23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia dan Kemerdekaan yang Ternoda

Chusmeru by Chusmeru
August 10, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DELAPAN puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Itu artinya delapan dasa warsa atau sepuluh windu bangsa ini telah merdeka. Tak lagi muda. Hampir satu abad. Namun bukan berarti bangsa dan negara ini telah dewasa.

Bangsa yang telah merdeka lama ini masih belum menjadi dewasa, dalam arti kemandirian dan kematangan pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan. Bahkan Mohamad Sobary (2000) menyebut sebagai bangsa, Indonesia mungkin lahir terlambat. Keterlambatan ini membuat kita menjadi bangsa yang kerdil. Tiap saat kita membanggakan nenek moyang bangsa pelaut yang gagah berani.

Kita lupa, yang gagah berani adalah nenek moyang, bukan kita. Sebagai bangsa kita masih puber dengan tingkah laku persis seperti anak-anak. Mereka yang puber berlagak petentengan memamerkan kewibawaan orang tua. Mereka lupa, yang punya wibawa adalah orang tua dan nenek moyang. Kita masih sebagai bangsa yang manja dan mengharap berkah dari nenek moyang.

Secara politik dan hukum Indonesia merdeka tahun 1945. Pada tahun yang sama, Jepang porak poranda ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika Serikat. Bukan terpuruk selamanya. Hanya butuh waktu dua puluh tahun, Jepang kembali bangkit menjadi kekuatan ekonomi besar di Asia, bahkan di dunia. Sedangkan Indonesia delapan puluh tahun merdeka masih saja menjadi bangsa yang tergantung pada negara lain.

Jepang terpuruk di tahun 1945, dan Indonesia merdeka di tahun yang sama. Mengapa kondisi kedua negara saat ini berbeda? Banyak faktor yang menjadi pembeda. Salah satunya adalah Need for Achievement atau N-Ach yang berbeda. Bangsa Jepang memiliki N-Ach yang tinggi, yang ditandai dengan keinginan kuat untuk berprestasi, unggul, dan sukses.

Sedangkan Indonesia punya cerita berbeda. Kemerdekaan yang telah diraih sepuluh windu itu ternoda oleh persoalan-persoalan sosial dan personal yang tak kunjung usai. Dendam politik masih terus dipelihara dari satu generasi ke generasi berikut, dari satu rezim ke rezim berikut. Perbedaan latar belakang agama dan etnis kadang menjadi biang pertikaian. Noda kemerdekaan membuat bangsa ini tertatih begitu lama untuk segera bangkit menjadi bangsa yang unggul.

Kebuntuan Komunikasi

Persoalan komunikasi sedikit banyak menyumbang noda kemerdekaan yang telah diraih dengan tetesan darah para pendiri republik ini. Komunikasi politik di antara elite dan rakyat acapkali menemui kebuntuan, sehingga menghambat bangsa ini untuk maju.

Dahulu, ketika Indonesia baru menapak untuk menjadi negara merdeka, elite politik begitu majemuk dari sisi agama, etnis, maupun ideologi politiknya. Namun mereka dapat hidup rukun dan bersatu, karena sadar betul bahwa Indonesia harus merdeka. Mereka benar-benar berjuang untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Kini, setelah 80 tahun merdeka, komunikasi politik elite kehilangan arah. Kemerdekaan ternoda. Perjuangan para elite sejujurnya bukan untuk kepentingan seluruh rakyat. Mereka lebih mengutamakan kelompok, keluarga, dan kroni. Bukan untuk memakmurkan dan memerdekakan orang lain, tapi untuk diri sendiri.

Kebuntuan timbul ketika komunikasi dihegemoni oleh rezim. Itu ditandai dengan perilaku elite partai dan pejabat birokrasi yang pongah. Bukan menenangkan dan mencerahkan rakyat, namun justru menambah kebuntuan. Betapa tidak. Menjelang kegembiraan perayaan kemerdekaan, rakyat dikejutkan dengan pernyataan pejabat negara yang akan memblokir rekening dormant di bank serta menyita tanah milik rakyat yang dianggap terlantar.

Bukan hanya itu. Alih-alih menciptakan jutaan lapangan kerja, rakyat yang masih menganggur malah dianjurkan untuk mencari kerja di negara lain. Dan ketika ada siswa Sekolah Rakyat yang sakit perut sehabis menyantap makanan, dengan enteng seorang menteri berkata “ Mungkin belum terbiasa makan enak”. Sungguh ucapan yang menyakiti hati rakyat.

