2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DALAM keseharian, seringkali kita menghadapi permasalahan dan berujung pernyataan bahwa masalahnya ada pada komunikasi. Sudah tidak ada komunikasi, komunikasinya tidak jelas, ada miss komunikasi, dan sejenisnya. Di sisi lain, kita merasa sudah berkomunikasi dengan baik, sampai kemudian kita hanya bisa berkata “saya bingung harus bilang apa lagi”.

Kalimat di atas merupakan bagian awal orasi ilmiah Pro.Dr.Mite Setiansah, SIP, M.Si dalam pengukuhan jabatan Guru Besar Bidang Kajian Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 4 Februari 2025. Judul lengkap orasi ilmiahnya adalah “Ilusi Komunikasi dalam Perspektif Helical Model: Dinamika Interaksi Manusia dan Tantangan Literasi Digital”. Penulis meringkas orasi ilmiah tersebut menjadi dua bagian.

Berkomunikasi adalah aktivitas yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Hingga dikatakan bahwa “ we cannot, not communicate”, kita tidak dapat tidak berkomunikasi. Mite Setiansah melihat fenomena ilusi komunikasi yang terjadi dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi interpersonal, komunikasi dalam kelompok, organisasi, hingga media digital.

Dalam komunikasi interpersonal, misalnya, kita seringkali mengalami salah paham karena perbedaan persepsi, ekspresi nonverbal yang tidak jelas, atau asumsi yang tidak terverifikasi. Dalam komunikasi kelompok, perbedaan peran dan ekspektasi dapat menciptakan ilusi tentang niat dan tujuan bersama, yang berujung konflik atau ketidaksepahaman.

Di tingkat organisasi, komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan misinterpretasi instruksi dan produktivitas yang terganggu. Sementara itu, dalam era media digital kesalahpahaman semakin sering terjadi akibat keterbatasan komunikasi berbasis teks yang tidak dapat menyampaikan nada, ekspresi wajah, atau kontekstualisasi sosial dengan cara yang sama seperti komunikasi tatap muka. Fenomena post truth yang menjadi perbincangan dalam beberapa tahun terakhir ini juga mengafirmasi bagaimana ilusi komunikasi bekerja.

Berkaca dari semua permasalahan tersebut, Guru Besar Ilmu Komunikasi ini menekankan, upaya untuk memahami dan mengurangi ilusi komunikasi bukan hanya penting untuk memperbaiki hubungan interpersonal, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas komunikasi dalam organisasi media, dan masyarakat secara keseluruhan.

Model Komunikasi

Komunikasi dikatakan efektif adalah jika kedua pihak, pengirim dan penerima pesan; memiliki kesamaan makna mengenai isi pesan yang dipertukarkan. Indikator yang sederhana, namun kadang tidak mudah untuk dicapai. Seiring dengan semakin kompleksnya interaksi manusia dan semakin berkembangnya teknologi media, hambatan komunikasi pun semakin beragam.

Akibatnya, selalu ada celah untuk timbulnya kesalahpahaman. Pada konteks inilah, model komunikasi helikal dapat kita gunakan untuk terus membangun kesadaran dan kemauan untuk kita terus belajar memahami dan beradaptasi agar mampu menekan terjadinya ilusi komunikasi.

Pada tahun 1967, Frank Dance mengusulkan model komunikasi yang terinspirasi oleh heliks, yang dikenal sebagai Helical Model of Communication. Kemunculan Model Helikal tidak dapat dilepaskan dari model-model komunikasi yang telah jauh dikenal sebelumnya. Setidaknya ada dua karakter model komunikasi yang mendahului Model Helikal, yakni Model Linear dan Model Sirkular.

Model Linear merupakan gelombang pertama pemikiran yang dirumuskan oleh para pakar komunikasi, yang melihat komunikasi sebagai proses seseorang mengatakan sesuatu dan orang yang lain menerimanya. Model paling terkenal dalam kategori ini adalah model yang dirumuskan oleh Shannon-Weaver.

Model Sirkular merupakan pemikiran gelombang kedua yang dirumuskan oleh para pakar komunikasi dengan memberi penekanan adanya siklus pesan dalam bentuk umpan balik. Kemunculan rangkaian pemikiran Model Sirkular, otomatis langsung mengoreksi model sebelumnya yang abai adanya proses interaksi. Model Osgood dan Schramm menjadi yang paling terkenal pada era Model Sirkular ini.

Asumsi model linear, seperti Model Shannon-Weaver yang cenderung menyatakan bahwa komunikasi bersifat pasif dan menerima pesan apa adanya, serta model sirkular yang tidak mempertimbangkan perkembangan psikologis manusia, mendorong para pakar penganut Model Helikal merumuskan prinsip mengenai proses komunikasi sebagai sebuah spiral yang terus bergerak maju dan semakin besar lingkarannya.

