12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda

Chusmeru by Chusmeru
August 10, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DELAPAN puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Itu artinya delapan dasa warsa atau sepuluh windu bangsa ini telah merdeka. Tak lagi muda. Hampir satu abad. Namun bukan berarti bangsa dan negara ini telah dewasa.

Bangsa yang telah merdeka lama ini masih belum menjadi dewasa, dalam arti kemandirian dan kematangan pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan. Bahkan Mohamad Sobary (2000) menyebut sebagai bangsa, Indonesia mungkin lahir terlambat. Keterlambatan ini membuat kita menjadi bangsa yang kerdil. Tiap saat kita membanggakan nenek moyang bangsa pelaut yang gagah berani.

Kita lupa, yang gagah berani adalah nenek moyang, bukan kita. Sebagai bangsa kita masih puber dengan tingkah laku persis seperti anak-anak. Mereka yang puber berlagak petentengan memamerkan kewibawaan orang tua. Mereka lupa, yang punya wibawa adalah orang tua dan nenek moyang. Kita masih sebagai bangsa yang manja dan mengharap berkah dari nenek moyang.

Secara politik dan hukum Indonesia merdeka tahun 1945. Pada tahun yang sama, Jepang porak poranda ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika Serikat. Bukan terpuruk selamanya. Hanya butuh waktu dua puluh tahun, Jepang kembali bangkit menjadi kekuatan ekonomi besar di Asia, bahkan di dunia. Sedangkan Indonesia delapan puluh tahun merdeka masih saja menjadi bangsa yang tergantung pada negara lain.

Jepang terpuruk di tahun 1945, dan Indonesia merdeka di tahun yang sama. Mengapa kondisi kedua negara saat ini berbeda? Banyak faktor yang menjadi pembeda. Salah satunya adalah Need for Achievement atau N-Ach yang berbeda. Bangsa Jepang memiliki N-Ach yang tinggi, yang ditandai dengan keinginan kuat untuk berprestasi, unggul, dan sukses.

Sedangkan Indonesia punya cerita berbeda. Kemerdekaan yang telah diraih sepuluh windu itu ternoda oleh persoalan-persoalan sosial dan personal yang tak kunjung usai. Dendam politik masih terus dipelihara dari satu generasi ke generasi berikut, dari satu rezim ke rezim berikut. Perbedaan latar belakang agama dan etnis kadang menjadi biang pertikaian. Noda kemerdekaan membuat bangsa ini tertatih begitu lama untuk segera bangkit menjadi bangsa yang unggul.

Kebuntuan Komunikasi

Persoalan komunikasi sedikit banyak menyumbang noda kemerdekaan yang telah diraih dengan tetesan darah para pendiri republik ini. Komunikasi politik di antara elite dan rakyat acapkali menemui kebuntuan, sehingga menghambat bangsa ini untuk maju.

Dahulu, ketika Indonesia baru menapak untuk menjadi negara merdeka, elite politik begitu majemuk dari sisi agama, etnis, maupun ideologi politiknya. Namun mereka dapat hidup rukun dan bersatu, karena sadar betul bahwa Indonesia harus merdeka. Mereka benar-benar berjuang untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Kini, setelah 80 tahun merdeka, komunikasi politik elite kehilangan arah. Kemerdekaan ternoda. Perjuangan para elite sejujurnya bukan untuk kepentingan seluruh rakyat. Mereka lebih mengutamakan kelompok, keluarga, dan kroni. Bukan untuk memakmurkan dan memerdekakan orang lain, tapi untuk diri sendiri.

Kebuntuan timbul ketika komunikasi dihegemoni oleh rezim. Itu ditandai dengan perilaku elite partai dan pejabat birokrasi yang pongah. Bukan menenangkan dan mencerahkan rakyat, namun justru menambah kebuntuan. Betapa tidak. Menjelang kegembiraan perayaan kemerdekaan, rakyat dikejutkan dengan pernyataan pejabat negara yang akan memblokir rekening dormant di bank serta menyita tanah milik rakyat yang dianggap terlantar.

Bukan hanya itu. Alih-alih menciptakan jutaan lapangan kerja, rakyat yang masih menganggur malah dianjurkan untuk mencari kerja di negara lain. Dan ketika ada siswa Sekolah Rakyat yang sakit perut sehabis menyantap makanan, dengan enteng seorang menteri berkata “ Mungkin belum terbiasa makan enak”. Sungguh ucapan yang menyakiti hati rakyat.

