14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi “Omon-Omon” dan #KaburAjaDulu

Chusmeru by Chusmeru
March 2, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Sempat beredar tagar #KaburAjaDulu secara masif di dunia maya. Fenomena ini menjadi riuh lantaran ajakan untuk bekerja di luar negeri mendapat respons positif dan negatif dari berbagai pihak. Ada yang mendukung tagar ini, ada yang sinis, ada pula yang tak acuh.

Mereka yang merespons positif “Kabur Aja Dulu” mengacu pada kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan mereka yang menanggapi secara negatif menyatakan tindakan kabur dari Tanah Air adalah bentuk perbuatan yang tidak mendukung nasionalisme.

Reaksi emosional ditunjukkan oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker), Immanuel Noel yang enggan ambil pusing tagar #KaburAjaDulu. Ia justru mempersilakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia. “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi”, katanya. (Kompas.com, 17/2/2025).

Apa yang disampaikan pejabat tinggi negara tersebut mencerminkan arogansi kekuasaan. Bukan memberi solusi atas fenomena yang menimpa rakyatnya, justru mengambil sikap cuek. Sikap Wakil Menteri itu nyaris sama dengan orang tua yang marah pada anaknya ketika sang anak mengancam akan pergi dengan mengatakan: “ Sana pergi, nggak usah pulang sekalian !”.

                Lain lagi reaksi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyentil mereka, dan meragukan jiwa nasionalisme orang-orang yang pindah ke luar negeri dalam video lawasnya yang kembali beredar (Viva.co.id, 15/2/2025). Lantas apa kaitan nasionalisme dengan tagar #KaburAjaDulu? Benarkah WNI yang “kabur” dan bekerja di luar negeri tidak memiliki jiwa nasionalisme?

Nasionalisme

Apa sejatinya nasionalisme itu? Apakah anak-anak muda Indonesia yang kabur untuk bekerja di luar negeri dianggap tidak nasionalis? Padahal mereka mencari nafkah di luar negeri lantaran di negeri sendiri tidak memberi harapan yang terang benderang. Jika mereka dianggap tidak memiliki nasionalisme, mengapa pula pemerintah mengekspor Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri?

Labeling tidak nasionalis terhadap warga negara yang bekerja di luar negeri tentunya sangat menyesatkan. Berdasarkan data Kementerian Ketenaga Kerjaan (Kemenaker) jumlah tenaga kerja asing di Indonesia per September 2024 mencapai 133.979 orang ( GoodStats.id, 18/12/2024). Apakah lebih dari seratus ribu orang asing yang bekerja di Indonesia itu juga tidak memiliki nasionalisme bagi negaranya?

Untuk meningkatkan karier, profesionalisme, dan tentu saja penghasilan, para pemain sepakbola nasional pindah ke beberapa klub sepak bola di luar negeri. Apakah mereka juga tidak menjunjung nasionalisme? Sementara dunia sepak bola di Tanah Air hanya begitu-begitu saja. Ironinya, pemerintah justru melakukan naturalisasi para pemain sepak bola asing. Apakah para pemain naturalisasi itu lantas tidak nasionalis di negaranya?

Sesat pikir tentang nasionalisme membuat bangsa ini selalu berada dalam keterbelakangan. Padahal, yang disebut nasionalisme Indonesia menurut YB.Romo Mangunwijaya (1996) adalah keinginan untuk terlibat dalam pembebasan orang-orang kecil di Indonesia dari eksploitasi kaum kaya-kuasa dalam segala bentuk oleh siapa pun, termasuk oleh oknum bangsa Indonesia sendiri.

Nasionalisme Indonesia adalah khas sekali. Wataknya adalah watak pemerdekaan, pembebasan, pertolongan, dan pengangkatan kaum kecil dan miskin. Jika demikian lantas siapa yang tidak menjunjung tinggi nasionalisme? Kaum muda yang kesulitan mendapatkan kerja dan kabur keluar negeri atau penguasa yang tak mampu memberikan pertolongan kepada rakyatnya?

Omon-Omon

Diksi omon-omon mencuat saat kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres). Salah satu kandidat menyebut program kampanye kandidat lain sebagai omon-omon belaka. Yang dimaksud adalah program yang sekadar bicara saja, teoritis saja, tidak mungkin dikerjakan.

