4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
July 31, 2025
in Esai
Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi

Jero Penyarikan Duuran Batur (IK Eriadi Ariana)

Buda Kecapi [Boda Kacapi][2] merupakan teks usada (pengetahuan pengobatan)yang mendapat banyak sorotan di kalangan penekun usada Bali. Teks ini bahkan diklaim sebagai satu dari tiga “peta utama” bagi seseorang yang ingin berkelana di belantara ilmu usada.

Ada banyak naskah Buda Kecapi, baik yang dikoleksi lembaga penyimpanan naskah formal maupun koleksi pribadi masyarakat. Kantor Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar misalnya, setidak-tidaknya mengoleksi tiga naskah alih aksara lontar Buda Kecapi. Ketiganya adalah Buda Kecapi [Kacapi] Cemeng (kode koleksi Tut 35/2-2), Buda Kecapi [Kacapi] Putih (kode koleksi Tut 36/1-2), dan Buda Kecapi Sastrasanga (kode koleksi Tut 36/3-3).

Buda Kecapi Cemeng dan Buda Kecapi Putih merupakan produk pengetikan ulang koleksi Gedong Kirtya-Singaraja yang diadakan pada tahun 1988. Buda Kecapi Cemeng diketik dari naskah Kirtya berkode IIId 1458/16 yang berasal dari Banjar (Buleleng). Sementara itu, Buda Kecapi Putih diketik dari naskah Kirtya berkode IIId 289/5. Sayangnya, tidak ada keterangan lebih lanjut tentang asal-muasal naskah Buda Kecapi Putih ini.

Latar belakang koleksi Buda Kecapi Sastrasanga di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali sedikit berbeda jika dibandingkan dengan dua naskah sebelumnya. Pada bagian kolofon dijelaskan bahwa naskah tersebut berasal dari naskah lontar milik Ida Wayan Gede asal Cakranagara, Lombok. Naskah ini selesai dialih aksara pada tanggal 14 Juni 1991 oleh I Ketut Sengod yang berasal dari Karangasem.

Tiga Teks Buda Kecapi

Buda Kecapi Cemeng berisi informasi tentang tata cara pengobatan yang wajib diketahui oleh balian pangusada (praktisi usada). Teks mengklaim dirinya sebagai ajaran untuk membaca tanda-tanda penyakit, kematian, dan kehidupan (iti tutur buda kacapi cěměng, nga, patěngěran lara, mwang pati-urip, kawěruhakěna iki, nga).

Naskah awal Buda Kecapi Putih terdiri atas 15 lembar lontar, kemudian diturunkan menjadi 14 halaman folio. Wacana dalam teks ini diawali dengan penuturan deskriptif tentang esensi teks tersebut. Setelah itu, wacana dituturkan melalui dialog antara tokoh bernama Sang Buda Kecapi dengan kedua muridnya yang bernama Sang Kalimosada dan Kalimosadi.

Satu wacana menarik yang patut direnungkan dalam teks ini adalah penjelasan tentang etik seorang balian pangusada. Dialog suntuk antara Sang Buda Kecapi dengan kedua muridnya menegaskan pemahaman manusia sebagai makhluk ekologis yang tidak bisa menentang alam. Sesakti-sakti (baca: mahir) seorang balian pangusada, ia tidak bisa menolak hukum alam (rta).

Pemahaman atas prinsip mati-hidup mengingatkan balian tentang esensi kehidupan manusia yang dibatasi oleh kala (waktu). Seorang balian wajib memahami kapan memulai dan mengakhiri pertolongannya. Balian yang memahami ajaran Buda Kecapi harustahu pasien yang bisa disembuhkan dan pasien yang tidak lagi bisa disembuhkan. Oleh karena itu, kemampuan diagnosis penyakit menjadi pijakan mendasar yang harus dikuasai oleh balian sebelum menapaki langkah penyembuhan lanjutan.

Ketika seorang balian mendiagnosis pasien, kemudian mendapati “cahaya kehidupan” yang bersemayam di antara kedua alis pasien meredup, serta bagian dalam telinganya dirasakan ada getaran “klatag-klutug”, Buda Kecapi Cemeng merekomendasikan balian untuk tidak melakukan tindakan lebih lanjut. Teks mengklaim pasien dengan tanda seperti itu akan meninggal. Kondisi ini terjadi karena Sang Hyang Mandiswara telah pergi (yan wong agring wus katon di selagan alisnia kurěm tan pateja, dak tinanya wong agring, yan karasa masriyěng tur klatag-klutug maring jroning karna, aywa sira ngusadanin, pějah palania wong agring, apan Sang Hyang Mandiswara wus matinggal, nga).

