2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu

Chusmeru by Chusmeru
March 2, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Sempat beredar tagar #KaburAjaDulu secara masif di dunia maya. Fenomena ini menjadi riuh lantaran ajakan untuk bekerja di luar negeri mendapat respons positif dan negatif dari berbagai pihak. Ada yang mendukung tagar ini, ada yang sinis, ada pula yang tak acuh.

Mereka yang merespons positif “Kabur Aja Dulu” mengacu pada kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan mereka yang menanggapi secara negatif menyatakan tindakan kabur dari Tanah Air adalah bentuk perbuatan yang tidak mendukung nasionalisme.

Reaksi emosional ditunjukkan oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker), Immanuel Noel yang enggan ambil pusing tagar #KaburAjaDulu. Ia justru mempersilakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia. “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi”, katanya. (Kompas.com, 17/2/2025).

Apa yang disampaikan pejabat tinggi negara tersebut mencerminkan arogansi kekuasaan. Bukan memberi solusi atas fenomena yang menimpa rakyatnya, justru mengambil sikap cuek. Sikap Wakil Menteri itu nyaris sama dengan orang tua yang marah pada anaknya ketika sang anak mengancam akan pergi dengan mengatakan: “ Sana pergi, nggak usah pulang sekalian !”.

                Lain lagi reaksi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyentil mereka, dan meragukan jiwa nasionalisme orang-orang yang pindah ke luar negeri dalam video lawasnya yang kembali beredar (Viva.co.id, 15/2/2025). Lantas apa kaitan nasionalisme dengan tagar #KaburAjaDulu? Benarkah WNI yang “kabur” dan bekerja di luar negeri tidak memiliki jiwa nasionalisme?

Nasionalisme

Apa sejatinya nasionalisme itu? Apakah anak-anak muda Indonesia yang kabur untuk bekerja di luar negeri dianggap tidak nasionalis? Padahal mereka mencari nafkah di luar negeri lantaran di negeri sendiri tidak memberi harapan yang terang benderang. Jika mereka dianggap tidak memiliki nasionalisme, mengapa pula pemerintah mengekspor Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri?

Labeling tidak nasionalis terhadap warga negara yang bekerja di luar negeri tentunya sangat menyesatkan. Berdasarkan data Kementerian Ketenaga Kerjaan (Kemenaker) jumlah tenaga kerja asing di Indonesia per September 2024 mencapai 133.979 orang ( GoodStats.id, 18/12/2024). Apakah lebih dari seratus ribu orang asing yang bekerja di Indonesia itu juga tidak memiliki nasionalisme bagi negaranya?

Untuk meningkatkan karier, profesionalisme, dan tentu saja penghasilan, para pemain sepakbola nasional pindah ke beberapa klub sepak bola di luar negeri. Apakah mereka juga tidak menjunjung nasionalisme? Sementara dunia sepak bola di Tanah Air hanya begitu-begitu saja. Ironinya, pemerintah justru melakukan naturalisasi para pemain sepak bola asing. Apakah para pemain naturalisasi itu lantas tidak nasionalis di negaranya?

Sesat pikir tentang nasionalisme membuat bangsa ini selalu berada dalam keterbelakangan. Padahal, yang disebut nasionalisme Indonesia menurut YB.Romo Mangunwijaya (1996) adalah keinginan untuk terlibat dalam pembebasan orang-orang kecil di Indonesia dari eksploitasi kaum kaya-kuasa dalam segala bentuk oleh siapa pun, termasuk oleh oknum bangsa Indonesia sendiri.

Nasionalisme Indonesia adalah khas sekali. Wataknya adalah watak pemerdekaan, pembebasan, pertolongan, dan pengangkatan kaum kecil dan miskin. Jika demikian lantas siapa yang tidak menjunjung tinggi nasionalisme? Kaum muda yang kesulitan mendapatkan kerja dan kabur keluar negeri atau penguasa yang tak mampu memberikan pertolongan kepada rakyatnya?

Omon-Omon

Diksi omon-omon mencuat saat kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres). Salah satu kandidat menyebut program kampanye kandidat lain sebagai omon-omon belaka. Yang dimaksud adalah program yang sekadar bicara saja, teoritis saja, tidak mungkin dikerjakan.

