14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

DALAM keseharian, seringkali kita menghadapi permasalahan dan berujung pernyataan bahwa masalahnya ada pada komunikasi. Sudah tidak ada komunikasi, komunikasinya tidak jelas, ada miss komunikasi, dan sejenisnya. Di sisi lain, kita merasa sudah berkomunikasi dengan baik, sampai kemudian kita hanya bisa berkata “saya bingung harus bilang apa lagi”.

Kalimat di atas merupakan bagian awal orasi ilmiah Pro.Dr.Mite Setiansah, SIP, M.Si dalam pengukuhan jabatan Guru Besar Bidang Kajian Media dan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 4 Februari 2025. Judul lengkap orasi ilmiahnya adalah “Ilusi Komunikasi dalam Perspektif Helical Model: Dinamika Interaksi Manusia dan Tantangan Literasi Digital”. Penulis meringkas orasi ilmiah tersebut menjadi dua bagian.

Berkomunikasi adalah aktivitas yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Hingga dikatakan bahwa “ we cannot, not communicate”, kita tidak dapat tidak berkomunikasi. Mite Setiansah melihat fenomena ilusi komunikasi yang terjadi dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi interpersonal, komunikasi dalam kelompok, organisasi, hingga media digital.

Dalam komunikasi interpersonal, misalnya, kita seringkali mengalami salah paham karena perbedaan persepsi, ekspresi nonverbal yang tidak jelas, atau asumsi yang tidak terverifikasi. Dalam komunikasi kelompok, perbedaan peran dan ekspektasi dapat menciptakan ilusi tentang niat dan tujuan bersama, yang berujung konflik atau ketidaksepahaman.

Di tingkat organisasi, komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan misinterpretasi instruksi dan produktivitas yang terganggu. Sementara itu, dalam era media digital kesalahpahaman semakin sering terjadi akibat keterbatasan komunikasi berbasis teks yang tidak dapat menyampaikan nada, ekspresi wajah, atau kontekstualisasi sosial dengan cara yang sama seperti komunikasi tatap muka. Fenomena post truth yang menjadi perbincangan dalam beberapa tahun terakhir ini juga mengafirmasi bagaimana ilusi komunikasi bekerja.

Berkaca dari semua permasalahan tersebut, Guru Besar Ilmu Komunikasi ini menekankan, upaya untuk memahami dan mengurangi ilusi komunikasi bukan hanya penting untuk memperbaiki hubungan interpersonal, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas komunikasi dalam organisasi media, dan masyarakat secara keseluruhan.

Model Komunikasi

Komunikasi dikatakan efektif adalah jika kedua pihak, pengirim dan penerima pesan; memiliki kesamaan makna mengenai isi pesan yang dipertukarkan. Indikator yang sederhana, namun kadang tidak mudah untuk dicapai. Seiring dengan semakin kompleksnya interaksi manusia dan semakin berkembangnya teknologi media, hambatan komunikasi pun semakin beragam.

Akibatnya, selalu ada celah untuk timbulnya kesalahpahaman. Pada konteks inilah, model komunikasi helikal dapat kita gunakan untuk terus membangun kesadaran dan kemauan untuk kita terus belajar memahami dan beradaptasi agar mampu menekan terjadinya ilusi komunikasi.

Pada tahun 1967, Frank Dance mengusulkan model komunikasi yang terinspirasi oleh heliks, yang dikenal sebagai Helical Model of Communication. Kemunculan Model Helikal tidak dapat dilepaskan dari model-model komunikasi yang telah jauh dikenal sebelumnya. Setidaknya ada dua karakter model komunikasi yang mendahului Model Helikal, yakni Model Linear dan Model Sirkular.

Model Linear merupakan gelombang pertama pemikiran yang dirumuskan oleh para pakar komunikasi, yang melihat komunikasi sebagai proses seseorang mengatakan sesuatu dan orang yang lain menerimanya. Model paling terkenal dalam kategori ini adalah model yang dirumuskan oleh Shannon-Weaver.

Model Sirkular merupakan pemikiran gelombang kedua yang dirumuskan oleh para pakar komunikasi dengan memberi penekanan adanya siklus pesan dalam bentuk umpan balik. Kemunculan rangkaian pemikiran Model Sirkular, otomatis langsung mengoreksi model sebelumnya yang abai adanya proses interaksi. Model Osgood dan Schramm menjadi yang paling terkenal pada era Model Sirkular ini.

Asumsi model linear, seperti Model Shannon-Weaver yang cenderung menyatakan bahwa komunikasi bersifat pasif dan menerima pesan apa adanya, serta model sirkular yang tidak mempertimbangkan perkembangan psikologis manusia, mendorong para pakar penganut Model Helikal merumuskan prinsip mengenai proses komunikasi sebagai sebuah spiral yang terus bergerak maju dan semakin besar lingkarannya.