Kini, sang pelontar kata omon-omon sudah menjadi penguasa setelah memenangi Pilpres. Rupanya seperti peribahasa “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”, sang penguasa itu juga dituding sekadar omon-omon dalam berbagai kebijakannya.

Dalam perspektif komunikasi, omon-omon dapat memiliki tiga pengertian. Pertama, omon-omon sebagai bentuk diskordansi pesan. Terdapat ketidakselarasan antara apa yang diucapkan seseorang dengan apa yang dilakukannya. Diskordansi pesan terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia sebagai negara demokratis, namun saat rakyat melakukan kritik atas kebijakannya dia cepat-cepat berteriak “Ndasmu!”.

Sungguh sangat disayangkan jika seorang presiden bersikap sarkas kepada rakyatnya sendiri. Bukankah dia tahu betul, bahwa kemerdekaan berpendapat dan berbicara dijamin oleh undang-undang. Jika demikian, maka pernyataan dia yang terbuka terhadap kritik hanyalah komunikasi omon-omon belaka. Andai seorang pemimpin bersikap sarkas kepada rakyat, jangan salahkan pula bila rakyat pun akan sarkas kepada pemimpinnya.

Kedua, omon-omon dalam perspektif komunikasi dan budaya Jawa disebut juga lamis. Orang akan disebut lamis jika apa yang dijanjikan ternyata dia ingkari. Dengan kata lain, cidera dan ingkar terhadap janji.

Kasus Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sarat dengan drama dapat menggambarkan lamis. Mulai dari nominal rupiah untuk porsi MBG yang terus menyusut dari 15 ribu rupiah menjadi 10 ribu, hingga gagasan mengganti menu susu dengan daun kelor serta menu daging dengan serangga.

Ketiga, omon-omon sebagai bentuk dusta. Dalam komunikasi, dusta dilakukan untuk berbagai alasan. Dusta dapat memperkuat maupun memperlemah afiliasi. Dusta juga dapat memperpanjang interaksi sosial dan menghindari konflik (DeVito, 1997).

Dusta melalui komunikasi omon-omon tentu saja dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koalisi dan menghindari konflik politik yang mengancam kedudukan rezim. Sekali lagi, MBG penuh drama. Awalnya disebutkan dana puluhan triliun rupiah sudah tersedia. Belakangan, muncul kebijakan efisiensi anggaran untuk menggali dana bagi MBG. Apakah ini bukan dusta dan omon-omon belaka?

Masyarakat tentu masih ingat betul. Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan menyiapkan anggaran khusus untuk pemberantasan korupsi. Bukan hanya itu, ia juga akan mengirim pasukan khusus jika koruptor itu kabur ke Antartika. Lantas muncul episode berikut, Prabowo Subianto akan memaafkan para koruptor yang mengembalikan uang negara. Bukankah itu semua dusta dan omon-omon?

Terbaru, kasus Band Sukatani riuh di jagat maya dan nyata dengan lagunya “Bayar Bayar Bayar”. Lagu yang berisi kritik terhadap perilaku menyimpang polisi. Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan tidak anti kritik dan terbuka terhadap kritik. Namun mengapa kedua personel band itu harus dimintai klarifikasi dan  mesti meminta maaf kepada Kapolri serta men-takedown lagu mereka? Jadi, selama ini Polri melakukan diskordansi pesan kepada masyarakat, komunikasi omon-omon belaka.

Secara fenomenologis, omon-omon selalu akan diselimuti dengan excuse dan justifikasi. Senantiasa ada saja permaafan dan pembenaran atas kebijakan yang sekadar omon-omon itu. Alasan keterbatasan anggaran,demi rakyat, demi wong cilik, demi bangsa dan negara acapkali dijadikan tameng pemaaf dan pembenar.

Jangan heran jika omon-omon tetap akan menjadi bagian dari perilaku politik. Sebab rezim tetap merasa nyaman sepanjang rakyat masih mengelu-elukannya sebagai penyelamat. Dan elit politik tetap aman sebagai mitra koalisi yang sarat konsesi.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Ilusi Komunikasi dalam Perspektif “Helical Model” [Bagian 1]
Badan Intelijen Keuangan: Urgensi dan Tantangan Komunikasi
Komunikasi untuk Mendukung Organisasi

Tags: ilmu komunikasikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Next Post

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Tebar Itu Kebersamaan | Dari PMM Al-Hikmah Berbagi Takjil di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co