Buda Kecapi Putih adalah teks paling pendek dibandingkan dua teks lainnya. Teks ini hanya digurat dalam 10 lembar lontar, yang kemudian menghasilkan naskah alih aksara berjumlah 9 halaman folio. Meskipun demikian, Buda Kecapi Putih memuat informasi yang sangat penting, terutama terkait esensi aksara.

Buda Kecapi Putih menjelaskan diri sebagai ajaran unggul “sang mangiwa”. Teks ini memuat filsafat dewata yang berakar pada pengetahuan atas Tri Aksara dan Rwa Bhineda. Apabila seorang memahami hakikat ajaran ini, ia akan mendapat kewibawaan di dunia fisik maupun dunia rohani; dimuliakan dunia; dikasihi para dewa; bahkan semua makhluk hidup akan berbakti padanya (nihan kotamaning sang mangiwa, den wruhěn rumhun, kagělaraning dewatatwa, mwang panunggalaning triaksara, těkeng rwabineda, apan wěkasing wěkas utamahakěna, sakala niskala kawibawan, kinatwangan dening rat kabeh, kinasihan dening dewa bhatara, mwah kinabaktya dening sarwa bhuta-bhuti).

Buda Kecapi Putih menyoroti hakikat tubuh besar dan tubuh kecil (bhuwana agung-bhuwana alit) yang pada prinsipnya terhubung. Teks membicarakan secara intensif tentang bija aksara Ongkara, khususnya Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang. Ajaran lainnya adalah esensi tentang hidup-mati, spirit energi Tuhan sebagai Sanghyang Tiga, hingga filosofi air kehidupan (banyu mahapawitra, tirtha kamandalu).

Buda Kecapi Putih secara meyakinkan menjelaskan konsep buda kecapi. Buda kecapi [boda kacapi] dijelaskan berasal dari tiga frase, yakni buda, kaca, dan pi. Boda berarti budi ‘budi’; idep ‘pikiran’; idup dan urip ‘kehidupan’; dan aturu ‘terjaga’. Kacaberarti meka ‘cermin’; mata ‘mata’; mati ‘mati’; manon ‘mahatahu’; dan awas ‘awas’. Sementara itu, piberarti pitara ‘leluhur: esensi roh’ yang kemudian dijelaskan sebagai atma ‘roh; energi hidup’.

Buda Kecapi Putih juga menjelaskan konsep sastrasanga—konsep yang menjadi judul teksketiga. Menurut teks ini, sastrasanga disusun oleh empat frase, yakni sas, tra, sa, dan nga. Sas berarti tingal ‘terlihat’. Tramerujuk pada bayu ‘energi hidup’, sabda ‘energi suara’, dan idep ‘nalar; pikiran’ yang merupakan tubuh dari Sanghyang Tiga. Samerujuk kata swara ‘suara’ dan sawa yang sama dengan pati ‘kematian’. Sementara itu, frase ngadiartikan sebagai raga ‘tubuh’, putus ‘putus’, dan lepas ‘terbebas’. Dalam hal ini, Buda Kecapi Putih menerjemahkan konsep sastrasanga sebagai pemahaman dalam melihat Sang Hyang Tiga berbasis suara kematian tubuh hingga terbebas dari keduniawian (tingalakěna Sanghyang Tiga, dening sabda amati raga, terusakěna těkaning lěpas, ika ngaranya sastra sanga).

Seperti dua teks Buda Kecapi sebelumnya, Buda Kecapi Sastrasanga pun menjelaskan dirinya secara tersurat. Teks ini mengklaim diri sebagai pengetahuan yang sangat rahasia, sehingga tidak disarankan untuk dipelajari tanpa kesiapan dari sang murid (iki aksara dahating utama, kawruhakěna den prětyaksa, Budakacapi Sastrasanga, genta pinara pitu, yan sira nora wěruh ring aksara iki saja sira aněndanana aksara iki, jah tasmat).