Model Helikal

Profesor Mite Setiansah yang lahir di Tasikmalaya, 27 Januari 1977 ini lebih lanjut menjelaskan, penekanan perhatian Model Helikal pada perkembangan manusia berimplikasi pada asumsi terhadap komunikasi yang juga bertumbuh. Berasal dari proses dan bentuk yang sederhana menuju kepada kompleksitas dan kerumitan yang tak berujung.

Hal paling penting dalam situasi siklis komunikasi tersebut adalah proses belajar manusia. Ketika seorang individu menerima informasi dari orang lain, mereka akan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan lebih efektif di lain waktu.

Setidaknya terdapat lima aspek yang menjadi elemen kunci dalam model komunikasi helikal. Pertama, elemen proses yang asumsinya digambarkan seperti spiral yang berkesinambungan, menekankan sifatnya yang terus berkembang.

Kedua, elemen komunikator dengan asumsi pengirim dan penerima memiliki kesamaan dan perbedaan, yang masing-masing memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan spiral.

Ketiga, elemen umpan balik yang mengasumsikan sifatnya berkelanjutan (terus menerus) yang membantu menyesuaikan dan menyempurnakan proses komunikasi.

Keempat, elemen konteks. Asumsinya, konteks komunikasi, termasuk interaksi di masa lalu atau pun rencana di masa depan memiliki peran penting dalam membentuk dialog yang sedang berlangsung.

Kelima, elemen tujuan yang mengasumsikan upaya pengembangan hubungan melalui interaksi komunikasi yang berulang.

Ada sebuah ungkapan Dance (1970) yang menarik, “if you’re born today, you’ve limited expressions”. Artinya kurang lebih, ketika hari ini Anda baru dilahirkan, maka ekspresi Anda akan sangat terbatas. Seiring bertambahnya usia, manusia akan beralih ke bentuk komunikasi yang lebih kompleks, yang juga bersifat kumulatif guna memenuhi kebutuhan atau mengekspresikan dirinya. Tanpa adanya proses belajar dan adaptasi secara terus menerus, maka kemungkinan terjadinya ilusi komunikasi akan semakin besar.

Pada konteks ilusi komunikasi, Model Helikal dapat menjawab permasalahan ilusi komunikasi dengan beberapa asumsinya. Model Helikal menekankan bahwa komunikasi bukanlah peristiwa tunggal, melainkan dinamis dan berkelanjutan.

Ilusi komunikasi sering muncul ketika kita memperlakukan komunikasi sebagai peristiwa tunggal yang telah selesai. “Oh, saya sudah memberitahu dia” atau “saya sudah sampaikan berkali-kali”, atau “masa seperti itu saja harus dikasih tahu” adalah contoh ungkapan yang memperlihatkan asumsi bahwa komunikasi sudah berjalan atau bahkan sudah selesai, padahal bisa jadi sebaliknya.

Menurut Model Helikal, setiap interaksi membentuk fondasi bagi interaksi berikutnya. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan berkata bahwa “saya sudah memberi tahu dia”, tetapi kita harus menunggu feedback dan melakukan adaptasi berdasarkan feedback itu, agar makna yang sama bisa tercapai.

Model Helikal juga menekankan pengaruh pengalaman masa lalu terhadap cara kita berkomunikasi. Model Helikal mengingatkan kita untuk menyadari perbedaan konteks dan pengalaman serta beradaptasi dalam komunikasi. Larangan orang tua agar anak remajanya tidak keluar malam karena didasari oleh pengalaman masa lalunya, kemungkinan besar akan berakhir pada suatu ilusi komunikasi, karena anak hidup pada konteks yang berbeda dengan orang tuanya. Tanpa ada saling empati dan adaptasi, komunikasi tidak mungkin terjadi.

Penggambaran komunikasi sebagai spiral yang terus meninggi atau membesar merepresentasikan interaksi yang terus berkembang seiring dengan proses negosiasi makna. Untuk mengatasi ilusi komunikasi diperlukan putaran spiral yang lebih banyak, yaitu proses interaksi dan negosiasi makna yang berkelanjutan.

Dosen pengajar mata kuliah Kajian Media pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman ini juga menjelaskan, penekanan proses adaptasi sebagai salah satu elemen kunci mengatasi ilusi komunikasi. Adaptasi merupakan inti dari Model Helikal.

Ilusi komunikasi muncul karena kurangnya adaptasi dalam komunikasi. Orang tua yang berpegang pada pengalaman masa lalu, berseberangan dengan tuntutan yang dihadapi anak remajanya pada masa kini. Suami dan istri yang memaknai pernikahan berdasarkan prinsip masing-masing tanpa adaptasi akan rentan mengalami pertikaian karena ilusi komunikasi. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata
“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Sambil “Melali”: Perjalanan ke Pura Tap Sai Karangasem

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Binar Matamu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co