Komunikasi di ruang agama dan kepercayaan di negara yang telah lama merdeka ini juga penuh ketegangan yang berujung kebuntuan. Orang bisa dengan mudah menghujat pemeluk agama dan kepercayaan orang lain. Bahkan satu kelompok dengan enteng merusak rumah ibadah kelompok lain. Padahal persoalan ketuhanan ada di nomor urut satu dalam dasar negara Pancasila.

Peran intelektual dan kaum cendekia di awal kemerdekaan begitu besar. Namun kini mereka tak lagi berumah di awan. Intelektual dan cendekia tak lagi mampu memberi kesejukan, karena kini mereka berumah di singgasana politik dan kerajaan bisnis. Maka yang terjadi adalah gontok-gontokan sesama cendekia untuk membela kekuasaan, berebut tahta politik dan kue ekonomi.

Berkutat pada Kebutuhan Dasar

Ketika negara-negara lain yang telah lama merdeka berlomba mengejar perkembangan teknologi yang melesat cepat, Indonesia masih berkutat pada kebutuhan dasar hidup warganya. Rakyat masih terbentur pada kebutuhan pangan dan papan yang tak pernah tercukupi. Bukan lantaran tiadanya ladang dan lahan, tetapi pada harga dan biaya yang tak terjangkau. Ironi.

Gemah ripah loh jinawi, swasembada pangan, dan kemakmuran rakyat hanya slogan saat kampanye politik. Semua hanya mimpi bagi rakyat, ketika setiap bulan harga merangkak naik, sementara upah dan gaji begitu sulit naik. Gemah ripah loh jinawi sekadar mimpi, tatkala gula, minyak goreng, dan beras dikorupsi. Sungguh culas.

Rakyat yang tak punya kuasa tak kalah culas. Bobot timbangan sembako dikurangi, beras dioplos. Mentalitas bangsa yang keropos. Tetes keringat dan darah para pejuang ternoda oleh mentalitas pejabat dan rakyat yang mengkhianati semangat dan makna kemerdekaan.

Jalan pintas ditempuh untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Makan bergizi gratis (MBG) diklaim akan mampu meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Karenanya ratusan triliun rupiah digelontorkan untuk memberi makan sekali dalam sehari kepada siswa sekolah. Selebihnya, pemerintah tentu tak mau tahu anak-anak dan orang tua mereka yang tak mampu itu harus makan malam seperti apa.

Semangat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa pun ditunjukkan pemerintah. Koperasi yang bertajuk Merah Putih diluncurkan di setiap desa. Akankah menjadi cara mencapai gemah ripah loh jinawi? Jangankan untuk berinvestasi lewat koperasi di desa, untuk memenuhi kebutuhan dasar saja rakyat di desa masih kesulitan. Bukannya menggairahkan sektor perekonomian, koperasi itu akan menjadi lembaga baru bagi masyarakat desa untuk berhutang.

Ironinya, di tengah semarak perayaan kemerdekaan, jagat maya Tanah Air diramaikan dengan pengibaran bendera bajak laut anime One Piece. Nyaris semua pejabat negara dan anggota legislatif kebakaran jenggot. Mereka menuding pengibar bendera One Piece hendak memecah belah bangsa.

Sejatinya, secara semiotik pengibaran bendera bajak laut One Piece dapat bermakna sindiran kepada siapa pun, bukan hanya kepada rezim penguasa. Mereka hendak mengatakan “nenek moyangku seorang pelaut, tetapi mereka bukan bajak laut”. Fenomena itu juga sebentuk perlawanan terhadap elite politik, penguasa, dan pengusaha yang tak ubah seperti bajak laut; mengancam, menguasai laut, merampas uang dan tanah rakyat.

Jika kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri negara ini adalah jembatan emas menuju kemakmuran,  jembatan itu kini mulai keropos oleh noda perilaku anak bangsa yang menyimpang. Maka diperlukan semangat baru untuk memurnikan kembali jembatan emas itu dengan melawan segala bentuk pengkhianatan perjuangan kemerdekaan. Haruskah teriak merdeka !!?? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut
Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat
“Tedak Siten”: Tradisi dan Komunikasi yang Futuristik
Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu
Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Tags: HUT Kemerdekaan RIkomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia, Karya, Tulisan, Penderitaan dan Kebahagiaan

Next Post

Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co