4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 31, 2025
in Esai
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Meretas Jalan Menuju Tuhan yang Dekat

Dalam berbagai tradisi spiritual Nusantara, khususnya Bali, dikenal prinsip “alih dewa di deweke” — sebuah gagasan mendalam bahwa pencarian akan yang ilahi bukanlah perjalanan menjauhi dunia atau menuju entitas di luar, melainkan penyelaman batin ke dalam diri sendiri. Tuhan tidak berada di langit yang jauh, tetapi dalam kedalaman eksistensi.

Gagasan ini paralel dengan pemikiran Baruch Spinoza yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta itu sendiri (Deus sive Natura). Di tengah maraknya formalisme agama yang bersifat seremonial dan eksternal, artikel ini mengajak pembaca menggali kembali spiritualitas yang otentik, nalar yang jernih, dan kesadaran yang menyatu, melalui dialog dengan filsafat Barat — Spinoza, Kierkegaard, Sartre, William James, Nietzsche, Schopenhauer — dan psikologi transpersonal.

Spinoza: Tuhan adalah Alam, Alam adalah Tuhan

Baruch Spinoza (1632–1677) menghapus batas antara yang ilahi dan duniawi. Dalam pandangannya, Tuhan bukan pengatur dari luar, melainkan substansi yang satu dengan segala realitas. Ia menolak konsep teisme tradisional dan mengajukan monisme: Tuhan adalah seluruh keberadaan.

Pokok gagasan Spinoza:

  • Tuhan adalah natura naturans — proses kreatif dalam alam itu sendiri.
  • Etika harus didasarkan pada rasionalitas dan kebebasan batin.
  • Kebahagiaan sejati lahir dari pemahaman akan keterhubungan dengan seluruh eksistensi.

Pandangannya membuka ruang bagi spiritualitas yang imanen dan non-dogmatis, sangat relevan dengan alih dewa di deweke — Tuhan hadir bukan dalam simbol, tetapi dalam realitas hidup sehari-hari.

Eksistensialisme: Kebebasan, Kegelisahan, dan Iman yang Personal

Eksistensialisme mengembalikan makna religiusitas ke pangkuan manusia. Søren Kierkegaard (1813–1855) mengkritik agama massa yang kehilangan keberanian eksistensial. Baginya, iman adalah leap of faith, bukan ritual massal tanpa refleksi.

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre (1905–1980), seorang filsuf dan sastrawan, menekankan bahwa manusia bebas sepenuhnya, dan karena itu bertanggung jawab penuh atas makna hidupnya. Tuhan bukan premis, tetapi konsekuensi dari pilihan sadar dan otentik.

Relevansi di Indonesia dan Bali:

Banyak umat kehilangan kedalaman spiritual karena agama menjadi rutinitas simbolik. Eksistensialisme mengajak kita bertanya kembali: “Apa arti Tuhan bagiku secara pribadi?” — bukan sekadar mengulang dogma sosial.

Psikologi Transpersonal: Kesadaran dan Dimensi Ilahi dalam Jiwa

Aliran transpersonal dalam psikologi modern, dipelopori oleh Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Ken Wilber, menjembatani ilmu jiwa dan spiritualitas. Maslow menambahkan self-transcendence di atas self-actualization — menunjukkan bahwa puncak eksistensi adalah pengalaman menyatu dengan Yang Mahatinggi.

Kontribusi tokoh utama:

  • Maslow: Puncak pengalaman spiritual adalah kebutuhan manusiawi yang otentik.
  • Grof: Melalui holotropic breathwork dan eksplorasi kesadaran non-ordinari, Grof menunjukkan bahwa dimensi spiritual inheren dalam diri manusia.
  • Wilber: Memetakan spectrum of consciousness, menyatukan tradisi mistik Timur dan psikoanalisis Barat.

Semua tokoh ini menguatkan kembali bahwa spiritualitas tidak harus di luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dalam.

