknya, Hindu sebagai Sanatana Dharma tidak mengidentifikasi diri hanya pada sains, agama, atau filsafat. Ia melampaui ketiganya, namun juga mengandung ketiganya. Memaknai Hindu hanya sebatas agama, apalagi dalam lingkup geografi kecil hanyalah bentuk pembonsaian terhadap kebesaran dan kemuliaan Hindu. Meminjam istilah Yang Mulia Dalai Lama, Beyond Religion. Itulah Hindu. Kalaupun kelihatan ada perbedaan itu adalah bentuk luaran semata, pada tataran ritul, berdasarkan Desa Kala, Patra.

Dalam terang Sanatana Dharma, ungkapan seperti mula keto bisa dimaknai sebagai bentuk penerimaan penuh terhadap apa adanya, bukan sebagai bentuk pasrah buta, tetapi kesadaran penuh terhadap realitas. Tidak ada yang perlu ditolak, tetapi juga tidak perlu diklaim sepenuhnya. Semua adalah bagian dari rta, keteraturan semesta yang dinamis.

Perspektif Psikologi Kesadaran: Hawkins dan Lapisan Batin

David R. Hawkins, dalam Power vs. Force, mengembangkan Peta Kesadaran (Map of Consciousness) yang menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap suatu peristiwa—bahkan terhadap ungkapan seperti mula keto—sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran seseorang.

  • Di level rendah (20-100), seperti rasa malu, bersalah, apatis, ungkapan itu mungkin berarti ketidakberdayaan.
  • Di level netral (250), ia menjadi bentuk penerimaan.
  • Di atas 400, ketika akal sehat dan cinta sudah berkembang, mula keto bisa dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup.
  • Dan di level tertinggi (600+), ia menjadi ungkapan misteri tertinggi yang perlu diselami sehingga melahirkan pengalaman pribadi terhadap sebuah kebenaran sejati.

Maka, satu kalimat sederhana bisa memiliki seribu makna tergantung siapa yang memandangnya dan dari mana ia melihat.

Filsafat Laku: Bertindak dengan Kesadaran

Dalam dunia yang makin tergesa, kita sering ingin semua dijelaskan dan diberi nama. Tapi hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa ditangkap logika. Seperti dalam Zen, kadang sebuah tamparan lebih bermakna daripada seribu kata. Mula keto dalam versi yang tercerahkan adalah tamparan kesadaran itu: “berhentilah mengutak-atik, jalanilah.”

Itu sebabnya para bijak, alih-alih menjelaskan secara panjang lebar, kadang hanya berkata, “anak mula keto.” Bukan karena malas menjawab, tapi karena tahu bahwa jawaban sejati harus ditemukan sendiri, dari dalam batin.

Kesadaran Kita Sendirilah yang Menentukan

Kita berada di zaman ketika informasi tak terbatas, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Di sinilah relevansi refleksi terhadap ungkapan seperti mula keto. Ia menguji bukan hanya siapa yang mengucapkannya, tetapi siapa yang mendengarnya.

Maka pertanyaannya bukan: “apa arti mula keto?” Tapi: “dari tingkat kesadaran mana aku memaknainya?”

Jika kita memaknainya sebagai pintu masuk menuju pemahaman batin, maka mula keto bisa menjadi jñana, pengetahuan intuitif. Tapi jika kita memaknainya sebagai akhir dari pertanyaan, ia bisa jadi racun pemalas pikir.

Kita punya pilihan. Dan pilihan itu menentukan arah hidup kita: menjadi budak dogma atau pejalan sunyi menuju terang kesadaran. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filosofifilsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendakian ke Pucak Mangu, Napak Tilas Leluhur dan Syukur atas Anugerah Alam

Next Post

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co