Buda Kecapi Sastrasanga menjelaskan ajarannya sebagai raja pengetahuan tentang baik-buruk hari (rajadiwasa) yang mempengaruhi hidup dan mati, yang berbasis pada pembacaan tanda alam serta tubuh(kunang yan sira wruh ring rajadiwasa, aywa sumiliha rajadiwasa, urip kalawan pati, iku kawruhakěna den prětyaksa ring bhuwana agung miwah bhuwana alit). Hari baik yang dibahas dalam Buda Kecapi Sastrasanga diperoleh melalui pemahaman atas konsep wewaran.

Deretan Hari Baik untuk Menanam

Buda Kecapi Sastrasanga merekomendasikan sejumlah hari baik untuk menanam jenis tanaman tertentu. Hari baik tersebut diformulasikan melalui perhitungan rumit pertemuan unsur saptawara (pekan berjumlah tujuh hari), pancawara (pekan berjumlah lima hari), dan wuku (30 pekan dalam siklus 210 hari). Formula ketiga unsur itu menciptakan hari dengan karakter tertentu, yang dipandang tepat untuk menanam jenis tanaman tertentu.

Teks menyematkan nama-nama unik untuk merujuk formula hari tertentu. Nama-nama hari dengan karakter tersebut misalnya hari Cintamani, Kajeng Kawulu, Sri Bulus, Sripala Sanda, Sri Wedi, Banyu Pinda, Bajra Manak, dan Ratu Magelung.

Hari Cintamani merujuk pada Buda Kliwon Sinta. Buda (Rabu) merupakan hari keempat dalam hitungan saptawara; Kliwon adalah hari kelima dalam siklus pancawara; sedangkan Sinta adalah nama pekan pertama dalam siklus wewaran berjumlah 30 pekan (210 hari). Apabila dikaitkan dengan kehidupan religi orang Bali saat kini, Buda Kliwon Sinta juga dikenal sebagai hari suci Pagerwesi.

Buda Kecapi Sastrasanga mengklaim hari Cintamani sebagai hari baik untuk melakukan pernikahan serta menanam berbagai macam tanaman, baik yang dibudidayakan di sawah maupun di ladang. Meskipun demikian, untuk menjaga keseimbangan energi hidupnya, teks merekomendasikan pelaksanaan ritual persembahanberupa caru mancawarna (Bu, Ka, Sinta, pawiwahan ayu, sakancaning gaga mwah sawah, Cintamani, nga, kembang, kapas tinandur ayu, carunya mancawarna).

Apabila hendak menanam tanaman buah, tanamlah pada hari Kajeng Kawulu, Ratu Magambahan, atau Kala Jengking. Kajeng Kawulu jatuh pada Sukra (Jumat) Paing Sinta, Ratu Magambahan jatuh pada Redite (Minggu) Wage Landep, sedangkan Kala Jengking jatuh pada Anggara (Selasa) Kliwon Tambir. Apabila ingin menanam umbi-umbian, maka hari yang direkomendasikan adalah hari Sri Manampek yang jatuh pada Anggara (Selasa) Wage Pahang.

Buda Kecapi Sastrasanga menjelaskan dengan detail hari baik yang berkaitan dengan padi. Hari-hari yang berkaitan dengan siklus tanam-panen padi antara lain disebut Sri Teka, Sripala Sanda, Banyu Pinda, Ratu Mangerenteng, Sri Manampek, Panon Sidhi, dan Sri Kuli-kuli (Kajeng Dadi).

Hari Sri Teka yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Pon Tambir adalah hari yang direkomendasikan untuk membenih padi. Hari Sripala Sanda (Soma [Senin] Umanis Sungsang), Ratu Mangerenteng (Wrehaspati [Kamis] Wage Sungsang), Banyu Pinda (Buda [Rabu] Kliwon Dungulan), Sri Manampek, dan Panon Sidhi (Sukra [Jumat] Kliwon Madangkungan) adalah hari yang direkomendasikan untuk menanam padi. Sementara itu, hari Sri Kuli-kuli atau Kajeng Dadi yang jatuh pada Saniscara (Sabtu) Pon Matal diklaim sebagai hari baik untuk menaikkan padi ke lumbung.

“Kala” Membuat Peralatan

Wacana lain yang disorot Buda Kecapi Sastrasanga adalah hari baik untuk membuat peralatan bertahan hidup. Hari-hari ini ditentukan oleh konsep ala-ayuning kala. Perhitungannya ditentukan menurut pertemuan saptawara dan wuku.