Komunikasi di ruang agama dan kepercayaan di negara yang telah lama merdeka ini juga penuh ketegangan yang berujung kebuntuan. Orang bisa dengan mudah menghujat pemeluk agama dan kepercayaan orang lain. Bahkan satu kelompok dengan enteng merusak rumah ibadah kelompok lain. Padahal persoalan ketuhanan ada di nomor urut satu dalam dasar negara Pancasila.

Peran intelektual dan kaum cendekia di awal kemerdekaan begitu besar. Namun kini mereka tak lagi berumah di awan. Intelektual dan cendekia tak lagi mampu memberi kesejukan, karena kini mereka berumah di singgasana politik dan kerajaan bisnis. Maka yang terjadi adalah gontok-gontokan sesama cendekia untuk membela kekuasaan, berebut tahta politik dan kue ekonomi.

Berkutat pada Kebutuhan Dasar

Ketika negara-negara lain yang telah lama merdeka berlomba mengejar perkembangan teknologi yang melesat cepat, Indonesia masih berkutat pada kebutuhan dasar hidup warganya. Rakyat masih terbentur pada kebutuhan pangan dan papan yang tak pernah tercukupi. Bukan lantaran tiadanya ladang dan lahan, tetapi pada harga dan biaya yang tak terjangkau. Ironi.

Gemah ripah loh jinawi, swasembada pangan, dan kemakmuran rakyat hanya slogan saat kampanye politik. Semua hanya mimpi bagi rakyat, ketika setiap bulan harga merangkak naik, sementara upah dan gaji begitu sulit naik. Gemah ripah loh jinawi sekadar mimpi, tatkala gula, minyak goreng, dan beras dikorupsi. Sungguh culas.

Rakyat yang tak punya kuasa tak kalah culas. Bobot timbangan sembako dikurangi, beras dioplos. Mentalitas bangsa yang keropos. Tetes keringat dan darah para pejuang ternoda oleh mentalitas pejabat dan rakyat yang mengkhianati semangat dan makna kemerdekaan.

Jalan pintas ditempuh untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Makan bergizi gratis (MBG) diklaim akan mampu meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Karenanya ratusan triliun rupiah digelontorkan untuk memberi makan sekali dalam sehari kepada siswa sekolah. Selebihnya, pemerintah tentu tak mau tahu anak-anak dan orang tua mereka yang tak mampu itu harus makan malam seperti apa.

Semangat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa pun ditunjukkan pemerintah. Koperasi yang bertajuk Merah Putih diluncurkan di setiap desa. Akankah menjadi cara mencapai gemah ripah loh jinawi? Jangankan untuk berinvestasi lewat koperasi di desa, untuk memenuhi kebutuhan dasar saja rakyat di desa masih kesulitan. Bukannya menggairahkan sektor perekonomian, koperasi itu akan menjadi lembaga baru bagi masyarakat desa untuk berhutang.

Ironinya, di tengah semarak perayaan kemerdekaan, jagat maya Tanah Air diramaikan dengan pengibaran bendera bajak laut anime One Piece. Nyaris semua pejabat negara dan anggota legislatif kebakaran jenggot. Mereka menuding pengibar bendera One Piece hendak memecah belah bangsa.

Sejatinya, secara semiotik pengibaran bendera bajak laut One Piece dapat bermakna sindiran kepada siapa pun, bukan hanya kepada rezim penguasa. Mereka hendak mengatakan “nenek moyangku seorang pelaut, tetapi mereka bukan bajak laut”. Fenomena itu juga sebentuk perlawanan terhadap elite politik, penguasa, dan pengusaha yang tak ubah seperti bajak laut; mengancam, menguasai laut, merampas uang dan tanah rakyat.

Jika kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri negara ini adalah jembatan emas menuju kemakmuran,  jembatan itu kini mulai keropos oleh noda perilaku anak bangsa yang menyimpang. Maka diperlukan semangat baru untuk memurnikan kembali jembatan emas itu dengan melawan segala bentuk pengkhianatan perjuangan kemerdekaan. Haruskah teriak merdeka !!?? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut
Pemerintahan yang Gagal Berkomunikasi dengan Rakyat
“Tedak Siten”: Tradisi dan Komunikasi yang Futuristik
Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu
Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Tags: HUT Kemerdekaan RIkomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia, Karya, Tulisan, Penderitaan dan Kebahagiaan

Next Post

Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Bupati Sutjidra Rencanakan Pemberian Beasiswa untuk Peningkatan Kompetensi Dokter

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co