24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu

Chusmeru by Chusmeru
March 2, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Sempat beredar tagar #KaburAjaDulu secara masif di dunia maya. Fenomena ini menjadi riuh lantaran ajakan untuk bekerja di luar negeri mendapat respons positif dan negatif dari berbagai pihak. Ada yang mendukung tagar ini, ada yang sinis, ada pula yang tak acuh.

Mereka yang merespons positif “Kabur Aja Dulu” mengacu pada kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan mereka yang menanggapi secara negatif menyatakan tindakan kabur dari Tanah Air adalah bentuk perbuatan yang tidak mendukung nasionalisme.

Reaksi emosional ditunjukkan oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker), Immanuel Noel yang enggan ambil pusing tagar #KaburAjaDulu. Ia justru mempersilakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia. “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi”, katanya. (Kompas.com, 17/2/2025).

Apa yang disampaikan pejabat tinggi negara tersebut mencerminkan arogansi kekuasaan. Bukan memberi solusi atas fenomena yang menimpa rakyatnya, justru mengambil sikap cuek. Sikap Wakil Menteri itu nyaris sama dengan orang tua yang marah pada anaknya ketika sang anak mengancam akan pergi dengan mengatakan: “ Sana pergi, nggak usah pulang sekalian !”.

                Lain lagi reaksi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyentil mereka, dan meragukan jiwa nasionalisme orang-orang yang pindah ke luar negeri dalam video lawasnya yang kembali beredar (Viva.co.id, 15/2/2025). Lantas apa kaitan nasionalisme dengan tagar #KaburAjaDulu? Benarkah WNI yang “kabur” dan bekerja di luar negeri tidak memiliki jiwa nasionalisme?

Nasionalisme

Apa sejatinya nasionalisme itu? Apakah anak-anak muda Indonesia yang kabur untuk bekerja di luar negeri dianggap tidak nasionalis? Padahal mereka mencari nafkah di luar negeri lantaran di negeri sendiri tidak memberi harapan yang terang benderang. Jika mereka dianggap tidak memiliki nasionalisme, mengapa pula pemerintah mengekspor Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri?

Labeling tidak nasionalis terhadap warga negara yang bekerja di luar negeri tentunya sangat menyesatkan. Berdasarkan data Kementerian Ketenaga Kerjaan (Kemenaker) jumlah tenaga kerja asing di Indonesia per September 2024 mencapai 133.979 orang ( GoodStats.id, 18/12/2024). Apakah lebih dari seratus ribu orang asing yang bekerja di Indonesia itu juga tidak memiliki nasionalisme bagi negaranya?

Untuk meningkatkan karier, profesionalisme, dan tentu saja penghasilan, para pemain sepakbola nasional pindah ke beberapa klub sepak bola di luar negeri. Apakah mereka juga tidak menjunjung nasionalisme? Sementara dunia sepak bola di Tanah Air hanya begitu-begitu saja. Ironinya, pemerintah justru melakukan naturalisasi para pemain sepak bola asing. Apakah para pemain naturalisasi itu lantas tidak nasionalis di negaranya?

Sesat pikir tentang nasionalisme membuat bangsa ini selalu berada dalam keterbelakangan. Padahal, yang disebut nasionalisme Indonesia menurut YB.Romo Mangunwijaya (1996) adalah keinginan untuk terlibat dalam pembebasan orang-orang kecil di Indonesia dari eksploitasi kaum kaya-kuasa dalam segala bentuk oleh siapa pun, termasuk oleh oknum bangsa Indonesia sendiri.

Nasionalisme Indonesia adalah khas sekali. Wataknya adalah watak pemerdekaan, pembebasan, pertolongan, dan pengangkatan kaum kecil dan miskin. Jika demikian lantas siapa yang tidak menjunjung tinggi nasionalisme? Kaum muda yang kesulitan mendapatkan kerja dan kabur keluar negeri atau penguasa yang tak mampu memberikan pertolongan kepada rakyatnya?

Omon-Omon

Diksi omon-omon mencuat saat kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres). Salah satu kandidat menyebut program kampanye kandidat lain sebagai omon-omon belaka. Yang dimaksud adalah program yang sekadar bicara saja, teoritis saja, tidak mungkin dikerjakan.