Nama-nama hari menurut perhitungan ala-ayuning kala, antara lain Kala Mangunu, Kala Wisesa, Kala Pacekan, Kala Keciran, Kala Geger, Kala Mina, Kala Jengking, Kala Kuncang-kancing, Kala Ulah-alih, dan Kala Pegat. Selanjutnya ada Kala Macan, Kala Mrecu, Kala Caplokan, Kala Ngadeg, Kala Atat, Kala Gacokan, Kala Tukaran, Kala Empas, Kala Cakra, Kala Angin, Kala Rebutan, Kala Lunglung, Kala Sapu Awu, dan Kala Busah.

Peternak lebah direkomendasikan menaikkan kungkungan (sarang lebah) pada Kala Mangunu yang jatuh pada Radite (Minggu) Ukir atau pada Kala Rebutan yang jatuh pada Soma (Senin) Ugu.Jika ingin membuat kandang, pilihlah hari Kala Kuncang-kancing yang jatuh pada Redite (Minggu) Dungulan. Apabila ingin melatih sapi, Kala Angin yang jatuh pada Redite (Minggu) Bala adalah hari yang dipandang tepat.

Orang-orang yang senang memelihara ayam dapat memperhatikan hari Kala Jengking (Saniscara [Sabtu] Julungwangi) dan Kala Busah (Sukra [Jumat] Watugunung) untuk menangkap ayam. Apabila akan membuat guwungan (sangkar ayam) pilihlah hari Kala Cakra yang jatuh setiap Saniscara (Sabtu) Menail. Apabila senang mengadu ayam, buatlah taji pada Kala Pacekan yang jatuh pada Anggara (Selasa) Tolu atau pada Kala Tukaran yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Matal.

Orang yang berprofesi di bidang perikanan dapat memilih Kala Atat yang jatuh setiap Soma (Senin) Merakih untuk membuat tali pancing. Jika belum memiliki pancing, buatlah saat Kala Caplokan yang jatuh pada Sukra (Jumat) Pujut. Namun, jika ingin menjala ikan, pilihlah Kala Mina untuk buatlah jala. Kala Mina yang jatuh setiap Sukra (Jumat) Warigadean.

Membuat senjata tajam juga perlu memperhatikan hari. Apabila ingin membuat tombak, Buda Kecapi Sastrasanga merekomendasikan Kala Lunglung yang jatuh setiap Anggara (Selasa) Wayang sebagai hari baiknya. Jika ingin membuat pisau iris (pangiris), buatlah pada Kala Kecitan yang jatuh setiap Buda (Rabu) Gumbreg. Buatlah sungga (perangkap) pada Kala Gacokan (Anggara [Selasa] Tambir), sedangkan jika ingin membuat alat sodok tanah (tulud), pilihlah Kala Sapu Awu yang jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Dukut.

Kala Geger dan Kala Macan adalah dua hari yang direkomendasikan membuat kentongan atau benda-benda yang mengeluarkan suara. Kala Geger jatuh setiap Wrehaspati (Kamis) Wariga sedangkan Kala Macan jatuh pada Wrehaspati (Kamis) Langkir.

Tunduk pada Cara Kerja Alam

Buda Kecapi pada prinsipnya berupaya mewacanakan hakikat manusia sebagai mahkluk ekologis yang tidak bisa terlepas dengan alam. Buda Kecapi menegaskan manusia sebagai bagian alam yang tunduk pada hukum alam (rta). Artinya, jika ingin bertahan hidup, pilihannya adalah beradaptasi dan mengikuti cara kerja alam.

Buda Kecapi Sastrasanga merupakan wujud dari adaptasi manusia terhadap siklus alam semesta. Hakikat teks adalah mengelola alam menurut waktunya. Apabila berani menentang cara kerja alam, teks mengklaim upaya itu tidak akan berhasil, bahkan bisa menimbulkan bencana. Tumbuhan yang ditanam tidak akan menghasilkan hasil yang diharapkan. Peralatan hidup yang diharapkan dapat meringankan pekerjaan bisa berbalik tidak berguna, bahkan bisa melukai diri sendiri.