Kini, sang pelontar kata omon-omon sudah menjadi penguasa setelah memenangi Pilpres. Rupanya seperti peribahasa “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, sang penguasa itu juga dituding sekadar omon-omon dalam berbagai kebijakannya.

Dalam perspektif komunikasi, omon-omon dapat memiliki tiga pengertian. Pertama, omon-omon sebagai bentuk diskordansi pesan. Terdapat ketidakselarasan antara apa yang diucapkan seseorang dengan apa yang dilakukannya. Diskordansi pesan terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia sebagai negara demokratis, namun saat rakyat melakukan kritik atas kebijakannya dia cepat-cepat berteriak “Ndasmu!”.

Sungguh sangat disayangkan jika seorang presiden bersikap sarkas kepada rakyatnya sendiri. Bukankah dia tahu betul, bahwa kemerdekaan berpendapat dan berbicara dijamin oleh undang-undang. Jika demikian, maka pernyataan dia yang terbuka terhadap kritik hanyalah komunikasi omon-omon belaka. Andai seorang pemimpin bersikap sarkas kepada rakyat, jangan salahkan pula bila rakyat pun akan sarkas kepada pemimpinnya.

Kedua, omon-omon dalam perspektif komunikasi dan budaya Jawa disebut juga lamis. Orang akan disebut lamis jika apa yang dijanjikan ternyata dia ingkari. Dengan kata lain, cidera dan ingkar terhadap janji.

Kasus Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sarat dengan drama dapat menggambarkan lamis. Mulai dari nominal rupiah untuk porsi MBG yang terus menyusut dari 15 ribu rupiah menjadi 10 ribu, hingga gagasan mengganti menu susu dengan daun kelor serta menu daging dengan serangga.

Ketiga, omon-omon sebagai bentuk dusta. Dalam komunikasi, dusta dilakukan untuk berbagai alasan. Dusta dapat memperkuat maupun memperlemah afiliasi. Dusta juga dapat memperpanjang interaksi sosial dan menghindari konflik (DeVito, 1997).

Dusta melalui komunikasi omon-omon tentu saja dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koalisi dan menghindari konflik politik yang mengancam kedudukan rezim. Sekali lagi, MBG penuh drama. Awalnya disebutkan dana puluhan triliun rupiah sudah tersedia. Belakangan, muncul kebijakan efisiensi anggaran untuk menggali dana bagi MBG. Apakah ini bukan dusta dan omon-omon belaka?

Masyarakat tentu masih ingat betul. Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan menyiapkan anggaran khusus untuk pemberantasan korupsi. Bukan hanya itu, ia juga akan mengirim pasukan khusus jika koruptor itu kabur ke Antartika. Lantas muncul episode berikut, Prabowo Subianto akan memaafkan para koruptor yang mengembalikan uang negara. Bukankah itu semua dusta dan omon-omon?

Terbaru, kasus Band Sukatani riuh di jagat maya dan nyata dengan lagunya “Bayar Bayar Bayar”. Lagu yang berisi kritik terhadap perilaku menyimpang polisi. Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan tidak anti kritik dan terbuka terhadap kritik. Namun mengapa kedua personel band itu harus dimintai klarifikasi dan  mesti meminta maaf kepada Kapolri serta men-takedown lagu mereka? Jadi, selama ini Polri melakukan diskordansi pesan kepada masyarakat, komunikasi omon-omon belaka.

Secara fenomenologis, omon-omon selalu akan diselimuti dengan excuse dan justifikasi. Senantiasa ada saja permaafan dan pembenaran atas kebijakan yang sekadar omon-omon itu. Alasan keterbatasan anggaran,demi rakyat, demi wong cilik, demi bangsa dan negara acapkali dijadikan tameng pemaaf dan pembenar.

Jangan heran jika omon-omon tetap akan menjadi bagian dari perilaku politik. Sebab rezim tetap merasa nyaman sepanjang rakyat masih mengelu-elukannya sebagai penyelamat. Dan elit politik tetap aman sebagai mitra koalisi yang sarat konsesi.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Komunikasi untuk Mendukung Organisasi

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Next Post

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co