Kini, sang pelontar kata omon-omon sudah menjadi penguasa setelah memenangi Pilpres. Rupanya seperti peribahasa “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, sang penguasa itu juga dituding sekadar omon-omon dalam berbagai kebijakannya.

Dalam perspektif komunikasi, omon-omon dapat memiliki tiga pengertian. Pertama, omon-omon sebagai bentuk diskordansi pesan. Terdapat ketidakselarasan antara apa yang diucapkan seseorang dengan apa yang dilakukannya. Diskordansi pesan terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia sebagai negara demokratis, namun saat rakyat melakukan kritik atas kebijakannya dia cepat-cepat berteriak “Ndasmu!”.

Sungguh sangat disayangkan jika seorang presiden bersikap sarkas kepada rakyatnya sendiri. Bukankah dia tahu betul, bahwa kemerdekaan berpendapat dan berbicara dijamin oleh undang-undang. Jika demikian, maka pernyataan dia yang terbuka terhadap kritik hanyalah komunikasi omon-omon belaka. Andai seorang pemimpin bersikap sarkas kepada rakyat, jangan salahkan pula bila rakyat pun akan sarkas kepada pemimpinnya.

Kedua, omon-omon dalam perspektif komunikasi dan budaya Jawa disebut juga lamis. Orang akan disebut lamis jika apa yang dijanjikan ternyata dia ingkari. Dengan kata lain, cidera dan ingkar terhadap janji.

Kasus Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sarat dengan drama dapat menggambarkan lamis. Mulai dari nominal rupiah untuk porsi MBG yang terus menyusut dari 15 ribu rupiah menjadi 10 ribu, hingga gagasan mengganti menu susu dengan daun kelor serta menu daging dengan serangga.

Ketiga, omon-omon sebagai bentuk dusta. Dalam komunikasi, dusta dilakukan untuk berbagai alasan. Dusta dapat memperkuat maupun memperlemah afiliasi. Dusta juga dapat memperpanjang interaksi sosial dan menghindari konflik (DeVito, 1997).

Dusta melalui komunikasi omon-omon tentu saja dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koalisi dan menghindari konflik politik yang mengancam kedudukan rezim. Sekali lagi, MBG penuh drama. Awalnya disebutkan dana puluhan triliun rupiah sudah tersedia. Belakangan, muncul kebijakan efisiensi anggaran untuk menggali dana bagi MBG. Apakah ini bukan dusta dan omon-omon belaka?

Masyarakat tentu masih ingat betul. Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan menyiapkan anggaran khusus untuk pemberantasan korupsi. Bukan hanya itu, ia juga akan mengirim pasukan khusus jika koruptor itu kabur ke Antartika. Lantas muncul episode berikut, Prabowo Subianto akan memaafkan para koruptor yang mengembalikan uang negara. Bukankah itu semua dusta dan omon-omon?

Terbaru, kasus Band Sukatani riuh di jagat maya dan nyata dengan lagunya “Bayar Bayar Bayar”. Lagu yang berisi kritik terhadap perilaku menyimpang polisi. Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan tidak anti kritik dan terbuka terhadap kritik. Namun mengapa kedua personel band itu harus dimintai klarifikasi dan  mesti meminta maaf kepada Kapolri serta men-takedown lagu mereka? Jadi, selama ini Polri melakukan diskordansi pesan kepada masyarakat, komunikasi omon-omon belaka.

Secara fenomenologis, omon-omon selalu akan diselimuti dengan excuse dan justifikasi. Senantiasa ada saja permaafan dan pembenaran atas kebijakan yang sekadar omon-omon itu. Alasan keterbatasan anggaran,demi rakyat, demi wong cilik, demi bangsa dan negara acapkali dijadikan tameng pemaaf dan pembenar.

Jangan heran jika omon-omon tetap akan menjadi bagian dari perilaku politik. Sebab rezim tetap merasa nyaman sepanjang rakyat masih mengelu-elukannya sebagai penyelamat. Dan elit politik tetap aman sebagai mitra koalisi yang sarat konsesi.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Komunikasi untuk Mendukung Organisasi

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Next Post

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co