Gagasan hidup selaras dengan alam sejatinya bukan narasi baru dalam khazanah susastra Jawa Kuno. Teks Kala Tattwa dan Kakawin Purwaning Gunung Agung telah mengingatkan pembacanya untuk berhati-hati berhadapan dengan waktu. Pada dua teks tersebut, waktu direpresentasikan sebagai Sang Kala, yang merupakan simbol energi disrupsi Bhatara Siwa. Orang yang beraktivitas pada waktu yang tidak tepat—seperti tengah hari atau senja (sandikala)—dibenarkan untuk “dimakan” Kala. Kala tentu tidak serta merta merujuk makhluk seram bertaring runcing, tetapi mungkin saja adalah simbol energi alam (cuaca, iklim, dsb.) hingga mikroorganisme.

Buda Kecapi Sastrasanga telah mengenalkan keragaman sumber pangan. Meskipun sorotan tentang padi lebih dominan, tanaman pangan lain seperti palawija, buah-buahan, dan umbi-umbian telah diperhitungkan dengan baik. Teks juga menyorot teknologi perikanan, budidaya lebah—dan serangga lainnya, hingga peternakan.

Pada titik ini, Buda Kecapi Sastrasanga telah memberi refleksi bahwa sumber pangan sangat beragam, bukan hanya beras. Oleh karena itu, ketahanan pangan bisa diupayakan dengan menjaga dan mengembangkan sumber pangan yang beragam sebagaimana dinyatakan oleh teks.

Konsep hari baik juga mengajarkan tata kelola lahan yang berkeadilan untuk lingkungan. Buda Kecapi Sastrasanga setidak-tidaknya memberi gambaran pengelolaan lahan menurut siklus hidup tumbuhan tertentu. Lahan juga diberi waktu untuk memulihkan diri melalui waktu-waktu yang dianggap tidak baik untuk melakukan proses cocok-tanam.

Gagasan tersebut dapat mengoreksi cara kita dalam memperlakukan lahan yang seolah-olah tidak memberi kesempatan untuk memulihkan diri secara alami. Atas nama produksi dan keuntungan kapital, kita acapkali abai pada daya lenting tanah, yang akhirnya bermuara pada penurunan mutu tanah hingga pencemaran.

Membaca Buda Kecapi Sastrasanga pada periode waktu yang berbeda dengan masa penulisannya tidak menghindarkan kita pada “benturan” imaji dan realitas. Apa yang disampaikan Buda Kecapi Sastrasanga mau tidak mau akan berhadapan langsung dengan realitas perubahan iklim. Para pakar lingkungan telah merilis anomali cuaca, kepunahan banyak spesies, hingga peluang munculnya wabah baru akibat pemanasan global.

Dalam kekacauan ekologis ini, akurasi wacana Buda Kecapi Sastrasanga mungkin banyak dipertanyakan. Hari yang direkomendasi baik untuk menanam, mungkin tidak lagi baik. Demikian pula sebaliknya. Pada situasi inilah kita perlu mencari keseimbangan baru.

Tokoh Kalimosada dan Kalimosadi boleh jadi merupakan cerminan bangsa sapiens yang sedang bingung mencari keseimbangan baru. Bangsa sapiens yang “mengklaim diri” telah menguasi mayoritas pengetahuan, perlu kembali ke konsep ekologis paling mendasar. Di dalam Buda Kecapi, setelah gagal menyelamatkan seorang pasien, Kalimosada dan Kalimosadi memutuskan untuk berguru ke Sang Buda Kecapi, figur yang tidak hanya telah selesai pada “setra” semesta dan tubuh, tetapi memahami keterikatan keduanya. Lalu, pada era ini kepada siapa bangsa sapiens perlu belajar?


[1] Tulisan ini merupakan tulisan pascapanel diskusi “Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” Singaraja Literary Festival tahun 2025, tanggal 25 Juli 2025.

[2] Studi tentang Buda Kecapi secara komprehensif telah dilakukan oleh Dr. I Ketut Jirnaya, M.S., seorang dosen purnabhakti di Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana yang adalah guru saya. Maka dari itu, tulisan ini juga dipersembahkan khusus sebagai tarpana sastra kepada sang guru.

Penulis: Jero Penyarikan Duuran Batur [IK Eriadi Ariana]
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: buda kecapilontarSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bongkar Pasang Andre Syahreza dalam Novel “Semua Karena Nirankara”

Next Post

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Alih Dewa di Deweke: Kearifan Lokal Bali dalam Perspektif Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co