Model Helikal

Profesor Mite Setiansah yang lahir di Tasikmalaya, 27 Januari 1977 ini lebih lanjut menjelaskan, penekanan perhatian Model Helikal pada perkembangan manusia berimplikasi pada asumsi terhadap komunikasi yang juga bertumbuh. Berasal dari proses dan bentuk yang sederhana menuju kepada kompleksitas dan kerumitan yang tak berujung.

Hal paling penting dalam situasi siklis komunikasi tersebut adalah proses belajar manusia. Ketika seorang individu menerima informasi dari orang lain, mereka akan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan lebih efektif di lain waktu.

Setidaknya terdapat lima aspek yang menjadi elemen kunci dalam model komunikasi helikal. Pertama, elemen proses yang asumsinya digambarkan seperti spiral yang berkesinambungan, menekankan sifatnya yang terus berkembang.

Kedua, elemen komunikator dengan asumsi pengirim dan penerima memiliki kesamaan dan perbedaan, yang masing-masing memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan spiral.

Ketiga, elemen umpan balik yang mengasumsikan sifatnya berkelanjutan (terus menerus) yang membantu menyesuaikan dan menyempurnakan proses komunikasi.

Keempat, elemen konteks. Asumsinya, konteks komunikasi, termasuk interaksi di masa lalu atau pun rencana di masa depan memiliki peran penting dalam membentuk dialog yang sedang berlangsung.

Kelima, elemen tujuan yang mengasumsikan upaya pengembangan hubungan melalui interaksi komunikasi yang berulang.

Ada sebuah ungkapan Dance (1970) yang menarik, “if you’re born today, you’ve limited expressions”. Artinya kurang lebih, ketika hari ini Anda baru dilahirkan, maka ekspresi Anda akan sangat terbatas. Seiring bertambahnya usia, manusia akan beralih ke bentuk komunikasi yang lebih kompleks, yang juga bersifat kumulatif guna memenuhi kebutuhan atau mengekspresikan dirinya. Tanpa adanya proses belajar dan adaptasi secara terus menerus, maka kemungkinan terjadinya ilusi komunikasi akan semakin besar.

Pada konteks ilusi komunikasi, Model Helikal dapat menjawab permasalahan ilusi komunikasi dengan beberapa asumsinya. Model Helikal menekankan bahwa komunikasi bukanlah peristiwa tunggal, melainkan dinamis dan berkelanjutan.

Ilusi komunikasi sering muncul ketika kita memperlakukan komunikasi sebagai peristiwa tunggal yang telah selesai. “Oh, saya sudah memberitahu dia” atau “saya sudah sampaikan berkali-kali”, atau “masa seperti itu saja harus dikasih tahu” adalah contoh ungkapan yang memperlihatkan asumsi bahwa komunikasi sudah berjalan atau bahkan sudah selesai, padahal bisa jadi sebaliknya.

Menurut Model Helikal, setiap interaksi membentuk fondasi bagi interaksi berikutnya. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan berkata bahwa “saya sudah memberi tahu dia”, tetapi kita harus menunggu feedback dan melakukan adaptasi berdasarkan feedback itu, agar makna yang sama bisa tercapai.

Model Helikal juga menekankan pengaruh pengalaman masa lalu terhadap cara kita berkomunikasi. Model Helikal mengingatkan kita untuk menyadari perbedaan konteks dan pengalaman serta beradaptasi dalam komunikasi. Larangan orang tua agar anak remajanya tidak keluar malam karena didasari oleh pengalaman masa lalunya, kemungkinan besar akan berakhir pada suatu ilusi komunikasi, karena anak hidup pada konteks yang berbeda dengan orang tuanya. Tanpa ada saling empati dan adaptasi, komunikasi tidak mungkin terjadi.

Penggambaran komunikasi sebagai spiral yang terus meninggi atau membesar merepresentasikan interaksi yang terus berkembang seiring dengan proses negosiasi makna. Untuk mengatasi ilusi komunikasi diperlukan putaran spiral yang lebih banyak, yaitu proses interaksi dan negosiasi makna yang berkelanjutan.

Dosen pengajar mata kuliah Kajian Media pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman ini juga menjelaskan, penekanan proses adaptasi sebagai salah satu elemen kunci mengatasi ilusi komunikasi. Adaptasi merupakan inti dari Model Helikal.

Ilusi komunikasi muncul karena kurangnya adaptasi dalam komunikasi. Orang tua yang berpegang pada pengalaman masa lalu, berseberangan dengan tuntutan yang dihadapi anak remajanya pada masa kini. Suami dan istri yang memaknai pernikahan berdasarkan prinsip masing-masing tanpa adaptasi akan rentan mengalami pertikaian karena ilusi komunikasi. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata
“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Sambil “Melali”: Perjalanan ke Pura Tap Sai Karangasem

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co