William James: Spiritualitas sebagai Fakta Psikologis dan Praktis

William James (1842–1910), dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, membahas agama dari sudut pandang empiris dan introspektif. Ia menekankan bahwa pengalaman religius bersifat pribadi dan tidak bisa direduksi menjadi institusi.

Poin penting dari James:

  • Spiritualitas adalah direct experience, bukan produk otoritas agama.
  • Iman bisa rasional bila memberi manfaat praktis dan batiniah (pragmatism).
  • Agama yang otentik memunculkan transformasi karakter, bukan sekadar kepatuhan simbolik.

Dengan demikian, alih dewa di deweke bukan hanya tradisi lokal, tetapi beresonansi dengan pragmatic mysticism ala James.

Nietzsche dan Schopenhauer: Tuhan, Nilai, dan Penderitaan

Walau dikenal sebagai kritikus agama, baik Friedrich Nietzsche maupun Arthur Schopenhauer justru menyingkap sisi gelap dari kehilangan makna spiritual.

  • Nietzsche (1844–1900) menyatakan “Tuhan telah mati” — bukan sebagai klaim ateistik semata, tetapi sebagai peringatan bahwa modernitas telah kehilangan pusat nilai. Ia menawarkan “kehendak untuk berkuasa” sebagai dorongan kreatif menggantikan agama formal. Namun, dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche juga mengusulkan spiritualitas baru yang lahir dari kesadaran atas penderitaan dan keberanian untuk mencipta makna.
  • Schopenhauer (1788–1860) melihat dunia sebagai manifestasi dari kehendak buta, dan penderitaan sebagai dasar eksistensi. Solusinya bukan dogma, tapi compassion dan kontemplasi — nilai-nilai yang mirip dengan Buddhisme dan spiritualitas Timur.

Keduanya menunjukkan bahwa religiositas sejati harus melewati kesadaran akan penderitaan dan kehampaan simbolik — sehingga membuka pintu ke spiritualitas yang otentik.

Alih Dewa di Deweke: Sintesis Lokal-Universal

Prinsip “alih dewa di deweke” menegaskan bahwa Tuhan tidak eksklusif, tidak terbatas dalam dogma atau kitab suci manapun. Ia hadir dalam denyut alam, dalam keheningan batin, dalam tindakan kasih, dan dalam pelayanan kepada sesama.

Nilai ini selaras dengan prinsip Guruji Anand Krishna: “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity.”

Alih dewa di deweke adalah refleksi lokal dari kesadaran spiritual universal. Ia menantang kita untuk melampaui seremonial kosong, dan menggali makna terdalam dari keyakinan (trust) sebagai pengalaman, bukan semata tradisi turun menurun tanpa nalar kritis.

Kesimpulan dan Refleksi: Menemukan Tuhan di Dalam, Menyapa Sesama di Luar

Seperti Spinoza yang menemukan Tuhan dalam tatanan alam, Kierkegaard dalam kesunyian iman, Maslow dalam pengalaman puncak, James dalam praktik kehidupan, Nietzsche dalam keberanian kreatif, dan Schopenhauer dalam welas asih — kita pun bisa menemukan Tuhan dalam diri (deweke), dalam kesadaran yang jernih dan hati yang penuh cinta.

Tuhan tidak jauh, dan tidak eksklusif. Ia hadir dalam tetes hujan, alisan sungai, hembusan angin, hamparan sawah, hijau pegunungan, jerit tangis penderitaan rakyat kecil yang dijerat kemiskinan struktural, dan panggilan nurani. Dari kesadaran inilah tumbuh tanggung jawab sosial. Melayani sesama adalah jalan spiritual tertinggi, sebab dalam wajah manusia lain — kita menyapa Yang Ilahi.

Alih dewa di deweke adalah revolusi sunyi: spiritualitas tanpa hiruk-pikuk, tetapi penuh daya ubah dan kasih sejati. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Tags: filsafatKetuhanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Next Post

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina -- Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co